← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Thirty Eight

Kursi di Tengah

POV: Kira

Daeng Sangkala tidak mau melepaskan tanganku.

“Mas,” katanya di depan gerbang gudang KIMA, jam lima pagi, dengan kantong plastik berisi barongko buatan istrinya di tangan kiri dan tanganku di tangan kanan. “Mas Kira janji, ya. Kalau ada Harbolnas di Makassar, Mas yang datang.”

“Janji, Daeng.”

“Pakai titik?”

Aku tertawa. Dua minggu di Makassar, dan bahkan Daeng Sangkala sudah belajar soal titik.

“Pakai titik.”

Pak Andi berdiri di belakangnya. Kemeja batik lengan pendek, kali ini dengan papan nama baru di saku: Plt. Kepala Cabang. Kak Ica di sebelahnya, memegang map berisi laporan mingguan yang cocok dengan isi gudang untuk kelima kalinya berturut-turut. Pak Hasan, Daeng Rudi, delapan belas sopir. Semua datang jam lima pagi, sebelum truk pertama, untuk mengantarku.

Ibu penjual pisang epe di bangku kayu depan gerbang sudah membungkus sepuluh pisang epe dalam kertas minyak.

“Buat di pesawat,” katanya. “Gratis. Kau masuk laporan, Ibu juga masuk laporan. Kita impas.”

Di papan tulis di kantor kecil sudut gudang, kalimat dari kepala cabang lama masih ada, spidolnya sudah hampir hilang. SABAR. PELAN-PELAN. Di bawahnya, rencana Gelombang Kapal dengan tulisan tanganku. Dan di bawahnya lagi, satu baris baru yang ditulis Pak Andi kemarin sore, dengan spidol hitam tebal:

SISTEM INI BUATAN KITA SEMUA. YANG NULIS: MAS KIRA. JANGAN DIHAPUS.


Aku mendarat di Soekarno-Hatta jam sembilan pagi waktu Jakarta. Jam sepuluh waktu Makassar. Jam tangan di pergelangan kiriku masih menunjukkan waktu Jakarta. Aku tidak pernah menyetelnya ulang. Dua minggu, aku hidup dengan dua jam di kepala.

Ponselku penuh pesan.

Grup Morning Tea:

Darjeeling: Nak, sudah mendarat? Hojicha: bang jangan lupa jam 4!!!! Genmai: kafe seduh senja!!! blok m!!! kopdar kedua!!! Chamomile: aku udah reservasi meja panjang 🥹 Rooibos: Ibu bikin rendang dua rantang. Satu buat Nak Kira sendiri. Matcha: aku driver ojol 8 tahun. aku bisa jemput lo dari bandara gratis Oolong: bang kali ini jangan telat ya, kursi abang udah disiapin 🥺 Sencha: 💜

Satu pesan pribadi dari Tari:

Tari: KIR!!!! UDAH SAMPE BELUM??? Bu Deadline ngajak aku ke acara di Blok M jam 4. Katanya “ada kejutan buat kamu, Tar”. Aku nggak tahu kejutan apa. Kamu tahu??? Kamu dateng juga???

Aku menatap pesan itu.

Tari tidak tahu.

Dua tahun duduk di sebelahku. Mendeskripsikan suaraku sebagai cowok baru bangun tidur yang mau bilang selamat pagi ke pacarnya. Membeli kaos EARL CALL tiga potong. Memintaku tanda tangan Earl buat adiknya.

Dan dia tidak tahu.

Kira: Aku dateng.

Tari: OKE!!! nanti cerita ya kamu kenapa pakai jam tangan bu deadline!!!


Aku sampai di Kafe Seduh Senja jam tiga lewat lima puluh dua.

Delapan menit lebih awal.

Aku tidak mengelilingi blok. Tidak membeli air mineral yang tidak kubutuhkan. Tidak berdiri di depan etalase toko sepatu menatap pantulan diriku sendiri.

Aku memakai kemeja biru muda. Satu-satunya yang bukan abu-abu. Yang sama dengan kopdar pertama, dan ice skating. Dan hari ini, akhirnya, aku tidak merasa seperti orang yang mau melamar kerja jadi admin gudang.

Pintu kayu berbunyi kling saat kudorong.

Meja panjang yang sama di dekat jendela. Sembilan orang sudah duduk. Pak Hendro dan Bu Hendro. Kembar, satu dengan topi terbalik, satu tanpa. Matcha dengan jaket hijau ojol. Bu Ratna dengan dua rantang. Chamomile, ponsel di tangan, tidak merekam. Sencha. Oolong, yang tidak lagi duduk paling jauh dari keramaian. Dan Bastian, konsultan pajak, di meja sebelah yang sekarang digabung ke meja panjang, dengan kaos EARL CALL yang kebesaran.

Lychee belum datang. Tari juga belum.

Aku berdiri di ambang pintu dan menatap meja itu.

Dua bulan lalu, kursi kesepuluh ada di ujung meja. Paling jauh dari pintu. Paling dekat dengan dinding. Dengan kartu nama kecil bertuliskan EARL ♛.

Hari ini, kursi itu tidak ada di ujung.

Kursi itu ada di tengah. Tepat di tengah meja panjang. Di antara Pak Hendro dan Bu Ratna. Di depannya, piring, gelas, dan kartu nama kecil, ditulis tangan dengan spidol emas:

EARL ♛ — DAWNBRINGER

Di belakang kursi itu, ditempel di sandarannya dengan selotip, sticky note ungu. Tulisan Sencha.

Kursi di tengah. Bukan di ujung. Kamu di depan sekarang.

Aku tidak bisa bergerak dari ambang pintu.

“Nak,” kata Pak Hendro, berdiri. Kaus polo TB Hendro Jaya yang sama. “Kok berdiri di situ? Masuk. Duduk.”

“Pak, kenapa di tengah?”

“Karena kamu bukan teman dari jauh lagi,” kata Bu Ratna, tersenyum. “Kamu anak Ibu.”


Aku duduk di kursi tengah.

Bu Ratna langsung menyodorkan sendok berisi rendang ke mulutku. “Buka mulut.”

“Bu, saya bisa—”

“Buka mulut, Nak. Ibu udah nunggu dua bulan buat ini.”

Aku membuka mulut.

Kembar tertawa. Chamomile memotret, tapi tidak memposting. Oolong mengulang terus, Bang di tengah, Bang di tengah, dengan suara kecilnya.

Pintu berbunyi kling.

Tari masuk duluan. Cardigan oranye, tas besar di bahu, wajah penasaran. Matanya menyapu ruangan, mencari sesuatu, mencari kejutan, lalu berhenti di meja panjang.

Di aku.

Di kursi tengah.

Di kartu nama EARL ♛ — DAWNBRINGER di depanku.

“Kir?” katanya. “Kamu ngapain duduk di—”

Matanya turun ke kartu nama. Naik ke wajahku. Turun lagi ke kartu nama.

“...Earl?”

Hening di kafe.

Tari menatapku. Menatap jam tangan Bu Deadline di pergelangan kiriku. Menatap sembilan orang yang memakai kaos EARL CALL. Menatap Chamomile, streamer yang dia tonton tiga kali, duduk di meja yang sama denganku.

“Kira,” katanya pelan. Bukan bisikan Tari. Pelan sungguhan. “Kamu Earl?”

“Iya, Tar.”

“Earl yang... Unknown Origin Holder?”

“Iya.”

“Earl yang... First Dawn? Dawnbringer? Yang adikku nonton empat puluh kali? Yang suaranya kayak cowok baru bangun tidur yang mau bilang selamat pagi ke—”

“Iya, Tar.”

Tari menatapku selama lima detik penuh. Lalu tasnya jatuh dari bahunya. Lalu dia jatuh ke kursi kosong di sebelah Matcha. Lalu dia menutup wajah dengan dua tangan dan mengeluarkan suara yang tidak bisa dideskripsikan, setengah jeritan, setengah tawa, setengah tangis.

“Dua tahun,” katanya dari balik tangan. “Dua tahun aku duduk sebelah Unknown Origin Holder. Aku bilang dia kayak Wi-Fi. Aku minta dia minta tanda tangan dirinya sendiri buat adikku.”

“Aku belum kasih tanda tangan,” kataku.

“KIR!”

Seluruh meja tertawa. Bastian paling keras. Dia mengangkat tangan ke Tari dengan wajah penuh simpati.

“Mbak,” katanya. “Saya juga pernah ngalamin. Saya disuapin rendang tiga kali karena dikira dia.”

Tari menatap Bastian. “Kamu Fake Earl?”

“Fake Earl, Mbak.”

“Ya ampun.” Tari menatap meja. “Ya ampun. Ya ampun.”

Matcha menepuk bahunya. “Mbak. Aku driver ojol delapan tahun. Aku tahu rasanya baru sadar sesuatu yang dari dulu ada di depan mata.”


Pintu berbunyi kling lagi.

Aku tidak perlu menoleh. Aku tahu dari cara udara di kafe berubah. Dari cara Bu Ratna tiba-tiba sibuk merapikan rantang. Dari cara Chamomile menurunkan ponselnya. Dari cara Sencha tersenyum ke arah pintu.

Aku menoleh.

Aruna berdiri di ambang pintu.

Bukan blazer. Bukan kemeja kantor. Gaun sederhana warna biru muda, seperti kemejaku, sampai ke lutut. Rambut digerai. Sneakers putih. Di bahunya, tas kecil, dan di dalam tas itu, aku tahu, payung lipat hitam dengan gagang kayu.

Pergelangan kirinya kosong.

Dia menatapku. Di kursi tengah. Dengan rendang di sudut bibir.

Lalu dia tersenyum. Senyum kafe. Senyum yang sama dengan dua bulan lalu, saat dia keluar dari toilet dan duduk di kursi Lychee dan menutup kamera Chamomile dengan telapak tangan.

Tapi kali ini dia tidak menutup kamera siapa pun.

Dia berjalan ke meja. Kursi di sebelah kananku kosong. Bu Ratna, yang tadinya duduk di sana, sudah pindah ke ujung meja tanpa ada yang menyuruh.

Aruna duduk.

“Kamu nggak telat,” katanya.

“Delapan menit lebih awal.”

“Kamu nggak muterin blok?”

“Nggak.”

“Kemajuan.”

“Iya.”

Dia menatap kartu nama di depanku. EARL ♛ — DAWNBRINGER. Lalu menatap sticky note ungu di sandaran kursiku. Kamu di depan sekarang.

Lalu dia menatap Tari, yang masih menutup wajah dengan dua tangan di seberang meja.

“Tari udah tahu?” bisiknya.

“Barusan.”

“Gimana reaksinya?”

“Kamu lihat sendiri.”

Aruna menatap Tari. Lalu tertawa. Pelan. Tangan menutup mulut.


Kami makan. Rendang Bu Ratna. Nasi goreng. Kentang goreng. Chamomile membagikan sisa kaos EARL CALL / LYCHEE EKSEKUSI yang belum terjual ke Tari, yang memakainya langsung di atas kardigan oranyenya. Kembar menceritakan ulang fase final First Dawn dari sudut pandang mereka, dengan efek suara. Pak Hendro mengangkat gelas es teh dan bilang untuk keluarga tiga kali, dan setiap kali, semua orang mengangkat gelas lagi.

Sepanjang makan, tangan Aruna ada di bawah meja. Di atas tanganku. Jari-jarinya mengisi celah di antara jari-jariku.

Tidak ada yang melihat. Atau semua orang melihat dan pura-pura tidak.

Jam enam sore, saat matahari mulai turun dan lampu kafe dinyalakan, Pak Hendro mengetuk gelasnya dengan sendok.

“Anak-anak,” katanya. “Bapak mau ngomong serius sebentar.”

Semua diam. Seperti dua bulan lalu, di malam Leviathan.

“Dua bulan lalu, Bapak ngajak kopdar karena Bapak pengen ketemu kalian. Dan Bapak ketemu. Dan kita salah kira Earl. Dan Bapak nyuapin orang asing.” Dia menatap Bastian. “Maaf, Nak.”

“Nggak apa-apa, Pak. Rendangnya enak.”

“Tapi hari ini,” lanjut Pak Hendro, “Bapak nggak mau ngomong. Bapak mau dengar.” Dia menatapku. “Nak. Dua tahun kamu nggak pernah ngomong di depan kita. Selalu di belakang. Selalu lewat Haste. Hari ini, kamu di kursi tengah.”

Dia duduk.

Sembilan orang. Sepuluh, dengan Tari. Sebelas, dengan Bastian. Dua belas, dengan Bu Hendro. Semua menatapku.

Aku tidak bisa bergerak.

Tangan Aruna, di bawah meja, meremas tanganku. Sekali.

Lalu dia mengetuk punggung tanganku dengan jari telunjuknya. Satu, dua, tiga.

Ritme Haste.


Aku berdiri.

Dari kursi tengah. Di depan meja panjang. Di Kafe Seduh Senja, Blok M, tempat dua bulan lalu aku duduk di ujung dan berharap tidak ada yang melihat.

“Aku nggak pinter ngomong,” kataku. Suaraku pelan. Lalu aku menarik napas, dan membuatnya lebih keras. “Aku nggak pinter ngomong. Dua tahun aku cuma bisa ngomong pakai Haste. Pakai Barrier. Pakai ping ungu.”

Sencha tersenyum.

“Aku pikir itu cukup. Aku pikir kalau aku bikin kalian kuat, aku nggak perlu ada di depan. Aku pikir kalau aku ada di belakang, nggak ada yang perlu lihat aku. Dan itu lebih gampang.”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Terus Pak Hendro ngajak kopdar. Terus Bu Ratna nyuapin aku rendang. Terus Oolong minta maaf karena ngusir aku dari kursiku sendiri. Terus Sencha cerita ke semua orang soal ping ungu. Terus Matcha nganterin aku jam setengah tiga pagi pas Harbolnas, nggak mau dibayar. Terus Chamomile ngelamar aku di depan dua ratus ribu orang.”

Chamomile menutup wajah. “Jangan dibahas!”

“Terus kembar bikin lagu kemenangan yang nggak ada nadanya. Terus Bastian latihan tiga minggu jadi enchanter cuma buat bilang yang asli harus pulang.” Bastian mengangkat jempol, matanya berkaca-kaca. “Terus Tari bela aku di depan dua dispatcher waktu semua orang ngomong di belakang.”

Tari mengusap mata dengan kaos EARL CALL.

“Dan aku sadar,” kataku. “Kalian nggak pernah butuh aku di belakang. Kalian butuh aku di sini. Di meja. Di kursi tengah.”

Aku menatap Pak Hendro.

“Bapak bilang keluarga juga ngasih balik. Aku dua tahun nggak tahu caranya nerima. Sekarang aku belajar.”

Pak Hendro tidak menjawab. Dia hanya mengangguk, cepat, sambil menatap langit-langit kafe supaya air matanya tidak jatuh. Bu Hendro mengusap punggungnya.


Lalu aku berbalik.

Ke kanan. Ke kursi di sebelah kursiku. Ke perempuan bergaun biru muda dengan rambut tergerai dan pergelangan kiri yang kosong.

Aruna menatapku. Tidak tersenyum. Tidak menunduk. Hanya menatap, dengan mata yang sudah tidak lagi menyipit seperti di kantor.

Aku melepas jam tangan dari pergelangan kiriku. Jam pria. Kulit cokelat. Terlalu besar.

“Kamu bilang pinjam,” kataku. “Sampai aku pulang.”

“Iya.”

“Aku pulang.”

Aku mengulurkan tangan. Dia mengulurkan pergelangan kirinya. Aku memasang jam tangan Papa-nya di sana. Mengencangkan talinya. Jarum detiknya bergerak. Satu, dua, tiga.

Seluruh meja diam.

“Aruna,” kataku.

Bukan Bu. Bukan Lychee. Di depan dua belas orang. Di kafe yang sama.

“Dua bulan lalu kamu berdiri di depan aku di sini. Kamu suruh aku ketuk meja. Kamu bilang kamu Earl. Kamu orang pertama yang lihat aku.”

Dia tidak bergerak.

“Dua tahun aku bilang buff dulu, baru maju ke semua orang. Tiap raid. Tiap malam. Aku nggak pernah maju. Aku pikir buff itu buat orang lain.”

Aku menarik napas.

“Tapi kamu nge-buff aku. Pakai sticky note. Pakai nasi goreng dua telur. Pakai bubur tanpa sambal. Pakai payung kecil papa kamu. Pakai rapier yang jaga punggung aku di jembatan Valkyr. Pakai pesawat ke Makassar.”

Suaraku pecah sedikit. Aku tidak berhenti.

“Aku udah di-buff kamu, Aruna. Sekarang aku yang maju.”

Hening.

Satu detik. Dua detik. Lima detik.

Tidak ada yang bersuara di kafe itu. Bahkan pelayan di balik bar berhenti menuang kopi.

“Aku cinta kamu,” kataku. “Bukan Earl ke Lychee. Kira ke Aruna.”


Dia berdiri.

Kursinya bergeser. Dia melangkah satu kali. Jarak di antara kami sekarang sepuluh senti.

Chamomile, refleks, mengangkat ponselnya.

Aruna, tanpa menoleh, mengangkat satu tangan dan menutup kamera Chamomile dengan telapak tangannya. Persis seperti dua bulan lalu.

“Jangan rekam aku,” katanya.

Chamomile tertawa sambil menangis. “Iiih, Lychee galak.”

Aruna diam sebentar. Telapak tangannya masih menutup kamera.

Lalu dia menurunkannya.

“Oke,” katanya pelan. “Yang ini boleh.”

Lalu dia menatapku. Matanya basah. Senyumnya bukan senyum kafe, bukan senyum yang buru-buru disembunyikan, bukan senyum Head of Operations. Senyum yang belum pernah kulihat. Senyum orang yang tidak lagi perlu menahan apa pun.

“Aku juga,” katanya. “Aruna ke Kira. Dari kafe ini. Dari ketukan jari kamu. Dari dulu.”

Lalu dia maju. Sepuluh senti jadi nol.

Ciumannya di depan dua belas orang. Di bawah lampu kafe yang kuning. Di depan meja panjang dengan rendang, kentang goreng, kaos EARL CALL, dan kartu nama EARL ♛ — DAWNBRINGER di kursi tengah.

Tidak pendek seperti di rooftop. Tidak tergesa. Aku tidak menghitung. Dia juga tidak.

Di belakang kami, seseorang menjatuhkan sendok. Pasti Pak Hendro. Lalu seseorang terisak keras. Pasti Bu Ratna. Lalu kembar berteriak BAAAANG dalam paduan suara yang, untuk pertama kalinya dalam sejarah Morning Tea, entah bagaimana, bernada.

Oolong bertepuk tangan. Lalu Bastian. Lalu Matcha. Lalu seluruh meja. Lalu, entah kenapa, seluruh kafe, termasuk pelayan di balik bar, dan dua pengunjung di meja sebelah yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.

Tari tidak bertepuk tangan. Dia menangis ke kaos EARL CALL dan bilang berulang-ulang, aku nggak lihat apa-apa, aku nggak lihat apa-apa, padahal dia melihat semuanya.

Sencha mengetik di ponselnya dan menunjukkan layarnya ke seluruh meja:

Akhirnya ada yang maju duluan.

💜


Saat kami akhirnya menjauh, Aruna tidak membuka mata. Dahinya bersandar di daguku.

“Frame berapa?” bisiknya.

“Aku nggak hitung.”

“Lagi?”

“Lagi.”

Dia tertawa. Pelan. Ke kemeja biru mudaku.

“Kira.”

“Ya?”

“Kamu di kursi tengah.”

“Iya.”

“Kamu maju.”

“Iya.”

“Dan kamu nggak telat.”

“Delapan menit lebih awal.”

Dia mengangkat kepala. Menatapku. Di pergelangan kirinya, jam tangan Papa-nya berdetak.

“Lain kali,” katanya, “jangan kalah sama aku soal siapa yang dateng duluan.”

“Lain kali kapan?”

Dia tersenyum. Lalu berbalik ke meja. Ke dua belas orang yang masih menatap kami dengan wajah basah. Ke Bu Ratna yang sudah menyiapkan sendok rendang berikutnya.

“Lain kali,” katanya, “kamu yang tentuin.”

Aku menatap pergelangan tanganku yang sekarang kosong. Lalu menatap inventaris di kepalaku. Satu slot. Satu cincin. Unbound.

Bind to one player. This cannot be undone.

Lain kali.

Aku sudah tahu kapan.