Chapter Two

Siapa Nama Kamu?

POV: Kira

Senin pagi di Jakarta selalu dimulai dengan dua hal: hujan yang turun tanpa permisi, dan grup WhatsApp kantor yang sudah berisi tiga puluh pesan sebelum jam enam.

Aku membaca semuanya di KRL dari Tebet ke Cawang, berdiri, satu tangan memegang gantungan, satu tangan memegang ponsel. Laporan armada malam. Dua truk telat di Cikampek. Satu sopir minta izin karena istrinya melahirkan. Satu foto genangan di Kalimalang, dikirim sopir bernama Pak Udin dengan keterangan: aman ini mah, cuma semata kaki.

Aku memperbesar fotonya. Genangan itu memang semata kaki. Tapi di latar belakang ada tiang listrik dengan tanda cat merah, penanda banjir buatan warga. Dan air sudah menyentuh garis kedua.

Garis kedua artinya dalam satu jam, air akan naik sampai garis ketiga. Aku tahu karena Februari lalu, dua belas truk LNX terjebak di sana, dan aku menghabiskan dua malam membaca setiap laporan sopir, setiap foto, setiap jam kejadian, sampai aku hafal pola banjir di jalur itu seperti hafal pola roar Leviathan.

Truk B-14 dijadwalkan lewat Kalimalang jam tujuh lewat lima belas.

Aku mengetik catatan di ponsel.


PT Lintas Nusa Ekspres, atau LNX, menempati gedung tujuh lantai di Cawang. Lantai empat adalah ruang kontrol dispatch: satu ruangan panjang dengan layar besar di dinding yang menampilkan peta Jabodetabek penuh titik-titik bergerak. Setiap titik adalah truk. Setiap truk adalah sopir, paket, janji pengiriman, dan potensi komplain.

Di sudut ruangan ada papan tulis putih besar. Semua orang menyebutnya “papan rute”. Isinya coretan spidol warna-warni: jalur alternatif, nomor telepon sopir, catatan jam macet. Separuh tulisan di papan itu tulisanku. Tidak ada yang tahu. Atau tidak ada yang peduli.

“Kira!”

Tari melambai dari mejanya, di sebelah mejaku. Tari adalah dispatcher juga, dua tahun lebih senior, dan satu-satunya orang di lantai ini yang ingat ulang tahunku. Dia juga satu-satunya orang di lantai ini yang tahu semua gosip di gedung, termasuk gosip yang belum terjadi.

“Kamu udah lihat forum Genesis?” tanyanya, bahkan sebelum aku duduk.

Aku hampir menjatuhkan tas. “Hah?”

“Itu loh, game yang lagi rame. Adikku main. Semalem ada party yang bunuh boss susah banget cuma sisa dua orang.” Tari memutar layar ponselnya ke arahku. Di sana ada tangkapan layar World Notice. Morning Tea. Survivors: 2. “Adikku sampai teriak-teriak jam dua belas malem. Katanya otaknya party itu jenius, namanya Earl. Terus ada teori, Earl ini sebenernya Unknown Origin Holder.”

Aku menyeruput Earl Grey dari tumbler. Terlalu cepat. Tersedak.

“Kamu kenapa?”

“Panas,” kataku sambil terbatuk.

“Unknown Origin Holder itu,” lanjut Tari, tidak peduli, “orang misterius yang dua tahun lalu dapat equipment paling langka di game itu. Nggak ada yang tahu siapa. Ada yang bilang orang Korea. Ada yang bilang developernya sendiri. Ada yang bilang hantu.”

“Hantu,” ulangku.

“Iya. Hantu yang main game. Seru, kan?”

“Seru.”

“Kamu main Genesis nggak, Kir?”

Aku menatap layar komputerku yang belum menyala. “Kadang-kadang.”

“Ih, kok nggak bilang! Nanti kalau ketemu Earl, minta tanda tangan buat adikku ya.”

“Kalau ketemu,” kataku.


Rapat pagi dimulai jam delapan tepat, di ruang kecil di ujung lantai. Ada delapan dispatcher, dua koordinator gudang, dan Reno Wicaksono, supervisor dispatch, atasan langsungku.

Reno berumur tiga puluh satu, rambutnya selalu rapi seperti iklan pomade, dan kemejanya selalu disetrika sampai bisa dipakai memotong kertas. Dia orang yang ambisius. Itu bukan kalimat buruk. Itu hanya kalimat yang benar.

“Oke, laporan armada,” kata Reno. “Ada isu?”

Aku mengangkat tangan setengah. Tidak ada yang melihat. Aku menurunkannya, merobek sticky note dari bukuku, dan menyelipkannya ke depan Reno.

B-14 jangan lewat Kalimalang. Air naik ke garis ketiga sebelum jam 07.30. Alihkan lewat Kalibata–Pancoran, telat 20 menit tapi aman.

Reno membacanya sekilas. Dahinya berkerut. Lalu dia mendongak, dan ekspresinya berubah jadi ekspresi orang yang baru saja menemukan sesuatu sendiri.

“Ah, satu lagi,” katanya. “Saya cek tadi, Kalimalang mau banjir. B-14 kita alihkan lewat Kalibata–Pancoran. Telat sedikit, tapi aman.”

“Bagus,” kata seseorang dari pintu.

Semua orang langsung duduk lebih tegak.

Aruna Lestari, Head of Operations LNX, berdiri di ambang pintu dengan tablet di tangan. Dia tidak biasanya ikut rapat dispatch. Tapi Senin ini dia ada di sana, dan seisi ruangan langsung lupa cara bernapas dengan santai.

Orang-orang di kantor menyebutnya Bu Deadline. Bukan karena dia suka memberi tenggat, tapi karena setiap kali dia muncul, rasanya seperti tenggat sudah lewat. Dia berumur dua puluh sembilan, termuda yang pernah memegang posisi itu di LNX. Dan seisi gedung, entah mengakui atau tidak, tahu bahwa dia juga perempuan paling cantik di gedung ini.

Rambut hitamnya sebahu, lurus, dirapikan ke belakang telinga. Matanya tajam, dengan alis yang selalu seperti sedang menilai sesuatu. Blazer abu tua, kemeja putih, dan jam tangan pria berbahan kulit cokelat yang terlalu besar untuk pergelangannya. Wajahnya seperti foto yang diambil fotografer mahal: tegas, bersih, dan tidak memberi izin untuk dipandangi terlalu lama.

“Reno,” katanya. “Bagus. Laporan cuaca kayak gitu yang saya mau. Proaktif.”

“Terima kasih, Bu,” kata Reno, tersenyum.

Aku menatap sticky note yang masih tergeletak di depan Reno, tulisan tanganku yang miring ke kanan. Reno menutupnya dengan map, gerakan kecil, hampir tidak sengaja.

Hampir.

Aku tidak bilang apa-apa. Aku sudah terbiasa. Di game, aku memberi buff dan orang lain yang menghabisi boss. Di kantor, sama saja. Bedanya, di game semua orang tahu siapa yang memberi buff.

“Satu lagi,” kata Aruna, menatap tabletnya. “Rencana rute gelombang yang kamu ajukan dua tahun lalu, Reno, saya mau pakai lagi buat Harbolnas tahun ini. Itu masih rencana terbaik yang kita punya.”

“Siap, Bu.”

Rencana rute gelombang. Aku ingat malam aku membuatnya, di kos, jam tiga pagi, ditemani Earl Grey dan lagu boss Genesis. Aku menyerahkannya ke Reno karena aku pikir itu cara yang benar. Reno mengajukannya ke atas. Namaku tidak ada di halaman mana pun.

Aruna pergi. Ruangan bernapas lagi.

Di bawah meja, Tari menyenggol kakiku dan berbisik, “Kir. Itu sticky note kamu, kan?”

“Bukan apa-apa.”

“Kamu tuh kayak Wi-Fi kantor, tahu nggak,” bisik Tari, kesal. “Dipakai semua orang, nggak ada yang inget password-nya.”

Aku tertawa kecil. Tari tidak.


Jam tujuh lewat dua puluh, Pak Udin mengirim foto ke grup: Kalimalang sudah jadi sungai. Air sampai pinggang. Tiga mobil pribadi mogok di tengah jalan.

Untung dialihin, tulis Pak Udin. Siapa yang ngecek tadi? Makasih ya, Pak Reno.

Reno membalas dengan emoji jempol.

Aku menutup grup dan kembali ke peta.


Hari berjalan seperti semua Senin: panjang, penuh telepon, dan diakhiri dengan pegal di leher. Jam tujuh malam, aku turun dari lantai empat. Lift di gedung ini tua dan lambat. Pintunya selalu menutup tiga detik lebih lama dari seharusnya.

Pintu hampir tertutup ketika sebuah tangan menahannya.

Aruna masuk. Dia sedang menelepon.

“Saya nggak mau tahu, Pak,” katanya ke ponsel, nadanya datar dan dingin seperti lantai marmer. “Kontrak kita bilang tiga hari. Bapak telat lima hari. Kalau minggu depan masih telat, kita cari vendor lain. Selamat malam.”

Dia menutup telepon. Menghela napas, sekali, panjang, seperti orang yang baru meletakkan beban dua puluh kilo. Lalu dia bersandar ke dinding lift dan memejamkan mata.

Aku berdiri di sudut, berusaha tidak terlihat. Itu keahlianku. Mungkin satu-satunya keahlian yang benar-benar kukuasai di dunia nyata.

Dari jarak sedekat ini, dia terlihat lebih muda. Ada garis lelah di bawah matanya yang tidak terlihat di rapat. Bulu matanya panjang. Bibirnya tipis, terkatup rapat, seperti menahan sesuatu supaya tidak keluar.

Lantai tiga.

Dia membuka mata. Menyadari ada orang lain di lift. Matanya bergerak ke arahku: hoodie abu, tas ransel, ID card yang terbalik.

“Kamu,” katanya. “Divisi mana?”

“Dispatch, Bu.”

“Oh.” Dia mengangguk kecil. Lalu, dengan nada orang yang bertanya karena sopan, bukan karena ingin tahu: “Nama kamu siapa?”

“Kira, Bu.”

“Kira,” ulangnya. “Oke.”

Lantai dua.

Hening. Hanya suara mesin lift yang berderit.

Lantai satu.

Pintu terbuka. Dia keluar tanpa menoleh, langkahnya cepat, sepatu haknya berbunyi tegas di lantai lobi. Dalam dua detik, dia sudah ada di luar, menembus hujan menuju mobilnya.

Aku berdiri di lift sampai pintunya hampir tertutup lagi.

Dua tahun. Dua tahun aku bekerja sepuluh meter dari ruangannya. Dua tahun rencana ruteku dia pakai. Dua tahun tulisan tanganku menempel di papan yang dia lewati setiap pagi.

Dan hari ini, untuk pertama kalinya, dia bertanya namaku.

Besok dia pasti sudah lupa.


Jam sembilan malam, aku login Genesis. Morning Tea sedang santai, farming bahan crafting di hutan tingkat rendah, sambil mengobrol. Topiknya tentu saja kopdar.

“Sabtu ini,” kata Darjeeling. “Jam empat sore. Kafe Seduh Senja di Blok M. Bapak udah reservasi meja buat sepuluh orang.”

“Dress code apa, Pak?” tanya Chamomile.

“Dress code Morning Tea. Bawa diri masing-masing.”

“Bawa rendang,” kata Bu Ratna.

Aku bertugas memberi buff ke siapa pun yang lewat, kebiasaan yang membuat karakter-karakter di sekitarku berkedip-kedip penuh efek seperti pohon Natal. Lychee berdiri di sebelahku, menebas slime hijau dengan gerakan malas.

Lalu whisper muncul.

Lychee: earl. aku boleh curhat sebentar?

Earl: boleh.

Lychee: hari ini aku ngerasa jahat banget.

Earl: kenapa?

Lychee: di kantor. aku satu lift sama orang. aku nanya nama dia. dia jawab. terus aku keluar lift dan sadar aku udah lupa lagi namanya. nggak sampai sepuluh detik.

Aku berhenti menekan Q.

Lychee: padahal kayaknya dia udah lama kerja di situ. dan aku nggak pernah lihat dia. kayak dia nggak ada. itu jahat nggak sih?

Aku menatap pesan itu. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Lalu aku tertawa sendiri, pelan. Jakarta punya ribuan gedung. Ribuan lift. Ribuan atasan yang lupa nama bawahannya. Itu bukan cerita yang istimewa. Itu cerita setiap hari.

Earl: menurutku nggak jahat.

Lychee: serius?

Earl: ada orang yang memang biasa nggak diingat. mungkin dia juga udah terbiasa. mungkin dia nggak keberatan.

Jeda yang panjang.

Lychee: kok kamu kayak ngebela dia sih.

Earl: karena mungkin aku orang yang kayak gitu juga.

Lychee: nggak mungkin. kamu earl.

Earl: di sini.

Lama dia tidak membalas. Karakternya berhenti menebas slime. Hanya berdiri.

Lychee: besok aku mau cari tahu namanya lagi. terus aku hafalin.

Earl: kenapa?

Lychee: karena kalau orang kayak kamu ada di kantorku, aku nggak mau jadi orang yang nggak lihat.

Aku tidak tahu harus membalas apa. Jadi aku melempar Haste ke karakternya, satu-satunya bahasa yang kufasihi.

[Earl casts Haste → Lychee]

Lychee: ...itu artinya apa.

Earl: artinya semangat.

Lychee: kamu aneh.

Lychee: tapi makasih.

Dia kembali menebas slime, sekarang dua kali lebih cepat.

Aku bersandar ke kursi, menatap langit-langit kamar kos yang ada noda bocor berbentuk Pulau Sulawesi. Di layar, Morning Tea masih ribut soal siapa yang harus bawa kue.

Sabtu. Blok M. Kafe Seduh Senja. Jam empat.

Lima hari lagi, sembilan orang yang menyebutku jenius akan melihat wajahku.

Dan aku, entah kenapa, paling takut pada satu orang yang bahkan tidak pernah memakai voice.