Chapter Five
Perjanjian Dua Dunia
POV: Kira
“Kir.” Tari menatap layar ponselku dari samping, matanya membulat. “Kir. Kir. Kamu dipanggil Bu Deadline.”
“Aku lihat.”
“Ke ruangannya. Sekarang. Pakai titik. Kamu bikin apa?”
“Nggak bikin apa-apa.”
“Orang nggak dipanggil Bu Deadline pakai titik kalau nggak bikin apa-apa.” Tari mencengkeram lenganku. “Kamu ngambil spidolnya kurang sopan? Kamu nggak bilang ‘silakan’? Kir, orang terakhir yang dipanggil pakai titik itu Mas Doni dari gudang, dan sekarang Mas Doni kerja di cabang Merauke.”
“Mas Doni pindah karena istrinya orang Merauke.”
“Itu versi resminya.”
Aku melepas headset, berdiri, dan merapikan hoodie. Tidak ada gunanya. Hoodie abu tetap hoodie abu, dirapikan atau tidak.
“Kalau aku nggak balik dalam sepuluh menit,” kataku, “tolong kabari ibuku.”
Tari tidak tertawa. “Aku serius doain kamu.”
Ruangan Aruna ada di ujung koridor lantai empat, di balik pintu kaca buram dengan papan nama akrilik: Aruna Lestari — Head of Operations. Dalam dua tahun, aku belum pernah masuk ke ruangan ini. Aku pernah mengantar berkas ke depan pintunya. Aku tidak pernah melewati ambangnya.
Aku mengetuk. Dua kali. Kebiasaan. Hampir mengetuk ketiga kalinya dengan ritme Haste, lalu menahan diri.
“Masuk.”
Ruangannya lebih kecil dari yang kubayangkan. Meja kayu, dua kursi tamu, rak buku berisi map dan buku manajemen logistik. Jendela besar menghadap jalan tol Cawang yang macet. Di ambang jendela ada deretan gelas plastik bekas lychee tea, dicuci bersih, berisi tanaman kaktus kecil. Tujuh gelas. Tujuh kaktus.
Aruna berdiri di depan jendela, membelakangiku, tangan terlipat di dada.
“Tutup pintunya,” katanya.
Aku menutup pintu.
Dia berbalik. Wajahnya sudah kembali ke wajah kantor: rapi, tegas, dingin. Tapi telinganya merah. Merah sekali. Seperti dia baru saja berlari keliling gedung.
“Duduk.”
Aku duduk.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di belakang mejanya, menatapku, dan untuk waktu yang lama tidak ada yang bicara. Hanya suara AC dan klakson samar dari tol di bawah.
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyanya akhirnya.
“Bilang apa, Bu?”
“Jangan panggil aku Bu dulu.” Dia menutup mata sebentar. “Maksudku, di kafe. Kenapa kamu nggak bilang? Kamu tahu aku siapa. Dari awal. Dari pas aku keluar toilet, kan?”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu diam aja? Kamu biarin aku kenalan kayak orang bodoh. Aku Lychee. Nama asliku Aruna. Kayak kamu nggak lihat muka aku tiap pagi.”
“Karena...” Aku menatap kaktus di ambang jendela. Kaktus ketiga dari kiri bengkok, tumbuh miring ke arah cahaya. “Karena kamu lagi senang.”
Aruna diam.
“Kamu senyum,” kataku. “Di kafe. Aku belum pernah lihat kamu senyum kayak gitu. Di kantor, maksudku. Kamu nggak pernah senyum di sini. Terus di sana kamu senyum, dan kamu kelihatan...” Aku berhenti, mencari kata yang tidak terlalu jujur. Tidak ada. “Kamu kelihatan bahagia. Aku nggak mau jadi orang yang ngerusak itu.”
“Dengan cara biarin aku nggak ingat sama kamu.”
“Kamu memang nggak ingat. Itu bukan salah siapa-siapa.”
“Itu salahku.”
“Bukan.”
“Kira.” Nadanya naik sedikit. Lalu dia menarik napas dan menurunkannya lagi. “Malam Senin itu aku curhat ke kamu soal orang di lift. Kamu tahu itu kamu. Dan kamu bilang mungkin dia nggak keberatan. Kamu ngebela aku. Dari diri kamu sendiri.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku bilang yang benar.
“Aku memang nggak keberatan.”
Aruna menatapku lama. Matanya berkilat sesuatu yang tidak bisa kubaca. Bukan marah. Lebih seperti orang yang baru menginjak paku kecil dan belum tahu seberapa dalam.
“Itu,” katanya pelan, “malah yang bikin aku keberatan.”
Dia akhirnya duduk. Menghela napas panjang. Menatap tumpukan map di mejanya.
“Maaf,” katanya. “Aku minta maaf nggak ingat nama kamu. Aku minta maaf dua tahun nggak lihat kamu.”
“Bu—”
“Aruna. Di ruangan ini, sekarang, sebentar aja. Aruna.”
“Aruna,” kataku. Namanya terasa aneh di mulut. Terlalu dekat. “Kamu nggak perlu minta maaf. Kantor ini isinya dua ratus orang. Kamu nggak mungkin hafal semuanya.”
“Aku hafal nama tiga ratus sopir,” katanya. “Aku hafal nama vendor ban di Cikarang. Aku hafal nama kucing satpam lobi, namanya Jagung. Aku nggak hafal nama orang yang duduk sepuluh meter dari ruanganku.”
“Jagung lucu, sih,” kataku.
Dia menatapku. Lalu, tanpa bisa ditahan, sudut bibirnya naik. Satu detik. Senyum kafe itu muncul sebentar, lalu buru-buru disembunyikan.
“Jangan bikin aku ketawa,” katanya. “Aku lagi serius.”
“Maaf.”
Kami bicara lima belas menit. Aruna mengeluarkan selembar kertas HVS dari printer, mengambil pulpen, dan menulis di bagian atas dengan huruf besar: PERJANJIAN.
“Kita butuh aturan,” katanya. “Ini kantor. Aku atasanmu. Kalau orang tahu kita main game bareng, kalau orang tahu kita... temenan, itu bakal jadi gosip. Dan gosip di gedung ini lebih cepat dari armada kita.”
“Setuju.”
Dia menulis.
1. Di kantor: atasan dan bawahan. Panggil “Bu”. Nggak ada perlakuan khusus.
2. Di game: setara. Earl dan Lychee.
3. Nggak bahas game di kantor. Nggak bahas kantor di game.
4. Nggak ada yang tahu. Termasuk Morning Tea.
Dia berhenti di nomor empat. “Morning Tea juga nggak boleh tahu. Kamu tahu kenapa.”
Aku tahu. Chamomile punya tiga ratus ribu follower dan tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari satu stream. Kembar tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari satu kalimat. Bu Ratna akan menyimpan rahasia, tapi dengan cara memasakkan rendang untuk kami berdua dan bertanya kapan undangannya.
“Setuju,” kataku.
Dia menatap kertas. Pulpennya mengetuk-ngetuk meja. Lalu dia menulis satu baris lagi, lebih kecil, di bawah nomor empat.
5. Di game, kalau aku salah posisi, kamu tetap boleh marahin aku.
Aku membaca baris itu dua kali. “Aku nggak pernah marahin kamu.”
“Kamu bilang jangan dash dulu dengan nada yang kayak guru BK.”
“Itu bukan marah.”
“Itu marah versi kamu.” Dia mendorong kertas ke arahku, bersama pulpennya. “Tanda tangan.”
“Ini serius?”
“Aku Head of Operations. Semua yang aku tulis serius.”
Aku tanda tangan di bawah. Dia tanda tangan di sebelahnya. Tanda tangannya cepat, miring, dengan garis panjang di ujung seperti ekor bintang jatuh. Dia melipat kertas itu dua kali dan menyelipkannya di laci, di bawah map-map lain.
“Satu lagi,” katanya, saat aku sudah berdiri dan memegang gagang pintu.
Aku berbalik.
“Papan rute di ruang kontrol.” Dia tidak menatapku, matanya ke layar laptop. “Itu tulisan kamu?”
Aku diam sebentar.
Aku bisa bilang iya. Aku bisa bilang separuh catatan di papan itu tulisanku. Bahwa rencana rute gelombang yang mau dia pakai untuk Harbolnas juga milikku, dan yang tertulis di dokumennya adalah nama Reno.
Tapi itu akan jadi kalimat yang menuduh. Kalimat yang membuat Reno dalam masalah. Dan Reno, dengan semua kebiasaannya mengambil sticky note-ku, adalah orang yang menyetujui cuti tiga hariku waktu ibuku masuk rumah sakit tahun lalu, tanpa pertanyaan.
“Sebagian,” kataku.
Aruna mengangguk pelan, seperti orang mencatat sesuatu di kepala. Dia tidak bertanya lagi.
“Kira Aditama,” katanya.
Aku membeku di pintu.
“Itu nama lengkapmu, kan?” Dia masih tidak menatapku. Tapi telinganya masih merah. “Aku cuma mau pastiin aku hafal. Kali ini.”
“Iya,” kataku. “Kira Aditama.”
“Oke,” katanya. “Kamu boleh keluar, Kira.”
Reno sedang berdiri di depan dispenser air di koridor ketika aku keluar. Dia melihatku keluar dari ruangan Aruna, dan alisnya naik.
“Kir? Kamu ngapain di dalam?”
“Dipanggil, Pak.”
“Soal apa?”
“Spidol, Pak.”
Reno menatapku lama. “Spidol.”
“Tadi pagi spidol di ruang kontrol jatuh. Ibu minta... dirapikan sistem penyimpanannya.”
Itu kebohongan terburuk yang pernah kuucapkan. Aku tidak pandai berbohong. Di game, aku tidak pernah perlu berbohong. Aku hanya perlu menghitung.
Reno mengangguk perlahan. “Oke. Rapikan, ya.”
“Siap, Pak.”
Aku kembali ke meja. Tari langsung menggeser kursinya mendekat, sampai roda kursinya menabrak roda kursiku.
“Gimana?” bisiknya. “Kamu dipecat? Dimutasi? Dimarahi? Ditawarin jadi menantu?”
“Bu Aruna belum nikah, Tar. Nggak bisa nawarin jadi menantu.”
“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku!”
“Soal spidol.”
Tari menatapku dengan wajah orang yang sudah bergosip di gedung ini empat tahun dan tahu persis kapan seseorang berbohong. “Kir. Kupingmu merah.”
“AC-nya dingin.”
“AC bikin kuping pucat, bukan merah.” Tari menyipitkan mata. “Ada sesuatu. Aku belum tahu apa. Tapi ada sesuatu.”
Aku memakai headset dan pura-pura menerima telepon dari sopir. Tidak ada sopir di saluran. Hanya bunyi tut panjang.
Jam tujuh malam, aku login Genesis.
Grup chat Morning Tea sedang ramai. Video kopdar Chamomile sudah ditonton dua juta kali. Judulnya: KOPDAR MORNING TEA!! Ternyata Earl itu... (bukan dia) 😭. Bastian si konsultan pajak trending di forum dengan julukan Fake Earl. Seseorang membuat meme wajahnya disuapi rendang, dengan teks: Ketika kamu cuma mau numpang colokan.
Hojicha: BASTIAN DM AKU Hojicha: DIA MAU MAIN GENESIS Genmai: suruh dia bikin akun nama FakeEarl Hojicha: udah. dia bikin. jobnya enchanter Chamomile: AKU NANGIS Rooibos: Nak Bastian itu sopan. Ibu suka. Tapi Ibu lebih suka Nak Kira. Nak Kira nambah rendang dua kali. Darjeeling: Rabu malam Bapak mau coba Clockwork Cathedral. Semua siap? Oolong: siap pak. bang earl, maaf ya aku kemarin ngusir abang dari kursi abang sendiri Earl: kamu nggak ngusir. kamu cuma bilang itu kursi earl. Oolong: itu lebih parah bang
Aku tertawa sendirian di kamar kos.
Sebelum persiapan raid, aku membuka menu party dan menyesuaikan sistem ping untuk Sencha. Clockwork Cathedral punya mekanik lantai berputar, dan warna kuning standar akan sulit terlihat di lantai kuningan katedral. Aku mengganti kuning jadi ungu. Menambahkan ikon panah kecil yang berkedip untuk arah gerak. Menguji tiga kali.
Tidak ada yang tahu aku melakukan ini. Sencha hanya melihat ping-nya muncul, jelas dan tepat. Begitulah seharusnya. Ping yang baik adalah ping yang tidak perlu dijelaskan.
Whisper muncul.
Sencha: warnanya ganti? ungu. lebih jelas. makasih siapa pun yg ngatur 🙏
Earl: sama-sama.
Sencha: udah kuduga kamu. 😄
Lalu whisper kedua muncul. Dari nama yang lain.
Lychee: lagi apa.
Aku menatap nama itu. Lychee. Tadi pagi dia adalah Bu Aruna yang memunguti spidol di lantai. Siang ini dia adalah Head of Operations yang menulis PERJANJIAN dengan huruf kapital. Malam ini dia adalah rapier berambut perak yang bertanya lagi apa tanpa tanda tanya.
Aturan nomor dua. Di game: setara.
Earl: ngatur ping buat raid rabu.
Lychee: kamu selalu ngatur sesuatu ya.
Earl: kebiasaan.
Lychee: earl.
Earl: ya?
Lychee: aku mau nambah aturan.
Earl: aturan nomor enam?
Lychee: bukan. ini aturan khusus game. nggak ditulis di kertas.
Earl: apa?
Jeda lama. Karakternya berjalan mendekati karakterku di kota, lalu berhenti tepat di sebelahku. Rapier perak di samping enchanter dengan ranting.
Lychee: di sini kamu jangan jadi canggung sama aku.
Lychee: di kantor kamu boleh panggil aku bu. kamu boleh nunduk. kamu boleh pura-pura nggak kenal.
Lychee: tapi di sini aku cuma lychee. dan kamu earl. dan kamu masih orang yang nyuruh aku lompat ke air penuh listrik.
Aku membaca pesannya. Di dunia nyata, di kamar kos tiga kali empat meter dengan noda bocor berbentuk Sulawesi, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan di gedung LNX.
Aku merasa dilihat.
Earl: oke.
Lychee: janji?
Earl: janji.
Lychee: satu lagi.
Earl: apa lagi?
Lychee: kira.
Itu bukan pertanyaan. Hanya namaku. Diketik dengan huruf kecil.
Earl: ya?
Lychee: nggak apa-apa. aku cuma ngetes. aku masih hafal.
Aku menekan Q. Haste menyala di karakternya.
Lychee: itu artinya apa kali ini?
Earl: artinya kamu hebat.
Lychee: kamu aneh.
Lychee: tapi aku suka.
Dia log out sebelum aku sempat membalas. Mungkin sengaja. Mungkin supaya aku tidak sempat bertanya suka apa.
Aku duduk di depan layar lama sekali, menatap karakterku sendiri yang berdiri sendirian di alun-alun kota. Lalu aku membuka file catatan dan mulai menulis analisis Clockwork Cathedral. Dua belas gir. Lantai berputar setiap satu koma tujuh detik. Tiga fase.
Ada satu fase yang belum pernah di-clear siapa pun.
Rabu malam, Lychee akan berdiri di tengah lantai yang berputar.
Dan aku tidak akan membiarkannya jatuh.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia reading
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit