Chapter Twenty Two
Rooftop
POV: Kira
Hujan turun jam empat lewat sepuluh. Tepat seperti ramalan.
Kami di ruang rapat kecil di lantai empat. Ruangan yang dulu jadi markas Proyek 12.12, sekarang jadi markas rencana kuartal pertama. Papan tulis sudah dihapus dan diisi ulang. Bukan lagi tiga gelombang Harbolnas. Sekarang peta seluruh Jawa bagian barat. Gudang baru di Karawang yang akan dibuka bulan Maret. Jalur tol baru yang akan selesai bulan April. Musim hujan yang akan memuncak bulan Februari.
“Kalau Karawang buka Maret,” kataku, menunjuk papan, “Cikarang bisa kurangi beban tiga puluh persen. Tapi sopir Cikarang yang rumahnya di Karawang harus dipindah. Ada sebelas orang.”
“Kamu tahu rumah sopir juga?”
“Tahu yang tinggal di Karawang. Mereka sering cerita di grup soal macet Karawang–Cikarang.”
Aruna menulis di tabletnya. Dia duduk di ujung meja, blazer tergantung di sandaran kursi, lengan kemeja digulung. Di depannya ada lychee tea yang esnya sudah mencair. Di depanku ada Earl Grey yang sudah dingin.
Di luar jendela kecil, hujan memukul kaca. Gedung parkir di seberang tidak terlihat lagi, tertutup tirai air.
Jam lima. Jam enam. Dispatcher lain pulang satu per satu. Tari pamit dengan wajah penuh arti dan bisikan jangan pulang kemalaman, Kir yang terdengar sampai lantai tiga. Jam tujuh, lantai empat sunyi kecuali kami dan bunyi hujan.
Jam delapan lewat dua puluh, lampu berkedip.
Sekali. Dua kali. Lalu mati.
Ruangan gelap total. Hanya cahaya layar laptop dan kilat sesekali dari jendela. AC berhenti berdengung. Hening mendadak terasa sangat keras.
“Listriknya,” kata Aruna dalam gelap.
“Genset gedung nyala dalam dua menit,” kataku. “Biasanya.”
“Kamu tahu jadwal genset gedung?”
“Pak Haris pernah cerita.”
Dua menit berlalu. Genset tidak menyala. Lima menit. Laptopku berbunyi, baterai dua puluh persen.
Aruna menyalakan senter ponsel. Wajahnya muncul di tengah gelap, diterangi cahaya putih dari bawah. Dia terlihat seperti tokoh film horor. Aku tertawa.
“Kenapa ketawa?”
“Kamu kayak hantu.”
“Hantu yang gajinya lebih tinggi dari kamu.”
“Itu hantu yang paling serem.”
Dia tertawa juga. Lalu berdiri, mengambil blazer dari sandaran kursi.
“Ayo.”
“Ke mana?”
“Tempat yang nggak ada tombolnya.”
Tangga darurat LNX berbau debu dan cat lama. Aruna berjalan di depan dengan senter ponsel. Aku di belakangnya dengan senter ponselku sendiri. Lantai lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan.
Di lantai sembilan, tangga berlanjut ke satu pintu besi abu-abu dengan tulisan cat merah: DILARANG MASUK — KHUSUS TEKNISI.
Aruna mengeluarkan kunci dari saku blazer.
“Kamu punya kunci rooftop?”
“Head of Operations punya kunci semua pintu di gedung ini.” Dia memutar kunci. Pintu berderit. “Aku cuma nggak pernah pakai yang lain.”
Udara malam masuk. Basah. Dingin. Berbau aspal dan hujan.
Hujan sudah reda jadi gerimis tipis. Rooftop gedung LNX adalah lantai beton datar dengan pagar besi setinggi dada. Di satu sudut ada tangki air besar, di sudut lain menara antena. Tidak ada yang lain. Tidak ada kursi. Tidak ada lampu.
Tapi pemandangannya.
Jakarta Timur terbentang di bawah kami. Lampu-lampu kota yang kabur karena uap air. Tol layang Cawang seperti pita cahaya merah dan putih. Gedung-gedung di kejauhan dengan jendela yang menyala satu-satu. Dan di sebelah kiri, tidak terlalu jauh, deretan lampu landasan yang berkedip dalam pola biru dan kuning.
Halim.
“Aku sering ke sini,” kata Aruna. Dia berjalan ke pagar dan bersandar di sana. “Kalau lagi capek. Kalau lagi pengen teriak tapi nggak bisa teriak di ruangan.”
“Kamu pernah teriak di sini?”
“Dua kali.” Dia tersenyum. “Sekali waktu aku baru diangkat jadi Plt. Sekali waktu aku harus mecat orang pertama kali.”
Aku berdiri di sebelahnya. Pagar besi basah dan dingin di bawah tanganku.
Di landasan Halim, sebuah pesawat sedang lepas landas. Lampu-lampunya bergerak pelan, lalu cepat, lalu terangkat dari tanah, naik menembus awan yang masih tebal.
“Papa kerja di situ,” kata Aruna pelan.
Aku menoleh.
“Menara kontrolnya kelihatan dari sini. Itu, yang lampunya hijau.” Dia menunjuk. “Waktu aku SD, Papa bawa aku ke menara itu. Sekali. Hari Minggu, nggak ada penerbangan. Papa kasih aku headset, terus dia nyalain radio. Isinya cuma suara statis. Kresek kresek.”
“Kenapa dia nyalain radio kosong?”
“Papa bilang, dengerin baik-baik, Run. Ini suara pekerjaan Papa. Kalau radionya bagus, yang kedengaran cuma statis. Kalau radionya rusak, yang kedengaran pilot yang panik.” Dia tertawa kecil. “Dia bangga sama statis. Dua puluh tahun aku nggak ngerti kenapa.”
“Sekarang ngerti?”
Dia diam. Menatap menara kontrol yang lampunya hijau.
“Sekarang ngerti,” katanya. “Karena aku ketemu orang yang kerjanya kayak statis. Nggak kedengaran. Tapi kalau dia nggak ada, sembilan orang wipe sembilan kali.”
Gerimis berhenti.
Aku tidak sadar kapan. Satu detik masih ada tetes air di pagar besi, detik berikutnya tidak ada lagi. Awan mulai menipis. Di atas kami, untuk pertama kalinya malam ini, ada satu dua bintang.
Aku melihat jam di ponsel. Sepuluh kurang dua menit.
BMKG benar.
“Kira,” katanya.
Bukan Earl. Bukan Saudara Kira. Bukan Kira dengan nada kantor yang selalu dia pakai di depan orang lain.
Kira, seperti malam di mobil di mulut gang kosku. Seperti sore di kamar kosku saat dia bilang aku nggak keberatan.
“Ya?”
“Kemarin di lift kamu bilang kalau aku bilang Earl, kamu tekan tombol yang salah.”
“Iya.”
“Terus aku nanya kalau aku bilang Kira, kamu tekan tombol apa.”
“Aku bilang belum pernah dicoba.”
“Di sini nggak ada tombol.” Dia berbalik dari pagar. Menatapku. Di bawah langit yang mulai cerah, dengan lampu kota di belakangnya, dengan rambut yang sedikit basah dan blazer yang tergantung di satu bahu. “Jadi sekarang aku mau tahu. Kalau aku bilang Kira, kamu ngapain?”
Aku menatapnya.
Jantungku berdetak dengan ritme yang tidak punya nama di game mana pun. Bukan cooldown. Bukan Tempo Call. Bukan Haste. Ritme yang terlalu cepat untuk dihitung.
Di Mirror Queen, aku berjanji akan menjelaskan arti Haste terakhir. Nanti aku cerita. Bukan sebagai Earl.
Di kamar kosku, dia bilang suatu hari aku mau dengar jawaban yang bukan enchanter. Jawaban kamu. Kira.
Aku tidak punya catatan untuk ini. Aku tidak punya rute. Aku tidak punya buku tulis bersampul cokelat dengan judul Rooftop LNX — Jam 22.00.
Aku hanya punya satu hal yang kutahu pasti.
“Haste yang terakhir,” kataku. “Di Mirror Queen. Kamu tanya artinya apa.”
“Iya.”
“Haste pertama, di malam kopdar, artinya semangat. Yang kedua artinya kamu hebat. Terus makasih. Terus sticky note-nya aku simpan.” Aku menelan ludah. “Dua tahun aku cuma bisa ngomong pakai Haste. Karena itu satu-satunya bahasa yang aku nggak pernah salah.”
“Terus yang terakhir?”
“Yang terakhir...”
Aku berhenti. Kalimat itu ada di tenggorokanku, tapi terasa terlalu besar untuk keluar. Seperti Barrier Weave yang dilempar terlalu cepat, yang habis sebelum pukulan datang.
Dia menunggu. Tidak mendesak. Tidak menyela. Hanya menatapku, dengan mata yang sudah tidak lagi menyipit seperti di kantor.
“Yang terakhir artinya aku suka kamu,” kataku.
Hening.
Pesawat lain lepas landas dari Halim. Suaranya terdengar samar, gemuruh pelan yang menjauh.
“Bukan Lychee,” lanjutku, karena kalau berhenti sekarang aku tidak akan bisa mulai lagi. “Bukan rapier yang nembus frame dua. Bukan Bu Aruna yang nulis PERJANJIAN pakai huruf kapital. Aku suka kamu. Yang nggak bisa baca gambar tangan di gerbang KRL. Yang crit dua belas kali karena cemburu. Yang bawa bubur tanpa sambal karena Bu Ratna bilang. Yang nyimpen tisu di balik foto papanya.”
Dia tidak bergerak.
“Itu jawabanku,” kataku. “Bukan Earl. Kira.”
Dia menatapku sangat lama.
Lalu dia tertawa. Pelan. Pendek. Tawa yang pecah di tengah, seperti tawa Pak Hendro di aula yang kosong.
“Kamu tahu,” katanya, “aku udah nyiapin kalimat. Dari semalam. Aku pikir aku yang bakal ngomong duluan. Aku pikir kamu nggak bakal pernah maju.”
“Aku juga pikir gitu.”
“Terus kenapa?”
“Karena kamu nanya.” Aku menatap pagar besi. “Dan kamu nanya di tempat yang nggak ada tombolnya. Jadi aku nggak bisa salah tekan.”
Dia tertawa lagi. Lalu berhenti.
Dia melangkah maju. Satu langkah. Jarak di antara kami sekarang setengah meter. Dua puluh senti. Sepuluh.
“Kira,” katanya. Sangat pelan.
Aku tidak menekan tombol apa pun.
“Di ice skating,” katanya, “dua koma lima senti. Sebelum lagu Leviathan.”
“Aku udah ganti nada dering.”
“Aku tahu. Aku udah telepon kamu tadi siang buat ngecek.”
“Kamu telepon cuma buat ngecek nada dering?”
“Aku Head of Operations. Aku ngecek semuanya.”
Lima senti.
Dia berhenti di sana. Tidak maju lagi. Matanya menatapku dari jarak yang sangat dekat, dan aku bisa melihat bayangan lampu kota di dalamnya.
“Kamu yang maju kali ini,” katanya pelan. “Sekali aja. Aku mau lihat.”
Dua tahun. Dua puluh tujuh tahun, sebenarnya. Sejak kelas lima SD, di atas sepeda, dengan getuk di keranjang depan. Selalu di belakang. Selalu menyiapkan. Selalu menunggu orang lain melangkah.
Aku sudah di-buff. Oleh sticky note dengan ekor bintang jatuh. Oleh nasi goreng dengan dua telur. Oleh bubur tanpa sambal. Oleh rapier yang berdiri di belakangku di jembatan Valkyr.
Aku maju.
Ciumannya pendek.
Tidak seperti di film. Tidak ada musik. Tidak ada kilat atau pesawat yang lewat tepat di atas kami. Hanya rooftop beton basah, pagar besi dingin, dan suara samar tol layang di bawah.
Bibirnya dingin. Seperti es lychee tea. Lalu tidak dingin lagi.
Aku tidak tahu berapa lama. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung.
Saat aku menjauh, dia tidak membuka mata. Dia berdiri diam dengan mata terpejam, satu tangan masih mencengkeram ujung kemejaku.
“Itu,” katanya, mata masih terpejam, “frame berapa?”
“Aku nggak hitung.”
Dia membuka mata.
“Kamu nggak hitung?”
“Pertama kali.”
Dia menatapku. Lalu, perlahan, dahinya bersandar di bahuku. Napasnya hangat di leherku. Tangannya masih di kemejaku.
“Aku juga nggak hitung,” katanya ke bahuku.
Kami berdiri seperti itu lama. Lampu kota berkedip di bawah. Satu pesawat lagi lepas landas dari Halim. Di gedung parkir seberang, genset akhirnya menyala, dan lampu-lampu koridor kembali hidup satu per satu.
“Listriknya nyala,” kataku.
“Biarin.”
“Laptop kita di bawah.”
“Biarin.”
“Rencana Q1—”
“Kira.” Dia mengangkat kepala. Menatapku. Wajahnya merah, bahkan dalam gelap aku bisa melihatnya. “Aturan nomor satu. Di kantor, atasan dan bawahan.”
“Iya.”
“Ini rooftop. Ini bukan kantor. Ini area khusus teknisi.”
“Itu celah.”
“Kamu yang ngajarin.”
Kami turun jam sepuluh lewat empat puluh. Lampu sudah menyala di semua lantai. Laptop kami masih di ruang rapat kecil, layar sudah mati karena baterai habis.
Aku membereskan papan tulis. Dia membereskan meja. Kami tidak banyak bicara. Setiap kali mata kami bertemu, salah satu dari kami langsung menunduk. Lalu tersenyum. Lalu menunduk lagi.
Di lobi, Pak Haris sedang terbangun di kursi jaga, menatap kami dengan mata mengantuk. Jagung tidur di pangkuannya.
“Lembur ya, Bu? Mas?”
“Iya, Pak,” kata kami bersamaan.
“Tadi listrik mati, ya. Gensetnya rewel. Saya udah lapor teknisi.” Pak Haris menatap kami. Menatap rambut Aruna yang sedikit basah. Menatap kemejaku yang basah di bahu. “Kok basah, Bu? Di dalam gedung kan nggak hujan.”
“Pak Haris,” kata Aruna dengan suara paling profesional yang pernah kudengar, “selamat malam.”
“Selamat malam, Bu.” Pak Haris mengangguk. Lalu, saat kami sudah di pintu, dengan suara yang sangat pelan tapi tetap terdengar: “Iya. Iya. Saya paham.”
Dia mengantarku pulang. Seperti biasa. Kami tidak bicara sepanjang Cawang. Tidak bicara sepanjang Pancoran. Radio memutar lagu lama yang tidak kukenal.
Di lampu merah Tebet, tangannya meninggalkan kemudi. Jari-jarinya menyentuh punggung tanganku di atas pahaku. Lalu, pelan, mengisi celah di antara jari-jariku.
Aku tidak melepasnya.
Di mulut gang kosku, dia mematikan mesin.
“Kira.”
“Ya?”
“Besok kita di kantor.”
“Iya.”
“Aturan nomor satu masih berlaku.”
“Iya, Bu.”
Dia menoleh, memicingkan mata. “Belum besok.”
“Maaf.”
Dia tertawa. Lalu mencondongkan badan, mengecup pipiku sekilas, sangat cepat, seperti Lychee menembus frame dua.
“Itu bukan di kantor,” katanya. “Itu di mobil. Mobil bukan kantor.”
“Itu celah lagi.”
“Aku jadi ahli celah sekarang.”
Aku turun. Mobilnya pergi. Aku berdiri di mulut gang, di depan warung kelontong yang sudah tutup, di bawah lampu jalan yang berkedip.
Di grup chat Morning Tea, ada satu pesan baru. Dari Sencha. Dikirim jam sepuluh lewat lima belas, saat aku dan Aruna masih di rooftop.
Sencha: aku nggak tahu kenapa. tapi aku ngerasa malam ini ada yang maju duluan.
Sencha: 💜
Aku menatap pesan itu, dan untuk pertama kalinya, tidak membalasnya dengan Haste.
Aku membalasnya dengan satu kata.
Earl: iya.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop reading
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit