Chapter Nine
Scrim Espresso
POV: Kira
Jumat pagi, jam sembilan tepat, aku meletakkan flashdisk di meja Aruna.
Dia mencolokkannya ke laptop, membuka satu-satunya file di dalamnya, dan membaca selama dua belas menit tanpa bicara. Aku duduk di kursi tamu, menatap tujuh kaktus di ambang jendela, dan menghitung napasku sendiri.
Akhirnya dia menutup laptop.
“Tinggalin di sini,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Kamu boleh keluar.”
Itu saja. Tidak ada komentar. Tidak ada pertanyaan. Wajahnya wajah kantor: rapi dan tidak bisa dibaca.
Aku keluar dari ruangannya dengan perasaan seperti baru menyerahkan formasi raid ke leader yang tidak pernah memakai voice.
Sabtu malam, jam delapan kurang lima, sepuluh karakter Morning Tea berdiri di gerbang Colosseum of Ash.
Arena itu berbentuk cawan raksasa yang terbuat dari batu hitam. Di tengahnya ada altar dengan bara api yang tidak pernah padam: Ember Altar. Tim yang menguasainya mendapat buff serangan dua puluh persen. Di sekelilingnya, dua belas pilar batu setinggi sepuluh meter. Dan setiap enam puluh detik, angin abu menyapu seluruh arena. Ash Storm. Delapan detik tanpa penglihatan sama sekali.
[Guild Scrim: Morning Tea vs Espresso] [Mode: Elimination, Best of 3] [Spectators: 41.208]
“Empat puluh satu ribu,” bisik Oolong. “Bang. Empat puluh satu ribu orang nonton kita.”
“Itu termasuk penonton stream aku!” kata Chamomile riang. Dia sedang streaming dari karakternya, dengan kamera kecil di pojok layarnya yang menunjukkan wajahnya. “Halo semuanya! Malam ini Morning Tea lawan Espresso! Earl udah bilang kita bakal kalah di ronde satu, guys. Sengaja katanya. Aku juga nggak ngerti, tapi aku percaya!”
Chat stream-nya, yang bisa kulihat di layar kedua karena Chamomile memaksaku membukanya, bergulir sangat cepat.
earl nyerah duluan wkwk SENGAJA KALAH??? ini 4D chess FakeEarl: semangat bang earl yang asli 🙏
Bastian ikut menonton. Tentu saja.
Di seberang arena, sepuluh karakter Espresso muncul. Zirah hitam dengan aksen merah tembaga. Formasi mereka sudah rapi bahkan sebelum ronde dimulai: dua tank di depan, tiga DPS di sayap, dua assassin di belakang tank, healer dan support di tengah.
Dan di depan mereka semua, leader mereka. Seorang swordmaster berzirah hitam legam dengan jubah merah, pedang panjang bersandar di bahu.
Ristretto.
Voice channel arena terbuka untuk kedua tim selama tiga puluh detik sebelum pertandingan. Aturan sopan santun scrim: leader saling menyapa.
“Selamat malam, Morning Tea.” Suara Ristretto tenang, jernih, sedikit terlalu rapi. Seperti suara orang yang sudah berlatih kalimat pembukanya. “Terima kasih sudah menerima tantangan kami.”
“Selamat malam, Nak,” kata Darjeeling ramah. “Main yang bagus, ya.”
“Kami selalu main bagus.” Jeda sebentar. “Earl ada di sini?”
Aku tidak menjawab.
“Saya sudah menonton rekaman Leviathan sebelas kali,” lanjut Ristretto. “Clockwork Cathedral empat kali. Saya mau lihat sendiri apakah strategi kalian bisa dibaca.”
Voice channel antar tim tertutup.
“Dia nonton sebelas kali,” kata Hojicha. “Bang, itu bukan fans. Itu stalker.”
“Itu pemain yang serius,” kataku. “Dengerin. Ronde satu, kita main formasi standar. Formasi yang dia tonton sebelas kali. Oolong depan, Lychee kanan, aku di belakang. Main normal, main serius. Jangan setengah-setengah.”
“Terus kita kalah?”
“Terus kita kalah. Tapi aku butuh lihat tiga hal.”
“Tiga hal apa?”
“Nanti aku kasih tahu.”
[Round 1 — Start]
Kami kalah dalam satu menit empat puluh detik.
Itu bukan kekalahan yang tipis. Itu pembantaian. Espresso tidak menyerang Oolong di depan, tidak mengincer Lychee di sayap. Pada detik ke-delapan, dua assassin mereka menghilang dalam stealth. Pada detik ke-dua puluh tiga, saat Ash Storm pertama menyapu arena, mereka muncul di belakangku.
[Earl — DEAD]
Empat puluh detik setelah itu, tanpa buff, tanpa Tempo Call, Morning Tea runtuh seperti rumah kartu.
[Round 1 — Winner: Espresso]
Chat stream Chamomile meledak.
EARL MATI PERTAMA ternyata bisa dibaca wkwkwk sengaja kalah atau emang kalah 🤔 FakeEarl: ini masih bagian dari rencana kan bang 😭
Di voice channel Morning Tea, semua orang diam.
“Bang,” akhirnya Genmai bersuara. “Itu... sengaja?”
“Formasinya sengaja,” kataku. “Matinya nggak. Aku nggak nyangka mereka masuk di detik dua puluh tiga.”
“Terus sekarang?”
Aku menatap layar statistik ronde satu. Posisi setiap pemain Espresso tiap lima detik. Urutan skill. Jalur gerakan.
“Tiga hal,” kataku. “Satu: mereka ngincer aku duluan. Mereka tahu kalau aku mati, kalian kehilangan buff dan call. Itu masuk akal.
“Dua: mereka masuk pas Ash Storm. Storm itu delapan detik nggak bisa lihat apa-apa. Assassin mereka pakai storm buat nyamar. Itu juga masuk akal.
“Tiga, dan ini yang paling penting.” Aku mengetuk meja. “Mereka nggak main pakai rencana mereka sendiri. Mereka main pakai rencana kita. Setiap gerakan mereka itu jawaban dari gerakan kita di video Leviathan sama Cathedral. Ristretto bukan pemain yang nyerang. Dia pemain yang ngebalas.”
“Terus kenapa itu penting?” tanya Matcha.
“Karena orang yang selalu ngebalas, gampang ditebak dia bakal ngebalas apa.”
Hening sebentar.
“Ronde dua,” kataku, “dia bakal ngira aku sembunyi lebih jauh. Dia bakal siapin assassin buat ngejar ke belakang lagi, lebih dalam. Jadi aku nggak sembunyi.”
“Terus kamu di mana?”
“Di tengah. Di Ember Altar. Sendirian.”
Sembilan orang bicara bersamaan.
“BANG?!”
“Itu bunuh diri!”
“Earl, HP kamu paling tipis di server!”
“Aku tahu,” kataku. “Itu intinya.”
[Round 2 — Start]
Earl berjalan sendirian ke tengah arena.
Enchanter berjubah abu, dengan ranting kering di tangan, berdiri di atas Ember Altar. Bara api menyala di bawah kakinya. Buff altar aktif. Seluruh arena bisa melihatnya. Empat puluh satu ribu penonton bisa melihatnya.
Chat stream Chamomile berhenti bergulir sesaat, seperti semua orang menahan napas.
dia ngapain EARL BERDIRI DI TENGAH ini umpan kan??? FakeEarl: bang jangan bang
Di seberang, Espresso berhenti bergerak.
Tiga detik. Lima detik. Tidak ada yang maju. Ristretto sedang berpikir. Aku bisa merasakannya dari diamnya formasi mereka.
Pemain biasa akan langsung menyerang. Target paling penting berdiri sendirian di tempat terbuka. Tapi Ristretto bukan pemain biasa. Dia tahu ini umpan. Dia tahu ada jebakan.
Pertanyaannya: dia akan menebak jebakannya di mana?
Kalau aku Ristretto, setelah ronde satu, aku akan berpikir: Earl umpan, tank dan DPS-nya sembunyi di balik pilar terdekat untuk menyergap. Jadi aku akan mengirim tank untuk membersihkan pilar dulu, lalu assassin masuk saat storm.
Itu yang dia lakukan.
Dua tank Espresso maju, perlahan, memeriksa pilar terdekat dengan Ember Altar. Pilar satu, kosong. Pilar dua, kosong. Pilar tiga, kosong.
Semua pilar di dekat altar kosong.
Karena tidak ada satu pun anggota Morning Tea di dekat altar. Mereka semua ada di pilar paling luar, di tepi arena, sejauh mungkin dari tengah.
“Lima belas detik ke storm,” kataku pelan di voice channel kami. “Jangan gerak.”
Tank Espresso selesai memeriksa pilar. Tidak menemukan apa-apa. Ristretto pasti bingung sekarang. Umpan tanpa jebakan? Atau Earl memang sendirian?
Lima detik ke storm.
Dia akan mengirim assassin. Dia tidak tahan tidak tahu.
[Ash Storm]
Layar menjadi abu-abu pekat. Delapan detik buta total.
“Sekarang,” kataku. “Semua lari ke tengah. Lurus. Jangan berhenti. Oolong, kamu sampai duluan, dua detik lagi aku hitung. Sencha—”
Aku menekan ping ungu di layar Sencha, dengan panah berkedip ke arah altar.
“Tujuh, enam, lima.”
Di dalam storm, dua assassin Espresso masuk dari stealth, langsung ke posisi terakhir Earl yang mereka lihat. Altar. Aku tidak bisa melihat mereka. Tapi aku tahu mereka di sana, karena itu yang akan kulakukan kalau aku Ristretto.
“Empat. Tiga.”
Aku menekan Q tiga kali ke diriku sendiri. Barrier. Lalu Barrier lagi. Dua lapis.
“Dua.”
Satu belati menancap. Barrier pertama pecah.
“Satu. Oolong, TAUNT.”
Storm menghilang.
Dan empat puluh satu ribu penonton melihat ini: dua assassin Espresso berdiri di atas Ember Altar, satu belati masih terangkat ke arah Earl. Dan dikelilingi sembilan anggota Morning Tea yang muncul dari dalam abu, membentuk lingkaran sempurna di sekitar altar.
Oolong berteriak TAUNT dengan suara kecilnya, dan zirah dua meternya menyala merah.
Dua assassin itu tidak punya waktu untuk kabur.
[Espresso — Shadow_01 — DEAD] [Espresso — Shadow_02 — DEAD]
“Altar milik kita,” kataku. “Buff aktif. Sekarang kita yang dorong.”
Chat stream meledak dengan cara yang membuat layar keduaku tersendat.
DIA LARIIN SEMBILAN ORANG KE TENGAH PAS STORM NGGAK ADA YANG BISA LIHAT TAPI SEMUA SAMPAI BARENG AKU TONTON ULANG 5X GA NGERTI FakeEarl: AKU TAHU DIA NGGAK BAKAL KALAH 😭😭
Tanpa dua assassin, Espresso bermain seperti tim delapan orang yang kehilangan arah. Ristretto mencoba menarik formasinya kembali, tapi Ember Altar memberi kami buff dua puluh persen, dan Lychee menembus sayap kiri mereka seperti benang menembus kain.
[Round 2 — Winner: Morning Tea]
Satu sama.
“Ronde tiga,” kata Darjeeling, napasnya agak terengah, seperti dia baru lari keliling lapangan. “Earl. Apa lagi?”
“Sekarang dia nggak bakal masuk,” kataku. “Dia udah kena dua kali. Ronde satu dia menang karena ngebalas. Ronde dua dia kalah karena ngebalas. Ronde tiga dia bakal berhenti ngebalas. Dia bakal main aman. Bertahan di pinggir, nunggu kita salah.”
“Terus kita?”
“Kita main di dalam storm.”
“Bang,” kata Genmai, “storm itu delapan detik nggak bisa lihat apa-apa.”
“Iya.”
“Kita nyerang pas nggak bisa lihat?”
“Kalian nggak perlu lihat. Kalian dengerin aku. Kayak di Cathedral.”
Hening. Lalu Bu Ratna, dengan suara keibuan yang tenang:
“Ya sudah. Ibu dengerin Nak Earl.”
[Round 3 — Start]
Prediksiku benar. Espresso tidak maju. Mereka membentuk formasi bertahan di separuh arena mereka, tank di depan, healer di tengah, menunggu.
Kami juga tidak maju. Kami berdiri di separuh arena kami. Dua tim saling menatap. Empat puluh satu ribu penonton menunggu.
Lima puluh detik. Lima puluh lima.
“Storm dalam lima,” kataku. “Semua tutup mata. Serius. Jangan lihat layar. Lihat layar cuma bikin kalian ragu.”
“Tutup mata beneran, Bang?”
“Beneran.”
[Ash Storm]
“Maju lurus tiga langkah. Oolong, kiri dua. Darjeeling, Matcha, belok ke pilar enam. Hojicha, Genmai, kalian lewat jalur pinggir, enam langkah, lalu berhenti.”
Aku menghitung langkah. Aku menghitung jarak dari setiap pilar. Aku menghitung posisi terakhir setiap pemain Espresso yang kulihat sebelum storm, dan memperkirakan ke mana mereka akan bergerak dalam delapan detik berdasarkan kebiasaan mereka di dua ronde sebelumnya.
Di tengah semua itu, sebuah pesan muncul di chat party.
Lychee: aku nggak lihat apa-apa.
Aku menjawab di voice, pelan.
“Kamu nggak perlu lihat. Dengerin aku.”
Lychee: aku dengerin kamu terus kok.
Satu detik, aku kehilangan hitungan. Hanya satu detik. Lalu aku menariknya kembali.
“Lychee, lima langkah ke depan. Lurus. Healer mereka di sana. Dua, satu—”
Storm menghilang.
Dan Espresso menemukan bahwa Morning Tea sudah ada di dalam formasi mereka. Bukan di depan. Bukan di samping. Di dalam. Darjeeling dan Matcha di antara dua tank mereka. Kembar di belakang DPS mereka. Lychee berdiri tepat di depan healer mereka, rapier sudah terangkat, dengan Haste yang kulempar sebelum storm masih aktif.
[Espresso — Healer — DEAD]
Tidak ada yang bisa bertahan tanpa healer. Dalam empat puluh detik berikutnya, formasi Espresso runtuh satu demi satu. Hanya satu yang tersisa.
[Ristretto — HP 61%]
Dan dari pihak kami, yang masih berdiri: Lychee, HP dua puluh persen. Dan aku, di belakang.
Ristretto menatap Lychee. Lychee menatap Ristretto. Swordmaster melawan rapier. Penonton berhenti mengetik.
“Lychee,” kataku. “Dia bakal pakai Crimson Arc. Animasinya satu koma lima detik. Kalau kamu nunggu dia selesai, kamu mati. Kalau kamu masuk duluan, kamu mati.”
Lychee: terus?
“Masuk pas dia baru angkat pedang. Frame dua. Kamu kenal frame dua.”
Lychee: call aja.
Ristretto mengangkat pedangnya.
“Sekarang.”
[Earl casts Haste → Lychee]
Rapier perak menembus celah di antara dua gerakan.
[Ristretto — DEAD] [Round 3 — Winner: Morning Tea] [Guild Scrim — Morning Tea wins 2-1]
Voice channel Morning Tea meledak. Chamomile berteriak ke kamera. Pak Hendro tertawa sampai batuk. Kembar bernyanyi lagu kemenangan yang mereka buat sendiri dan tidak ada nadanya. Oolong mengulang terus, “Aku tutup mata, Bang. Aku beneran tutup mata.”
Aku melepas headset dan bersandar ke kursi.
Lima menit kemudian, sebuah whisper muncul. Bukan dari Lychee.
Ristretto: Pertandingan yang bagus.
Earl: makasih.
Ristretto: Saya mau tanya satu hal.
Earl: silakan.
Ristretto: Cara kamu ngatur party di ronde tiga. Gelombang. Jeda. Masuk dari tiga jalur di waktu yang sama. Prediksi posisi berdasarkan kebiasaan lawan.
Ristretto: Itu bukan cara gamer berpikir. Itu cara orang ngatur armada.
Ristretto: Kamu kerja di logistik?
Aku menatap layar. Jariku berhenti di atas keyboard.
Ribuan orang bekerja di logistik di Jakarta. Ribuan dispatcher. Ribuan perencana rute. Itu tebakan yang masuk akal dari seseorang yang menonton terlalu banyak rekaman.
Tapi kalimat berikutnya membuat tengkukku dingin.
Ristretto: Tidak perlu dijawab. Guild war bulan depan. Kami tidak akan baca video lagi.
Ristretto: Kami akan baca kamu.
Ristretto: Tetap proaktif, Earl.
Proaktif.
Aku menatap kata itu lama sekali. Lalu menggelengkan kepala. Orang memakai kata proaktif di mana-mana. Di seminar, di iklan lowongan, di caption LinkedIn. Itu kata yang tidak berarti apa-apa.
Aku menutup whisper itu tanpa membalas.
Satu notifikasi lain sudah menunggu.
Lychee: kamu baik-baik aja?
Earl: iya. kenapa?
Lychee: kamu diam lama abis menang. biasanya kamu langsung bilang “gg”.
Aku menatap pesannya. Dia memperhatikan. Di tengah keramaian kemenangan, dengan empat puluh satu ribu penonton dan sembilan orang yang berteriak, dia memperhatikan bahwa aku tidak bilang gg.
Earl: gg.
Lychee: telat.
Earl: maaf.
Lychee: besok sabtu kan libur.
Earl: ini udah sabtu.
Lychee: maksudku besok minggu. pak hendro ngajak nonton bareng di rooftop toko bangunannya. kamu dateng?
Earl: nonton apa?
Lychee: nggak tahu. katanya film. bu ratna bawa rendang lagi.
Lychee: dateng ya.
Lychee: aturan nomor enam. dua arah. kalau kamu nggak dateng, aku jemput.
Aku tertawa, sendirian di kamar kos, dan untuk sesaat lupa pada kata proaktif.
Earl: kamu tahu kos aku di mana?
Lychee: belum.
Lychee: tapi aku head of operations. aku bisa cari tahu.
Aku menutup laptop. Membukanya lagi.
Earl: aku dateng.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso reading
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit