← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Twenty One

Strategic Planning Lead

POV: Kira

“Kir. Kir. Kir.”

Tari bahkan belum melepas jaket. Dia berdiri di samping mejaku jam tujuh lewat lima Senin pagi, dengan ponsel di tangan dan mata yang terlihat seperti tidak tidur sejak Sabtu.

“Kamu udah lihat forum?”

“Belum, Tar.”

“Bohong. Semua orang di Indonesia udah lihat forum.” Dia menyodorkan ponselnya ke depan wajahku. Di layar, tangkapan layar World Notice. Origin-tier equipment detected in combat. Wielder: Earl (Morning Tea). Di bawahnya, klip pendek. Ranting retak. Cahaya emas. Tongkat dirigen. “Adikku nonton ulang ini empat puluh kali. Empat puluh, Kir. Dia nggak makan malam. Dia bilang ini momen paling bersejarah dalam sejarah game online Indonesia.”

“Itu... berlebihan.”

“Berlebihan?” Tari menatapku seperti aku baru menghina ibunya. “Kir. Unknown Origin Holder. Dua tahun semua orang nyari. Ada yang bilang orang Korea. Ada yang bilang developer. Ada yang bilang hantu. Ternyata dia enchanter yang pakai ranting. Yang bikin party sepuluh orang ngalahin tiga puluh. Yang nolak lamaran streamer cantik demi ranting itu sendiri.”

Aku menyeruput Earl Grey dan tidak tersedak. Aku sudah berlatih sepanjang Minggu.

“Adikku bilang,” lanjut Tari, merendahkan suara jadi bisikan Tari, yang bisa didengar sampai lantai lima, “Earl itu pasti orang kaya. Pasti CEO startup. Atau dokter. Atau pilot. Soalnya cuma orang hebat yang bisa sesantai itu nyembunyiin barang langka dua tahun.”

“Mungkin dia cuma orang biasa.”

“Nggak mungkin.” Tari menggeleng tegas. “Orang biasa nggak punya suara kayak gitu. Kamu udah dengar suaranya? Di stream Chamomile? Kayak cowok baru bangun tidur yang mau bilang selamat pagi ke pacarnya.”

Mbak Ayu, dari meja seberang, berhenti mengetik.

“Itu deskripsi yang sangat spesifik, Tar,” kata Mbak Ayu.

“Aku nonton stream-nya tiga kali, Yu. Aku hafal.”

Aku menunduk ke layar komputer dan menyalakan headset. Tidak ada telepon masuk. Aku hanya butuh sesuatu di telinga supaya tidak perlu mendengar Tari menjelaskan bagaimana suaraku terdengar seperti cowok baru bangun tidur.


Jam sembilan, seluruh divisi operasional dipanggil ke ruang rapat besar di lantai lima.

Empat puluh orang. Dispatcher, koordinator gudang, customer service, tim IT, dan Reno, yang duduk di baris depan dengan kemeja baru berwarna biru tua. Di depan ruangan, Aruna berdiri dengan Pak Darmawan.

“Selamat pagi,” kata Aruna. “Saya tidak akan lama.”

Dia menekan tombol. Di layar muncul grafik sederhana. Ketepatan waktu Harbolnas tahun lalu: tujuh puluh dua persen. Tahun ini: delapan puluh sembilan. Denda SLA tahun lalu: satu koma delapan miliar. Tahun ini: dua ratus empat puluh juta.

Ruangan bertepuk tangan. Tari bertepuk tangan paling keras.

“Ini bukan hasil satu hari,” lanjut Aruna. “Ini hasil dua tahun observasi dan perencanaan yang selama ini tidak terlihat. Jadi saya ingin memastikan, mulai sekarang, perencanaan seperti ini punya tempat yang terlihat di struktur kita.”

Slide berikutnya.

Usulan Posisi Baru: Strategic Planning Lead — Divisi Operasional Status: Diajukan ke Direksi, keputusan dalam 2 minggu Kandidat yang direkomendasikan: Kira Aditama

Ruangan hening.

Lalu Tari, di sebelahku, menjerit. Bukan jeritan pelan. Jeritan yang membuat Pak Gunawan di baris belakang menjatuhkan kopinya.

“Maaf,” kata Tari ke seluruh ruangan, menutup mulut, air mata sudah di pipinya. “Maaf. Lanjut, Bu.”

Aruna tidak tersenyum. Wajahnya wajah kantor. Tapi aku melihat jari telunjuknya mengetuk pinggir meja presentasi. Satu, dua, tiga.

“Strategic Planning Lead,” katanya, “akan bertanggung jawab atas perencanaan rute jangka panjang, persiapan musim puncak, dan pengembangan sistem dispatch. Posisi ini setara supervisor, melapor langsung ke Head of Operations.”

Pak Darmawan maju sedikit. “Saya sudah lihat cara kerjanya,” katanya. “Saya sudah dengar presentasinya di lantai sembilan. Saya mendukung usulan ini. Keputusan final tetap di rapat direksi, tapi saya pribadi sudah yakin.”

Tepuk tangan lagi. Lebih keras dari sebelumnya. Mas Fajar bersiul. Mbak Ayu berdiri. Pak Joko, koordinator gudang Tangerang yang mengemudikan forklift nomor tiga, mengacungkan dua jempol dari baris belakang.

Aku duduk tidak bergerak. Tanganku di atas paha, gemetar.

Dua tahun aku menyelipkan sticky note ke depan orang lain. Hari ini namaku ada di slide. Lagi. Kali ini dengan jabatan di sebelahnya.

Lalu aku melihat Reno.

Dia bertepuk tangan. Senyumnya di tempatnya. Kemejanya rapi. Tapi tangannya bertepuk sangat pelan, seperti orang yang bertepuk karena semua orang bertepuk. Dan matanya tidak menatap layar. Matanya menatap Aruna.

Lalu matanya bergeser. Ke arahku.

Aku menunduk.

Kamu orang LNX?


Selesai rapat, Reno menghampiriku di koridor. Di depan semua orang.

“Selamat, Kir,” katanya, menjabat tanganku. Jabatannya kuat. Terlalu kuat. “Saya bangga. Anak didik saya.”

“Makasih, Pak.”

“Nanti kalau udah jadi Lead,” katanya, masih tersenyum, masih menjabat, “jangan lupa siapa yang dulu ngajarin kamu baca pola tol.”

“Saya nggak lupa, Pak.”

Dia melepas tanganku. Menepuk bahuku dua kali. Lalu pergi ke arah lift, dan beberapa orang yang menonton mengangguk-angguk seperti melihat supervisor yang murah hati merayakan keberhasilan bawahannya.

Tari berdiri di sampingku. Dia tidak mengangguk.

“Kir,” bisiknya, kali ini benar-benar pelan. “Jabatannya kekencengan.”

“Kamu lihat?”

“Aku duduk di lantai ini empat tahun. Aku lihat semua jabat tangan.”


Jam tiga sore, aku harus mengantar laporan ke lantai sembilan. Pak Darmawan minta salinan cetak evaluasi Harbolnas untuk rapat direksi.

Aku masuk lift. Pintu hampir tertutup.

Sebuah tangan menahannya.

Aruna masuk. Sendirian. Dengan tablet di tangan. Pintu tertutup di belakangnya.

Kami berdiri di dua sudut lift yang berlawanan. Seperti malam itu, berbulan-bulan lalu. Malam saat dia bertanya divisi mana.

Lantai lima.

“Bu,” kataku.

“Kira.”

Lantai enam.

Dia tidak menatapku. Dia menatap layar tabletnya. Tapi jari telunjuknya bergerak di sisi tablet. Satu, dua, tiga.

Lantai tujuh.

“Earl,” katanya pelan.

Hanya itu. Satu kata. Diucapkan sangat pelan, ke arah tabletnya, di dalam lift kantor, di tengah hari kerja. Nama yang sejak Sabtu malam dikenal seluruh server Genesis. Nama yang tidak pernah dia ucapkan dengan suara di gedung ini.

Tanganku, yang sedang mengulurkan jari untuk menekan tombol lantai sembilan, meleset.

Aku menekan tombol lantai satu.

Lift berhenti di lantai delapan. Pintunya terbuka. Tidak ada siapa-siapa. Pintunya tertutup. Lift mulai bergerak turun.

Aruna menatap panel tombol. Lantai satu menyala. Lantai sembilan tidak.

Lalu dia menatapku.

“Kamu mau ke mana?”

“Lantai sembilan.”

“Kamu tekan satu.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu bilang Earl.”

Lantai tujuh. Enam.

Dia menatapku sangat lama. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Senyum kafe. Senyum yang tidak pernah muncul di gedung ini kecuali di lift, saat tidak ada siapa-siapa.

“Kamu bisa tembus Mirror Queen pakai Zero-Buff Window,” katanya, “tapi kamu nggak bisa tekan tombol lift kalau aku bilang satu kata.”

“Itu kata yang curang.”

“Kamu juga bilang favorit itu curang.”

“Dua-duanya curang.”

Lantai lima. Empat.

Dia mengulurkan tangan melewatiku dan menekan tombol lantai sembilan. Lengannya menyentuh lenganku. Wangi lychee dan sedikit es.

“Aku nggak akan bilang lagi di kantor,” katanya. “Aturan nomor tiga.”

“Itu bukan bahas game. Itu cuma nama.”

“Itu celah.”

“Kamu yang nyari.”

Lantai tiga. Lift berhenti. Pintu terbuka. Dua orang dari tim keuangan masuk, membawa map tebal. Mereka melihat Bu Deadline dan seorang dispatcher berdiri di dua sudut lift, sangat jauh satu sama lain, menatap tombol, dengan wajah sangat serius.

Lift naik lagi. Lantai empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan.

Di lantai sembilan, aku keluar. Aruna tetap di dalam.

Pintu mulai tertutup. Aku tidak menoleh. Tapi tepat sebelum pintu tertutup sepenuhnya, aku mendengar suaranya. Sangat pelan. Hanya untukku.

“Selamat, Strategic Planning Lead.”


Malam itu, grup Morning Tea masih belum tenang.

Dua hari sejak Mirror Queen. Dua hari sejak World Notice. Dan grup chat itu masih bergerak seperti aula cermin yang retak.

Hojicha: bang aku masih ga percaya Genmai: bang kenapa dua tahun bang Oolong: bang aku nyuruh abang ganti senjata 47 kali. aku hitung. maaf bang Chamomile: aku udah ngelamar unknown origin holder di depan 200 ribu orang dan ditolak. aku udah damai. aku sekarang jadi meme Matcha: chamomile meme-nya lucu kok Chamomile: MATCHA Rooibos: Nak Kira, Ibu masih nangis. Ibu nonton ulang klipnya di HP anak Ibu. Anak Ibu bilang Ibu lebay. Darjeeling: Earl. Bapak mau tanya serius. Darjeeling: Kamu mau jadi leader party?

Aku menatap pertanyaan itu.

Darjeeling: Bapak cuma leader di nama. Kamu yang selama ini mimpin. Semua orang tahu. Sekarang seluruh server tahu. Bapak nggak apa-apa kalau kamu ambil.

Grup chat diam. Sembilan orang menunggu.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik.

Earl: nggak, pak.

Earl: bapak yang ngajak kita kopdar. bapak yang bikin bioskop di rooftop. bapak yang bilang ini keluarga, bukan game. bapak yang nyuruh kita pulang pas wipe sembilan kali, terus besoknya nyuruh lychee jenguk aku.

Earl: aku bisa ngitung cooldown sepuluh orang. tapi aku nggak bisa bikin sepuluh orang mau dateng ke rooftop toko bangunan buat nonton rekaman diri sendiri.

Earl: itu leader, pak. bukan aku.

Grup diam lama.

Darjeeling: Nak.

Darjeeling: Bapak lagi di toko. Bapak nangis di depan tumpukan semen. Pelanggan bingung.

Rooibos: Ibu juga nangis lagi. Anak Ibu bilang Ibu lebay lagi.

Oolong: aku juga bang 😭

Sencha: 💜

Lalu satu pesan dari Lychee, yang dari tadi tidak muncul di grup:

Lychee: gg.

Grup meledak dengan emoji mata.


Jam sepuluh malam, saat semua sudah log out, whisper muncul.

Lychee: hari ini kamu nekan tombol lantai satu.

Earl: iya.

Lychee: padahal mau ke sembilan.

Earl: iya.

Lychee: karena aku bilang earl.

Earl: iya.

Jeda.

Lychee: kalau aku bilang kira, kamu nekan tombol apa?

Aku menatap pertanyaan itu sangat lama.

Earl: nggak tahu. belum pernah dicoba.

Lychee: besok aku coba.

Earl: di lift?

Lychee: nggak. aku cari tempat yang nggak ada tombolnya.

Aku menatap layar.

Earl: maksudnya?

Lychee: besok kita lembur. rencana Q1. sampai malam.

Lychee: bawa jaket. ramalan cuaca bilang hujan.

Lychee: kamu yang biasanya ngecek ramalan cuaca jam lima pagi, kan?

Earl: iya.

Lychee: kali ini aku yang ngecek.

Dia log out.

Aku membuka aplikasi BMKG di ponsel. Selasa, Jakarta Timur. Hujan lebat sore hingga malam. Berhenti sekitar pukul sepuluh.

Aku menatap angka sepuluh itu lama. Lalu menutup aplikasi, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, memasukkan jaket ke dalam tas sebelum tidur.