Chapter Thirty Two
The First Dawn Diumumkan
POV: Kira
Kapal itu terlambat empat jam.
Ibu penjual pisang epe sudah memberi tahu sejak jam empat sore. Sepupunya di syahbandar mengirim pesan ke grup keluarga: KM Tidar tertahan ombak di Selat Makassar, sandar paling cepat jam sepuluh malam. Kak Ica meneruskannya ke grup sopir. Daeng Rudi membalas dengan stiker kucing tidur.
Jadi jam delapan malam, aku masih di dermaga. Duduk di atas tumpukan palet kayu di bawah lampu sorot pelabuhan, dengan tumbler Earl Grey dari paket Tari dan buku tulis cokelat di pangkuan. Menghitung ulang jadwal bongkar muat untuk besok pagi. Ponsel di saku hoodie, dalam mode senyap, karena sinyal di dermaga hanya satu garis dan baterainya tinggal dua puluh persen.
Aku tidak merasakannya bergetar.
KM Tidar sandar jam sepuluh lewat dua puluh. Bongkar muat selesai jam setengah dua belas. Daeng Sangkala mengantarku ke kos dengan truk kosong, karena ojek sudah tidak ada jam segitu.
“Mas Kira nggak pernah pulang sebelum kapal terakhir,” katanya di kabin. “Kepala cabang yang lama juga gitu. Sebelum pensiun.”
“Kenapa dia pensiun, Daeng?”
“Capek, katanya. Capek nunggu kapal sendirian.” Daeng Sangkala tertawa kecil. “Mas Kira jangan sampai capek ya.”
Aku tidak menjawab.
Di kamar kos tiga kali tiga, jam dua belas lewat sepuluh, aku mencolokkan ponsel ke charger. Layarnya menyala.
WhatsApp — 11 pesan baru dari Aruna Lestari
Aku duduk di kasur pegas tipis.
Tiga foto. Halaman pertama buku tulis. 3 Maret 2024. Jam 02.40. Halaman tujuh, catatan kaki dengan satu koma tujuh menit. Halaman terakhir.
Semoga dia suka rencana ini.
Lalu pesannya.
Aku di kamar kos kamu. Bu Wati yang bukain.
Aku nemu ini.
“Semoga dia suka rencana ini.”
Aku suka, Kira. Dua tahun lalu aku baca di parkiran dan aku suka. Aku cuma nggak tahu siapa yang nulis.
Sekarang aku tahu.
Aku membaca semuanya. Pelan. Satu per satu. Seperti membaca buku lore di perpustakaan katedral.
Lalu pesan terakhir.
Aku nggak akan kasih tanpa izin kamu.
Ini buku kamu. Ini keputusan kamu.
Boleh aku kasih ke audit?
Aku menatap pesan itu lama sekali.
Dia menemukan buku itu. Di kamar kosku. Di rak yang dia lihat sekali saat aku demam. Dia mengingat posisinya. Dua buku ke kanan dari Arsip Sunyi. Dia membacanya. Dia menemukan halaman terakhir. Dia menemukan bukti yang dibutuhkan tim audit, yang bisa membersihkan namaku, yang bisa menghapus kecurigaan atas rekomendasinya, yang bisa membawaku pulang.
Dan dia tidak membawanya ke Pak Darmawan.
Dia meletakkan buku itu kembali di rak. Dia mengirim foto. Dia bertanya.
Boleh?
Tiga minggu lalu, di basement, aku bilang kamu juga nggak tanya aku. Aku bilang itu sebagai pembelaan. Sebagai alasan kenapa aku boleh pergi tanpa bertanya padanya.
Dan dia mendengarnya. Dia ingat. Dan malam ini, dengan bukti di tangannya, dengan semua alasan untuk memutuskan sendiri, dia memilih bertanya.
Aku menutup mata.
Kebenaran ya kebenaran. Kamu cuma bisa memilih menyembunyikannya atau tidak.
Dua tahun aku memilih menyembunyikannya. Karena Reno mengajariku. Karena Reno menyetujui cutiku. Karena aku pikir kebenaran itu milikku, dan aku boleh memutuskan untuk tidak memakainya.
Tapi kebenaran itu bukan milikku. Aruna memakai rencana itu dua tahun. Dua ratus tiga puluh sopir menjalankannya setiap hari. Pak Darto mengantar anaknya ke sekolah karena jadwal di dalamnya. Tari membela namaku di depan dua dispatcher. Pak Wibisono duduk di lantai sembilan dan bilang saya hanya percaya dokumen.
Mereka semua berhak tahu.
Aku mengetik.
Kira: Boleh.
Aku menatap kata itu. Satu kata. Sama seperti iya yang kukirim tiga minggu lalu, saat dia bilang hari ini berat dan aku sudah tahu aku akan pergi.
Tapi kali ini, aku tidak berhenti di satu kata.
Kira: Kasih semuanya. Termasuk halaman terakhir.
Kira: Pak Reno ngajarin aku banyak hal. Itu benar. Tapi dia juga pakai kerjaanku dua tahun. Itu juga benar. Aku nggak bisa milih cuma satu yang benar.
Kira: Jadi biar dua-duanya keluar.
Kira: Makasih udah tanya.
Aku menekan kirim. Jam dua belas lewat dua puluh tiga.
Centang dua. Langsung biru.
Dia masih bangun. Jam sebelas lewat dua puluh tiga di Jakarta. Menunggu.
Aruna: Oke.
Aruna: Besok pagi aku ambil bukunya dari Bu Wati. Aku kasih ke Pak Darmawan sendiri.
Aruna: Kira.
Kira: Ya?
Aruna: Kamu jawab.
Kira: Iya.
Aruna: Biasanya kamu nggak jawab.
Kira: Aku lagi belajar.
Lama dia tidak membalas. Lalu:
Aruna: Aku juga.
Jam dua belas tepat waktu server Genesis, yang artinya jam satu pagi di Makassar, semua pemain di seluruh server menerima notifikasi yang sama.
[Announcement] The First Dawn approaches. [Season 1 Finale Raid — The First Dawn (Abyss+)] [World-First race opens in 7 days. Registration closes Friday 23:59.] [Requirement: Full party of 10. Party must clear “Prelude of Dawn” qualifier before registration.] [Reward for World-First clear: Title “Dawnbringer” + the clearing party’s signature strategy will be permanently named in-game.]
Di bawahnya, satu baris lore. Dalam huruf miring, warna emas pucat.
“The gate answers only to a Conductor.”
Aku menatap baris itu sangat lama.
Conductor.
Conductor of the First Dawn.
Aku membuka inventaris. Baton. Mantle. Hourglass. Oath Thread, masih Unbound. Lalu aku membuka Arsip Sunyi, bukan yang di kos Tebet, tapi salinan digital yang kufoto dua tahun lalu, halaman demi halaman.
Buku empat puluh tujuh. Bawah Katedral. Halaman terakhir. Kalimat yang dulu tidak kumengerti, karena saat itu raid-nya belum ada.
Saat fajar pertama kembali, gerbang hanya akan terbuka bagi dia yang memimpin tanpa maju. Tapi gerbang terakhir hanya akan runtuh bagi dia yang akhirnya maju.
Developer menulisnya dua tahun sebelum raid itu dirilis. Di buku yang hanya dibaca satu orang.
Aku menutup laptop. Berbaring di kasur pegas tipis. Menatap atap seng dari jendela.
Morning Tea punya sembilan orang. Bukan sepuluh.
Rabu malam, Morning Tea mencoba Prelude of Dawn.
Aku menontonnya dari kos, lewat stream Chamomile. Jam sembilan malam waktu Makassar. Delapan di Jakarta.
Sembilan karakter berdiri di depan sebuah kuil batu putih di puncak gunung. Dan karakter kesepuluh, yang berdiri sedikit di belakang mereka, membuatku tersedak Earl Grey.
Enchanter. Jubah abu-abu. Level enam puluh dua, jauh di bawah semua orang. Senjata di tangannya: `[Dry Twig]`. Ranting kering. Yang asli, bukan transmog.
Nama di atas kepalanya: FakeEarl.
“Guys!” Chamomile tertawa di kamera, tapi tawanya terdengar lelah. “Kita butuh sepuluh orang buat daftar First Dawn. Jadi kita rekrut... Bastian! Fake Earl! Dia enchanter! Dia level enam puluh dua! Dia bawa ranting beneran!”
“Saya udah latihan,” kata Bastian di voice. Suaranya gugup. “Tiga minggu. Saya nonton semua video Bang Earl. Saya bisa Haste. Saya bisa Barrier. Kadang-kadang.”
“Kadang-kadang,” ulang Genmai.
“Kebanyakan nggak kena,” kata Bastian jujur.
Aku tertawa sendirian di kamar kos. Lalu berhenti, karena aku melihat siapa yang berdiri di depan.
Lychee.
Rapier perak. Rambut perak. Di depan formasi. Seperti di final guild war.
Dia online lagi.
Prelude of Dawn adalah dungeon tiga lantai. Lantai pertama, kuil batu putih dengan sepuluh lentera padam di sepanjang lorong. Setiap lentera harus dinyalakan oleh satu pemain, dalam urutan tertentu, mengikuti tempo yang dimainkan oleh lonceng di ujung lorong.
Morning Tea menyalakan sepuluh lentera dalam empat menit. Lychee memanggil tempo. Bu Ratna, yang menurut catatanku punya telinga paling bagus di party, mendengarkan lonceng. Bastian menyalakan lentera kesepuluh, terlambat satu detik, dan seluruh party menahan napas, tapi lentera itu tetap menyala.
“KENA!” teriak Bastian. “Saya kena! Bu Ratna, saya kena!”
“Iya, Nak. Bagus. Makan dulu nanti, ya.”
Lantai kedua, penjaga kuil. Golem cahaya dengan HP besar dan mekanik pantulan. Delapan menit. Oolong tumbang sekali, Chamomile membangkitkannya. Bastian melempar Haste ke dinding dua kali. Tapi mereka tembus.
Lantai ketiga.
Gerbang.
Pintu batu raksasa, setinggi kuil itu sendiri, dengan ukiran matahari terbit di tengahnya. Tidak ada boss. Tidak ada monster. Hanya gerbang, dan sebuah alas batu kecil di depannya, seukuran tangan.
Lychee berjalan ke alas itu. Menyentuhnya.
[The gate does not recognize a Conductor.]
Pak Hendro menyentuhnya.
[The gate does not recognize a Conductor.]
Satu per satu, delapan orang menyentuhnya. Pesan yang sama.
Terakhir, Bastian. Enchanter. Dengan ranting kering yang asli.
Dia berjalan ke alas batu itu pelan-pelan. Seperti orang yang tahu apa yang akan terjadi. Menyentuhnya.
[The gate does not recognize a Conductor.]
Voice channel diam.
“Bang,” kata Bastian akhirnya. Suaranya kecil. Bukan ke party. Ke kamera Chamomile. Ke empat ratus ribu penonton. Ke seseorang yang mungkin sedang menonton dari jauh. “Saya cuma Fake Earl. Saya udah coba. Tiga minggu. Tapi rantingnya beda, Bang. Gerbangnya tahu.”
Dia menurunkan ranting.
“Yang asli harus pulang.”
Chat stream Chamomile, yang biasanya bergulir ribuan pesan per detik, bergerak pelan.
fake earl 🥺 yang asli harus pulang earl kamu nonton kan EARL PULANG EARL PULANG EARL PULANG
Lychee berdiri di depan gerbang. Tidak bergerak. Tidak bicara. Rapier di tangannya diturunkan.
Lalu dia log out.
Kamis pagi, jam lima waktu Makassar, satu voice note masuk ke WhatsApp-ku.
Dari Pak Hendro.
Empat menit dua puluh detik. Aku tidak pernah menerima voice note sepanjang itu dari siapa pun, kecuali Ibu.
Aku memutarnya di dermaga, duduk di atas palet kayu, sebelum truk pertama datang. Langit masih gelap biru. Laut tenang. Lampu sorot pelabuhan masih menyala.
“Earl. Nak. Ini Bapak.”
Suara bariton yang sama dengan kopdar di Blok M. Tapi lebih pelan. Lebih tua.
“Bapak nggak tahu kamu di mana persisnya. Lychee bilang Makassar. Bapak nggak tanya kenapa. Itu urusanmu. Bapak cuma mau ngomong sesuatu.”
Jeda. Suara klakson di latar belakang. Pasti dia di toko bangunan, pagi-pagi, sebelum buka.
“Dua tahun lalu, Bapak bikin party ini karena Bapak kesepian. Anak Bapak udah kuliah di Jogja. Istri Bapak sibuk arisan. Toko sepi kalau malam. Bapak main game, terus Bapak ketemu kalian. Bapak pikir, kalau Bapak bikin party, Bapak nggak sendirian lagi.”
“Terus kamu masuk. Kamu nggak mau masuk kalau Sencha nggak diajak. Bapak nggak ngerti kenapa waktu itu. Sekarang Bapak ngerti.”
“Dua tahun kamu nggak pernah minta apa-apa. Kamu nggak pernah minta jadi leader. Kamu nggak pernah minta dipuji. Kamu cuma lempar buff ke semua orang, terus diam.”
“Bapak udah tua, Nak. Bapak udah lihat banyak orang. Orang kayak kamu itu jarang. Orang yang ngasih terus tanpa minta. Tapi Bapak juga tahu satu hal. Orang kayak kamu itu biasanya sendirian. Karena nggak ada yang tahu cara ngasih balik ke orang yang nggak pernah minta.”
Suaranya pecah sedikit.
“Kemarin malam, Bastian bilang ‘yang asli harus pulang’. Bapak nangis lagi di depan tumpukan semen. Pelanggan pagi bingung lagi.”
“Nak. Bapak nggak minta kamu pulang ke Jakarta. Itu urusan kerjamu. Bapak minta kamu pulang ke party.”
“Bukan karena gerbangnya butuh Conductor. Bukan karena world-first. Bapak nggak peduli world-first.”
“Bapak minta kamu pulang karena kita keluarga. Dan keluarga itu nggak cuma dikasih. Keluarga juga ngasih balik. Kamu udah dua tahun ngasih. Sekarang biarin kita yang ngasih balik.”
“Daftar tutup Jumat jam sebelas lewat lima puluh sembilan. Party masih sembilan. Slot kesepuluh Bapak kosongin. Bukan buat Bastian. Bastian udah bilang dia mundur. Slot itu punya kamu.”
“Udah. Itu aja. Bapak mau buka toko.”
“Oh, satu lagi. Lychee nggak login dua puluh hari. Dia baru login lagi Selasa. Bapak tanya kenapa. Dia bilang, ‘Saya baru tahu sesuatu, Pak. Saya mau ada di sini kalau dia pulang.’”
“Bapak nggak ngerti maksudnya. Tapi Bapak pikir kamu ngerti.”
Voice note itu berakhir.
Aku duduk di atas palet kayu di dermaga Makassar, dengan ponsel di tangan, menatap laut. Di ujung cakrawala, garis pertama cahaya mulai muncul. Fajar.
Bukan fajar piksel di mercusuar virtual. Fajar sungguhan. Oranye pucat, lalu merah muda, lalu emas, merambat dari laut ke langit, menyentuh lambung kapal-kapal kontainer yang sedang bersandar.
Truk pertama datang. Daeng Sangkala turun dari kabin dan melambai ke arahku.
“Mas Kira! Pagi!”
“Pagi, Daeng.”
Dia berhenti di depanku. Menatap wajahku. “Mas nangis?”
“Angin laut, Daeng.”
“Iya,” kata Daeng Sangkala, mengangguk dengan wajah yang sangat kukenal dari Pak Somad, Bu Wati, Pak Haris, dan Bu Ratna. “Angin laut. Saya paham.”
Kamis malam, jam sepuluh waktu Makassar, aku login Genesis.
[Party: None]
Daftar teman. Sembilan nama hijau. Semuanya. Termasuk Lychee.
Aku membuka menu party. Mencari Morning Tea. Menemukannya.
[Morning Tea — 9/10 — Leader: Darjeeling] [Request to join?]
Satu koma dua detik.
Aku menekan Yes.
[Request sent.]
Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik.
[Darjeeling has accepted your request.] [Earl has joined the party “Morning Tea”.] [Party: Morning Tea — 10/10]
Grup chat Morning Tea meledak dengan kecepatan yang membuat ponselku hang selama empat detik.
Hojicha: BANG Genmai: BANG EARL Oolong: BANG PULANG 😭😭😭😭 Chamomile: AKU STREAMING SEKARANG JUGA Matcha: aku driver ojol 8 tahun. aku tahu “pulang” Rooibos: Alhamdulillah. Ya Allah. Nak Kira. Bastian (FakeEarl): BANG ASLI PULANG 🙏🙏🙏 aku pamit ya semuanya, makasih udah diajak 3 minggu Darjeeling: Selamat datang kembali, Nak. Sencha: 💜💜💜
Lychee tidak menulis apa-apa di grup.
Lalu whisper masuk.
Lychee: kira.
Earl: ya?
Lychee: besok jumat. kamu kerja?
Earl: iya. sampai kapal terakhir.
Lychee: oke.
Lychee: pak darmawan udah terima bukunya. audit lanjut senin. reno dipanggil.
Earl: oke.
Lychee: kamu nggak apa-apa?
Aku menatap pertanyaan itu.
Earl: nggak apa-apa. aku yang bilang boleh.
Lychee: iya. kamu yang bilang.
Jeda.
Lychee: sabtu kamu kerja juga?
Earl: setengah hari. kenapa?
Lama dia tidak membalas. Karakternya, di alun-alun kota, berjalan mendekati karakterku. Berhenti di sebelahku. Seperti dulu. Rapier perak di samping tongkat fajar.
Lychee: nggak apa-apa.
Lychee: aku cuma ngecek jadwal.
Lychee: kamu yang biasanya ngecek jadwal semua orang, kan?
Earl: iya.
Lychee: kali ini aku yang ngecek.
Dia log out.
Aku menatap kalimat terakhirnya. Kali ini aku yang ngecek. Kalimat yang sama yang dia tulis sebelum malam rooftop. Sebelum dia bilang bawa jaket, ramalan cuaca bilang hujan.
Aku membuka aplikasi cuaca.
Sabtu, Makassar. Cerah. Panas. Angin laut sedang.
Tidak ada hujan.
Aku tidak tahu kenapa dia mengecek jadwalku.
Aku akan tahu dua hari lagi.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan reading
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit