Chapter Fourteen
Sembilan Kali Wipe
POV: Aruna
Hari Jumat, Kira bersin empat belas kali.
Aku menghitungnya. Bukan karena sengaja. Karena ruang rapat kecil itu sunyi, dan setiap bersinnya terdengar seperti petasan kecil yang membuat proyektor berkedip.
“Kamu sakit,” kataku setelah bersin kesembilan.
“Nggak, Bu. Alergi debu.”
“Ruangan ini baru dibersihkan kemarin.”
“Debunya masih trauma.”
Bersin kesepuluh. Hidungnya merah. Matanya berair di balik kacamata. Dan dia tetap menulis di papan tulis, menyusun ulang gelombang dua untuk gudang Tangerang, dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Pulang,” kataku.
“Tinggal sedikit lagi, Bu.”
“Kira. Pulang.”
“Setelah ini selesai.”
Aku berdiri. Mengambil spidol dari tangannya. Dia tidak melawan, tapi menatapku seperti anak kecil yang mainannya diambil.
“Ini perintah atasan,” kataku. “Aturan nomor satu.”
“Aturan nomor satu bilang nggak ada perlakuan khusus.”
“Ini bukan perlakuan khusus. Kalau Mas Fajar bersin empat belas kali, aku juga suruh pulang.”
“Mas Fajar nggak pernah bersin.”
“Pulang.”
Dia pulang jam lima. Tepat saat hujan turun deras, Jakarta di bulan Desember. Dari jendela ruang rapat kecil, aku melihatnya keluar dari lobi, menutup kepala dengan tudung hoodie, dan berlari ke halte bus. Dia tidak bawa payung.
Tentu saja dia tidak bawa payung.
Sabtu malam, jam tujuh, Earl tidak online.
Dua tahun. Itu yang dikatakan Hojicha di kopdar. Kamu online jam tujuh tiap malam, kayak absen. Dua tahun, setiap malam, nama Earl menyala hijau di daftar teman tepat jam tujuh.
Malam ini abu-abu.
Jam tujuh lewat lima. Abu-abu.
Jam tujuh lewat sepuluh.
Darjeeling: Ada yang tahu Earl di mana? Hojicha: earl ga pernah telat Genmai: earl ga pernah ga online Oolong: bang earl kenapa ya 😟 Rooibos: Nak Kira mungkin capek. Biarkan saja, Nak.
Aku membuka WhatsApp. Bukan grup. Nomor pribadinya. Aku punya nomornya sejak Proyek 12.12 dimulai, tersimpan sebagai Kira Aditama — Perencana Rute. Kami belum pernah saling mengirim pesan di luar urusan kerja.
Aruna: Kamu udah di rumah?
Centang satu. Lima menit. Sepuluh menit. Centang dua. Biru.
Kira: Udah, Bu. Maaf nggak bisa raid. Demam sedikit.
Aruna: Sedikit berapa?
Centang dua. Biru. Tidak ada balasan.
Aruna: Kira. Berapa?
Tidak ada balasan.
Aku menatap ponsel. Lalu menatap laptop, tempat sembilan karakter Morning Tea berdiri di gerbang rawa Hydra, menunggu perintah yang tidak akan datang.
Lychee: earl demam. dia nggak bisa ikut. Chamomile: YA AMPUN Rooibos: Ya Allah. Nak Kira tinggal sendiri kan? Siapa yang masakin? Darjeeling: Kita batal aja malam ini? Hojicha: pak, weekly reset besok pagi. kalau ga clear hydra minggu ini, kita kehilangan loot mingguan Genmai: kita udah clear sekali. kita tahu mekaniknya. kita bisa sendiri Matcha: bisa, harusnya. kita udah hafal Darjeeling: Gimana, anak-anak? Kita coba? Biar Earl istirahat, dan dia nggak perlu khawatir soal loot mingguan.
Delapan orang setuju.
Aku tidak menjawab. Lalu, karena semua orang menunggu:
Lychee: oke.
Wipe pertama.
Kami menggunakan pembagian tim yang sama. Tim Shrine, tim Marsh. Tapi tanpa Earl, tidak ada yang bisa menemaniku di Sorrow Spring. Darjeeling mengirim Sencha bersamaku.
“Lychee, kamu yang ngatur call, ya,” kata Darjeeling. “Kamu yang paling sering bareng Earl. Kamu paling tahu cara dia mikir.”
Aku tidak tahu cara dia mikir. Aku hanya tahu cara dia bicara. Dan itu tidak sama.
Kami masuk. Kepala-kepala Septima muncul. Aku mencoba memberi instruksi di voice, sesuatu yang belum pernah kulakukan selama dua tahun main.
“Shrine, serang kepala satu. Marsh, serang kepala empat.”
Lalu tangisan dimulai.
Sorrow’s Echo. Semua orang lupa. Semua orang terus menyerang.
“Berhenti! Berhenti nyerang!” teriakku.
Terlambat. Tangisan berlapis-lapis. Damage setengah. Lalu kepala dua di Shrine mati duluan, sepuluh detik berjalan, kepala yang lain masih enam puluh persen.
Kepala dua tumbuh lagi. Lalu semburan racun dari Marsh. Lalu air dari Spring.
[Party Wiped]
Wipe kedua.
Kami ingat Sorrow’s Echo. Kami berhenti menyerang tepat waktu. Tangisan berhenti.
Lalu fase burst. Aku mencoba menghitung mundur. “Sepuluh, sembilan, delapan—”
“Lychee, kita burst di angka berapa?” tanya Genmai di Marsh.
“Empat.”
“Shrine di angka berapa?”
“Dua.”
“Kenapa beda?”
“Karena HP kepala kalian beda.”
“Berapa HP-nya?”
Aku melihat layar. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah memperhatikan HP kepala lain. Selama ini aku hanya memperhatikan kepala di depanku dan suara Kira di telingaku.
“Tunggu, aku cek—”
Sepuluh detik lewat. Kepala tumbuh lagi.
[Party Wiped]
Wipe ketiga. Ultimate Darjeeling dan ultimate-ku tidak sinkron. Tidak ada Tempo Sync. Tidak ada cahaya emas yang turun dari langit. Darjeeling memakai ultimate-nya empat detik terlalu cepat.
Wipe keempat. Oolong lupa menghindar dari semburan racun karena tidak ada yang bilang geser.
“Maaf,” kata Oolong, suaranya kecil. “Biasanya Bang Earl bilang geser.”
Wipe kelima. Sencha tidak tahu harus ke mana. Ping ungu yang biasanya muncul di layarnya tidak muncul, karena tidak ada yang menekannya. Dia berdiri di tempat yang salah selama dua detik, dan dua detik cukup.
Setelah wipe kelima, Sencha mengetik di chat party:
Sencha: ping ungu biasanya dari earl. aku baru sadar. semua ping aku dari earl. dua tahun.
Tidak ada yang membalas.
Wipe keenam.
Kali ini, Bu Ratna berhenti di tengah raid dan bilang dengan suara pelan:
“Anak-anak. Ibu baru sadar sesuatu.”
“Apa, Bu?”
“Selama dua tahun, Ibu nggak pernah tahu kapan harus lempar meteor. Ibu cuma lempar kalau Nak Earl bilang ‘Rooibos, sekarang.’ Ibu kira Ibu yang pintar main.” Dia tertawa kecil, tapi tawanya tidak lucu. “Ternyata Ibu cuma pintar dengerin.”
Kami wipe dua menit kemudian.
Wipe ketujuh.
Chamomile mematikan stream-nya.
“Aku malu,” katanya. “Tujuh ribu orang nonton kita wipe tujuh kali. Chat-nya nanya terus, mana Earl, mana Earl, mana Earl.”
“Mereka benar,” kata Matcha. “Mana Earl.”
Wipe kedelapan.
Kembar bertengkar.
“Kamu yang telat burst!”
“Kamu yang nggak geser!”
“Bang Earl yang biasanya bilang aku geser!”
“Bang Earl juga yang biasanya bilang kamu burst!”
Diam.
“Iya,” kata Genmai pelan. “Bang Earl yang biasanya bilang semuanya.”
Sebelum wipe kesembilan, Pak Hendro bicara.
Suaranya tidak keras. Tidak bariton. Tidak seperti bapak-bapak yang memimpin barisan tujuh belasan. Suaranya pelan dan lelah, seperti orang tua yang baru menyadari sesuatu tentang anak yang sudah lama dia banggakan.
“Anak-anak,” katanya. “Dua tahun Bapak jadi leader party ini. Dua tahun orang di forum bilang Morning Tea itu party legendaris. Bapak bangga. Bapak pikir kita hebat.”
Tidak ada yang menyela.
“Malam ini Bapak baru ngerti.” Dia menarik napas. “Ternyata selama ini kita cuma tangan. Otaknya ada di kos Tebet. Lagi demam.”
Hening sangat lama di voice channel.
“Kita coba sekali lagi,” kata Pak Hendro. “Terakhir. Kalau gagal, kita pulang. Besok kita jenguk Earl.”
Wipe kesembilan.
Ini yang paling dekat. Kami melewati Sorrow’s Echo. Kami sampai di fase burst. Semua kepala di tiga puluhan.
Aku memegang hitungan. “Sepuluh. Sembilan. Delapan.”
Di depanku, kepala ketujuh menyelam ke kolam. Aku tahu dia akan muncul di kiri. Aku tahu itu karena Kira bilang begitu minggu lalu. Kepala tujuh mau nyelam. Dia muncul lagi di kiri kolam.
Suaranya muncul di kepalaku. Pelan. Datar. Seperti orang membacakan jadwal kereta.
“Tujuh. Enam.”
Kamu nggak perlu lihat. Dengerin aku.
“Lima. Empat. Marsh, sekarang.”
Aku dengerin kamu terus kok.
“Tiga.”
Dan di angka tiga, aku berhenti.
Bukan karena lupa. Bukan karena tidak tahu. Aku berhenti karena di layar, di sudut kiri atas, di daftar teman, aku melihat nama Earl yang masih abu-abu. Dan aku tiba-tiba membayangkan kamar kos yang belum pernah kulihat, di gang yang hanya kutahu mulutnya, dengan laki-laki berhoodie abu yang terbaring sendirian, demam, tanpa ada yang menyuruhnya minum obat.
Dan aku tidak bisa menghitung lagi.
“Lychee?” suara Darjeeling. “Lychee, dua?”
Aku tidak menjawab.
Dua detik lewat. Kepala satu mati. Kepala empat mati. Kepala tujuh di depanku masih tiga puluh persen, menatapku dengan mata yang meneteskan air.
Sepuluh detik.
[Party Wiped]
Semua orang log out tanpa banyak bicara. Pak Hendro bilang “Istirahat, anak-anak.” Bu Ratna bilang “Doain Nak Kira.” Oolong bilang “Maaf ya, semuanya.” Padahal dia tidak salah.
Aku duduk di depan laptop. Danau Leviathan, tempat aku biasa nongkrong, sepi.
Jam sebelas malam.
Aku membuka WhatsApp lagi.
Aruna: Kira.
Centang satu.
Dia tidak online sejak pesan terakhirnya empat jam lalu. Demam sedikit. Lalu diam.
Aruna: Kita wipe sembilan kali.
Aruna: Pak Hendro bilang kita cuma tangan. Otaknya di Tebet.
Aruna: Sencha baru sadar semua ping ungunya dari kamu. Dua tahun.
Aruna: Bu Ratna bilang dia nggak pintar main, dia cuma pintar dengerin kamu.
Centang satu. Semua.
Aku meletakkan ponsel. Lalu mengambilnya lagi.
Aruna: Di wipe kesembilan, aku berhenti hitung di angka tiga.
Aruna: Bukan karena aku lupa angka berikutnya.
Aruna: Karena aku mikirin kamu.
Aku menatap kalimat terakhir itu sebelum menekan kirim. Jempolku melayang di atas layar.
Aturan nomor satu. Atasan dan bawahan.
Tapi ini Sabtu malam. Ini bukan kantor. Dan dia demam sendirian.
Aku menekan kirim.
Centang satu.
Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh. Tiga puluh. Tetap centang satu.
Ponselnya mungkin mati. Mungkin dia tidur. Mungkin demamnya cukup tinggi sampai dia tidak bisa mencari charger.
Aku tidak tahu yang mana. Dan ketidaktahuan itu, ternyata, jauh lebih menakutkan dari sembilan kali wipe.
Jam dua belas lewat lima belas, aku masih terjaga.
Aku membuka peta di ponsel. Mengetik Tebet. Lalu menggeser layar sampai menemukan mulut gang tempat aku menurunkannya dua minggu lalu, setelah nonton bareng di rooftop toko bangunan. Gang kecil di belakang masjid, dengan warung kelontong di ujungnya.
Aku tidak tahu nomor kamarnya. Aku tidak tahu nama ibu kosnya. Aku tidak tahu apakah dia akan senang atau malu kalau atasannya muncul di depan pintu kos hari Minggu pagi.
Tapi aku tahu satu hal.
Dua tahun dia berdiri di belakang semua orang. Melempar buff sebelum ada yang minta. Menangkap setiap orang yang jatuh. Menyiapkan ping ungu untuk Sencha tanpa bilang. Mengantar getuk ke dua belas warung sebelum matahari terbit.
Dan malam ini, tidak ada seorang pun yang berdiri di belakangnya.
Aku mengatur alarm jam enam pagi.
Lalu, sebelum tidur, aku membuka Genesis sekali lagi dan menulis di grup chat party:
Lychee: besok pagi aku jenguk earl. jangan ada yang ikut.
Tiga detik. Lima detik.
Rooibos: Iya, Nak. Bawa bubur. Jangan yang pedas.
Chamomile: 🥺🥺🥺
Matcha: aku driver ojol 8 tahun. aku tahu “jangan ada yang ikut”
Hojicha: 👀
Genmai: 👀👀
Darjeeling: Hati-hati di jalan, Nak.
Sencha: titip ping ungu buat dia. 💜
Aku menutup laptop dan berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, mendengarkan hujan.
Di wipe kesembilan, aku berhenti menghitung di angka tiga.
Sekarang aku menghitung jam sampai pagi.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe reading
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit