Chapter Forty
Tukar Teh
POV: Kira
Cincin itu kubeli hari Selasa, di toko perhiasan kecil di Pasar Baru, setelah tiga hari menghitung.
Bukan menghitung harga. Itu sudah kuhitung sejak Makassar, dari gaji tiga bulan yang hampir tidak terpakai karena kos di Tallo murah dan coto Daeng Ratu lebih murah lagi. Aku menghitung hal lain. Ukuran jari. Aku tidak tahu ukuran jarinya. Aku tidak pernah bertanya, karena bertanya berarti dia akan tahu.
Jadi aku menghitung dari ingatan.
Jam tangan Papa-nya. Talinya dikencangkan di lubang ketiga dari ujung. Pergelangan tangannya. Jari-jarinya yang mengisi celah di antara jari-jariku di lampu merah Tebet, di bawah meja kafe Blok M, di sawah Sokaraja. Lebih kecil dari jariku. Ramping. Ruas tengah sedikit lebih besar dari ujungnya, karena dia selalu memegang pulpen terlalu keras saat menulis PERJANJIAN.
Penjual di toko perhiasan menatapku lama saat aku menjelaskan semua itu.
“Mas,” katanya. “Biasanya orang bawa cincin lama pasangannya buat diukur.”
“Dia nggak pakai cincin.”
“Terus Mas ngukur dari mana?”
“Dari ingatan.”
Penjual itu menatapku lebih lama lagi. Lalu mengeluarkan satu nampan berisi lingkaran-lingkaran logam pengukur. Aku memilih satu. Ukuran lima belas. Dia mengangkat alis.
“Yakin, Mas?”
“Yakin.”
Cincinnya sederhana. Perak. Polos. Tidak ada batu. Hanya satu ukiran kecil di bagian dalam, yang kuminta tukang ukirnya tulis dengan huruf sangat kecil.
Dua kata.
Call aja.
Sabtu sore, jam empat lewat sepuluh, hujan turun di Jakarta. Tepat seperti ramalan.
Aku berdiri di depan kedai teh di seberang kantor. Kedai yang sama yang buka jam enam setengah pagi, tempat aku membeli lychee tea setiap hari selama Proyek 12.12, menyeberang jalan dua kali supaya ada di samping laptopnya sebelum dia datang.
“Lychee tea,” kataku ke kasir. “Es banyak. Banyak banget.”
“Seberapa banyak, Mas?”
“Sampai tehnya hampir nggak kelihatan.”
Kasir menatapku. Lalu tersenyum, dan mengisi gelas plastik besar dengan es sampai menggunung, lalu menuang lychee tea di sela-selanya.
“Buat pacar ya, Mas?”
Aku menatap gelas itu. Es yang menggunung. Dua bulan lalu, di Teh Senja di Bekasi, dia memesan persis seperti ini. Lychee tea, es banyak. Itu aku.
“Belum tahu,” kataku. “Nanti malam tahu.”
Jam sembilan lewat empat puluh, aku naik tangga darurat LNX.
Gedung kosong. Hari Sabtu malam. Pak Haris di meja jaga lobi, Jagung di pangkuannya. Dia menatapku masuk dengan hoodie abu basah di bahu, gelas lychee tea di satu tangan, dan sesuatu yang kubungkus sangat hati-hati di saku celana.
Dia tidak bertanya ke mana. Dia hanya menunjuk tangga darurat dengan dagunya.
“Bu Aruna sudah di atas, Mas. Dari jam setengah sembilan.”
“Setengah sembilan?”
“Katanya dia nggak mau kalah datang duluan.” Pak Haris tersenyum. “Bu Aruna titip pesan. Bilang ke dia, kali ini aku yang delapan menit lebih awal. Tapi dia datangnya satu jam sepuluh menit lebih awal, Mas.”
Aku tertawa. Lalu berhenti.
“Pak Haris.”
“Iya, Mas?”
“Doain.”
Pak Haris menatapku. Lalu menatap saku celanaku. Lalu mengangguk, sangat pelan, dan mengusap kepala Jagung.
“Udah dari dua tahun lalu, Mas,” katanya.
Lantai sembilan. Pintu besi abu-abu. DILARANG MASUK — KHUSUS TEKNISI. Tidak terkunci. Sedikit terbuka. Seseorang meninggalkan sepotong kardus di celahnya supaya tidak menutup.
Aku mendorongnya.
Hujan baru berhenti.
Aku melihat jam di ponsel. Sembilan lewat lima puluh delapan. Dua menit lebih awal dari BMKG. Untuk pertama kalinya, BMKG salah. Atau mungkin hujannya yang tidak sabar.
Rooftop LNX. Lantai beton basah, memantulkan lampu kota seperti cermin. Tangki air di satu sudut. Menara antena di sudut lain. Pagar besi setinggi dada. Dan di kejauhan, Halim. Lampu landasan biru dan kuning berkedip. Menara kontrol dengan lampu hijau.
Dan di pagar besi, menghadap Halim, seseorang berdiri.
Jaket hitam. Rambut digerai, sedikit basah. Jam tangan Papa-nya di pergelangan kiri. Di tangannya, gelas kertas dengan tutup plastik, uap tipis keluar dari lubang kecilnya.
Dia menoleh.
Lalu dia menatap gelas di tanganku. Lychee tea. Es menggunung.
Lalu aku menatap gelas di tangannya.
“Itu apa?” tanyaku.
Dia mengangkat gelas kertas itu sedikit.
“Earl Grey,” katanya. “Panas. Nggak pakai gula.”
Hening.
Lalu kami tertawa. Bersamaan. Di rooftop basah, jam sepuluh kurang dua menit, dengan gelas teh milik orang lain di tangan masing-masing.
“Kamu beli punyaku,” katanya.
“Kamu beli punyaku.”
“Aku nggak bilang ke kamu aku mau beli.”
“Aku juga nggak.”
“Kita nggak janjian.”
“Nggak.”
Dia berjalan dari pagar. Ke arahku. Berhenti di depanku. Dan kami bertukar gelas. Lychee tea ke tangannya, es menggunung, dingin. Earl Grey ke tanganku, panas, uap di wajahku.
Dia menyeruput lychee tea. Esnya berbunyi.
Aku menyeruput Earl Grey.
Pahit sedikit. Lalu bergamot di belakangnya.
“Gimana?” tanyanya.
“Rasanya asli.”
“Aku nggak tahu cara pesan yang benar. Aku bilang ke kasirnya Earl Grey, panas, buat orang yang kalau minum teh suka mikirin frame.”
“Terus kasirnya?”
“Kasirnya bilang iya, Bu, saya paham.”
Kami berdiri di pagar besi. Berdampingan. Menghadap Halim.
Sebuah pesawat lepas landas. Lampu-lampunya bergerak pelan, lalu cepat, lalu terangkat dari tanah, naik menembus awan yang sudah mulai menipis.
“Dua bulan lalu,” katanya pelan, “di sini, kamu bilang Haste terakhir artinya kamu suka aku.”
“Iya.”
“Terus kamu maju.”
“Iya.”
“Terus kamu nggak hitung.”
“Nggak.”
Dia menyeruput lychee tea lagi. Menatap menara kontrol yang lampunya hijau.
“Papa pasti suka kamu,” katanya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak pernah mengenal ayahnya. Aku hanya mengenal jam tangannya, payung kecilnya, dan statis di radio menara yang dia banggakan tiga puluh tahun.
“Papa bangga sama statis,” lanjutnya. “Kamu bangga sama ping ungu. Kalian sama.”
“Papa kamu nggak pernah maju.”
“Kamu juga nggak. Dulu.” Dia menoleh. Menatapku. “Tapi kamu maju sekarang.”
Aku menatapnya.
Di saku celanaku, sesuatu yang kubungkus sangat hati-hati. Kotak kecil. Beludru biru tua. Di dalamnya, lingkaran perak ukuran lima belas, dengan dua kata di bagian dalam.
Aku mengeluarkan ponsel dulu.
“Aruna.”
“Hm?”
“Boleh aku minta kamu login?”
Dia menatapku. Bingung. Lalu, perlahan, matanya menyipit sedikit. Bukan menyipit kantor. Menyipit Lychee. Menyipit yang tahu sesuatu sedang terjadi tapi belum tahu apa.
Dia mengeluarkan ponsel. Membuka aplikasi Genesis. Login.
[Lychee — Online]
“Di mana?” tanyanya.
“Leviathan.”
Dia mengetuk layar. Karakternya, rapier berambut perak, muncul di tepi danau bawah tanah. Danau Leviathan. Tempat raid pertama di bab pertama hidup kami berdua. Tempat dia selalu nongkrong kalau tidak sedang raid. Tempat dia curhat soal orang di lift yang namanya dia lupa dalam sepuluh detik.
Karakterku sudah di sana. Berdiri di tepi air yang tenang. Mantel kelabu fajar. Tongkat emas.
“Kamu udah di sini dari tadi?” tanyanya.
“Dari jam sembilan. Aku login dari HP di tangga.”
Dia menatap layar. Karakter enchanter dan karakter rapier, berdiri berdampingan di tepi danau. Seperti dua tahun lalu. Seperti malam setelah kopdar.
Aku membuka inventaris di ponselku. Mengarahkan jari ke satu slot.
[Oath Thread — Origin] [Status: Unbound] [Bind to one player. This cannot be undone.] [Effect: Permanent Tempo Sync with bound player.]
Aku menunjukkan layarku padanya.
Dia membaca. Lama. Jarinya, yang memegang gelas lychee tea, berhenti bergerak.
“Kira,” katanya pelan.
“Waktu di Hydra, kamu nanya slot cincinku kenapa kosong.”
“Kamu bilang buat nanti.”
“Kalau udah ketemu orang yang tepat.”
“Iya.”
“Aku udah ketemu,” kataku. “Dari kafe. Dari ketukan jari. Kamu yang pertama.”
Dia tidak bergerak.
“Tapi aku nggak mau mutusin sendiri,” kataku. “Aturan nomor tujuh. Ini nggak bisa dibatalin. Seumur akun. Jadi aku nanya dulu.”
Aku menarik napas.
“Boleh aku ikat ke kamu?”
Dia tidak menjawab dengan suara.
Dia menatap layar ponselnya. Lalu jarinya bergerak. Mengetik. Di chat whisper, di danau Leviathan, di game tempat kami bertemu dua tahun sebelum kami bertemu.
Lychee: call aja.
Aku menatap dua kata itu. Lalu menatapnya. Dia sedang menatapku, bukan layar. Matanya basah. Bibirnya bergetar sedikit, seperti menahan sesuatu supaya tidak keluar terlalu cepat.
Aku menekan Bind.
[Bind Oath Thread to: Lychee?] [This cannot be undone.] [Confirm?]
Satu koma dua detik.
Aku tidak butuh satu koma dua detik.
[Confirm]
Di layar ponsel kami berdua, di danau Leviathan, seutas benang emas tipis muncul. Dari tangan enchanter ke tangan rapier. Melingkar di jari karakter Lychee seperti cincin cahaya. Lalu menghilang, meninggalkan satu baris di atas kepala kedua karakter.
[Oath Thread bound to: Lychee.] [Permanent Tempo Sync: Earl ⟷ Lychee] [This cannot be undone.]
Dan untuk semua teman di daftar teman kami berdua, notifikasi muncul:
[Earl has bound his Oath Thread.]
Aku menyimpan ponsel.
Lalu aku mengeluarkan kotak beludru biru tua dari saku celana.
Dia melihatnya. Gelas lychee tea di tangannya hampir jatuh. Dia meletakkannya di atas pagar besi dengan tangan yang gemetar.
Aku tidak berlutut. Lantai rooftop basah, dan aku tahu dia akan menyuruhku berdiri lagi karena celana kamu basah, nanti masuk angin. Jadi aku berdiri. Di depannya. Sepuluh senti.
Aku membuka kotak.
Lingkaran perak. Polos. Di bawah lampu kota, berkilau sedikit.
“Itu di game,” kataku. “Ini yang beneran.”
Dia menatap cincin itu. Lalu menatapku.
“Ukurannya,” katanya. Suaranya hampir tidak keluar. “Kamu tahu ukuran jari aku dari mana?”
“Dari ingatan.”
“Kira.”
“Jam tangan Papa kamu. Lubang ketiga dari ujung. Jari kamu yang ngisi celah di jari aku. Ruas tengahnya sedikit lebih besar karena kamu megang pulpen terlalu keras.”
Dia menutup mulut dengan tangan.
“Aruna Lestari,” kataku.
Nama lengkapnya. Dengan suaraku. Di rooftop yang sama tempat aku pertama kali maju.
“Head of Operations. Dua puluh sembilan tahun. Minum lychee tea, es banyak. Simpan tisu di balik foto papa kamu. Hafal nama tiga ratus sopir dan kucing satpam lobi. Nggak bisa baca gambar tangan di gerbang KRL. Crit dua belas kali kalau cemburu. Bawa bubur tanpa sambal. Terbang ke Makassar pakai tiket yang dibeli sebelum aku bilang boleh. Duduk di lantai kamar kosku dan nangisin buku tulis.”
Air matanya jatuh. Dia tidak menghapusnya.
“Kamu yang pertama lihat aku,” kataku. “Aku mau kamu yang terakhir juga.”
Aku menarik napas.
“Aruna. Mau nikah sama aku?”
Hening.
Di Halim, satu pesawat lagi lepas landas. Di bawah, tol layang Cawang berdengung pelan. Di pagar besi, gelas lychee tea berembun.
Dia tidak menjawab dengan iya.
Dia mengulurkan tangan kiri. Jam tangan Papa-nya di pergelangan. Jari-jarinya gemetar.
Lalu, dengan jari telunjuk tangan kanannya, dia mengetuk punggung tanganku yang memegang kotak cincin.
Satu. Dua. Tiga.
Ritme Haste.
“Itu artinya apa?” tanyaku. Pertanyaan yang dia tanyakan padaku ratusan kali. Setiap kali aku melempar buff tanpa penjelasan.
Dia tersenyum. Senyum yang membuat seluruh rooftop, seluruh Jakarta Timur, seluruh lampu landasan Halim, tiba-tiba terasa terlalu redup.
“Artinya iya,” katanya. “Pakai titik.”
Aku memasang cincin itu di jari manisnya.
Pas.
Tidak terlalu longgar. Tidak terlalu sempit. Ukuran lima belas. Dari ingatan.
Dia menatap cincin itu. Lalu memutar jarinya sedikit, dan cahaya lampu kota menyentuh bagian dalam lingkaran perak. Dia melihat ukirannya. Dua kata, sangat kecil.
Call aja.
Dia tertawa. Tawa yang pecah di tengah. Tawa yang sama dengan Pak Hendro di aula Mirror Queen. Tawa dan tangis sekaligus.
“Kamu ngukir call aja,” katanya.
“Itu kalimat kamu. Dari Leviathan. Dua tahun.”
“Itu kalimat paling nggak romantis di dunia.”
“Itu kalimat paling romantis yang pernah aku dengar.”
Dia menatapku. Lalu maju. Sepuluh senti jadi nol.
Aku tidak menghitung.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak tahu frame berapa. Aku tidak tahu berapa pesawat yang lepas landas dari Halim, berapa truk yang lewat di tol layang, berapa kali ponsel di saku kami bergetar karena grup Morning Tea sudah melihat notifikasi Earl has bound his Oath Thread.
Yang kutahu hanya ini: Earl Grey di tanganku masih hangat. Lychee tea di pagar besi masih dingin. Cincin perak di jarinya menempel di pipiku.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tujuh tahun, aku tidak sedang berdiri di belakang siapa pun.
Saat kami menjauh, dia tidak membuka mata. Dahinya di bahuku.
“Kira.”
“Ya?”
“Grup chat.”
“Aku tahu.”
“Udah berapa pesan?”
Aku mengeluarkan ponsel. Melihat layar.
Grup Morning Tea — 247 pesan baru
“Dua ratus empat puluh tujuh,” kataku.
Dia tertawa ke bahuku. “Baca satu aja. Yang paling atas.”
Aku membuka grup. Pesan paling atas. Dikirim dua menit setelah notifikasi Oath Thread.
Darjeeling: Nak. Bapak nangis di depan tumpukan semen lagi. Ini jam sepuluh malam. Toko udah tutup. Bapak sengaja buka cuma buat nangis di depan semen.
Di bawahnya, dua ratus empat puluh enam pesan lain. Emoji cincin. Emoji pengantin. Kembar dengan lagu kemenangan versi tertulis. Chamomile yang mengancam akan streaming pernikahan. Bu Ratna yang sudah menghitung berapa rantang rendang yang dibutuhkan untuk resepsi. Oolong yang bertanya apakah dia boleh jadi pagar ayu meskipun laki-laki. Matcha yang menawarkan antar-jemput tamu gratis selama seminggu. Bastian yang bertanya apakah Fake Earl boleh jadi saksi. Tari, yang entah bagaimana sudah dimasukkan ke grup oleh Chamomile, dengan dua puluh tiga pesan berturut-turut yang hanya berisi AAAAAAAAAA.
Dan satu pesan dari Sencha. Paling bawah. Paling baru.
Sencha: ping ungu.
Sencha: artinya: selamat datang di depan. kalian berdua.
Sencha: 💜
Aku menyimpan ponsel.
Aruna masih bersandar di bahuku. Di jari manisnya, cincin perak. Di pergelangan kirinya, jam tangan Papa. Di pagar besi, lychee tea yang esnya sudah mulai mencair.
Aku mengambil Earl Grey dari tanganku sendiri. Menyeruputnya.
Pahit sedikit.
Bergamot di belakangnya.
Dan untuk pertama kalinya, di belakangnya lagi, sesuatu yang lain. Rasa yang tidak ada di teh mana pun. Rasa yang tidak bisa kuhitung, tidak bisa kucatat di buku tulis cokelat, tidak bisa kubuat rutenya.
Rasa pulang.
Dia mengangkat kepala dari bahuku. Menatapku. Lalu, pelan, dengan jari telunjuk tangan kirinya, yang sekarang memakai cincin, dia mengetuk dadaku.
Satu. Dua. Tiga.
Aku tersenyum.
“Itu artinya apa?” tanyaku.
Dia tersenyum balik.
“Nanti aku cerita,” katanya. “Seumur hidup.”
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh reading
- 41 Epilog — Earl’s Gambit