Chapter Seventeen
Guild War Ronde 1
POV: Kira
Presentasi di lantai sembilan berlangsung dua puluh menit. Aku tidak ingat satu kalimat pun yang kuucapkan.
Yang kuingat hanya ini: tujuh orang direksi di meja panjang, layar proyektor dengan peta tiga gelombang, dan Aruna duduk di ujung meja dengan tangan terlipat, mengetuk lengan blazernya pelan setiap kali aku berhenti terlalu lama. Satu, dua, tiga.
Setiap kali dia mengetuk, aku melanjutkan.
Setelah selesai, Pak Darmawan bertanya satu hal: “Kalau volume naik lima kali, rencana ini masih jalan?”
“Masih, Pak,” kataku. “Tapi butuh gelombang keempat. Dan sopirnya harus ditanya dulu jam berapa anaknya sekolah.”
Seorang direktur yang tidak kukenal tertawa. Pak Darmawan tidak tertawa. Dia mencatat sesuatu di bukunya.
Reno tidak diundang ke rapat itu.
Sabtu malam, server Genesis lebih ramai dari malam tahun baru.
[Server Event — Guild War: Siege of Valkyr] [Registered guilds: 64] [Format: 30 vs 30. Capture and hold. 20 minutes.]
Tiga puluh lawan tiga puluh.
Morning Tea bukan guild. Morning Tea adalah party sepuluh orang yang tidak pernah merekrut anggota baru selama dua tahun. Untuk ikut guild war, Pak Hendro harus mendaftarkan kami sebagai guild. Guild sepuluh orang.
“Bapak sudah baca aturannya tiga kali,” kata Pak Hendro di voice channel. “Guild minimal sepuluh orang boleh ikut. Tapi lawannya tetap tiga puluh. Nggak ada penyesuaian.”
“Tiga puluh lawan sepuluh,” kata Genmai. “Pak, itu bukan perang. Itu tawuran.”
“Kenapa kita daftar?” tanya Oolong pelan.
“Karena undian babak pertama,” kata Pak Hendro, lalu menghela napas panjang. “Lawan kita Espresso.”
Semua orang diam.
Espresso. Tiga puluh anggota. Peringkat dua server. Leader yang menonton rekaman Leviathan sebelas kali dan menulis surat tantangan dengan kalimat kami lebih tidak suka tidak tahu kenapa kami kalah.
Dan Espresso sudah kalah dari kami sekali, di scrim. Dengan sepuluh orang.
“Dia minta undian ulang,” kata Matcha. “Aku lihat di forum. Ristretto ngajuin ke panitia event supaya Espresso dipasangin sama Morning Tea di babak pertama. Panitia setuju.”
“Dia sengaja,” kata Hojicha.
“Dia mau balas dendam,” kata Chamomile, yang tentu saja sudah streaming. Penontonnya delapan puluh ribu. “Guys, Ristretto mau balas dendam! Tiga puluh lawan sepuluh! Ini konten! Ini—”
“Nana,” kata Pak Hendro.
“Maaf, Pak.”
Aku membuka peta.
Benteng Valkyr dibangun di atas tebing. Tiga titik bendera. Bendera Utara, di menara pengawas, di tempat paling tinggi. Bendera Tengah, di halaman benteng, terbuka di semua sisi. Bendera Selatan, di gerbang utama, dekat jembatan batu yang melintasi jurang.
Tim yang menguasai dua dari tiga bendera saat waktu habis, menang.
Pemain yang mati akan respawn di markas masing-masing setelah tiga puluh detik. Markas Espresso di sisi barat. Markas kami di sisi timur. Jarak dari markas ke bendera terdekat: empat puluh detik jalan kaki. Ke bendera terjauh: delapan puluh detik.
Dua puluh menit. Tiga puluh lawan sepuluh.
Aku menatap peta lama. Menatap jalur. Menatap jembatan. Menatap jam respawn. Menghitung.
Lalu aku tertawa kecil.
“Bang?” Oolong terdengar khawatir. “Bang ketawa? Bang, itu ketawa yang bagus atau yang jelek?”
“Ini rute armada,” kataku.
“Hah?”
“Tiga gudang. Satu jembatan. Waktu tempuh. Jeda.” Aku menggambar di papan tulis kecil di dinding kamar kos, tanpa sadar. “Mereka tiga puluh orang. Tapi tiga puluh orang itu harus jalan dari markas yang sama, lewat jalur yang sama, dan butuh waktu yang sama buat sampai ke bendera.”
“Terus?”
“Terus kalau mereka mati bareng, mereka respawn bareng. Tiga puluh detik. Terus jalan bareng. Empat puluh sampai delapan puluh detik. Itu satu gelombang.”
“Gelombang,” ulang Pak Hendro pelan.
“Selama mereka di markas sama di jalan, mereka nggak ada di bendera. Satu gelombang mereka, satu menit lebih nggak ada di lapangan.” Aku mengetuk meja. “Kita nggak perlu menang lawan tiga puluh orang. Kita cuma perlu bikin mereka selalu ada di jalan.”
[Siege of Valkyr — Morning Tea vs Espresso — Start]
Espresso bergerak seperti tentara. Tiga puluh karakter berzirah hitam-merah keluar dari markas barat dalam formasi tiga kolom. Sepuluh ke Bendera Utara. Sepuluh ke Tengah. Sepuluh ke Selatan.
Itu formasi yang benar. Itu formasi yang akan kupakai kalau aku punya tiga puluh orang.
Kami tidak pergi ke bendera mana pun.
“Semua ke jembatan,” kataku. “Bendera Selatan biar diambil. Jangan dilawan.”
[Espresso has captured North Flag] [Espresso has captured Center Flag] [Espresso has captured South Flag]
Tiga bendera. Dalam satu menit dua puluh detik. Chat stream Chamomile meledak.
MORNING TEA NGAPAIN nyerah??? 3 bendera dalam 1 menit wkwk FakeEarl: percaya proses 🙏
“Earl,” kata Pak Hendro, suaranya tegang. “Kita ketinggalan tiga bendera.”
“Iya, Pak. Itu bagus.”
“Bagus apanya?!” teriak kembar bersamaan.
“Sekarang mereka terpencar. Sepuluh, sepuluh, sepuluh. Bukan tiga puluh lagi.” Aku menunjuk peta di layar. “Bendera Selatan paling dekat sama kita. Sepuluh orang jaga di sana. Kita sepuluh juga.”
“Sepuluh lawan sepuluh,” kata Matcha. “Itu adil.”
“Bukan adil. Itu kita,” kataku. “Mereka sepuluh orang yang belum pernah main bareng sebagai sepuluh. Kita sepuluh orang yang main bareng dua tahun.”
Aku menekan Q.
[Earl casts Haste → Party] [Earl casts Elemental Shift: Lightning → Party]
“Buff dulu, baru maju. Sekarang.”
Kami menyerang Bendera Selatan dari jembatan.
Sepuluh pemain Espresso di sana kuat. Satu lawan satu, mereka mungkin lebih kuat dari kami. Tapi mereka tidak punya Earl. Dan mereka tidak punya Lychee yang menembus barisan mereka seperti benang menembus kain, dengan Haste yang tidak pernah putus, dengan Barrier yang selalu datang setengah detik sebelum pukulan.
[Morning Tea has captured South Flag]
Sepuluh pemain Espresso mati. Mereka respawn di markas barat.
“Tiga puluh detik respawn,” kataku. “Delapan puluh detik jalan ke sini. Satu menit lima puluh detik mereka nggak ada di Selatan. Kita punya satu menit lima puluh detik.”
“Buat apa?”
“Buat Tengah.”
Kami berlari ke Bendera Tengah. Sepuluh pemain Espresso di sana sedang menunggu, karena mereka melihat Selatan jatuh dan Ristretto pasti memerintahkan mereka bertahan.
Tapi mereka juga melihat sesuatu yang lain di peta: sepuluh pemain Espresso yang baru respawn di markas barat dan mulai berjalan ke Selatan. Bantuan sedang datang. Mereka hanya perlu bertahan.
Jadi mereka bertahan. Di halaman terbuka. Tanpa perlindungan.
“Rooibos, meteor di tengah halaman. Sekarang. Chamomile, siapin heal massal sepuluh detik lagi. Oolong, taunt ke kanan.”
Bendera Tengah jatuh dalam lima puluh detik.
[Morning Tea has captured Center Flag]
Dua bendera. Kami unggul.
Dua puluh pemain Espresso sekarang di jalan. Sepuluh dari Selatan, sepuluh dari Tengah. Mereka akan sampai di Tengah dalam empat puluh detik. Tiga puluh lawan sepuluh lagi, di halaman terbuka.
“Mundur,” kataku. “Semua ke jembatan. Lepas Tengah.”
“BANG?! Kita baru dapet!”
“Mundur sekarang.”
Mereka mundur. Dua puluh pemain Espresso tiba di halaman Tengah dan mengambil kembali benderanya tanpa perlawanan.
[Espresso has captured Center Flag]
Lalu Ristretto melakukan apa yang akan dilakukan semua leader yang baik. Dia mengirim pasukan ke Selatan, untuk merebut kembali bendera kedua.
Dua puluh orang. Ke jembatan.
Jembatan batu yang hanya cukup untuk tiga orang berjalan berdampingan.
“Oolong, Sencha. Kalian di ujung jembatan. Kalian berdua tank. Jembatan ini cuma bisa dilewati tiga orang sekaligus. Mereka dua puluh, tapi yang bisa nyerang kalian cuma tiga.”
Aku menekan ping ungu di layar Sencha dengan ikon perisai.
“Sisanya, di belakang Oolong dan Sencha. Rooibos, Darjeeling, Matcha, kembar, serang yang di jembatan. Lychee—”
Aku berhenti.
Lychee tidak ada di jembatan.
Lychee: aku di belakang kamu.
Aku menoleh. Di layar, karakter rapier berambut perak berdiri di belakangku. Di sisi timur jembatan. Bukan di depan, di garis serang, tempat dia selalu berdiri.
“Lychee, posisi kamu di depan—”
Lychee: aturan nomor enam. dua arah.
Lychee: mereka nggak bakal nyerang lewat jembatan. ristretto nonton rekaman kita sebelas kali. dia tahu kalau earl mati, kita kalah.
Lychee: mereka bakal manjat tebing.
Aku menatap tebing di sisi kanan jembatan. Tebing batu curam yang tidak bisa dilewati. Kecuali oleh assassin dengan skill Wall Climb.
Dua titik merah kecil muncul di peta. Di tebing. Bergerak naik. Ke arahku.
Lychee sudah tahu sebelum aku tahu.
“Kalian semua tahan jembatan,” kataku di voice. Suaraku sedikit gemetar. “Lychee jaga aku.”
Dua assassin Espresso muncul dari balik tepi tebing, tepat di belakangku. Belati terangkat.
Mereka tidak sempat menyentuhku.
Rapier perak menembus yang pertama sebelum kakinya menyentuh tanah. Yang kedua mencoba kabur kembali ke tebing. Lychee mengejarnya, dua langkah, satu tusukan.
[Espresso — Shadow_01 — DEAD] [Espresso — Shadow_02 — DEAD]
Karakternya kembali ke belakangku. Berdiri diam. Rapier diturunkan.
Lychee: udah.
Aku menatap layar. Selama dua tahun, aku yang berdiri di belakang semua orang. Aku yang melindungi. Aku yang menangkap.
Malam ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berdiri di belakangku.
Aku menekan Q. Haste ke Lychee.
Lychee: itu artinya apa?
“Makasih,” kataku. Di voice. Bukan di chat. Dengan suaraku sendiri.
Voice channel diam sedetik. Lalu Bu Ratna menghela napas sangat panjang, seperti ibu yang menonton adegan sinetron favoritnya.
Tujuh belas menit sisanya adalah gelombang.
Setiap kali Espresso mengumpulkan pasukan di satu bendera, kami menyerang bendera lain. Setiap kali mereka mati bersamaan, mereka respawn bersamaan dan berjalan bersamaan, dan selama satu sampai dua menit itu, mereka tidak ada di lapangan. Kami tidak pernah melawan tiga puluh orang. Kami selalu melawan sepuluh, atau lima, atau tiga, di tempat dan waktu yang kami pilih.
Aku memanggil setiap serangan dengan jeda. Gelombang satu, gelombang dua, gelombang tiga. Seperti dua belas Desember, di depan papan rute.
Di menit kesembilan belas, Morning Tea menguasai Utara dan Selatan. Espresso menguasai Tengah, dengan dua puluh delapan orang menjaganya, karena Ristretto akhirnya memutuskan untuk mempertahankan satu bendera dengan seluruh pasukannya.
Itu keputusan yang salah. Dua puluh delapan orang di Tengah berarti hanya dua yang bisa menjaga yang lain.
[Siege of Valkyr — Time’s up] [Winner: Morning Tea (2 flags) — 10 players vs 30]
Voice channel meledak. Stream Chamomile meledak. Forum meledak.
Aku melepas headset dan menyandarkan kepala ke kursi. Telingaku berdenging. Tanganku gemetar. Di samping keyboard, Earl Grey sudah dingin.
Saat aku memakai headset lagi, kembar sedang menyanyikan lagu kemenangan yang sama, tetap tanpa nada. Pak Hendro mengulang kata gelombang seperti mantra. Oolong bilang dia tahan jembatan selama empat belas menit dan tangannya kram.
Lalu sebuah whisper muncul. Dari nama yang kukenal.
Ristretto: Gelombang lagi.
Aku tidak membalas.
Ristretto: Tiga gelombang. Jeda berdasarkan waktu tempuh. Memakai rute sempit untuk memecah volume besar. Membiarkan lawan mengambil semua titik dulu supaya mereka terpencar.
Ristretto: Saya pernah lihat rencana seperti ini.
Jariku membeku di atas keyboard.
Ristretto: Bukan di game.
Ristretto: Di kantor.
Tengkukku dingin. Dingin yang menjalar turun ke punggung, ke lengan, ke ujung jari.
Ribuan perusahaan logistik di Jakarta. Ribuan rencana rute. Gelombang bukan konsep yang kutemukan sendiri. Itu konsep yang dipakai di mana-mana.
Tapi rencana yang membiarkan lawan mengambil semua titik dulu supaya mereka terpencar? Itu catatan kaki nomor empat di Rencana Rute Gelombang versi pertama. Catatan kaki yang kutulis dua tahun lalu. Catatan kaki yang ada di dokumen dengan nama Reno di sampulnya.
Ristretto: Kamu orang LNX?
Aku menatap pertanyaan itu sangat lama.
Lalu aku menutup jendela whisper. Tanpa membalas. Tanganku masih gemetar, dan kali ini bukan karena raid.
Di sudut layar, ada notifikasi lain. Dari Lychee.
Lychee: kamu diam lagi abis menang.
Earl: maaf.
Lychee: kenapa?
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik.
Aku tidak bisa bilang aku curiga Ristretto adalah Reno. Itu tuduhan tanpa bukti. Itu akan membuat Aruna harus memilih antara kepercayaan padaku dan supervisor sepuluh tahun di divisinya. Dan aku bahkan tidak yakin. Satu kalimat. Satu kata proaktif. Satu catatan kaki.
Earl: capek aja.
Lychee: bohong.
Earl: sedikit bohong.
Lychee: oke. aku nggak maksa.
Lychee: tapi tadi di jembatan kamu bilang makasih pakai suara.
Lychee: itu pertama kalinya kamu ngomong ke aku pakai suara di luar call raid.
Earl: iya.
Lychee: suara kamu beda kalau nggak lagi ngitung.
Earl: beda gimana?
Lychee: lebih pelan. kayak orang yang nggak yakin dia boleh ngomong.
Aku tidak membalas. Dia benar. Dia selalu benar akhir-akhir ini.
Lychee: kamu boleh ngomong, kira.
Lychee: di jembatan, di kantor, di mana aja.
Lychee: kamu boleh.
Aku menatap layar sampai matanya meredup.
Di belakangku, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menjaga. Dan di depanku, di jendela whisper yang sudah kututup, ada seseorang yang sedang membaca.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1 reading
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit