Chapter Seven

Papan Tulis

POV: Aruna

Kamis, jam enam lewat empat puluh tiga pagi, layar besar di ruang kontrol LNX berubah hitam.

Aku tahu jamnya persis karena aku sedang berdiri di depannya.

Aku datang lebih pagi lagi hari ini. Alasan resminya: menyiapkan laporan untuk Pak Darmawan sebelum rapat direksi jam sepuluh. Alasan sebenarnya, yang tidak akan kuakui bahkan pada cermin, adalah semalam aku tidak bisa tidur setelah membaca kalau kamu jatuh, aku tangkap sebanyak empat belas kali.

Jadi aku berdiri di ruang kontrol yang masih setengah kosong, memegang lychee tea dingin, menatap peta Jabodetabek dengan ratusan titik bergerak, ketika semua titik itu hilang.

Layar tidak menampilkan pesan error. Tidak ada peringatan. Hanya hitam, lalu satu baris teks putih kecil di tengah:

CONNECTION LOST — ROUTING SERVER UNREACHABLE

Telepon di meja Reno berdering. Lalu telepon di meja lain. Lalu ponselku sendiri.

“Bu Aruna.” Suara Pak Gunawan, kepala IT, terdengar seperti orang yang baru saja jatuh dari tangga. “Data center kita kena gangguan listrik. UPS-nya mati. Generator cadangan nggak nyala. Server routing down.”

“Berapa lama?”

“Teknisi bilang... paling cepat empat jam, Bu.”

Empat jam.

Aku melihat jam di dinding. Enam lewat empat puluh lima. Gelombang pengiriman pagi dimulai jam tujuh. Dua ratus tiga puluh armada di seluruh Jabodetabek. Sopir yang menunggu rute di aplikasi. Gudang di Cikarang, Cakung, dan Tangerang yang menunggu jadwal muat. Pelanggan korporat yang punya kontrak SLA dengan denda per jam keterlambatan.

Empat jam tanpa sistem pada Kamis pagi berarti, kalau dihitung kasar, kerugian di atas satu miliar. Dan itu baru dendanya.


Pada jam tujuh kurang sepuluh, ruang kontrol sudah penuh. Delapan dispatcher, dua koordinator gudang, Reno, dan aku. Semua orang menatap layar hitam seperti menunggu keajaiban.

Telepon tidak berhenti berdering. Grup WhatsApp sopir meledak. Rute mana, Pak? Aplikasi blank. Muat di mana? Pak, saya udah di gerbang tol, belok mana?

“Oke, oke, semua tenang,” kata Reno, berdiri di tengah ruangan. Kemejanya masih rapi, tapi dahinya basah. “Kita... kita pakai jadwal kemarin aja. Semua sopir ikut rute kemarin.”

“Rute kemarin ada tiga gudang yang tutup hari ini, Pak,” kata Tari. “Libur nasional di cabang Bekasi.”

“Oke. Kalau gitu... kita telepon satu-satu.”

“Dua ratus tiga puluh sopir, Pak?”

Reno membuka mulut. Tidak ada yang keluar.

Aku sudah setengah langkah maju. Aku tahu apa yang harus dilakukan, secara teori: prioritaskan klien SLA tertinggi, tahan sisanya, komunikasikan ke pelanggan bahwa ada keterlambatan. Itu protokol darurat. Itu yang akan menyelamatkan kontrak, tapi mengorbankan separuh pengiriman hari ini.

Lalu seseorang bergerak sebelum aku.

Kursi di meja ketiga dari jendela bergeser. Kira berdiri. Masih memakai hoodie abu, tumbler Earl Grey di tangan kiri. Dia tidak bilang apa-apa. Dia berjalan ke papan rute di sudut ruangan, menatapnya selama tiga detik, lalu mengambil penghapus.

Dan menghapus seluruh papan.

“Kir?” Reno berbalik. “Kamu ngapain?”

Kira tidak menjawab. Dia mengambil spidol hitam dan mulai menggambar.

Garis pertama: Tol Jakarta–Cikampek. Garis kedua: Tol Dalam Kota. Ketiga: JORR. Keempat: Tol Tangerang–Merak. Lalu titik-titik: Cikarang, Cakung, Tangerang, Pulogadung, Marunda, Cawang. Lalu jalan arteri. Kalimalang. Daan Mogot. Raya Bogor. Semua dari ingatan. Tanpa melihat ponsel. Tanpa ragu.

Dalam dua menit, papan putih itu berubah jadi peta Jabodetabek. Lebih sederhana dari layar, tapi lengkap.

Aku berdiri diam di dekat pintu.

“Tari,” kata Kira. Suaranya pelan, tapi entah kenapa seluruh ruangan mendengarnya. “Kamu pegang semua telepon dari pelanggan. Jangan janji jam. Bilang aja ‘sedang dalam perjalanan, kami kabari tiga puluh menit lagi’. Catat siapa yang paling marah.”

Tari berkedip. Lalu mengangguk dan duduk.

“Mas Fajar, Mas Dimas.” Dua dispatcher senior. “Kalian pegang grup WA sopir wilayah timur. Cikarang dan Bekasi. Mbak Ayu, Mas Rio, barat. Tangerang dan Daan Mogot. Aku pegang tengah sama selatan.”

“Rute-nya dari mana, Kir?” tanya Mas Fajar. “Sistem mati.”

Kira mengetuk papan dengan spidol.

“Dari sini.”

Lalu dia mulai menulis angka di sebelah setiap titik. Nomor armada. B-01 sampai B-40 di Cikarang. C-01 sampai C-35 di Cakung. Lalu panah. Lalu jam.

“Semua truk B berangkat dalam tiga gelombang. Gelombang satu jam tujuh lewat lima, B-01 sampai B-14, lewat Cikampek, langsung ke klien SLA di Pulogadung. Gelombang dua jam tujuh tiga puluh lima, B-15 sampai B-28, lewat JORR karena Cikampek bakal padat. Gelombang tiga jam delapan lewat sepuluh, sisanya, lewat Kalimalang karena jam segitu udah lengang dan airnya belum naik.”

Dia tidak berhenti. Dia tidak membuka laptop. Dia tidak memeriksa jadwal. Tangannya bergerak di papan seperti orang yang sudah menulis peta ini ribuan kali.

Tiga gelombang.

Aku tahu struktur itu. Tiga gelombang dengan jeda tiga puluh menit, rute dialihkan berdasarkan prediksi kemacetan per jam. Itu struktur Rencana Rute Gelombang, rencana yang Reno ajukan dua tahun lalu. Rencana yang mau kupakai untuk Harbolnas. Rencana yang kubaca dan kuanggap rencana terbaik yang pernah dibuat divisi ini.

Kira sedang menulisnya dari ingatan. Bukan menyalin. Mengembangkan. Dia menambahkan jalur yang tidak ada di dokumen aslinya, menyesuaikannya dengan gudang Bekasi yang tutup, memindahkan dua armada ke Tangerang karena ada klien baru di sana yang bahkan aku sendiri lupa.

“Kira.” Reno maju. “Kamu yakin? Ini nggak sesuai SOP. SOP darurat bilang kita prioritasin SLA, sisanya ditahan.”

“Kalau ditahan, Pak,” kata Kira, tanpa menoleh, “seratus empat puluh paket telat sehari. Kalau pakai gelombang, telatnya paling lama satu jam.”

“Tapi kalau salah—”

“Kalau salah, aku yang tanggung.”

Reno menatapku. Menunggu aku memutuskan.

Semua orang menatapku.

Aku Head of Operations. Ini keputusan yang harus kuambil. SOP ada di pihak Reno. Kalau aku menyetujui rencana seorang dispatcher yang ditulis dari ingatan di papan tulis, dan rencana itu gagal, aku yang akan ditanya direksi kenapa aku mengabaikan protokol.

Tapi aku pernah berdiri di air yang dialiri listrik karena laki-laki ini bilang tiga.

“Ikuti papan,” kataku.

Ruangan diam sesaat. Lalu bergerak.


Dua jam berikutnya adalah hal paling luar biasa yang pernah kulihat di gedung ini.

Aku tidak masuk ke ruanganku. Aku berdiri di dekat pintu ruang kontrol, bersandar di kusen, memegang lychee tea yang esnya sudah mencair, dan menonton.

Kira tidak duduk. Dia berdiri di depan papan dengan headset di satu telinga dan ponsel di tangan. Dia menelepon sopir satu per satu di wilayah tengah sambil terus memperbarui papan dengan spidol merah: coret armada yang sudah berangkat, lingkari yang terlambat, panah baru untuk yang dialihkan.

“Pak Udin, B-14, keluar tol di Halim, jangan Cawang. Cawang ada kecelakaan motor dari jam tujuh lewat dua belas... Iya, Pak, saya tahu dari grup ojol. Makasih, Pak.”

Grup ojol. Dia ada di grup ojol.

Setiap lima menit, salah satu dispatcher memanggilnya. “Kir, C-22 nggak bisa dihubungi.” “Kir, klien di Pulogadung minta jam pasti.” “Kir, gudang Tangerang bilang forklift-nya rusak.”

Dan setiap kali, Kira menjawab dalam satu kalimat tanpa berpikir lama.

“C-22 sopirnya Pak Darto, dia nggak pernah angkat telepon pas nyetir, chat aja, dia baca di lampu merah.”

“Bilang ke Pulogadung jam sembilan lewat lima belas. Kasih buffer lima belas menit.”

“Forklift Tangerang yang rusak yang nomor dua. Pakai yang nomor tiga, ada di belakang gudang, jarang dipakai karena operatornya cuti, tapi Pak Joko bisa nyetir.”

Aku memperhatikan dispatcher lain. Tari yang biasanya bergosip, sekarang menenangkan pelanggan dengan suara paling sabar yang pernah kudengar. Mas Fajar yang biasanya lambat, sekarang mengetik di dua grup WA sekaligus. Semua orang bergerak dalam ritme yang sama.

Ritme yang aku kenal.

Satu, dua, geser.

Kira tidak memerintah. Dia memanggil. Dia memberi masing-masing orang satu tugas yang paling cocok untuk mereka, lalu memastikan mereka punya semua yang mereka butuhkan untuk menjalankannya. Dia memberi buff. Lalu dia membiarkan mereka maju.

Reno berdiri di tengah ruangan. Dia sempat mencoba memberi instruksi dua kali. Keduanya diabaikan, bukan karena tidak sopan, tapi karena semua orang sudah bergerak. Akhirnya dia duduk di mejanya dan menerima telepon dari klien yang marah, yang dilempar Tari kepadanya.

Jam sembilan lewat tiga puluh, Pak Gunawan dari IT masuk dengan wajah lelah. “Bu, server udah nyala lagi. Lebih cepat dari perkiraan.”

Layar besar menyala. Titik-titik muncul satu per satu. Aplikasi menarik data posisi armada dari GPS.

Dan seisi ruangan menatap layar.

Dua ratus tiga puluh titik. Hampir semuanya hijau. Tepat waktu atau terlambat kurang dari satu jam. Hanya enam titik kuning. Nol merah.

Tari membuka laporan otomatis yang baru saja dihasilkan sistem. “Ketepatan waktu pagi ini...” Dia menelan ludah. “Sembilan puluh empat persen.”

Rata-rata ketepatan waktu LNX pada hari normal, dengan sistem berjalan sempurna, adalah sembilan puluh satu persen.

Mas Fajar bertepuk tangan. Lalu Mas Dimas. Lalu Tari, sambil setengah tertawa setengah menangis. Lalu seluruh ruang kontrol.

Kira tidak ikut bertepuk tangan. Dia meletakkan spidol merah, mengambil tumbler Earl Grey yang sudah dingin, dan menyeruputnya. Lalu dia duduk di kursinya, melepas headset, dan menyandarkan kepala ke belakang dengan mata terpejam.

Seperti setelah raid enam menit di katedral.


“Kerja bagus, semuanya.” Reno berdiri, suaranya keras, tersenyum lebar. “Saya bangga sama tim dispatch. Koordinasi kita hari ini luar biasa.”

Kita.

Aku melihat Kira. Dia tidak membuka mata.

Aku melangkah masuk ke ruang kontrol. Seketika ruangan sunyi lagi, seperti setiap kali Bu Deadline muncul.

“Reno,” kataku.

“Bu.”

“Ini siapa yang pimpin?”

Reno tidak ragu. “Saya, Bu. Saya delegasikan ke tim, termasuk ke Kira.”

Aku menatap Reno selama dua detik. Dia membalas tatapanku dengan senyum yang sudah dia pakai di rapat ratusan kali.

Lalu aku menatap papan putih di sudut ruangan. Peta Jabodetabek dalam spidol hitam. Coretan merah. Lingkaran. Panah. Angka “7” dengan garis kecil di tengah di setiap jam keberangkatan. Huruf “k” dengan kaki panjang di setiap kata Kalimalang.

Aku tidak bilang apa-apa ke Reno. Tidak di sini. Tidak di depan semua orang.

Tapi aku mengeluarkan ponsel dan memotret papan itu.


Siang itu, saat Kira makan siang di pantry, aku melewati mejanya.

Aturan nomor satu. Di kantor: atasan dan bawahan. Nggak ada perlakuan khusus.

Aku mengambil satu sticky note kuning dari tumpukan di mejanya, menulis tiga kata dengan pulpenku, dan menempelkannya di pinggir monitornya. Lalu aku berjalan pergi secepat mungkin, sebelum Tari, yang sedang menuang kopi di dispenser, sempat menoleh.

Bagus. Terima kasih. —A

Dengan garis panjang di ujung huruf A. Seperti ekor bintang jatuh.

Itu melanggar aturan nomor satu. Mungkin. Sedikit.

Tapi dua tahun dia menyelipkan sticky note ke depan orang lain dan melihat orang lain membacanya keras-keras sebagai milik mereka.

Hari ini, satu sticky note adalah untuknya.


Jam sepuluh malam, aku login Genesis. Kira, Earl, online. Tentu saja.

Aku mengetik dan menghapus pesan pertama tiga kali.

Lychee: hari ini aku lihat orang hebat.

Earl: aturan nomor tiga. nggak bahas kantor di game.

Lychee: aku nggak bahas kantor.

Lychee: aku bahas orang.

Jeda.

Earl: orangnya kerja di kantor kamu?

Lychee: iya. tapi aku nggak bahas kantornya. cuma orangnya.

Earl: itu celah.

Lychee: kamu yang ngajarin aku nyari celah di antara dua gerakan.

Titik-titik mengetik di sisinya muncul dan hilang berkali-kali.

Lychee: dia gambar peta satu kota dari ingatan. dua ratus tiga puluh truk. tanpa sistem. dan pas semua orang tepuk tangan, dia cuma minum teh dingin dan merem.

Lychee: terus atasannya bilang itu kerja tim.

Lychee: dan dia diam aja.

Earl: mungkin dia nggak keberatan.

Aku menatap kalimat itu. Kalimat yang sama, untuk kedua kalinya. Mungkin dia nggak keberatan.

Kali ini aku tahu siapa yang mengetiknya.

Lychee: kamu tahu nggak, waktu kamu bilang gitu, aku pengen banget lempar sesuatu ke layar.

Earl: kenapa?

Lychee: karena aku keberatan.

Lychee: aku yang keberatan, kira.

Dia tidak membalas lama. Karakternya berdiri diam di pinggir danau Leviathan, tempat dia biasa nongkrong kalau tidak sedang raid.

Lalu satu efek cahaya kuning muncul di karakterku.

[Earl casts Haste → Lychee]

Lychee: itu artinya apa?

Earl: sticky note-nya aku simpen.

Aku menutup mulut dengan tangan, sendirian di apartemen, di depan laptop, jam sepuluh malam.

Earl: di dompet.

Lychee: kamu gila.

Earl: kamu juga nyimpen tisu.

Aku menoleh ke dompetku di atas meja. Bagaimana dia tahu?

Earl: kamu buka dompet di depan papan rute senin pagi. aku lihat.

Lychee: kamu lihat?

Earl: aku selalu lihat. aku cuma nggak pernah bilang.

Aku menutup laptop. Membukanya lagi. Menutupnya lagi.

Lalu aku membuka foto papan rute yang kuambil tadi pagi, dan menatapnya sampai tengah malam, sampai aku hafal setiap angka tujuh dengan garis kecil di tengahnya.