Chapter Eighteen
Nikah Yuk, Earl
POV: Aruna
Aku yang menyuruhnya bicara.
Itu yang harus kuingat. Aku yang menulis kamu boleh ngomong, kira, di mana aja. Aku yang memaksanya keluar dari belakang. Jadi aku tidak berhak kesal saat dia benar-benar melakukannya.
Tapi aku tidak menyangka tempat pertama dia bicara adalah di stream Chamomile.
Ceritanya begini. Setelah guild war, Morning Tea jadi topik nomor satu di forum Genesis selama empat hari berturut-turut. 10 vs 30. Gelombang Earl. Siapa enchanter ranting ini sebenarnya? Penonton stream Chamomile naik dari delapan puluh ribu jadi dua ratus ribu. Kaos Earl Call / Lychee Eksekusi terjual lima ribu potong.
Dan Chamomile mengajukan proposal untuk kedua kalinya.
Chamomile: collab stream!! sekali aja!! earl suara doang, ga usah muka!! 🙏🙏🙏 Chamomile: semua hasil donasi masuk kas party!! kita bisa beli proyektor baru buat bioskop hendro jaya!! Darjeeling: Proyektor Bapak masih bagus, Nak. Genmai: pak, proyektor bapak kemarin bunyi kayak motor tua Darjeeling: Itu suara khas, Nak. Rooibos: Ibu setuju. Uangnya juga bisa buat bantu biaya sekolah anak Nak Matcha. Matcha: bu, aku belum punya anak Rooibos: Nanti, Nak. Nanti. Chamomile: @Earl gimanaaaa 🥺
Aku menunggu dia menolak. Dia selalu menolak. Dua kali sebelumnya dia menolak dengan alasan yang sama: aku nggak bisa ngomong di depan banyak orang.
Earl: oke.
Satu kata. Lalu:
Earl: sekali aja. suara aja.
Grup chat meledak. Dan aku menatap layar ponselku di ruang rapat kecil, jam dua siang, dengan perasaan aneh di perut yang belum bisa kunamai.
Dia setuju. Karena aku bilang kamu boleh ngomong.
Aku seharusnya senang.
Stream dimulai Kamis malam jam delapan.
Aku menontonnya dari sofa apartemen, dengan lychee tea dan laptop di pangkuan. Aku bilang ke diriku sendiri aku menonton karena aku anggota party. Karena aku perlu tahu apa yang dikatakan tentang Morning Tea di depan dua ratus ribu orang.
Itu bohong. Aku menonton karena aku mau dengar suaranya.
“Halo semuanyaaa!” Wajah Chamomile memenuhi layar. Rambut cokelat bergelombang, lip tint merah muda, lampu ring di belakangnya membuat matanya berbinar. “Malam ini spesial banget, guys! Aku ada tamu! Tamu yang paling kalian minta! Dia nggak mau pakai kamera, jadi cuma suara, tapi percaya deh ini orangnya! Ini... EARL!”
Hening sebentar. Lalu suara itu. Pelan. Sedikit serak. Sangat jelas kalau dia sedang gugup.
“Halo.”
Chat stream meledak dengan kecepatan yang membuat laptopku lag.
EARL ASLI SUARANYA LEMBUT BANGET kok kayak suara cowok baru bangun tidur FakeEarl: abangku 😭😭😭 AKU MELELEH
Aku menyeruput lychee tea terlalu keras. Esnya berbunyi.
Satu jam pertama berjalan normal. Chamomile bertanya soal strategi, dan Kira menjawab. Pelan. Detail. Dengan cara yang sama dia menjelaskan frame cancel di atas tisu. Dia menjelaskan lagu tidur di Clockwork Cathedral, tangisan Septima, gelombang di Valkyr. Penonton terdiam setiap kali dia bicara. Chat bergerak lebih lambat, seperti semua orang sedang mencatat.
Lalu Chamomile membaca pertanyaan dari chat.
“Oke, oke, ini pertanyaan paling banyak. Dari... dua ribu orang. ‘Earl, kamu single?’”
Aku berhenti menyeruput.
Hening di stream. Tiga detik. Lima detik.
“Itu... bukan pertanyaan strategi,” kata Kira akhirnya.
“Semua hal pertanyaan strategi, Earl!” Chamomile tertawa. “Jawab dong!”
“Aku... belum punya pasangan.”
Chat meledak lagi. Lebih keras dari sebelumnya.
Lalu Chamomile mendekatkan wajahnya ke kamera. Senyumnya berubah, dari senyum host jadi senyum yang lain. Senyum yang lebih kecil. Lebih pribadi. Senyum yang dirancang untuk kamera, tapi entah kenapa terlihat sangat tulus.
“Kalau gitu,” katanya pelan, “Earl, nikah yuk.”
Chat stream berhenti.
Aku tidak bisa bernapas.
Lalu chat bergulir seperti air bah. Ribuan pesan per detik. Emoji hati. Emoji cincin. Emoji pengantin. CHAMOMILE LAMAR EARL. HEALER X ENCHANTER. SUPPORT X SUPPORT. AKU NANGIS. Klip pertama sudah muncul di forum sebelum Kira sempat menjawab.
Kira tidak menjawab selama tujuh detik.
Aku menghitung. Tujuh. Detik.
Lalu:
“Aku... rantingku setia.”
Chamomile tertawa sampai hampir jatuh dari kursi. “RANTING! Dia pilih ranting! Guys, aku ditolak sama orang yang pilih ranting!”
Chat penuh tawa. Semua orang menganggapnya lelucon. EARL TOLAK CHAMOMILE DEMI RANTING. RANTING MENANG. Seseorang membuat meme ranting memakai gaun pengantin dalam dua menit.
Aku menutup laptop.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan.
Aku tahu itu lelucon. Chamomile selalu bercanda. Dia memanggil Kira daddy strategi dan husband strategi sejak kopdar. Dia flirting ke semua orang di party, termasuk Pak Hendro, yang selalu menjawab Bapak sudah punya istri, Nak, dan istri Bapak galak. Tidak ada yang serius.
Tapi tujuh detik.
Kira, yang memutuskan segalanya dalam satu koma dua detik, butuh tujuh detik untuk menjawab.
Dan saat dia menjawab, dia tidak bilang nggak. Dia bilang rantingku setia. Lelucon. Pengalihan. Cara Kira menghindari pertanyaan tanpa menyakiti siapa pun.
Kenapa dia perlu menghindari?
Kenapa dia tidak bilang saja nggak?
Kenapa aku peduli?
Aku berdiri dari sofa. Berjalan ke dapur. Mengisi gelas dengan air. Meminumnya. Berdiri di depan kulkas, menatap magnet berbentuk pesawat yang ditempel Papa dua puluh tahun lalu.
Aku Head of Operations. Umurku dua puluh sembilan. Aku sudah bernegosiasi dengan vendor yang berteriak di telepon, memecat orang yang mencuri, mempresentasikan laporan rugi ke direksi. Aku tidak pernah merasa seperti ini.
Seperti ada sesuatu yang panas dan asam di dada, yang tidak punya tempat untuk keluar.
Aku cemburu.
Pada streamer yang membuat konten chamomile minum chamomile.
Malam itu, jam sepuluh, Morning Tea farming bahan di dungeon tingkat sedang. Tidak ada raid. Hanya berburu monster untuk crafting.
Aku login. Kira juga, setelah stream selesai.
Earl: malam.
Lychee: malam.
Hanya itu. Dia tidak mengirim apa-apa lagi. Aku tidak mengirim apa-apa lagi.
Kami masuk dungeon. Monster pertama muncul. Golem batu, tiga meter, HP lumayan.
Aku tidak menunggu buff.
Rapier menusuk. Sekali. Dua kali. Lima kali. Delapan kali. Golem itu runtuh dalam empat detik.
[CRITICAL HIT ×8]
Monster kedua. Tiga goblin pemanah. Aku menembus mereka bertiga dalam satu gerakan.
[CRITICAL HIT ×3]
Monster ketiga. Serigala bayangan. Dia bahkan tidak sempat melolong.
“Kak Lychee,” kata Oolong di voice, pelan, hati-hati, seperti orang yang mendekati kucing yang sedang marah. “Kakak... baik-baik aja?”
Lychee: baik.
[CRITICAL HIT ×12]
“Kak Lychee nge-crit dua belas kali berturut-turut,” bisik Genmai ke Hojicha, tapi di voice channel party, jadi semua orang dengar. “Itu secara statistik nggak mungkin.”
“Itu mungkin kalau orangnya lagi marah,” bisik Hojicha balik.
“Marah sama siapa?”
Hening. Lalu sembilan orang, secara bersamaan, tidak mengatakan apa-apa dengan sangat keras.
Earl: lychee. kamu nggak nunggu buff.
Lychee: nggak butuh.
Earl: oke.
Dia tidak melempar Haste. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia tidak melempar Haste ke arahku saat aku berlari ke depan.
Dan entah kenapa, itu membuatku lebih kesal lagi.
Jumat pagi, aku menulis email.
Kepada: Kira Aditama Perihal: Evaluasi Proyek 12.12
Saudara Kira,
Mohon disiapkan laporan evaluasi Proyek 12.12 selambat-lambatnya Senin pukul 09.00. Laporan meliputi: analisis keterlambatan per gelombang, rekomendasi perbaikan, dan proyeksi untuk periode Harbolnas tahun depan.
Terima kasih.
Aruna Lestari Head of Operations
Saudara Kira.
Aku tidak pernah menulis Saudara di email ke siapa pun. Aku membacanya ulang tiga kali sebelum mengirim. Lalu aku mengirimnya.
Dua menit kemudian, balasan masuk.
Baik, Bu.
Dua kata. Tanpa titik. Tanpa nama.
Jam sepuluh, aku lewat di depan meja dispatcher. Aku tidak mengetuk mejanya. Untuk pertama kalinya sejak dua minggu, aku tidak mengetuk mejanya.
Aku tahu dia menyadarinya. Aku tahu karena ketukan jarinya di meja berhenti tepat saat aku lewat.
Dari meja sebelahnya, Tari menatapku dengan mata lebar. Lalu menatap Kira. Lalu menatapku lagi.
Jam dua belas, saat aku keluar untuk makan siang, aku mendengar Tari berbisik ke Mbak Ayu di pantry. Bisikan Tari yang bisa didengar sampai lantai lima.
“Bu Deadline balik jadi deadline.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu. Kemarin masih ngetuk meja Kira. Hari ini nggak. Pagi tadi Kira dapet email pakai Saudara.”
“Saudara?”
“Saudara, Yu. Saudara Kira. Bu Deadline nggak pernah pakai Saudara ke siapa pun. Bahkan ke Pak Reno.”
“Terus Kira gimana?”
“Kira kayak kucing yang dimarahin tapi nggak tahu salahnya apa.”
Aku berjalan ke lift sangat cepat.
Jam empat sore, ponselku bergetar. Bukan WhatsApp. Whisper dari Genesis, dari aplikasi ponsel.
Bukan dari Kira.
Rooibos: Nak Lychee. Ibu boleh ngomong sesuatu?
Aku menatap layar. Bu Ratna tidak pernah mengirim whisper. Dia selalu bicara di grup, di depan semua orang, dengan kalimat lengkap dan titik di akhir.
Lychee: iya, bu.
Rooibos: Ibu nonton stream Nak Nana kemarin.
Rooibos: Ibu juga lihat Nak Lychee crit dua belas kali.
Lychee: itu kebetulan, bu.
Rooibos: Iya, Nak. Kebetulan. Ibu paham.
Bahkan Bu Ratna.
Rooibos: Ibu cuma mau cerita. Dulu, waktu Ibu masih muda, Ibu suka sama Bapaknya anak-anak. Tiga tahun. Ibu nunggu dia bilang duluan. Dia nggak bilang-bilang. Ibu kesal. Ibu diemin dia. Dia makin nggak bilang.
Rooibos: Terus suatu hari ada perempuan lain yang deketin dia. Ibu marah sekali. Ibu nggak ngomong sama dia dua minggu.
Lychee: terus bu?
Rooibos: Terus dia datang ke rumah Ibu, bawa martabak, bingung sekali. Dia tanya Ibu kenapa marah. Dia nggak tahu, Nak. Laki-laki itu kadang nggak tahu. Bukan karena bodoh. Karena mereka nggak pernah diajarin baca hal-hal kayak gitu.
Rooibos: Nak Kira itu pintar baca boss. Tapi Ibu nggak yakin dia pintar baca Nak Lychee.
Aku menatap layar. Lama.
Rooibos: Kalau suka, bilang, Nak. Jangan nunggu tiga tahun kayak Ibu. Sayang waktunya.
Lychee: ibu tahu dari mana aku suka?
Rooibos: Nak, Ibu ibu-ibu. Ibu tahu.
Jam lima sore, satu whisper lagi. Dari Sencha.
Sencha: dia nggak ngerti kamu cemburu.
Lychee: aku nggak cemburu.
Sencha: 🙂
Sencha: dia nanya aku tadi siang. “sencha, lychee kenapa? dia nggak nunggu buff. dia nggak bales chat. aku salah apa?”
Sencha: aku bilang “kamu nggak salah apa-apa. dia cemburu sama chamomile.”
Sencha: dia bilang “cemburu kenapa? chamomile kan bercanda. aku juga jawab ranting.”
Sencha: aku bilang “kamu butuh 7 detik buat jawab ranting.”
Sencha: dia diam lama. terus dia bilang “aku butuh 7 detik karena aku nyari cara nolak yang nggak bikin chamomile malu di depan 200 ribu orang.”
Aku menatap pesan itu. Lalu membacanya lagi.
Tujuh detik.
Dia tidak ragu. Dia sedang menghitung. Seperti selalu. Menghitung cara menolak yang tidak menyakiti siapa pun. Menghitung kalimat yang bisa membuat Chamomile tertawa alih-alih malu. Menghitung, dalam tujuh detik, di depan dua ratus ribu orang, cara terbaik untuk bilang nggak tanpa ada yang terluka.
Dan aku marah padanya karena itu.
Sencha: dia nggak ngerti boss yang nggak punya pola, lychee. kamu bukan boss. kamu nggak punya pola buat dia. dia bingung.
Sencha: kasih dia pola.
Aku menutup ponsel dan menelungkupkan wajah di meja kerja. Di ruanganku, di lantai empat, jam lima sore, dengan tujuh kaktus di ambang jendela.
Aku menulis Saudara Kira karena dia butuh tujuh detik untuk menolak orang lain dengan baik.
Aku benar-benar payah.
Jam enam sore, saat aku membereskan meja, ponselku bergetar lagi.
WhatsApp. Dari Kira Aditama — Perencana Rute.
Kira: Bu.
Kira: Laporan evaluasi sudah saya kirim ke email.
Aku membuka email. Laporannya sudah ada. Tiga puluh dua halaman. Selesai dalam satu hari, padahal tenggatnya Senin. Dengan grafik, tabel, dan satu halaman di akhir berjudul Catatan untuk Harbolnas berikutnya: tanya sopir jam berapa anaknya sekolah.
Ponselku bergetar lagi.
Kira: Bu, aku nggak tahu salahku apa.
Kira: Sencha bilang kamu cemburu. Aku nggak ngerti kenapa kamu cemburu. Tapi Sencha nggak pernah salah baca orang.
Kira: Jadi aku mau nanya sesuatu.
Kira: Bukan sebagai bawahan. Bukan sebagai Earl.
Aku berhenti bernapas.
Kira: Sabtu besok, kamu ada waktu?
Aku menatap pesan itu.
Dua tahun, dia tidak pernah maju duluan. Tidak pernah meminta. Tidak pernah mengajak. Tidak pernah melangkah dari belakang garis.
Ini pertama kalinya.
Aku mengetik dengan tangan yang gemetar.
Aruna: Ada.
Kira: Oke.
Kira: Jam empat. Aku jemput.
Aruna: Kamu nggak punya mobil.
Kira: Aku jemput pakai KRL. Kamu nanti naik KRL sama aku.
Aku tertawa. Sendirian di ruanganku. Keras. Sampai satpam yang lewat di koridor menoleh.
Aruna: Ke mana?
Kira: Rahasia strategi.
Aruna: Itu kalimat Bastian.
Kira: Aku belajar dari Bastian.
Aku menutup ponsel. Mengambil tas. Berjalan keluar ruanganku.
Saat lewat di depan ruang kontrol, aku berhenti. Dia masih di mejanya. Masih memakai headset. Masih mengetik.
Aku membuka pintu kaca. Berjalan ke mejanya. Dan mengetuk pinggirnya. Tiga kali.
Satu, dua, tiga.
Dia mendongak.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku berbalik dan berjalan ke lift.
Di belakangku, aku mendengar Tari berbisik ke Mbak Ayu dengan bisikan yang bisa didengar sampai lantai sembilan:
“Ngetuk lagi, Yu. Ngetuk lagi.”
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl reading
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit