Chapter Forty One
Epilog — Earl’s Gambit
POV: Aruna
Patch notes musim ketiga Genesis keluar hari Rabu, jam dua belas tengah malam.
Aku membacanya di sofa apartemen. Bukan apartemenku di Kebayoran. Apartemen kami, di Tebet, dua gang dari kos lama Kira, karena Kira bilang dia tidak mau terlalu jauh dari Bu Wati dan warung kelontong yang ibunya hafal pesanannya. Apartemen kecil, dua kamar, dengan satu jendela yang, kalau kamu berdiri di sudut tertentu dan memiringkan kepala sedikit, bisa melihat lampu landasan Halim.
Kira tidur di sebelahku. Kepalanya di pangkuanku. Kacamata yang lensanya tergores di kiri, yang dia tolak ganti selama setahun, tergeletak di meja. Dia tertidur jam sebelas setelah pulang dari rapat persiapan Harbolnas di lantai sembilan, dan dia tidak bangun bahkan saat ponselnya bergetar dua puluh kali karena grup Morning Tea.
Aku menggulir patch notes.
Raid-raid baru. Job baru. Penyesuaian keseimbangan untuk enchanter, yang tiba-tiba jadi job paling banyak dipilih pemain baru di musim kedua. Forum menyebutnya Efek Earl.
Lalu satu bagian di akhir. Bagian yang tidak pernah ada di patch notes mana pun sebelumnya.
Community Recognition
Mulai musim ini, strategi-strategi yang ditemukan oleh pemain dan mengubah cara kita bermain akan diabadikan secara resmi di dalam game.
Strategi pertama yang kami abadikan:
Earl’s Gambit (sebelumnya dikenal sebagai “Zero-Buff Window”)
Mencabut seluruh buff dari party sendiri secara sengaja untuk menipu AI boss.
Strategi ini pertama kali ditemukan di Hall of Reflections oleh seorang enchanter yang selama dua tahun memakai ranting kering. Dia mencabut semua kekuatan yang dia berikan kepada party-nya, bukan untuk melemahkan mereka, tapi untuk melindungi mereka dari boss yang memakan cahaya.
Kami tidak pernah merancang Mirror Queen untuk dikalahkan dengan cara ini. Kami juga tidak pernah merancang The First Dawn untuk dikalahkan oleh enchanter yang maju duluan. Dia membuktikan bahwa kami salah dua kali.
Terima kasih, Earl.
Di bawahnya, satu baris kecil, dalam huruf miring:
P.S. Untuk siapa pun yang membaca keempat puluh tujuh buku di The Silent Archive: kami menulisnya tiga tahun lalu tanpa yakin akan ada yang membacanya. Satu orang membacanya. Itu cukup.
Aku menatap layar sangat lama.
Lalu aku menatap laki-laki yang tidur di pangkuanku. Hoodie abu. Rambut yang tidak mau diatur. Jari telunjuk kanannya, bahkan dalam tidur, bergerak sedikit di atas lututku. Satu, dua, tiga.
Di jari manis kirinya, cincin perak polos. Sama dengan cincinku. Kami membelinya bersama, enam bulan lalu, di toko yang sama di Pasar Baru. Penjualnya masih ingat. Mas yang ngukur dari ingatan, katanya. Dan di bagian dalam cincin Kira, aku meminta tukang ukir menulis dua kata juga.
Aku lihat.
Aku mengusap rambutnya pelan. Dia tidak bangun.
Aku tidak membangunkannya. Besok pagi saja. Dia akan membaca patch notes itu di KRL jam lima pagi, berdiri, satu tangan di gantungan, dan pura-pura tidak menangis.
Aku sudah tahu. Aku hafal dia sekarang.
Kopdar kelima Morning Tea diadakan Sabtu sore, di rooftop TB Hendro Jaya.
Bioskop Hendro Jaya sudah direnovasi. Proyektor baru, dibeli dari kas party hasil penjualan kaos EARL CALL / LYCHEE EKSEKUSI yang terjual dua belas ribu potong. Kursi plastik merah diganti kursi lipat kayu. Lampu tumbler kuning ditambah dua kali lipat. Di sudut, ada meja panjang untuk rantang Bu Ratna, yang sekarang tiga, bukan dua.
Dan di tengah deretan kursi, satu kursi yang berbeda dari yang lain. Kursi kayu dengan sandaran tinggi, dicat emas oleh kembar, dengan papan nama kecil yang ditempel Pak Hendro:
KURSI TENGAH — JANGAN DIDUDUKI SELAIN EARL
Dan di sebelahnya, kursi kayu kedua. Dicat perak. Papan nama:
KURSI TENGAH JUGA — JANGAN DIDUDUKI SELAIN LYCHEE
“Pak,” kataku saat naik tangga besi yang masih berbunyi kriet. “Ini lebay.”
“Bapak sudah enam puluh hari nggak lebay, Nak,” kata Pak Hendro. Kaus polo baru, warna sama, tulisan sama, TB Hendro Jaya: Bahan Bangunan Lengkap. “Hari ini Bapak lebay.”
Kursi-kursi lain sudah terisi.
Oolong sudah lulus kuliah. Sekarang kerja sebagai programmer junior di startup game di Bandung, dan masih bicara dengan suara kecil, tapi duduk di baris depan. Bukan lagi paling jauh dari keramaian. Pacarnya duduk di sebelahnya. Pemain tank dari Black Lotus yang dia temui di raid gabungan musim kedua.
Kembar masih kembar. Ilham masih memakai topi terbalik. Ilyas masih tidak. Mereka membuka bengkel motor sendiri tiga bulan lalu, dengan nama Bengkel Genmai Hojicha, yang membuat pelanggan bingung tapi tetap datang karena servis mereka bagus.
Matcha masih driver ojol. Sembilan tahun sekarang. Tapi dia juga jadi pembicara di seminar komunitas ojol soal manajemen rute, karena seseorang mengunggah videonya menjelaskan cara Earl menghindari Thamrin saat demo, dan video itu ditonton dua juta kali.
Chamomile sudah lima ratus ribu follower. Dia masih streaming. Masih bercanda. Masih memanggil Kira daddy strategi setiap kali bertemu, sampai Kira sudah berhenti protes. Tapi dia tidak pernah lagi melamar siapa pun di depan kamera.
“Trauma,” katanya padaku, sambil tertawa. “Lamaran pertamaku ditolak demi ranting.”
Bu Ratna membagikan rendang. Ke semua orang. Termasuk ke Bu Hendro, yang sudah setahun berhenti menyerah pada kegilaan suaminya dan sekarang ikut main Genesis sebagai healer. Termasuk ke Bastian, yang resmi bergabung dengan Morning Tea sebagai anggota kesebelas, enchanter cadangan, level sembilan puluh sekarang, dengan ranting yang dia tolak ganti karena ini identitas saya, Bu.
Sencha duduk di dekat pagar, di samping Pak Hendro. Dia sudah mengajariku dua puluh isyarat dalam setahun. Saat melihatku naik tangga, dia membuat satu isyarat. Telunjuk ke arahku. Lalu telapak terbuka. Lalu dua jari menunjuk ke depan.
Kamu. Di depan.
Aku membalasnya dengan isyarat yang dia ajarkan bulan lalu. Dua tangan di dada. Terima kasih.
Dan ada orang-orang baru.
Tari, yang sekarang Supervisor Dispatch, menggantikan Mas Fajar yang dipindahkan ke gudang Karawang sebagai kepala gudang. Dia datang dengan adiknya. Adiknya, enam belas tahun, yang dulu menonton klip Mirror Queen empat puluh kali, sekarang berdiri di depan Kira dengan buku tulis dan pulpen.
“Bang,” katanya. Gemetar. “Tanda tangan. Buat aku. Bukan buat Kakak.”
Kira menandatangani buku itu. Dengan tulisan miring ke kanan. Huruf k dengan kaki panjang.
Earl. Buff dulu. — Kira
Tari menangis lagi. Dia selalu menangis di kopdar.
Daeng Sangkala tidak datang. Makassar terlalu jauh. Tapi pagi tadi, sebuah kardus datang ke apartemen kami, dibungkus selotip berlapis-lapis, dengan tulisan spidol: DARI KIMA. JANGAN DIBANTING. Isinya dua kotak barongko buatan istrinya, sepuluh pisang epe yang sudah dingin tapi tetap enak, dan selembar foto papan tulis di kantor kecil sudut gudang. SABAR. PELAN-PELAN. Di bawahnya, rencana Gelombang Kapal. Di bawahnya lagi, tulisan Pak Andi yang sekarang Kepala Cabang definitif: SISTEM INI BUATAN KITA SEMUA. YANG NULIS: MAS KIRA. JANGAN DIHAPUS. Dan di bawah itu, satu baris baru, tulisan tangan yang tidak kukenal, mungkin Kak Ica:
SATU TAHUN. MASIH JALAN. 💜
Dan Reno.
Reno datang sendirian. Kemeja biru tua. Yang sama. Mungkin dia memang hanya punya satu kemeja biru tua yang dia anggap kemeja penting.
Dia masih koordinator gudang Cakung. Masa evaluasinya selesai enam bulan lalu. Dia ditawari kembali ke posisi supervisor di lantai empat. Dia menolak.
Saya suka di gudang, Bu, katanya padaku waktu itu. Di gudang, kalau saya salah, forkliftnya yang nabrak tiang. Kelihatan. Nggak bisa diaku-aku.
Espresso masih ada. Peringkat dua server. Masih punya absen dan evaluasi mingguan. Tapi di musim kedua, setiap kali Espresso dan Morning Tea bertemu di raid gabungan, Ristretto tidak lagi menulis kami lebih tidak suka tidak tahu kenapa kami kalah. Dia menulis call dari Earl di channel party-nya, dan sepuluh orang Espresso mengikutinya.
Reno berdiri di ujung rooftop, di dekat tangga. Tidak duduk. Seperti orang yang tidak yakin dia boleh ada di sini.
Kira berjalan ke arahnya. Membawa dua gelas es teh.
“Pak.”
“Kir.”
Mereka berdiri berdampingan. Menatap Jalan Raya Bekasi di bawah. Tidak bilang apa-apa lama.
“Kamu tahu,” kata Reno akhirnya, “anak saya yang sulung main Genesis sekarang.”
“Oh?”
“Enchanter.” Reno tertawa pendek. “Saya tanya kenapa. Dia bilang, karena enchanter itu yang paling keren, Pa. Earl enchanter.” Dia menyeruput es teh. “Saya nggak bilang ke dia saya kenal Earl. Saya nggak bilang saya dulu...”
Dia berhenti.
“Bilang aja, Pak,” kata Kira.
“Bilang apa?”
“Bilang Bapak kenal Earl. Bilang Bapak yang ngajarin Earl baca pola tol.” Kira menatap jalan. “Itu benar juga.”
Reno menatap Kira lama. Lalu mengangguk. Pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Reno Wicaksono, mantan supervisor yang selalu tahu apa yang harus dikatakan di rapat, tidak bisa mengatakan apa-apa.
Ibu Kira datang jam lima. Dengan Mas Bayu, anak tetangga yang menyetir mobil sewaan dari Sokaraja. Dengan dua belas kotak getuk goreng di kursi belakang.
“Satu kotak satu warung,” kata Ibu Kira, membagikan kotak-kotak itu ke Morning Tea. “Ibu bikin dari subuh. Kayak dulu.”
Bu Ratna dan Ibu Kira langsung jadi sahabat dalam lima menit. Mereka duduk di meja rantang, membandingkan resep rendang dan getuk, dan sesekali menatap Kira dan aku dengan wajah yang sama persis. Wajah ibu-ibu yang tahu.
Jam enam, Pak Hendro menyalakan proyektor baru.
Di layar kain putih, bukan rekaman scrim. Bukan film perjuangan. Rekaman yang dipilih Chamomile, yang mengeditnya selama seminggu.
Morning Tea — Dua Tahun Pertama.
Leviathan. Clockwork Cathedral. Hydra. Valkyr. Mirror Queen. Gerbang Prelude yang tidak mengenali Fake Earl. Noctis. Fajar di atas The Unlit Sky.
Dan di akhir, potongan yang tidak ada di stream mana pun. Video ponsel goyang, diambil Chamomile setahun lalu di Kafe Seduh Senja, setelah aku menurunkan tanganku dari kameranya dan bilang yang ini boleh.
Seorang laki-laki berkemeja biru muda berdiri dari kursi tengah. Di depan dua belas orang. Dan bilang, dengan suara pelan yang perlahan jadi lebih keras:
“Aku udah di-buff kamu, Aruna. Sekarang aku yang maju.”
Rooftop toko bangunan diam. Lalu Bu Ratna menangis. Lalu Ibu Kira. Lalu Tari. Lalu Pak Hendro, yang mengklaim ada debu semen di matanya.
Kira, di kursi emas di sebelahku, menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku nggak tahu ada yang rekam,” katanya dari balik telapak tangan.
“Aku yang izinin,” kataku.
“Kamu bilang jangan rekam aku.”
“Terus aku bilang yang ini boleh.” Aku menyandarkan kepala ke bahunya. “Itu celah.”
“Kamu yang paling ahli celah sekarang.”
“Aku belajar dari yang terbaik.”
Malam itu, setelah semua orang pulang, setelah Pak Hendro memeluk setiap anggota seperti melepas anak merantau, setelah Bu Ratna membekali setiap orang rendang dalam plastik klip, setelah Ibu Kira dan Mas Bayu berangkat kembali ke Sokaraja dengan janji akan datang lagi bulan depan, kami pulang ke Tebet.
Kira membuka laptop di meja kecil di sudut ruang tamu.
Keyboard baru. Kubelikan di ulang tahunnya yang kedua puluh delapan. Mekanikal, dengan tombol yang semuanya hurufnya masih utuh.
Tapi di samping keyboard itu, di atas meja, ada satu benda kecil yang dia tolak buang. Tombol Q dari keyboard lama. Dicopot, dibersihkan, diletakkan di piring kecil seperti perhiasan. Botak. Hurufnya hilang.
Di dompetnya, di sebelah dua sticky note kuning dengan ekor bintang jatuh, ada satu tombol lagi yang dia simpan. Tombol R dari keyboard lama. Hurufnya masih tajam. Hanya pernah ditekan sekali di raid.
Musim ketiga Genesis dimulai besok. Raid baru dibuka. Morning Tea sudah mendaftar.
Dia login.
[Earl — Online] [Party: Kira & Aruna — 2/2]
Party dua orang itu tidak pernah dibubarkan. Setahun. Dia bilang nama party itu satu-satunya hal di game yang tidak boleh diganti, bahkan oleh patch.
Aku login di laptopku sendiri. Di sebelahnya.
[Lychee — Online]
Karakter kami muncul berdampingan di tepi danau Leviathan. Rapier perak. Tongkat emas. Seutas benang tipis yang hanya kami berdua bisa lihat, melingkar di jari masing-masing.
[Permanent Tempo Sync: Earl ⟷ Lychee]
Notifikasi muncul. Raid baru. Musim ketiga. Clear record: None.
Kira membaca deskripsi raid-nya. Serius. Dahi berkerut. Jari telunjuk mengetuk meja. Lalu dia mengambil buku tulis cokelat yang baru, membuka halaman pertama, dan mulai menulis.
Aku menatapnya.
Setahun lalu, aku tidak tahu namanya. Aku bertanya di lift dan lupa dalam sepuluh detik.
Sekarang aku tahu setiap hurufnya. Setiap angka tujuh dengan garis kecil di tengah. Setiap kerupuk yang disisihkan untuk terakhir. Setiap ketukan.
“Kira.”
“Hm?”
“Raid baru. Siapa yang maju duluan?”
Dia berhenti menulis. Menatapku. Lalu tersenyum. Senyum yang dulu hanya muncul di pantulan pintu kaca ruang kontrol, saat dia pikir tidak ada yang melihat.
Sekarang dia tahu aku selalu melihat.
Dia meletakkan pulpen. Mengulurkan tangan kirinya. Cincin perak di jari manis. Dengan jari telunjuknya, dia mengetuk punggung tanganku.
Satu. Dua. Tiga.
“Kita berdua,” katanya.
Di layar, dua karakter melangkah bersamaan dari tepi danau. Tidak ada yang di depan. Tidak ada yang di belakang.
Di luar jendela, kalau aku memiringkan kepala sedikit, lampu landasan Halim berkedip. Satu pesawat lepas landas. Menara kontrol dengan lampu hijau.
Papa pasti bangga.
Bukan pada statis.
Pada fajar.
TAMAT
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit reading