Chapter Eleven
Hydra of Seven Sorrows
POV: Kira
Flashdisk itu masih ada di meja Aruna.
Sudah seminggu. Setiap pagi aku melewati pintu kaca ruangannya, dan setiap pagi aku melihat flashdisk hitam kecil itu tergeletak di samping tablet, di posisi yang sama, tidak dicabut dan tidak dikembalikan. Dia tidak pernah membahasnya. Di kantor, dia tetap Bu Aruna. Di lift, dia tetap mengangguk sopan dan bilang pagi.
Hanya satu hal yang berubah. Setiap kali dia melewati mejaku, jari telunjuknya mengetuk pinggir meja. Satu, dua, tiga. Sekali. Tanpa menoleh.
Tari sudah menyadarinya. “Kir,” bisiknya hari Kamis, “Bu Deadline ngetuk meja kamu. Tiga kali. Itu kode apa? Itu kode kamu bakal dipecat?”
“Itu bukan kode.”
“Semua hal di gedung ini kode, Kir. Semua hal.”
Jumat malam, jam delapan, Morning Tea berdiri di tepi rawa berkabut.
[Hydra of Seven Sorrows — Raid (Abyss)] [Boss: Septima, the Grieving Serpent] [Clear record: None]
Rawa itu luas, dibelah sungai hitam yang bercabang tiga. Di setiap ujung cabang ada sarang. Di sarang atas, di atas tebing batu: Upper Shrine. Di sarang bawah, tenggelam di lumpur: Lower Marsh. Dan di sarang ketiga, tersembunyi di balik air terjun, yang hanya ditemukan setelah kami gagal empat kali minggu lalu: Sorrow Spring.
Septima adalah hydra berkepala tujuh. Tapi dia tidak punya satu tubuh. Kepalanya tersebar. Tiga di Upper Shrine. Tiga di Lower Marsh. Satu di Sorrow Spring.
Dan mekaniknya kejam: tujuh kepala itu harus mati dalam rentang sepuluh detik. Kalau satu kepala mati lebih dulu, dan kepala lain masih hidup lebih dari sepuluh detik setelahnya, kepala yang mati itu tumbuh lagi. HP penuh.
[Mechanic: Seven Sorrows — All heads must fall within 10 seconds of each other.]
“Tiga lokasi,” kata Darjeeling. “Jaraknya berapa jauh, Earl?”
“Dari Shrine ke Marsh, empat menit jalan kaki. Dari Marsh ke Spring, tiga menit. Nggak ada teleport. Nggak ada mount di dalam raid.”
“Jadi kita harus pecah.”
“Tiga tim.”
“Tapi kita nggak bisa lihat satu sama lain.”
“Nggak bisa,” kataku. “Tapi kalian bisa dengar aku.”
Aku sudah menyiapkannya sejak minggu lalu. Dua voice channel terpisah. Channel A untuk tim Upper Shrine. Channel B untuk tim Lower Marsh. Aku terhubung ke keduanya sekaligus. Channel A di telinga kiri, channel B di telinga kanan.
“Tim Shrine: Darjeeling, Matcha, Rooibos, Chamomile,” kataku. “Tim Marsh: Oolong, Genmai, Hojicha, Sencha. Healer kalian Chamomile yang di Shrine, tapi aku bakal pakai Mana Link dari jauh buat nyambung ke Rooibos. Tim Marsh nggak punya healer, jadi Sencha jadi off-heal.”
“Terus Spring?” tanya Hojicha.
“Aku sama Lychee.”
Hening sebentar.
“Berdua?” tanya Chamomile, dengan nada yang sangat penuh makna.
“Kepala ketujuh paling kecil HP-nya, tapi paling cepat regenerasinya. Butuh satu DPS yang bisa burst dalam tiga detik. Cuma Lychee yang bisa.”
“Dan cuma Earl yang bisa ngatur tiga tim sekaligus sambil ngebuff Lychee,” tambah Darjeeling. “Masuk akal. Sangat masuk akal.”
“Sangat masuk akal,” ulang Bu Ratna, terdengar seperti sedang tersenyum.
Di chat party, Lychee mengetik satu kata:
Lychee: oke.
Lalu, di whisper, satu kata lagi:
Lychee: berdua.
Aku menekan Enter.
Sorrow Spring adalah gua di balik air terjun. Dinding batunya basah, dipenuhi lumut yang menyala biru. Di tengahnya ada kolam bundar, dan dari dalam kolam itu muncul kepala ketujuh Septima. Ular raksasa dengan sisik putih pucat dan mata yang meneteskan air seperti menangis.
[Septima — The Seventh Sorrow — HP 100%]
Lychee berdiri di depanku, rapier terangkat. Aku berdiri tiga langkah di belakangnya, ranting di tangan.
“Tim Shrine, posisi?” tanyaku di channel A.
“Di depan kepala satu, dua, tiga. Siap, Earl,” jawab Darjeeling di telinga kiriku.
“Tim Marsh?” tanyaku di channel B.
“Bang, lumpurnya sampai lutut,” jawab Oolong di telinga kananku. “Kepala empat, lima, enam di sini. Siap.”
“Oke. Semua dengerin.” Aku menarik napas. “Fase satu, kalian kurangin HP kepala sampai tiga puluh persen. Pelan. Jangan ada yang turun di bawah tiga puluh sebelum aku bilang. Kalau ada yang turun duluan, berhenti nyerang kepala itu.”
“Kenapa nggak langsung bunuh?” tanya Genmai.
“Karena kalian harus mati bareng. Kalau satu kepala turun ke nol duluan, sepuluh detiknya mulai jalan. Kita butuh semua kepala di tiga puluh persen dulu, terus aku hitung, terus semua burst bareng.”
“Ngerti, Bang.”
“Mulai.”
Tiga lokasi. Tiga pertarungan. Dua channel di dua telinga. Dan satu kepala ular di depanku sendiri.
Aku tidak bisa melihat tim Shrine atau tim Marsh. Tapi aku punya HP bar tujuh kepala di layar, dan aku punya suara mereka. Darjeeling yang mendengus setiap kali menebas. Rooibos yang bergumam “Bismillah” sebelum melempar meteor. Oolong yang berteriak TAUNT dengan suara kecilnya. Kembar yang bertengkar soal siapa yang mencuri aggro.
Dari suara saja, aku tahu di mana mereka.
“Shrine, kepala dua turun terlalu cepat. Matcha, pindah ke kepala tiga.” Telinga kiri.
“Marsh, Sencha geser ke belakang, kepala lima mau nyembur racun.” Aku menekan ping ungu di layar Sencha. Telinga kanan.
“Lychee, kepala tujuh mau nyelam. Dia muncul lagi di kiri kolam. Tiga, dua, sekarang.” Di depan mataku.
[Earl casts Haste → Lychee]
Rapier menusuk tepat saat kepala ular muncul dari air.
[Septima — Head 1: 48% / Head 2: 41% / Head 3: 52%] [Septima — Head 4: 45% / Head 5: 39% / Head 6: 50%] [Septima — Head 7: 44%]
Pelan. Rapi. Semua kepala turun hampir bersamaan.
Lalu kepala ketujuh di depanku membuka mulutnya, dan aku mendengar suara yang tidak pernah kudengar di raid mana pun.
Tangisan.
Kepala ular itu menangis. Suara melengking, sedih, panjang. Dan di saat yang sama, di telinga kiri dan kananku, terdengar dua tangisan lain, lebih jauh, bergema dari Shrine dan Marsh.
[Septima is grieving. All heads gain Sorrow’s Echo: damage taken -50% for 20 seconds.]
“Earl!” teriak Darjeeling di telinga kiri. “Damage kita setengah!”
“Bang, kepalanya nyaring banget, aku nggak bisa dengar Abang!” teriak Hojicha di telinga kanan.
Dua puluh detik dengan damage setengah. Dua puluh detik tangisan yang menutup suara.
Aku sudah membaca deskripsi raid ini sepuluh kali. Sorrow’s Echo tidak ada di sana. Ini mekanik tersembunyi.
Aku mendengarkan tangisan itu. Tiga tangisan. Dari tiga lokasi.
Tangisan di Spring, di depanku, paling keras. Lalu tangisan di Shrine menyusul satu koma lima detik kemudian. Lalu Marsh, satu koma lima detik setelahnya.
Bukan bersamaan. Berurutan. Seperti gema.
Kepala ketujuh yang menangis duluan. Yang lain hanya menggema.
“Semua tim, berhenti nyerang,” kataku di kedua channel. “Jangan sentuh kepala kalian.”
“Hah?!”
“Tangisannya dari sini. Dari Spring. Kepala yang lain cuma ngikutin. Kalau kepala tujuh berhenti nangis, yang lain juga berhenti.”
“Terus gimana bikin dia berhenti?”
“Diam.”
Aku melepas semua buff dari Lychee.
[Earl casts Dispel → Lychee]
“Lychee,” kataku. “Mundur. Jangan nyerang. Berdiri di samping aku.”
Dia tidak bertanya. Karakternya mundur tiga langkah dan berdiri tepat di sebelahku.
Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Kepala ketujuh berhenti menangis. Matanya, yang meneteskan air, bergerak mencari. Tidak ada yang menyerangnya. Tidak ada yang bersinar dengan buff. Tidak ada ancaman.
Lalu tangisannya mereda. Di telinga kiri, gema dari Shrine menghilang. Di telinga kanan, gema dari Marsh menghilang.
[Sorrow’s Echo has ended.]
“Lagu tidur lagi?” tanya Pak Hendro pelan di channel A.
“Bukan,” kataku. “Ini kebalikannya. Dia nangis karena diserang. Kalau nggak ada yang nyerang, dia berhenti nangis.”
“Itu sedih, Bang,” kata Oolong di channel B.
“Iya. Itu sedih.”
[Septima — All heads: 30%–34%]
“Fase dua,” kataku. “Semua kepala di tiga puluhan. Sekarang yang susah. Kalian semua harus burst bareng. Sepuluh detik. Tapi kalian di tiga lokasi berbeda dan kepala kalian punya HP berbeda.”
Aku menghitung di kepala. Kepala satu di Shrine, HP tiga puluh tiga persen. Burst tim Shrine butuh enam detik untuk menghabiskannya. Kepala lima di Marsh, HP tiga puluh persen. Burst tim Marsh lima detik. Kepala tujuh di depanku, tiga puluh dua persen, dan regenerasinya paling cepat: tiga persen per detik. Lychee butuh tiga detik, tapi hanya kalau ultimate-nya siap.
Cooldown ultimate Lychee: delapan detik lagi.
Cooldown ultimate Darjeeling, yang dibutuhkan tim Shrine: dua belas detik lagi.
Mereka tidak sinkron. Mereka tidak akan pernah sinkron dengan sendirinya.
Kecuali aku membuatnya sinkron.
“Lychee,” kataku. “Aku mau coba skill yang belum pernah aku pakai di raid.”
Lychee: apa?
“Tempo Sync. Nyamain cooldown dua orang. Biasanya dipakai buat dua orang di satu tempat. Aku mau pakai buat kamu sama Darjeeling. Beda lokasi.”
Lychee: bisa?
“Range-nya nggak dibatasi. Aku udah cek. Developer lupa ngasih batas.”
Lychee: kamu nyari celah lagi.
“Selalu.”
Aku memilih dua target. Lychee, di depanku. Darjeeling, empat menit jauhnya, yang hanya kukenali dari namanya di daftar party.
[Earl casts Tempo Sync → Lychee & Darjeeling]
Dua garis cahaya emas muncul. Satu dari tanganku ke Lychee. Satu lagi melesat ke langit, menembus atap gua, dan menghilang ke arah Upper Shrine.
[Lychee — Ultimate cooldown: 10s] [Darjeeling — Ultimate cooldown: 10s]
Sama. Sepuluh detik. Keduanya.
“Earl,” suara Pak Hendro bergetar di telinga kiriku. “Ada cahaya turun dari langit ke Bapak. Ini kamu?”
“Iya, Pak. Pas cahayanya hilang, ultimate Bapak siap. Barengan sama Lychee.”
“Ya Allah,” bisik Bu Ratna.
“Tim Marsh,” kataku di channel B. “Ultimate kalian udah siap. Tahan. Jangan pakai sampai aku bilang.”
“Siap, Bang.”
“Semua dengerin. Aku hitung dari sepuluh. Tim Marsh burst di empat. Tim Shrine burst di dua. Lychee di nol. Selisihnya ngikutin HP kepala kalian. Kalau semua ikutin, tujuh kepala jatuh dalam rentang lima detik.”
Sepuluh orang di tiga lokasi berbeda menunggu satu suara.
“Sepuluh. Sembilan. Delapan.”
Aku menekan Q. Haste ke Lychee.
“Tujuh. Enam. Lima.”
Barrier Weave ke Oolong, dari jauh, lewat daftar party.
“Empat. Marsh, sekarang.”
Di telinga kananku, Oolong, Genmai, Hojicha, dan Sencha meledak bersamaan.
“Tiga. Dua. Shrine, sekarang.”
Di telinga kiriku, Pak Hendro berteriak, suara bapak-bapak yang dulu memimpin barisan tujuh belasan.
“Satu.”
Dan pada saat itu, sesuatu terjadi di tanganku.
Ranting kering yang kupegang, `[Dry Twig]`, berkedip. Bukan kedipan efek skill. Kedipan seperti layar yang glitch sepersekian detik. Dan dalam sepersekian detik itu, ranting itu tidak terlihat seperti ranting. Ranting itu terlihat seperti tongkat ramping berwarna emas pucat, dengan cahaya lembut di ujungnya, seperti tongkat dirigen.
Lalu kembali jadi ranting.
Aku tidak sempat memikirkannya.
“Lychee, nol.”
Thousand Petal Thrust.
[Septima — Head 5: DEFEATED] [Septima — Head 4: DEFEATED] [Septima — Head 6: DEFEATED] [Septima — Head 1: DEFEATED] [Septima — Head 2: DEFEATED] [Septima — Head 3: DEFEATED] [Septima — Head 7: DEFEATED]
Tujuh kepala. Empat koma tiga detik.
[Septima, the Grieving Serpent — DEFEATED] [World Notice] Party “Morning Tea” has achieved the FIRST CLEAR of Hydra of Seven Sorrows (Abyss).
Dua channel di dua telingaku meledak bersamaan. Dan karena aku terhubung ke keduanya, aku mendengar kegilaan dalam stereo.
Sepuluh menit kemudian, semua orang berkumpul kembali di pintu masuk rawa. Tim Shrine turun dari tebing. Tim Marsh merangkak keluar dari lumpur. Aku dan Lychee keluar dari balik air terjun.
Chamomile sudah memotong klip dari stream-nya. Lima menit kemudian, klip itu ada di forum utama Genesis, dengan judul yang dia tulis sendiri:
EARL CALL, LYCHEE EKSEKUSI — tujuh kepala dalam 4,3 detik dari tiga lokasi berbeda
Dalam setengah jam, judul itu sudah dikutip dua ratus kali. Dalam satu jam, seseorang membuat stiker dari kalimatnya. Dalam dua jam, kalimat itu bukan lagi judul klip. Kalimat itu jadi istilah.
Earl call, Lychee eksekusi.
“Bang,” kata Oolong, “kita mau dibikinin kaos.”
“Siapa yang bikin?”
“Chamomile.”
“Aku udah desain!” kata Chamomile. “Depan tulisan EARL CALL, belakang tulisan LYCHEE EKSEKUSI. Bisa dipakai couple!”
“Nggak,” kata Lychee di voice. Ini pertama kalinya dia bicara di voice malam ini. Suaranya pelan, sedikit serak.
“Kenapa? Kan lucu!”
“Pokoknya nggak.”
“Aku pesen dua,” kata Bu Ratna. “Satu buat Nak Kira, satu buat Nak Lychee.”
“Bu Ratna!”
Saat semua sudah log out, Lychee masih online. Karakternya berdiri di sebelahku di pintu masuk rawa, di bawah cahaya bulan virtual.
Lychee: tadi aku lihat sesuatu.
Earl: apa?
Lychee: pas kamu hitung satu. ranting kamu berubah. jadi emas. sedetik.
Aku menatap layar.
Earl: glitch kali.
Lychee: glitch?
Earl: server lagi berat. semua orang nonton.
Lychee: hm.
Lama tidak ada balasan. Lalu sebuah notifikasi lain muncul di layarku.
[Lychee is inspecting you.]
Dia sedang melihat perlengkapanku. Aku tahu apa yang dia lihat: jubah abu-abu `Common`, celana kain `Common`, sepatu `Common`, ranting `Common`. Transmog yang menutup segalanya. Tidak ada yang istimewa.
Lychee: semuanya common.
Earl: iya.
Lychee: kecuali satu.
Jantungku berhenti sebentar.
Lychee: slot cincin kamu kosong.
Oh.
Lychee: semua orang di level kita pakai cincin. aku pakai dua. kamu nggak pakai sama sekali.
Earl: slot itu buat nanti.
Lychee: nanti kapan?
Aku menatap pertanyaan itu. Slot cincin itu tidak kosong. Di balik transmog, ada sesuatu di sana. Sebuah cincin yang belum pernah kuikat ke siapa pun. Cincin yang hanya bisa diikat sekali seumur akun.
Aku tidak bisa menjelaskannya. Tidak sekarang.
Earl: kalau udah ketemu orang yang tepat.
Titik-titik mengetik muncul di sisinya. Lama. Sangat lama.
Lychee: itu jawaban paling aneh yang pernah aku dengar soal cincin di game.
Earl: maaf.
Lychee: jangan minta maaf.
Lychee: aku cuma... ngecek.
Earl: ngecek apa?
Lychee: ngecek kamu udah punya orang yang tepat atau belum.
Karakternya log out sebelum aku sempat menjawab. Lagi-lagi.
Aku duduk di depan layar lama sekali. Lalu membuka inventaris, mengarahkan kursor ke slot cincin, dan melihat tulisan yang hanya bisa kulihat sendiri:
[Oath Thread — Origin] [Status: Unbound] [Bind to one player. This cannot be undone.]
Aku menutup inventaris.
Belum. Belum sekarang.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows reading
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit