Chapter Thirty Nine
Join Party
POV: Aruna
Strategic Planning Lead punya ruangan sendiri.
Lantai empat, di ujung koridor yang berlawanan dengan ruanganku. Kecil, dengan satu jendela yang menghadap gedung parkir, satu meja, satu papan tulis, dan papan nama akrilik yang dipasang Pak Haris hari Senin pagi: Kira Aditama — Strategic Planning Lead.
Kira tidak pernah memakainya.
“Kenapa?” tanyaku hari Rabu, berdiri di depan meja ketiga dari jendela di ruang kontrol, tempat dia masih duduk dengan hoodie abu dan tumbler Earl Grey dari paket Tari.
“Ruangannya terlalu sepi, Bu.”
“Itu namanya ruangan pribadi.”
“Di sini aku bisa dengar sopir nelepon. Bisa lihat papan rute. Bisa dengar Tari ngomong soal kucing.”
“Aku ngomong soal kucing karena kamu suka dengar!” kata Tari dari meja sebelah, tanpa menoleh dari layarnya. Dia memakai kaos EARL CALL di balik kardigan. Sudah tiga hari berturut-turut. “Bu, dia bohong. Dia nggak mau pindah karena takut nggak ada yang ingetin dia makan siang.”
“Itu juga,” kata Kira.
Aku menatap mereka berdua. Lalu menatap ruang kontrol. Mas Fajar mengetik di dua grup WhatsApp sekaligus. Mbak Ayu memegang telepon dengan bahu sambil mencatat. Layar besar dengan ratusan titik bergerak. Papan rute di sudut, dengan peta Jabodetabek, gelombang empat untuk Karawang, dan sebelas sticky note kuning yang masih belum ada yang berani mencabut.
“Oke,” kataku. “Tapi papan namanya dipindah ke sini.”
“Ke meja dispatcher?”
“Ke meja ketiga dari jendela.”
Hari Kamis, papan nama akrilik itu dipasang di pinggir meja Kira. Kira Aditama — Strategic Planning Lead. Di antara monitor kantor dan tumbler Earl Grey. Pak Haris yang memasangnya, dengan selotip dua sisi dan senyum lebar.
Tari memotretnya untuk Instagram. Captionnya: dua tahun aku duduk sebelah orang ini. akhirnya mejanya punya nama.
Kantor berubah, pelan-pelan.
Bukan perubahan besar. Bukan perubahan yang bisa ditulis di laporan bulanan. Perubahan kecil, yang hanya terlihat kalau kamu tahu harus melihat ke mana.
Rapat pagi dispatch sekarang dimulai dengan satu pertanyaan dari Mas Fajar, yang sekarang menggantikan Reno sebagai pelaksana tugas supervisor: Ada isu dari Kira? Dan Kira, yang dulu menyelipkan sticky note ke depan orang lain, sekarang menjawab dengan suaranya sendiri. Pelan. Datar. Tapi dengan suaranya sendiri.
Pak Wibisono, Direktur Keuangan, turun ke lantai empat hari Selasa. Dia tidak pernah turun ke lantai empat. Dia berdiri di depan meja ketiga dari jendela dengan tablet di tangan.
“Sdr. Kira. Gudang Karawang. Musim hujan bulan Februari. Gerimis atau deras?”
“Gerimis, Pak. Kebanyakan sore.”
“Satu koma empat menit?”
“Satu koma empat.”
Pak Wibisono mengangguk. Mencatat. Lalu pergi tanpa bilang apa-apa lagi. Tari menatap punggungnya dengan mulut terbuka.
“Kir,” bisiknya. “Pak Wibisono ngafalin angka kamu.”
“Dia orang keuangan, Tar. Dia ngafalin semua angka.”
“Dia nggak ngafalin angka aku!”
Reno tidak lagi di lantai empat. Sejak awal bulan, dia di gudang Cakung. Koordinator. Masa evaluasi enam bulan. Aku tidak melihatnya lagi di koridor, di pantry, di rapat.
Tapi hari Kamis, Kira menunjukkan ponselnya padaku. Di ruang rapat kecil, saat tidak ada orang lain.
Reno: Kir. Forklift nomor 3 di Cakung juga rusak. Ada yang bisa nyetir nomor 4?
Kira: Pak Samsul, Pak. Dia dulu operator di Tangerang sebelum pindah ke Cakung. Bisa nyetir semua tipe.
Reno: Oke. Makasih.
Lalu, satu jam kemudian:
Reno: [foto]
Foto papan tulis kecil di kantor gudang Cakung. Penuh coretan. Jadwal muat. Nomor armada. Dan di pojok kanan bawah, ditulis dengan spidol merah dan huruf kapital yang rapi, tulisan tangan Reno yang kukenal dari ribuan tanda tangan di dokumen:
RUTE GELOMBANG CAKUNG — DIADAPTASI DARI RENCANA KIRA ADITAMA.
Reno: Biar semua orang di sini tahu dari mana asalnya.
Aku menatap foto itu lama.
“Kamu bales apa?” tanyaku.
Kira menggulir ke bawah.
Kira: Makasih, Pak.
Kira: Forklift nomor 4 remnya agak keras. Bilang Pak Samsul injak pelan.
Aku tertawa. Kira tidak.
“Kenapa?” tanyaku.
“Remnya beneran keras, Bu. Pak Samsul pernah nabrak tiang.”
Hari Jumat, jam empat sore, kami turun ke lobi bersama.
Bukan bergandengan tangan. Aturan nomor satu masih berlaku di kantor. Hubungan sudah diungkapkan ke HRD, garis pelaporan sudah dipisah, tapi di gedung ini, di jam kerja, aku masih Bu Aruna dan dia masih Kira.
Tapi tidak ada aturan yang bilang dua orang tidak boleh turun ke lobi di waktu yang sama.
Pak Haris sudah menyiapkan mangkuk plastik di bawah meja jaga. Jagung berputar-putar di kakinya, mengeong. Gendut. Tari benar. Jagung gendut sekarang.
Kira membuka kaleng biru. Aku membuka kaleng biru yang lain. Kami berjongkok bersamaan di lantai lobi, dia dengan hoodie abu, aku dengan blazer, dan menuangkan dua kaleng makanan kucing ke satu mangkuk.
“Dua kaleng?” kata Pak Haris dari atas. “Jagung nanti makin gendut, Bu, Mas.”
“Dia kurus tiga minggu,” kataku. “Waktu Kira di Makassar.”
“Ibu yang kasih makan tiga Jumat itu, Bu.”
“Iya. Tapi Jagung tahu bedanya.” Aku menatap kucing kurus, yang sekarang tidak kurus lagi, yang makan dengan suara kecil-kecil seperti dengkuran. “Dia nunggu yang asli.”
Kira menatapku dari samping. Lalu, tanpa bilang apa-apa, mengulurkan tangan dan merapikan rambutku yang jatuh ke depan wajah saat aku menunduk.
Di lantai lobi. Di depan Pak Haris.
Pak Haris tidak bilang saya paham. Dia bilang hal lain.
“Akhirnya,” katanya pelan.
Sabtu pagi, jam empat lewat lima belas, aku berdiri di depan rumah kecil bercat hijau di Sokaraja.
Udara dingin. Lebih dingin dari Jakarta jam segini. Langit masih gelap. Di dapur rumah itu, lampu kuning menyala, dan bau minyak goreng bercampur gula merah memenuhi gang.
“Mbak Aruna!” Ibu Kira membuka pintu dengan celemek, kerudung cokelat, dan senyum yang sama dengan di video call. Tapi kali ini, aku bisa melihat seluruh wajahnya. Garis-garis di sudut mata. Tangan yang kasar karena tiga puluh tahun menggoreng getuk.
“Bu,” kataku. “Maaf pagi-pagi.”
“Pagi-pagi? Ini udah siang buat Ibu.” Dia tertawa. “Ibu udah goreng dua jam. Masuk, masuk. Le, ajak Mbak Aruna masuk!”
Kira berdiri di belakangku. Dengan ransel dan dua tas berisi oleh-oleh dari Jakarta: lychee tea botol, Earl Grey kalengan, dan satu kotak barongko dari Makassar yang dibungkus Daeng Sangkala dua minggu lalu dan dibekukan di kulkas kos Tebet.
“Ibu,” katanya.
“Le.” Ibu Kira menatap anaknya. Lama. Lalu, tanpa peringatan, memeluknya. Erat. Di depan pintu. Di depanku. “Kamu maju, Le. Ibu lihat di HP anak tetangga. Kamu maju.”
“Iya, Bu.”
“Ibu bangga.”
Kira tidak bilang apa-apa. Tapi aku melihat bahunya bergetar sedikit di pelukan ibunya.
Jam empat lewat empat puluh, dua sepeda tua diparkir di depan rumah.
Satu sepeda Kira, yang dia pakai dari kelas lima SD sampai lulus SMA. Catnya sudah mengelupas. Keranjang depan dari rotan. Satu sepeda lagi, sepeda Mas Bayu, anak tetangga yang sekarang mengantar getuk dengan motor, dipinjam untukku.
Di setiap keranjang, kotak plastik berisi getuk goreng yang masih hangat. Dua belas kotak.
“Kamu yakin?” tanya Kira.
“Kamu yang bilang jalannya macam-macam. Ada yang banjir kalau hujan. Ada yang pemiliknya galak kalau telat.” Aku memakai helm sepeda pinjaman. “Aku mau lihat. Rute pertama yang kamu bikin.”
Ibu Kira berdiri di pintu dapur. Menatap kami dengan senyum yang sangat lembut.
“Le,” katanya. “Warung Bu Darsih buka jam lima. Jangan sampai telat. Dia masih galak.”
“Iya, Bu.”
“Mbak Aruna.” Ibu Kira menatapku. “Kira itu dulu antar getuk sendirian. Dari kelas lima. Ibu lihat dia dari jendela dapur ini. Ibu selalu pikir dia kuat sekali. Dan sendirian sekali.”
Aku mengangguk.
“Hari ini dia nggak sendirian,” kata Ibu Kira. Suaranya pecah sedikit. “Itu aja. Ibu cuma mau bilang itu. Udah, sana. Bu Darsih galak.”
Dua belas warung. Satu jam tiga puluh lima menit.
Kira di depan. Aku di belakang. Lalu di jalan yang lebar, dia memperlambat sepedanya, dan aku menyusul, dan kami bersepeda berdampingan. Jalan desa yang gelap. Sawah di kiri-kanan. Kabut tipis di atas padi. Lampu sepeda kecil yang bergoyang.
Warung pertama, Bu Darsih. Perempuan tujuh puluhan yang menatapku dari ujung kaki sampai helm sepeda, lalu menatap Kira.
“Le Kira! Kok balik? Katanya kerja di Jakarta?”
“Pulang sebentar, Bu.”
“Ini siapa?”
“Atasan, Bu.”
Bu Darsih menatapku lagi. Lalu menatap Kira. Lalu menatap dua sepeda yang diparkir berdampingan.
“Atasan antar getuk jam lima pagi,” katanya. Dalam bahasa Jawa, yang Kira terjemahkan pelan-pelan di telingaku kemudian. “Iyo. Iyo. Aku ngerti.”
Iya. Iya. Aku paham.
Bahkan Sokaraja.
Warung kedua. Ketiga. Kelima, yang jalannya tergenang karena semalam hujan, dan Kira membelokkan kami lewat pematang sawah tanpa berpikir. Ketujuh, yang pemiliknya sakit, dan getuknya dititipkan ke warung sebelah. Persis seperti yang dia ceritakan di gerobak Pak Somad.
Rute di kepalanya. Dua belas warung. Lima belas tahun lalu. Tidak pernah berubah.
Di warung kedua belas, matahari terbit.
Bukan fajar piksel. Bukan fajar di atas atap seng di Makassar. Fajar di atas sawah Sokaraja, oranye dan emas, dengan Gunung Slamet berdiri di kejauhan dan kabut yang perlahan menghilang dari permukaan padi.
Kami berhenti di pinggir jalan. Turun dari sepeda. Berdiri berdampingan.
“Ini,” kata Kira, “yang aku lihat tiap pagi. Kelas lima sampai SMA. Abis warung kedua belas, matahari terbit di situ. Selalu.”
“Kamu lihat sendirian.”
“Iya.”
Aku mengulurkan tangan. Mengisi celah di antara jari-jarinya.
“Sekarang nggak.”
Malam itu, di kamar Kira di Sokaraja, kamar kecil dengan kasur kapuk dan meja belajar yang masih penuh buku SMA, kami membuka laptop.
Musim kedua Genesis dimulai minggu depan. Patch notes sudah keluar. Raid-raid baru. Job baru. Dan satu fitur baru yang membuat seluruh forum heboh: Custom Party Names. Parties can now set a custom name visible to all friends.
Kira sedang membaca patch notes. Serius. Mencatat di buku tulis cokelat yang baru. Dahinya berkerut di bagian raid-raid baru.
Aku membuka Genesis di laptopku sendiri. Di sebelahnya.
Membuat party baru. Dua orang.
Mengetik nama party.
Lalu mengirim undangan.
[Lychee has invited you to join a party.]
Kira, tanpa melihat, tanpa berhenti mencatat patch notes, menekan Accept. Seperti yang dia lakukan ratusan kali selama dua tahun. Setiap kali Lychee mengundang, Earl menerima. Refleks. Tanpa membaca.
[Earl has joined the party “Kira & Aruna”.]
Lalu dia membaca.
Pulpennya berhenti di atas buku tulis.
Dia menatap layar. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi.
[Party: Kira & Aruna — 2/2] [Visible to all friends.]
“Aruna,” katanya.
“Hm?”
“Ini kelihatan ke semua teman.”
“Iya.”
“Semua teman. Morning Tea. Espresso. Bastian. Black Lotus. Adiknya Tari.”
“Iya.”
“Kamu nggak nanya dulu.”
“Aku nanya. Aku kirim undangan. Kamu terima.”
“Aku nggak baca!”
“Itu bukan salah aku.” Aku tersenyum. “Aturan nomor tujuh. Aku nggak mutusin buat kamu. Aku kasih pilihan. Kamu pilih accept.”
Dia menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat. Panik. Merah sampai ke telinga. Wajah Earl yang tidak pernah panik, bahkan di depan Noctis dengan HP satu.
Ponselnya bergetar. Lalu bergetar lagi. Lalu tidak berhenti bergetar.
Grup Morning Tea:
Hojicha: PARTY NAME Genmai: “KIRA & ARUNA” 😭😭😭😭😭 Chamomile: AKU SCREENSHOT AKU SCREENSHOT Oolong: bang 🥹 Matcha: aku driver ojol 8 tahun. aku belum pernah lihat party name sejelas ini Rooibos: Alhamdulillah. Ibu udah tahu dari kopdar pertama. Darjeeling: Bapak juga, Bu. Dari ice skating. Bastian (FakeEarl): 🙏🙏🙏 abangku dan kakak iparku Sencha: 💜
Satu pesan pribadi dari Tari:
Tari: KIR. ADIKKU TERIAK. DIA LIHAT PARTY NAME. DIA TANYA “KAK, KIRA & ARUNA ITU BU DEADLINE KAKAK??” Tari: AKU BILANG IYA Tari: DIA PINGSAN Tari: nggak beneran pingsan. tapi dia tiduran di lantai lama banget
Kira meletakkan ponsel menghadap ke bawah di kasur kapuk. Menatap langit-langit kamar masa kecilnya. Menghela napas sangat panjang.
Lalu dia tertawa.
Bukan tawa kecil. Tawa yang keluar begitu saja. Keras. Kepala menunduk, tangan menutup mulut, bahu bergetar. Tawa yang belum pernah kudengar darinya.
Di balik pintu, aku mendengar Ibu Kira di dapur, berhenti mencuci piring.
“Le?” panggilnya. “Kamu ketawa?”
“Iya, Bu!”
Hening sebentar dari dapur. Lalu suara Ibu Kira, sangat pelan, ke dirinya sendiri, yang tidak dimaksudkan untuk kami dengar:
“Alhamdulillah. Anakku ketawa.”
Saat tawanya reda, Kira menatapku.
Lama.
Lalu dia membuka inventaris di layarnya. Mengarahkan kursor ke satu slot. Slot cincin.
[Oath Thread — Origin] [Status: Unbound] [Bind to one player. This cannot be undone.]
Dia tidak menekan apa pun. Dia hanya menatapnya. Lalu menutup inventaris.
Aku melihatnya. Tentu saja aku melihatnya. Aku selalu melihat sekarang.
Aku tidak bilang apa-apa.
Aturan nomor tujuh. Aku tidak memutuskan untuknya. Aku tidak mendesak. Aku tidak bertanya kapan. Kalau dia mau maju, dia yang memilih kapan. Dia yang memilih bagaimana.
Aku hanya menunggu.
Dia menutup laptop. Menatapku di bawah lampu kamar yang kuning.
“Aruna.”
“Ya?”
“Sabtu depan, kamu ada waktu?”
Pertanyaan yang sama dengan dua bulan lalu. Sebelum ice skating. Sebelum tiga senti. Pertama kalinya dia mengajak.
“Ada,” kataku.
“Malam.”
“Oke.”
“Rooftop. LNX.”
Aku menatapnya. Jantungku berdetak dengan ritme yang tidak punya nama di game mana pun.
“Ramalan cuaca?” tanyaku.
Dia mengambil ponsel. Membuka aplikasi BMKG. Membacanya dengan wajah serius, wajah dispatcher yang membaca laporan cuaca jam lima pagi.
“Hujan sore,” katanya. “Berhenti jam sepuluh.”
Aku tersenyum.
“Aku bawa jaket,” kataku.
“Aku bawa teh.”
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party reading
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit