Chapter Thirteen
Nasi Goreng Jam Sebelas
POV: Aruna
Proyek 12.12 punya satu ruang kerja: ruang rapat kecil di lantai empat, di ujung koridor dekat tangga darurat. Mejanya cukup untuk enam orang. Ada satu papan tulis, satu proyektor yang lampunya berkedip kalau terlalu panas, dan satu jendela kecil yang menghadap gedung parkir.
Selama dua minggu, ruangan itu jadi rumah kedua kami.
Setiap pagi jam tujuh, Kira sudah ada di sana. Hoodie abu, tumbler Earl Grey, laptop tua dengan stiker yang sudah mengelupas. Dia tidak pernah terlambat. Aku sempat mencoba datang lebih pagi, jam enam empat puluh, hanya untuk melihat apakah aku bisa mengalahkannya. Dia sudah duduk di sana, membaca laporan cuaca BMKG untuk tanggal dua belas Desember.
“Kamu tidur di sini?” tanyaku.
“Nggak, Bu. KRL pertama jam lima lewat.”
“Kamu naik KRL pertama?”
“Biar dapat duduk.”
Reno datang jam delapan, selalu dengan kopi dan selalu dengan agenda tercetak. Dia menangani gudang, klien, dan koordinasi dengan vendor ekspedisi tambahan. Dia bekerja keras. Itu harus kuakui. Dia menelepon setiap gudang, bernegosiasi dengan setiap vendor, dan memastikan setiap klien besar mendapat surat pemberitahuan resmi. Tapi setiap kali percakapan masuk ke rute, ke jam, ke jalur, dia akan diam dan menatap Kira.
Dan Kira akan menjawab.
Hari ketiga, Reno berhenti datang ke ruang rapat kecil. Dia bilang lebih efisien bekerja dari mejanya sendiri, dekat telepon. Aku tidak memaksanya. Aku tidak yakin apakah itu keputusan yang benar.
Tapi itu berarti, sejak hari ketiga, ruang rapat kecil itu hanya berisi dua orang.
Aturan nomor satu: di kantor, atasan dan bawahan.
Aku menjaganya. Sungguh. Aku memanggilnya Kira, bukan Earl. Dia memanggilku Bu. Kami bicara soal gerbang tol, jam muat, dan kapasitas gudang. Kami tidak bicara soal Hydra, Leviathan, atau kaos yang sudah terjual dua ribu potong.
Tapi aturan tidak bilang apa-apa soal hal-hal kecil.
Tidak bilang apa-apa soal fakta bahwa setiap pagi, di samping laptopku, sudah ada lychee tea dingin dengan es yang menggunung. Aku tidak pernah memesannya. Aku tidak pernah bilang aku mau. Dia hanya ada di sana, setiap hari, saat aku masuk.
“Ini dari siapa?” tanyaku hari pertama.
“Kedai di bawah, Bu. Buka jam enam setengah.”
“Kamu beliin?”
“Sekalian lewat.”
Kedai itu ada di seberang jalan. Bukan di jalur dari stasiun ke kantor. Dia harus menyeberang dua kali.
Aturan juga tidak bilang apa-apa soal cara dia bekerja. Bagaimana dia menghitung di papan tulis sambil bergumam angka-angka. Bagaimana dia memiringkan kepala sedikit ke kiri setiap kali menemukan masalah. Bagaimana dia selalu menulis jawaban di sticky note dulu sebelum mengatakannya, seolah takut ucapannya salah. Bagaimana jari telunjuknya mengetuk meja setiap kali dia berpikir, dan bagaimana aku, tanpa sadar, mulai mengetuk balik.
Satu, dua, tiga.
Aturan tidak bilang apa-apa soal itu.
Kamis malam, sepuluh hari sebelum Harbolnas, kami masih di ruang rapat kecil pukul sepuluh malam.
Masalahnya gudang Cikarang. Kapasitas muat mereka ternyata dua puluh persen lebih kecil dari yang dilaporkan, karena separuh dok muat sedang direnovasi. Seluruh gelombang satu harus disusun ulang.
“Kalau gelombang satu Cikarang dipecah tiga,” kata Kira, menggambar di papan tulis, “jeda tiap sub-gelombang dua puluh menit, kita butuh dua armada tambahan. Bisa pinjam dari Cakung, tapi Cakung jadi kurang di gelombang dua.”
“Terus Cakung gimana?”
“Cakung tukar sama Tangerang. Tangerang gelombang duanya lebih ringan.” Dia mengetuk papan. “Tapi jaraknya jauh. Sopirnya harus berangkat jam empat pagi.”
“Siapa yang mau berangkat jam empat pagi waktu Harbolnas?”
“Pak Darto. Dia selalu minta shift subuh. Anaknya sekolah pagi, dia mau antar dulu sebelum narik. Kalau dia berangkat jam empat, dia sempat balik jam enam buat antar anaknya.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu jadwal sekolah anak sopir?”
“Dia pernah cerita di grup.” Kira mengangkat bahu, menulis nama Pak Darto di papan. “Jadwal sopir itu bukan cuma jadwal truk, Bu. Itu jadwal hidup mereka. Kalau rutenya nggak cocok sama hidup mereka, mereka bakal telat. Bukan karena malas. Karena mereka juga punya anak yang harus diantar.”
Aku tidak bilang apa-apa. Aku menatap papan tulis yang penuh angka, panah, dan nama. Bukan nomor armada. Nama. Pak Darto. Pak Udin. Pak Joko. Mas Bagio. Setiap nama dengan catatan kecil di sebelahnya: anak SD, istri hamil, nggak kuat malam, suka lewat Kalimalang.
Dua tahun aku membaca laporan ketepatan waktu dalam bentuk persentase. Aku tidak pernah tahu persentase itu adalah Pak Darto yang mengantar anaknya ke sekolah.
Perutku berbunyi.
Keras. Di ruangan yang sunyi. Di depan bawahanku.
Kira berhenti menulis. Menoleh.
“Ibu belum makan?”
“Sudah.”
“Kapan?”
Aku mencoba mengingat. Rapat direksi jam dua belas. Telepon vendor jam satu. Lalu kembali ke sini jam tiga. Nasi kotak dari sekretaris... masih di mejaku. Belum dibuka.
“Tadi siang,” kataku.
“Bu.”
“Oke, belum.”
Dia meletakkan spidol. Melihat jam di laptopnya. Sepuluh lewat empat puluh.
“Di depan gedung ada nasi goreng gerobak,” katanya. “Pak Somad. Buka sampai jam satu.”
“Kamu sering makan di sana?”
“Tiap kali pulang malam.”
Aku menatapnya. Menatap papan tulis. Menatap jam.
Aturan nomor satu: di kantor, atasan dan bawahan.
Gerobak nasi goreng di trotoar depan gedung tidak termasuk kantor, kan?
Pak Somad adalah laki-laki enam puluhan dengan kumis putih dan handuk kecil di leher. Gerobaknya dicat hijau dengan tulisan tangan NASI GORENG MANTAP SOMAD — SEJAK 1998. Di sebelahnya ada dua bangku plastik dan satu meja lipat yang kakinya diganjal sandal jepit.
“Mas Kira!” Pak Somad tersenyum lebar saat kami datang. “Biasa?”
“Biasa, Pak. Dua.”
“Dua?” Pak Somad menatapku. Lalu menatap Kira. Lalu menatapku lagi, lebih lama, dari ujung sepatu hak sampai blazer hitam. “Wah. Mas Kira bawa teman.”
“Atasan, Pak.”
“Atasan,” ulang Pak Somad, mengangguk dengan wajah sangat serius. “Atasan jam sebelas malam makan nasi goreng gerobak. Iya. Iya. Bapak paham.”
“Pak, beneran atasan.”
“Iya, Mas. Bapak bilang Bapak paham.” Dia mulai mengaduk wajan. Lalu, tanpa diminta, memasukkan dua telur ke wajan, bukan satu. “Atasan dapat telur dua. Bonus.”
Kami duduk di bangku plastik. Lalu lintas Cawang masih ramai, truk-truk besar melintas di tol layang di atas kami. Udara malam lembap, berbau asap knalpot dan bawang goreng. Lampu gerobak Pak Somad kuning, berkedip sedikit karena genset kecil di bawahnya.
Aku melepas blazer dan menyampirkannya di sandaran bangku. Kemeja putih di baliknya sudah kusut di siku.
Kira menatap tangannya sendiri di atas meja.
“Kamu sering lembur sampai jam segini?” tanyaku.
“Nggak sering. Kalau ada yang belum selesai aja.”
“Selalu ada yang belum selesai.”
“Iya.” Dia tersenyum kecil. “Makanya sering.”
Pak Somad meletakkan dua piring nasi goreng di meja. Telur ceplok di atas, kerupuk di pinggir, acar di mangkuk kecil. Di piringku ada dua telur. Di piring Kira ada satu.
Kira mulai makan. Pelan. Rapi. Dan aku melihat dia menyisihkan kerupuk ke pinggir piring, untuk dimakan terakhir. Seperti di kafe Blok M.
“Kenapa kerupuknya disisihin?” tanyaku.
Dia berhenti mengunyah. Menatap kerupuk itu, seperti baru sadar dia melakukannya.
“Kebiasaan,” katanya. “Dulu waktu kecil, kerupuk itu barang mahal di rumah. Ibu cuma beli sebungkus seminggu. Jadi aku simpan buat terakhir. Biar ada yang ditunggu.”
“Ibu kamu di Purwokerto?”
“Sokaraja. Dekat Purwokerto. Jualan getuk goreng.”
“Getuk goreng?”
“Getuk singkong digoreng. Manis. Khas Sokaraja.” Matanya sedikit berbinar. “Ibu bikin dari subuh, terus dititipin ke dua belas warung di sekitar kecamatan. Dari dulu.”
“Siapa yang antar ke dua belas warung?”
Dia diam sebentar.
“Aku,” katanya. “Dari kelas lima SD. Bapak meninggal waktu aku kelas empat. Ibu nggak bisa bikin getuk sekaligus antar. Jadi aku yang antar. Naik sepeda. Sebelum sekolah.”
Aku meletakkan sendok.
“Dua belas warung,” lanjutnya, menatap piringnya. “Jaraknya macam-macam. Ada yang buka jam lima, ada yang jam enam. Ada yang pemiliknya galak kalau telat, ada yang nggak peduli. Ada yang jalannya banjir kalau hujan. Aku cuma punya waktu dari jam empat setengah sampai jam enam lewat seperempat, karena sekolah masuk jam setengah tujuh.”
“Kamu hitung semua itu?”
“Harus. Kalau nggak, aku telat sekolah, atau getuknya telat sampai, atau dua-duanya.” Dia tersenyum, kecil, seperti mengenang sesuatu yang lucu sekaligus sedih. “Aku bikin rute di buku tulis. Warung mana duluan, lewat jalan mana, jam berapa. Kalau hujan, rutenya ganti. Kalau ada pasar, rutenya ganti. Kalau ada warung yang pemiliknya lagi sakit, aku titip ke warung sebelahnya.”
“Kelas lima SD.”
“Iya.”
“Itu dispatch.”
Dia menatapku, sedikit terkejut, seperti tidak pernah memikirkannya dengan kata itu.
“Iya,” katanya pelan. “Kayaknya iya.”
Aku menatapnya. Laki-laki di depanku. Hoodie abu, kacamata sedikit berembun karena uap nasi goreng, kerupuk di pinggir piring. Laki-laki yang membawa sembilan orang memenangkan raid yang tidak pernah dimenangkan siapa pun. Laki-laki yang menggambar peta satu kota dari ingatan.
Dan semuanya dimulai dari anak kelas lima SD yang mengantar getuk dengan sepeda sebelum matahari terbit, menghitung jarak dua belas warung di buku tulis, supaya ibunya tidak perlu khawatir.
“Kamu nggak lanjut kuliah?” tanyaku.
“D3 Logistik. Politeknik di Purwokerto, beasiswa. Mau lanjut S1, tapi...” Dia mengangkat bahu. “Ibu mulai sakit-sakitan. Lebih baik kerja.”
“Dan kamu kerja di sini. Dua tahun. Nyelipin sticky note ke orang lain.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Kali ini dia tidak langsung menjawab. Dia mengambil satu kerupuk. Memutarnya di antara jari. Menatapnya.
“Buff dulu, baru maju,” katanya.
Aku menahan napas.
Itu kalimat yang dia gumamkan di kafe, saat aku mengenalinya. Kalimat yang dia ucapkan sebelum setiap raid. Tapi kali ini, di bawah lampu gerobak nasi goreng, kalimat itu terdengar berbeda.
“Di game,” katanya, “enchanter itu nggak pernah maju duluan. Tugasnya bikin orang lain kuat. Haste, Barrier, Elemental. Terus orang lain yang maju, orang lain yang ngalahin boss, orang lain yang namanya muncul di layar kemenangan.”
“Kamu bisa ganti job.”
“Aku nggak mau ganti job.” Dia meletakkan kerupuk itu kembali di pinggir piring. “Aku suka jadi enchanter. Aku suka lihat orang lain maju dan berhasil karena aku udah nyiapin mereka. Itu... cukup buat aku.”
“Tapi kamu nggak pernah maju.”
“Itu bukan tempatku, Bu.”
Kalimat itu menusuk sesuatu di dadaku. Sesuatu yang lama. Sesuatu yang berbau oli mesin dan kertas manual radio.
Orang di balik layar itu, Run, orang yang paling tahu kenapa semuanya bisa jalan.
Papa tidak pernah maju. Papa juga bilang itu bukan tempatnya. Dan Papa meninggal dengan tiga puluh pilot di pemakamannya yang tahu namanya, dan seluruh bandara yang tidak tahu.
Aku tidak mau itu terjadi lagi.
Aku mengambil sendok. Menyendok nasi goreng dari piringku sendiri, dengan sepotong telur ceplok di atasnya. Dan aku menyodorkannya ke arah mulutnya.
Dia menatap sendok itu. Lalu menatapku.
“Bu?”
“Makan.”
“Aku punya nasi goreng sendiri.”
“Itu nasi goreng kamu. Ini nasi goreng atasan. Telurnya dua.” Aku tidak menurunkan sendok. “Biar strategist-nya nggak lowbat.”
Dia menatapku sangat lama. Matanya, di balik kacamata yang berembun, bergerak dari sendok ke wajahku dan kembali lagi. Telinganya merah. Merah sekali. Bahkan di bawah lampu kuning gerobak, aku bisa melihatnya.
Lalu dia membuka mulut.
Aku menyuapkan nasi goreng itu.
Dia mengatupkan mulut. Lalu diam. Tidak mengunyah. Hanya diam, menatapku, dengan pipi menggembung.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
“Kira,” kataku. “Kunyah.”
Dia berkedip. Seperti baru ingat bahwa manusia mengunyah makanan. Lalu mengunyah, sangat pelan, sambil menunduk ke piringnya.
Di belakang gerobak, Pak Somad pura-pura sangat sibuk mengelap wajan. Tapi bahunya bergetar karena menahan tawa.
“Atasan,” gumam Pak Somad pada wajannya. “Iya. Iya. Bapak paham.”
Kami kembali ke kantor jam sebelas lewat dua puluh untuk mengambil tas. Lobi sudah sepi. Pak Haris sedang tidur di kursi jaga. Jagung tidur di pangkuannya.
Di parkiran basement, mobilku satu-satunya yang tersisa di lantai itu. Tapi saat kami berjalan ke sana, sepasang lampu mobil menyala di lantai atas, di ujung ramp. Sebuah mobil keluar perlahan. Sedan hitam. Aku tidak bisa melihat pengemudinya karena kacanya gelap.
Mobil itu berhenti sebentar di ujung ramp. Mungkin satu detik terlalu lama. Lalu melaju keluar ke jalan raya.
Aku tidak memikirkannya. Aku sedang memikirkan hal lain.
“Kira,” kataku di samping mobil.
“Ya, Bu?”
“Tadi kamu bilang itu bukan tempatmu. Maju duluan.”
“Iya.”
“Gimana kalau ada orang yang mau kamu di depan?”
Dia diam. Lampu basement berdengung di atas kami.
“Aku nggak tahu,” katanya jujur. “Belum pernah ada.”
“Sekarang ada.”
Dia menatapku. Aku menatapnya. Di basement kosong jam sebelas malam, dengan bau nasi goreng masih menempel di kemeja kami.
“Aku antar kamu pulang,” kataku sebelum dia sempat menjawab. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu yang lebih bodoh. “Tebet searah sama Kebayoran kalau lewat Pancoran.”
“Nggak searah, Bu. Itu muter.”
“Kamu dispatcher atau navigator?”
“Dua-duanya.”
“Masuk.”
Dia masuk.
Sepanjang jalan, dia tertidur. Kepalanya bersandar ke jendela, kacamatanya miring, tangannya masih memegang tumbler Earl Grey yang sudah kosong. Aku menyetir pelan. Sangat pelan. Lebih pelan dari yang dibutuhkan jalan Jakarta jam sebelas malam.
Di lampu merah Pancoran, aku menoleh.
Dalam tidurnya, jari telunjuk kanannya bergerak sedikit di atas tumbler. Mengetuk. Satu, dua, tiga.
Bahkan dalam tidur, dia sedang menyiapkan buff untuk seseorang.
Aku mengulurkan tangan, membetulkan kacamatanya yang miring, dan kembali memegang kemudi sebelum lampu berubah hijau.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas reading
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit