← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Thirty Seven

First Dawn: Final

POV: Kira

[FINAL PHASE — The Last Light] [Noctis, the Last Night — HP 15%] [Enrage in: 8:00]

Delapan menit.

Lima belas persen HP dari boss terakhir musim pertama Genesis. Dua puluh orang. Satu enchanter dengan sinyal satu garis di kamar kos tiga kali tiga, di bawah atap seng yang dipukuli hujan.

“Skenario satu,” kataku. “Zero-Buff Window. Noctis makan cahaya. Semua buff yang kita pasang, dia serap jadi heal. Jadi nggak ada buff. Kita main polos.”

“Kayak Mirror Queen?” tanya Genmai.

“Kayak Mirror Queen.”

Dua puluh orang menyerang tanpa buff. Damage polos. Angka-angka putih kecil bermunculan di atas tubuh Noctis.

[Noctis — HP 14%]

[Noctis — HP 13%]

Pelan. Terlalu pelan. Dengan kecepatan ini, kami butuh dua belas menit. Kami punya delapan.

Lalu Noctis mengangkat tangan.

[Noctis casts: Eclipse Lance] [“The Night hunts those who hide behind.”]

Sebuah tombak hitam. Bukan ke Oolong di depan. Bukan ke Lychee di tengah. Tombak itu melesat melewati sembilan belas orang, melengkung di udara, dan menghantam satu target.

Pemain yang berdiri paling jauh dari Noctis.

Aku.

[Earl — DEAD]


Aku bangkit di checkpoint, di depan reruntuhan gerbang. Party masih bertarung di dalam. Tanpa call. Tanpa Earl.

Empat puluh detik kemudian, Noctis mengayunkan tangannya, dan gelombang kegelapan menyapu dua puluh orang sekaligus.

[Alliance Wiped]

“Semua bangkit di checkpoint,” kataku. “Progress fase final tersimpan. Kita bisa coba lagi.”

“Bang, tombaknya ngincer yang paling belakang,” kata Oolong.

“Iya. Aku tahu sekarang.”

“Kamu selalu paling belakang.”

“Iya.”

Skenario dua. Aku berdiri di tengah formasi. Tidak lagi paling belakang. Noctis melempar tombak ke pemain paling jauh berikutnya.

[Chamomile — DEAD]

Tanpa healer, formasi runtuh dalam dua menit.

[Alliance Wiped]

Skenario tiga. Semua orang berdiri dalam lingkaran yang sama jaraknya dari Noctis. Tidak ada yang paling belakang. Noctis memilih acak.

[Rooibos — DEAD]

[Alliance Wiped]

Skenario empat. Lima. Sembilan. Empat belas.

Aku membuka buku tulis di sebelah laptop. Mencoret setiap skenario yang gagal dengan spidol merah. Satu per satu.

Jam dua pagi waktu Makassar. Hujan masih turun.

Skenario dua puluh satu. Dua puluh tujuh.

Jam tiga.

[World-First Tracker] [Morning Tea + Espresso Alliance — Final Phase — Attempts: 27] [Black Lotus Alliance — Final Phase — Attempts: 31]

Black Lotus juga gagal. Tiga puluh satu kali. Tidak ada yang tembus.

Chat stream Chamomile, yang tadi penuh euforia, sekarang bergerak lambat. Banyak penonton yang sudah pergi tidur. Yang tersisa hanya beberapa ratus ribu orang yang menolak menyerah.

ayo earl jangan nyerah gw begadang dari jam 9 malem FakeEarl: bang aku masih di sini 🙏

Skenario tiga puluh lima. Tiga puluh delapan.

Jam empat lewat dua puluh.

Skenario tiga puluh sembilan.

[Alliance Wiped]

Aku mencoret halaman tiga puluh sembilan dengan spidol merah.

Lalu aku menatap halaman empat puluh. Satu-satunya halaman yang belum dicoret. Halaman yang tidak punya nomor skenario.

Kalau semua skenario gagal: maju.


Aku menatap tongkat emas di tangan karakterku. Mantel kelabu fajar. Jam pasir di pinggang. Dan satu efek tersembunyi yang tidak pernah aktif selama dua tahun. Yang tidak terlihat di layar statistik. Yang hanya kubaca sekali, di deskripsi item, di malam aku pertama kali menyelesaikan The Silent Archive.

[Origin Awakening: Vanguard] [Activates only when the wearer is the first party member to engage the boss.]

Pertama. Bukan terakhir. Bukan di belakang.

Pertama.

Dua tahun aku tidak pernah memakainya. Aku pikir efek itu tidak berguna, karena aku tidak akan pernah jadi yang pertama. Enchanter tidak pernah maju duluan. Enchanter melempar buff, lalu berdiri di belakang, dan membiarkan orang lain menyerang.

Itu tempatku. Selalu.

Buku empat puluh tujuh, halaman terakhir. Saat fajar pertama kembali, gerbang hanya akan terbuka bagi dia yang memimpin tanpa maju. Tapi gerbang terakhir hanya akan runtuh bagi dia yang akhirnya maju.

Gerbang pertama terbuka untuk Conductor. Untukku. Karena aku memimpin dari belakang.

Gerbang terakhir tidak akan runtuh sampai aku maju.

Developer menulis itu tiga tahun lalu. Di buku yang hanya dibaca satu orang. Dan orang itu baru mengerti sekarang, jam empat pagi lewat dua puluh lima, setelah tiga puluh sembilan kali gagal.

Aku menatap keyboard. Tombol Q. Botak. Hurufnya hilang sejak setahun lalu. Tombol buff. Tombol yang paling sering kutekan seumur hidupku.

Di sebelahnya, tombol R. Hurufnya masih utuh. Masih tajam. Hampir tidak pernah tersentuh.

[R — Overcharge: All buffs ×2. Caster loses 50% current HP.]


“Semuanya,” kataku di alliance channel.

Dua puluh orang diam.

“Aku mau coba sesuatu yang belum pernah aku lakuin. Di raid mana pun. Di dua tahun.”

“Apa, Nak?” tanya Pak Hendro.

“Aku mau maju duluan.”

Hening.

“Kalau aku yang pertama nyerang Noctis, ada efek tersembunyi di Origin yang nyala. Semua buff jadi tiga kali lipat. Mantel aku mati. Noctis bakal ngunci aggro ke aku. Dia nggak bakal lempar tombak ke yang paling belakang lagi, karena dia cuma lihat aku.”

“Terus kamu?”

“Aku bakal kena semua serangannya.”

“HP kamu paling tipis di server, Bang,” kata Oolong pelan.

“Aku tahu.”

“Itu bunuh diri.”

“Mungkin.”

“Bang—”

“Aku nggak mau mutusin sendiri,” kataku. “Aturan nomor tujuh. Aku nanya. Boleh?”

Hening sangat lama. Dua puluh orang. Sepuluh dari Morning Tea, sepuluh dari Espresso.

Lalu Reno, di alliance channel. Pelan.

“Espresso ikut Earl.”

Lalu Pak Hendro. “Morning Tea juga, Nak.”

Lalu Bu Ratna, dengan suara yang bergetar. “Ibu takut, Nak. Tapi Ibu ikut.”

Lalu satu per satu. Oolong. Kembar. Matcha. Chamomile, yang menangis ke kamera sambil mengangguk. Sencha, di chat:

Sencha: 💜

Lalu, terakhir, di chat party Morning Tea.

Lychee: aku di belakang kamu.

Lychee: buat pertama kalinya, aku yang di belakang.

Lychee: kalau kamu jatuh, aku tangkap.

Lychee: call aja.


[Final Phase — Attempt 40]

Sembilan belas orang berdiri di checkpoint, di depan reruntuhan gerbang. Diam. Tidak bergerak.

Satu orang berjalan.

Enchanter. Mantel kelabu fajar. Tongkat emas pucat. Keluar dari barisan. Melewati Oolong di depan. Melewati Lychee. Melewati Darjeeling dan Ristretto. Berjalan sendirian ke dalam kegelapan di balik gerbang.

Ke arah Noctis.

Chat stream Chamomile berhenti bergulir.

earl jalan sendirian dia mau ngapain ENCHANTER MAJU DULUAN???

Noctis menoleh. Lingkaran gerhana di wajahnya menatapku.

Aku berhenti tiga langkah darinya. Lebih dekat dari siapa pun pernah berdiri.

Jari telunjukku di atas keyboard. Bukan di Q.

Aku mengangkat Baton of the First Dawn. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku menyerang.

Bukan buff. Serangan. Serangan dasar enchanter, satu pukulan tongkat, damage hampir nol.

[Earl attacks Noctis — 47 damage]

Empat puluh tujuh. Angka putih kecil di atas tubuh raksasa itu. Angka paling kecil yang pernah muncul di raid mana pun.

Lalu layarku berubah jadi emas.

[Origin Awakening: Vanguard — ACTIVATED] [The wearer has stepped forward. The Dawn answers.] [All buffs ×3 for 30 seconds. Mantle of the Unseen: disabled. All enemy aggro is locked to the wearer.]

Mantel kelabu di tubuh Earl berubah. Tidak lagi kelabu. Putih keemasan, seperti cahaya pertama di ujung cakrawala. Jam pasir di pinggang berputar, dan pasir emasnya mengalir ke bawah untuk pertama kali, bukan ke atas. Tongkat di tanganku menyala begitu terang sampai layar menjadi putih sesaat.

Di alliance channel, dua puluh orang berteriak bersamaan. Tapi aku tidak mendengar mereka. Aku mendengar hal lain. Lagu. Dari speaker laptopku. Lagu yang tidak pernah kudengar di Genesis. Bukan lagu boss. Bukan lagu raid.

Lagu tidur. Dari Clockwork Cathedral. Dimainkan dengan orkestra penuh. Lambat. Seperti matahari terbit.

Noctis mengangkat tangan. Tombak hitam terbentuk.

[Noctis casts: Eclipse Lance]

Tidak ke belakang. Tidak ke yang paling jauh. Ke aku. Satu-satunya yang dia lihat.

[Earl casts Barrier Weave → Earl]

Setengah detik sebelum hit. Tiga kali lipat.

Tombak itu pecah di perisai emas.

“Sekarang,” kataku di alliance channel. Suaraku tidak datar. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, suaraku tidak terdengar seperti orang yang membacakan jadwal kereta. “Semua serang. Dia cuma lihat aku. Dia nggak lihat kalian. Tiga puluh detik.”

Sembilan belas orang maju.


[Noctis — HP 11%]

Noctis tidak berbalik. Dia tidak bisa. Aggro terkunci. Dia hanya melihat satu enchanter di depannya, dan menyerang terus. Tombak. Gelombang. Cakar bayangan.

Barrier. Barrier. Barrier. Tiga kali lipat. Setiap setengah detik sebelum hit.

[Noctis — HP 8%]

[Noctis casts: Devour Light] [Noctis attempts to consume all buffs on the field.]

Aku sudah tahu ini datang. Skenario empat belas, yang gagal. Noctis menyerap semua buff dan mengubahnya jadi heal.

[Devour Light failed: Origin cannot be devoured.]

Lingkaran gerhana di wajah Noctis bergetar. Seperti permukaan perak Mirror Queen. Seperti air yang dilempari batu.

[Noctis — HP 6%]

Sepuluh detik tersisa di Awakening.

HP-ku enam puluh persen. Barrier tiga kali lipat menahan hampir semua serangan, tapi tidak semua. Cakar bayangan menggores sedikit setiap kali.

Enam persen. Sembilan belas orang dengan buff tiga kali lipat. Sepuluh detik.

Tidak cukup. Aku menghitungnya. Kurang dua persen.

Aku menatap keyboard.

Tombol R.

Hurufnya masih tajam. Dua tahun. Tidak pernah kutekan di raid mana pun.

Overcharge. Semua buff dua kali lipat. Di atas tiga kali lipat Awakening. Enam kali lipat.

Dan HP-ku turun separuh. Dari enam puluh jadi tiga puluh. Di depan boss yang hanya menyerang aku.

“Buff dulu,” kataku pelan. Ke diriku sendiri. Ke dua puluh orang yang mendengarkan. Ke tujuh ratus ribu penonton yang sudah tidak lagi mengetik.

Aku menekan R.

[Earl casts Overcharge → Alliance] [Earl — HP 30%]

Seluruh layar menyala putih. Dua puluh karakter terbungkus cahaya fajar. Enam kali lipat.

“...baru maju,” kataku.

Lalu, lebih pelan:

“Kali ini, aku yang maju.”


[Earl casts Grand Enchant: First Light → Alliance]

Ultimate yang tidak pernah kupakai. Lima belas detik. Seluruh party. Semua yang kupunya.

Dari tongkat emas di tanganku, cahaya meledak ke atas. Menembus kegelapan di balik gerbang. Menembus langit hitam The Unlit Sky. Dan di atas kami, untuk pertama kalinya sejak raid dimulai, langit berubah warna.

Bukan hitam. Biru tua. Lalu ungu. Lalu merah muda di ujung cakrawala.

Fajar.

[Noctis — HP 4%]

[Noctis — HP 2%]

Noctis berteriak. Bukan teriakan monster. Suara seperti malam yang menolak berakhir. Dia mengangkat kedua tangan, mengumpulkan semua bayangan yang tersisa, dan melemparkannya ke satu target.

Aku.

[Noctis casts: The Last Night]

Barrier. Setengah detik sebelum hit.

Perisai emas menahan. Satu detik. Dua detik.

Pecah.

[Earl — HP 1]

Satu. Satu HP. Karakterku berlutut di depan Noctis, mantel putih keemasan berkibar, tongkat menancap di tanah untuk menopang tubuh.

“Lychee,” kataku. Suaraku bergetar. “Maaf.”

Lychee: apa?

“Maaf baru sekarang aku maju.”

Hening di chat party. Satu detik. Dua detik.

Lychee: jangan minta maaf.

Lychee: call aja.

Aku tersenyum. Di kamar kos tiga kali tiga, di Makassar, jam empat pagi lewat empat puluh dua, dengan air mata yang jatuh ke keyboard.

[Noctis — HP 1%]

Lychee berlari. Melewati Oolong. Melewati Darjeeling. Melewati Ristretto, yang mengangkat pedangnya dan berteriak Lead, sekarang! ke party-nya, dan sepuluh orang Espresso melempar ultimate mereka bersamaan untuk membuka jalan.

Rapier perak. Rambut perak. Cahaya fajar enam kali lipat.

Dia berhenti tepat di sebelahku. Di depan Noctis.

Untuk pertama kalinya, kami berdiri di garis yang sama. Tidak ada yang di depan. Tidak ada yang di belakang.

“Frame dua,” kataku.

Lychee: kamu kenal frame dua.

Lychee: aku juga.

“Tiga. Dua. Satu.”

Satu kata. Diucapkan dua orang. Bersamaan. Di dua kota berbeda, satu jam waktu terpisah.

“Sekarang.”

Thousand Petal Thrust.


[Noctis, the Last Night — DEFEATED]

Layar menjadi putih.

Lalu emas.

Lalu, untuk setiap pemain di seluruh server Genesis, di setiap kota, di setiap kamar, di setiap warnet yang masih buka jam empat pagi:

[World Notice] THE FIRST DAWN HAS RISEN. [World Notice] WORLD-FIRST CLEAR: Alliance of “Morning Tea” & “Espresso”. [World Notice] Title “Dawnbringer” awarded to 20 players. [World Notice] Final blow: Lychee. Vanguard: Earl.

Satu baris terakhir, warna emas pucat, huruf miring:

“He who led without stepping forward, at last stepped forward. The Night has ended.”

Di panel tracker, satu notifikasi kecil:

[Black Lotus Alliance — Final Phase — Attempt 33 — Wiped. 1:12 after World-First.]


Alliance channel tidak meledak.

Dua puluh orang diam. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang bersorak. Hanya napas. Dua puluh napas, di dua puluh kamar berbeda, yang tidak tahu harus berbuat apa dengan apa yang baru saja terjadi.

Lalu Pak Hendro tertawa. Tawa yang langsung pecah jadi tangis.

Lalu semua orang.

Kembar berteriak BANG dalam paduan suara terakhir yang tidak bernada. Oolong mengulang Bang maju, Bang maju, Bang maju seperti mantra. Bu Ratna mengucapkan takbir. Matcha bilang dia driver ojol delapan tahun dan dia belum pernah lihat yang kayak gini. Chamomile tidak bicara ke kamera. Dia menangis ke kamera, terang-terangan, maskara luntur, dan tujuh ratus ribu penonton menangis bersamanya.

Reno tidak bersuara. Lalu, setelah semua orang mulai tenang, satu kalimat di alliance channel:

“Kira. Kamu nomor satu.”

Aku tidak bisa menjawab.

Sencha, di chat:

Sencha: ping ungu terakhir. dari aku buat kamu.

Di layarku, di atas kepala karakterku, muncul satu ikon kecil. Ping ungu. Dengan panah yang menunjuk ke atas.

Sencha: artinya: kamu di depan sekarang.


Aku melepas headset.

Telingaku berdenging. Tanganku gemetar. Earl Grey di termos Daeng Ratu sudah dingin sejak jam sembilan malam.

Hujan sudah berhenti.

Aku tidak sadar kapan. Atap seng tidak lagi berbunyi. Hanya tetes air sesekali dari talang.

Dan dari jendela kecil yang menghadap atap rumah sebelah, cahaya.

Aku berdiri. Kakiku kaku setelah tujuh jam duduk. Aku membuka pintu kamar kos. Berjalan ke lorong. Ke teras depan, tempat Daeng Ratu menjemur sarung setiap pagi.

Di atas atap-atap seng gang Tallo, di atas tiang listrik dan kabel-kabel yang semrawut, di atas menara masjid yang baru saja selesai mengumandangkan azan subuh, langit berubah warna.

Biru tua. Ungu. Merah muda. Lalu emas.

Fajar. Yang sungguhan.

Ponselku bergetar di saku hoodie.

Bukan WhatsApp. Telepon. Nada dering bawaan. Yang paling biasa.

Aruna.

Aku mengangkat.

Hening sebentar di ujung sana. Lalu napasnya. Lalu suaranya. Bukan di voice channel game. Suaranya sendiri. Serak, seperti orang yang menangis selama tujuh menit terakhir.

“Kamu maju,” katanya.

Aku menatap langit. Emas sekarang. Matahari belum muncul, tapi cahayanya sudah ada.

“Iya,” kataku.

“Aku lihat.”

“Aku tahu.”

“Aku di belakang kamu. Aku lihat semuanya. Aku lihat kamu jalan sendirian ke depan. Aku lihat kamu tekan R.” Suaranya pecah. “Kamu tekan R, Kira.”

“Iya.”

“Dua tahun kamu nggak pernah tekan R.”

“Iya.”

“Kenapa sekarang?”

Aku menatap pergelangan kiriku. Jam tangan Papa-nya. Jarum detiknya bergerak. Satu, dua, tiga.

“Karena kamu bilang kamu di belakang aku,” kataku. “Dan untuk pertama kalinya, aku nggak takut ada di depan.”

Lama dia tidak menjawab. Aku mendengar dia menangis di ujung sana. Pelan. Seperti hujan Jakarta di bulan Desember.

Lalu, akhirnya:

“Pulang, Kira.”

“Dua minggu lagi.”

“Aku tahu. Aku cuma mau bilang.”

Matahari muncul. Sepotong kecil dari balik atap-atap, oranye terang, menyentuh wajahku.

“Aku pulang,” kataku. “Pakai titik.”