← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Twenty Six

Surat Mutasi

POV: Kira

Aku menulis surat itu jam empat pagi, di kamar kos, dengan lampu meja dan Earl Grey yang belum diseduh.

Aku tidak tidur. Aku mencoba. Aku berbaring di kasur busa, menatap noda bocor berbentuk Sulawesi di langit-langit, dan menghitung. Seperti biasa. Bukan cooldown. Bukan jarak tempuh. Kali ini aku menghitung harga.

Satu dispatcher pindah enam bulan ke Makassar. Biaya tiket pesawat. Biaya kos di sana. Gaji yang sama. Dispatcher lain di Jakarta bisa menutup pekerjaanku dalam seminggu, karena semua catatanku ada di papan rute dan di folder bersama. Kerugian perusahaan: hampir nol.

Satu Head of Operations mundur. Head of Operations termuda dalam sejarah perusahaan. Empat tahun membangun divisi. Hafal nama tiga ratus sopir dan vendor ban di Cikarang. Kalau dia mundur, siapa yang menggantikan? Reno? Kerugian perusahaan: besar. Kerugian dia: lebih besar.

Satu tambah satu. Angkanya jelas.

Aku menyalakan laptop dan membuka dokumen kosong.


Kepada Yth. Ibu Sinta Rahayu HRD PT Lintas Nusa Ekspres

Dengan hormat,

Menindaklanjuti email Ibu tertanggal kemarin, dengan ini saya menyatakan:

1. Saya mengundurkan diri dari pencalonan posisi Strategic Planning Lead.

2. Saya bersedia menjalani rotasi penugasan ke Cabang Makassar selama enam bulan, terhitung secepatnya.

3. Keputusan ini saya ambil sendiri. Ibu Aruna Lestari tidak terlibat dan tidak mengetahui keputusan ini sebelum surat ini diajukan.

Demikian surat ini saya buat dengan sadar.

Aku berhenti di baris tanda tangan.

Biasanya, di surat resmi, cukup nama. Tapi aku mengetik lebih panjang. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku ingat lift itu. Malam itu, berbulan-bulan lalu. Pertanyaan yang diucapkan dengan sopan, tanpa ingin tahu, lalu dilupakan dalam sepuluh detik.

Hormat saya,

Kira Aditama Dispatcher, Divisi Operasional Meja ketiga dari jendela, ruang kontrol lantai empat

Aku menatap baris terakhir itu lama.

Meja ketiga dari jendela.

Itu bukan informasi yang dibutuhkan HRD. Bu Sinta punya data karyawan. Dia tidak perlu tahu di mana aku duduk.

Tapi suatu hari, surat ini akan sampai ke Aruna. Dan aku mau dia membacanya. Aku mau dia tahu persis siapa yang menulisnya. Nama lengkap. Jabatan. Tempat duduk. Semua yang dulu tidak dia ketahui.

Biar Ibu ingat.

Aku mencetak surat itu di printer kecil di sudut kamar, satu-satunya barang mahal yang kubeli tahun lalu. Tanda tangan dengan pulpen hitam. Lipat tiga. Masukkan ke amplop putih.

Lalu aku menyeduh Earl Grey dan meminumnya sambil menatap matahari terbit dari jendela kos yang menghadap tembok tetangga.

Pahit. Bergamot di belakangnya.

Aku selalu ada di belakang. Aku memilih itu. Dua puluh tujuh tahun, aku memilih itu.

Jadi kenapa kali ini terasa seperti mundur, bukan memilih?


Aku sampai di kantor jam enam lewat empat puluh. Lebih pagi dari biasanya.

Bukan untuk menyiapkan laporan cuaca. Untuk menyerahkan amplop putih ke meja Bu Sinta sebelum Aruna datang.

Lantai tujuh, ruang HRD. Lampunya sudah menyala. Bu Sinta sudah di mejanya. Dia selalu datang jam enam setengah, kata Pak Haris. Dia orang yang paling pagi di gedung ini, selain aku.

“Sdr. Kira.” Dia menatapku dari balik kacamata, tidak terkejut. “Pagi sekali.”

“Saya mau menyerahkan ini, Bu.”

Dia membuka amplop. Membaca. Lama. Matanya berhenti di baris terakhir, di bawah tanda tanganku. Meja ketiga dari jendela.

“Sdr. Kira,” katanya pelan. “Ibu Aruna sudah tahu soal ini?”

“Belum, Bu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau dia tahu, dia akan coba hentikan.”

Bu Sinta melepas kacamata. Menatapku tanpa kacamata, dan untuk pertama kalinya aku melihat bahwa matanya lebih lembut dari yang kukira.

“Kemarin di lantai sembilan,” katanya, “Ibu Aruna bilang dia yang akan mundur.”

Aku tahu. Aku sudah menebaknya. Aku menebaknya sejak dia mengirim hari ini berat, besok aku cerita semuanya. Aruna tidak pernah bilang hari ini berat. Head of Operations tidak pernah bilang hari ini berat.

“Iya, Bu,” kataku. “Makanya saya datang sebelum dia.”

Bu Sinta menatap surat itu sekali lagi. Lalu meletakkannya di map.

“Pak Darmawan harus menyetujui,” katanya. “Rotasi ke cabang butuh tanda tangan direktur. Paling cepat besok.”

“Saya bisa berangkat Minggu, Bu.”

“Minggu ini?”

“Makin cepat, makin baik. Biar masalahnya selesai.”

Bu Sinta tidak bilang apa-apa lagi. Dia memakai kacamatanya kembali. Wajahnya kembali datar.

“Saya proses,” katanya.

Saat aku di pintu, dia memanggil.

“Sdr. Kira.”

“Ya, Bu?”

“Meja ketiga dari jendela.” Dia tidak menatapku. Dia menatap map. “Saya akan pastikan itu tetap tertulis di arsip.”


Jam sembilan, Reno memanggilku ke pantry.

Sama seperti Senin. Dia berdiri di dekat jendela yang menghadap tol Cawang. Kopi di tangan. Kemeja biru tua yang kemarin. Belum diganti.

“Kamu udah mikir?” tanyanya. “Tawaran saya kemarin.”

“Udah, Pak.”

“Terus?”

“Saya mundur dari kandidat.”

Reno menatapku. Sudut bibirnya naik sedikit. Senyum yang dia pakai saat klien menandatangani kontrak.

“Keputusan yang bijak, Kir. Nanti saya bilang ke HRD kalau rekomendasinya—”

“Saya mundur, Pak,” kataku. “Tapi saya nggak terima tawaran Bapak.”

Senyumnya membeku.

“Saya juga minta rotasi ke Makassar. Enam bulan. Saya udah serahin suratnya ke Bu Sinta tadi pagi.” Aku menatap tumbler di tanganku. “Saya mundur bukan buat Bapak. Saya mundur buat orang lain.”

Reno diam. Lama. Di luar jendela, truk-truk tangki melintas di tol layang. Satu, dua, tiga.

“Kamu nggak perlu ke Makassar,” katanya akhirnya. Suaranya berubah. Tidak lagi suara supervisor. Lebih pelan. Lebih... ragu. “Kalau kamu mundur dari kandidat, masalahnya selesai. Nggak perlu ada yang pindah.”

“Masalahnya belum selesai, Pak. Selama saya di bawah Bu Aruna, salah satu dari kami harus pindah. Itu keputusan direksi.”

“Kalau gitu dia yang pindah. Dia yang nggak melapor. Dia yang salah.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku menatap Reno Wicaksono langsung di mata. Tanpa menunduk. Tanpa sticky note di antara kami.

“Pak,” kataku. “Bapak yang kirim email itu.”

Dia tidak menjawab.

“Bapak yang duduk di sofa lobi dari setengah sepuluh. Bapak yang berhenti di ujung ramp basement. Bapak yang whisper saya pakai nama asli setelah semifinal.”

Reno tidak bergerak. Kopi di tangannya bergetar sedikit.

“Saya nggak akan bilang ke siapa-siapa,” lanjutku. “Saya nggak akan lapor HRD. Saya nggak akan lapor direksi. Bapak yang ngajarin saya baca pola tol. Bapak yang setujuin cuti saya waktu Ibu sakit. Saya ingat itu. Saya nggak lupa.”

“Kir—”

“Tapi Bapak juga yang baca sticky note saya keras-keras di rapat. Dua tahun. Bapak yang tanda tangan rencana gelombang saya. Bapak yang balas email terima kasih buat paket yang saya urus.” Suaraku tidak naik. Tetap datar. Seperti orang membaca jadwal kereta. “Dua-duanya benar, Pak. Saya cuma nggak tahu harus gimana megang dua-duanya.”

Aku meletakkan tumbler di meja pantry.

“Jadi saya pergi. Biar Bapak nggak perlu megang apa-apa lagi.”

Aku keluar dari pantry. Tidak menoleh.

Di belakangku, tidak ada suara. Bahkan bunyi gelas kopi diletakkan pun tidak.


Aku tidak bertemu Aruna sepanjang hari.

Itu tidak sulit. Aku tahu jadwalnya. Rapat direksi jam sepuluh. Telepon vendor jam satu. Kunjungan ke gudang Cakung jam tiga, yang sudah dijadwalkan sejak minggu lalu. Dia tidak akan ada di lantai empat sampai jam enam.

Jam empat sore, dia mengirim pesan.

Aruna: Malam ini kamu ada waktu? Aku mau cerita. Yang kemarin aku janjiin.

Aku menatap pesan itu sangat lama.

Kira: Malam ini aku lembur. Besok aja?

Aruna: Lembur apa? Proyek Q1 kan dibekukan.

Kira: Beresin catatan buat dispatcher lain.

Itu benar. Itu bukan bohong. Aku memang membereskan catatan. Hanya saja, aku tidak bilang kenapa dispatcher lain butuh catatanku.

Aruna: Oke. Besok.

Aruna: Jangan lupa makan.

Aku meletakkan ponsel menghadap ke bawah. Lalu mengambilnya lagi. Lalu meletakkannya lagi.


Jam sembilan malam, ruang kontrol kosong.

Aku duduk di meja ketiga dari jendela. Menulis.

Catatan untuk Mas Fajar: Pak Darto berangkat jam 04.00, antar anak jam 06.00. Pak Udin suka lewat Kalimalang, cek tiang cat merah. C-22 Pak Darto nggak angkat telepon pas nyetir, chat aja.

Catatan untuk Mbak Ayu: Forklift Tangerang nomor 2 suka rusak. Nomor 3, Pak Joko bisa nyetir. Klien Mega Retail suka nelepon jam 3 sore, siapin posisi armada sebelum jam 3.

Catatan untuk Tari: Jagung makan tiap Jumat. Merek yang kaleng biru. Pak Haris tahu tokonya.

Aku menempel catatan-catatan itu di papan rute. Di pinggir. Di tempat yang tidak menutupi peta.

Lalu aku membuka laptop dan menulis dokumen terakhir.

Bukan untuk kantor. Untuk Morning Tea.

Catatan Earl — Untuk Raid Tanpa Earl

Tiga puluh empat halaman. Leviathan, Cathedral, Hydra, Mirror Queen, guild war. Setiap fase. Setiap jebakan. Setiap urutan skill. Setiap tempo. Setiap ping ungu untuk Sencha, dengan instruksi cara memasangnya dari menu party.

Dan di setiap raid, satu bagian di akhir. Judulnya selalu sama.

Kalau aku nggak ada.

Di bagian Mirror Queen, aku menulis lebih panjang.

Fase 3 nggak bisa tanpa Origin. Aku udah coba hitung 40 skenario. Nggak ada yang tembus. Kalau sampai sini, mundur. Jangan wipe sembilan kali. Jangan ada yang berhenti hitung di angka tiga.

Lychee: aturan nomor enam tetap berlaku. Dari jauh juga bisa.

Aku membaca kalimat terakhir itu lama. Lalu menyimpan dokumen. Membagikan aksesnya ke Sencha. Hanya ke Sencha.

Earl: sencha. aku titip sesuatu.

Sencha: apa?

Earl: dokumen. kasih ke lychee kalau dia mimpin raid. jangan sebelum itu.

Sencha: kenapa nggak kamu kasih sendiri?

Earl: karena aku nggak bakal di sana.

Lama tidak ada balasan.

Sencha: kamu mau ke mana?

Earl: jauh. sebentar.

Sencha: dia tahu?

Aku tidak menjawab.

Sencha: kira.

Sencha: aku nggak bisa dengar. jadi aku baca. tiga tahun aku baca kamu. waktu kamu bikin ping ungu buat aku pertama kali, sebelum morning tea ada, sebelum kamu ketemu siapa-siapa, aku baca kamu.

Sencha: kamu orang paling baik yang aku kenal.

Sencha: tapi kamu nggak pernah baca diri kamu sendiri.

Aku menatap layar. Mataku panas.

Earl: jaga mereka.

Sencha: 💜


Jam sepuluh malam, aku menulis di grup chat Morning Tea.

Earl: semuanya.

Earl: aku keluar party sementara.

Earl: bukan karena kalian. bukan karena siapa-siapa. aku cuma harus pergi jauh sebentar. urusan kerja.

Earl: final guild war minggu depan, aku nggak bisa ikut. maaf.

Earl: sencha punya catatan. kalian bisa.

Satu detik. Dua detik. Lalu grup itu meledak.

Hojicha: BANG Genmai: BANG KENAPA Oolong: bang jangan bang 😭 Chamomile: EARL KAMU NGGAK BOLEH PERGI KITA BARU MASUK FINAL Matcha: bro. lo baik2 aja? Rooibos: Nak Kira, kamu kenapa? Ibu telepon ya? Darjeeling: Nak. Telepon Bapak. Sekarang.

Aku tidak menelepon siapa pun.

Lychee tidak menulis apa-apa di grup. Namanya di daftar anggota masih menyala hijau. Dia membaca. Aku tahu dia membaca.

Lalu namanya berubah abu-abu.

Dia log out.

Aku meninggalkan party.

[Earl has left the party “Morning Tea”.]

Notifikasi itu muncul di layar sembilan orang secara bersamaan. Aku membayangkan wajah mereka. Pak Hendro di toko bangunan. Bu Ratna di dapur. Oolong di kamar asrama. Kembar di kamar dengan kasur susun. Matcha di atas motor. Chamomile di depan kamera. Sencha di depan layar, membaca.

Dan Aruna, di apartemen di Kebayoran, dengan laptop yang baru saja dia tutup.


Malam itu, aku menelepon Ibu.

“Le? Jam segini? Ada apa?”

“Bu. Aku dipindah ke Makassar. Enam bulan.”

Hening di telepon. Lalu suara wajan diletakkan.

“Kok tiba-tiba?”

“Kerjaan, Bu.”

“Makassar jauh, Le.”

“Iya, Bu.”

“Mbak Aruna tahu?”

Aku diam.

“Le.”

“Belum, Bu.”

Ibu tidak bilang apa-apa lama. Aku bisa mendengar suara televisi di belakangnya, sinetron jam sepuluh malam. Suara jangkrik dari pekarangan.

“Le,” katanya akhirnya. Suaranya lembut, lembut seperti saat aku kelas empat dan Bapak baru dimakamkan. “Kowe kuwi kawit cilik senengane ngalah. Ibu ngerti. Tapi ngalah kuwi ora mesti ninggal.”

Kamu itu dari kecil sukanya mengalah. Ibu ngerti. Tapi mengalah itu nggak harus pergi.

Aku tidak bisa menjawab.

“Mbak Aruna bawain kamu bubur pas kamu sakit,” lanjut Ibu. “Mbak Aruna bilang dia titip kamu. Kalau kamu pergi tanpa bilang, Mbak Aruna titip ke siapa?”

“Aku nggak mau dia mundur gara-gara aku, Bu.”

“Le. Kamu tanya dia nggak, dia mau mundur atau nggak?”

Aku diam.

“Nah,” kata Ibu. Bukan marah. Hanya sedih. “Kamu ngitung buat dia. Dari dulu kamu ngitung buat semua orang. Tapi kamu nggak pernah tanya mereka mau diitungin atau nggak.”

Telepon itu selesai jam sebelas. Aku tidak ingat apa yang kukatakan setelahnya.

Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit.

Selalu di belakang. Itu tempatku. Aku sudah memilihnya sejak sepeda dan dua belas warung. Aku memilihnya lagi malam ini.

Tapi untuk pertama kalinya dalam dua puluh tujuh tahun, aku tidak yakin itu pilihanku. Rasanya lebih seperti kebiasaan yang terlalu lama tidak pernah kupertanyakan.

Dan di sudut layar ponselku, sebelum aku mematikannya, ada satu notifikasi dari Genesis yang tidak kubuka.

[Lychee has sent you a whisper.]

Aku tidak membukanya.

Kalau aku membukanya, aku tidak akan bisa pergi.