← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Thirty

Gudang Cabang

POV: Kira

Truk itu tidak masuk laut. Hanya roda belakangnya yang terperosok ke celah dermaga di Pelabuhan Soekarno-Hatta, dan separuh muatannya, tiga ratus paket elektronik, jatuh ke genangan air laut di bawahnya.

Sopirnya, Daeng Sangkala, duduk di trotoar dermaga dengan handuk di kepala. Basah sampai pinggang. Dia yang turun ke genangan dan mengangkat paket satu per satu sebelum air pasang.

“Maaf, Pak,” katanya saat melihatku. “Saya disuruh antre di dermaga jam enam. Kapalnya baru sandar jam sembilan. Saya nunggu tiga jam. Saya mundurkan truk biar nggak ngalangin, terus rodanya masuk celah.”

“Kenapa disuruh antre jam enam kalau kapalnya sandar jam sembilan?”

“Jadwalnya memang begitu, Pak. Dari dulu. Semua truk antre jam enam.”

Aku menatap dermaga. Dua puluh tiga truk dari berbagai ekspedisi berderet, mesin menyala, sopir-sopir tidur di kabin atau duduk merokok di bawah atap seng. Kapal kontainer baru saja sandar. Bongkar muat baru akan dimulai satu jam lagi.

“Daeng,” kataku. “Siapa yang bikin jadwal antre jam enam?”

“Kepala cabang yang lama, Pak. Sebelum pensiun.”

“Jadwal kapalnya dicek nggak?”

Daeng Sangkala menatapku seperti aku baru bertanya apakah matahari terbit dari timur.

“Kapal itu nggak pernah tepat waktu, Pak. Jadi kita datang pagi-pagi. Biar aman.”


Pak Andi, koordinator gudang yang meneleponku, adalah laki-laki empat puluhan dengan kumis tipis, kemeja batik lengan pendek, dan cara bicara yang selalu terdengar seperti sedang bernegosiasi harga di pasar.

“Mas Kira, saya terus terang saja,” katanya di kantor kecil di sudut gudang, sambil menuang kopi dari termos. “Orang Jakarta sudah datang tiga kali ke sini. Tiga kali bikin rencana. Tiga kali pulang. Gudang tetap begini.”

Dia menunjuk keluar jendela. Rak-rak miring. Tumpukan paket sampai setinggi atap. Admin-admin yang berteriak satu sama lain. Forklift yang parkir di tengah lorong.

“Sebelas ribu paket tertunda,” lanjutnya. “Gaji sopir telat tiga bulan karena laporan pengiriman nggak pernah lengkap. Klien sudah dua yang pindah ke ekspedisi lain. Mas Kira mau bikin rencana keempat?”

“Saya nggak mau bikin rencana dulu, Pak.”

Pak Andi mengangkat alis. “Terus?”

“Saya mau dengar dulu. Dua minggu.”

“Dengar apa?”

“Semuanya. Sopir. Admin. Satpam. Tukang parkir dermaga. Ibu yang jualan pisang epe di depan gerbang.”

Pak Andi menatapku lama. Lalu tertawa. Tawa yang tidak terdengar seperti negosiasi lagi.

“Orang Jakarta yang mau dengar dulu,” katanya. “Baru kali ini.”


Dua minggu.

Aku datang jam lima pagi, sebelum truk pertama. Aku duduk di kabin dengan sopir-sopir yang antre di dermaga. Aku makan coto dengan mereka jam tujuh, di warung di depan gerbang pelabuhan yang sudah buka sejak subuh. Aku mendengar.

Daeng Sangkala, yang anaknya tiga dan istrinya jualan kue di pasar Terong.

Daeng Rudi, yang paling cepat di jalan tol tapi selalu tersesat di gang-gang Panakkukang.

Pak Hasan, sopir paling tua, enam puluh tahun, yang hafal setiap lubang di jalan dari KIMA ke Maros tapi tidak bisa baca aplikasi.

Kak Ica, admin gudang, dua puluh tiga tahun, yang menangis di toilet setiap Jumat karena laporan mingguan tidak pernah cocok dengan isi gudang.

Ibu penjual pisang epe di depan gerbang, yang tahu kapal mana yang akan terlambat karena dia punya sepupu di syahbandar.

Malam hari, aku duduk di kamar kos tiga kali tiga dan menulis semuanya di buku tulis cokelat. Jadwal kapal. Jadwal sopir. Jadwal salat Jumat, karena semua sopir berhenti jam sebelas lewat empat puluh lima dan tidak ada yang bisa memaksa mereka sebaliknya. Jadwal pasang surut, karena dermaga tiga tidak bisa dipakai saat air pasang tinggi. Jadwal panas, karena jam satu sampai jam tiga siang, aspal di KIMA terlalu panas untuk ban truk tua.

Lalu aku menghitung.

Kebiasaanku. Satu-satunya yang kufasihi.


Hari keempat belas, aku berdiri di depan papan tulis di kantor kecil sudut gudang.

Papan itu masih berisi satu kalimat dari kepala cabang lama, dengan spidol yang sudah hampir hilang: SABAR. PELAN-PELAN.

Aku tidak menghapusnya. Aku menulis di bawahnya.

Bukan tiga gelombang seperti Jakarta. Makassar tidak punya tol dalam kota yang macet. Makassar punya pelabuhan. Dan pelabuhan punya ritme sendiri.

Gelombang Kapal.

Truk tidak lagi antre jam enam. Truk berangkat dari gudang tiga puluh menit sebelum kapal sandar, berdasarkan jadwal syahbandar yang diperbarui setiap pagi jam lima. Kalau kapal terlambat, ibu penjual pisang epe yang tahu duluan, karena sepupunya di syahbandar mengirim pesan ke grup keluarga jam empat setengah. Kak Ica bergabung dengan grup WhatsApp itu atas izin ibu penjual pisang epe, dengan syarat setiap Jumat Kak Ica membeli sepuluh pisang epe.

Gudang dibagi jadi tiga zona berdasarkan tujuan. Bukan berdasarkan klien seperti sebelumnya. Zona Utara untuk Maros dan Pangkep. Zona Tengah untuk Makassar kota. Zona Selatan untuk Gowa dan Takalar. Paket langsung ditempatkan di zona saat turun dari kapal, sehingga tidak ada lagi tumpukan setinggi atap.

Pak Hasan tidak lagi harus membaca aplikasi. Rute Pak Hasan ditulis tangan di kertas setiap pagi oleh Kak Ica, berdasarkan jalur yang Pak Hasan sendiri bilang paling aman. Pak Hasan pegang rute Maros, karena dia hafal setiap lubangnya.

Daeng Rudi pegang rute tol. Tidak pernah lagi ke Panakkukang.

Tidak ada pengiriman jam satu sampai jam tiga siang. Itu jam istirahat. Sopir tidur di masjid dekat gudang, karena di sana ada kipas angin dan lantai yang dingin.

Jumat jam sebelas empat puluh lima, semua berhenti. Dijadwalkan. Bukan dipaksa jalan.

“Mas Kira,” kata Pak Andi, berdiri di belakangku, membaca papan. “Ini... nggak ada di SOP mana pun.”

“Nggak ada, Pak.”

“Jam istirahat siang? Grup WA ibu pisang epe? Pak Hasan nggak pakai aplikasi?”

“Iya, Pak.”

“Jakarta nggak akan setuju.”

“Jakarta nggak perlu setuju dulu, Pak. Kita coba seminggu. Kalau nggak jalan, saya yang tanggung.”

Pak Andi menatap papan lama. Lalu menatap kalimat di atasnya. SABAR. PELAN-PELAN.

“Kepala cabang yang lama,” katanya pelan, “dia nulis itu hari terakhir sebelum pensiun. Dia bilang ke saya, Andi, cabang ini nggak butuh orang pintar dari Jakarta. Cabang ini butuh orang yang mau dengar.”

Dia menepuk bahuku. Dua kali. Bukan seperti Reno. Seperti Pak Hendro.

“Kita coba seminggu, Mas.”


Seminggu kemudian, Kak Ica tidak menangis di toilet hari Jumat.

Dia menangis di depan komputer, karena laporan mingguan cocok dengan isi gudang untuk pertama kalinya dalam empat bulan.

Sebelas ribu paket tertunda jadi dua ribu tiga ratus. Dua minggu lagi, nol. Ketepatan waktu cabang KIMA naik dari empat puluh satu persen jadi delapan puluh dua. Satu klien yang sudah pindah, menelepon untuk bertanya apakah mereka bisa kembali.

Dan laporan pengiriman yang lengkap berarti satu hal yang lebih penting dari semua angka itu: gaji sopir bisa diproses.

Hari Jumat, jam empat sore, Pak Andi masuk ke kantor kecil sambil membawa ponsel.

“Mas,” katanya. “Bagian keuangan Jakarta baru konfirmasi. Gaji tiga bulan sopir ditransfer hari Senin.”

Daeng Sangkala, yang sedang duduk di kursi plastik di sudut kantor menunggu rute besok, berdiri. Dia tidak bilang apa-apa. Dia menatapku lama. Lalu keluar.

Lima menit kemudian, dia kembali dengan kantong plastik. Isinya kue-kue dari pasar Terong. Buatan istrinya. Barongko. Pisang ijo. Kue lapis.

“Buat Mas Kira,” katanya. “Istri saya bilang terima kasih.”

Aku menatap kantong plastik itu. Lalu menatap Daeng Sangkala.

Dua tahun di Jakarta, tidak ada sopir yang tahu siapa yang menulis rute mereka. Mereka berterima kasih ke Reno. Mereka berterima kasih ke sistem.

Di sini, dalam tiga minggu, mereka tahu namaku.

“Makasih, Daeng,” kataku.

“Jangan pulang ke Jakarta, Mas,” kata Daeng Sangkala, setengah bercanda. “Di sini saja.”

Aku tersenyum. Tapi tidak menjawab.


Laporan itu kutulis malam itu. Laporan 21 Hari — Cabang KIMA Makassar. Dua puluh enam halaman. Kukirim ke Pak Darmawan, karena selama rotasi, aku melapor langsung ke Direktur Operasional. Bukan ke Head of Operations. Itu inti dari semuanya.

Di halaman terakhir, aku menulis satu paragraf yang tidak dibutuhkan laporan mana pun.

Catatan: Sistem ini bukan buatan saya. Ini buatan Daeng Sangkala, Pak Hasan, Daeng Rudi, Kak Ica, Pak Andi, dan ibu penjual pisang epe di depan gerbang pelabuhan. Saya cuma nulis di papan. Mohon nama mereka dicatat.


Senin pagi, sebuah paket datang ke kos.

Daeng Ratu yang menerimanya. Dia mengetuk pintu kamarku jam enam pagi, saat aku sedang memakai sepatu.

“Dari Jakarta, Nak. Pengirimnya perempuan. Tari namanya.”

Paket itu kardus kecil. Dibungkus selotip berlapis-lapis, dengan tulisan spidol besar: JANGAN DIBANTING. ISINYA PENTING. — TARI.

Aku membukanya di kasur.

Isinya tumbler. Tumbler hitam, Earl Grey, yang kutinggalkan di meja ketiga dari jendela tiga minggu lalu. Sudah dicuci bersih. Di dalamnya ada tiga kantong teh Earl Grey dari merek yang biasa kubeli.

Di bawah tumbler, ada foto. Dicetak di kertas foto, bukan dari printer kantor. Jagung, di lobi, makan dari mangkuk plastik.

Dan di bawah foto, sticky note kuning. Tulisan Tari, besar dan bulat, dengan tanda seru di mana-mana.

KIR!!!

Ini tumbler kamu. Aku cuci. Jangan lupa minum teh.

Jagung sehat. Gendut malah.

Aku mau kasih tahu sesuatu tapi aku nggak tahu harus kasih tahu atau nggak. Aku putusin kasih tahu. Kalau salah, salahin aku.

Bu Deadline nggak ngetuk meja siapa pun sejak kamu pergi. Nggak satu meja pun. Tiga minggu.

Tapi tiap Jumat jam empat, dia turun ke lobi. Bawa kaleng biru. Kasih makan Jagung sendiri. Jongkok di lantai lobi pakai blazer. Pak Haris bilang dia nggak pernah absen.

Tiga Jumat, Kir. Tiga.

Aku nggak tahu kalian kenapa. Tapi aku duduk sebelah kamu dua tahun. Aku tahu kamu. Dan sekarang aku tahu dia juga.

Pulang, Kir. — Tari

P.S. Sticky note kamu yang buat aku soal Jagung, aku nggak pakai. Udah ada yang ngerjain.

Aku duduk di kasur pegas tipis. Memegang sticky note itu.

Tiga Jumat.

Dia tidak login Genesis. Dia tidak mengetuk meja siapa pun. Tapi setiap Jumat jam empat, dia turun ke lobi, membawa kaleng biru, dan memberi makan kucing yang kutinggalkan.

Jumat malam di parkiran basement, sebelum aku pergi, aku menulis Jagung udah makan? Kaleng biru. Seolah dia harus diingatkan. Seolah dia tidak akan tahu sendiri.

Dia sudah tahu. Dia sudah melakukannya. Sebelum aku menulis sticky note itu. Hari itu juga.

Dan aku tidak tahu.

Aku pergi tanpa tahu.


Jam sembilan pagi, ponselku berdering. Nada dering bawaan. Yang paling biasa.

Pak Darmawan.

“Kira.” Suaranya tenang, seperti biasa. “Saya sudah baca laporanmu.”

“Iya, Pak.”

“Dua puluh enam halaman. Dua puluh satu hari. Sebelas ribu paket.” Dia diam sebentar. “Saya mau kamu tahu satu hal. Laporan itu bukan kamu yang kirim ke saya pertama kali.”

Aku diam.

“Kamu kirim Jumat malam jam sebelas. Waktu Makassar. Saya baru buka email Senin pagi. Tapi Sabtu pagi, jam enam, Aruna sudah meneruskan laporan itu ke saya. Lewat WhatsApp. Pakai satu kalimat.”

“Bu Aruna... dapat laporannya dari mana, Pak?”

“Kamu cc ke divisi operasional. Dia Head of Operations. Dia baca semua email divisi. Jam berapa pun.” Pak Darmawan diam lagi. “Kalimatnya: Pak, tolong baca halaman terakhir. Dia minta nama mereka dicatat. Tolong dicatat.”

Aku menutup mata.

“Kira,” kata Pak Darmawan. “Audit Proyek 12.12 sudah berjalan dua minggu. Tim audit butuh satu hal yang belum ada. Draf asli Rencana Rute Gelombang. Versi sebelum masuk ke Reno. Kalau ada.”

Aku diam.

Ada. Tentu saja ada. Di rak bawah, di kamar kos Tebet yang masih kubayar enam bulan ke depan, di antara Rute Getuk Sokaraja 2010 dan Pola Tol Cikampek. Buku tulis cokelat dengan judul Rencana Gelombang — Draf 1. Tulisan tangan. Bertanggal. Dengan catatan kaki yang sama persis, dua bulan sebelum dokumen Reno diajukan.

“Kira? Ada?”

“Pak,” kataku pelan. “Kalau saya kasih, Pak Reno bakal kena.”

“Iya.”

“Saya nggak mau jadi alasan dia dipecat. Dia ngajarin saya. Dia setujuin cuti saya waktu Ibu sakit.”

Pak Darmawan tidak menjawab lama. Aku bisa mendengar suara pesawat dari jendela ruangannya. Halim. Selalu Halim.

“Kira,” katanya akhirnya. Suaranya tidak keras. Tapi tidak lembut juga. “Itu bukan keputusanmu.”

“Pak—”

“Kamu sudah memutuskan untuk semua orang. Dua tahun. Kamu putuskan Reno boleh pakai rencanamu. Kamu putuskan kamu yang ke Makassar. Kamu putuskan Aruna nggak perlu tahu.” Dia berhenti. “Kebenaran bukan sesuatu yang bisa kamu putuskan untuk orang lain. Kebenaran ya kebenaran. Kamu cuma bisa memilih menyembunyikannya atau tidak.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Pikirkan,” katanya. “Audit tutup akhir bulan.”

Telepon ditutup.

Aku duduk di kasur, dengan tumbler Earl Grey di satu tangan dan sticky note Tari di tangan lain.

Lalu aku menatap jam di ponsel. Jam sembilan lewat dua belas waktu Makassar. Jam delapan lewat dua belas di Jakarta.

Senin. Aruna sudah di kantor. Di ruangannya. Dengan tujuh kaktus di ambang jendela.

Dia tidak tahu buku tulis itu ada. Dia tidak pernah melihat isinya. Dia hanya melihat sampulnya, di kamar kosku, saat aku demam dan dia membawakan bubur.

Arsip Sunyi — 47.

Bukan yang itu. Yang di sebelahnya. Dua buku ke kanan.

Aku tidak tahu kalau dia ingat.

Aku berdiri, mengambil ransel, dan berangkat ke gudang. Di jalan, di atas motor ojek yang melaju di bawah matahari Makassar yang sudah terlalu panas jam sembilan pagi, aku memikirkan satu kalimat Pak Darmawan berulang-ulang.

Kebenaran ya kebenaran. Kamu cuma bisa memilih menyembunyikannya atau tidak.

Dua tahun aku memilih menyembunyikannya.

Aku belum tahu apakah aku bisa memilih yang lain.