Chapter Sixteen
Gelombang
POV: Kira
Dua belas Desember, jam tiga lewat empat puluh pagi, aku sudah berdiri di depan papan rute.
Ruang kontrol masih gelap, kecuali layar besar di dinding dan lampu meja di tiga stasiun dispatcher. Di luar jendela, Cawang belum bangun. Tol layang sepi. Hanya satu dua truk tangki yang melintas pelan, lampunya kuning seperti mata kucing.
Papan putih di depanku sudah bukan papan putih. Selama tiga minggu, setiap malam, aku menulis di sana sampai tidak ada ruang tersisa. Tiga gelombang utama, masing-masing dipecah dua. Enam warna spidol. Dua ratus tiga puluh nomor armada. Dua ratus tiga puluh nama sopir. Di pojok kanan bawah, dengan huruf kecil, tulisan tanganku: Pak Darto — berangkat 04.00 — antar anak 06.00.
Volume pesanan hari ini diperkirakan tiga koma dua kali hari biasa. Seratus empat puluh ribu paket.
Aku menyeruput Earl Grey. Panas. Tanpa gula.
“Kamu tidur di sini lagi?”
Aku menoleh. Aruna berdiri di pintu kaca. Jaket hitam, rambut dikuncir tinggi, dua gelas plastik di tangan. Satu lychee tea dengan es menggunung. Satu Earl Grey panas dengan uap yang mengepul dari lubang tutupnya.
“Nggak, Bu. KRL pertama.”
“KRL pertama jam empat lewat.”
“Ojol.”
“Jam setengah tiga?”
“Matcha.”
Dia berhenti melangkah. “Matcha? Yudha? Morning Tea?”
“Dia narik jam segitu. Aku order, ternyata dia.” Aku mengangkat bahu. “Dia nggak mau dibayar. Katanya driver ojol delapan tahun, aku tahu kapan penumpang lagi berjuang.”
Aruna tertawa pelan. Tawa jam setengah empat pagi, serak, belum sepenuhnya bangun. Lalu dia meletakkan Earl Grey di samping tumblerku.
“Buat cadangan,” katanya. “Hari ini panjang.”
Aturan nomor satu. Nggak ada perlakuan khusus.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku mengambil gelas itu dan menyeruputnya.
Gelombang satu berangkat jam empat tepat.
Pak Darto yang pertama. Truk B-01 meninggalkan gudang Cikarang, titik hijau kecil bergerak di layar besar. Lalu B-02, B-03, sampai B-14. Lalu armada C dari Cakung. Lalu armada T dari Tangerang.
Jam lima, dispatcher lain mulai berdatangan. Tari dengan termos kopi dan roti sobek. Mas Fajar dengan mata setengah terpejam. Mbak Ayu dengan headset sudah terpasang dari parkiran. Reno datang jam lima lewat dua puluh, kemeja disetrika rapi seperti biasa, langsung ke mejanya di dekat telepon.
“Kir,” katanya sambil lewat, tanpa berhenti. “Laporan gelombang satu?”
“Empat belas armada Cikarang on schedule, Pak. Cakung dua belas dari tiga belas, C-07 telat lima menit karena ban. Tangerang semua jalan.”
Reno mengangguk dan duduk. Tidak bilang apa-apa lagi.
Jam enam, Pak Darto mengirim pesan ke grup: Sudah sampai Pulogadung. Anak sudah diantar sekolah. Terima kasih Mas Kira jadwalnya. Dengan foto anaknya, kelas dua SD, berseragam merah putih, mengacungkan jempol di depan gerbang sekolah.
Aku menatap foto itu lama.
Masalah pertama datang jam delapan lewat sebelas.
“Kir!” Mas Dimas berdiri dari kursinya. “Ada demo ojol di Bundaran HI. Thamrin sama Sudirman ditutup dari Monas sampai Semanggi. Sebelas armada gelombang dua jalurnya lewat situ.”
Aku sudah tahu. Aku tahu sejak jam tujuh lewat lima puluh, karena Matcha mengirim pesan ke grup Morning Tea: bro2 jgn lewat thamrin, temen2 ojol mau aksi jam 8. Aku sudah menyiapkan rute cadangan sejak tadi. Rute cadangan nomor empat di dokumen: Kuningan–Casablanca–Tanah Abang.
“Alihin semua ke rute empat,” kataku. “Mas Dimas, sebelas armada itu dua belas menit lebih lama. Kabari klien di Thamrin City pakai template B.”
“Siap.”
Jam sembilan lewat tiga puluh. Hujan lebat di Bekasi. Kalimalang mulai tergenang. Aku melihat foto dari Pak Udin. Air di tiang listrik dengan cat merah, garis pertama.
“Gelombang tiga Bekasi jangan lewat Kalimalang,” kataku. “Mbak Ayu, alihin ke Jatiwaringin.”
Jam sebelas. Gudang Tangerang lapor forklift nomor dua rusak lagi. Pak Joko sudah naik forklift nomor tiga sebelum ada yang menyuruhnya, karena dia ingat dari tiga minggu lalu.
Jam dua belas lewat lima belas. Sistem aplikasi sopir lambat karena server kebanjiran pesanan. Aku sudah mencetak semua rute di kertas dan mengirim foto rute ke setiap grup WhatsApp sopir sejak jam empat pagi. Tidak ada yang kehilangan arah.
Jam dua siang. Tari menyodorkan roti sobek terakhir ke mulutku tanpa bertanya, karena aku belum makan sejak jam tiga pagi.
“Kunyah,” katanya.
Kenapa semua perempuan di hidupku tiba-tiba menyuruhku mengunyah?
Aruna tidak pernah duduk sepanjang hari.
Dia berdiri di belakang ruang kontrol, di dekat pintu, seperti waktu server mati. Tapi kali ini dia tidak hanya menonton. Setiap kali ada klien besar menelepon langsung ke ruangannya, dia mengangkat sendiri, berjalan ke ruang kontrol sambil menempelkan ponsel di telinga, dan menatapku.
“Kira, klien Mega Retail nanya paket ke Kemang.”
“Armada T-22, Bu. Lewat Antasari. Sampai jam tiga lewat sepuluh.”
Dia mengulangnya ke telepon, kata demi kata. Lalu menutup telepon, dan berjalan pergi lagi.
Delapan kali. Dua belas kali. Dua puluh kali. Setiap kali, dia bertanya padaku, bukan pada Reno. Setiap kali, dispatcher lain melihat.
Pada telepon kedua puluh tiga, Reno berdiri.
“Bu,” katanya. “Kalau klien nanya, Ibu bisa tanya saya. Saya koordinator lapangan.”
Aruna menatapnya. “Klien nanya posisi armada, Reno.”
“Saya bisa lihat di sistem, Bu.”
“Sistemnya lambat dari jam dua belas.”
Reno diam. Lalu duduk lagi.
Aku menunduk ke layarku. Tidak berani menoleh ke arah keduanya.
Gelombang terakhir tiba jam delapan lewat empat puluh malam.
T-35, truk terakhir dari Tangerang, menurunkan paket terakhir di gudang distribusi Pulogadung. Titik hijau kecil di layar besar berhenti bergerak.
Ruang kontrol hening.
Tari membuka laporan otomatis. Dia membacanya dalam diam, bibirnya bergerak tanpa suara. Lalu dia mendongak.
“Seratus empat puluh tiga ribu paket,” katanya. “Ketepatan waktu...”
Dia berhenti. Menelan ludah.
“Delapan puluh sembilan persen.”
Mas Fajar menjatuhkan pulpennya.
Delapan puluh sembilan persen. Tahun lalu, dengan volume yang lebih kecil, tujuh puluh dua. Keterlambatan turun hampir empat puluh persen. Tidak ada armada merah. Tidak ada paket hilang. Tidak ada sopir yang terjebak banjir.
Mbak Ayu yang pertama bertepuk tangan. Lalu Mas Dimas. Lalu Tari, yang sudah menangis bahkan sebelum mulai bertepuk tangan. Lalu seluruh ruangan.
Aku tidak bertepuk tangan. Aku duduk di kursiku. Melepas headset. Menyeruput Earl Grey cadangan yang Aruna bawa tujuh belas jam lalu.
Dingin. Pahit sedikit. Bergamot di belakangnya.
Pintu kaca terbuka.
Pak Darmawan masuk ke ruang kontrol. Direktur Operasional. Rambut putih, kacamata baca, jaket batik yang dipakai untuk rapat malam. Di belakangnya, Aruna.
Seisi ruangan langsung berdiri.
“Duduk, duduk,” kata Pak Darmawan, mengibaskan tangan. “Saya cuma mau lihat sendiri.”
Dia berjalan pelan ke depan layar besar. Menatap titik-titik hijau yang berhenti di gudang-gudang. Lalu dia menoleh ke papan rute di sudut ruangan. Papan yang penuh tulisan tanganku.
Dia berdiri di depan papan itu lama. Membaca. Kacamatanya turun ke ujung hidung.
“Pak Darto, berangkat empat, antar anak enam,” gumamnya. Lalu dia menoleh. “Ini siapa yang nulis?”
Ruangan diam.
Reno berdiri. “Tim dispatch, Pak. Kita semua—”
“Kira,” kata Aruna.
Suaranya tidak keras. Tapi seluruh ruangan mendengarnya.
“Papan itu ditulis Kira Aditama, Pak. Rencana Harbolnas disusun Kira. Kamis server mati, yang menulis ulang rute dua ratus tiga puluh armada dari ingatan juga Kira.”
Pak Darmawan menatap Aruna. Lalu, perlahan, berbalik ke deretan meja dispatcher.
“Yang mana Kira?”
Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa. Kakiku seperti terpaku ke lantai, seperti saat Leviathan mengangkat kepalanya dan aku harus memutuskan dalam satu koma dua detik.
Lalu aku merasakan sesuatu. Sebuah dorongan pelan di punggung. Tari. Tangannya di punggungku. Mendorong.
“Maju, Kir,” bisiknya.
Aku berdiri.
Pak Darmawan menatapku. Hoodie abu. Kacamata. Rambut yang sudah tujuh belas jam tidak bertemu sisir. Tumbler Earl Grey di tangan.
“Kamu Kira?”
“Iya, Pak.”
Dia berjalan ke arahku. Berhenti di depan mejaku. Lalu mengulurkan tangan.
“Saya sudah dua puluh tahun di logistik,” katanya. “Saya belum pernah lihat yang kayak hari ini. Terima kasih.”
Aku menjabat tangannya. Tangannya kering dan hangat, seperti tangan Pak Hendro.
“Sama-sama, Pak,” kataku. Lalu, karena aku tidak tahu harus bilang apa lagi: “Tim yang kerja, Pak. Bukan cuma saya.”
Pak Darmawan tersenyum. Senyum orang tua yang tahu lebih banyak dari yang dia katakan.
“Saya tahu,” katanya. “Tapi tim butuh orang yang nulis papan.”
Dia melepas tanganku. Menoleh ke Aruna.
“Besok jam sepuluh, ruang rapat lantai sembilan. Saya mau Kira presentasi ke direksi.”
“Siap, Pak.”
Dia pergi. Aruna pergi bersamanya. Di pintu kaca, sebelum pintu tertutup, dia menoleh sekali. Hanya sekali. Matanya bertemu mataku dari seberang ruangan.
Dia tidak tersenyum. Dia hanya mengangguk. Pelan. Satu kali.
Seperti Lychee di chat party setelah setiap clear. gg.
Reno pulang jam sembilan tanpa bicara pada siapa pun.
Saat dia lewat di belakang mejaku, dia berhenti. Satu detik. Aku menunggu dia mengatakan sesuatu. Selamat, atau jangan lupa, atau apa pun.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berjalan ke lift.
Tari menyenggol lenganku. “Kir. Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kupingmu merah lagi.”
“Aku capek, Tar.”
“Kamu capek tapi senyum.”
“Aku nggak senyum.”
“Kir, aku duduk di sebelah kamu dua tahun. Aku tahu bedanya kamu capek sama kamu senyum.” Dia membereskan termos kopinya. “Dan ini senyum.”
Jam sepuluh malam, aku baru keluar gedung. Pak Somad sudah mendorong gerobaknya ke depan lobi. Di bangku plastik, sudah ada satu piring nasi goreng dengan dua telur ceplok, ditutup piring lain supaya tidak dingin.
“Dari atasan, Mas,” kata Pak Somad sambil mengelap wajan. “Udah dibayar dari jam tujuh. Pesannya: kalau Kira keluar, kasih ini. Jangan biarin dia pulang sebelum makan.”
Aku duduk di bangku plastik dan membuka piring penutup.
Di atas nasi goreng, di samping dua telur ceplok, ada sticky note kuning. Ditempel di sendok, dilipat dua supaya tidak kena minyak.
Hari ini kamu maju. Sedikit. Dua langkah dari kursi kamu. —A
Dengan garis panjang di ujung huruf A. Seperti ekor bintang jatuh.
Aku menatap tulisan itu lama.
Dua langkah dari kursiku. Tari mendorong punggungku, dan aku berdiri, dan aku maju dua langkah ke depan meja, dan aku menjabat tangan direktur. Itu dua langkah. Aku tidak pernah memikirkannya sebagai langkah. Aku tidak pernah memikirkannya sebagai maju.
Tapi dia menghitungnya.
Dia selalu menghitung sekarang.
Aku melipat sticky note itu dan menyelipkannya di dompet, di sebelah sticky note pertama. Lalu aku makan nasi goreng. Pelan. Mengunyah. Menyisihkan kerupuk untuk terakhir.
“Mas,” kata Pak Somad tanpa menoleh dari wajannya. “Atasan itu, Mas. Bapak udah jualan nasi goreng dua puluh delapan tahun di depan gedung ini. Udah ratusan atasan Bapak lihat. Nggak ada atasan yang bayarin nasi goreng bawahannya dari jam tujuh terus pesan jangan biarin dia pulang sebelum makan.”
“Mungkin dia baik aja, Pak.”
“Iya, Mas. Baik.” Pak Somad mengangguk ke wajannya. “Baik banget. Bapak paham.”
Aku mengambil kerupuk terakhir. Menggigitnya.
Besok jam sepuluh, ruang rapat lantai sembilan. Direksi.
Aku belum pernah naik ke lantai sembilan.
Malam ini, aku tidak takut.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang reading
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit