Chapter One
Leviathan’s Maw
POV: Kira
“Oolong, tahan. Dua detik lagi dia buka mulut.”
Aku mengucapkannya pelan, datar, seperti orang membacakan jadwal kereta. Di layar, Leviathan, ular laut sebesar gedung dua puluh lantai, mengangkat kepalanya dari air hitam. Sisiknya berkilat hijau kebiruan. Di atas kepalanya, bar merah itu tinggal sedikit.
[Leviathan, the Drowned King — HP 4%]
Empat persen kedengarannya kecil. Tapi empat persen dari boss raid tingkat Abyss setara dengan HP tiga boss dungeon biasa digabung. Dan kami sudah empat puluh tujuh menit di dalam sini.
“Dua detik apaan, Bang, dia udah—”
Suara Oolong putus. Di layar, karakter tank kami, ksatria berbaju zirah hitam setinggi dua meter, tersapu gelombang dan tenggelam.
[Oolong — DEAD]
“Maaf,” kata Oolong di voice channel. Suaranya kecil sekali untuk ukuran karakter sebesar itu. “Aku nekan tombolnya telat, Bang.”
“Nggak apa-apa,” kataku. “Itu bukan salahmu. Dia mempercepat roar-nya dua frame setelah HP di bawah lima persen. Aku yang telat ngitung.”
“Dua frame?” Hojicha, si assassin, tertawa nggak percaya. “Bang Earl, manusia normal tuh nggak ngitung frame.”
“Hojicha, fokus,” potong Darjeeling, leader kami. Suaranya berat, wibawa bapak-bapak yang biasa memimpin rapat RT. “Earl, kasih Bapak sesuatu. Apa pun.”
Aku menatap layar.
[Genmai — DEAD] [Rooibos — DEAD]
Tiga orang tumbang. Tujuh tersisa. Mana Chamomile, healer kami, tinggal dua puluh persen. Dan dalam empat puluh satu detik, Leviathan akan mengeluarkan Tidal Roar lagi, gelombang yang memenuhi seluruh arena.
Aku mengetuk meja dengan telunjuk. Satu, dua, tiga. Ketukan cooldown. Kebiasaan lama.
Arena Leviathan adalah danau bawah tanah. Seluruh lantainya air setinggi lutut. Bangkai kapal tua bertebaran seperti pulau-pulau kecil. Semua party yang pernah masuk ke sini memperlakukan air itu sebagai gangguan: memperlambat gerak, menambah damage es dari boss.
Tidak ada yang pernah memperlakukannya sebagai kabel.
“Semua naik ke bangkai kapal,” kataku. “Sekarang. Jangan ada satu kaki pun yang nyentuh air.”
“Kenapa?” tanya Matcha, si monk.
“Karena sepuluh detik lagi aku mau ganti elemen senjata kita jadi petir.”
Hening sedetik.
“Bang,” kata Chamomile pelan, “itu airnya bakal nyetrum kita semua.”
“Nyetrum siapa pun yang ada di air. Termasuk dia.”
Leviathan itu ular laut. Badannya selalu setengah terendam. Dan setelah HP-nya di bawah lima persen, dia masuk fase Drowned Frenzy: menyelam lebih dalam, hanya insangnya yang terbuka di permukaan. Titik lemahnya.
“Masalahnya,” lanjutku, “harus ada satu orang yang tetap di air. Insangnya cuma bisa diserang dari bawah.”
Aku tidak perlu bilang siapa. Semua orang di party ini tahu.
“Lychee.”
Di layar, karakter rapier ramping berambut perak itu sudah berdiri di tepi bangkai kapal, pedang tipisnya terangkat. Lychee jarang bicara di voice. Dia selalu mengetik. Pesannya muncul di chat party, cepat seperti tusukannya.
Lychee: kamu mau aku berdiri di air yang dialiri listrik.
Earl: iya.
Lychee: cuma pastiin aja.
“Lychee, kamu percaya aku?” tanyaku di voice.
Jeda sepersekian detik. Lalu:
Lychee: pertanyaan bodoh. call aja.
Ada sesuatu yang hangat di dada setiap kali dia menulis itu. Aku tidak sempat memikirkannya.
“Oke. Dengerin semua.” Aku menarik napas. “Darjeeling, Matcha, Hojicha, kalian taunt dari kapal kiri, tarik kepalanya ke arah utara. Chamomile, simpan mana, jangan heal siapa pun kecuali aku bilang. Sencha—”
Aku mengganti warna ping di layar Sencha jadi kuning. Sencha tidak pernah memakai voice. Tiga tahun lalu aku membuat sistem tanda warna untuknya: kuning artinya bertahan, merah artinya maju, biru artinya mundur. Sencha mengetik singkat:
Sencha: 👍
“Lychee, kamu turun ke air pas aku bilang tiga. Bukan sebelum, bukan sesudah.”
Aku meletakkan jari di keyboard. Tombol Q-ku sudah botak, hurufnya hilang sejak setahun lalu. Itu tombol buff. Tombol yang paling sering kutekan seumur hidupku.
“Buff dulu, baru maju,” gumamku.
[Earl casts Haste → Lychee] [Earl casts Elemental Shift: Lightning → Party]
Senjata semua orang berubah menyala biru. Busur Darjeeling, kepalan Matcha, belati Hojicha. Dan di tanganku, senjata yang selalu jadi bahan ejekan seluruh server.
[Dry Twig — Lv. 1]
Ranting kering. Senjata enchanter terburuk yang bisa dipakai di game ini. Kalau di-inspect, statnya memang sesuai: nol.
“Lima,” kataku. “Empat.”
Leviathan menyelam. Air di arena bergolak. Insangnya terbuka di permukaan, berdenyut merah.
“Tiga.”
Lychee melompat ke air.
“Dua.”
Petir dari senjata party menyambar, merambat lewat air seperti jaring laba-laba bercahaya. Leviathan menjerit. Angka damage berwarna kuning bermunculan di atas tubuhnya.
Dan petir itu juga merambat ke arah Lychee.
“Satu.”
[Earl casts Barrier Weave → Lychee]
Perisai tipis berwarna emas muncul di sekeliling Lychee tepat setengah detik sebelum aliran listrik menyentuhnya. Bukan setelah. Sebelum. Perisai itu hanya bertahan satu koma dua detik. Kalau kulempar terlambat, perisainya sia-sia. Kalau kulempar terlalu cepat, perisainya habis duluan.
Satu koma dua detik. Cukup.
[Leviathan — HP 2%]
“Sekarang, Lychee.”
Rapier itu menusuk insang. Sekali, dua kali, lima kali. Haste membuat tusukannya kabur seperti hujan perak.
[Leviathan — HP 1%]
Lalu kepala ular itu muncul dari air, mulut terbuka lebar.
“Tidal Roar,” kata Darjeeling. “Earl, ini lebih cepat dari—”
“Aku tahu.”
Aku sudah tahu sejak awal fase. Setelah Drowned Frenzy, roar-nya maju sembilan detik. Tidak ada yang cukup lama hidup di fase ini untuk tahu itu. Tapi aku membaca animasinya: bahu ular itu turun tiga frame sebelum roar. Selalu.
Gelombang menyapu arena.
[Darjeeling — DEAD] [Matcha — DEAD] [Hojicha — DEAD] [Chamomile — DEAD] [Sencha — DEAD]
Layar di sudut kiriku berubah abu-abu satu per satu. Lima nama. Hanya dua yang tersisa.
[Earl — HP 1] [Lychee — HP 12%]
Aku hidup karena berdiri di satu-satunya titik yang tidak tersapu gelombang: di belakang tiang kapal paling tinggi, tepat di bawah bayangan kepala Leviathan. Tempat yang tidak masuk akal. Tempat yang tidak akan dipilih orang waras.
Lychee hidup karena dia ada di bawah air, di bawah gelombang.
“Bang,” bisik Oolong, yang sudah jadi hantu dan hanya bisa menonton. “Ini... dua orang lawan boss Abyss?”
“Satu persen,” kataku. “Lychee, cooldown ultimate-mu kebuka dalam empat detik.”
Lychee: tahu.
Earl: haste terakhir aku lempar di detik ketiga. kamu jangan nunggu animasinya selesai. cancel di frame ke-dua.
Lychee: kamu gila.
Earl: kamu bisa.
Hening di voice channel. Semua orang menahan napas. Aku bisa mendengar Bu Ratna, Rooibos, berbisik “Ya Allah, ya Allah” di belakang mikrofonnya, dan suara panci jatuh di dapurnya.
“Tiga. Dua. Sekarang.”
Ultimate Lychee, Thousand Petal Thrust, menghantam insang Leviathan seperti badai bunga.
[Leviathan, the Drowned King — DEFEATED]
Lalu layar menjadi putih sebentar. Dan di bagian atas, untuk semua pemain di seluruh server Genesis:
[World Notice] Party “Morning Tea” has cleared Leviathan’s Maw (Abyss). Clear time: 48:12. Survivors: 2.
Voice channel meledak.
“ANJIR! MAAF BAHASANYA! ANJIR!” Genmai berteriak sampai suaranya pecah.
“Dua orang,” kata kembarannya, Hojicha. “Dua. Orang. Ini masuk forum besok. Ini masuk forum.”
“Alhamdulillah,” kata Bu Ratna. “Panci Ibu jatuh tadi, nggak apa-apa, demi Morning Tea.”
Darjeeling tertawa panjang, tawa bapak-bapak yang baru menang lomba tujuh belasan. “Itu baru anak-anak Bapak!”
Aku melepas headset sebentar. Telingaku panas. Tanganku agak gemetar, seperti biasa setelah raid panjang. Di samping keyboard, Earl Grey di cangkirku sudah dingin, tanpa gula, sudah dua jam tidak kusentuh.
Aku memakai headset lagi.
“...dan Bang Earl,” kata Oolong, “plis. Plis banget. Ganti senjata. Aku malu, Bang. Kita barusan menang raid Abyss dibawa sama orang yang megang ranting.”
“Rantingnya baik kok,” kataku.
“Baik apanya, statnya nol!”
“Stat bukan segalanya.”
“Itu kalimat yang cuma boleh diucapin orang yang nggak bawa ranting, Bang.”
Chamomile tertawa. Healer kami, satu-satunya di party yang wajahnya diketahui publik karena dia streamer, punya tawa yang terdengar seperti iklan permen. “Udah, udah. Earl mah bebas. Earl itu misteri. Earl itu daddy strategi.”
“Jangan panggil aku begitu,” kataku.
“Kenapa? Malu ya?”
Aku tidak menjawab. Chamomile tertawa lagi.
Di chat party, satu pesan muncul pelan, tenggelam di antara stiker dan huruf kapital semua orang.
Lychee: gg.
Hanya itu. Dua huruf. Tapi aku membacanya tiga kali.
“Tim,” kata Darjeeling ketika keributan mereda. Nadanya berubah. “Bapak mau ngomong serius sebentar.”
Semua diam. Darjeeling jarang bilang serius. Terakhir kali dia bilang serius adalah waktu dia minta doa karena toko bangunannya kebanjiran.
“Kita udah dua tahun bareng. Dua tahun, sepuluh orang, nggak pernah gagal raid. Bapak udah tua, anak Bapak udah kuliah, istri Bapak bilang Bapak ini kecanduan game. Tapi Bapak bilang ke istri: ini bukan game, Bu. Ini keluarga.”
“Pak...” Chamomile terdengar terharu.
“Jadi Bapak mau usul,” lanjut Darjeeling. “Kopdar. Ketemu offline. Makan bareng. Bapak yang traktir.”
Voice channel hening tiga detik. Lalu meledak lagi, lebih keras dari tadi.
“MAU!”
“Aku ikut! Aku ikut!”
“Ibu bawa rantang ya,” kata Bu Ratna. “Ibu bikin rendang. Anak-anak suka rendang, kan?”
“Bu, kita nggak tahu umur kita masing-masing, siapa tahu ada yang empat puluh tahun,” kata Genmai.
“Ya kalau empat puluh tahun juga suka rendang, Mas.”
Chat party penuh. Sencha mengetik satu kata: ikut, diikuti emoji jempol. Matcha bilang dia bisa datang setelah narik pagi. Oolong bilang dia harus izin ke mamanya, lalu buru-buru meralat, “Maksudnya izin ke... dosen.”
Aku tidak bilang apa-apa.
“Earl?” panggil Darjeeling. “Kamu ikut, kan?”
Aku menatap layar. Di sudut kanan atas, karakter Earl berdiri dengan jubah abu-abu sederhana dan ranting di tangan. Sosok yang dikagumi sembilan orang ini. Sosok yang di forum dijuluki Morning Tea’s Brain. Sosok yang tidak punya wajah.
Di dunia nyata, aku adalah orang yang namanya tidak diingat siapa pun di kantor. Orang yang ide rutenya dipresentasikan atasan sebagai idenya sendiri, dan aku diam saja. Orang yang lewat di lift dan pintu tetap tertutup karena tidak ada yang sadar ada orang di dalam.
Kalau mereka melihatku, apa mereka masih akan memanggilku Earl dengan nada seperti tadi?
“Earl?”
“Aku... lihat jadwal dulu,” kataku.
“Bang, jadwalmu cuma kerja sama main Genesis. Aku tahu, kamu online jam tujuh tiap malam, kayak absen,” kata Hojicha.
Semua tertawa. Aku juga tertawa, tipis.
“Nanti aku kabari,” kataku.
Mereka log out satu per satu. Bu Ratna pamit karena harus menyiapkan sarapan anak-anak. Darjeeling pamit karena istrinya sudah berdiri di pintu kamar, katanya. Kembar pamit sambil ribut soal siapa yang harus tidur di kasur atas.
Aku masih duduk di depan layar, melihat danau Leviathan yang sekarang tenang.
Sebuah notifikasi muncul di sudut layar. Whisper. Pesan pribadi.
Lychee: kamu ikut kan?
Aku menatap pesan itu. Lychee jarang mengirim whisper. Dalam dua tahun, mungkin sepuluh kali. Kebanyakan soal posisi raid.
Earl: belum tahu.
Lychee: ikut.
Lychee: aku pengen lihat orang yang barusan nyuruh aku lompat ke air penuh listrik.
Aku tersenyum sendirian di kamar kos.
Earl: kamu yang mau lompat.
Lychee: karena kamu yang bilang.
Jeda. Titik-titik mengetik muncul, hilang, muncul lagi.
Lychee: tadi itu, makasih udah percaya aku bisa cancel di frame dua. nggak banyak orang yang percaya aku bisa. di mana pun.
Aku membaca kalimat terakhir itu lama. Di mana pun. Seperti ada dunia lain di balik karakter berambut perak itu, dunia di mana tidak banyak orang percaya padanya.
Aku mengetik. Kuhapus. Kuketik lagi. Kuhapus lagi.
Akhirnya:
Earl: iya. aku ikut.
Lychee: janji?
Earl: janji.
Lychee: oke. jangan bawa ranting.
Aku tertawa sampai harus menutup mulut, takut tetangga kos sebelah terbangun.
Lalu tawaku berhenti. Aku berdiri, membuka lemari, dan menatap isinya: tujuh hoodie, semuanya abu-abu.
Aku baru saja berjanji bertemu sembilan orang yang menganggapku jenius.
Dan aku tidak punya satu baju pun yang tidak membuatku terlihat seperti orang yang selalu lupa diundang.
- 1 Leviathan’s Maw reading
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit