← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Fourteen

Calon yang Mana

POV: Monica


Aris tidak masuk kerja hari Rabu.

Aku tahu karena jam delapan pagi, tidak ada langkah kaki di tangga darurat antara lantai delapan dan sembilan. Aku tidak sedang menunggunya. Aku hanya kebetulan sedang berdiri di bordes itu, menelepon klien, jam tujuh lewat lima puluh sampai jam delapan lewat sepuluh.

Klien itu bingung kenapa aku meneleponnya hanya untuk menanyakan kabar.

Jam sembilan, Dini mengirimiku pesan. Sejak aku masuk grup Lantai 7 Garis Keras, Dini mengirimiku pesan hampir setiap hari, biasanya berisi laporan cuaca emosional lantai tujuh.

Mbak Monica. Mas Aris izin sakit. Demam. Kata Pak Darto bahunya juga kumat karena kemarin hujan. Terus kayaknya kecapekan juga gara-gara kemarin.

Gara-gara kemarin, ia menulis, dan aku tahu yang ia maksud bukan hujan.

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu jam sepuluh, Lucky mampir ke lantai sembilan dengan map tebal di tangan dan wajah yang berusaha keras terlihat seperti direktur yang kebetulan lewat.

“Monica.”

“Pak Lucky.”

“Lucky.” Ia meletakkan map itu di mejaku. “Kontrak final Sinergi Datacloud. Bu Ambar minta ada paraf reviewer teknis dari Divisi Data sebelum ditandatangani direksi besok pagi. Reviewer teknisnya Aris. Atas permintaan Bu Ambar langsung.”

“Aris lagi sakit.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Terus seseorang harus nganter ini ke rumahnya.” Lucky menatapku dengan wajah datar yang sama sekali tidak meyakinkan. “Gue ada rapat seharian. Evan lagi ke Bekasi, kunjungan klien. Kurir kantor nggak boleh bawa dokumen rahasia ke luar gedung.”

“Dan Legal boleh?”

“Legal yang pegang dokumennya.” Lucky menyelipkan secarik kertas di atas map. Alamat. Jl. Jatiwaringin Raya, gang sebelah warung Padang Uni Ita, masuk terus sampai ujung, pagar hijau, ada papan Jahit & Permak Bu Sumi. “Mobil nggak bisa masuk gang. Parkir di depan warung Padang. Bilang ke Uni Ita lo temennya Aris, dia bakal jagain mobil lo.”

Aku menatap kertas itu. Lalu menatap Lucky.

“Kamu sengaja.”

“Gue direktur, Monica. Gue nggak punya waktu buat sengaja-sengajaan.” Ia sudah berbalik ke arah lift. “Oh, dan dia demam. Kalau lo mau bawa sesuatu, dia suka bubur ayam yang nggak pakai kacang.”

Ia pergi sebelum aku sempat membalas.

Renata, yang duduk di meja seberang lorong dan ternyata mendengarkan seluruh percakapan, menatapku dengan alis terangkat setinggi-tingginya.

“Bubur ayam,” katanya. “Nggak pakai kacang.”

“Diem, Ren.”

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“Mata kamu ngomong.”

Renata tertawa. Tapi aku melihat matanya melirik ke arah lift tempat Lucky menghilang, dan tawanya berubah jadi senyum kecil yang tidak ia sadari.


Gang di sebelah warung Padang Uni Ita ternyata lebih sempit dari yang kubayangkan.

Cukup untuk satu motor, atau satu mobil kecil kalau pengemudinya nekat dan spionnya rela dilipat. Di kiri-kanan ada rumah-rumah kecil berpagar rendah, pot-pot tanaman di teras, jemuran yang dibentangkan di antara tiang listrik. Seorang anak kecil bersepeda roda tiga melewatiku sambil menatap blazerku dengan curiga. Seekor kucing oranye tidur di atas atap motor.

Aku berjalan dengan map di tangan kiri dan kantong plastik berisi bubur ayam tanpa kacang di tangan kanan. Sepatuku berbunyi di jalan semen yang retak-retak.

Pagar hijau di ujung gang. Catnya mengelupas di beberapa tempat. Papan kayu kecil di samping pintu pagar, dengan huruf yang ditulis tangan dan sudah sedikit pudar: Jahit & Permak Bu Sumi.

Dari dalam rumah, terdengar bunyi mesin jahit. Teratur, seperti detak jantung.

Aku berdiri di depan pagar itu beberapa detik. Lalu menyadari aku gugup.

Aku. Gugup. Aku yang pernah presentasi di depan tujuh direktur tanpa kancing blazer. Aku yang pernah melempar sepatu ke dosen pembimbing. Aku yang pernah berdiri di pengadilan melawan pengacara senior dengan pengalaman dua puluh tahun.

Aku mengetuk pagar.

Bunyi mesin jahit berhenti. Langkah kaki pelan. Lalu pintu rumah terbuka, dan seorang perempuan paruh baya keluar ke teras.

Ia kecil. Lebih kecil dari yang kubayangkan. Rambutnya disanggul sederhana, beberapa helai uban di pelipis. Kacamata baca melorot di ujung hidung. Ia memakai daster batik biru dan sandal jepit, dan ada pita ukur jahit tersampir di lehernya seperti kalung.

Ia menatapku dari atas sampai bawah. Blazer, sepatu, map, kantong bubur ayam. Lalu kembali ke wajahku.

Matanya berhenti di sana. Lama.

“Cari siapa, Nak?”

“Selamat siang, Bu. Saya Monica, teman kerja Aris. Saya mau nganter dokumen. Katanya Aris sakit.”

Perempuan itu tidak menjawab. Ia terus menatapku. Lalu, pelan-pelan, matanya turun ke blazerku. Ke kancing kedua dari atas.

Kancing yang dijahit dengan benang abu-abu.

Senyumnya muncul pelan, seperti matahari yang naik dari balik atap.

“Oh,” katanya. “Kamu yang kancingnya abu-abu.”

Aku berkedip. “Maaf, Bu?”

Ia tidak menjelaskan. Ia membuka pintu pagar, menggandeng lenganku seperti menggandeng keponakan yang lama tidak berkunjung, dan menarikku masuk ke teras.

Lalu ia menoleh ke dalam rumah dan memanggil dengan suara yang cukup keras untuk didengar sampai ujung gang.

“RIS! ADA TAMU! CALON YANG MANA INI, RIS?”


Aris keluar dari kamarnya dengan sarung kotak-kotak biru, kaus oblong abu-abu yang sudah melar di leher, rambut berantakan, dan wajah yang pucat karena demam lalu dalam dua detik berubah merah karena malu.

Ia melihatku di ruang tamu. Ia berhenti di ambang pintu kamar. Ia menatap ibunya. Ia menatapku lagi.

“Mbak,” katanya. Suaranya serak.

“Hai,” kataku.

“Mbak ngapain di sini?”

“Nganter dokumen. Kontrak final. Bu Ambar minta paraf kamu.”

“Kok Mbak yang nganter?”

“Lucky yang nyuruh.”

Aris menutup mata sebentar. Bibirnya bergerak tanpa suara. Aku cukup yakin ia sedang mengucapkan nama Lucky dengan cara yang tidak sopan.

“Ris,” kata ibunya, yang sudah duduk kembali di depan mesin jahit di sudut ruang tamu. “Kok diem aja? Tamunya disuruh duduk.”

“Iya, Bu. Mbak, silakan duduk.”

Aku duduk di kursi kayu di ruang tamu. Ruang tamu itu kecil. Separuhnya dipakai untuk usaha jahit, dengan mesin jahit tua merek luar negeri yang catnya sudah pudar, meja potong dari kayu, tumpukan kain dan seragam sekolah yang dilipat rapi. Separuhnya lagi untuk menerima tamu. Dua kursi kayu, satu meja kecil dengan taplak rajut, dan di dinding, deretan foto berbingkai.

Aris duduk di kursi seberang. Ia merapikan sarungnya. Lalu kausnya. Lalu rambutnya, yang tidak bisa dirapikan.

“Maaf, Mbak. Saya nggak tahu Mbak mau dateng.”

“Aku juga nggak tahu sampai jam sepuluh tadi.”

Aku menyodorkan kantong plastik bubur ayam. Ia menatapnya.

“Bubur ayam,” kataku. “Nggak pakai kacang.”

Ia menatap kantong itu lama. Lalu menatapku.

“Lucky,” katanya pelan.

“Lucky.”

Dari sudut ruangan, ibunya terkekeh tanpa menoleh dari mesin jahit.


Bu Sumi membuatkan teh. Teh manis untukku, teh tawar untuk Aris. Ia meletakkannya di meja kecil dengan taplak rajut, lalu, alih-alih kembali ke mesin jahitnya, ia duduk di kursi plastik di sebelah meja dan menatapku dengan dagu ditopang tangan.

“Kamu kerja di bagian apa, Nak?”

“Legal, Bu. Hukum.”

“Pinter, ya.”

“Biasa aja, Bu.”

“Cantik juga.”

Aris tersedak teh tawarnya. Ia batuk tiga kali, keras, sampai matanya berair.

“Pelan-pelan, Ris,” kata ibunya tanpa menoleh ke arahnya. Matanya masih di wajahku. “Rumahnya di mana?”

“Di Tebet, Bu. Apartemen.”

“Sendiri?”

“Sendiri, Bu. Orang tua saya di Bekasi.”

“Orang tuanya kerja apa?”

“Bu,” kata Aris.

“Ibu cuma nanya, Ris.”

“Ayah saya pensiunan hakim, Bu,” kataku, menahan tawa. “Ibu saya ibu rumah tangga. Suka nonton drama Korea.”

“Oh, Ibu juga suka drama Korea!” Wajah Bu Sumi bersinar. “Yang dokter-dokter itu, yang di rumah sakit? Yang tokohnya lima orang sahabatan dari kuliah?”

“Itu kesukaan Mama saya, Bu!”

“Ibu udah nonton tiga kali!”

Selama sepuluh menit berikutnya, Bu Sumi dan aku membicarakan drama Korea, tokoh-tokoh favorit kami, adegan yang paling bikin menangis, dan aktor yang menurut Bu Sumi “mukanya kayak Aris kalau Aris rajin senyum”. Aris duduk di kursi seberang, memegang gelas teh dengan dua tangan, menatap kami berdua bergantian dengan wajah orang yang sedang menyaksikan dua kereta bertabrakan dalam gerakan lambat.

Lalu Bu Sumi berdiri. Ia mengambil pita ukur jahit dari lehernya.

“Berdiri sebentar, Nak.”

Aku berdiri tanpa berpikir. Bu Sumi melingkarkan pita ukur itu di bahuku. Cepat dan cekatan. Lalu di lingkar dada, pinggang, panjang lengan. Ia bergumam angka-angka pelan, lalu mencatatnya di buku kecil yang ia ambil dari saku dasternya.

“Bu,” kata Aris dari kursinya, suaranya hampir putus asa. “Ibu ngapain?”

“Ngukur.”

“Buat apa?”

“Buat jaga-jaga.” Bu Sumi menutup buku kecilnya dan menyelipkannya kembali ke saku. Lalu ia menatapku dari atas sampai bawah dengan mata seorang penjahit. “Badanmu bagus buat kebaya, Nak. Bahunya pas. Lehernya jenjang.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku kehilangan kata-kata.

Jadi aku melakukan apa yang selalu kulakukan kalau kehilangan kata-kata. Aku menyerang balik.

“Bu,” kataku. “Anaknya boleh saya pinjam?”

Bu Sumi menatapku. Aris membeku dengan gelas teh setengah jalan ke bibir.

“Kalau bisa,” kataku, tersenyum manis, “nggak saya balikin.”

Aris menyemburkan tehnya.

Tidak semua. Tapi cukup banyak untuk membasahi kaus abu-abunya, taplak rajut di meja, dan sebagian kecil map kontrak final yang untungnya masih tertutup plastik.

Bu Sumi tertawa. Tertawa keras, lepas, sampai ia harus berpegangan pada sandaran kursi. Tawa seorang ibu yang sudah menunggu bertahun-tahun untuk tertawa seperti itu.

“Bawa aja, Nak!” katanya di sela tawa. “Bawa aja! Tapi tiap Minggu dibalikin ke sini. Makan tempe.”

“Siap, Bu.”

“BU.”

“Kenapa, Ris? Kamu demam lagi? Mukanya merah banget.”

Aris berdiri, memegang kaus basahnya, dan masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa. Pintunya tertutup. Dari dalam, terdengar suara sesuatu jatuh, lalu suara Aris bergumam, “Aduh.”

Bu Sumi masih tertawa sambil mengelap taplak rajut. Lalu tawanya mereda, dan ia menatapku dengan mata yang tiba-tiba sangat lembut.

“Udah lama,” katanya pelan, “nggak ada yang dateng ke rumah ini buat dia, Nak. Yang dateng biasanya Evan sama Lucky. Itu juga udah kayak anak Ibu sendiri. Tapi perempuan...”

Ia tidak melanjutkan. Ia hanya menepuk tanganku di atas meja. Dua kali. Telapak tangannya hangat, sedikit kasar, berbau minyak mesin jahit dan bedak tabur.


Aris keluar lagi lima menit kemudian dengan kaus baru, kemeja flanel kotak-kotak yang dikancing asal, dan wajah yang sudah tidak terlalu merah. Ia membawa pulpen.

“Mana yang harus diparaf, Mbak?”

Aku membuka map. Ia membaca halaman-halaman yang sudah ditandai, cepat, teliti, sesekali mengangguk. Lalu memaraf di setiap halaman dengan tanda tangan kecil yang rapi.

Sementara ia memaraf, aku berdiri dan melihat foto-foto berbingkai di dinding.

Foto pernikahan Bu Sumi, hitam putih, dengan seorang laki-laki berkumis tipis yang tersenyum malu-malu. Foto Aris kecil, mungkin umur lima tahun, memakai seragam TK dan membawa bekal yang terlalu besar untuk tangannya. Foto Aris SMP, memegang piala kecil.

Lalu foto Aris SMA.

Tiga anak laki-laki berseragam putih abu-abu, berdiri di depan gerbang sekolah. Yang paling tinggi di kiri, rambut jatuh ke dahi, senyum lebar: Evan. Yang paling rapi di kanan, kerah licin, ekspresi sok serius: Lucky. Dan di tengah, sedikit lebih pendek dari keduanya, memegang sebuah piala besar dan sertifikat, dengan senyum malu yang sangat kukenal sekarang, lengkap dengan lesung pipi di sebelah kiri.

Aku mendekat untuk membaca tulisan di sertifikat itu. Terlalu kecil. Tapi aku bisa membaca beberapa kata: Olimpiade... Nasional... Juara I... Matematika.

“Itu waktu kelas sebelas,” kata Bu Sumi, yang ternyata sudah berdiri di sebelahku. “Juara satu nasional. Dia pinter banget dari kecil, Nak. Gurunya sampai bilang, anak ini harusnya sekolah di luar negeri. Waktu kelas dua belas, dia bahkan udah mau...”

“Bu.”

Aku menoleh.

Aris sudah berhenti memaraf. Ia duduk di kursinya dengan pulpen di tangan, menatap ibunya. Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang belum pernah kudengar darinya sebelumnya. Sesuatu yang tegas. Hampir tajam.

Bu Sumi berhenti bicara. Ia menatap anaknya. Lalu menatap foto itu. Lalu senyumnya kembali, sedikit dipaksakan.

“Iya, iya. Ibu kebanyakan cerita.” Ia menepuk lenganku. “Ibu masak dulu, ya. Kamu makan siang di sini. Ibu goreng tempe.”

Ia masuk ke dapur sebelum aku sempat menolak.

Aku menatap Aris. Aris menatap map di depannya, melanjutkan memaraf halaman terakhir.

“Udah mau apa?” tanyaku pelan.

“Nggak apa-apa, Mbak.”

“Aris.”

“Udah lama, Mbak.” Ia menutup map dan menyodorkannya padaku. Matanya tidak menatapku. “Udah selesai. Semuanya udah diparaf.”

Aku menerima map itu. Aku menatap foto di dinding sekali lagi. Anak laki-laki dengan piala besar dan senyum malu, berdiri di antara dua sahabatnya.

Waktu kelas dua belas, dia bahkan udah mau...

Udah mau apa?

Aku tidak bertanya lagi. Tapi aku menyimpan pertanyaan itu baik-baik, di tempat yang sama dengan bahu kanan yang tidak bisa diangkat, kolam renang yang dihindari, dan tangan yang gemetar di belakang villa.

Ada cerita di rumah ini. Cerita yang dikunci rapat-rapat oleh laki-laki yang menyimpan kotak jahit di ranselnya.

Aku tidak akan mendobrak pintunya.

Tapi aku juga tidak akan pergi dari depan pintunya.


Tempe goreng Bu Sumi ternyata memang lebih enak dari buatanku.

Lebih tipis. Lebih kering. Ketumbarnya lebih terasa. Aku makan empat potong dan Bu Sumi menambahkan dua lagi ke piringku tanpa bertanya.

“Rahasianya apa, Bu?”

“Ketumbarnya disangrai dulu, Nak. Terus ditumbuk kasar, jangan halus. Bawang putihnya banyakin. Terus tempenya direndem air garam dulu lima menit sebelum digoreng.”

Aku mencatatnya di ponsel. Aris, yang duduk di seberang meja makan dengan semangkuk bubur ayam tanpa kacang, menatapku mencatat dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Mbak mau goreng tempe lagi?” tanyanya.

“Mau.”

“Buat siapa?”

Aku mengangkat wajah dari ponsel dan menatapnya.

Bu Sumi, yang duduk di ujung meja, berhenti mengunyah.

“Tebak,” kataku.

Aris menunduk ke buburnya. Telinganya merah lagi. Ia menyendok bubur, meniupnya, menyendok lagi. Tidak menjawab.

Tapi ia tidak bilang Evan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bilang Evan.


Ia mengantarku ke mulut gang waktu aku pulang. Jam dua siang. Langit mendung, dan udara mulai terasa basah.

“Kamu sakit,” kataku. “Nggak usah nganter.”

“Gangnya licin, Mbak. Kalau hujan.”

“Belum hujan.”

“Bentar lagi.”

Kami berjalan berdampingan di gang sempit itu. Ia di sebelah kiriku, karena katanya motor dari arah berlawanan biasanya lewat di sebelah kanan. Kucing oranye masih tidur di atas atap motor. Anak kecil bersepeda roda tiga sudah tidak ada.

Di tengah gang, ada genangan air bekas hujan kemarin. Lebar, keruh, sampai hampir menutup seluruh jalan.

Aku berhenti. Sepatuku berhak rendah, tapi tetap sepatu kantor.

Aris juga berhenti. Ia menatap genangan itu. Lalu menatap sepatuku. Lalu, tanpa bicara, ia menyodorkan lengannya. Lengan kiri. Ditekuk di siku, seperti pegangan.

“Pinggirnya bisa dilewatin, Mbak. Tapi licin. Pegangan.”

Aku menatap lengan itu.

Lalu aku menggandengnya. Bukan sekadar berpegangan. Menggandeng. Tanganku menyelip di lekuk sikunya, jari-jariku melingkar di lengan bawahnya yang hangat di balik kemeja flanel.

Kami melewati pinggir genangan pelan-pelan. Langkah demi langkah. Aris berjalan di sisi yang lebih dekat dengan air, membiarkan sandal jepitnya terciprat, supaya sepatuku tetap kering.

Genangan itu sudah terlewati. Jalan di depan kering.

Aku tidak melepaskan lengannya.

Aris tidak menariknya.

Kami berjalan seperti itu sampai mulut gang, sampai warung Padang Uni Ita, sampai mobilku yang dijaga dengan setia oleh Uni Ita sendiri, yang sekarang berdiri di depan warungnya dengan tangan di pinggang dan senyum yang sangat lebar.

“Wah, Mas Aris,” kata Uni Ita. “Akhirnya!”

Aris melepaskan lenganku dengan sangat cepat.

“Bukan, Uni. Ini temen kantor.”

“Temen kantor kok gandengan?”

“Gangnya licin, Uni.”

“Gangnya kering, Mas. Uni dari tadi lihat.”

Aku tertawa. Aris menutup wajah dengan tangan kirinya.

Aku masuk ke mobil, menurunkan kaca jendela, dan menatapnya yang masih berdiri di depan warung Padang dengan sarung kotak-kotak, kemeja flanel yang dikancing asal, dan wajah merah.

“Cepet sembuh,” kataku.

“Iya, Mbak. Makasih buburnya.”

“Bilang makasih ke Lucky.”

“Iya.” Ia diam sebentar. “Mbak.”

“Hm?”

“Ibu saya tadi. Soal ngukur. Maaf. Ibu memang suka begitu.”

“Aku nggak keberatan.”

“Dan soal...” Ia menggaruk tengkuknya. “Soal ‘calon yang mana’. Ibu cuma bercanda, Mbak.”

Aku menatapnya. Lalu tersenyum.

“Aris,” kataku. “Tadi ibu kamu nanya ‘calon yang mana’. Yang mana berarti ada lebih dari satu. Siapa yang lain?”

Ia membuka mulut. Menutupnya lagi.

“Nggak ada, Mbak.”

“Berarti cuma satu.”

Aku menaikkan kaca jendela sebelum ia sempat menjawab, dan menyalakan mesin. Di kaca spion, aku melihatnya masih berdiri di depan warung Padang, sementara Uni Ita menepuk-nepuk punggungnya sambil tertawa.

Hujan mulai turun waktu mobilku keluar ke Jalan Jatiwaringin Raya. Rintik-rintik kecil di kaca depan.

Aku menyalakan wiper, dan tersenyum sepanjang jalan sampai Tebet.