Chapter Twenty Seven
Catatan Earl
POV: Aruna
[Earl has left the party “Morning Tea”.]
Aku membaca notifikasi itu Rabu malam, jam sepuluh lewat tujuh menit, di sofa apartemen, dengan laptop di pangkuan dan lychee tea yang belum kusentuh.
Aku membacanya lima kali. Lalu menutup laptop. Lalu membukanya lagi, karena berharap notifikasinya hilang, seperti glitch.
Tidak hilang.
Aku mengirim whisper.
Lychee: kira. kamu kenapa?
Centang satu. Dia sudah offline.
Aku menelepon. Nada dering bawaan ponsel, yang dia pasang setelah ice skating, berbunyi di ujung sana. Lima kali. Tidak diangkat.
Aku tidak tidur malam itu. Aku berbaring, menatap langit-langit, dan mencoba menebak.
Ristretto. Itu pasti. Ristretto tahu siapa Earl, tahu siapa Lychee, tahu tentang kami. Ristretto adalah Reno. Kira keluar party supaya Reno tidak bisa memakai game untuk menyerang kami. Supaya tidak ada lagi foto, tidak ada lagi whisper, tidak ada lagi bukti.
Itu masuk akal. Itu sangat Kira. Mundur dari sesuatu yang dia cintai supaya orang lain aman.
Aku bilang ke diriku sendiri itu alasannya. Dan aku hampir percaya.
Kamis pagi, dia ada di mejanya.
Aku melihatnya dari pintu kaca ruang kontrol jam tujuh lewat lima belas. Hoodie abu. Kacamata. Tumbler Earl Grey. Headset di satu telinga. Mengetuk meja.
Dia ada di sana. Dia tidak pergi ke mana-mana.
Napasku keluar panjang. Aku tidak sadar aku menahannya sejak semalam.
Aku ingin masuk. Ingin berdiri di depan mejanya dan bertanya kenapa kamu keluar party, kenapa kamu nggak angkat telepon, kenapa kamu nggak bilang apa-apa. Tapi ini kantor. Aturan nomor satu. Dan dua dispatcher dari shift malam masih duduk di sana, dan salah satunya baru minggu lalu bilang dia naik jabatan karena dekat denganku.
Jadi aku hanya lewat. Seperti biasa. Dan saat lewat, aku mengetuk pinggir mejanya.
Satu, dua, tiga.
Dia tidak mendongak.
Jarinya berhenti mengetuk meja. Tapi kepalanya tidak bergerak. Matanya tetap di layar.
Aku berjalan ke ruanganku dengan langkah yang terlalu cepat.
Jam sepuluh, aku harus kembali ke ruang kontrol untuk mengambil laporan armada mingguan. Dan saat itulah aku melihat papan rute.
Ada yang baru di sana. Bukan di tengah, bukan di peta. Di pinggir. Sticky note kuning, berderet rapi di sepanjang tepi kanan papan. Tujuh. Delapan. Sebelas.
Aku mendekat.
Untuk Mas Fajar: Pak Darto berangkat jam 04.00, antar anak jam 06.00...
Untuk Mbak Ayu: Forklift Tangerang nomor 2 suka rusak. Nomor 3, Pak Joko bisa nyetir...
Untuk Mas Dimas: Klien Thamrin City suka minta update tiap 30 menit pas hujan...
Untuk Tari: Jagung makan tiap Jumat. Merek yang kaleng biru. Pak Haris tahu tokonya.
Tulisan miring ke kanan. Angka tujuh dengan garis kecil di tengah.
Tari berdiri di sebelahku. Aku tidak sadar kapan dia datang. Dia sedang menatap sticky note terakhir, yang ditujukan padanya.
“Bu,” katanya pelan. Bukan bisikan Tari. Benar-benar pelan. “Kenapa Kira nulis kayak gini?”
“Saya nggak tahu.”
“Kayak orang mau pergi.” Tari menatap sticky note itu. “Kayak orang mau cuti panjang. Atau pindah. Dia nulis siapa harus ngurus Jagung.”
Aku menatap sticky note itu. Jagung makan tiap Jumat.
Besok Jumat.
Aku menoleh ke meja ketiga dari jendela. Kira tidak ada. Kursinya kosong. Tumbler Earl Grey masih di meja.
“Dia ke mana?”
“Ke lantai tujuh, Bu,” kata Mbak Ayu dari meja seberang. “Dipanggil HRD. Lagi.”
Aku tidak sempat menunggunya kembali. Rapat dengan vendor jam sebelas. Kunjungan gudang Cakung jam dua yang ditunda dari kemarin. Rapat koordinasi dengan Pak Darmawan jam empat, yang dibatalkan Pak Darmawan pukul tiga lewat lima puluh dengan pesan singkat: Maaf, Aruna. Ada yang harus saya tanda tangani. Besok saja.
Jam lima, saat aku kembali ke lantai empat, meja ketiga dari jendela sudah kosong. Kira sudah pulang. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia pulang sebelum jam enam.
Aku membuka WhatsApp.
Aruna: Kamu pulang cepat?
Kira: Iya. Capek.
Aruna: Besok kita ngobrol. Beneran. Aku ke meja kamu jam tujuh.
Centang dua. Biru. Tidak ada balasan.
Jam delapan malam, grup Morning Tea memanggil.
Darjeeling: Anak-anak. Weekly raid. Mirror Queen. Darjeeling: Bapak tahu kita semua sedih. Tapi final guild war minggu depan. Kita butuh gear dari Mirror Queen buat final. Hojicha: tanpa bang earl pak? Darjeeling: Tanpa Earl. Genmai: kita bakal wipe sembilan kali lagi Oolong: atau sepuluh 😔 Darjeeling: @Lychee, Nak, kamu yang mimpin. Kamu yang paling lama sama Earl.
Aku menatap pesan itu.
Aku pernah mencoba memimpin. Wipe kesembilan. Aku berhenti menghitung di angka tiga.
Lychee: aku nggak bisa, pak.
Sencha: bisa.
Satu kata. Dari Sencha. Lalu whisper masuk ke layarku.
Sencha: dia titip sesuatu buat kamu.
Sencha: dia bilang kasih kalau kamu mimpin raid. jangan sebelum itu.
Sebuah tautan muncul. Dokumen. Judulnya:
Catatan Earl — Untuk Raid Tanpa Earl
Aku membukanya.
Tiga puluh empat halaman.
Halaman pertama, tanpa judul, hanya satu paragraf.
Untuk siapa pun yang mimpin raid tanpa aku. Kalian nggak butuh aku. Kalian cuma butuh tahu apa yang aku tahu. Ini semuanya. Setiap fase, setiap jebakan, setiap tempo. Kalau kalian ikutin ini, kalian bisa clear 80% raid yang pernah kita clear. 20% sisanya, aku minta maaf. Ada hal yang nggak bisa ditulis.
Lalu Leviathan. Tiga halaman. Posisi setiap orang di setiap fase. Frame roar. Titik aman di belakang tiang kapal tertinggi.
Lalu Clockwork Cathedral. Empat halaman. Lagu tidur dalam notasi angka. Dua belas nada lonceng, petak satu sampai dua belas, dari tinggi ke rendah.
Lalu Hydra. Lima halaman. Cara menghentikan Sorrow’s Echo. Urutan burst per HP kepala. Dan satu catatan kecil: Tempo Sync nggak bisa dipakai tanpa enchanter. Lychee dan Darjeeling harus nyamain cooldown manual. Darjeeling pakai ultimate di detik 12. Lychee di detik 10. Hitung dari Sorrow’s Echo selesai.
Dia menghitung cara kami menang tanpa dia.
Di akhir setiap raid, ada bagian yang sama.
Kalau aku nggak ada.
Leviathan: Kalau aku nggak ada, jangan pakai Elemental Shift petir. Kalian nggak bisa timing Barrier. Pakai es. Lebih lambat, tapi aman.
Cathedral: Kalau aku nggak ada, Rooibos yang dengerin lonceng. Bu Ratna punya telinga paling bagus di party. Dia nggak tahu itu.
Hydra: Kalau aku nggak ada, Lychee jangan sendirian di Spring. Bawa Sencha. Sencha bisa baca kapan kepala tujuh mau nyelam dari riak airnya.
Aku membaca semuanya. Halaman demi halaman. Seperti membaca buku tulis bersampul cokelat yang tidak pernah kulihat isinya.
Lalu halaman terakhir. Mirror Queen.
“Lychee,” kata Pak Hendro di voice. “Kita masuk?”
Aku menatap dokumen. Lalu menatap layar. Sembilan karakter di depan pintu kaca Hall of Reflections. Tanpa enchanter. Tanpa tongkat fajar.
“Masuk,” kataku.
Suaraku sendiri, di voice channel. Aku jarang memakainya. Sembilan orang diam sebentar mendengarnya.
[Hall of Reflections — Start]
“Fase satu,” kataku, membaca dari halaman tiga puluh dua. “Nggak ada buff. Kita nggak punya enchanter, jadi itu gampang. Main polos.”
“Kalau nggak ada buff, ratunya nggak nyalin apa-apa,” kata Matcha. “Bagus.”
“Tapi kita nggak bisa kasih dia elemen es,” kata Hojicha. “Bang Earl kemarin kasih es ke Oolong biar ratunya disalin, terus kita pakai api.”
Aku membaca halaman tiga puluh dua lagi.
Kalau aku nggak ada: Rooibos punya skill Frost Armor. Itu buff es satu target. Lempar ke Oolong tiga detik sebelum ratu nyalin. Abis ratu jadi es, Rooibos ganti ke Fire Rain. Semua orang pakai skill api yang kalian punya. Bukan sekuat Elemental Shift, tapi cukup.
“Bu Ratna,” kataku. “Ibu punya Frost Armor?”
“Punya, Nak. Ibu nggak pernah pakai.”
“Pakai ke Oolong. Pas aku bilang.”
Fase satu tembus dalam dua belas menit. Lebih lambat dari minggu lalu. Tapi tembus.
Fase dua, bayangan-bayangan muncul. Halaman tiga puluh tiga: Bayangan kalian nyalin gerakan dua detik lalu. Jangan ulangi gerakan. Lychee, bayangan kamu bakal pakai Thousand Petal Thrust. Tunggu satu frame lebih lama.
Aku menunggu satu frame lebih lama. Bayangan rapier itu pecah.
Fase dua tembus.
[Seraphine — HP 10%] [PHASE 3 — Final Reflection]
Ratu itu terangkat. Pecahan cermin menempel ke tubuhnya. Zirah perak memantulkan sembilan karakter.
[Seraphine has reflected: All stats of all party members combined.]
Dia mengayunkan tangan.
[Matcha — DEAD] [Genmai — DEAD]
“Lychee!” teriak Pak Hendro. “Halaman berapa?! Catatannya bilang apa?!”
Aku membuka halaman tiga puluh empat. Halaman terakhir.
Hanya beberapa baris.
Fase 3 nggak bisa tanpa Origin. Aku udah coba hitung 40 skenario. Nggak ada yang tembus.
Kalau sampai sini, mundur.
Jangan wipe sembilan kali. Jangan ada yang berhenti hitung di angka tiga.
Aku membaca kalimat itu. Jangan ada yang berhenti hitung di angka tiga.
Dia membaca pesanku. Malam itu, jam sebelas lewat dua belas, saat dia demam dan ponselnya mati. Di wipe kesembilan, aku berhenti hitung di angka tiga. Karena aku mikirin kamu. Dia membacanya, dan dia menulisnya di sini. Untukku.
“Mundur,” kataku.
“Mundur?!”
“Semua mundur ke pintu. Sekarang. Catatannya bilang mundur.”
Delapan karakter berlari ke pintu kaca. Ratu itu tidak mengejar. Dia hanya melayang di tengah aula, memantulkan cahaya dari semua arah, dengan HP tiga persen.
[Party has retreated. Raid progress saved: Phase 3 — 3%.]
Tidak ada yang mati. Tidak ada wipe.
Tiga persen.
Voice channel diam lama.
“Delapan puluh persen,” kata Matcha akhirnya. “Dia bilang kita bisa clear delapan puluh persen. Kita clear sembilan puluh tujuh.”
“Tiga persen,” kata Oolong pelan. “Kurang tiga persen.”
“Tiga persen itu Bang Earl,” kata Genmai. Suaranya serak. “Tiga persen itu tongkat emas.”
Tidak ada yang membantah.
Lalu Sencha mengetik di chat party. Panjang. Lebih panjang dari yang pernah dia tulis selama dua tahun.
Sencha: aku mau cerita sesuatu.
Sencha: tiga tahun lalu, waktu genesis masih beta, aku main sendirian. nggak ada party yang mau ajak aku. aku nggak bisa pakai voice. aku nggak bisa dengar call. setiap kali aku join party, aku salah posisi, terus di-kick.
Sencha: suatu malam, ada enchanter random yang invite aku. dia pakai ranting. levelnya masih rendah. dia nggak pakai voice juga, karena dia malu.
Sencha: dia tanya kenapa aku nggak pernah gerak pas call. aku bilang aku tuli.
Sencha: besoknya, dia kirim aku file. isinya sistem ping warna. kuning bertahan. merah maju. biru mundur. dia bikin semalaman. buat satu orang yang baru dia kenal kemarin.
Sencha: waktu pak hendro bikin morning tea setahun kemudian, enchanter itu nggak mau gabung kalau aku nggak diajak.
Sencha: itu earl. itu kira.
Sencha: semua ping ungu aku dari dia. dari hari pertama. sebelum morning tea ada.
Voice channel tidak bersuara sama sekali.
Lalu terdengar isakan pelan. Bu Ratna. Lalu suara Pak Hendro, berat, tertahan, yang mencoba bicara dan tidak bisa.
“Bapak nggak tahu,” katanya akhirnya. “Dua tahun Bapak leader. Bapak nggak tahu.”
Sencha: dia nggak pernah mau ada yang tahu.
Sencha: itu masalahnya.
Setelah semua log out, aku membuka dokumen itu sekali lagi.
Halaman tiga puluh empat. Baris terakhir. Satu kalimat yang tadi kulewati karena aku sedang menghitung.
Lychee: aturan nomor enam tetap berlaku. Dari jauh juga bisa.
Aku membaca kalimat itu sekali. Dua kali.
Dari jauh.
Bukan dari luar party. Bukan dari offline. Dari jauh.
Sticky note di papan rute. Untuk Tari: Jagung makan tiap Jumat. Dipanggil HRD. Lagi. Pak Darmawan membatalkan rapat karena ada yang harus saya tanda tangani. Pulang sebelum jam enam untuk pertama kalinya dalam dua tahun.
Aku harus pergi jauh sebentar. Urusan kerja.
Aku menatap layar laptop. Jam tangan Papa di pergelanganku berdetak pelan.
Aku tahu.
Aku belum punya bukti. Aku belum membaca surat apa pun. Tapi aku tahu, seperti aku tahu dia Earl dari ketukan jarinya di meja kafe. Seperti aku tahu dia penulis papan rute dari angka tujuh dengan garis kecil di tengahnya.
Aku membuka WhatsApp.
Aruna: Kira.
Aruna: Kamu mau ke mana?
Centang satu.
Dia sudah mematikan ponselnya.
Aku menatap pesan itu sampai layar meredup. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Papa meninggal tujuh tahun lalu, aku menangis sampai tertidur di sofa, dengan laptop yang masih terbuka di halaman tiga puluh empat.
Dari jauh juga bisa.
Aku tidak mau dari jauh.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl reading
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit