Chapter Thirty One
Draf yang Kupakai
POV: Aruna
“Dia bilang ada,” kata Pak Darmawan. “Tapi dia nggak mau kasih.”
Senin sore, jam lima, ruangan Pak Darmawan di lantai sembilan. Jendela besar menghadap Halim. Langit di luar oranye, pesawat-pesawat kecil berbaris di landasan seperti titik-titik armada di layar ruang kontrol.
“Kenapa, Pak?”
“Karena kalau dia kasih, Reno kena.” Pak Darmawan melepas kacamata baca dan memijat pangkal hidungnya. “Dia bilang Reno yang ngajarin dia. Reno yang setujuin cutinya waktu ibunya sakit. Dia nggak mau jadi alasan Reno dipecat.”
Aku tidak bilang apa-apa.
Tentu saja dia bilang begitu. Tentu saja.
“Audit tutup akhir bulan,” lanjut Pak Darmawan. “Sebelas hari lagi. Tanpa draf asli, tim audit cuma punya catatan kaki dan istilah game. Pak Wibisono nggak akan terima itu. Rencana gelombang tetap atas nama Reno. Rekomendasi kamu tetap dicurigai. Dan Kira tetap di Makassar, dengan catatan rotasi karena konflik kepentingan di file karyawannya.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Selamanya.”
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak tahu di mana drafnya?”
Pak Darmawan menatapku lama. Lalu menggeleng.
“Dia nggak bilang. Dia cuma bilang ada.” Pak Darmawan menatap jendela. “Aruna, saya nggak akan minta kamu cari. Itu bukan tugas Head of Operations.”
“Saya tahu, Pak.”
“Tapi kalau kamu tahu di mana...” Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku tahu di mana.
Aku tidak tahu persis. Tapi aku ingat sebuah rak buku dari kayu bekas. Di kamar kos tiga kali empat meter di Tebet. Tumpukan buku tulis bersampul cokelat. Semua berlabel tulisan tangan miring ke kanan.
Rute Getuk Sokaraja 2010. Rute Getuk 2011. Pola Tol Cikampek. Leviathan. Cathedral. Hydra. Arsip Sunyi — 47.
Dan buku-buku lain di sebelahnya, yang tidak sempat kubaca labelnya karena saat itu dia demam tiga puluh sembilan dan aku lebih sibuk menempelkan plester di dahinya.
Dia menulis semua hal di buku tulis. Rute getuk waktu kelas lima SD. Pola lonceng Clockwork Cathedral. Empat puluh tujuh buku lore yang tidak dibaca siapa pun.
Kalau dia menulis rencana gelombang dua tahun lalu, dia menulisnya di buku tulis dulu.
Jam tujuh malam, aku berdiri di mulut gang di belakang masjid di Tebet.
Warung kelontong di ujung gang masih buka. Ibu pemiliknya, yang dulu menunjukkan kos Kira saat aku datang membawa bubur, menatapku dari balik etalase.
“Mbak yang dulu bawa bubur,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Mas Kira udah nggak di sini, Mbak. Pindah ke Makassar. Tiga minggu lalu.”
“Saya tahu, Bu.”
Ibu warung menatapku lama. Lalu menunjuk ke dalam gang. “Bu Wati masih pegang kuncinya. Kamarnya masih dibayar. Enam bulan, katanya. Mas Kira mau pulang.”
Mau pulang.
Aku berjalan ke dalam gang.
Bu Wati membuka pintu kos sebelum aku sempat mengetuk. Dia sedang menyapu teras. Saat melihatku, dia berhenti menyapu. Sapu di tangannya menggantung.
“Mbak Aruna,” katanya. Tidak dengan suara keras. Tidak dengan nada sinetron. Pelan.
“Bu Wati. Saya boleh minta tolong?”
Kamarnya masih sama.
Bu Wati membukanya dengan kunci cadangan, lalu berdiri di ambang pintu dan tidak masuk. Kasur busa di lantai, dilipat rapi. Meja lipat kosong, tanpa laptop. Lemari plastik. Tujuh hoodie abu sudah tidak tergantung di balik pintu. Dia membawa semuanya.
Tapi rak buku masih di sana. Peta Jabodetabek masih di dinding. Papan tulis kecil masih penuh coretan strategi raid yang belum dihapus. Dan foto Ibu di depan gerobak getuk masih di atas rak, dalam bingkai plastik.
Dia meninggalkan ibunya di sini. Supaya kamar ini masih punya seseorang.
“Mas Kira titip kunci ke Ibu,” kata Bu Wati dari ambang pintu. “Buat dibersihin seminggu sekali. Dia bilang jangan pindahin apa-apa. Dia bilang dia pasti pulang.”
“Dia bilang pasti?”
“Dia bilang pasti, Mbak. Pakai titik.” Bu Wati tersenyum kecil. “Mas Kira itu kalau ngomong pakai titik, pasti beneran.”
Aku berlutut di depan rak buku.
Buku tulis cokelat. Berjejer. Puluhan. Aku membaca labelnya satu per satu, dengan jari yang menyentuh punggung setiap buku.
Rute Getuk Sokaraja 2010. Rute Getuk 2011. Rute Getuk 2012. Tujuh buku getuk. Kelas lima SD sampai kelas tiga SMP.
Politeknik — Manajemen Rantai Pasok. Politeknik — Skripsi.
Pola Tol Cikampek. Pola Banjir Kalimalang. Sopir LNX — Kebiasaan.
Leviathan. Cathedral. Hydra. Mirror Queen.
Arsip Sunyi — 47.
Lalu, dua buku ke kanan dari Arsip Sunyi:
Rencana Gelombang — Draf 1.
Aku menariknya keluar. Tanganku gemetar.
Halaman pertama bertanggal. Tulisan tangan miring ke kanan, di pojok kanan atas.
3 Maret 2024. Jam 02.40.
Dua tahun lalu. Tujuh minggu sebelum Reno mengajukan dokumen final ke atas. Tujuh minggu sebelum aku membacanya di mobil, di parkiran, jam sembilan malam, dan merasa lega karena akhirnya ada seseorang di divisi ini yang berpikir lebih jauh dari besok pagi.
Di bawah tanggal, satu kalimat.
Kenapa armada selalu numpuk di gerbang tol? Karena semua dilepas barengan. Kayak getuk Ibu, kalau semua digoreng barengan, yang bawah gosong.
Aku membalik halaman.
Peta. Digambar tangan. Tol Cikampek, JORR, Dalam Kota. Tiga warna pulpen. Tiga gelombang. Angka-angka di setiap panah. Lalu tabel jeda, di halaman berikutnya. Dan di bawah tabel, dengan tulisan yang lebih kecil:
Gelombang 3 sebaiknya ditahan 1,7 menit lebih lama. Mirip cooldown: kalau dilepas terlalu cepat, numpuk di gerbang tol bareng gelombang 2.
Kalimat yang sama. Kata demi kata. Catatan kaki nomor satu di dokumen Reno.
Halaman dua belas.
Jalur Kalimalang: cek tiang listrik di depan pom bensin, ada tanda cat merah buatan warga. Kalau air udah garis kedua, alihin.
Halaman lima belas.
Kalau lawan ambil semua titik dulu, biarin. Mereka terpencar. Kita ambil satu-satu. Lalu dicoret. Lalu ditulis ulang di bawahnya: Kalau armada pesaing ngumpul di satu gudang, jangan rebutan. Ambil gudang yang mereka tinggalin.
Bahasa game, yang dia terjemahkan sendiri jadi bahasa kantor.
Aku membaca semuanya. Tiga puluh dua halaman. Tulisan tangan, coretan, tanda tanya di pinggir, gambar kecil truk dengan roda yang terlalu besar. Lebih detail dari dokumen final. Lebih jujur. Ada bagian yang dia coret dengan tulisan ini salah, jangan pakai. Ada bagian yang dia beri tanda bintang dengan tulisan ini Pak Udin yang kasih tahu.
Lalu halaman terakhir.
Bukan rencana. Bukan peta. Hanya beberapa baris, ditulis dengan pulpen yang berbeda. Lebih tebal. Seperti ditulis belakangan.
24 April 2024.
Udah diketik ulang. Udah dirapiin. Udah dikasih ke Pak Reno. Pak Reno bilang bagus, dia yang ajuin ke atas. Aku nggak pandai presentasi. Biar Pak Reno aja.
Head of Operations baru. Plt. Namanya Bu Aruna Lestari. Kata Tari orangnya tegas, nggak suka basa-basi, umurnya cuma dua tahun di atas aku.
Semoga dia suka rencana ini.
Semoga rencana ini bikin kerjaannya lebih ringan.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di lantai kamar kos itu.
Bu Wati sudah tidak di ambang pintu. Dia meninggalkan pintu terbuka sedikit dan pergi diam-diam. Di luar, suara azan isya dari masjid di mulut gang. Anak-anak berlari pulang. Motor lewat.
Aku duduk bersandar ke kasur busa yang dilipat, dengan buku tulis cokelat terbuka di pangkuan, di halaman terakhir.
Semoga dia suka rencana ini.
Aku suka. Aku membacanya di parkiran, jam sembilan malam, dua tahun lalu, dan aku suka. Aku bilang ke Pak Darmawan ini rencana terbaik yang pernah dibuat divisi ini. Aku memakainya untuk Harbolnas. Aku menyebutnya di rapat direksi berkali-kali. Rencana Rute Gelombang, yang diajukan Reno dua tahun lalu.
Dua tahun aku memakai sesuatu yang ditulis untukku. Oleh seseorang yang bahkan belum pernah kulihat. Yang menulis semoga dia suka jam dua pagi di kamar kos ini, tanpa tahu apakah aku akan pernah tahu namanya.
Aku tidak pernah tahu namanya.
Sampai lift. Sampai kopdar. Sampai ketukan jari di meja kafe.
Semoga rencana ini bikin kerjaannya lebih ringan.
Rencana itu memang membuat kerjaanku lebih ringan. Dua tahun. Setiap hari. Dan aku tidak pernah sekali pun bertanya siapa yang membuatnya ringan.
Aku menangis di lantai kamar kos itu. Tidak keras. Tidak seperti di basement. Pelan, terus-menerus, seperti hujan Jakarta di bulan Desember yang tidak deras tapi tidak berhenti.
Papa menangis di meja makan sekali, waktu aku SMP. Waktu Mama bilang orang yang ngajarin kamu jalan, nggak berarti dia boleh jalan pakai kaki kamu. Papa tidak menangis karena sedih. Papa menangis karena ada yang melihat.
Dua tahun Kira menulis semoga dia suka. Dan dua tahun aku tidak melihat.
Aku memotret halaman pertama. Halaman tujuh dengan catatan kaki. Halaman terakhir.
Lalu aku membuka WhatsApp.
Pesan terakhir di percakapan kami masih dari Jumat tiga minggu lalu. Kira. Kamu mau ke mana? Tanpa balasan.
Aku mengetik. Tanganku masih gemetar.
Satu minggu lalu, aku pasti akan membawa buku ini langsung ke Pak Darmawan. Menyerahkannya ke tim audit. Memutuskan untuknya, karena aku tahu ini yang benar, karena Reno salah, karena kebenaran harus keluar.
Itu persis yang dia lakukan padaku. Memutuskan untukku, karena dia tahu itu yang benar.
Aku tidak mau melakukan itu lagi.
Aruna: [foto]
Aruna: [foto]
Aruna: [foto]
Aruna: Aku di kamar kos kamu. Bu Wati yang bukain.
Aruna: Aku nemu ini.
Aruna: “Semoga dia suka rencana ini.”
Aruna: Aku suka, Kira. Dua tahun lalu aku baca di parkiran dan aku suka. Aku cuma nggak tahu siapa yang nulis.
Aruna: Sekarang aku tahu.
Aku berhenti. Lalu mengetik pesan terakhir. Pesan yang paling sulit.
Aruna: Pak Darmawan bilang kamu nggak mau kasih draf ini ke audit. Karena Reno.
Aruna: Aku nggak akan kasih tanpa izin kamu.
Aruna: Ini buku kamu. Ini keputusan kamu.
Aruna: Boleh aku kasih ke audit?
Aku menekan kirim.
Centang satu. Lalu centang dua. Dia sudah menyalakan ponselnya lagi, sejak Makassar.
Tidak biru.
Jam delapan malam di Jakarta. Jam sembilan di Makassar. Mungkin dia masih di gudang. Mungkin dia sedang di dermaga, di bawah lampu pelabuhan, menunggu kapal yang terlambat.
Aku menunggu.
Sepuluh menit. Dua puluh. Satu jam.
Tidak biru.
Bu Wati mengetuk pintu jam sembilan.
“Mbak, mau Ibu bikinin teh?”
“Nggak usah, Bu. Saya pamit.”
“Bukunya mau dibawa?”
Aku menatap buku tulis di pangkuanku. Lalu menutupnya. Lalu meletakkannya kembali di rak. Di tempat yang sama. Dua buku ke kanan dari Arsip Sunyi — 47.
“Nggak, Bu. Bukunya di sini aja. Sampai dia bilang boleh.”
Bu Wati menatapku lama. Lalu mengangguk, pelan, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak bilang Ibu paham.
Dia bilang hal lain.
“Mbak Aruna. Mas Kira itu dua tahun di sini. Nggak pernah ada tamu. Nggak pernah ada yang telepon selain ibunya. Ulang tahunnya, cuma Mbak Tari yang kirim kue.” Bu Wati memegang gagang sapu. “Terus suatu hari ada perempuan dateng bawa bubur. Terus perempuan itu dateng lagi, sendirian, malam-malam, cari buku tulis, terus nangis di lantai.”
Aku menunduk.
“Ibu nggak tahu Mbak sama Mas Kira kenapa,” kata Bu Wati. “Tapi Ibu tahu satu hal. Orang yang dateng ke kamar kosong buat nangisin buku tulis, itu bukan atasan.”
Aku pulang ke Kebayoran jam sepuluh.
Di apartemen, aku duduk di sofa dengan laptop di pangkuan. Aku belum membuka Genesis sejak final guild war. Dua puluh hari. Aku tidak sanggup melihat nama Earl yang abu-abu, atau yang hijau tapi tidak lagi di party yang sama.
Malam ini aku membukanya.
[Lychee — Online]
Daftar teman. Delapan nama hijau. Darjeeling. Oolong. Chamomile. Matcha. Genmai. Hojicha. Rooibos. Sencha.
Dan satu nama yang tidak lagi di party, tapi masih di daftar temanku.
[Earl — Online — Location: Lighthouse of the Drowned Choir]
Dia online. Di mercusuar. Sendirian. Lagi.
Dan di sudut layar, satu whisper yang belum kubaca. Dikirim sembilan hari lalu, saat aku sudah berhenti login.
Earl: aku di makassar.
Earl: maaf baru bales.
Earl: maaf semuanya.
Aku membacanya tiga kali.
Lalu aku menatap ponsel. WhatsApp. Pesan-pesanku yang belum biru.
Lalu, tanpa sadar, jari telunjukku mengetuk pinggir laptop. Satu, dua, tiga.
Ritme Haste.
Aku tidak bisa melempar buff dari sini. Aku rapier. Aku tidak punya skill itu.
Tapi aku bisa menunggu. Malam ini, aku bisa menunggu sampai pesannya biru.
Dan besok, kalau masih belum biru, aku tahu ke mana aku harus pergi.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai reading
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit