← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Twenty Four

Foto di Parkiran

POV: Aruna

Email itu masuk jam enam lewat dua belas menit, Senin pagi.

Aku membacanya di mobil, di lampu merah Pancoran, karena notifikasinya berbunyi tiga kali berturut-turut. Satu dari kotak masuk kantor. Satu dari grup WhatsApp manajer operasional. Satu dari Pak Darmawan, yang hanya berisi satu kalimat: Aruna, tolong ke ruangan saya begitu sampai.

From: pemerhati.lnx@[alamat surel eksternal] To: HRD LNX; Direksi LNX Cc: Seluruh Manajer Divisi Operasional Subject: Konflik Kepentingan dalam Rekomendasi Posisi Strategic Planning Lead

Dengan hormat,

Sebagai karyawan yang peduli pada integritas perusahaan, saya merasa perlu menyampaikan beberapa hal terkait usulan posisi Strategic Planning Lead yang saat ini sedang dipertimbangkan direksi.

Head of Operations, Ibu Aruna Lestari, yang mengusulkan posisi tersebut dan merekomendasikan kandidatnya, diketahui memiliki hubungan pribadi di luar profesional dengan kandidat yang bersangkutan, Sdr. Kira Aditama.

Terlampir beberapa dokumentasi.

Saya tidak bermaksud menuduh. Saya hanya berharap direksi dapat menilai apakah rekomendasi tersebut didasarkan pada kinerja, atau pada hal lain.

Hormat saya, Pemerhati

Empat lampiran.

Lampu sudah hijau. Mobil di belakangku mengklakson. Aku menepi di depan minimarket dan membuka lampiran satu per satu.

Foto pertama: gerobak nasi goreng Pak Somad. Dua orang di bangku plastik. Seorang perempuan berkemeja putih dengan lengan digulung, menyodorkan sendok ke mulut seorang laki-laki berhoodie abu. Diambil dari seberang jalan. Agak buram. Tapi wajahku jelas.

Foto kedua: parkiran basement LNX. Dua orang berdiri di samping sedan abu-abu. Terlalu dekat untuk percakapan kerja.

Foto ketiga: mulut gang di Tebet. Sedan abu-abu yang sama, berhenti. Seseorang turun dari kursi penumpang. Lampu jalan kuning.

Foto keempat: lobi LNX. Dua orang berjalan keluar. Rambut perempuan itu basah. Bahu kemeja laki-laki itu basah. Pak Haris di kursi jaga, dengan kucing di pangkuan, menatap mereka.

Aku menatap foto keempat sangat lama.

Selasa malam. Rooftop. Setelah dia bilang aku suka kamu. Setelah dia maju, untuk pertama kalinya.

Seseorang mengambil foto kami di lobi, tiga puluh menit setelah itu.


“Saya tidak akan bertanya apakah foto-foto ini benar,” kata Pak Darmawan. “Saya bisa lihat sendiri itu kamu.”

Ruangannya di lantai sembilan. Jendela besar menghadap Halim. Di mejanya, laptop terbuka, menampilkan email yang sama.

“Saya akan bertanya satu hal,” lanjutnya. “Apakah rekomendasi kamu untuk Kira didasarkan pada hubungan itu?”

“Tidak, Pak.”

“Kapan hubungan itu dimulai?”

Aku diam sebentar.

Kapan? Saat kopdar di Blok M? Saat dia menulis kamu bisa di atas tisu? Saat dia mengigau Tempo Call dan menggenggam tanganku? Saat dia bilang aku suka kamu di rooftop, enam hari lalu?

“Secara resmi, Pak,” kataku, “enam hari lalu.”

“Rekomendasi kamu diajukan sepuluh hari lalu.”

“Iya, Pak.”

“Dan sebelum enam hari lalu?”

“Kami saling kenal di luar kantor. Lewat game online. Kami satu party. Itu dimulai sebelum saya tahu dia bawahan saya.”

Pak Darmawan menatapku dari balik kacamata baca. Wajahnya tidak marah. Wajahnya seperti orang tua yang sedang menghitung berapa banyak hal yang bisa diselamatkan dari rumah yang kebakaran.

“Aruna,” katanya. “Saya percaya kamu. Saya sudah lihat kerjanya. Saya sendiri yang bilang di depan direksi saya mendukung usulan itu.”

“Terima kasih, Pak.”

“Tapi email ini dikirim ke seluruh direksi dan seluruh manajer operasional. Empat puluh orang. Dalam dua jam, seluruh gedung akan tahu. Dalam satu hari, mungkin klien juga.” Dia melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya. “Kebijakan perusahaan jelas. Hubungan pribadi di antara atasan dan bawahan langsung harus diungkapkan ke HRD. Kamu tidak mengungkapkannya.”

“Enam hari, Pak.”

“Enam hari, sambil rekomendasi kamu sedang di meja direksi.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Bu Sinta akan menjadwalkan pertemuan besok jam sepuluh. Di sini. Saya, Bu Sinta, dan Pak Wibisono.”

Pak Wibisono. Direktur Keuangan. Orang yang tertawa saat Kira bilang tanya sopir jam berapa anaknya sekolah. Bukan tawa ramah.

“Sampai besok,” kata Pak Darmawan, “proses usulan Strategic Planning Lead dibekukan.”


Pak Darmawan salah soal satu hal. Bukan dua jam. Satu jam.

Jam delapan lewat sepuluh, saat aku turun ke lantai empat, aku bisa merasakannya. Seperti udara sebelum hujan. Semua orang di koridor berhenti bicara saat aku lewat. Dua staf customer service berbisik di depan dispenser air, lalu berhenti dan pura-pura mengisi gelas. Di grup WhatsApp manajer, tidak ada yang menulis apa-apa sejak email itu masuk. Keheningan yang lebih keras dari teriakan.

Aku lewat di depan ruang kontrol.

Kira tidak ada di mejanya.

Tari ada. Dia sedang berdiri, menghadap dua dispatcher dari shift malam yang belum pulang. Suaranya bukan bisikan. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Tari tidak berbisik.

“Kalian tahu apa? Kalian tahu Kira? Kalian tahu dia datang naik KRL pertama tiap pagi? Kalian tahu dia beliin makanan kucing buat Jagung? Kalian tahu dia yang nulis papan rute dua tahun sementara orang lain baca keras-keras di rapat?”

“Tar, kita cuma bilang—”

“Kalian cuma bilang dia naik jabatan karena dekat sama Bu Aruna. Iya. Aku dengar. Seluruh lantai dengar.” Tari menunjuk papan rute di sudut ruangan. “Itu. Itu tulisan dia. Sebelum ada foto. Sebelum ada email. Sebelum Bu Aruna tahu namanya. Dua tahun. Kalian mau ngomong dia naik karena dekat? Silakan. Tapi ngomong di depan papan itu.”

Dua dispatcher itu diam.

Aku berdiri di balik pintu kaca. Tari belum melihatku.

Lalu dia melihatku. Matanya merah. Dia tidak menunduk. Dia tidak pura-pura sibuk. Dia menatapku, lalu mengangguk sekali, pelan, dan duduk kembali di mejanya.

Aku berjalan ke ruanganku.


Jam sembilan, aku melihatnya.

Pintu pantry dari kaca. Dari ujung koridor, dari pintu ruanganku, aku bisa melihat ke dalamnya. Dua orang berdiri di dekat jendela yang menghadap tol Cawang.

Kira. Dan Reno.

Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Reno bicara. Tangannya bergerak, pelan, seperti orang yang menjelaskan sesuatu dengan sabar. Kira tidak bergerak. Dia berdiri dengan tumbler Earl Grey di tangan, menatap jendela, tidak menatap Reno.

Reno bicara lama. Dua menit. Tiga menit.

Lalu Kira mengatakan sesuatu. Satu kalimat, mungkin dua.

Reno berhenti bicara. Menatap Kira. Lalu tersenyum, senyum rapat yang dia pakai di setiap rapat, dan menepuk bahu Kira dua kali.

Dua kali. Seperti setelah rapat Proyek 12.12. Seperti setelah pengumuman posisi baru.

Reno keluar dari pantry. Berjalan ke mejanya. Melewati ruanganku tanpa menoleh.

Kira tetap di pantry. Menatap jendela. Jari telunjuknya tidak mengetuk tumbler.

Jari telunjuknya diam.


Jam sebelas, aku turun ke lobi.

Pak Haris sedang memberi makan Jagung dari kaleng makanan kucing yang mereknya mahal. Kaleng yang, aku tahu sekarang, dibeli Kira setiap Jumat.

“Pak Haris.”

“Bu.” Pak Haris berdiri. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan apa pun. Dia juga sudah tahu. Mungkin dia orang pertama yang tahu, karena foto keempat diambil tepat di depan meja jaganya.

“Saya butuh bantuan Bapak.”

“Apa saja, Bu.”

“Log parkir basement. Kamis malam, sepuluh hari sebelum Harbolnas. Sama Selasa malam minggu lalu. Kendaraan yang keluar setelah jam sepuluh.”

Pak Haris menatapku lama. Lalu mengangguk, duduk di depan komputer tua di meja jaga, dan mengetik dengan dua jari.

Lima menit kemudian, layar menampilkan daftar.

Kamis, 23.21 — Sedan hitam — B 1xxx RW — Akses: Kartu Karyawan — Reno Wicaksono

Selasa, 22.38 — Sedan hitam — B 1xxx RW — Akses: Kartu Karyawan — Reno Wicaksono

Kamis malam. Jam sebelas lewat dua puluh satu. Tepat saat kami berjalan ke mobilku di basement, setelah nasi goreng. Mobil yang berhenti di ujung ramp satu detik terlalu lama.

Selasa malam. Jam sepuluh lewat tiga puluh delapan. Dua menit sebelum kami turun dari rooftop dan melewati lobi.

“Pak Reno sering lembur?” tanyaku.

Pak Haris menggeleng pelan. “Nggak, Bu. Pak Reno biasanya pulang jam enam. Paling lambat jam tujuh. Dua malam itu aja yang malam.” Dia diam sebentar. “Selasa itu Pak Reno nggak keluar lewat basement, Bu. Mobilnya di basement, tapi Pak Reno sempat naik ke lobi dulu. Nanya ke saya, Bu Aruna masih di atas? Saya bilang masih. Terus dia duduk di sofa lobi. Lama. Main HP.”

“Bapak ingat jam berapa dia duduk?”

“Dari setengah sepuluh, Bu. Sampai Ibu sama Mas Kira turun. Terus dia langsung ke basement.”

Aku berdiri di depan meja jaga. Jagung selesai makan dan menjilati kaki depannya.

Foto keempat. Lobi. Diambil dari sofa.

“Pak Haris,” kataku. “Tolong cetak log ini. Dua salinan. Dan jangan bilang siapa-siapa.”

“Bu.” Pak Haris menatapku dengan mata orang tua yang sudah dua puluh tahun menjaga lobi gedung yang sama. “Mas Kira itu orang baik, Bu. Saya nggak peduli Ibu sama Mas Kira apa. Tapi Mas Kira orang baik.”

“Saya tahu, Pak.”

“Kalau Ibu butuh saya bilang itu di depan siapa pun, saya bilang.”


Jam empat sore, aku menemukannya di tangga darurat lantai empat.

Dia duduk di anak tangga ketiga, punggung bersandar ke dinding, tumbler Earl Grey di antara kedua lututnya. Tidak memakai headset. Tidak mengetuk apa pun. Hanya duduk, menatap pintu besi di depannya.

Aku menutup pintu tangga di belakangku. Duduk di anak tangga yang sama. Bahu kami bersentuhan.

Lama kami tidak bicara.

“Aku udah ngomong sama Pak Reno,” katanya akhirnya.

“Aku lihat. Di pantry.”

“Kamu lihat?”

“Aku selalu lihat sekarang.”

Dia tersenyum kecil. Kalimatku sendiri, yang dia tulis di chat malam setelah server mati. Aku selalu lihat. Aku cuma nggak pernah bilang.

“Dia bilang apa?” tanyaku.

Kira diam. Menatap tumblernya.

“Dia bilang dia nggak tahu siapa yang kirim email itu.”

Aku menatapnya. Dia tidak menatapku.

“Kira.”

“Dia bilang,” lanjut Kira, suaranya datar, “dia bisa bantu. Dia bisa bilang ke HRD kalau dia yang ngusulin aku ke Ibu duluan. Kalau rekomendasinya sebenarnya dari supervisor langsung, bukan dari Head of Operations. Biar nggak kelihatan kayak konflik kepentingan.”

“Dengan syarat?”

Dia diam lebih lama.

“Kira. Dengan syarat apa?”

“Dengan syarat aku mundur dari kandidat Strategic Planning Lead. Posisinya tetap dibuka. Tapi kandidatnya diganti.”

“Diganti siapa?”

Dia tidak menjawab. Dia tidak perlu menjawab.

Aku mengeluarkan dua lembar kertas dari saku blazer. Log parkir. Menyerahkannya padanya. Dia membacanya. Tangannya berhenti di baris kedua.

Selasa, 22.38 — Sedan hitam — Reno Wicaksono.

“Pak Haris bilang dia duduk di sofa lobi dari jam setengah sepuluh,” kataku. “Nunggu kita turun.”

Kira menatap kertas itu sangat lama. Lalu melipatnya. Lalu menyerahkannya kembali padaku.

“Kamu udah tahu,” katanya pelan. “Sebelum aku bilang.”

“Aku dapat log parkir jam sebelas. Kamu ngomong sama dia jam sembilan. Kamu tahu dari kapan?”

Dia diam.

“Kira.”

“Sabtu malam,” katanya. “Abis semifinal. Ristretto whisper aku. Pakai nama asliku.”

Aku menatapnya.

“Ristretto,” ulangku.

“Leader Espresso. Yang nonton rekaman kita sebelas kali. Yang nuduh Origin-ku exploit.” Dia menatap pintu besi. “Itu Pak Reno.”

Hening di tangga darurat. Hanya dengung lampu neon di atas kami.

“Dan kamu nggak bilang aku,” kataku. “Sabtu malam. Minggu seharian. Senin pagi.”

“Aku pikir kalau aku bisa ngomong sama dia dulu—”

“Kamu bisa beresin sendiri. Diam-diam. Biar aku nggak perlu tahu.”

Dia tidak menjawab. Tidak perlu.

Aku ingin marah. Aku ingin bilang kamu nggak boleh gini terus, Kira, kamu nggak boleh terus berdiri di belakang semua orang dan nanggung semuanya sendirian. Aku ingin bilang aku Head of Operations, aku bisa ngurus ini, aku nggak butuh kamu nyelametin aku.

Tapi aku menatap wajahnya. Wajah yang lelah. Wajah yang tidak tidur sejak Sabtu. Wajah yang sama dengan anak kelas lima SD yang mengayuh sepeda ke dua belas warung sebelum matahari terbit, supaya ibunya tidak perlu khawatir.

Dia tidak menyembunyikannya karena tidak percaya padaku.

Dia menyembunyikannya karena dia peduli padaku. Dengan satu-satunya cara yang dia tahu.

“Kamu belum jawab Pak Reno, kan?” tanyaku.

“Belum. Aku bilang aku pikirin dulu.”

“Jangan.”

Dia menoleh.

“Jangan mundur,” kataku. “Jangan terima tawaran dia. Jangan diam-diam ngorbanin diri buat aku. Kamu dengar?”

“Kalau aku mundur, kamu aman.”

“Aku nggak mau aman dengan cara kamu hilang.”

Dia menatapku. Matanya di balik kacamata yang lensanya masih tergores sejak ice skating.

“Besok jam sepuluh,” kataku, “aku ketemu direksi. Lantai sembilan. Aku yang ngadepin. Bukan kamu.”

“Aruna—”

“Kamu dengar aku?”

Lama dia tidak menjawab. Lalu mengangguk. Sekali. Pelan.

Aku tidak yakin anggukan itu berarti iya.

Tapi aku tidak punya cara lain untuk memastikannya. Jadi aku mengulurkan tangan, mencari tangannya di atas tumbler Earl Grey, dan mengisi celah di antara jari-jarinya.

“Aku nggak menyesal,” kataku pelan. “Nasi goreng. Rooftop. Semuanya. Kalau mereka mau lihat foto, biar mereka lihat. Aku nggak menyesal satu pun.”

Dia menatap tangan kami.

“Aku juga nggak,” katanya.

Kami duduk di tangga darurat sampai lampu neon di atas kami berkedip dan Tari membuka pintu, mencari Kira untuk serah terima shift, dan melihat kami, dan langsung menutup pintunya lagi tanpa bilang apa-apa.

Dari balik pintu besi, terdengar bisikannya. Untuk pertama kalinya, bisikan Tari benar-benar hanya bisikan.

“Aku nggak lihat apa-apa. Aku nggak lihat apa-apa. Semangat, Kir.”