← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Thirty Five

First Dawn: Fase 1–2

POV: Kira

Sabtu malam, jam sembilan waktu Makassar, hujan turun di atas atap seng kamar kosku.

Bukan gerimis. Hujan deras khas akhir tahun, yang membuat seng berbunyi seperti genderang perang dan membuat sinyal internet di gang Tallo turun dari tiga garis jadi satu.

Daeng Ratu mengetuk pintu jam delapan lewat lima puluh. Membawa mangkuk coto, kerupuk, dan satu termos teh panas.

“Nak,” katanya. “Kau main game malam ini? Yang penting itu?”

“Iya, Daeng.”

“Sepupu saya bilang anak-anak di warnet dekat pasar semua nonton. Katanya ada orang Makassar yang main.” Daeng Ratu menatapku. “Itu kau?”

“Saya bukan orang Makassar, Daeng.”

“Sudah tiga minggu kau di sini. Makan coto tiap pagi. Kau orang Makassar sekarang.” Dia meletakkan mangkuk di meja plastik. “Makan dulu. Jangan main pakai perut kosong.”

Aku tertawa. Kalimat yang sama yang Aruna tulis di tisu roti sobek, sebelum Mirror Queen.

Daeng Ratu pergi. Aku memakan coto dengan cepat. Lalu menyalakan laptop, memasang headset, dan menyalakan hotspot dari ponsel, karena Wi-Fi kos sudah mati sejak hujan mulai.

Satu garis sinyal.

Aku menatap angka itu lama.

Lalu aku membuka buku tulis cokelat di sebelah laptop. Halaman pertama. Judulnya: The First Dawn — 40 Skenario. Kutulis selama lima hari, setiap malam setelah kapal terakhir, setiap subuh sebelum truk pertama. Empat puluh kemungkinan. Empat puluh cara untuk menang. Dan di halaman terakhir, satu skenario yang tidak kuberi nomor.

Hanya satu kalimat.

Kalau semua skenario gagal: maju.


[The First Dawn — World-First Race] [Registered parties: 23] [Live tracker enabled.]

Di sudut layar, panel kecil menampilkan daftar party yang sedang berlomba. Dua puluh tiga nama. Di urutan teratas: Black Lotus (peringkat satu server, juara guild war), Espresso (peringkat dua), dan Morning Tea.

Sepuluh karakter berdiri di puncak menara batu tertinggi di peta Genesis. Langit di atas kami hitam pekat. Tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Hanya kegelapan yang terasa berat, seperti selimut basah.

[The Unlit Sky — Observatory at the World’s Edge] [Boss: Noctis, the Last Night]

“Bapak merinding,” kata Pak Hendro di voice. “Ini kayak langit jam tiga pagi pas listrik mati.”

“Ini langit sebelum fajar pertama,” kataku. “Lore-nya ada di buku empat puluh tujuh. Noctis adalah malam yang nggak mau berakhir. Dia nyimpen semua cahaya di dunia di dalam dirinya, supaya fajar nggak pernah datang.”

“Terus kita?”

“Kita bawa fajar.”

“Dengan apa?”

Aku menatap tongkat emas di tangan karakterku. Baton of the First Dawn. Cahaya kecil di ujungnya berdenyut. Satu, dua, tiga.

“Dengan ini,” kataku. “Dan dengan kalian.”

Chamomile sedang streaming. Penontonnya enam ratus ribu sebelum kami masuk. Di chat-nya, ribuan pesan dengan satu kata yang sama, diulang-ulang sampai jadi dinding.

EARL PULANG EARL PULANG EARL PULANG FakeEarl: abang asli 🙏🙏🙏

Di whisper, satu pesan.

Lychee: sinyal kamu?

Earl: satu garis.

Lychee: hujan?

Earl: deras.

Lychee: oke.

Lychee: kalau kamu putus, aku pegang call. aku udah baca 40 skenario kamu.

Aku berhenti.

Earl: kamu baca?

Lychee: kamu kirim ke sencha jam 4 pagi tadi. sencha kirim ke aku jam 4 lewat 2.

Lychee: aturan nomor tujuh. kamu nggak mutusin sendiri lagi. kita semua tahu rencananya.

Aku menatap layar. Lalu tersenyum.

Earl: oke.

Lychee: call aja.

Aku menekan Enter.


[PHASE 1 — The Night Orchestra]

Lantai observatorium adalah peta langit. Lingkaran raksasa dari batu hitam, dengan sepuluh rasi bintang yang terukir di permukaannya. Setiap rasi padam. Gelap. Dan di tengahnya, melayang tanpa suara, Noctis.

Dia tidak punya bentuk. Hanya bayangan yang terus bergerak, seperti asap hitam yang berputar pelan di udara. Di dalam asap itu, sesekali, ada kilatan cahaya kecil. Bintang-bintang yang dia telan.

[Noctis, the Last Night — HP 100%]

“Sepuluh rasi bintang,” kataku. “Setiap orang pegang satu. Nyalain dengan berdiri di tengahnya dan pakai skill apa pun ke arah Noctis. Tapi urutan dan temponya harus pas. Kalau salah, rasinya padam lagi dan semua rasi lain ikut padam.”

“Urutannya apa?” tanya Matcha.

“Lagu.”

“Lagu tidur lagi?”

“Bukan. Lagu bangun.”

Buku empat puluh tujuh, halaman tiga puluh. Saat fajar pertama datang, burung-burung bernyanyi dalam urutan rasi: Sang Pemburu, Sang Ikan, Sang Mahkota, Sang Pelaut...

“Darjeeling, Pemburu. Oolong, Ikan. Rooibos, Mahkota. Chamomile, Pelaut.” Aku memanggil sepuluh nama, sepuluh rasi. “Tempo-nya satu koma tiga detik. Ikutin ketukanku.”

Earl: .

Cincin emas berdenyut di layar sembilan orang.

“Darjeeling, sekarang.”

Pak Hendro menebas ke arah Noctis. Rasi Pemburu menyala. Biru pucat. Garis-garis bintang muncul di lantai, membentuk siluet pemanah.

“Oolong, sekarang. Rooibos, sekarang.”

Satu demi satu, sepuluh rasi menyala. Lantai observatorium berubah dari hitam jadi peta bintang yang berkilau. Dan setiap kali satu rasi menyala, asap hitam Noctis menyusut sedikit. Kehilangan satu bintang yang dia telan.

[Noctis — HP 82%]

“Bang, ini gampang,” kata Genmai.

“Jangan bilang gitu,” kata Hojicha.

Tepat saat itu, Noctis bergerak untuk pertama kalinya.

Asap hitam meledak ke segala arah. Menutupi seluruh lantai observatorium. Menutupi layar.

[Noctis casts: Silence of the Night] [All party interface elements are hidden.]

Layarku berubah.

HP bar hilang. Mana bar hilang. Cooldown skill hilang. Daftar party hilang. Peta kecil hilang. Bahkan nama di atas kepala karakter hilang. Yang tersisa hanya sepuluh karakter di atas lantai berbintang, di tengah kegelapan, tanpa satu angka pun di layar.

Dan cincin emas dari Baton. Hilang juga.

“Bang!” teriak Oolong. “Aku nggak bisa lihat HP-ku!”

“Earl, ketukan emasnya hilang!”

“Aku nggak tahu skill-ku udah siap atau belum!”

Sembilan suara panik bersamaan.

Aku menatap layar. Tidak ada angka. Tidak ada HP. Tidak ada cooldown.

Lalu aku menatap pinggang karakterku.

Hourglass of Unborn Time. Jam pasir kecil dari kaca bening, dengan pasir emas yang mengalir ke atas. Itu bukan elemen UI. Itu bagian dari model karakter. Equipment yang terlihat.

Dan Hourglass menampilkan cooldown tersembunyi.

Pasirnya masih mengalir. Bukan cooldown skillku. Cooldown Noctis. Skill berikutnya dalam empat belas detik.

“Semua tenang,” kataku.

Sembilan suara berhenti.

“Kalian nggak butuh layar. Kalian butuh aku. Kayak di Ash Storm. Kayak di Silent Hour.”

“Tapi Bang, kamu juga nggak bisa lihat cooldown kita!”

“Aku nggak perlu lihat.” Aku membuka buku tulis di sebelah laptop. Skenario nomor tujuh. Kalau UI hilang. “Aku hafal cooldown kalian semua. Darjeeling, ultimate kamu tiga puluh dua detik dari terakhir dipakai. Kamu pakai di detik empat belas fase ini. Siap di detik empat puluh enam. Aku yang hitung.”

Pak Hendro tertawa pelan. Tawa lega.

“Oolong. HP kamu nggak kelihatan. Tapi aku dengar kamu kena dua serangan dari bayangan kecil tadi. Itu enam puluh persen dari HP penuh. Chamomile, heal Oolong sekarang.”

“Iya!”

“Rooibos. Mana Ibu delapan puluh persen kalau Ibu belum pakai meteor sejak masuk.”

“Ibu belum pakai, Nak.”

“Delapan puluh. Simpan.”

Satu per satu, aku memanggil angka yang tidak terlihat. HP. Mana. Cooldown. Sepuluh orang. Dari ingatan. Dari suara. Dari dua tahun mendengarkan mereka bermain setiap malam.

Seperti pagi server mati. Seperti papan tulis.

“Rasi berikutnya,” kataku. “Noctis mau pakai serangan berikutnya sebelas detik lagi. Ikut aku. Satu koma tiga detik. Hitung pakai suara aku, bukan pakai layar.”

“Satu,” kataku. “Dua. Lychee, Rasi Pedang, sekarang.”

Rapier perak menembus kegelapan. Rasi kedelapan menyala.

[Noctis — HP ???]

Tidak ada angka. Tapi asap hitam menyusut. Aku bisa melihatnya.

“Sembilan. Sepuluh. Sencha—”

Aku tidak bisa memberi ping ungu. Ping adalah elemen UI. Ping juga hilang.

Tapi Sencha tidak menunggu ping. Karakter paladin itu sudah bergerak. Ke Rasi Perisai. Tepat di ketukan kesepuluh.

Sencha: aku baca bibir karakter kamu. dia gerak tiap kamu ngomong. animasi voice.

Aku menatap layar. Karakter enchanter-ku, yang selama dua tahun berdiri di belakang, memang punya animasi kecil setiap kali aku bicara di voice. Bibirnya bergerak. Tidak ada yang memperhatikan. Kecuali satu orang yang tidak bisa mendengar, dan selama tiga tahun belajar membaca semua hal yang lain.

Rasi kesepuluh menyala.

[Silence of the Night has ended.]

Layar kembali. HP bar. Mana. Cooldown. Nama. Dan Noctis.

[Noctis, the Last Night — HP 51%]

Chat stream Chamomile meledak.

DIA HAFAL HP SEMUA ORANG SENCHA BACA BIBIR KARAKTER ini bukan party ini orkestra


[World-First Tracker] [Black Lotus — Phase 1 cleared] [Morning Tea — Phase 1 cleared] [Espresso — Phase 1 (68%)]

“Black Lotus lebih cepat dua menit,” kata Matcha, membaca tracker.

“Black Lotus tiga puluh orang di guild-nya,” kataku. “Mereka punya party cadangan buat latihan. Mereka udah coba fase satu delapan kali di server tes.”

“Kita?”

“Kita sekali.”

[PHASE 2 — Eclipse]

Noctis membelah diri.

Asap hitam terpecah dua. Satu bagian naik ke langit dan membentuk bulan hitam. Satu bagian turun ke lantai dan membentuk matahari hitam. Di antara keduanya, lantai observatorium retak dan terbelah, membentuk dua platform yang terpisah jurang.

[The party has been divided.] [Moon Hall: Lychee, Oolong, Sencha, Rooibos, Hojicha] [Sun Hall: Earl, Darjeeling, Matcha, Chamomile, Genmai]

Lychee di Moon Hall. Aku di Sun Hall.

“Earl,” kata Pak Hendro. “Kita kepisah.”

“Iya. Aku tahu.”

Aku sudah membacanya di buku empat puluh tujuh. Saat gerhana, siang dan malam berpisah, dan waktu tidak lagi berjalan sama di keduanya.

“Moon Hall,” kataku di voice. “Waktunya lebih lambat dari kita. Satu koma lima kali. Kalau aku bilang satu detik di sini, di kalian itu satu koma lima detik.”

“Hah?” kata Hojicha di Moon Hall. Suaranya terdengar aneh. Lambat. Seperti rekaman yang diputar setengah kecepatan.

Itu efek gerhana. Suara dari Moon Hall terdengar lambat di Sun Hall. Dan suara dari Sun Hall, pasti terdengar cepat di Moon Hall.

“Bulan hitam sama matahari hitam harus mati dalam rentang sepuluh detik,” kataku. “Kayak Hydra. Tapi sepuluh detik di sini, lima belas detik di sana.”

“Bang,” kata Oolong di Moon Hall, suaranya lambat dan berat. “Suara kamu kenceng banget. Kayak tupai.”

“Maaf. Itu efek gerhana.”

Kami menyerang. Dua tim. Dua bulan. Di dua waktu yang berbeda.

Aku menghitung dalam dua tempo. Satu koma nol untuk Sun Hall. Satu koma lima untuk Moon Hall. Setiap perintah untuk Moon Hall harus kuucapkan lebih awal, karena mereka akan mendengarnya lebih cepat dari yang mereka harapkan, dan bergerak lebih lambat dari yang aku harapkan.

Seperti menghitung jarak dua gudang dengan kecepatan truk yang berbeda.

“Moon Hall, Rooibos, meteor di hitungan tiga. Aku hitung pakai tempo kalian.” Aku memperlambat suaraku. Satu. Dua. Tiga. “Sekarang.”

Di layar, meteor jatuh ke bulan hitam.

“Sun Hall, Darjeeling, ultimate sekarang.”

Matahari hitam bergetar.

[Black Moon — HP 40%] [Black Sun — HP 38%]

Lalu sinyalku putus.


Bukan putus total. Satu garis sinyal jadi nol, selama dua detik. Layarku membeku. Suara voice channel terpotong. Karakterku berdiri diam di Sun Hall.

Hujan di atas seng. Keras sekali.

Lalu sinyal kembali. Satu garis.

Dua detik. Di Sun Hall, itu dua detik. Di Moon Hall, itu tiga.

Saat suara kembali, aku mendengar suara Lychee. Bukan lambat. Tidak terdengar seperti rekaman setengah kecepatan. Normal. Karena dia tidak bicara di voice channel umum. Dia bicara di channel Moon Hall, dan aku masih terhubung ke keduanya.

“...Rooibos, sekarang. Oolong, taunt kiri. Hojicha, jangan dash.”

Dia memegang call. Selama dua detik aku putus, dia memegang call untuk Moon Hall. Dengan tempo satu koma lima. Dari skenario nomor dua puluh tiga di buku tulisku. Kalau Earl putus di fase 2: Lychee pegang Moon Hall. Pakai tempo 1,5.

Dia membacanya. Dia menghafalnya.

“Aku balik,” kataku di voice.

Lychee: tahu.

Lychee: suara kamu kayak tupai.

Aku tertawa. Di tengah fase dua, dengan sinyal satu garis dan hujan di atas seng, aku tertawa.

“Lychee,” kataku. “Aku mau pakai Tempo Sync. Kamu sama aku. Beda hall. Beda waktu.”

Lychee: bisa?

“Nggak tahu. Belum pernah ada yang coba nyamain cooldown di dua waktu yang beda.”

Lychee: kamu nyari celah lagi.

“Selalu.”

[Earl casts Tempo Sync → Lychee & Earl]

Garis cahaya emas melesat dari tongkatku. Menembus jurang di antara dua hall. Menembus gerhana. Menyentuh rapier di Moon Hall.

[Tempo Sync — Time dilation detected. Synchronizing...] [Lychee — Ultimate cooldown: 10s (Moon) / 6.7s (Sun)] [Earl — Ultimate cooldown: 6.7s (Sun) / 10s (Moon)]

Sinkron. Bukan di angka yang sama. Di waktu yang sama. Sepuluh detik di bulan, enam koma tujuh di matahari. Momen yang sama, dari dua sisi gerhana.

“Moon Hall, burst di ketukan Lychee. Sun Hall, burst di ketukan aku. Kalian nggak perlu ngerti kenapa angkanya beda. Kalian cuma perlu percaya.”

“Bapak percaya,” kata Pak Hendro.

“Ibu juga,” kata Bu Ratna, dari bulan, suaranya lambat dan lembut.

Aku menghitung.

“Enam. Lima. Empat.”

Di Moon Hall, aku mendengar Lychee menghitung dengan tempo yang lebih lambat. “Sembilan. Delapan. Tujuh.”

“Tiga. Dua.”

“Lima. Empat.”

“Satu.”

“Tiga. Dua. Satu.”

“Sekarang.”

“Sekarang.”

Dua suara. Dua waktu. Satu momen.

[Black Moon — DEFEATED] [Black Sun — DEFEATED] [Time between defeats: 0.0s]

Nol koma nol detik.


Lantai observatorium menyatu kembali. Jurang tertutup. Bulan hitam dan matahari hitam runtuh, dan dari reruntuhan mereka, ribuan bintang kecil terlepas, beterbangan ke langit, menyala satu per satu.

Untuk pertama kalinya sejak kami masuk, langit di atas observatorium tidak gelap sepenuhnya. Ada bintang. Banyak bintang.

[Noctis, the Last Night — HP 15%] [PHASE 2 — Cleared]

Voice channel meledak.

“NOL KOMA NOL!” teriak Genmai. “BANG, NOL KOMA NOL!”

“Dua waktu beda, bareng!” Hojicha berteriak dari arah yang tadi Moon Hall, suaranya sekarang normal. “Bang, aku nggak ngerti fisikanya tapi aku nangis!”

Pak Hendro tertawa sampai batuk. Bu Ratna berdoa. Chamomile tidak bicara apa-apa ke kamera. Dia hanya menutup mulut dengan kedua tangan.

Di chat party:

Lychee: gg fase 2.

Earl: kamu pegang call pas aku putus.

Lychee: skenario 23.

Earl: kamu hafal.

Lychee: aku hafal semua yang kamu tulis sekarang.


[World-First Tracker] [Black Lotus — Phase 2 cleared] [Morning Tea — Phase 2 cleared] [Espresso — Phase 2 cleared]

Tiga party. Fase dua. Hampir bersamaan.

Lalu, untuk ketiga party sekaligus, muncul notifikasi yang sama.

[PHASE 3 — The Last Gate] [Noctis retreats behind the Last Gate.] [The Last Gate cannot be opened by a single party.] [Required: 20 hearts. Two parties must stand before the gate as one.]

Dua puluh orang.

Morning Tea sepuluh. Tidak ada party cadangan. Tidak ada anggota guild lain.

“Dua puluh?” Pak Hendro membaca ulang. “Earl, kita cuma sepuluh.”

“Aku tahu.”

“Black Lotus punya tiga puluh orang di guild. Mereka bisa kirim party kedua.”

“Iya.”

“Espresso juga.”

“Iya.”

“Kita?”

Aku menatap tracker. Black Lotus sudah mengirim party kedua mereka ke gerbang. Notifikasi kecil di panel: Black Lotus Party B is approaching the Last Gate. Mereka hanya butuh lima menit untuk sampai.

Espresso belum bergerak. Party mereka berdiri diam di depan gerbang. Sepuluh orang. Tidak ada party kedua yang datang.

Lalu satu whisper muncul.

Dari nama yang sudah dua minggu tidak menulis apa pun. Sejak semifinal. Sejak Tetap proaktif, Kira.

Ristretto: Earl.

Ristretto: Espresso juga di gerbang.

Ristretto: Party B kami sudah bubar sejak guild war. Kami cuma sepuluh.

Ristretto: Butuh dua puluh.

Aku menatap pesan itu.

Di luar jendela, hujan masih turun di atas atap seng. Sinyal satu garis. Jam sepuluh lewat empat puluh waktu Makassar.

Di Jakarta, jam sembilan lewat empat puluh. Senin depan, Reno akan mulai bekerja di gudang Cakung. Koordinator. Bukan supervisor. Masa evaluasi enam bulan.

Dan malam ini, dia berdiri di depan gerbang terakhir dengan sepuluh orang, dan menulis Earl untuk pertama kalinya. Bukan Kira.

Aku tidak langsung membalas.

Aturan nomor tujuh.

“Semuanya,” kataku di voice channel Morning Tea. “Ristretto ngajak gabung. Espresso sepuluh, kita sepuluh. Dua puluh.”

Hening.

“Aku nggak mau mutusin sendiri,” kataku. “Kalian mau?”

Lama tidak ada yang bicara. Lalu Pak Hendro.

“Nak,” katanya pelan. “Kamu sendiri mau?”

Aku menatap layar. Gerbang terakhir. Tongkat emas di tangan karakterku. Jam tangan Papa Aruna di pergelangan kiriku yang sungguhan, di dunia nyata, di kamar kos tiga kali tiga.

“Aku mau,” kataku.

“Kalau gitu kita mau,” kata Pak Hendro.

Satu per satu, sembilan orang setuju. Oolong. Kembar. Matcha. Chamomile. Bu Ratna. Sencha. Darjeeling.

Dan terakhir, satu pesan di chat party.

Lychee: call aja.

Aku membuka whisper Ristretto.

Earl: oke.

Earl: gabung.