← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Thirty Six

First Dawn: Fase 3

POV: Kira

Dua puluh nama di daftar party.

Aku belum pernah melihat daftar sepanjang itu di sudut layarku. Sepuluh nama Morning Tea di atas, warna hijau. Sepuluh nama Espresso di bawah, warna tembaga. Di antara keduanya, satu garis tipis dengan tulisan kecil: [Alliance — The Last Gate].

Ristretto ada di urutan kesebelas. Tepat di bawah namaku.

[Alliance voice channel opened.]

Hening. Dua puluh orang di satu channel, dan tidak ada yang bicara.

Lalu satu suara. Yang kukenal dari ruang rapat pagi, dari pantry, dari jabat tangan yang terlalu kencang. Tapi kali ini tanpa kalimat yang sudah dilatih.

“Kira.”

Sembilan orang di Morning Tea tidak tahu siapa Kira di luar Earl. Mereka tahu nama itu dari kopdar. Tapi sepuluh orang Espresso tidak tahu sama sekali. Mereka mungkin mengira leader mereka salah sebut.

“Pak,” kataku.

Hening lagi. Lebih lama.

“Sebelum kita mulai,” kata Ristretto. Kata Reno. “Saya mau bilang sesuatu. Di depan semua orang. Di depan party kamu. Di depan party saya.”

“Pak, nggak perlu—”

“Perlu.” Suaranya tidak naik. Tidak juga bergetar. Hanya pelan, seperti orang yang sudah berlatih kalimat ini berkali-kali dan tetap tidak tahu cara mengucapkannya. “Saya nuduh Origin kamu exploit di forum. Saya bikin server lag di semifinal. Saya lihat kalian di parkiran dan saya foto. Saya kirim email itu.”

Voice channel diam total. Bahkan Chamomile, yang sedang streaming ke tujuh ratus ribu orang, tidak bicara.

“Di kantor,” lanjut Reno, “saya pakai kerjaan kamu dua tahun. Saya baca sticky note kamu keras-keras di rapat. Saya tanda tangan rencana yang kamu tulis jam dua pagi. Saya balas email terima kasih buat paket yang kamu urus.”

“Pak.”

“Saya minta maaf, Kira. Di kantor dan di sini.”

Hening.

Aku menatap layar. Dua puluh nama. Gerbang batu raksasa di depan kami, setinggi gunung, dengan dua puluh lubang kunci berbentuk hati yang belum menyala.

Satu minggu lalu, aku akan bilang nggak apa-apa, Pak. Itu kalimat yang selalu kuucapkan. Kalimat yang membuat semua orang merasa lebih baik, termasuk aku, karena tidak perlu ada yang marah.

Tapi aku berjanji pada seseorang di dermaga untuk tidak memutuskan apa pun untuk orang lain lagi. Termasuk memutuskan bahwa sesuatu baik-baik saja, saat sebenarnya tidak.

“Saya terima, Pak,” kataku. “Tapi bukan nggak apa-apa. Itu apa-apa. Dua tahun itu apa-apa.”

“Iya,” kata Reno pelan. “Saya tahu.”

“Jadi Bapak mau bayar?”

Dia diam. Lalu, untuk pertama kalinya sejak kukenal, dia tertawa. Bukan tawa rapat. Tawa pendek, kaget, seperti orang yang tidak menyangka akan tertawa.

“Gimana caranya?”

“Bapak pegang Espresso. Sepuluh orang Bapak. Bapak koordinator lapangan.” Aku menarik napas. “Saya yang pegang call. Kayak di kantor dulu. Tapi kali ini, kalau saya bilang sekarang, Bapak bilang ke party Bapak bahwa itu call dari Earl. Bukan dari Bapak.”

Hening.

Lalu suara Reno, sangat pelan:

“Proaktif.”

“Itu kata favorit Bapak.”

“Iya.” Dia menarik napas. “Espresso. Dengar. Mulai sekarang, semua call dari Earl. Saya cuma ngulang. Kalau saya telat ngulang, ikutin Earl langsung.”

Sepuluh orang Espresso menjawab bersamaan. Siap, Lead. Disiplin. Seperti tentara. Seperti guild yang punya absen dan evaluasi mingguan.

Di chat party Morning Tea, satu pesan muncul.

Lychee: kamu bilang “itu apa-apa”.

Earl: iya.

Lychee: pertama kali.

Earl: iya.

Lychee: 🙂


[PHASE 3 — The Last Gate] [Twenty hearts must be kindled before the Night Tide reaches the gate.]

Gerbang terakhir berdiri di ujung jembatan batu panjang yang melayang di atas jurang tanpa dasar. Dua puluh lubang kunci berbentuk hati di permukaannya, tersusun dalam empat baris. Setiap hati menyala kalau satu pemain berdiri di depannya selama lima detik tanpa terkena serangan.

Lima detik. Dua puluh orang. Sederhana.

Lalu dari ujung lain jembatan, dari arah yang kami lalui tadi, muncul gelombang hitam.

[The Night Tide approaches.]

Bukan air. Bayangan. Ribuan makhluk kecil dari kegelapan, seperti kelelawar dan asap, bergerak bersama dalam satu gelombang yang menggulung jembatan. Setiap kali gelombang itu menyentuh pemain, pemain itu terdorong mundur tiga langkah, menjauh dari gerbang. Dan hatinya padam.

Gelombang datang setiap empat puluh detik.

“Bang,” kata Oolong pelan, “itu banyak banget.”

“Iya.”

“Kita harus berdiri di depan hati lima detik, tapi tiap empat puluh detik ada gelombang yang dorong kita mundur?”

“Iya.”

“Dan kalau kena gelombang, hatinya padam lagi?”

“Iya.”

“Bang, ini kayak ngisi ember bocor.”

Aku menatap jembatan. Gerbang. Dua puluh hati. Gelombang yang datang dari belakang, setiap empat puluh detik, dengan kecepatan yang sama, lewat jalur yang sama.

Jalur sempit. Satu jembatan. Volume besar dari satu arah. Waktu tempuh tetap.

Aku tersenyum.

“Pak Reno,” kataku di alliance channel. “Bapak ingat gerbang tol Cikunir jam lima sore?”

Jeda. Lalu, dari Reno, suara yang tidak kudengar sejak minggu pertama aku masuk LNX. Suara supervisor yang mengajariku membaca pola tol.

“Gelombang dua dialihkan lewat Jatiwaringin. Biar nggak numpuk di gerbang.”

“Iya, Pak.”

“Kamu mau pakai itu?”

“Kita nggak bisa ngalihin gelombangnya. Tapi kita bisa ngatur siapa yang kena.”


“Dua puluh orang, empat tim,” kataku. “Lima orang per tim. Kayak empat gelombang armada.”

Aku membagi mereka. Tim A: Morning Tea tank dan DPS. Tim B: Espresso tank dan DPS. Tim C: healer dan support dari dua party. Tim D: Lychee, Ristretto, dan tiga assassin Espresso.

“Gelombang Night Tide datang tiap empat puluh detik. Tim yang lagi nyalain hati harus selesai sebelum gelombang sampai. Tim lain berdiri di jembatan, di depan gelombang, jadi tameng.”

“Jadi tameng?” kata salah satu tank Espresso. “Kita kena dorong tiga langkah tiap gelombang.”

“Iya. Tapi kalian nggak lagi nyalain hati. Kalian cuma mundur tiga langkah. Abis gelombang lewat, kalian maju lagi.”

Reno mengulang di channel Espresso, dengan nada yang tegas. Tim B jadi tameng di gelombang pertama. Tim A nyalain baris satu.

“Tim A,” kataku. “Lima detik dari sekarang. Tiga puluh lima detik sebelum gelombang. Kalian punya waktu buat nyalain lima hati, satu per orang. Pergi.”

Pak Hendro, Oolong, Matcha, dan kembar berlari ke baris pertama gerbang. Berdiri di depan lima hati.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

[Hearts kindled: 5/20]

“Tim A mundur. Tim C maju ke baris dua. Tim B tahan jembatan.”

Gelombang hitam datang. Menghantam Tim B di tengah jembatan. Lima pemain Espresso terdorong tiga langkah. Tapi tidak ada yang sedang menyalakan hati. Tidak ada yang padam.

Tim C di baris dua. Chamomile, Bu Ratna, Sencha, dua healer Espresso. Lima detik.

[Hearts kindled: 10/20]

Chat stream Chamomile meledak.

DIA PAKAI GELOMBANG LAGI empat tim kayak shift kerja ini bukan raid ini manajemen logistik FakeEarl: abang ini bisa ngatur negara

“Tim B, sekarang giliran kalian nyalain. Tim A jadi tameng.”

Pak Hendro tertawa. “Bapak belum pernah jadi tameng! Bapak swordmaster!”

“Swordmaster juga punya punggung, Pak.”

[Hearts kindled: 15/20]

Lima hati terakhir. Baris paling atas. Paling dekat dengan puncak gerbang.

Dan di sana, sesuatu berubah.

[The Night Tide intensifies.] [Wave interval: 40s → 25s]

Dua puluh lima detik. Lima detik untuk menyalakan hati, ditambah waktu tempuh dari jembatan ke baris paling atas: delapan belas detik. Total dua puluh tiga detik. Dua detik dari batas.

“Tim D,” kataku. “Lychee, Pak Reno, kalian yang paling cepat. Baris lima. Sekarang.”

Lima karakter berlari. Rapier perak di depan. Swordmaster berzirah hitam di sebelahnya.

Rapier dan pedang panjang. Lychee dan Ristretto. Tiga minggu lalu, mereka saling menembus di final semifinal. Malam ini, mereka berlari berdampingan ke puncak gerbang.

Delapan belas detik. Mereka sampai. Berdiri di depan lima hati terakhir.

“Satu,” kataku. “Dua.”

Gelombang datang lebih cepat dari yang kuhitung. Dua puluh lima detik ternyata dua puluh tiga koma lima. Animasinya mempercepat di baris terakhir.

“Tim A, Tim B, Tim C, semua ke jembatan. Jadi tameng. Sekarang!”

Lima belas orang berlari ke jembatan. Membentuk dinding. Gelombang hitam menghantam mereka.

Tiga. Empat.

Gelombang menembus satu celah di dinding. Satu bayangan kecil lolos. Melesat ke atas gerbang. Ke arah baris lima.

Ke arah Lychee.

Ristretto bergerak.

Tanpa call. Tanpa perintah. Swordmaster berzirah hitam itu meninggalkan hatinya dan melompat ke depan Lychee. Bayangan itu menghantamnya. Dia terdorong tiga langkah ke belakang, jatuh dari baris lima ke baris empat.

Hatinya padam.

Lima.

[Hearts kindled: 19/20]

Satu hati. Hati Ristretto. Padam.


Hening di alliance channel.

“Pak Reno,” kataku. “Kenapa—”

“Lychee lebih penting,” kata Reno. Suaranya terengah. “Kalau Lychee kena, dia harus ulang dari jembatan. Dia DPS utama kalian. Nanti di final kalian butuh dia. Saya...” Dia berhenti. “Saya cuma swordmaster nomor dua.”

Aku menatap layar. Satu hati padam di baris kelima. Gelombang berikutnya dalam dua puluh tiga detik.

“Pak,” kataku. “Naik lagi. Nyalain hati Bapak. Delapan belas detik ke atas, lima detik nyalain. Dua puluh tiga. Pas.”

“Kalau gelombangnya lebih cepat lagi—”

“Saya yang tahan.”

“Kamu enchanter. HP kamu paling tipis.”

“Saya tahu.”

Aku berjalan ke tengah jembatan. Sendirian. Lima belas orang di belakangku, mundur setelah gelombang barusan. Gerbang di depan. Gelombang berikutnya dari belakang.

Bait Line.

[Earl casts Barrier Weave → Earl] [Earl casts Barrier Weave → Earl]

Dua lapis. Lalu aku melepas Mantle of the Unseen. Aggro normal. Setiap bayangan dalam gelombang berikutnya akan melihatku. Pemain paling dekat. Pemain paling tipis.

“Semua di belakang aku,” kataku. “Kalian jaga punggung aku. Kalau ada yang lolos, kalian yang tangkap.”

“Bang!” teriak Oolong.

“Pak Reno. Naik. Sekarang.”

Reno berlari. Delapan belas detik.

Gelombang datang. Dua puluh tiga koma lima detik. Ribuan bayangan. Semua ke arahku.

Barrier pertama pecah dalam satu detik. Barrier kedua dalam dua. HP-ku turun. Delapan puluh. Enam puluh. Empat puluh.

Tapi tidak ada yang lolos. Semua bayangan menabrakku, karena aku satu-satunya yang mereka lihat. Lima belas orang di belakangku tidak tersentuh. Dan Reno, di puncak gerbang, berdiri di depan hatinya.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

HP-ku dua puluh persen. Chamomile melempar heal dari belakang. Empat puluh.

Lima.

[Hearts kindled: 20/20] [The Last Gate opens.]


Gerbang batu raksasa itu tidak terbelah seperti gerbang Prelude. Dia retak. Dari dua puluh hati yang menyala, garis-garis cahaya merambat ke seluruh permukaannya, seperti akar pohon yang bercabang. Lalu seluruh gerbang runtuh, perlahan, jadi debu emas yang beterbangan di atas jurang.

Di baliknya, kegelapan. Dan di tengah kegelapan itu, satu sosok yang tidak lagi berupa asap.

Noctis berdiri. Tinggi, ramping, berjubah malam yang dihiasi ribuan bintang yang dia curi. Wajahnya bukan wajah. Hanya lingkaran hitam sempurna, seperti gerhana total.

[Noctis, the Last Night — HP 15%] [FINAL PHASE — The Last Light]

Di alliance channel, dua puluh orang menahan napas.

Lalu suara Reno. Dari puncak reruntuhan gerbang. Pelan.

“Kira.”

“Pak.”

“Tadi kamu jadi tameng buat saya.”

“Iya, Pak.”

“Kenapa?”

Aku menatap layar. HP empat puluh persen. Mantle masih terlepas. Tongkat emas di tangan.

“Karena Bapak jadi tameng buat Lychee,” kataku. “Tanpa call. Tanpa disuruh. Bapak pilih sendiri.”

Hening.

“Itu pertama kalinya saya lihat Bapak maju buat orang lain,” kataku. “Jadi saya bales.”

Reno tidak bilang apa-apa. Lalu, dari channel Espresso yang masih terbuka di sebelah channel aliansi, aku mendengar sesuatu yang tidak dimaksudkan untukku. Suara Reno, ke party-nya sendiri, sangat pelan:

“Dengerin dia. Apa pun yang dia bilang. Dia lebih bagus dari saya. Dari dulu.”


[World-First Tracker] [Morning Tea + Espresso Alliance — Final Phase] [Black Lotus Alliance — Final Phase]

Black Lotus juga sudah melewati gerbang. Empat menit setelah kami.

Empat menit.

Aku menatap Noctis. Lima belas persen. Gerhana total di wajahnya. Ribuan bintang di jubahnya.

Lalu aku membuka buku tulis cokelat di sebelah laptop. Halaman satu sampai tiga puluh sembilan. Empat puluh skenario untuk fase terakhir. Aku sudah menghitung semuanya. Setiap kemungkinan. Setiap urutan skill. Setiap tempo.

Di luar jendela, hujan masih turun di atas atap seng. Jam satu pagi waktu Makassar.

Di chat party Morning Tea, satu pesan.

Lychee: kira.

Earl: ya?

Lychee: halaman terakhir buku kamu. yang nggak dikasih nomor.

Aku menatap halaman empat puluh.

Kalau semua skenario gagal: maju.

Lychee: aku baca juga.

Lychee: aku di belakang kamu kali ini.

Lychee: terus.

Aku menatap pesan itu sangat lama.

Lalu aku menutup buku tulis. Menyeruput Earl Grey dari termos Daeng Ratu, yang sudah dingin sejak fase satu.

Pahit. Bergamot di belakangnya.

“Semuanya,” kataku di alliance channel. Dua puluh orang. “Kita mulai.”