Chapter Four

Lychee Nggak Ingat

POV: Aruna

Aku menyimpan tisu itu di dompet.

Tisu kafe, putih, tipis, dengan logo Seduh Senja di pojoknya. Di atasnya ada coretan pulpen yang miring ke kanan: garis waktu, angka-angka frame, panah, dan satu kalimat kecil di bawah:

Cancel di frame 2. Kamu bisa.

Kira menulisnya sore tadi, di ujung meja, setelah aku menghujaninya dengan pertanyaan selama empat puluh menit. Dia menggambar animasi Thousand Petal Thrust frame demi frame di atas tisu, seperti menggambar peta harta karun. Tangannya bergerak cepat, tapi suaranya pelan, dan dia tidak pernah menatap mataku lebih dari dua detik.

“Di frame satu, karakter kamu masih ngangkat pedang,” katanya. “Di frame dua, hitbox-nya udah aktif, tapi animasinya belum selesai. Kalau kamu cancel di situ, game ngitung serangannya udah kena, terus kamu bisa langsung masuk serangan berikutnya.”

“Developernya tahu nggak?”

“Mungkin. Mungkin nggak. Itu bukan bug. Itu cuma... celah di antara dua gerakan.”

“Kamu nemu celah di antara dua gerakan.”

“Celah itu selalu ada,” katanya, sambil memutar pulpen. “Cuma jarang ada yang ngelihat.”

Sekarang jam sebelas malam. Aku duduk di mobil yang terparkir di basement apartemenku, mesin sudah mati, dan aku masih belum naik. Tisu itu ada di pangkuanku.

Aku membayangkan Earl berkali-kali selama dua tahun. Dalam bayanganku, Earl adalah laki-laki tiga puluhan, mungkin programmer, mungkin dosen, dengan suara tenang yang selalu tahu apa yang harus dikatakan. Orang yang duduk tegak. Orang yang memimpin rapat.

Earl yang asli memakai kemeja biru dengan bekas lipatan yang jelas dari pasar pagi ini. Dia terlambat dua puluh lima menit dan duduk di ujung meja tanpa protes saat sembilan orang menyuapi rendang ke laki-laki lain. Dia tersipu tiap kali Chamomile memanggilnya husband strategi. Dia hanya memesan nasi goreng dan menghabiskannya pelan-pelan, menyisakan kerupuk di pinggir piring untuk dimakan terakhir.

Dan entah kenapa, aku tidak kecewa.

Aku malah menyukainya lebih dari yang kubayangkan.

Ada sesuatu yang menenangkan dari orang yang tidak berusaha terlihat hebat padahal dia memang hebat. Di kantor, aku dikelilingi orang yang berusaha terlihat hebat. Setiap rapat adalah panggung. Setiap laporan adalah iklan. Aku sudah lupa rasanya mengobrol dengan seseorang yang tidak sedang menjual dirinya.

Kira tidak menjual apa-apa. Dia hanya menggambar frame di atas tisu, lalu mendorongnya ke arahku dan bilang kamu bisa.

Kalimat yang sama yang dia tulis di chat malam Leviathan.

Aku melipat tisu itu dan menyelipkannya di dompet, di balik foto Papa.

Foto itu sudah lusuh. Papa memakai seragam teknisi bandara, berdiri di depan menara kontrol Halim, tersenyum dengan topi miring. Jam tangan di pergelangan Papa di foto itu sekarang ada di pergelanganku.

Papa adalah teknisi radio menara. Tiga puluh tahun dia memastikan setiap pesawat yang lepas landas dari Halim bisa bicara dengan menara. Kalau radionya bekerja, tidak ada yang ingat namanya. Kalau radionya rusak, semua orang tahu. Papa bilang itu pekerjaan terbaik di dunia. Orang di balik layar itu, Run, orang yang paling tahu kenapa semuanya bisa jalan.

Papa meninggal waktu aku dua puluh dua. Di pemakamannya, ada tiga puluh pilot yang datang. Aku tidak tahu satu pun dari mereka. Mereka semua tahu Papa.

Aku memejamkan mata di mobil.

Kenapa aku memikirkan Papa sekarang?


Minggu aku login Genesis jam tujuh pagi. Earl sudah online. Tentu saja.

Lychee: pagi.

Earl: pagi.

Lychee: kamu nggak tidur?

Earl: tidur. bangun jam lima. kebiasaan.

Lychee: ngapain jam lima?

Earl: ngecek laporan cuaca.

Lychee: buat apa?

Jeda.

Earl: kebiasaan kerja.

Lychee: kamu kerja apa sih?

Titik-titik mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.

Earl: nanti aku cerita.

Aku tidak memaksa. Kemarin di kafe, setiap kali ada yang bertanya soal pekerjaan, Kira selalu menjawab kerja kantoran biasa lalu mengalihkan topik ke strategi raid. Aku pikir dia malu. Mungkin pekerjaannya tidak sehebat dirinya di game. Itu tidak masalah buatku. Tapi aku tidak mau dia merasa harus menjelaskan.

Kami farming bahan berdua sepanjang pagi. Dia memberiku buff setiap tiga puluh detik, tepat waktu, tanpa diminta. Aku menebas monster di depannya. Sesekali dia mengetik koreksi kecil: geser kiri satu langkah, jangan dash dulu, sekarang.

Aku menurut, dan semuanya berjalan sempurna.

Di kantor, tidak ada yang pernah membuatku merasa seperti ini: aman karena ada seseorang di belakangku yang sudah memikirkan tiga langkah ke depan.

Lychee: earl.

Earl: ya?

Lychee: kemarin seru.

Earl: iya.

Lychee: kamu nggak nyesel dateng kan?

Lama.

Earl: nggak. sama sekali nggak.

Aku tersenyum ke layar laptop seperti anak SMA. Lalu buru-buru menutup laptop karena malu pada diriku sendiri.


Senin pagi, aku sampai di kantor jam tujuh empat puluh. Lebih awal dari biasanya.

Aku tidak tahu kenapa aku lebih awal. Aku juga tidak tahu kenapa pagi ini aku memakai lipstik warna yang sedikit lebih terang. Aku sengaja tidak memikirkannya.

Rapat direksi jam sembilan. Sebelum itu, aku biasanya mampir ke lantai empat untuk melihat dashboard armada di layar besar ruang kontrol. Ruang kontrol adalah tempat favoritku di gedung ini, meskipun tidak ada yang tahu. Peta besar dengan ratusan titik yang bergerak. Seperti melihat jantung perusahaan berdetak.

Aku masuk lewat pintu kaca. Seperti biasa, ruangan langsung lebih sunyi. Dispatcher-dispatcher menunduk ke layar masing-masing. Aku sudah terbiasa. Bu Deadline. Aku tahu julukan itu. Aku pura-pura tidak tahu.

Aku berdiri di depan layar besar. Armada pagi normal. Satu truk telat di tol Jagorawi. Tidak ada yang kritis.

Mataku bergeser ke papan rute di sudut ruangan. Papan putih penuh coretan spidol. Aku sudah melihat papan itu ribuan kali. Jalur alternatif, nomor sopir, catatan jam macet. Separuh catatan di papan itu sangat rapi, sangat detail, dan sangat berguna. Aku selalu berpikir itu tulisan Reno, karena Reno supervisor-nya.

Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, aku memperhatikan bentuk tulisannya.

Miring ke kanan. Huruf “k” dengan kaki panjang. Angka “7” dengan garis kecil di tengah.

Aku membuka dompet. Mengeluarkan tisu kafe.

Cancel di frame 2. Kamu bisa.

Miring ke kanan. Angka “2” dengan lengkungan yang sama. Dan di pojok tisu, di bagian yang Kira gunakan untuk menghitung durasi buff, ada angka “7” dengan garis kecil di tengah.

Aku menatap papan. Menatap tisu. Menatap papan lagi.

Lalu aku menoleh perlahan ke deretan meja dispatcher.

Meja ketiga dari jendela. Hoodie abu. Kacamata. Tumbler hitam di samping keyboard, dengan label teh yang mengintip dari tutupnya. Earl Grey. Rambut yang tidak mau diatur. Jari telunjuk kanannya mengetuk meja pelan, satu, dua, tiga, sementara matanya membaca layar.

Kira.

Kira duduk di sana.

Kira duduk di sana, di ruang kontrol kantorku, sepuluh meter dari ruanganku.

Aku membeku di depan layar besar. Lalu ingatan hari Senin minggu lalu menghantamku seperti gelombang Leviathan.

Lift. Jam tujuh malam. Telepon dengan vendor. Laki-laki berhoodie abu di sudut lift.

Kamu. Divisi mana?

Dispatch, Bu.

Nama kamu siapa?

Kira, Bu.

Kira. Oke.

Dan aku keluar dari lift tanpa menoleh. Lalu malamnya aku curhat ke Earl soal orang di lift yang namanya kulupa dalam sepuluh detik.

Dan Earl menjawab: mungkin dia nggak keberatan.

Earl membela orang di lift itu.

Karena orang di lift itu dia.

Pipiku panas. Telingaku panas. Seluruh wajahku terasa seperti baru dimasukkan ke oven. Aku harus pergi dari ruangan ini sebelum seseorang melihat Head of Operations berubah warna jadi tomat.

Aku berbalik terlalu cepat. Bahuku menyenggol rak dokumen di samping layar. Tiga map jatuh. Satu gelas plastik berisi spidol tumpah, dan spidol-spidol itu menggelinding ke seluruh penjuru lantai.

Seisi ruangan menoleh.

Delapan dispatcher menatap Bu Deadline yang sedang berlutut memunguti spidol.

“Ibu... nggak apa-apa?” tanya perempuan berambut keriting di meja kedua. Tari, kalau tidak salah. Aku hanya ingat namanya karena dia pernah mengirim email ke seluruh kantor soal kucing hilang.

“Nggak apa-apa,” kataku. Suaraku keluar satu oktaf terlalu tinggi.

Sebuah tangan muncul di depanku. Memegang spidol biru yang menggelinding paling jauh. Tangan dengan jari telunjuk yang kukenal karena kemarin mengetuk meja kafe dengan ritme Haste.

Aku mendongak.

Kira berjongkok di depanku, menyodorkan spidol. Wajahnya datar. Tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti kemarin sore dia tidak duduk di sebelahku dan menggambar frame di atas tisu.

“Ini, Bu,” katanya.

Bu.

Aku mengambil spidol itu. Jari kami bersentuhan setengah detik.

“Makasih,” kataku.

Dia mengangguk, berdiri, dan kembali ke mejanya. Duduk. Memakai headset. Mengetuk meja.

Seolah aku hanya atasan yang menjatuhkan spidol. Seolah dia tidak kenal aku.

Atau mungkin dia memang sudah terbiasa jadi orang yang tidak dikenal, jadi dia juga tidak menuntut dikenal.

Aku meletakkan spidol di gelasnya dan berjalan keluar ruang kontrol dengan langkah paling tegak yang bisa kuusahakan. Di koridor, aku berpapasan dengan Reno yang baru keluar lift dengan kopi di tangan.

“Pagi, Bu Aruna.”

“Reno.” Aku berhenti. “Dispatcher di meja ketiga dari jendela. Yang pakai hoodie abu. Itu siapa?”

Reno menoleh ke arah pintu kaca. “Oh. Itu Kira, Bu. Dispatcher saya.”

“Sudah berapa lama dia di sini?”

“Dua tahun, kalau nggak salah.” Reno mengangkat bahu. “Anaknya pendiam. Biasa aja, Bu. Kerjanya standar. Kenapa, Bu? Ada masalah?”

Biasa aja.

Kerjanya standar.

Orang yang menemukan celah di antara dua gerakan. Orang yang membawa sembilan orang memenangkan raid Abyss dengan party tersisa dua. Orang yang menghafal ritme cooldown sepuluh orang di kepalanya.

Biasa aja.

“Papan rute di ruang kontrol,” kataku. “Itu tulisan siapa?”

Untuk sepersekian detik, wajah Reno berubah. Hanya sedikit. Sesuatu di sudut matanya. Lalu kembali tersenyum.

“Tulisan tim, Bu. Kita semua nulis di situ.”

“Oke,” kataku.

Aku berjalan ke ruanganku. Menutup pintu. Duduk.

Lalu aku menutup wajah dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara yang belum pernah kukeluarkan di kantor ini selama empat tahun. Sesuatu di antara erangan dan jeritan tertahan.

Aku curhat ke Earl soal Kira.

Ke Kira. Soal Kira.

Dan dia bilang mungkin dia nggak keberatan, sambil tahu bahwa dia sendiri yang kulupakan.

Kenapa dia tidak bilang apa-apa di kafe? Kenapa dia membiarkanku mengulurkan tangan dan bilang aku Aruna seperti orang bodoh, sementara dia tahu persis siapa aku?

Karena dia takut? Karena dia sungkan? Karena dia tidak mau mempermalukanku di depan sembilan orang?

Atau karena dia benar-benar tidak keberatan dilupakan?

Pilihan terakhir itu yang paling membuat dadaku sakit.

Aku menurunkan tangan. Membuka laptop. Membuka aplikasi chat internal kantor. Mengetik nama di kolom pencarian.

Kira.

Muncul satu hasil. Kira Aditama — Dispatcher, Divisi Operasional. Foto profil: kosong, hanya inisial KA dalam lingkaran abu-abu.

Bahkan foto profilnya tidak ada.

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Ini kantor. Aku Head of Operations. Dia dispatcher. Aku harus bersikap profesional.

Tapi kemarin dia menulis kamu bisa di atas tisu, dan aku menyimpannya di balik foto Papa.

Aku menekan kirim.

Aruna Lestari: Kira. Ke ruangan saya. Sekarang.

Tanda centang dua muncul. Lalu berubah biru.

Di ruang kontrol, di balik dua pintu kaca, aku tahu seorang laki-laki berhoodie abu baru saja berhenti mengetuk meja.