← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Ten

Earl Grey Tanpa Gula

POV: Kira

Toko bangunan TB Hendro Jaya ada di pinggir Jalan Raya Bekasi, terjepit di antara bengkel motor dan warung pecel lele. Lantai satu penuh semen, cat, dan pipa paralon. Lantai dua gudang. Lantai tiga, yang bisa dicapai lewat tangga besi melingkar yang berbunyi kriet di setiap anak tangga, adalah rooftop.

Pak Hendro sudah mengubahnya jadi bioskop.

Kain putih besar dibentangkan di antara dua tiang jemuran. Proyektor tua diletakkan di atas tumpukan karung semen. Kursi plastik merah berjajar, sepuluh di depan, dua di belakang untuk Pak Hendro dan istrinya. Lampu tumbler kuning dililitkan ke pagar besi. Di sudut, Bu Ratna sudah menata tiga rantang di atas meja lipat.

“Selamat datang di Bioskop Hendro Jaya,” kata Pak Hendro, merentangkan tangan, memakai kaus polo yang sama dengan kopdar kemarin. “Kursi gratis. Rendang gratis. Semen diskon sepuluh persen untuk anggota Morning Tea.”

“Pak, kita nggak butuh semen,” kata Ilyas.

“Suatu hari kamu butuh, Nak. Semua orang suatu hari butuh semen.”

Aku datang paling akhir lagi. Kali ini bukan karena mengelilingi blok, tapi karena KRL ke Bekasi berhenti dua puluh menit di Jatinegara. Aku memakai hoodie abu, karena aku sudah memakai satu-satunya kemeja biruku di kopdar, dan mengulanginya terasa seperti mengakui bahwa aku cuma punya satu.

Aruna sudah duduk di baris depan.

Dia memakai sweater rajut warna krem yang terlalu besar untuknya, lengannya digulung sampai siku, jam tangan Papa-nya di pergelangan kiri. Rambutnya diikat setengah. Di tangannya ada gelas plastik lychee tea dengan es yang menggunung.

Dia melihatku naik tangga. Matanya menyipit sedikit, seperti tersenyum tanpa bibir.

Kursi di sebelahnya kosong. Oolong duduk dua kursi darinya, memeluk lutut, menatapku dengan wajah orang yang sudah belajar dari pengalaman.

“Bang,” katanya, “aku udah nggak duduk di situ dari tadi. Aku tahu diri.”


“Film malam ini,” kata Pak Hendro dengan suara pengumuman, “adalah film yang Bapak pilih sendiri. Film kolosal. Film perjuangan. Film tentang sekelompok orang yang tidak menyerah walau—”

Proyektor menyala. Di layar kain muncul logo stream Chamomile, lalu wajah Nana yang tersenyum lebar.

“Halo semuanya! Malam ini Morning Tea lawan Espresso!”

“Pak,” kata Matcha. “Ini scrim kita kemarin.”

“Iya,” kata Pak Hendro, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Film perjuangan. Kan Bapak bilang.”

“Kita nonton diri kita sendiri?”

“Kenapa nggak? Kalian nggak bangga?”

Ternyata semua orang bangga. Selama empat puluh menit, sepuluh orang dewasa di rooftop toko bangunan menonton rekaman pertandingan yang kemarin mereka mainkan, dan berteriak di setiap momen seolah tidak tahu hasilnya.

Saat Earl mati di ronde satu, Bu Ratna menutup mata dan berbisik “Ya Allah, Nak Kira.” Saat sembilan karakter muncul dari dalam Ash Storm di ronde dua, Ilham dan Ilyas berdiri dari kursi dan berpelukan. Saat Lychee menembus Ristretto di detik terakhir, Pak Hendro membanting sendok ke rantang.

Dan saat suaraku terdengar dari speaker proyektor, “Kamu nggak perlu lihat. Dengerin aku,” seluruh rooftop menoleh ke arahku.

Lalu ke Aruna.

Lalu ke arahku lagi.

“Kok kalian lihat kita?” tanyaku.

“Nggak apa-apa,” kata Chamomile, dengan senyum yang sangat apa-apa.

Aruna menyeruput lychee tea-nya. Esnya berbunyi. Telinganya merah di bawah lampu tumbler kuning.


“Minuman habis,” kata Bu Hendro pukul delapan malam, menunjuk kardus air mineral yang sudah kosong. “Ada yang mau beli? Di seberang ada kedai teh. Teh Senja, yang buka sampai malam.”

“Aku,” kataku, berdiri. Itu refleks. Di setiap acara, aku orang yang berdiri saat ada yang perlu dibeli.

“Aku ikut,” kata Aruna, ikut berdiri.

Sembilan pasang mata menatap kami.

“Sepuluh minuman,” kata Aruna, terlalu cepat. “Nggak mungkin dibawa satu orang. Dua orang lebih efisien.”

“Efisien,” ulang Matcha pelan, mengangguk. “Aku driver ojol delapan tahun. Aku tahu ‘efisien’.”

Bu Ratna tidak bilang apa-apa. Dia hanya tersenyum seperti orang yang baru saja mendapatkan konfirmasi untuk sesuatu yang sudah dia ketahui sejak lama.


Teh Senja adalah kedai kecil dengan etalase kaca dan papan menu tulisan tangan. Kami berdiri di depan kasir dengan daftar pesanan di ponsel Aruna, karena dia mencatat pesanan sepuluh orang dalam tiga puluh detik dengan efisiensi seorang Head of Operations.

“Teh tarik dua, buat kembar. Es teh manis jumbo buat Pak Hendro. Bu Ratna teh melati hangat. Chamomile...” Aruna berhenti. “Chamomile mau teh chamomile. Tentu aja.”

“Oolong mau oolong?”

“Oolong mau es teh susu. Dia bilang oolong itu pahit.”

Aku tertawa pelan.

“Lychee tea, es banyak,” lanjutnya. “Itu aku. Kamu?”

“Earl Grey. Panas. Nggak pakai gula.”

Dia menoleh. Menatapku dari samping.

“Tunggu,” katanya. “Earl. Dari Earl Grey?”

“Iya.”

“Lychee dari lychee tea.” Dia mengerutkan dahi, seolah baru menyadari sesuatu yang sangat jelas. “Darjeeling. Oolong. Chamomile. Matcha. Rooibos. Sencha. Genmai, Hojicha. Itu semua teh.”

“Morning Tea,” kataku. “Pak Hendro yang ngasih nama party. Waktu itu dia baru bikin teh pagi-pagi. Terus semua orang yang gabung harus ganti nama jadi nama teh.”

“Aku nggak tahu.”

“Kamu gabung paling akhir. Pas kamu masuk, namamu udah Lychee.”

“Iya. Aku pakai nama itu dari awal main.” Dia menatap gelasnya yang masih kosong. “Dan pas aku daftar, ternyata party-nya semua nama teh. Rasanya kayak... ditakdirin.”

Kasir memanggil pesanan pertama. Dia tidak melanjutkan kalimatnya.

“Kenapa nggak pakai gula?” tanyanya saat kasir menuang Earl Grey ke gelas kertas.

“Biar ingat rasanya asli.”

“Rasa asli Earl Grey itu pahit.”

“Nggak pahit. Pahit sedikit. Terus ada bergamot di belakangnya. Kalau dikasih gula, bergamotnya hilang. Orang cuma ngerasa manis.”

“Kamu kayak lagi ngejelasin frame cancel.”

“Semua hal punya frame-nya.”

Dia tertawa. Bukan senyum kafe, bukan senyum yang buru-buru disembunyikan di kantor. Tawa yang keluar begitu saja, dengan kepala sedikit menunduk dan tangan menutup mulut.

Dan entah kenapa, entah dari mana, kalimat itu keluar dari mulutku sebelum otakku sempat menyusun hitungan apa pun:

“Kamu cantik banget kalau lagi nggak marahin aku.”

Aruna, yang sedang menyeruput lychee tea pertamanya dari sedotan, tersedak.

Dia terbatuk. Keras. Membungkuk. Kasir kedai menatap kami dengan cemas. Aku buru-buru menepuk punggungnya, lalu sadar aku sedang menepuk punggung atasanku, lalu berhenti, lalu sadar membiarkannya tersedak juga bukan pilihan, lalu menepuk lagi.

“Aku nggak—” batuk “—pernah marahin—” batuk “—kamu.”

“Kamu bilang aku kayak guru BK.”

“Itu beda!”

“Kamu nyuruh aku ke ruangan kamu pakai titik.”

“Itu—” Dia menegakkan badan, mengusap mata yang berair karena batuk. Wajahnya merah. Sangat merah. Lebih merah dari lampu sein di jalan raya. “Kamu bisa nggak sih ngomong kayak gitu nggak tiba-tiba?”

“Maaf. Aku nggak ngitung timing-nya.”

“Kamu selalu ngitung timing.”

“Kali ini nggak.”

Dia menatapku. Lama. Lalu memalingkan wajah ke etalase kue, pura-pura sangat tertarik pada bolu pandan.

“Udah,” katanya. “Bayar. Kita balik.”

Tapi di pantulan kaca etalase, aku melihat sudut bibirnya naik.


Hujan turun saat kami keluar dari kedai.

Bukan hujan besar. Gerimis Bekasi yang tipis tapi menyebalkan, yang cukup untuk membasahi rambut tapi tidak cukup untuk membuat orang berlari. Kami berdiri di bawah kanopi kedai dengan dua kantong plastik berisi sepuluh minuman.

“Aku bawa payung,” kata Aruna, mengeluarkan payung lipat kecil dari tasnya. Warna hitam, dengan gagang kayu.

Payungnya kecil. Sangat kecil. Cukup untuk satu orang dan satu kantong plastik.

Dia membukanya. Menatapku. Menatap payungnya.

“Nggak usah,” kataku. “Aku lari aja. Cuma nyeberang.”

“Kamu bawa Earl Grey panas. Kalau lari, tumpah.”

“Pelan-pelan.”

“Kira.” Dia mengangkat payung itu lebih tinggi, ke arahku. “Masuk.”

Jadi aku masuk.

Kami menyeberang jalan dengan langkah sangat pelan. Bahu kiriku basah. Bahu kanannya basah. Di tengah, di bawah payung yang terlalu kecil, lengan kami bersentuhan setiap langkah. Sweater rajutnya hangat.

“Payung ini punya Papa,” katanya tiba-tiba, tanpa kutanya.

Aku menoleh.

“Jam tangan ini juga.” Dia mengangkat pergelangan kirinya sedikit. “Papa kerja di bandara. Teknisi. Dia selalu bawa payung kecil di tas kerjanya, katanya buat jaga-jaga kalau ada pilot yang lupa bawa payung.”

“Ada pilot yang lupa bawa payung?”

“Banyak, katanya. Pilot itu pintar di udara, tapi di darat suka lupa hal-hal kecil.” Dia tersenyum, menatap jalan basah di depan kami. “Papa bilang, orang yang ngurus hal-hal kecil itu yang bikin semuanya jalan. Tapi nggak ada yang ingat namanya.”

Aku tidak bilang apa-apa. Aku tidak tahu harus bilang apa.

“Papa udah nggak ada,” lanjutnya pelan. “Tujuh tahun lalu.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.” Dia diam beberapa langkah. “Aku cuma... akhir-akhir ini sering ingat dia.”

Kami sampai di seberang jalan, di depan pintu toko bangunan. Dia tidak langsung menutup payung. Kami berdiri di bawahnya sebentar, di depan tumpukan karung semen dan tiang paralon, dengan gerimis yang turun di sekeliling kami.

“Kenapa akhir-akhir ini?” tanyaku.

Dia menatapku. Matanya gelap di bawah bayangan payung.

“Nanti aku cerita,” katanya. Kalimat yang sama yang kutulis di chat seminggu lalu saat dia bertanya soal pekerjaanku.

Lalu dia menutup payung dan naik tangga besi duluan.


Bu Ratna sedang berdiri di ujung tangga rooftop saat kami naik.

Dia tidak sedang menunggu minuman. Dia sedang berdiri di pagar, menatap ke bawah, ke jalan, ke depan kedai teh, ke tempat yang tepat untuk melihat dua orang menyeberang di bawah satu payung kecil.

“Lama, ya,” katanya ramah, mengambil kantong plastik dari tanganku.

“Antre, Bu.”

“Iya. Antre.” Bu Ratna mengangguk. Lalu menatap bahu kiriku yang basah, dan bahu kanan Aruna yang basah, dan tersenyum seperti ibu yang baru saja menemukan anaknya menyembunyikan rapor bagus. “Payungnya kecil, ya, Nak Lychee.”

“Iya, Bu,” kata Aruna. Dia langsung berjalan ke kursinya tanpa menoleh.

Aku membagikan minuman. Teh tarik untuk kembar. Es teh manis jumbo untuk Pak Hendro. Teh melati untuk Bu Ratna. Chamomile untuk Chamomile, yang memotretnya untuk Instagram dengan caption chamomile minum chamomile 😌.

Saat aku memberikan teh untuk Sencha, dia menahan tanganku. Lalu dia menggerakkan tangannya. Bahasa isyarat. Pelan, supaya aku bisa mengikutinya. Dia sudah mengajariku beberapa isyarat dasar selama dua tahun, lewat video call di sela raid.

Telunjuk menunjuk aku. Lalu tangan terbuka di dada, bergerak melingkar.

Kamu. Suka.

Lalu dagunya bergerak sedikit ke arah baris depan. Ke arah sweater rajut krem.

Aku menatap Sencha. Dia tersenyum, sangat tenang, seperti orang yang menyampaikan laporan cuaca.

Lalu dia mengetik di ponselnya dan menunjukkan layarnya padaku:

Aku nggak dengar suara. Jadi aku lihat yang lain. Kamu lihat dia kayak kamu lihat boss fase tiga. Kayak ada sesuatu yang kamu belum ngerti tapi kamu mau ngerti.

Aku tidak bisa membantah. Aku tidak pernah bisa berbohong pada Sencha. Dia membaca wajah seperti aku membaca animasi.

Aku mengangguk. Sekali. Pelan.

Sencha menepuk bahuku dua kali dan mengambil tehnya.


Film selesai pukul sepuluh. Bukan film, rekaman scrim, yang sudah diputar ulang dua kali atas permintaan kembar. Semua orang pamit satu per satu. Pak Hendro memeluk setiap anggota seperti melepas anak merantau. Bu Ratna membekali setiap orang satu bungkus rendang dalam plastik klip.

Aku dan Aruna turun tangga besi paling akhir.

Di bawah, di depan toko yang sudah tutup, mobilnya terparkir. Sedan abu-abu gelap. Dia membuka kunci dengan remote, tapi tidak langsung masuk.

“Kamu pulang naik apa?”

“KRL.”

“Udah jam sepuluh. KRL Bekasi jam segini penuh.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku antar.”

“Nggak usah. Tebet itu jauh dari arah kamu.”

“Kamu tahu apartemenku di mana?”

Aku diam. Aku tahu. Aku tidak seharusnya tahu. Tapi dua bulan lalu, ada kurir LNX yang salah antar dokumen ke apartemennya, dan aku yang mengatur ulang rutenya. Alamatnya ada di tiket pengiriman. Kebayoran Baru.

“Kebayoran,” kataku pelan.

Dia menatapku. “Kamu tahu dari mana?”

“Pernah ada paket salah antar. Aku yang ngurus.”

“Kapan?”

“Agustus. Dokumen dari notaris. Kurirnya bawa ke tower sebelah.”

Dia diam lama. Lalu tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi seperti orang yang baru sadar sesuatu.

“Aku ingat dokumen itu,” katanya. “Aku pikir kurirnya sendiri yang nyadar salah tower. Aku sempat kirim email terima kasih ke divisi dispatch.”

“Iya. Reno yang balas.”

“Reno yang balas,” ulangnya. Pelan. Datar. Sesuatu di matanya berubah, sesuatu yang tidak bisa kubaca.

Lalu dia membuka pintu penumpang.

“Masuk,” katanya. “Aku antar ke Tebet. Ini bukan permintaan atasan. Ini aturan nomor enam.”

“Kalau aku jatuh, kamu tangkap?”

“Kalau kamu ketinggalan KRL, aku antar. Aturan nomor enam punya banyak versi.”

Aku masuk.

Mobilnya berbau lychee dan sedikit kertas. Di dasbor ada map kerja, tablet, dan satu bungkus permen jahe. Di kaca spion tergantung gantungan kecil berbentuk pesawat.

Selama empat puluh menit perjalanan dari Bekasi ke Tebet, kami tidak banyak bicara. Radio memutar lagu-lagu lama. Hujan berhenti di Cawang. Lampu-lampu jalan bergerak di kaca depan seperti titik-titik armada di layar ruang kontrol.

Saat mobil berhenti di depan gang kosku, dia mematikan mesin.

“Kira.”

“Ya?”

“Besok Senin.”

“Iya.”

“Besok aku jadi Bu lagi.”

“Iya, Bu.”

Dia menoleh, memicingkan mata. “Belum Senin.”

“Maaf.”

“Belum Senin,” ulangnya, lebih pelan, menatap kemudi. “Jam sebelas kurang sepuluh. Masih ada satu jam sepuluh menit sebelum Senin.”

Aku menatapnya. Dia tidak menatapku. Tangannya masih di kemudi, jari telunjuknya mengetuk pelan. Satu, dua, tiga.

Ritme Haste.

Dia belajar dariku. Tanpa sadar.

“Makasih udah antar,” kataku.

“Sama-sama.”

“Makasih juga udah...” Aku berhenti. Mencari kata yang tepat. Tidak ada. “Udah cerita soal Papa kamu.”

Dia akhirnya menoleh. Di bawah lampu jalan yang kuning, wajahnya terlihat lebih muda lagi. Lebih lelah. Lebih jujur.

“Kamu tahu kenapa akhir-akhir ini aku sering ingat Papa?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Karena aku ketemu orang yang mirip dia,” katanya. “Orang yang ngurus hal-hal kecil. Yang bikin semuanya jalan. Yang nggak pernah minta diingat.”

Dia menyalakan mesin lagi.

“Selamat malam, Kira. Sampai ketemu besok.”

“Selamat malam.”

Aku turun. Mobilnya pergi. Aku berdiri di mulut gang, dengan bungkus rendang dari Bu Ratna di tangan kanan dan gelas kertas Earl Grey yang sudah dingin di tangan kiri.

Aku belum menghabiskannya. Sepanjang malam, aku lupa meminumnya.

Aku meminumnya sekarang. Dingin. Pahit sedikit.

Lalu, di belakangnya, bergamot.