Chapter Nineteen
Tiga Senti
POV: Kira
Aruna belum pernah naik KRL.
Aku tahu itu dalam sepuluh detik pertama di Stasiun Kebayoran, saat dia berdiri di depan gerbang tiket dan menatap mesin tap seperti menatap boss raid yang mekaniknya belum ada di guide.
“Kartunya ditempel di sini,” kataku.
“Aku tahu.”
“Kamu belum tempel.”
“Aku lagi baca petunjuknya.”
“Petunjuknya cuma gambar tangan pegang kartu.”
“Aku lagi baca gambarnya dengan saksama.”
Dia menempelkan kartu yang kubelikan lima menit sebelumnya. Gerbang berbunyi bip. Palangnya terbuka. Dia melangkah melewatinya dengan wajah kemenangan seorang Head of Operations yang baru saja menutup kontrak senilai satu miliar.
Sabtu sore, jam empat lewat sepuluh. Dia memakai kaus putih, kardigan biru muda, celana jeans, dan sneakers putih. Rambutnya digerai. Jam tangan Papa-nya di pergelangan kiri. Di bahunya tergantung tas kecil, dan di dalam tas itu, aku yakin, ada payung lipat hitam dengan gagang kayu.
Aku memakai kemeja biru muda. Kemeja yang sama dengan kopdar. Satu-satunya yang kupunya.
Dia memperhatikannya. Aku tahu dia memperhatikannya karena dia menatap kerahku dua detik terlalu lama, lalu tersenyum, lalu tidak mengatakan apa-apa.
Di dalam kereta, ada satu kursi kosong.
“Duduk,” kataku.
“Kamu duduk.”
“Kamu tamu.”
“Kamu dispatcher. Kamu berdiri delapan jam di depan papan rute pas Harbolnas.”
“Kamu atasan.”
“Bukan hari ini,” katanya. “Hari ini aku cuma penumpang yang nggak bisa baca gambar tangan.”
Seorang ibu dengan dua anak kecil naik di stasiun berikutnya. Kami berdua berdiri bersamaan, memberi kursi itu, lalu saling menatap dan tertawa, dan ibu itu menatap kami dengan senyum yang sudah sangat kukenal dari Bu Ratna, Bu Wati, dan Pak Somad.
Kami berdiri berdampingan, memegang gantungan yang sama. Kereta berguncang di setiap sambungan rel. Setiap kali berguncang, bahunya menyentuh lenganku.
“Kita mau ke mana?” tanyanya untuk ketiga kalinya.
“Rahasia strategi.”
“Kira.”
“Lima stasiun lagi.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu waktu tempuh. Itu jawaban versi dispatcher.”
Dia memicingkan mata. Lalu, tanpa peringatan, dia mengetuk lenganku dengan jari telunjuknya. Satu, dua, tiga.
Ritme Haste. Di lenganku. Di gerbong KRL penuh orang.
Aku lupa cara berdiri tegak selama satu stasiun penuh.
Arena ice skating itu ada di lantai empat sebuah mal di Jakarta Barat. Lapangan es oval, dikelilingi pagar kaca, dengan lampu-lampu biru di langit-langit yang membuat semuanya terlihat seperti dunia lain. Musik pop dari speaker. Anak-anak kecil berputar-putar dengan mudah. Pasangan-pasangan berpegangan tangan di pinggir. Udara dingin menusuk dari pintu masuk.
Aruna berhenti di depan loket sewa sepatu.
“Ice skating,” katanya.
“Iya.”
“Kamu bisa ice skating?”
“Nggak.”
Dia menoleh, menatapku. “Kamu ngajak aku ke tempat yang kamu nggak bisa?”
“Kamu juga nggak bisa, kan?”
“Nggak.”
“Itu intinya.”
Dia menunggu penjelasan. Aku menatap lapangan es. Mencari kata-kata yang sudah kususun di kos semalam, di KRL tadi, di kepalaku sepanjang minggu.
“Di game,” kataku, “kamu selalu di depan. Aku selalu di belakang. Di kantor, kamu di depan. Aku di belakang. Di mana-mana, ada yang di depan, ada yang di belakang.”
“Terus?”
“Di sini nggak ada yang bisa di depan. Kita dua-duanya nggak bisa. Dua-duanya bakal jatuh.” Aku mengangkat bahu. “Aku pengen sekali-sekali ada di tempat yang kita sama-sama nggak tahu harus ngapain.”
Aruna diam. Lama.
Lalu dia berbalik ke loket. “Sepatu ukuran tiga puluh delapan,” katanya ke petugas. “Dan satu lagi buat dia.”
“Empat puluh dua,” kataku.
“Empat puluh dua,” ulangnya. Lalu menoleh dan berbisik, “Kamu tahu itu kalimat paling romantis yang pernah aku dengar di depan loket sewa sepatu?”
Lima menit pertama di atas es, kami berdua berpegangan pada pagar kaca seperti dua kucing yang dilempar ke kolam.
“Ini nggak masuk akal,” kata Aruna. Kakinya bergerak ke dua arah berbeda. “Kenapa permukaannya licin? Siapa yang mutusin olahraga ini harus di atas permukaan licin?”
“Itu definisinya.”
“Definisinya bodoh.”
Seorang anak perempuan, mungkin tujuh tahun, meluncur di depan kami dengan anggun, berputar sekali, dan meluncur pergi. Aruna menatapnya dengan wajah yang sama dengan saat dia menatap laporan rugi.
“Aku dikalahin anak SD,” gumamnya.
“Dia mungkin udah latihan bertahun-tahun.”
“Aku juga udah bertahun-tahun hidup. Harusnya aku bisa berdiri.”
Aku melepas satu tangan dari pagar. Menatap kakiku. Menatap kaki anak-anak yang meluncur. Menghitung.
Berat badan harus di depan. Lutut ditekuk. Satu kaki mendorong ke samping, bukan ke belakang. Pindah berat badan, kaki lain mendorong. Seperti animasi lari karakter di game, tapi diperlambat. Ritmenya satu, dua. Satu, dua.
Aku melepas tangan satunya.
Aku meluncur. Satu meter. Dua meter. Lima meter.
“KIRA?!”
Aku berbalik, pelan, dan meluncur kembali ke arahnya. Tidak anggun. Kakiku masih kaku. Tapi aku tidak jatuh.
Dia menatapku dengan mulut terbuka. “Kamu bilang kamu nggak bisa.”
“Tadi nggak bisa.”
“Kamu belajar dalam tiga menit?”
“Aku lihat anak-anak. Ada polanya. Satu, dua. Kayak cooldown.”
“Kamu curang.”
“Aku cuma baca animasi.”
Aku mengulurkan tangan. Dia menatap tangan itu. Lalu menatap wajahku. Lalu, pelan sekali, melepas satu tangan dari pagar dan meletakkannya di tanganku.
Tangannya dingin. Karena es. Atau karena gugup.
“Berat badan ke depan,” kataku. “Lutut tekuk. Jangan lihat kaki. Lihat aku.”
“Kalau aku jatuh?”
“Aturan nomor enam.”
Dia melepas tangan satunya dari pagar.
Kami meluncur pelan di pinggir lapangan. Tangannya di tanganku. Kadang dia goyah, dan aku menariknya ke atas. Kadang aku goyah, dan dia mencengkeram lenganku, dan kami berdua tertawa seperti orang bodoh. Anak-anak meluncur melewati kami. Lampu biru di langit-langit berganti jadi ungu.
Di putaran ketiga, dia bicara tanpa menatapku.
“Kamu tahu kenapa aku nggak nunggu buff kemarin malam?”
“Sencha bilang kamu cemburu.”
“Sencha bilang ke kamu?”
“Dia bilang ke aku. Terus dia bilang ke kamu. Terus dia bilang ke aku lagi kalau dia udah bilang ke kamu.” Aku menatap es di depan kami. “Sencha sibuk minggu ini.”
Dia tertawa. Lalu berhenti.
“Aku cemburu,” katanya. Langsung. Tanpa titik. Tanpa celah. “Sama Chamomile. Sama tujuh detik.”
“Tujuh detik itu aku nyari cara nolak yang nggak bikin dia malu.”
“Aku tahu. Sencha bilang.”
“Terus kenapa masih cemburu?”
Dia diam. Kami meluncur melewati satu pasangan remaja yang sedang berfoto.
“Karena aku nggak punya tujuh detik,” katanya pelan. “Kamu kasih tujuh detik buat mikirin perasaan orang lain di depan dua ratus ribu orang. Kamu kasih ping ungu buat Sencha. Kamu kasih jadwal sekolah buat anaknya Pak Darto. Kamu kasih makanan kucing buat Jagung. Kamu kasih semuanya ke semua orang.”
“Terus?”
“Terus aku nggak tahu aku dapet apa.” Dia menatap es. “Aku nggak tahu aku cuma salah satu dari semua orang itu, atau...”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku berhenti meluncur. Dia ikut berhenti, karena tangannya masih di tanganku. Kami berdiri di tengah lapangan es, di bawah lampu ungu, dengan anak-anak yang meluncur di sekeliling kami seperti arus sungai yang memutari dua batu.
“Kamu bukan semua orang,” kataku.
Dia menatapku.
“Ping ungu buat Sencha, aku bikin tiga tahun lalu. Jadwal Pak Darto, aku tulis di papan. Makanan Jagung, aku beli tiap Jumat.” Aku menelan ludah. Ini bagian yang tidak kususun di kos semalam. Ini bagian yang tidak ada di catatan mana pun. “Tapi buat kamu, aku nggak punya jadwal. Aku nggak punya pola. Aku nggak tahu harus ngapain. Aku cuma...”
Aku berhenti. Mencari kata. Tidak ada.
“Aku cuma pengen ada di belakang kamu. Terus.”
Lampu berganti biru lagi.
Dia menatapku sangat lama. Lalu dia melangkah maju, satu langkah, di atas es, tanpa berpegangan pada apa pun.
Dan sepatu skate-nya meleset.
Aku tidak berpikir. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung apa pun.
Aku menarik tangannya ke arahku dan menjatuhkan diriku ke belakang. Sengaja. Supaya dia jatuh di atasku, bukan di atas es.
Punggungku menghantam permukaan es. Dingin. Keras. Kacamataku terlempar ke samping. Dan di atasku, dengan tangan di dadaku dan rambut yang tergerai jatuh ke kedua sisi wajahku, Aruna.
Wajahnya sangat dekat.
Tiga senti.
Aku bisa menghitung bulu matanya. Aku bisa mencium wangi lychee dan sedikit es. Aku bisa merasakan napasnya, pendek dan cepat, di daguku. Matanya, tanpa kacamataku, sedikit kabur, tapi aku bisa melihatnya. Gelap. Lebar. Menatapku seperti malam di kafe Blok M, seperti aku jawaban dari soal yang dia cari berbulan-bulan.
Dia tidak bergerak. Aku tidak bergerak.
Musik pop dari speaker terdengar sangat jauh.
Tiga senti.
Dua koma lima.
Lalu ponselku berbunyi.
Bukan bunyi notifikasi biasa. Bunyi panggilan masuk. Dan nada deringku, yang kupasang dua tahun lalu dan tidak pernah kuganti karena aku tidak pernah menerima telepon selain dari Ibu dan Reno, adalah lagu tema boss Leviathan. Orkestra penuh. Genderang perang. Paduan suara yang berteriak dalam bahasa yang tidak ada.
DUM. DUM. DUM-DUM-DUM.
Di arena ice skating yang tenang, di bawah lampu biru, lagu itu terdengar seperti kiamat.
Aruna menutup mata. Lalu tertawa. Tawa keras, di atas dadaku, dengan wajah tersembunyi di bahuku.
“Angkat,” katanya di sela tawa.
Aku meraba saku kemeja dengan tangan yang gemetar dan mengangkat telepon tanpa melihat nama.
“EARL!” Suara Pak Hendro. Bariton. Penuh semangat. “Nak! Kamu udah lihat forum? Patch baru! Mirror Queen dibuka malam ini! Raid baru, Abyss, belum ada yang masuk! Malam ini jam delapan, kita jadi yang pertama! Bapak udah kabari semua! Kamu di mana? Kok berisik?”
“Lagi... di luar, Pak.”
“Di luar mana? Kok ada musik dangdut?”
“Itu bukan dangdut, Pak, itu musik ice skating.”
“Ice skating?! Sama siapa?”
Aruna mengangkat kepala dari bahuku. Wajahnya merah. Matanya berair karena tertawa. Dia menggeleng pelan, jangan bilang.
“Sama teman, Pak.”
“Teman siapa?”
“Teman, Pak.”
Hening di telepon. Lalu Pak Hendro tertawa, tawa bapak-bapak yang sudah tiga puluh tahun menikah.
“Ya sudah. Ya sudah. Salam buat temanmu. Jam delapan ya, Nak. Bawa dia pulang sebelum jam delapan.”
“Iya, Pak.”
Telepon ditutup.
Aruna masih di atasku. Masih tertawa pelan. Seorang anak laki-laki, mungkin delapan tahun, meluncur berhenti di sebelah kami dan menatap ke bawah dengan wajah polos.
“Om sama Tante mau ciuman ya?”
Aruna berhenti tertawa.
Aku berhenti bernapas.
“Nggak,” kata kami bersamaan.
Anak itu mengangguk dengan wajah tidak percaya, persis wajah Matcha di grup chat, lalu meluncur pergi sambil berteriak ke ibunya, “Ma! Ada Om sama Tante jatuh tapi nggak bangun-bangun!”
Kami duduk di bangku di luar arena, dengan sepatu skate yang sudah dilepas dan dua gelas cokelat panas dari kios kecil.
Aruna mengembalikan kacamataku. Dia menemukannya di atas es, tidak pecah, hanya sedikit tergores di lensa kiri.
“Lagu Leviathan,” katanya.
“Aku nggak pernah ganti.”
“Dua tahun?”
“Yang telepon cuma Ibu sama Pak Reno.”
“Sekarang Pak Hendro juga.”
“Sekarang Pak Hendro juga.”
Dia menyeruput cokelat panas. Lalu meletakkan gelasnya dan menatapku dari samping.
“Kira.”
“Ya?”
“Pas kamu jawab di stream. Rantingku setia. Itu maksudnya apa?”
Aku menatap gelas cokelat di tanganku. Uapnya mengepul.
Aku bisa bilang itu lelucon. Itu yang dipikirkan dua ratus ribu orang. Itu yang dipikirkan Chamomile.
Tapi dia bukan dua ratus ribu orang.
“Ranting itu,” kataku pelan, “satu-satunya yang tahu aku sebenarnya bawa apa.”
Dia mengerutkan dahi. “Bawa apa?”
Aku diam lama.
Malam ini, Mirror Queen. Raid baru. Boss yang menyalin semua buff party. Aku sudah membaca patch notes-nya tadi pagi, di KRL, sebelum menjemput Aruna di Kebayoran. Aku sudah tahu satu hal tentang boss itu: dia bisa menyalin apa pun.
Hampir apa pun.
“Malam ini kamu lihat,” kataku.
Dia menatapku. Lama. Seperti malam di Hydra, saat dia bertanya soal slot cincin yang kosong.
“Ranting kamu yang berubah emas,” katanya pelan. “Di Hydra. Itu bukan glitch, kan?”
Aku tidak menjawab.
Dia tidak memaksa. Dia hanya mengulurkan tangan dan mengetuk punggung tanganku. Satu, dua, tiga.
“Oke,” katanya. “Malam ini.”
Aku mengantarnya pulang dengan KRL. Dia menempelkan kartu di gerbang tanpa membaca gambar tangan. Dia bilang dia sudah ahli.
Di depan lobi apartemennya di Kebayoran, jam tujuh kurang sepuluh, dia berhenti.
“Satu jam sepuluh menit lagi raid,” katanya.
“Iya.”
“Kamu sampai kos jam berapa?”
“Tujuh empat puluh.”
“Kamu sempat makan?”
“Nggak.”
Dia membuka tas. Mengeluarkan sesuatu yang dibungkus tisu. Roti sobek. Setengah. Sepertinya dari pantry kantor kemarin.
“Makan di KRL,” katanya. “Jangan raid pakai perut kosong.”
Aku mengambil roti itu.
Dia berbalik ke pintu lobi. Lalu berhenti. Lalu berbalik lagi.
“Tiga senti,” katanya.
Aku menatapnya.
“Tadi. Di es. Tiga senti.” Dia menatapku dengan wajah yang sangat serius, wajah Head of Operations yang menyampaikan data. “Aku hitung.”
“Aku juga hitung.”
“Berapa?”
“Dua koma lima. Sebelum lagu Leviathan.”
Dia menatapku sangat lama. Lalu tersenyum. Senyum yang membuat seluruh lobi apartemen Kebayoran tiba-tiba terasa terlalu terang.
“Lain kali,” katanya, “ganti nada dering kamu.”
Dia masuk ke lobi. Pintu kaca tertutup di belakangnya.
Aku berdiri di trotoar, memegang setengah roti sobek, dengan kemeja biru muda yang basah di punggung karena es, dan kacamata yang tergores di lensa kiri.
Aku mengeluarkan ponsel. Membuka pengaturan. Membuka nada dering.
Lagu tema Leviathan. Dua tahun.
Aku menggantinya dengan nada dering bawaan ponsel. Yang paling biasa. Yang paling sederhana.
Lalu aku membuka Genesis di ponsel, masuk ke inventaris, dan menatap satu baris yang sudah dua tahun tidak pernah kusentuh:
[Transmog: Dry Twig — Active] [Disable transmog?]
Belum. Jam delapan.
Aku menutup ponsel dan berjalan ke stasiun.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti reading
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit