← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Fifteen

Bubur dan Tempo Call

POV: Kira

Ada yang mengetuk pintu.

Aku tidak yakin itu nyata. Sejak semalam, kepalaku berisi banyak suara yang tidak nyata. Lonceng-lonceng Clockwork Cathedral. Tangisan Septima. Bunyi Tidal Roar. Semuanya berputar di dalam tengkorak yang rasanya sedang direbus pelan-pelan.

Ketukan lagi. Tiga kali.

“Mas Kira!” Suara Bu Wati, ibu kos. Itu nyata. Suara Bu Wati selalu nyata, terutama di tanggal satu. “Mas Kira, bangun! Ada tamu!”

Aku membuka mata. Langit-langit dengan noda bocor berbentuk Sulawesi. Cahaya matahari dari celah gorden. Jam di dinding menunjukkan delapan lewat sepuluh. Aku tidak ingat kapan tertidur.

Ponselku tergeletak di samping bantal. Layarnya hitam. Mati sejak semalam. Aku tidak sempat mencari charger. Aku tidak sempat mencari apa pun.

“Mas Kira!”

“Iya, Bu,” kataku. Suaraku keluar seperti amplas.

“Tamunya perempuan, Mas!” Bu Wati menurunkan suaranya, tapi tidak cukup. Bu Wati tidak pernah menurunkan suaranya cukup. “Cantik. Bawa bubur. Pakai jam tangan cowok.”

Aku duduk terlalu cepat. Kamar berputar.

Pakai jam tangan cowok.


Saat aku membuka pintu, Aruna berdiri di lorong kos yang sempit, di antara rak sepatu dan jemuran handuk tetangga.

Dia memakai sweater rajut krem yang sama dengan malam di rooftop. Celana jeans. Sneakers putih. Rambut dikuncir asal-asalan. Di tangan kanannya ada kantong plastik berisi kotak styrofoam yang mengepul. Di tangan kirinya ada kantong apotek. Di bahunya tergantung payung lipat kecil berwarna hitam dengan gagang kayu.

Bu Wati berdiri di belakangnya, tangan terlipat di dada, dengan wajah ibu kos yang baru menemukan cerita yang lebih seru dari sinetron jam tujuh.

“Pagi,” kata Aruna.

“Bu,” kataku. Lalu sadar. “Aruna. Kamu. Ngapain.”

“Kamu nggak balas WhatsApp.”

“HP aku mati.”

“Aku tahu sekarang.” Dia menatapku dari ujung rambut sampai kaki. Kaus oblong lusuh, celana training, rambut yang tidak bisa dibilang rambut, wajah yang pastinya pucat. Matanya menyipit. “Kamu kelihatan kayak Septima abis wipe sembilan kali.”

“Kamu nemu kos aku dari mana?”

“Aku tanya warung kelontong di ujung gang. Aku bilang cari cowok kurus, kacamata, hoodie abu, suka minum teh, pulang malam.”

“Terus?”

“Ibu warungnya langsung tunjuk ke sini. Katanya ‘Oh, Mas Kira. Yang suka beliin makanan kucing buat kucing kampung di depan masjid.’”

Aku tidak tahu harus bilang apa.

“Pacarnya, Mas?” tanya Bu Wati dari belakang.

“Atasan, Bu,” kataku dan Aruna bersamaan.

Bu Wati menatap kami berdua. Lalu menatap kantong bubur. Lalu menatap kantong apotek. Lalu menatap payung kecil.

“Atasan bawain bubur hari Minggu pagi,” katanya pelan, seperti mencatat. “Iya. Iya. Ibu paham.”

Kenapa semua orang di Jakarta bilang Ibu paham dengan nada yang sama?


Kamarku tiga kali empat meter. Kasur busa di lantai. Meja lipat dengan laptop dan monitor tua. Lemari plastik. Rak buku dari kayu bekas. Satu kursi.

Aruna berdiri di ambang pintu lama, menatap semuanya.

Aku tahu apa yang dia lihat. Dinding dengan papan tulis kecil yang penuh coretan strategi raid. Peta Jabodetabek tergantung di sebelahnya, ditempeli sticky note. Foto Ibu di depan gerobak getuk, dalam bingkai plastik, di atas rak. Tujuh hoodie abu digantung berjejer di balik pintu. Dan tumpukan buku tulis di rak bawah. Puluhan. Semua bersampul cokelat. Semua berlabel tulisan tanganku.

“Duduk,” kataku, menunjuk satu-satunya kursi. “Maaf berantakan.”

“Kamu yang duduk,” katanya. “Atau tiduran. Kamu yang sakit.”

Aku duduk di kasur. Dia meletakkan kantong bubur di meja lipat, membuka kotaknya. Bubur ayam, tanpa sambal, dengan kerupuk dalam plastik terpisah. Di kantong apotek ada paracetamol, minuman isotonik, dan plester demam untuk dahi.

“Bu Ratna bilang jangan yang pedas,” katanya.

“Bu Ratna tahu?”

“Semua orang tahu. Aku bilang di grup aku mau jenguk kamu.”

“Semua orang?”

“Iya. Dan aku bilang jangan ada yang ikut. Matcha bilang dia driver ojol delapan tahun dan dia tahu artinya jangan ada yang ikut.”

Aku tertawa, lalu batuk. Batuk panjang yang membuat dadaku sakit.

Aruna berhenti membuka kotak bubur. Dia berjalan ke kasur, duduk di pinggirnya, dan meletakkan punggung tangannya di dahiku.

Tangannya dingin. Mungkin karena dia memegang botol isotonik dari tadi. Rasanya enak sekali.

“Kamu panas banget,” katanya pelan. “Ini bukan demam sedikit.”

“Tiga puluh delapan.”

“Kamu ukur?”

“Semalam.”

“Kamu bohong.”

“Tiga puluh sembilan.”

Dia menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Bukan wajah kantor. Bukan wajah Lychee. Wajah baru.

Lalu dia membuka plester demam, menempelkannya di dahiku dengan hati-hati, seperti menempelkan sticky note di pinggir monitor. Lalu dia mengambil kotak bubur, menyendoknya, meniupnya, dan menyodorkannya ke mulutku.

“Kali ini kunyah,” katanya. “Jangan diam lima detik kayak di gerobak Pak Somad.”


Aku menghabiskan setengah kotak bubur dan dua tablet paracetamol. Aruna menyuruhku berbaring. Aku menolak. Dia menatapku. Aku berbaring.

Dia duduk di kursi di sebelah kasur. Ponselku sudah dicolokkan ke charger yang dia temukan di bawah meja, tergeletak di antara kabel-kabel. Layar ponselku menyala, menunjukkan logo baterai yang mulai terisi.

“Kamu punya banyak buku tulis,” katanya, menunjuk rak bawah.

“Catatan.”

“Catatan apa?”

“Macam-macam. Rute getuk waktu SD. Rute sopir. Pola raid.”

Dia membungkuk dan membaca label di punggung buku-buku itu. Rute Getuk Sokaraja 2010. Rute Getuk 2011. Pola Tol Cikampek. Leviathan. Cathedral. Hydra. Lalu dia berhenti di satu buku yang lebih tebal dari yang lain, dengan sampul yang sudah lusuh.

Arsip Sunyi — 47

“Ini apa?” Dia menariknya keluar.

Aku seharusnya bilang jangan. Tapi kepalaku berat, dan obatnya mulai bekerja, dan semua kata terasa terlalu jauh untuk dijangkau.

Dia membukanya. Halaman demi halaman berisi angka. Bukan angka rute. Deretan angka satu sampai dua belas, dengan garis-garis pendek dan panjang di antaranya, seperti notasi musik. Di setiap halaman ada judul: Buku 1 — Perpustakaan Utara. Buku 2 — Menara Angin. Buku 14 — Reruntuhan Selatan. Sampai Buku 47 — Bawah Katedral.

“Ini kayak not lagu,” katanya.

“Iya.”

“Lagu apa?”

“Lagu yang...” Aku mencari kata. Mataku sangat berat. “Lagu yang nggak ada yang dengerin.”

Dia menatap buku itu lama. Lalu menatapku. Lalu dengan hati-hati menutupnya dan mengembalikannya ke rak, persis di tempat semula.

“Nanti kamu cerita,” katanya.

“Nanti aku cerita.”

Lalu mataku terpejam.


Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Yang kutahu, aku sedang berdiri di Clockwork Cathedral.

Lantai berputar. Lonceng berdentang. Dan Lychee berdiri di petak lima, rapier terangkat, tidak bergerak.

Ting-ting. Dua nada. Petak lima dan petak sebelas.

“Lychee,” kataku, atau kupikir kukatakan. “Geser. Petak lima runtuh.”

Dia tidak geser.

“Jangan diam. Geser. Tiga, dua—”

Aku meraih tangannya. Di mimpi, aku meraih tangan karakter berambut perak itu. Aku menariknya keluar dari petak yang retak.

“Aku tangkap,” kataku. “Aturan nomor enam.”

Lalu aku mendengar suara, bukan dari mimpi.

“Iya. Aku tahu.”

Aku membuka mata.

Aruna masih duduk di kursi di sebelah kasur. Tapi kursinya sudah bergeser lebih dekat. Dan tanganku, tangan kananku, sedang menggenggam tangan kirinya. Erat. Jari-jarinya di antara jari-jariku. Jam tangan Papa-nya menempel di pergelangan tanganku.

Aku tidak tahu sejak kapan.

“Maaf,” kataku, mencoba melepas.

Dia tidak melepas.

“Kamu ngigau,” katanya pelan. “Dari tadi. Kamu hitung mundur. Kamu bilang geser, petak lima, Barrier sekarang. Terus kamu nyari sesuatu di kasur. Terus kamu pegang tangan aku.”

“Maaf. Aku—”

“Kamu bilang aku tangkap.”

Aku diam.

“Aku nggak keberatan,” katanya.

Kalimat itu. Aku nggak keberatan. Kalimat yang dulu kutulis tentang diriku sendiri. Sekarang dia mengucapkannya, dengan tangan yang tetap di genggamanku.

Aku tidak melepas lagi.

Kami duduk seperti itu lama. Aku berbaring, dia di kursi. Tangan kami di pinggir kasur. Di luar, terdengar suara tukang sayur, anak-anak bermain bola di gang, dan Bu Wati yang menelepon seseorang dengan suara yang sangat jelas: “Iya, Bu, perempuan. Cantik. Bawa bubur. Atasan katanya. Iya. Ibu juga nggak percaya.”

Aruna menutup mata dan tersenyum.


Ponselku berbunyi jam dua belas siang. Baterainya sudah empat puluh persen. Video call.

Ibu

Aku panik. Aruna masih di kursi. Kamarku berantakan. Aku memakai plester demam di dahi.

“Angkat,” kata Aruna.

“Tapi—”

“Kalau nggak diangkat, ibu kamu khawatir. Angkat.”

Aku mengangkat. Wajah Ibu memenuhi layar. Kerudung cokelat, kacamata baca di ujung hidung, latar dapur dengan wajan besar.

“Le! Kok semalem nggak bisa ditelepon? Ibu telepon lima kali!”

“Maaf, Bu. HP mati.”

“Kamu kenapa? Itu di jidat apa?” Ibu mendekatkan wajahnya ke kamera sampai yang kulihat hanya hidung dan kacamatanya. “Kamu sakit?”

“Sedikit, Bu.”

“Sedikit apa? Pucet gitu. Wis, ngapusi meneh.”

Udah, bohong lagi.

Lalu mata Ibu bergeser. Dari wajahku ke sesuatu di belakangku. Ke sweater rajut krem di kursi.

“Le,” katanya pelan. “Itu sopo?”

Itu siapa?

Aku menoleh ke Aruna. Aruna menatapku. Lalu dia bangkit, mendekat, dan masuk ke frame kamera dengan senyum paling sopan yang pernah kulihat.

“Selamat siang, Bu,” katanya. “Saya Aruna. Atasannya Kira di kantor.”

Ibu menatap layar sangat lama.

“Atasan?”

“Iya, Bu.”

“Atasan kok di kamar kos?”

Aruna tidak kehilangan senyum. “Kira sakit, Bu. Dia tinggal sendiri. Nggak ada yang bawain makan. Jadi saya bawain bubur.”

Ibu diam. Lalu, perlahan, wajahnya berubah. Bukan curiga. Lebih seperti ibu yang baru saja menyadari bahwa anaknya, yang selama ini selalu mengurus semua orang, akhirnya punya seseorang yang mengurus dia.

“Mbak Aruna,” kata Ibu.

“Iya, Bu.”

“Kira itu kalau sakit suka bohong. Bilang sehat, padahal demam tinggi. Dari kecil gitu. Nggak mau bikin Ibu khawatir.”

“Saya tahu, Bu. Tadi dia bilang tiga puluh delapan. Ternyata tiga puluh sembilan.”

Ibu tertawa. Tawa yang sudah lama tidak kudengar sejak dia mulai sakit-sakitan.

“Nah. Itu dia.” Ibu menghela napas. Lalu menatap Aruna lagi dengan mata yang sangat lembut. “Titip Kira ya, Mbak. Dia itu ngurusin semua orang. Tapi nggak pernah ada yang ngurusin dia.”

Aruna diam sebentar. Lalu mengangguk.

“Iya, Bu. Saya titip.”

“Le.” Ibu kembali ke aku. “Sing ati-ati yo. Ojo kesusu mbalik kerja.”

Hati-hati ya. Jangan buru-buru balik kerja.

“Iya, Bu.”

Panggilan berakhir. Aku menatap layar hitam. Aruna kembali duduk di kursi, wajahnya sedikit merah.

“Ibu kamu lucu,” katanya.

“Ibu aku nggak pernah ketawa kayak gitu sejak tahun lalu.”

Dia tidak bilang apa-apa. Tapi tangannya, perlahan, kembali ke pinggir kasur.


Dia pulang jam tiga sore, setelah memastikan aku minum obat kedua, menghabiskan sisa bubur, dan berjanji tidak membuka laptop sampai besok pagi.

“Senin kamu nggak usah masuk,” katanya di pintu.

“Proyek 12.12 tinggal delapan hari.”

“Aku bisa pegang sehari.”

“Gudang Cikarang—”

“Pak Darto berangkat jam empat, antar anaknya jam enam. Aku ingat.” Dia tersenyum. “Aku hafal sekarang.”

Dia membuka payung kecil, walaupun tidak hujan. Kebiasaan, mungkin. Atau dari Papa-nya.

“Kira.”

“Ya?”

“Baca WhatsApp kamu.”

Lalu dia pergi. Aku mendengar Bu Wati di lorong berkata, “Mbak, hati-hati ya. Mampir lagi kapan-kapan!” Dengan nada yang jelas-jelas mengharapkan kapan-kapan itu segera.

Aku kembali ke kasur. Mengambil ponsel. Membuka WhatsApp.

Ada dua puluh tiga pesan dari grup Morning Tea, sebagian besar emoji mata. Lima pesan dari Ibu, semua sebelum video call. Satu pesan dari Tari: Kir, Bu Deadline nanya alamat kos kamu ke aku kemarin sore, aku bilang nggak tahu, tapi aku curiga 👀.

Dan delapan pesan dari Aruna Lestari.

Aku membacanya satu per satu.

Kira.

Kita wipe sembilan kali.

Pak Hendro bilang kita cuma tangan. Otaknya di Tebet.

Sencha baru sadar semua ping ungunya dari kamu. Dua tahun.

Bu Ratna bilang dia nggak pintar main, dia cuma pintar dengerin kamu.

Di wipe kesembilan, aku berhenti hitung di angka tiga.

Bukan karena aku lupa angka berikutnya.

Karena aku mikirin kamu.

Aku membaca pesan terakhir itu sampai layar ponselku meredup. Lalu aku menyentuhnya supaya menyala lagi. Lalu membacanya lagi.

Dia mengirimnya jam sebelas lewat dua belas menit, semalam. Saat aku tertidur dengan demam tiga puluh sembilan dan ponsel mati. Dia menunggu sampai pagi. Dia mencari kos aku dari mulut gang. Dia membawa bubur tanpa sambal karena Bu Ratna bilang begitu. Dia membiarkan tanganku menggenggam tangannya selama satu jam saat aku mengigau.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik. Menghapus.

Di game, aku tidak pernah ragu lebih dari satu koma dua detik.

Akhirnya:

Kira: Udah aku baca.

Kira: Semuanya.

Centang dua. Lalu biru. Cepat sekali, seperti dia sedang memegang ponselnya di lampu merah.

Aruna: Terus?

Aku menatap pesan itu. Lalu menatap tumpukan buku tulis di rak. Arsip Sunyi — 47. Lalu menatap tangan kananku, yang sejam lalu menggenggam tangannya.

Kira: Di Cathedral, kamu diam di petak lima karena kamu mikirin aku.

Kira: Di Hydra, kamu berhenti di angka tiga karena kamu mikirin aku.

Aruna: Iya. Aku payah.

Kira: Bukan.

Kira: Itu artinya aku harus lebih sering ada di belakang kamu. Biar kamu nggak perlu mikirin aku pas lagi raid.

Lama dia tidak membalas. Titik-titik muncul, hilang, muncul.

Aruna: Itu jawaban enchanter banget.

Kira: Aku enchanter.

Aruna: Aku tahu.

Aruna: Tapi suatu hari aku mau dengar jawaban yang bukan enchanter.

Aruna: Jawaban kamu. Kira. Bukan Earl.

Aku menatap kalimat itu. Jawaban aku. Bukan Earl.

Aku tidak tahu jawaban itu. Aku tidak pernah tahu. Dua puluh tujuh tahun aku hanya tahu cara berdiri di belakang.

Kira: Kasih aku waktu.

Aruna: Berapa lama?

Kira: Nggak tahu. Belum ada di catatan mana pun.

Aruna: Oke.

Aruna: Aku tunggu.

Aruna: Sekarang tidur. Itu perintah.

Kira: Atasan?

Aruna: Lychee.

Aku meletakkan ponsel di samping bantal, di atas charger. Memejamkan mata.

Di kepalaku tidak ada lagi lonceng Cathedral. Tidak ada tangisan Septima. Hanya satu suara, pelan, dari jam satu siang tadi, saat tanganku menggenggam tangannya dan aku setengah sadar:

Iya. Aku tahu.