Chapter Twenty Nine
Enchanter Sendirian
POV: Kira
Makassar satu jam lebih cepat dari Jakarta.
Itu hal pertama yang kupelajari. Bukan dari peta. Dari ponselku, yang otomatis berganti jam saat pesawat mendarat di Sultan Hasanuddin, Minggu pagi, jam sepuluh lewat dua puluh. Di Jakarta, jam sembilan lewat dua puluh. Di Kebayoran, Aruna mungkin baru bangun. Atau mungkin belum tidur.
Aku tidak tahu. Aku tidak bertanya. Aku tidak membuka WhatsApp sejak Jumat malam.
Kos baruku ada di sebuah gang di daerah Tallo, dekat pelabuhan. Kamarnya tiga kali tiga. Lebih kecil dari Tebet. Kasur pegas tipis, satu meja, satu kursi plastik, satu jendela yang menghadap atap seng rumah sebelah. Ibu kosnya, Daeng Ratu, perempuan enam puluhan dengan sarung batik dan suara yang lebih keras dari Bu Wati.
“Dari Jakarta, Nak?”
“Iya, Daeng.”
“Kerja di mana?”
“LNX. Ekspedisi. Cabang KIMA.”
“Oh, yang gudangnya berantakan itu?” Daeng Ratu tertawa. “Sepupu saya sopir di situ. Katanya tiga bulan gaji telat, paket numpuk sampai ke atap, kepala cabangnya pensiun nggak ada gantinya. Kau mau benerin itu?”
“Saya coba, Daeng.”
“Sendirian?”
Aku menatap ranselku. Laptop pribadiku. Tumbler Earl Grey yang kutinggalkan di kantor Jakarta, dan yang sekarang bukan lagi di sini.
“Iya, Daeng. Sendirian.”
Seminggu pertama di cabang Makassar, aku tidak menyentuh apa pun.
Aku hanya melihat. Gudang seluas lapangan sepak bola, dengan rak-rak yang miring dan paket-paket yang ditumpuk tanpa sistem. Delapan belas sopir yang datang dan pergi tanpa jadwal. Tiga admin gudang yang saling menyalahkan. Satu papan tulis di kantor kecil di sudut gudang, yang terakhir ditulisi tiga bulan lalu oleh kepala cabang lama. Isinya hanya satu kalimat, dengan spidol yang sudah pudar: SABAR. PELAN-PELAN.
Aku melihat semuanya. Mencatat semuanya di buku tulis cokelat yang baru. Menghitung.
Malam hari, aku kembali ke kos. Makan coto dari warung di mulut gang. Mandi. Membuka laptop.
Dan login Genesis.
[Party: None]
Itu yang tertulis di sudut layarku. Selama dua tahun, tulisan di sana selalu [Party: Morning Tea — 10/10]. Sekarang hanya None.
Daftar teman masih ada. Sembilan nama. Darjeeling. Oolong. Chamomile. Matcha. Genmai. Hojicha. Rooibos. Sencha.
Lychee.
Delapan nama menyala hijau di jam delapan malam waktu Jakarta. Sembilan malam di sini. Mereka sedang latihan untuk final guild war, Sabtu depan.
Satu nama abu-abu.
[Lychee — Last online: 2 days ago]
Aku menatap nama itu lama.
Lalu aku menutup daftar teman dan masuk ke dungeon sendirian.
Sabtu malam, aku menonton final guild war dari kamar kos tiga kali tiga.
Bukan dari dalam game. Dari stream Chamomile, di layar laptop, dengan volume rendah supaya Daeng Ratu tidak terbangun. Jam sebelas malam waktu Makassar. Jam sepuluh di Jakarta.
[Grand Final — Morning Tea vs Black Lotus]
Morning Tea tanpa Earl. Sembilan orang. Lawan guild peringkat satu server, tiga puluh orang, yang belum pernah kalah sepanjang event.
Lychee ada di sana.
Aku melihat karakternya muncul di layar. Rapier perak. Rambut perak. Berdiri di depan sembilan orang. Tidak di belakang. Di depan.
Dia memimpin.
Dia memakai catatanku. Aku tahu karena aku mendengar suaranya di voice channel yang tertangkap mikrofon Chamomile. Pelan. Datar. Seperti orang membacakan jadwal kereta.
“Halaman delapan. Gelombang. Biarin mereka ambil semua bendera dulu. Jangan dilawan.”
Suaranya tidak gemetar.
Selama delapan belas menit, Morning Tea bertahan. Gelombang demi gelombang. Bendera direbut, dilepas, direbut lagi. Lychee memanggil setiap serangan dengan jeda yang sama dengan jedaku. Bu Ratna melempar meteor di ketukan yang tepat. Sencha membaca riak di jembatan dan memberi ping sendiri ke Oolong, dengan warna ungu.
Delapan belas menit.
Lalu di menit kesembilan belas, Black Lotus mengirim tiga puluh orang sekaligus ke Bendera Selatan. Bukan gelombang. Satu serangan penuh. Mereka sudah membaca rekaman semifinal. Mereka tahu cara memecah gelombang: jangan pernah terpencar.
Tidak ada Tempo Sync. Tidak ada ketukan visual dari tongkat dirigen. Tidak ada Origin.
[Grand Final — Winner: Black Lotus] [Morning Tea — Runner-up]
Chamomile tidak menangis di kamera. Dia tersenyum. Senyum yang dirancang untuk kamera, tapi entah kenapa terlihat sangat lelah.
“Guys. Kita kalah. Tapi kita kalah dengan cara Earl. Delapan belas menit. Tanpa Earl. Itu... itu Lychee. Itu semua Lychee.”
Di voice channel yang tertangkap mikrofon, tidak ada yang bicara. Lalu suara Pak Hendro, berat, pelan:
“Bagus, anak-anak. Bagus. Bapak bangga.”
Lalu suara Lychee. Hanya satu kalimat.
“Maaf, semuanya. Aku nggak bisa tiga persen terakhir.”
Lalu suaranya hilang dari voice channel. Karakternya log out.
Aku menutup laptop.
Aku duduk di kasur pegas tipis, di kamar tiga kali tiga, di kota yang satu jam lebih cepat, dan untuk pertama kalinya sejak Bapak meninggal waktu aku kelas empat, aku menangis sampai tidak bisa bernapas.
Aku nggak bisa tiga persen terakhir.
Tiga persen itu aku. Genmai bilang begitu di Mirror Queen. Tiga persen itu tongkat emas.
Aku pergi supaya dia tidak perlu mundur.
Dan dia berdiri di depan sembilan orang, memimpin dengan catatanku, bertahan delapan belas menit, lalu minta maaf karena tidak bisa mengisi tiga persen yang seharusnya kuisi.
[Lychee — Last online: 6 days ago]
Enam hari.
Aku membuka daftar teman setiap malam sejak final. Delapan nama hijau. Satu abu-abu. Angkanya bertambah setiap malam. Tiga hari. Empat. Lima. Enam.
Dia berhenti main.
Lychee, yang login setiap malam selama dua tahun. Yang menebas slime dengan gerakan malas sambil curhat soal orang di lift. Yang menunggu di danau Leviathan kalau tidak sedang raid. Berhenti.
Ranking individuku turun. Dari peringkat tujuh server, ke sembilan belas, ke empat puluh dua. Tidak ada raid. Tidak ada party. Enchanter tanpa party tidak punya cara untuk naik.
Aku tidak peduli ranking.
Aku peduli angka di samping nama abu-abu itu.
Kamis malam, jam tiga pagi waktu Makassar, aku tidak bisa tidur.
Aku membuka Genesis dan berjalan ke ujung peta. Ke pantai berbatu di selatan, tempat sebuah mercusuar tua berdiri di atas karang.
[Dungeon — Lighthouse of the Drowned Choir] [Recommended: 4 players]
Dungeon empat orang. Mekanik utamanya: empat lonceng di empat sudut ruang paling atas mercusuar. Keempatnya harus ditekan bersamaan, dalam rentang setengah detik, untuk membuka pintu ke boss. Kalau tidak bersamaan, lonceng berbunyi sumbang, dan pintu tidak terbuka.
Empat orang. Empat lonceng. Empat sudut.
Aku satu orang.
Aku masuk.
Lantai satu sampai empat, aku lewati dengan Mantle of the Unseen. Aggro dikurangi sembilan puluh persen. Monster tidak melihatku. Mereka berjalan melewatiku seperti aku hantu.
Seperti di kantor dua tahun.
Lantai lima. Ruang paling atas. Ruangan bundar dengan jendela kaca patri yang menghadap laut. Empat lonceng perunggu di empat sudut. Di tengah, pintu besi tertutup dengan ukiran paduan suara yang tenggelam.
Dan di sekeliling ruangan, empat monster. Drowned Chorister. Kerangka manusia dengan jubah basah, berdiri diam di dekat dinding. Monster penjaga. Tidak menyerang kalau tidak diserang.
Empat monster. Empat lonceng. Empat sudut.
Aku menatap mereka lama.
Monster di Genesis punya satu aturan dasar yang tidak pernah berubah: mereka mengejar pemain terakhir yang menyerangnya, dan berhenti di tempat pemain itu terakhir terlihat. Kalau pemain menghilang dari pandangan, mereka berdiri diam di titik terakhir itu selama delapan detik, lalu kembali ke posisi awal.
Delapan detik.
Lonceng ditekan dengan berdiri di atasnya.
Aku melepas Mantle of the Unseen.
Aggro kembali normal. Empat kerangka menoleh ke arahku sekaligus. Mata kosong mereka menyala biru pucat.
Aku menyerang kerangka pertama. Satu kali. Damage kecil. Dia mengejarku. Aku berjalan ke sudut utara, berdiri di atas lonceng pertama, lalu memasang Mantle lagi. Menghilang. Kerangka itu berhenti tepat di atas lonceng, tempat aku terakhir terlihat. Berdiri diam.
Delapan detik.
Aku berlari ke kerangka kedua. Lepas Mantle. Serang sekali. Ke sudut timur. Mantle. Kerangka kedua berhenti di atas lonceng kedua.
Enam detik tersisa untuk kerangka pertama.
Kerangka ketiga. Sudut selatan. Mantle.
Tiga detik tersisa untuk kerangka pertama. Lima untuk kedua.
Kerangka keempat. Sudut barat. Aku berdiri di atas lonceng keempat, dan kali ini aku tidak memasang Mantle. Kerangka itu mengayunkan pedang berkaratnya ke arahku.
[Earl casts Barrier Weave → Earl]
Pedang mengenai Barrier. Kerangka itu berdiri di depanku, di atas lonceng keempat, menyerang terus.
Empat kerangka. Empat lonceng. Empat sudut.
Satu detik tersisa untuk kerangka pertama.
Aku menatap Hourglass of Unborn Time di pinggang karakterku. Pasir emasnya mengalir ke atas. Satu detik.
Lonceng tidak akan berbunyi kalau hanya ada beban di atasnya. Lonceng berbunyi kalau ada yang memukulnya.
Aku mengangkat Baton of the First Dawn ke atas kepala. Bukan untuk buff. Untuk satu skill yang belum pernah kupakai dalam dua tahun, karena tidak pernah ada alasan memakainya.
[Earl casts Resonance → Area]
Gelombang suara kecil. Damage hampir nol. Efek visual seperti riak air. Skill enchanter paling tidak berguna di game ini, karena satu-satunya fungsinya adalah memicu objek yang bisa dipicu dengan suara dalam radius dua puluh meter.
Ruangan itu berdiameter delapan belas meter.
Empat lonceng berbunyi bersamaan.
DONG.
Satu nada. Bukan empat. Satu nada yang sempurna, karena keempatnya berbunyi di frame yang sama.
Pintu besi di tengah ruangan terbuka.
Empat kerangka di atas empat lonceng berbalik, bingung, kembali ke posisi awal mereka di dekat dinding. Seperti anggota party yang tidak tahu bahwa mereka baru saja membantu.
Boss mercusuar itu adalah Siren of the Last Tide, perempuan raksasa dengan rambut seperti ombak dan suara yang membuat layar bergetar. Mekaniknya untuk empat orang: satu tank, satu healer, dua DPS.
Aku enchanter. Damage hampir nol. Tanpa tank. Tanpa healer.
Pertarungan itu berlangsung tiga puluh satu menit.
Aku tidak akan menjelaskan setiap detiknya. Hanya ini: aku menggunakan setiap kerangka, setiap ombak, setiap pantulan suara di ruangan bundar itu. Aku membuat boss menyerang dirinya sendiri dengan memantulkan nyanyiannya lewat Resonance. Aku membuat ombaknya memukul pilar yang runtuh dan menimpanya. Aku membuat kerangka-kerangka mengejarku melewati jalur serangannya, sehingga dia menghancurkan penjaganya sendiri dan menjadi lemah karena itu.
Aku tidak punya party. Jadi aku menjadikan seluruh dungeon itu party-ku.
[Siren of the Last Tide — DEFEATED] [Dungeon cleared — Solo (1/4 players)]
Jam empat pagi lewat lima belas menit waktu Makassar.
Di jendela kaca patri mercusuar virtual itu, matahari terbit dari laut. Matahari palsu, piksel oranye dan merah. Tapi cahayanya jatuh ke wajah karakterku, ke mantel kelabu fajar, ke tongkat emas.
Aku tidak merasa menang.
Seseorang merekamnya.
Aku tidak tahu siapa. Dungeon di Genesis bisa ditonton oleh pemain lain yang kebetulan lewat di area itu. Mungkin pemain dari server Makassar yang juga tidak bisa tidur. Mungkin seseorang di belahan bumi lain.
Jam tujuh pagi, saat aku bangun setelah tidur dua jam, klip itu sudah ada di forum.
EARL SOLO DUNGEON 4 ORANG — pakai MONSTER sebagai anggota party
Dua ratus ribu penonton dalam tiga jam.
Aku membaca komentar-komentarnya di kasur, dengan mata yang masih berat.
dia bikin monster berdiri di lonceng buat dia enchanter tanpa party ternyata bisa gini?? 31 menit. sendirian. jam 3 pagi. jam 3 pagi?? earl kenapa main sendiri jam 3 pagi morning tea bubar ya? earl keluar party kan minggu lalu final guild war tanpa earl kalah lychee juga nggak online seminggu mereka kenapa sih earl kesepian nggak sih?
Aku menutup forum.
Lalu aku membuka sesuatu yang belum kubuka sejak Rabu malam, sepuluh hari lalu.
[Lychee has sent you a whisper.]
Notifikasi itu masih di sana. Merah. Belum dibaca. Aku menyentuhnya.
Lychee: kira. kamu kenapa?
Hanya itu. Tiga kata. Dikirim Rabu malam, jam sepuluh lewat sembilan menit. Dua menit setelah aku meninggalkan party.
Dia bertanya. Saat itu, dia tidak tahu apa-apa. Dia hanya bertanya kamu kenapa.
Dan aku tidak membukanya. Karena aku pikir kalau aku membukanya, aku tidak bisa pergi.
Aku mengetik.
Earl: aku di makassar.
Earl: maaf baru bales.
Earl: maaf semuanya.
Aku menekan kirim.
Pesannya terkirim. Satu centang. Ke akun yang sudah enam hari tidak online.
Aku menatap layar sampai centangnya berubah.
Tidak berubah.
Jam delapan pagi, Ibu menelepon.
“Le. Ibu lihat video kamu.”
“Video apa, Bu?”
“Yang kamu main sendirian di menara. Anak tetangga nunjukin. Katanya kamu terkenal.”
Aku tidak bilang apa-apa.
“Le, kamu main jam tiga pagi?”
“Nggak bisa tidur, Bu.”
Ibu diam. Aku bisa mendengar wajan di latar belakang. Getuk yang digoreng untuk dua belas warung. Sekarang yang mengantarnya anak tetangga, Mas Bayu, dengan motor.
“Le,” kata Ibu pelan. “Waktu kamu kelas lima, kamu antar getuk sendirian ke dua belas warung. Sebelum subuh. Naik sepeda. Ibu selalu lihat kamu dari jendela dapur. Kamu tahu apa yang Ibu pikirin?”
“Apa, Bu?”
“Ibu pikir, anak Ibu kuat sekali. Terus Ibu pikir, anak Ibu sendirian sekali.”
Aku menutup mata.
“Kamu bisa main sendirian sampai menang,” kata Ibu. “Kamu bisa antar getuk sendirian sampai semua warung kebagian. Tapi Le, bisa bukan berarti harus.”
“Iya, Bu.”
“Mbak Aruna gimana?”
Aku tidak bisa menjawab.
“Le.”
“Dia nggak online, Bu. Enam hari.”
Ibu diam lama.
“Kamu nunggu dia online?”
“Iya.”
“Kenapa kamu nggak telepon dia?”
Aku menatap ponsel. WhatsApp. Kontak Aruna Lestari. Pesan terakhir darinya, Jumat malam, sebelum aku mematikan ponsel: Kira. Kamu mau ke mana?
Dua minggu lalu, dia mengirim pesan itu. Aku tidak menjawab. Dan sekarang aku menunggu dia membalas pesan yang kukirim ke game yang dia sudah tidak buka.
“Aku takut, Bu,” kataku.
“Takut apa?”
“Takut dia nggak mau angkat.”
Ibu menghela napas. Panjang. Lembut.
“Le,” katanya. “Itu namanya maju duluan. Kamu takut, terus kamu maju aja. Ibu juga takut tiap pagi kamu berangkat naik sepeda pas masih gelap. Tapi Ibu tetap bikin getuk.”
Telepon itu selesai.
Aku duduk di kasur pegas tipis lama. Lalu membuka WhatsApp. Membuka kontak Aruna Lestari. Jempolku melayang di atas tombol telepon.
Satu koma dua detik. Itu waktu yang kubutuhkan untuk memutuskan apa pun di game.
Aku sudah menatap tombol itu dua menit.
Lalu ponselku bergetar. Bukan telepon. WhatsApp. Dari nomor yang tidak kusimpan.
[Nomor tidak dikenal]: Mas Kira, ini Andi, koordinator gudang KIMA. Ada truk kita terperosok di dermaga pelabuhan, muatan setengahnya kena air. Sopir aman. Tapi semua jadwal hari ini kacau. Bisa ke kantor sekarang?
Aku menatap pesan itu. Lalu menatap kontak Aruna.
Lalu aku menutup WhatsApp, memakai hoodie abu, dan berlari ke luar.
Tombol telepon itu masih belum kutekan.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian reading
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit