Chapter Thirty Three
Kapan Kamu Maju?
POV: Aruna
Jumat malam, jam sebelas lewat empat puluh satu menit, gerbang batu putih di puncak kuil terbuka.
Aku melihatnya dari layar laptop, di apartemen, dengan koper kecil yang sudah dikemas di samping sofa.
Sepuluh karakter berdiri di depan alas batu seukuran tangan. Sembilan sudah mencoba Rabu malam. Sembilan pesan yang sama. The gate does not recognize a Conductor.
Karakter kesepuluh berjalan ke alas itu. Enchanter. Mantel kelabu fajar. Tongkat emas pucat dengan cahaya kecil di ujungnya yang berdenyut pelan. Satu, dua, tiga.
Dia menyentuh alas batu.
[The gate recognizes the Conductor.]
Ukiran matahari terbit di tengah gerbang menyala. Emas. Lalu putih. Lalu pintu batu raksasa itu terbelah dua, perlahan, dengan suara seperti gunung yang bernapas.
[Prelude of Dawn — Cleared] [Morning Tea is registered for The First Dawn.]
Delapan belas menit sebelum pendaftaran ditutup.
Voice channel meledak. Aku tidak ikut berteriak. Aku hanya menatap karakter enchanter itu, berdiri di depan gerbang yang terbuka, dan menyadari bahwa tangannya, di layar, tidak bergerak. Seperti orang yang tidak percaya gerbang itu terbuka untuknya.
Lalu suaranya di voice. Dari Makassar. Satu jam lebih cepat dari kami.
“Maaf aku telat.”
Pak Hendro tertawa. Bu Ratna menangis. Kembar berteriak BANG dalam paduan suara yang tidak bernada. Oolong bilang akhirnya, Bang dengan suara kecilnya. Chamomile bilang ke kamera guys, guys, guys berulang-ulang sampai kehilangan kata lain.
Aku menekan tombol mikrofon.
“Selamat datang kembali,” kataku.
Hening sebentar. Hanya di channel kami.
“Makasih,” katanya.
Itu saja. Aku mematikan mikrofon. Menutup laptop. Menatap koper kecil di samping sofa.
Tiket pesawat ke Makassar, Sabtu jam enam pagi. Kubeli Selasa malam, setelah meninggalkan buku tulis cokelat di rak Bu Wati. Sebelum dia membalas boleh. Sebelum aku tahu apakah dia mau aku datang.
Aku tidak bilang padanya. Aku tidak bilang pada siapa pun, kecuali Pak Darmawan, yang menyetujui cuti satu hariku dengan satu kalimat: Hati-hati, Aruna. Bawa payung. Makassar panas.
Payung tidak berguna untuk panas.
Aku tetap membawanya.
Pesawat mendarat di Sultan Hasanuddin jam sembilan lewat dua puluh lima, waktu Makassar. Jam delapan lewat dua puluh lima di Jakarta. Jam tangan Papa di pergelanganku masih menunjukkan waktu Jakarta. Aku tidak menyetelnya ulang.
Taksi dari bandara ke Kawasan Industri Makassar memakan waktu empat puluh menit. Sopir taksi, laki-laki lima puluhan dengan peci hitam, bertanya kenapa perempuan Jakarta datang ke KIMA hari Sabtu pagi.
“Ketemu orang,” kataku.
“Orang siapa, Bu?”
“Orang kantor.”
“Oh, kantor.” Dia menatapku dari spion. Menatap blazerku, yang kupakai karena kebiasaan. Menatap payung kecil hitam di pangkuanku. “Kantor jauh-jauh dari Jakarta. Iya. Saya paham.”
Makassar ternyata juga punya saya paham.
Gudang LNX Cabang KIMA berdiri di ujung jalan berdebu, di antara pabrik semen dan gudang pupuk. Gerbangnya terbuka. Di depan gerbang, seorang ibu berkerudung kuning duduk di bangku kayu dengan gerobak kecil berisi pisang yang dibakar dan dipipihkan, disiram gula merah cair.
“Pisang epe, Bu?” tanyanya.
Aku berhenti. Ibu penjual pisang epe di depan gerbang pelabuhan. Kalimat di halaman terakhir laporan dua puluh enam halaman yang kuteruskan ke Pak Darmawan jam enam pagi Sabtu lalu. Mohon nama mereka dicatat.
“Ibu,” kataku. “Ibu yang sepupunya di syahbandar?”
Ibu itu menatapku. Lalu tersenyum lebar. “Ibu tahu dari mana?”
“Dari laporan.”
“Laporan?” Dia tertawa. “Ibu masuk laporan?”
“Halaman terakhir, Bu.”
Ibu itu diam. Lalu mengambil satu pisang epe, membungkusnya dengan kertas minyak, dan menyodorkannya padaku.
“Gratis,” katanya. “Ibu nggak pernah masuk laporan.”
Di dalam gudang, rak-rak tidak lagi miring. Paket-paket tersusun di tiga zona dengan papan nama besar: UTARA — MAROS/PANGKEP, TENGAH — KOTA, SELATAN — GOWA/TAKALAR. Forklift diparkir di jalur yang ditandai cat kuning. Seorang perempuan muda di meja admin sedang mengetik dengan wajah tenang.
Seorang laki-laki berkemeja batik lengan pendek menghampiriku.
“Cari siapa, Bu?”
“Kira Aditama.”
Laki-laki itu menatapku dari ujung sepatu sampai rambut. Lalu menatap payung kecil di tanganku. Lalu menatap pisang epe.
“Dari Jakarta?”
“Iya.”
“Orang Jakarta lagi,” katanya pelan, setengah ke dirinya sendiri. “Yang ini mau bikin rencana kelima?”
“Saya nggak mau bikin rencana, Pak.”
“Terus?”
“Saya mau ketemu orang yang nulis rencana keempat.”
Laki-laki itu menatapku lama. Lalu, perlahan, wajahnya berubah. Seperti orang yang baru saja mengenali seseorang dari foto.
“Ibu...” katanya. “Ibu yang namanya ada di halaman terakhir surat rotasinya? Yang tidak terlibat dan tidak mengetahui?”
Aku tidak tahu bagaimana dia tahu isi surat itu. Mungkin Kira menunjukkannya. Mungkin dia membacanya di meja Kira. Mungkin di Makassar, seperti di Jakarta, semua hal adalah kode.
“Iya, Pak.”
“Saya Andi.” Dia menjabat tanganku. Jabatannya hangat. “Mas Kira di dermaga. Kapal sandar jam sepuluh. Dia selalu di sana sebelum kapal.”
Pelabuhan Soekarno-Hatta. Dermaga tiga. Matahari jam sepuluh pagi Makassar sudah terasa seperti jam satu siang Jakarta.
Aku berjalan di sepanjang dermaga beton. Truk-truk berderet. Kapal kontainer besar sedang merapat, perlahan, dengan tali-tali tambang yang dilempar ke darat. Bau laut. Bau solar. Bau ikan dari pasar di ujung dermaga.
Dan di atas tumpukan palet kayu, di bawah atap seng kecil, dengan buku tulis cokelat di pangkuan dan tumbler hitam di sebelahnya, seseorang duduk menghitung.
Hoodie abu. Di Makassar. Jam sepuluh pagi. Panasnya pasti gila.
Kacamata dengan lensa kiri yang masih tergores.
Jari telunjuk kanan mengetuk sampul buku tulis. Satu, dua, tiga.
Aku berhenti lima meter darinya. Jarak yang sama dengan basement.
Dia belum melihatku. Dia sedang menatap kapal. Bibirnya bergerak tanpa suara. Menghitung tali tambang, mungkin. Atau jarak lambung kapal ke dermaga. Atau waktu yang dibutuhkan derek untuk mengangkat kontainer pertama.
Lalu dia mendongak.
Dan melihatku.
Buku tulis jatuh dari pangkuannya. Tumbler terguling. Dia berdiri terlalu cepat, dan palet kayu di bawahnya berderit.
Dia tidak bilang apa-apa. Aku juga tidak.
Kami berdiri di dermaga, lima meter terpisah, di bawah matahari Makassar, dengan kapal kontainer yang merapat di belakangnya dan truk-truk yang mesinnya menyala di belakangku.
Aku sudah menyiapkan kalimat. Di pesawat. Di taksi. Di depan gerbang gudang. Kalimat yang rapi. Kalimat Head of Operations.
Semuanya hilang.
Jadi aku bilang hal lain. Hal yang tidak pernah kusiapkan.
“Kira Aditama,” kataku.
Dia membeku.
“Dua puluh tujuh tahun. Dispatcher. Meja ketiga dari jendela, ruang kontrol lantai empat. Dua tahun di LNX. Sekarang perencana cabang KIMA, Makassar. Minum Earl Grey tanpa gula, biar ingat rasa aslinya. Kerupuknya disisihin buat terakhir, biar ada yang ditunggu.”
Aku melangkah maju. Satu langkah.
“Ibunya jualan getuk goreng di Sokaraja. Dua belas warung. Dia antar sendiri naik sepeda dari kelas lima SD, sebelum subuh, karena bapaknya meninggal waktu dia kelas empat. Dia bikin rute di buku tulis. Dia masih nyimpen buku tulisnya.”
Satu langkah lagi.
“Dia beliin makanan kucing buat kucing satpam lobi. Tiap Jumat. Kaleng biru. Dia hafal jadwal sekolah anak sopir. Dia bikin sistem ping warna buat orang Tuli yang nggak diajak party siapa-siapa, tiga tahun lalu, semalaman, buat orang yang baru dia kenal kemarin.”
Satu langkah lagi. Tiga meter.
“Dia baca empat puluh tujuh buku lore yang nggak dibaca siapa pun. Dia nulis rencana rute jam dua pagi dan nulis di halaman terakhir semoga dia suka. Buat atasan yang belum pernah dia lihat. Yang dua tahun kemudian nanya namanya di lift dan lupa dalam sepuluh detik.”
Suaraku pecah di tengah. Aku tidak berhenti.
“Aku hafal sekarang, Kira. Semuanya. Nggak ada yang perlu kamu tulis di bawah tanda tangan lagi.”
Dia tidak bergerak. Matanya, di balik kacamata yang tergores, basah.
“Aku ingat,” kataku. “Aku nggak akan lupa lagi.”
Kami duduk di atas palet kayu. Berdampingan. Tidak terlalu dekat. Belum.
Kapal kontainer sudah merapat. Derek mulai bergerak. Daeng-daeng sopir mulai menyalakan mesin truk. Tidak ada yang mendekati kami. Seorang sopir tua lewat, menatap kami, lalu berbelok ke arah lain dengan sangat sengaja.
“Kamu datang,” katanya akhirnya.
“Kamu nggak bales WhatsApp-ku tiga minggu. Aku harus ngecek sendiri.”
“Aku bales Selasa.”
“Iya. Selasa. Aku beli tiket Selasa sore. Sebelum kamu bales.”
Dia menoleh. “Kamu beli tiket sebelum aku bilang boleh?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau ketemu kamu. Bukan karena buku. Bukan karena audit.” Aku menatap laut. “Kalau kamu bilang nggak boleh, aku tetap datang. Aku cuma nggak akan bawa bukunya.”
Dia diam lama.
“Maaf,” katanya. “Basement. Aku pergi tanpa bilang. Aku mutusin buat kamu.”
“Aku juga mau mutusin buat kamu. Aku nulis surat mundur tanpa bilang.”
“Itu beda.”
“Nggak beda.” Aku menatapnya. “Kita sama, Kira. Kita berdua kayak Papa. Diam-diam. Biar yang lain aman. Biar yang lain nggak perlu tahu.”
“Papa kamu.”
“Papa kamu juga, mungkin. Yang meninggal waktu kamu kelas empat. Aku nggak tahu dia kayak apa. Tapi kamu jadi kayak gini pasti dari seseorang.”
Dia tidak menjawab. Tapi tangannya, di atas palet kayu, bergerak sedikit. Mendekat ke tanganku.
Aku menatap jam tangan di pergelangan kiriku. Jam pria. Kulit cokelat. Terlalu besar.
“Papa itu orang di balik layar,” kataku pelan. “Teknisi radio menara. Tiga puluh tahun. Nggak ada yang tahu namanya. Aku selalu marah soal itu. Aku pikir dunia nggak adil sama Papa.”
“Iya.”
“Tapi waktu aku duduk di lantai kamar kos kamu, baca semoga dia suka, aku ngerti sesuatu.” Aku membuka tali jam tangan Papa. Melepasnya dari pergelanganku. “Papa nggak sedih. Papa nggak pernah sedih. Papa bangga sama statis. Papa bangga orang lain selamat.”
Aku memegang jam tangan itu di telapak tanganku. Jarum detiknya bergerak. Satu, dua, tiga.
“Yang sedih itu aku,” kataku. “Karena aku baru tahu siapa Papa di pemakamannya. Karena aku nggak pernah sempat bilang aku lihat Papa. Tiga puluh pilot yang bilang itu. Bukan aku.”
Air mataku jatuh ke jam tangan itu.
“Aku nggak mau itu terjadi lagi, Kira. Aku nggak mau baru bilang aku lihat kamu waktu udah terlambat.”
Dia mengulurkan tangan. Pelan. Menyentuh jam tangan di telapak tanganku. Lalu menutup tanganku dengan tangannya, jam tangan Papa di antara telapak kami.
“Kamu lihat aku,” katanya pelan. “Dari kafe. Dari ketukan jari. Kamu yang pertama.”
“Aku telat dua tahun.”
“Kamu datang ke Makassar.”
“Satu lagi,” kataku. Mengusap mata dengan punggung tangan yang bebas.
“Apa?”
“Kamu ingat di kafe Blok M? Pas kamu ketuk meja? Pas kamu bilang buff dulu, baru maju?”
“Iya.”
“Kamu bilang itu ke semua orang. Tiap raid. Tiap malam. Dua tahun.” Aku menatapnya. “Dan kamu nggak pernah maju.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu udah nge-buff semua orang, Kira. Morning Tea. Tari. Pak Darto. Jagung. Sencha. Aku. Pak Reno juga, dua tahun, pakai rencana kamu. Kamu udah nge-buff semua orang di hidup kamu.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Kapan kamu maju?”
Kapal kontainer membunyikan klakson panjang. Derek mengangkat kontainer pertama. Truk pertama mundur ke dermaga. Daeng Sangkala, di kabin, menoleh ke arah kami dan langsung menoleh lagi ke depan.
Kira menatap tangan kami. Jam tangan Papa di antaranya.
“Nggak tahu,” katanya jujur. “Aku belum pernah.”
“Aku tahu.”
“Aku takut.”
“Aku tahu.”
“Kalau aku maju dan aku salah?”
“Aturan nomor enam.” Aku tersenyum, walaupun mataku masih basah. “Kalau kamu jatuh, aku tangkap. Dua arah. Kamu yang bilang.”
Dia menatapku sangat lama.
“Aku mau bikin aturan nomor tujuh,” katanya.
“Apa?”
“Nggak ada yang mutusin buat yang lain lagi. Kita tanya dulu. Selalu.”
Aku tertawa. Tawa yang pecah di tengah.
“Itu aturan yang harusnya nomor satu.”
“Iya. Tapi kita baru ngerti sekarang.”
“Setuju,” kataku. “Aturan nomor tujuh.”
Dia mengulurkan jari kelingking. Seperti anak SD. Aku menatapnya, lalu menautkan kelingkingku ke kelingkingnya. Di atas palet kayu, di dermaga tiga, di bawah matahari Makassar.
Sore itu, setelah kapal terakhir, dia membawaku ke Pantai Losari.
Matahari terbenam di Selat Makassar. Langit oranye, merah muda, ungu. Kapal-kapal kecil di kejauhan seperti titik-titik armada. Orang-orang duduk di sepanjang anjungan, makan pisang epe dari gerobak-gerobak yang berjajar.
Kami duduk di tepi anjungan. Kakiku menggantung di atas air. Dia duduk di sebelahku, hoodie abu akhirnya dilepas, hanya kaus putih yang basah keringat di punggung.
Aku memasang jam tangan Papa di pergelangannya.
Dia menatapku. “Aruna—”
“Pinjam,” kataku. “Bukan kasih. Pinjam. Sampai kamu pulang ke Jakarta.”
“Ini jam papa kamu.”
“Iya. Papa juga orang di balik layar. Papa pasti ngerti.” Aku mengencangkan talinya di pergelangannya. Terlalu besar untuknya juga. “Jadi kamu harus pulang. Buat balikin.”
Dia menatap jam tangan itu. Jarum detiknya bergerak. Satu, dua, tiga.
“Aku pulang,” katanya. “Pakai titik.”
Aku tersenyum.
Lalu aku bersandar ke bahunya. Kepalaku di bahunya. Seperti di rooftop, setelah ciuman pertama. Dia tidak bergerak. Lalu, pelan, tangannya melingkar di bahuku.
Kami tidak berciuman. Aku menunggu, dan dia tidak maju, dan untuk pertama kalinya aku tidak keberatan.
“Nanti,” katanya pelan, seperti membaca pikiranku. “Pas aku maju beneran.”
“Kapan?”
“Kalau aku udah tahu jawabannya.”
“Jawaban apa?”
Dia menatap matahari yang tinggal setengah di atas laut.
“Kapan aku maju,” katanya.
Aku tidak bertanya lagi. Aku hanya bersandar di bahunya, di Pantai Losari, dan menonton fajar yang terbalik. Matahari yang tenggelam, bukan terbit.
Seminggu lagi, The First Dawn.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di gerbang terakhir.
Tapi aku tahu, kali ini, dia tidak akan berdiri di belakang sendirian.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju? reading
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit