Chapter Twelve
Proyek 12.12
POV: Kira
Senin pagi, ruang rapat lantai empat lebih penuh dari biasanya.
Bukan hanya delapan dispatcher dan Reno. Ada juga dua koordinator gudang dari Cikarang dan Tangerang, satu orang dari tim IT, Mbak Lusi dari Customer Service, dan Pak Gunawan, kepala IT, yang duduk di pojok dengan kopi dan wajah orang yang masih trauma dengan server mati dua minggu lalu.
Dan di kepala meja, Aruna.
Hari ini dia memakai blazer hitam, rambut dikuncir rendah. Di depannya ada laptop, tablet, dan flashdisk hitam kecil yang sudah seminggu tergeletak di mejanya.
Dia mencolokkan flashdisk itu ke laptop dan menyambungkannya ke proyektor.
“Harbolnas tiga minggu lagi,” katanya tanpa basa-basi. “Tahun lalu, volume kita naik tiga ratus persen dari hari biasa. Ketepatan waktu turun ke tujuh puluh dua persen. Denda SLA satu koma delapan miliar. Komplain pelanggan lima ribu enam ratus.”
Dia menekan tombol. Slide pertama muncul di layar.
Peta Jabodetabek. Tiga warna. Tiga gelombang.
Tapi bukan tiga gelombang yang biasa. Ini versi yang kukerjakan selama tiga minggu di meja ketiga dari jendela, setiap sore sampai jam delapan malam. Tiga gelombang utama, masing-masing dipecah jadi dua sub-gelombang. Jeda yang disesuaikan per jam per gerbang tol. Rute cadangan untuk setiap kemungkinan banjir, kecelakaan, dan demo. Satu kolom tambahan yang belum pernah ada di dokumen LNX mana pun: pola kebiasaan sopir. Siapa yang cepat di tol, siapa yang lebih baik di jalan kecil, siapa yang tidak pernah angkat telepon tapi selalu membalas chat di lampu merah.
Rencana Rute Gelombang, versi empat.
Aku duduk di ujung meja, di kursi paling dekat dengan pintu. Kursi orang yang bisa keluar tanpa ketahuan. Jari telunjukku mengetuk paha di bawah meja.
“Ini rencana yang akan kita pakai untuk Harbolnas,” kata Aruna. “Saya membentuk tim khusus. Proyek 12.12.”
Dia menekan tombol lagi. Slide berikutnya: struktur tim.
Proyek 12.12 — Struktur Tim Penanggung Jawab: Aruna Lestari (Head of Operations) Koordinator Lapangan: Reno Wicaksono (Supervisor Dispatch) Perencana Rute: Kira Aditama (Dispatcher)
Ruangan diam.
Diam seperti voice channel Morning Tea setelah Leviathan mengeluarkan Tidal Roar.
Tari, yang duduk di sebelahku, mencengkeram lenganku di bawah meja dengan kekuatan yang cukup untuk meninggalkan bekas.
“Kira Aditama,” ulang Pak Gunawan pelan dari pojok, seperti mencoba mengingat wajah yang cocok dengan nama itu.
Beberapa kepala menoleh ke arahku. Mas Fajar. Mas Dimas. Mbak Ayu. Wajah mereka tidak kaget. Wajah mereka seperti orang yang baru diberi tahu sesuatu yang sudah mereka ketahui sejak Kamis pagi dua minggu lalu, saat seorang dispatcher berhoodie abu menghapus papan rute dan menggambar ulang satu kota dari ingatan.
Reno tidak menoleh ke arahku. Dia menatap layar. Senyumnya masih di tempatnya, tapi sesuatu di rahangnya mengeras.
“Bu,” katanya, nadanya sopan. “Boleh saya tanya?”
“Silakan.”
“Rencana gelombang ini kan rencana yang saya ajukan dua tahun lalu.”
“Iya,” kata Aruna. “Ini pengembangan dari rencana itu.”
“Kalau begitu, bukannya lebih efisien kalau saya yang pegang perencanaan, Bu? Saya yang paling paham rencana awalnya.”
Aruna menatap Reno. Lama. Dua detik. Tiga detik. Aku bisa melihat jarinya di atas meja, telunjuk kanan, berhenti tepat sebelum mengetuk.
“Versi empat ini,” katanya pelan, “dikerjakan Kira. Tiga minggu. Di luar jam kerjanya, tanpa diminta.” Dia menekan tombol. Slide berikutnya menampilkan kolom pola kebiasaan sopir. “Bagian ini, misalnya, nggak ada di versi awal. Nggak ada di dokumen mana pun di perusahaan ini. Saya nggak tahu ada orang di divisi kita yang hafal kebiasaan dua ratus tiga puluh sopir.”
“Itu bisa saya pelajari, Bu.”
“Bisa,” kata Aruna. “Tapi Kira sudah tahu.”
Lalu dia tersenyum. Senyum kantor. Rapi. Tidak bisa dibantah.
“Reno, kamu koordinator lapangan. Itu posisi paling penting di hari-H. Kamu yang pegang komunikasi ke gudang dan klien. Saya butuh kamu di sana.”
Reno diam sebentar. Lalu mengangguk.
“Siap, Bu.”
Rapat berlangsung satu jam. Aruna menjelaskan jadwal, target, dan pembagian tugas. Setiap kali ada pertanyaan teknis soal rute, dia menoleh ke arahku.
“Kira, gerbang tol Cikunir jam lima sore?”
“Padat, Bu. Gelombang dua dialihkan lewat Jatiwaringin.”
“Kira, gudang Tangerang kalau forklift rusak lagi?”
“Forklift nomor tiga, Bu. Pak Joko yang nyetir.”
Setiap kali dia memanggil namaku, Tari mencengkeram lenganku lagi. Setelah rapat selesai, lenganku sudah biru di tiga tempat.
“KIR,” bisik Tari saat kami keluar ruang rapat. Bisikan Tari adalah bisikan yang bisa didengar sampai lantai lima. “KIR. PERENCANA RUTE. KAMU DISEBUT DI SLIDE. NAMAMU. DI SLIDE.”
“Iya, Tar.”
“Dua tahun aku duduk di sebelah kamu! Dua tahun aku lihat kamu nulis di papan, nyelipin sticky note ke Pak Reno, pulang paling akhir, beliin makanan kucing buat Jagung! Dan akhirnya ada yang lihat!” Matanya berkaca-kaca. Tari benar-benar menangis. “Aku terharu, Kir. Aku beneran terharu.”
“Tar, jangan nangis di koridor.”
“Aku nangis di mana aja aku mau!”
Mas Fajar lewat dan menepuk bahuku. “Selamat, Kir. Udah waktunya.”
Mbak Ayu lewat dan tersenyum. “Kalau butuh bantuan input data, bilang aja.”
Pak Haris, satpam lobi, entah bagaimana sudah tahu, karena saat aku turun untuk makan siang, dia mengacungkan jempol dari balik meja jaga. Jagung, kucingnya, sedang tidur di atas tumpukan koran di sebelahnya.
Reno menemuiku jam tiga sore, di pantry.
Aku sedang menyeduh Earl Grey. Dia masuk, menuang kopi dari mesin, dan berdiri di sebelahku tanpa bicara. Hanya suara mesin kopi yang mendengung.
“Kir,” katanya akhirnya.
“Pak.”
“Selamat.”
“Makasih, Pak.”
Dia menyeruput kopi. Menatap jendela pantry yang menghadap tol Cawang.
“Kamu tahu, waktu kamu baru masuk dua tahun lalu, kamu nggak bisa apa-apa,” katanya. Nadanya tidak marah. Nadanya seperti orang yang mengenang. “Kamu bahkan nggak berani angkat telepon dari sopir. Kamu cuma duduk, ngetik, diam.”
“Iya, Pak.”
“Saya yang ngajarin kamu baca pola tol. Saya yang kasih kamu akses ke laporan sopir. Saya yang setujui cuti kamu waktu ibu kamu sakit.”
“Saya ingat, Pak. Saya berterima kasih.”
“Jadi jangan lupa,” katanya, menatapku untuk pertama kalinya, “siapa yang ngajarin kamu di sini.”
Aku menatap gelas Earl Grey di tanganku. Daun tehnya mengendap di dasar.
Semua yang dia katakan benar. Dia memang mengajariku membaca pola tol, di minggu pertamaku. Dia memang memberi akses ke laporan sopir. Dia memang menyetujui cutiku tanpa bertanya, saat ibuku masuk rumah sakit di Purwokerto dan aku menelepon jam lima pagi sambil menangis.
Dan dia juga orang yang membaca sticky note-ku keras-keras sebagai miliknya. Yang menyerahkan rencana gelombangku dengan namanya di sampul. Yang menjawab email terima kasih Aruna untuk paket salah antar yang kuurus.
Dua hal itu sama-sama benar. Dan aku tidak tahu bagaimana memegang keduanya sekaligus.
“Saya nggak lupa, Pak,” kataku.
Reno mengangguk. Lalu menepuk bahuku dua kali dan keluar dari pantry.
Aku berdiri di sana lama, sampai Earl Grey-ku terlalu pekat dan terlalu pahit untuk diminum.
Malam itu, jam sembilan, grup Morning Tea penuh dengan foto.
Chamomile: [foto] KAOSNYA UDAH JADI!!!! Chamomile: [foto] [foto] [foto]
Kaos putih dengan huruf hitam tebal. Depan: EARL CALL. Belakang: LYCHEE EKSEKUSI. Di bawahnya, logo kecil berbentuk cangkir teh dengan uap mengepul.
Genmai: BAGUS BANGET Hojicha: aku pesen 3 Rooibos: Ibu pesen 2. Yang satu buat Nak Kira, yang satu buat Nak Lychee. Ukuran Nak Kira L, Nak Lychee S. Oolong: bu ratna tau ukuran baju bang earl dari mana Rooibos: Ibu lihat waktu kopdar. Ibu ibu-ibu. Ibu tahu. Matcha: chamomile, ini mau dijual di stream? Chamomile: IYA. udah 800 pre-order dalam 2 jam 😭😭😭 Darjeeling: Untungnya buat kas party ya, Nak. Chamomile: siap pak! 🫡 Lychee: aku nggak setuju. Chamomile: lychee kamu udah kalah voting 8-1 tadi siang Lychee: aku nggak ikut voting. Hojicha: makanya kalah 😇
Aku tertawa sendirian di kamar kos.
Lalu whisper muncul di game.
Lychee: kamu baik-baik aja?
Earl: kenapa nanya gitu?
Lychee: tadi sore ada orang di pantry. lama banget. sampai tehnya kepekatan.
Aku berhenti mengetik. Dia lihat. Tentu saja dia lihat. Ruangannya di ujung koridor, dan pintu pantry dari kaca.
Earl: aturan nomor tiga.
Lychee: aku nggak bahas kantor. aku bahas orang yang tehnya kepekatan.
Earl: itu celah lagi.
Lychee: kamu yang ngajarin.
Aku menatap layar. Di luar jendela kos, ada suara motor lewat dan tukang sate yang berteriak.
Earl: orang yang ngajarin aku banyak hal, bilang aku jangan lupa siapa yang ngajarin aku.
Lychee: terus?
Earl: aku nggak lupa. tapi aku juga nggak tahu harus gimana sama hal-hal lain yang dia lakuin.
Lychee: hal-hal lain kayak apa?
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Kalau aku menulisnya, itu jadi tuduhan. Dan Lychee bukan hanya Lychee. Dia juga Head of Operations. Satu kalimat dariku bisa mengubah karier seseorang.
Earl: nggak apa-apa. lupain.
Lama dia tidak membalas.
Lychee: oke. aku nggak maksa.
Lychee: tapi aku mau bilang satu hal. bukan sebagai atasan. sebagai lychee.
Earl: apa?
Lychee: orang yang ngajarin kamu jalan, nggak berarti dia boleh jalan pakai kaki kamu.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Earl: kamu dapat kalimat itu dari mana?
Lychee: dari papa.
Lychee: dulu ada senior papa di bandara yang suka ngaku-ngaku kerjaan papa. papa diam aja bertahun-tahun. katanya nggak apa-apa, yang penting pesawatnya selamat.
Lychee: terus suatu hari mama bilang kalimat itu ke papa. di meja makan. aku masih SMP.
Earl: terus papa kamu ngapain?
Lychee: papa ketawa. terus besoknya dia tetap diam.
Lychee: sampai dia pensiun, nggak ada yang tahu siapa yang benerin radio menara selama 30 tahun.
Lychee: kecuali 30 pilot yang dateng ke pemakamannya.
Aku menatap layar. Mataku panas, dan bukan karena layar.
Earl: kamu marah sama papa kamu?
Lychee: nggak. aku bangga sama papa.
Lychee: tapi aku marah sama dunia yang butuh pemakaman buat tahu siapa dia.
Karakternya berjalan mendekati karakterku, di alun-alun kota. Berhenti di sebelahku. Seperti biasa.
Lychee: hari ini namamu ada di slide.
Earl: iya.
Lychee: itu bukan hadiah. bukan perlakuan khusus. bukan aturan nomor enam.
Lychee: itu cuma kebenaran yang telat dua tahun.
Aku tidak tahu harus membalas apa. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang aku tahu.
[Earl casts Haste → Lychee]
Lychee: itu artinya apa?
Earl: artinya makasih.
Lychee: sama-sama.
Lychee: besok jam tujuh pagi, ruang rapat kecil. kita mulai kerja. bawa teh.
Earl: iya, bu.
Lychee: BELUM BESOK.
Earl: maaf.
Lychee: 🙂
Dia log out. Aku masih duduk di depan layar. Di pojok kamar, di atas meja lipat, ada tumpukan kertas rute Harbolnas yang kucetak sendiri. Di atasnya, terselip di antara halaman, sticky note kuning dengan tulisan Bagus. Terima kasih. —A. Aku memindahkannya dari dompet ke sana minggu lalu, karena takut kertasnya kusut.
Aku mengambil sticky note itu dan menatapnya lama.
Orang yang ngajarin kamu jalan, nggak berarti dia boleh jalan pakai kaki kamu.
Besok, jam tujuh, ruang rapat kecil. Proyek 12.12.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku tidak sabar menunggu hari kerja berikutnya.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12 reading
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit