Chapter Eight
Arsip Lama
POV: Aruna
“Satu miliar dua ratus juta,” kata Pak Darmawan.
Dia meletakkan tablet di meja rapat lantai sembilan dan menatapku dari balik kacamata bacanya. Direktur Operasional LNX berumur lima puluh delapan, rambutnya sudah putih seluruhnya, dan dia punya kebiasaan menyebut angka seolah angka itu adalah nama orang yang dia sayangi.
“Itu estimasi kerugian kalau Kamis kemarin kita pakai protokol darurat standar,” lanjutnya. “Denda SLA, kompensasi pelanggan, lembur gudang. Satu miliar dua ratus. Dan yang terjadi?”
“Ketepatan waktu sembilan puluh empat persen, Pak.”
“Sembilan puluh empat persen.” Dia mengucapkannya pelan, seperti menikmati rasanya. “Dengan sistem mati. Saya sudah dua puluh tahun di logistik, Aruna. Saya belum pernah lihat itu.”
“Tim dispatch bekerja sangat baik, Pak.”
“Reno bilang dia yang koordinasi.”
Aku diam satu detik terlalu lama. Pak Darmawan memperhatikan.
“Bukan Reno?” tanyanya.
“Saya masih mengonfirmasi detailnya, Pak,” kataku. “Saya mau pastikan kreditnya jatuh ke orang yang tepat.”
Pak Darmawan bersandar. Mengamatiku. Lalu tersenyum tipis, senyum orang tua yang tahu lebih banyak dari yang dia katakan.
“Pastikan,” katanya. “Orang yang bisa melakukan itu, saya mau kenal. Dan, Aruna, Harbolnas tiga minggu lagi. Kamu masih mau pakai Rencana Rute Gelombang?”
“Masih, Pak.”
“Bagus. Siapkan tim. Pilih orang terbaik.”
Aku kembali ke ruanganku, menutup pintu, dan membuka sistem arsip dokumen internal.
ARSIP > OPERASIONAL > DISPATCH > PERENCANAAN > 2024
Rencana_Rute_Gelombang_v3_FINAL.pdf Diajukan oleh: Reno Wicaksono, Supervisor Dispatch Disetujui oleh: Aruna Lestari, Head of Operations (Plt.)
Plt. Aku masih pelaksana tugas waktu itu. Baru tiga bulan menjabat. Aku ingat membaca dokumen ini di mobil, di parkiran, jam sembilan malam, dan merasa lega karena akhirnya ada seseorang di divisi ini yang berpikir lebih jauh dari besok pagi.
Aku membukanya lagi.
Dua puluh tiga halaman. Peta, tabel, grafik kepadatan per jam. Struktur tiga gelombang dengan jeda tiga puluh menit. Rute alternatif berdasarkan prediksi banjir dan kecelakaan. Semuanya rapi, terketik dalam format standar perusahaan, dengan nama Reno di sampul.
Aku membacanya lebih pelan dari dua tahun lalu.
Halaman tujuh. Tabel jeda antar gelombang. Di bawah tabel ada catatan kaki kecil, dalam huruf berukuran delapan, yang dulu kulewati karena kupikir itu cuma catatan teknis:
¹ Gelombang 3 sebaiknya ditahan 1,7 menit lebih lama dari jadwal di jam sibuk. Mirip cooldown: kalau dilepas terlalu cepat, numpuk di gerbang tol bareng gelombang 2.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Mirip cooldown.
Aku tidak tahu Reno main game. Reno tidak pernah bicara soal game. Reno bicara soal golf, mobil, dan seminar kepemimpinan yang dia ikuti di hotel bintang lima.
Dan satu koma tujuh.
Satu koma tujuh detik. Tempo lantai Clockwork Cathedral di fase satu.
Itu kebetulan. Pasti kebetulan. Angka satu koma tujuh bisa muncul di mana saja.
Aku menggulir ke halaman dua belas. Catatan kaki lagi:
³ Jalur Kalimalang: cek tiang listrik di depan pom bensin, ada tanda cat merah buatan warga. Kalau air udah garis kedua, alihin.
Garis kedua. Tanda cat merah. Itu informasi yang tidak akan ditemukan di data BMKG atau laporan resmi mana pun. Itu informasi yang hanya diketahui orang yang pernah membaca setiap foto yang dikirim setiap sopir selama berbulan-bulan.
Aku menutup PDF. Membukanya lagi. Mencari properti dokumen. Penulis: Reno Wicaksono. Tanggal dibuat: dua tahun lalu. Aplikasi: Microsoft Word. Tidak ada riwayat versi. Hanya file final.
Aku bisa meminta IT mencari file asli di server bersama. Aku bisa memanggil Reno dan bertanya langsung siapa yang menulis catatan kaki itu. Aku bisa memanggil Kira dan bertanya apakah dia pernah membuat dokumen ini.
Tapi semua itu akan jadi tuduhan. Dan aku tidak punya bukti. Hanya catatan kaki, satu kata cooldown, dan foto papan tulis dengan angka tujuh bergaris.
Dan kalau aku salah, aku akan menghancurkan reputasi supervisor yang sudah sepuluh tahun di perusahaan ini karena tebakan.
Kalau aku benar, aku sudah dua tahun memakai pekerjaan seseorang tanpa tahu dia ada.
Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan.
Aku menyimpan file itu ke folder pribadi di laptopku, memberinya nama yang tidak akan dicurigai siapa pun: bahan_harbolnas_ref.pdf. Lalu aku menutup laptop dan menatap tujuh kaktus di ambang jendela.
Kaktus ketiga dari kiri masih tumbuh miring ke arah cahaya.
Grup WhatsApp Morning Tea tidak pernah tidur.
Aku membukanya saat makan siang di ruanganku, dengan nasi kotak yang dipesan sekretaris, dan langsung menyesal.
Chamomile: GUYS aku mau ngajuin proposal 🙏 Chamomile: collab stream bareng earl!!!!! Chamomile: 2 juta views kopdar, 4 juta views clip oolong nabrak tembok. kalo earl muncul di stream aku, internet RUNTUH Genmai: earl ga bakal mau Hojicha: earl bahkan ga pake voice kalo bukan raid Chamomile: makanya aku minta tolong lychee yg bujuk 🥺 Chamomile: @Lychee kan kamu yg paling deket sama earl Rooibos: Iya, Ibu juga lihat. Nak Lychee duduk sebelah Nak Kira di kopdar, padahal kursinya Nak Oolong. Oolong: aku diusir bu 😔 Rooibos: Nak Lychee masih single kan?
Sumpitku berhenti di udara.
Darjeeling: Bu Ratna, jangan. Rooibos: Ibu cuma nanya, Pak. Genmai: BU RATNA LANGSUNG KE INTI Hojicha: aku bikin polling dong Hojicha: 📊 SIAPA PALING COCOK SAMA EARL? Hojicha: a) chamomile Hojicha: b) lychee Hojicha: c) ranting kering Hojicha: d) bastian (fake earl)
Aku menatap layar. Wajahku panas. Aku belum menjawab apa-apa dan polling sudah berjalan.
Genmai: voted B Matcha: B. cara dia nusuk boss pas earl bilang tiga, itu bukan party member. itu chemistry. aku driver ojol 8 tahun, aku tahu chemistry penumpang Chamomile: heh aku vote A dong!!! aku healer, aku yang jaga dia!!! Rooibos: B. Maaf, Nak Nana. Darjeeling: Bapak abstain. Bapak leader, harus netral. Darjeeling: Tapi kalau Bapak harus pilih, B. Oolong: C sih. rantingnya setia Sencha: B.
Hasil polling: B, enam suara. A, satu. C, satu. D, nol.
Earl belum vote. Earl sedang kerja. Earl sedang duduk sepuluh meter dari ruanganku dan mungkin sedang membaca grup yang sama.
Aku menekan tombol keluar grup.
[Lychee left the group]
Satu detik. Dua detik.
Hojicha: LYCHEE KELUAR GRUP Genmai: KABUR 😭😭😭 Chamomile: ITU JAWABAN, GUYS. ITU JAWABAN. Rooibos: Nak Lychee malu. Ibu dulu juga gitu sama Bapaknya anak-anak. Darjeeling: @Hojicha masukin lagi.
[Hojicha added Lychee]
Hojicha: welcome back 😇 Lychee: aku kepencet. Genmai: kepencet keluar grup 🤣 Lychee: iya. kepencet. Matcha: aku driver ojol 8 tahun. aku tahu “kepencet”
Aku meletakkan ponsel menghadap ke bawah di meja dan memakan nasi kotak dalam diam selama lima menit penuh.
Ponselku bergetar sekali lagi. Aku tidak mau membukanya. Aku membukanya.
Whisper. Dari aplikasi Genesis, yang terhubung ke ponselku.
Earl: aku belum vote.
Lychee: jangan.
Earl: kenapa?
Lychee: pokoknya jangan.
Earl: oke.
Satu menit kemudian, di grup WhatsApp:
Earl: C. rantingnya setia.
Seisi grup meledak dengan stiker tertawa. Oolong mengirim dua puluh emoji ranting. Chamomile menulis EARL COWARD dengan huruf kapital.
Dan aku, sendirian di ruanganku, tertawa sampai harus menutup mulut dengan tisu dari nasi kotak.
Dia memilih C supaya aku tidak malu. Dia memilih jadi bahan tertawaan supaya aku tidak jadi bahan gosip.
Tentu saja dia melakukan itu.
Jam empat sore, Darjeeling mengirim pengumuman ke grup. Kali ini tanpa stiker.
Darjeeling: Anak-anak. Ada tantangan resmi. Darjeeling: [screenshot]
Screenshot itu adalah surat tantangan in-game, dengan bingkai emas:
[Guild Challenge] From: Ristretto (Leader, Espresso) To: Darjeeling (Leader, Morning Tea) “Scrim 10v10. Colosseum of Ash. Best of 3. Sabtu, 20:00. Clockwork Cathedral adalah milik kami sampai Rabu kemarin. Kami ingin melihat sendiri bagaimana kalian merebutnya. Kami tidak suka kalah. Kami lebih tidak suka tidak tahu kenapa kami kalah. — Ristretto”
Genmai: wah. espresso. Hojicha: guild nomor 2 server Matcha: ristretto ini leader paling disiplin di server. guildnya punya jadwal latihan kayak tentara. ada absen. ada evaluasi mingguan Oolong: serem bang Chamomile: CONTENT!!!!!! aku stream ya!!!! Darjeeling: Earl. Gimana?
Lama tidak ada jawaban. Lalu:
Earl: terima.
Earl: tapi kita kalah di ronde satu.
Hojicha: HAH? Genmai: bang kok udah nyerah duluan Earl: nggak nyerah. kita kalah di ronde satu. sengaja. Earl: nanti aku jelasin sabtu.
Aku membaca pesan itu dan tersenyum tanpa sadar. Tentu saja dia sudah punya rencana. Dia mungkin sudah membuatnya lima menit setelah membaca surat tantangan itu.
Tapi yang membuatku berhenti tersenyum adalah satu kalimat di surat Ristretto.
Kami lebih tidak suka tidak tahu kenapa kami kalah.
Kalimat itu terasa familier. Seperti kalimat yang pernah kudengar di ruang rapat. Disiplin. Absen. Evaluasi mingguan. Nada orang yang terbiasa mengukur segalanya dan tidak tahan berada di peringkat dua.
Aku menggelengkan kepala. Aku terlalu lama di kantor. Semua hal mulai terdengar seperti rapat.
Jam enam sore, saat aku keluar ruangan, ruang kontrol sudah hampir kosong. Hanya ada satu orang yang masih duduk di meja ketiga dari jendela, menatap layar, mengetuk meja.
Aku berhenti di depan pintu kaca.
Dia tidak melihatku. Dia sedang membuka file di layar. Aku tidak bisa membaca isinya dari jarak ini, tapi aku bisa melihat bentuknya: peta Jabodetabek, dengan garis-garis berwarna. Tiga warna. Tiga gelombang.
Dia sedang mengerjakan sesuatu untuk Harbolnas. Tanpa disuruh. Tanpa ada yang tahu.
Di pinggir monitornya, sticky note kuning yang kutempelkan kemarin sudah tidak ada.
Di dompet, katanya semalam.
Aku berdiri di depan pintu kaca terlalu lama. Cukup lama sampai satpam lobi yang lewat bertanya apakah aku lupa sesuatu.
“Nggak, Pak,” kataku. “Saya cuma... ngecek ruang kontrol.”
“Mas Kira memang suka pulang paling akhir, Bu,” kata satpam itu sambil tersenyum. Pak Haris. Pemilik kucing bernama Jagung. “Tiap hari. Kadang sampai jam sembilan. Kadang dia beliin Jagung makanan kucing.”
Aku menoleh ke Pak Haris.
“Dia beliin Jagung makanan?”
“Iya, Bu. Tiap Jumat. Yang merek mahal. Katanya Jagung kurus.” Pak Haris tertawa kecil. “Mas Kira itu orangnya gitu, Bu. Nggak banyak ngomong. Tapi kalau ada yang butuh, dia yang pertama tahu.”
Aku berjalan ke lift dengan langkah pelan.
Hari Senin, aku bilang aku hafal nama kucing satpam lobi tapi tidak hafal nama orang yang duduk sepuluh meter dari ruanganku.
Ternyata orang itu yang memberi makan kucingnya.
Pintu lift terbuka. Aku masuk. Pintunya hampir tertutup.
Lalu aku menahannya dengan tangan.
Aku berjalan kembali ke ruang kontrol. Mendorong pintu kaca. Kira mendongak, terkejut, setengah berdiri dari kursinya.
“Bu?”
“Kamu belum pulang,” kataku. Itu kalimat paling bodoh yang pernah kuucapkan sebagai Head of Operations.
“Belum, Bu. Lagi ngerjain sesuatu.”
“Harbolnas?”
Dia diam. Lalu mengangguk pelan.
“Besok pagi,” kataku, “bawa file itu ke ruangan saya. Jam sembilan.”
“Iya, Bu.”
Aku berbalik. Lalu berhenti. Lalu, tanpa menoleh, dengan suara yang kuharap terdengar cukup profesional:
“Dan pulang sebelum jam delapan. Jagung udah kenyang, kok.”
Aku keluar sebelum dia sempat menjawab. Tapi di pantulan pintu kaca, sebelum pintu tertutup, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di kantor ini.
Kira tersenyum.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama reading
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit