Chapter Three

Kursi Kesepuluh

POV: Kira

Aku sudah mengelilingi blok yang sama tiga kali.

Kafe Seduh Senja ada di lantai dasar ruko dua lantai di Blok M. Dindingnya kaca, pintunya kayu, dan dari trotoar seberang aku bisa melihat ke dalam. Di meja panjang dekat jendela, sembilan orang duduk berjejer, tertawa, berpindah kursi, saling menunjuk.

Morning Tea.

Mereka sudah datang. Aku terlambat dua puluh lima menit, bukan karena macet, tapi karena setiap kali aku sampai di depan pintu, kakiku berbelok sendiri dan membawaku mengelilingi blok lagi.

Putaran pertama, aku bilang ke diriku sendiri aku cuma mau mengecek tempat parkir motor, padahal aku naik KRL. Putaran kedua, aku membeli air mineral di minimarket yang tidak kubutuhkan. Putaran ketiga, aku berdiri di depan etalase toko sepatu selama lima menit, melihat pantulan wajahku sendiri.

Kemeja biru muda. Satu-satunya baju bukan abu-abu yang kupunya, dibeli tadi pagi di pasar dekat stasiun. Masih ada bekas lipatan di dada. Kacamata. Rambut yang sudah kusisir tiga kali dan tetap memilih jalannya sendiri.

Aku terlihat seperti orang yang mau melamar kerja jadi admin gudang.

Ponselku bergetar. Grup chat Morning Tea.

Darjeeling: Earl, kamu di mana? Hojicha: bang jangan bilang ga jadi dateng Genmai: kita udah pesen makanan bang. kalo ga dateng, porsimu kumakan Chamomile: EARL KAMI MENUNGGUMU 😭 Rooibos: Rendang Ibu tinggal sedikit, Nak, ayo cepat

Aku menarik napas. Lalu menyeberang.


Pintu kayu itu berbunyi kling saat kudorong. Udara di dalam beraroma kopi dan kayu manis. Musik akustik pelan. Aku berdiri di ambang pintu sebentar, berusaha mengatur langkah.

Dan saat itulah aku menyadari ada yang salah.

Di meja panjang itu, sembilan orang sedang mengerubungi seorang laki-laki.

Bukan anggota Morning Tea. Laki-laki itu duduk di meja sebelah, sendirian, dengan laptop terbuka dan cangkir kopi. Tingginya mungkin seratus delapan puluh, kulitnya cerah, rambutnya ditata rapi, kacamatanya berbingkai tipis seperti model iklan kacamata. Dia memakai kemeja hitam yang jelas bukan beli di pasar dekat stasiun pagi ini.

Dan dia terlihat sangat bingung.

“Maaf, maaf,” kata laki-laki itu. “Saya beneran bukan—”

“Udah, Bang, nggak usah merendah,” potong Genmai. “Kita tahu. Dari cara Abang duduk aja udah kelihatan.”

“Cara saya duduk?”

“Duduknya strategis,” kata Hojicha, mengangguk serius. “Di pojok. Bisa lihat pintu. Bisa lihat semua meja. Itu posisi enchanter, Bang.”

“Saya duduk di sini karena ada colokan.”

“Persis kayak yang Earl bakal bilang,” kata Chamomile, menutup mulutnya, matanya berbinar. “Ya ampun, Earl ternyata secakep ini. Aku nyesel pernah bilang daddy strategi. Harusnya kubilang husband strategi.”

“Saya beneran bukan—”

“Nak,” kata seorang ibu berkerudung cokelat yang memegang rantang, pastilah Bu Ratna, Rooibos. Dia menyodorkan potongan rendang di sendok ke arah mulut laki-laki itu. “Makan dulu. Kamu kurus. Strategi butuh tenaga.”

Laki-laki itu, karena tidak punya pilihan lain, membuka mulut dan menerima rendang.

Aku berdiri di pintu dan tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Seorang pelayan menghampiriku. “Sendiri, Kak?”

“Saya... sama mereka,” kataku, menunjuk meja panjang.

Di ujung meja itu ada satu kursi kosong. Kursi kesepuluh. Di depannya sudah ada piring, gelas, dan kartu nama kecil bertuliskan tangan dengan spidol: EARL ♛.

Mereka menyiapkan kursi untukku. Dengan mahkota.

Dan sekarang mereka sedang menyuapi rendang ke orang lain.

Aku berjalan pelan ke meja. Tidak ada yang menoleh. Semua sibuk dengan laki-laki di meja sebelah. Aku menggeser kursi kesepuluh, duduk, dan meletakkan tas di pangkuan.

Seorang laki-laki muda kurus berkacamata tebal di sebelahku, yang duduknya paling jauh dari keramaian, menoleh. Dia pucat, kemejanya kebesaran, dan sedang memegang gelas es teh dengan dua tangan seperti hamster memegang biji.

“Eh,” katanya pelan. “Itu... kursinya Earl.”

“Oh,” kataku.

“Kamu temennya siapa?”

Suaranya. Aku mengenali suara itu. Suara kecil yang dua minggu lalu bilang maaf, Bang, aku nekan tombolnya telat.

Oolong. Tank kami. Ksatria berbaju zirah hitam setinggi dua meter yang di game berteriak TAUNT! seperti singa.

Di dunia nyata, dia lebih kecil dariku.

“Aku...” Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Karena di meja sebelah, Darjeeling, laki-laki gemuk berkumis tebal dengan kaus polo bertuliskan TB Hendro Jaya: Bahan Bangunan Lengkap, baru saja menepuk punggung laki-laki berkemeja hitam itu dan bilang dengan suara bariton yang memenuhi kafe:

“Pokoknya, Nak Earl, Bapak bangga sama kamu.”

Dan laki-laki itu, setelah tiga suap rendang, tampaknya sudah menyerah menjelaskan. Dia hanya tersenyum lemah dan bilang, “Terima kasih, Pak.”

Kalau aku bilang sekarang sebenarnya aku Earl, aku akan mempermalukan sembilan orang yang sudah menyuapi orang asing dengan rendang.

Aku akan mempermalukan diriku sendiri karena muncul sebagai versi yang jauh lebih buruk dari harapan mereka.

“Aku temennya... teman,” kataku ke Oolong.

Oolong mengangguk seperti itu jawaban yang masuk akal.


Aku memesan Earl Grey tanpa gula dan nasi goreng. Lalu aku duduk diam di ujung meja, mengamati.

Darjeeling bernama asli Pak Hendro. Dia datang bersama istrinya, Bu Hendro, yang duduk di sampingnya dengan wajah orang yang sudah menyerah pada kegilaan suaminya sejak lama. Sesekali dia mengusap punggung Pak Hendro dan berbisik, “Pak, makan pelan-pelan.”

Kembar Genmai dan Hojicha bernama Ilham dan Ilyas. Mereka benar-benar kembar identik. Satu-satunya cara membedakannya: Ilham memakai topi terbalik, Ilyas tidak. Mereka sudah bertengkar dua kali dalam sepuluh menit, soal siapa yang lebih berjasa di raid Leviathan.

Matcha, si monk, bernama Yudha. Dia masih memakai jaket hijau ojol dan helm tergantung di sandaran kursi. Dia bilang dia baru selesai narik dari Bekasi.

Bu Ratna, Rooibos, membagikan rendang ke semua orang, termasuk pelayan kafe, termasuk orang di meja sebelah yang bukan siapa-siapa, termasuk aku tanpa bertanya siapa aku.

“Makan, Nak,” katanya padaku.

“Makasih, Bu.”

“Kamu temennya siapa?”

“Teman... dari jauh.”

“Oh, ya udah, makan.”

Chamomile alias Nana Pramesti persis seperti di stream-nya: cantik dengan cara yang dirancang untuk kamera, rambut cokelat bergelombang, lip tint merah muda, dan ponsel yang terus merekam. Dia sedang membuat konten.

“Guys, aku lagi kopdar sama Morning Tea!” katanya ke kamera. “Dan ini dia, Earl! Earl, say hi!”

Laki-laki berkemeja hitam melambai lemah ke kamera. Wajahnya seperti orang yang diculik.

Sencha duduk di tengah. Dia laki-laki berambut ikal dengan kaus desain grafis, tenang, dan berkomunikasi dengan mengetik di ponsel lalu menunjukkan layarnya ke orang di sebelahnya. Sesekali tangannya bergerak dalam bahasa isyarat, dan Bu Hendro, entah kenapa, mengangguk seperti mengerti.

Dan di sebelah Sencha, ada satu kursi lagi. Lychee.

Kursinya kosong. Tas tangan kulit hitam tergeletak di atasnya.

“Lychee mana?” tanya Chamomile ke kamera. “Guys, Lychee lagi ke toilet. Lychee ini misterius banget, dia jarang ngomong di game. Nanti kita lihat dia secantik apa ya!”

Aku menyeruput Earl Grey, mencoba menenangkan jantung.

Lalu pintu toilet di belakang kafe terbuka. Seseorang berjalan kembali ke meja.

Kaus putih polos. Celana jeans. Sneakers putih. Rambut hitam sebahu, kali ini dibiarkan tergerai, sedikit berantakan karena angin. Tidak ada blazer. Tidak ada tablet. Tapi ada jam tangan pria berbahan kulit cokelat yang terlalu besar untuk pergelangannya.

Gelas Earl Grey berhenti di depan mulutku.

Aruna Lestari. Head of Operations LNX. Bu Deadline.

Dia duduk di kursi Lychee.

“Lychee! Akhirnya!” Chamomile mengarahkan kamera. “Guys, ini Lychee! Lihat, cantik banget kan? Aku udah curiga, orang yang crit-nya serapi itu pasti cantik.”

Aruna menutup kamera Chamomile dengan telapak tangan. “Jangan rekam aku.”

“Iiih, Lychee galak.”

“Aku nggak galak. Aku nggak mau masuk internet.”

Nadanya. Itu nada yang sama dengan nada saya nggak mau tahu, Pak di lift. Tapi bibirnya tersenyum. Senyum kecil, miring, yang belum pernah kulihat di kantor.

Aku menunduk. Seluruh darah di tubuhku turun ke kaki.

Lychee. Rapier berambut perak yang selalu menulis call aja. Yang selalu melompat tanpa bertanya ketika aku menyuruhnya melompat. Yang malam itu bilang nggak banyak orang yang percaya aku bisa, di mana pun.

Yang curhat soal orang di lift yang namanya tidak dia ingat.

Orang di lift itu aku.

Aku menatap nasi goreng yang baru datang dan memutuskan bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah menjadi tidak terlihat. Itu keahlianku. Aku sudah melakukannya dua tahun di kantor. Aku bisa melakukannya dua jam di kafe.


Satu jam berlalu. Laki-laki berkemeja hitam itu, yang ternyata bernama Bastian, seorang konsultan pajak yang hanya mau numpang colokan, sudah menghabiskan dua porsi rendang, satu kue cokelat, dan menerima tiga ajakan jadi menantu dari Bu Ratna.

“Jadi, Nak Earl,” kata Pak Hendro, “gimana kamu bisa kepikiran pakai air sebagai kabel listrik?”

Bastian menatap Pak Hendro lama. “Itu... insting, Pak.”

“INSTING!” Ilham menggebrak meja. “Dengar itu, Yas! Insting!”

“Aku dengar, aku di sebelahmu!”

Aruna tidak ikut tertawa. Sejak duduk, dia diam, makan kentang goreng satu per satu, dan sesekali melirik Bastian. Alisnya berkerut. Ekspresi yang kukenal dari rapat: ekspresi orang yang membaca laporan dan menemukan angka yang tidak cocok.

“Earl,” katanya tiba-tiba, ke Bastian.

Semua orang diam. Lychee jarang bicara. Bahkan di dunia nyata, tampaknya.

“Di Leviathan,” kata Aruna, “kamu suruh aku cancel ultimate di frame berapa?”

Bastian menelan ludah. “Frame... yang pas?”

“Frame berapa?”

“Itu... rahasia strategi.”

Aruna meletakkan kentang gorengnya. Senyum kecil itu hilang. Matanya menyipit.

Dan pada saat yang sama, pelayan datang ke ujung meja, ke arahku, dengan wajah meminta maaf.

“Kak, maaf, Earl Grey-nya habis. Mau diganti teh lain?”

Aku menatap cangkirku yang sudah kosong. Aku memesan cangkir kedua tadi, dan sekarang sudah setengah jam belum datang.

Kebiasaanku muncul sendiri sebelum aku sempat menghentikannya. Telunjukku mengetuk meja. Satu, dua, tiga. Ketukan cooldown. Dan dari mulutku, pelan, hampir tidak terdengar, keluar kalimat yang sudah kuucapkan ribuan kali di depan layar:

“Buff dulu, baru maju...”

Aku sadar dan langsung menutup mulut. “Maksud saya, nggak apa-apa, Mbak. Air putih aja.”

Pelayan pergi.

Aku mendongak. Dan di ujung meja yang lain, Aruna sedang menatapku.

Bukan melirik. Menatap. Kentang goreng di tangannya berhenti di udara. Matanya tidak berkedip. Dia menatap jariku yang masih di atas meja, lalu naik ke wajahku, lalu turun lagi ke jariku.

Seisi meja masih ribut dengan Bastian. Tidak ada yang sadar.

Aruna berdiri. Berjalan memutari meja panjang, melewati Pak Hendro, melewati kembar, melewati Bu Ratna yang sedang menawarkan rendang ke pelayan. Dia berhenti di depanku.

Dekat. Aku bisa mencium wangi parfumnya, sesuatu yang manis seperti buah, dengan sedikit es.

“Ketuk lagi,” katanya.

“Hah?”

“Ketuk mejanya. Kayak tadi.”

Jariku gemetar. Aku mengetuk. Satu, dua, tiga. Jeda. Satu, dua.

Ritme Haste lalu Barrier Weave. Ritme yang kumainkan ratusan malam.

Aruna menarik napas pendek. Lalu, dengan suara yang tidak keras tapi entah kenapa membuat seluruh meja langsung diam:

“Kamu Earl.”

Hening.

Pak Hendro berhenti mengunyah. Kembar berhenti bertengkar. Chamomile menurunkan ponselnya. Oolong menjatuhkan sedotan. Bu Ratna masih memegang sendok berisi rendang di depan mulut pelayan.

Bastian, di meja sebelah, mengangkat kedua tangannya ke udara seperti tahanan yang baru dibebaskan. “Terima kasih. Akhirnya. Saya udah bilang dari tadi saya bukan.”

Semua mata menoleh ke arahku.

Aku bisa saja menyangkal. Aku bisa bilang aku cuma teman. Aku bisa jadi tidak terlihat lagi.

Tapi Aruna masih berdiri di depanku. Menatapku seperti aku jawaban dari soal yang dia cari berbulan-bulan.

“Iya,” kataku pelan. “Aku Earl.”

Meja itu meledak.

“BANG EARL?!”

“Yang ini?!”

“Terus yang ini siapa?!” Ilham menunjuk Bastian.

“Saya konsultan pajak!”

“Aku udah nyuapin orang asing rendang tiga kali,” kata Bu Ratna, dengan nada tenang yang mengerikan. Lalu dia tersenyum dan menyodorkan sendok ke arahku. “Ya sudah. Sekarang kamu. Ayo, Nak. Buka mulut.”

“Bu, saya bisa makan sendiri.”

“Buka mulut.”

Aku membuka mulut.

Chamomile tertawa sampai menangis. Pak Hendro berdiri, memelukku dari belakang kursi sampai kacamataku miring. “ANAK BAPAK!” Oolong, di sebelahku, menatapku dengan wajah orang yang baru sadar dia mengobrol dengan idolanya selama satu jam tanpa tahu. “Bang,” bisiknya, “aku tadi bilang ini kursi Earl. Ke Earl.”

“Iya.”

“Aku malu banget, Bang.”

“Aku juga.”

Sencha menyodorkan ponselnya padaku. Di layar tertulis: Aku tahu dari awal. Kamu ngecek pintu keluar pas masuk. Kebiasaan enchanter. Lalu dia tersenyum dan membuat isyarat jempol.

Dan di tengah semua keributan itu, Aruna masih berdiri di depanku.

Dia tidak tertawa. Dia tersenyum. Senyum yang lain lagi, lebih lebar, dengan mata yang ikut menyipit. Senyum yang membuat wajah tegas itu tiba-tiba terlihat seperti perempuan dua puluhan biasa yang baru menemukan sesuatu yang dia sukai.

“Akhirnya,” katanya. “Aku pikir kamu nggak bakal datang.”

“Aku janji,” kataku.

“Iya. Kamu janji.” Dia mengulurkan tangan. “Aku Lychee. Nama asliku Aruna.”

Aku menatap tangan itu. Tangan yang kemarin menahan pintu lift di depanku.

Aku menjabatnya. Tangannya dingin, mungkin karena gelas es lychee tea yang dia pegang dari tadi.

“Nama aslimu siapa?” tanyanya.

Aku membuka mulut. Ini dia. Dia akan mendengar namaku dan sadar. Dia akan ingat lift itu. Dia akan ingat hari Senin. Dia akan sadar orang yang dia kagumi di game adalah bawahannya yang tidak dia lihat selama dua tahun.

“Kira,” kataku.

Aruna mengangguk. “Kira,” ulangnya, pelan, seperti mencicipi kata itu.

Lalu dia tersenyum lagi. Dan tidak ada apa-apa. Tidak ada kilatan pengenalan. Tidak ada kerutan di dahi.

“Nama yang bagus,” katanya. “Cocok buat enchanter.”

Dia kembali ke kursinya, memindahkan piring dan gelasnya, lalu menggeser kursinya ke ujung meja, ke sebelahku. Mengusir Oolong dengan satu tatapan. Oolong pindah tanpa protes.

“Mulai sekarang aku duduk di sini,” katanya. “Aku punya dua tahun pertanyaan soal frame cancel.”

Aku menatapnya. Dia sedang membuka kotak kentang goreng dan menyodorkannya ke arahku, seperti tidak ada yang aneh di dunia ini.

Dia tidak ingat.

Dia sama sekali tidak ingat.

Dan hari Senin, jam delapan pagi, dia akan berjalan melewati mejaku di lantai empat.