Chapter Six

Clockwork Cathedral

POV: Kira

“Bapak mau tanya satu hal sebelum kita masuk,” kata Darjeeling. “Earl, kamu udah baca semua guide?”

“Nggak ada guide,” kataku. “Fase tiga belum pernah di-clear siapa pun.”

“Terus kamu baca apa?”

“Buku.”

“Buku apa?”

“Buku lore di perpustakaan katedral. Ada empat jilid. Nggak ada yang baca karena isinya cuma cerita tukang jam.”

Voice channel hening.

“Bang,” kata Genmai, “kita mau raid, bukan ujian sejarah.”

“Yang bikin raid ini juga yang nulis bukunya,” kataku. “Developer nggak pernah nulis sesuatu tanpa alasan.”

Rabu malam, jam delapan tepat. Sepuluh karakter berdiri di depan gerbang perunggu setinggi tiga puluh meter. Di atasnya, jam raksasa berdetak. Setiap detaknya terdengar seperti palu memukul dada.

[Clockwork Cathedral — Raid (Abyss)] [Boss: Chronarch, Keeper of the Silent Hour] [Recommended: 10 players. Clear record: Phase 2 (Party “Espresso”)]

Phase 2. Rekor terbaik di server ini milik Espresso, guild peringkat dua. Tidak ada yang pernah melihat Phase 3.

Aku menyeruput Earl Grey, meletakkan cangkir di sebelah keyboard, dan menekan tombol Enter.


Lantai katedral adalah jam.

Dua belas petak raksasa melingkar, masing-masing bertuliskan angka Romawi, I sampai XII. Di tengahnya ada poros besi tempat dua jarum raksasa berputar. Di atas poros itu, Chronarch melayang: sosok tinggi berjubah kuningan dengan wajah berupa piringan jam tanpa angka.

Setiap satu koma tujuh detik, lantai berputar satu petak. Setiap kali jarum jam menunjuk sebuah angka, petak itu runtuh, menyisakan lubang hitam tanpa dasar. Pemain yang berdiri di sana jatuh. Mati seketika.

“Gila,” bisik Oolong. “Lantainya muter terus, Bang. Aku nggak bisa taunt sambil muter.”

“Bisa,” kataku. “Kamu nggak perlu lihat lantai. Kamu cukup dengar aku.”

Aku mulai menghitung.

“Oolong, petak IV. Darjeeling, Matcha, petak VIII. Rooibos, petak II, jaga jarak dari jarum panjang. Chamomile, ikut Oolong. Satu, dua, geser.”

Lantai berputar. Sepuluh karakter bergeser bersamaan. Petak XI runtuh di belakang kami, kosong.

“Satu, dua, geser. Hojicha, jangan dash, jalan aja. Satu, dua, geser.”

Fase satu adalah ritme. Selama aku tidak berhenti menghitung, tidak ada yang jatuh. Chronarch memanggil boneka-boneka kuningan, prajurit jam, yang dihancurkan Darjeeling dan Matcha dengan mudah. HP boss turun pelan tapi pasti.

[Chronarch — HP 70%]

“Phase 2 masuk,” kataku. “Lantainya bakal ganti tempo. Satu koma empat detik. Lebih cepat. Jangan panik.”

“Bang, kamu ngomong ‘jangan panik’ dengan nada orang mesen bakso,” kata Hojicha.

“Bakso juga butuh timing.”

Phase 2 lebih kejam. Jarum jam tidak lagi bergerak searah. Dia berputar maju, lalu mundur, lalu maju lagi, tanpa pola yang terlihat. Rooibos hampir jatuh dua kali. Genmai jatuh sekali, dan Chamomile harus menghabiskan resurrect pertamanya.

Tapi polanya ada. Aku sudah melihatnya di jilid kedua buku lore: Tukang jam itu memutar jarum mengikuti lagu yang dinyanyikan anaknya sebelum tidur. Lagu itu tertulis di halaman terakhir, dalam notasi angka. 4-4-7-7-8-8-7. 6-6-5-5-4.

Aku tidak perlu melihat jarumnya. Aku hanya perlu menyanyikan lagu itu di kepala.

“Petak empat runtuh, lalu tujuh, lalu delapan,” kataku. “Semua kumpul di petak sebelas. Sekarang.”

Mereka bergerak. Jarum runtuh di empat. Lalu tujuh. Lalu delapan. Tepat seperti lagunya.

“Bang,” kata Oolong pelan, kagum, “kok kamu tahu?”

“Lagu tidur.”

“Hah?”

“Nanti aku jelasin.”

[Chronarch — HP 31%]

Lalu sebuah whisper muncul di sudut layarku. Dari Lychee. Di tengah raid.

Lychee: earl, buff aku duluan ya. aku kan favorit kamu.

Jariku membeku di atas keyboard.

Satu detik. Satu detik penuh, aku menatap kalimat itu. Aku kan favorit kamu. Dari rapier yang kemarin siang memunguti spidol di lantai kantorku. Dari Head of Operations yang menulis PERJANJIAN dengan huruf kapital.

Jariku menekan Q tanpa melihat target.

[Earl casts Haste → Oolong]

Oolong, tank kami, ksatria berbaju zirah dua meter, tiba-tiba bergerak dengan kecepatan tiga puluh persen lebih tinggi dan berlari lurus menabrak dinding katedral.

“BANG?!” teriak Oolong. “BANG, AKU KENAPA LARI SENDIRI?!”

“Maaf,” kataku. “Salah target.”

“Earl salah target?” Darjeeling terdengar terkejut seperti baru melihat matahari terbit dari barat. “Earl? Salah target?”

“Earl manusia juga ternyata,” kata Bu Ratna, dengan nada lega seorang ibu.

Di chat, Lychee mengetik satu emoji: 🙂.

Aku melempar Haste kedua ke Lychee, kali ini dengan tangan yang masih sedikit gemetar.


[Chronarch — HP 0%... ] [Chronarch has stopped time.] [PHASE 3 — THE SILENT HOUR]

Semua suara hilang.

Bukan efek visual. Musik raid berhenti. Bunyi detak jam berhenti. Bahkan efek suara langkah kaki kami hilang. Layar memudar jadi abu-abu, hanya karakter kami yang berwarna. Jarum jam raksasa di lantai menghilang.

Dan Chronarch, yang tadi tergeletak dengan HP nol, bangkit lagi. HP bar-nya penuh. Kali ini berwarna perak.

[Chronarch, the Silent Hour — HP 100%]

“Ini dia,” bisik Matcha. “Fase yang bunuh Espresso dua belas kali.”

“Jarumnya nggak ada,” kata Chamomile. “Gimana kita tahu petak mana yang runtuh?”

Itu pertanyaan yang sama yang ditanyakan Espresso dua belas kali. Mereka mencoba menghafal pola. Mereka mencoba menebak. Mereka mencoba berdiri di petak yang sama terus-menerus. Semua gagal, karena di fase ini tidak ada pola visual. Petak runtuh secara diam-diam, tanpa jarum, tanpa tanda.

Aku menunggu.

Lima detik. Petak III runtuh. Di saat yang sama, terdengar sangat samar, hampir tertutup kesunyian, bunyi lonceng kecil. Ting.

Delapan detik. Petak IX runtuh. Ting, lebih rendah.

Aku mengangkat headset sedikit dari telinga kiri, menaikkan volume efek suara sampai maksimal, dan mendengarkan.

Lonceng.

Jilid keempat buku lore, halaman empat puluh dua: Saat waktu berhenti, tukang jam itu tidak bisa lagi melihat jarumnya. Jadi dia memasang dua belas lonceng, satu di setiap angka, masing-masing dengan nada berbeda. Dalam gelap, dia mendengarkan jam-nya.

Dua belas lonceng. Dua belas nada. Petak I paling tinggi, petak XII paling rendah.

“Semua dengerin aku,” kataku. “Fase ini nggak bisa dilihat. Cuma bisa didengar. Aku yang dengerin. Kalian ikutin suaraku. Nggak usah mikir. Nggak usah lihat lantai. Cukup gerak pas aku bilang.”

“Bang, berapa lama fase ini?” tanya Hojicha.

“Kalau HP boss turun dengan damage kita sekarang, enam menit.”

“Enam menit kamu ngitung terus?”

“Iya.”

“Tanpa salah?”

“Satu salah, satu orang jatuh.”

Hening. Lalu suara Pak Hendro, berat, tenang:

“Anak-anak. Kalian dengar Earl. Bapak percaya Earl.”

Ting. Nada tinggi. Petak II.

“Rooibos, geser kanan dua. Sekarang.”

Fase tiga dimulai.


Enam menit itu adalah enam menit terpanjang dalam dua tahun aku main Genesis.

Aku mendengarkan lonceng dengan telinga kiri, mendengarkan voice channel dengan telinga kanan, dan berbicara tanpa berhenti. Nomor petak, nama orang, arah, hitungan. Nomor petak, nama orang, arah, hitungan. Lebih cepat dari pikiranku sendiri.

“Petak sepuluh. Darjeeling, Matcha, maju satu. Oolong, tahan aggro di enam. Petak tujuh, Genmai, mundur. Petak satu. Chamomile, heal Oolong dalam dua detik. Satu, dua, sekarang.”

Di tengah semua itu, aku melempar buff. Haste ke Lychee setiap dua puluh delapan detik. Barrier Weave ke Oolong setiap kali Chronarch mengangkat tangan kiri. Mana Link dari Rooibos ke Chamomile tepat saat mana healer kami turun di bawah sepuluh persen.

[Chronarch, the Silent Hour — HP 64%]

[Chronarch, the Silent Hour — HP 41%]

Telingaku mulai sakit. Earl Grey di cangkirku sudah habis dan aku tidak ingat kapan meminumnya.

[Chronarch, the Silent Hour — HP 22%]

Lalu sesuatu berubah.

Ting-ting.

Dua nada. Bersamaan. Petak V dan petak XI.

Dan Lychee berdiri di petak V.

Dia tidak bergerak. Selama empat menit terakhir, Lychee bergerak paling sempurna dari semua orang, selalu satu langkah lebih cepat dari hitunganku. Tapi barusan dia diam. Karakternya berdiri di tengah petak V dengan rapier terangkat, seperti sedang menunggu sesuatu.

“Lychee, geser—”

Terlambat.

Petak V mulai runtuh dari tepi. Retakan hitam merambat ke tengah. Karakter Lychee mulai tergelincir.

Aku punya satu koma dua detik.

Barrier Weave tidak berguna untuk jatuh. Perisai menahan damage, tidak menahan gravitasi. Heal tidak berguna. Tidak ada skill di game ini yang bisa menarik pemain yang sedang jatuh.

Tapi Chronarch bisa.

Boss di fase ini punya satu kebiasaan yang kulihat sejak menit pertama: setiap kali seseorang di party menerima buff, dia menoleh ke orang itu. Dia menarget pemain dengan buff terbanyak. Dan serangannya, Temporal Grasp, adalah tarikan. Rantai kuningan yang menyeret targetnya ke depan boss.

Lychee sekarang punya tiga buff dariku. Haste, Barrier, Elemental. Dia target utama.

Kalau Chronarch menariknya dengan Temporal Grasp sekarang, dia akan terseret ke depan boss, keluar dari petak yang runtuh.

Tapi Temporal Grasp juga memberi damage delapan puluh persen HP. Dengan HP Lychee sekarang, dia akan selamat dari jatuh dan mati karena rantai.

Kecuali damage-nya dipindahkan.

Aku melepas semua buff dari Lychee kecuali satu.

[Earl casts Dispel → Lychee]

Haste hilang. Elemental hilang. Hanya Barrier tersisa. Lalu aku menekan Q tiga kali ke diriku sendiri.

[Earl casts Haste → Earl] [Earl casts Elemental Shift → Earl] [Earl casts Barrier Weave → Earl]

Chronarch menoleh ke arahku. Aku sekarang pemain dengan buff terbanyak.

Lalu dia menoleh lagi ke Lychee, karena Lychee masih berdiri di petak yang runtuh dan AI boss di fase ini memprioritaskan pemain yang sedang dalam bahaya. Dia memilih. Rantai kuningan melesat.

Ke Lychee.

Rantai itu membelit karakternya dan menariknya keluar dari lubang, menyeretnya melintasi lantai, sampai berhenti di depan kaki Chronarch. Damage muncul di atas kepalanya.

Barrier Weave menyerap semuanya.

[Lychee — HP 9%]

Hidup.

Dan Chronarch, setelah melempar rantainya, menoleh kembali ke pemain dengan buff terbanyak. Aku. Tangannya terangkat.

“Semua serang boss,” kataku. “Sekarang. Dia fokus ke aku. Lima detik.”

“Bang, HP kamu—”

“Lima detik cukup.”

Sembilan orang menyerang dari belakang. Chronarch tidak berbalik, karena di matanya hanya ada satu enchanter dengan tiga buff dan ranting kering di tangan.

[Chronarch, the Silent Hour — HP 3%]

“Lychee,” kataku. “Kamu di depan dia. Frame dua.”

Di chat party, satu pesan muncul secepat kilat:

Lychee: call aja.

“Sekarang.”

Thousand Petal Thrust. Badai perak di tengah katedral kelabu.

Chronarch membeku. Wajah jamnya retak. Lalu, untuk pertama kalinya sejak fase tiga dimulai, seluruh suara kembali. Musik. Detak jam. Lonceng-lonceng berbunyi bersamaan, dua belas nada, membentuk melodi lagu tidur yang kubaca di halaman terakhir buku lore.

[Chronarch, the Silent Hour — DEFEATED]

[World Notice] Party “Morning Tea” has achieved the FIRST CLEAR of Clockwork Cathedral (Abyss). [World Notice] Phase 3: The Silent Hour has been witnessed for the first time.

Aku melepas headset. Telingaku berdenging.

Di voice channel, sembilan orang berteriak bersamaan, dan suaranya terdengar samar dari headset yang tergeletak di meja.


“...dan pas Lychee mau jatuh, Bang Earl nge-Dispel buff Lychee sendiri?!” Ilyas, Hojicha, berteriak untuk ketiga kalinya. “Siapa yang nge-Dispel party sendiri?! Itu kayak dokter nyopot infus pasien!”

“Biar boss narik dia,” kataku. “Boss ngincer yang buff-nya paling banyak, tapi prioritasin yang lagi bahaya. Lychee lagi bahaya. Jadi aku kurangin buff-nya biar damage rantai nggak kena dobel, terus Barrier-nya yang nahan.”

“Terus kamu buff diri sendiri buat ngalihin aggro setelahnya.”

“Iya.”

“Dengan ranting.”

“Rantingnya baik.”

“BANG!”

Bu Ratna tertawa sampai batuk. Pak Hendro terus mengulang, “Lagu tidur. Lagu tidur. Bapak nggak akan pernah lupa ini. Lagu tidur.”

Oolong, dengan suara kecilnya, bilang, “Bang, makasih udah bikin aku nabrak tembok tadi. Itu jadi klip paling banyak ditonton di stream Kak Chamomile.”

“Maaf soal itu.”

“Nggak apa-apa, Bang. Aku terkenal sekarang.”

Aku tertawa. Lalu whisper muncul.

Lychee: tadi aku salah.

Earl: nggak apa-apa.

Lychee: aku diam di petak lima karena aku lagi mikir.

Earl: mikir apa?

Jeda lama.

Lychee: mikir kenapa kamu salah target pas aku nge-chat tadi.

Aku menatap layar. Wajahku panas. Aku senang tidak ada yang bisa melihatku sekarang.

Earl: karena kalimatnya curang.

Lychee: curang gimana?

Earl: kamu bilang favorit. di tengah raid. itu curang.

Lychee: emang bukan?

Aku tidak menjawab. Titik-titik mengetik muncul di sisinya. Lalu hilang. Lalu muncul lagi.

Lychee: tadi kamu narik aku dari lubang pakai boss.

Earl: iya.

Lychee: kamu bisa aja biarin aku jatuh. lebih aman buat party. chamomile masih punya resurrect.

Earl: bisa.

Lychee: kenapa nggak?

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Di game, aku tidak pernah ragu. Di game, setiap keputusan kubuat dalam satu koma dua detik. Tapi kalimat ini butuh dua menit.

Earl: aturan nomor enam.

Lychee: kita cuma punya lima.

Earl: sekarang enam. kalau kamu jatuh, aku tangkap.

Lama sekali tidak ada balasan. Karakter Lychee berdiri diam di tengah katedral yang sekarang terang, di bawah lonceng-lonceng yang masih bergoyang pelan.

Lalu dia berjalan mendekati karakterku. Berhenti di sebelahku.

Lychee: oke. aturan nomor enam.

Lychee: tapi itu berlaku dua arah.

Aku membaca kalimat itu sampai layar meredup karena aku terlalu lama tidak menggerakkan mouse.

Besok pagi, jam delapan, aku akan memanggilnya Bu.

Malam ini, di katedral yang baru saja kami taklukkan berdua, rasanya seperti pagi masih sangat jauh.