Chapter Twenty Eight
Parkiran Basement
POV: Aruna
Jumat pagi, jam enam lewat tiga puluh lima, aku berdiri di depan meja Bu Sinta dengan amplop putih di tangan.
Isinya surat yang kutulis semalam, setelah menangis, setelah tertidur di sofa, setelah bangun jam tiga dan duduk di depan laptop sampai subuh. Satu halaman. Usulan resmi untuk mundur dari posisi Head of Operations dan dipindahkan ke Divisi Perencanaan Korporat, efektif awal bulan depan. Supaya Kira tidak lagi melapor padaku. Supaya dia tidak perlu pergi ke mana pun.
Aku pikir aku masih sempat. Aku pikir kalau aku menyerahkannya hari ini, sebelum siapa pun menandatangani apa pun, semua yang kutebak semalam bisa dihentikan.
Bu Sinta menatap amplop di tanganku. Lalu menatapku. Lalu, tanpa mengambil amplop itu, membuka laci mejanya.
“Ibu Aruna,” katanya pelan. “Duduk dulu.”
Aku tidak duduk.
Dia mengeluarkan sebuah map. Membukanya. Menggesernya ke arahku di atas meja.
Di dalam map itu, ada surat. Lipat tiga, sudah dibuka, sudah distempel. Di pojok kanan atas, tanda tangan Pak Darmawan dengan tinta biru. Tanggal kemarin.
Aku membacanya berdiri.
1. Saya mengundurkan diri dari pencalonan posisi Strategic Planning Lead.
2. Saya bersedia menjalani rotasi penugasan ke Cabang Makassar selama enam bulan, terhitung secepatnya.
3. Keputusan ini saya ambil sendiri. Ibu Aruna Lestari tidak terlibat dan tidak mengetahui keputusan ini sebelum surat ini diajukan.
Aku membaca poin ketiga. Lalu membacanya lagi.
Tidak terlibat. Tidak mengetahui.
Dia menulis itu supaya tidak ada yang bisa menyalahkanku. Supaya kalau ada yang bilang Bu Aruna menyingkirkan pacarnya ke Makassar biar dia tetap jadi Head of Operations, surat ini bisa membantahnya. Dengan tanda tangannya sendiri.
Dia melindungiku. Bahkan di surat yang membuatnya pergi.
Lalu aku membaca baris terakhir. Di bawah tanda tangan.
Kira Aditama Dispatcher, Divisi Operasional Meja ketiga dari jendela, ruang kontrol lantai empat
Kakiku tidak lagi bisa menahan berat badanku. Aku duduk di kursi di depan meja Bu Sinta. Tanpa disuruh. Tanpa sadar.
Meja ketiga dari jendela.
Lift. Jam tujuh malam. Kamu. Divisi mana? Nama kamu siapa? Dan aku keluar tanpa menoleh. Dan aku lupa dalam sepuluh detik.
Dia menulis nama lengkapnya. Jabatannya. Tempat duduknya. Semua yang dulu tidak kuketahui. Di surat terakhir yang dia serahkan ke perusahaan ini sebelum pergi.
Supaya aku ingat.
“Kapan dia berangkat?” Suaraku keluar seperti bukan suaraku.
“Minggu pagi, Bu,” kata Bu Sinta. “Penerbangan jam tujuh. Pak Darmawan sudah setuju kemarin sore. Sdr. Kira minta secepatnya.”
“Kenapa nggak ada yang bilang saya?”
“Sdr. Kira bilang dia yang akan memberi tahu Ibu.”
Aku menatap surat itu. Tidak mengetahui keputusan ini sebelum surat ini diajukan.
Dia tidak pernah bermaksud memberi tahu.
Bu Sinta menatap amplop di tanganku. Amplop yang belum kuserahkan.
“Ibu Aruna,” katanya hati-hati. “Itu apa?”
Aku menatap amplop itu. Usulan mundur dari Head of Operations. Yang kutulis semalam supaya dia tidak perlu pergi.
Sudah terlambat. Rotasi sudah ditandatangani. Konflik kepentingan sudah diselesaikan, secara struktural, dengan cara yang paling murah untuk perusahaan. Satu dispatcher ke Makassar. Kalau aku mundur sekarang, tidak ada yang berubah. Dia tetap pergi. Aku hanya akan kehilangan jabatan untuk sesuatu yang sudah tidak perlu diselamatkan.
Dia sudah menghitungnya. Tentu saja dia sudah menghitungnya.
“Bukan apa-apa, Bu,” kataku.
Aku memasukkan amplop itu ke saku blazer.
Jam tujuh, aku turun ke lantai empat.
Meja ketiga dari jendela kosong. Bukan kosong karena dia ke toilet atau ke pantry. Kosong sepenuhnya. Tidak ada tumbler. Tidak ada headset. Laptop tua dengan stiker mengelupas sudah tidak ada. Hanya monitor kantor yang mati dan keyboard dengan tombol Q yang hurufnya sudah hilang.
Tari berdiri di depan papan rute. Membaca sticky note di pinggirnya. Matanya merah.
“Bu,” katanya, tanpa menoleh. “Kira cuti hari ini. Packing, katanya. Senin dia udah nggak di sini.”
“Saya tahu.”
“Ibu tahu dari kapan?”
“Dari tiga puluh menit lalu.”
Tari menoleh. Menatapku. Dia tidak bertanya lagi. Dia sudah tahu jawabannya dari wajahku.
“Dia nggak bilang Ibu,” katanya pelan. Bukan pertanyaan.
“Nggak.”
“Dia juga nggak bilang aku. Aku tahu dari HRD.” Tari tertawa pendek, tawa yang bukan tawa. “Dua tahun duduk sebelahan. Dia nulis sticky note soal Jagung buat aku, tapi nggak bilang dia mau pergi.”
Kami berdua berdiri di depan papan rute. Peta Jabodetabek dalam spidol hitam. Coretan merah dari Harbolnas yang belum dihapus. Dan sebelas sticky note kuning di pinggir kanan, seperti barisan orang yang melambai.
Jam empat sore, aku turun ke lobi.
Pak Haris sedang memegang kaleng makanan kucing kosong. Jagung berputar-putar di kakinya, mengeong.
“Bu,” kata Pak Haris. “Hari Jumat. Biasanya Mas Kira bawa jam empat. Hari ini nggak ada.”
Aku mengeluarkan kaleng dari tas. Kaleng biru. Merek yang mahal. Kubeli di toko hewan di Kebayoran siang tadi, setelah menelepon Tari dan bertanya merek apa persisnya.
Pak Haris menatap kaleng itu. Lalu menatapku. Lalu tidak bilang apa-apa.
Aku berjongkok. Membuka kaleng. Menuangkan isinya ke mangkuk plastik di bawah meja jaga. Jagung langsung makan, dengan suara kecil-kecil yang terdengar seperti dengkuran.
Aku berjongkok di sana lama, di lantai lobi, dengan blazer Head of Operations, menatap kucing kurus yang makan dari mangkuk plastik.
“Mas Kira bilang,” kata Pak Haris pelan dari atas, “kalau dia nggak bisa bawa, minta tolong Mbak Tari. Dia nggak bilang Ibu.”
“Saya tahu, Pak.”
“Tapi Ibu bawa.”
“Iya.”
Pak Haris tidak bilang saya paham. Untuk pertama kalinya, dia tidak bilang itu.
“Mas Kira mau ke sini nanti malam, Bu,” katanya. “Balikin laptop kantor sama kartu akses. Jam tujuh. Dia bilang mau lewat basement, keluar lewat pintu belakang. Nggak mau lewat lobi.”
Aku mendongak.
“Kenapa nggak mau lewat lobi?”
Pak Haris menatap Jagung. “Katanya, biar Bu Aruna nggak lihat.”
Jam tujuh lewat lima, aku berdiri di basement.
Lantai B2. Di samping mobilku, yang sengaja kuparkir di dekat tangga darurat yang menuju pintu belakang. Lampu neon berdengung. Bau oli dan beton lembap. Sepi. Hanya beberapa mobil di lantai ini. Hari Jumat, semua orang pulang cepat.
Pintu tangga darurat terbuka jam tujuh lewat dua belas.
Kira keluar. Hoodie abu. Ransel di punggung. Tanpa tumbler. Kacamata dengan lensa kiri yang masih tergores.
Dia melihatku. Berhenti.
Kami berdiri di dua ujung lorong basement. Lima meter. Lampu neon di antara kami berkedip.
“Aruna,” katanya.
“Minggu pagi,” kataku. “Jam tujuh.”
Dia tidak menjawab.
“Penerbangan ke Makassar. Enam bulan. Kamu udah tanda tangan. Pak Darmawan udah tanda tangan. Tiket udah dibeli. Sticky note udah ditempel. Jagung udah dititipin ke Tari.” Aku menatapnya. “Semua orang tahu. Kecuali aku.”
“Aku mau bilang—”
“Kapan?”
Dia diam.
“Kapan kamu mau bilang, Kira? Minggu pagi dari bandara? Senin dari Makassar? Atau kamu mau biarin aku tahu dari Bu Sinta, kayak tadi pagi, pas aku datang bawa surat mundur?”
Dia mengangkat kepala. “Kamu bawa surat mundur?”
“Iya.”
“Aruna—”
“Kamu bilang jangan diam-diam. Di tangga darurat. Kamu dengar aku bilang jangan diam-diam ngorbanin diri. Kamu ngangguk.”
“Kamu juga mau mundur diam-diam.”
Aku berhenti.
“Kamu bilang besok aku cerita semuanya,” katanya. Suaranya tidak naik. Tetap datar. Tapi tangannya, di tali ransel, mencengkeram terlalu keras. “Kamu nggak cerita. Kamu mau mundur dari Head of Operations. Kamu nulis surat. Kamu nggak bilang aku.”
“Itu beda.”
“Beda gimana?”
“Aku nggak pergi ke Makassar!”
Suaraku menggema di basement. Memantul di dinding beton. Kembali padaku tiga kali.
Dia tidak bergerak.
“Satu dispatcher pindah enam bulan,” katanya pelan. “Biayanya kecil. Satu Head of Operations mundur, biayanya besar. Buat perusahaan. Buat kamu. Buat semua sopir yang kamu hafal namanya. Aku hitung.”
“Kamu hitung.”
“Iya.”
“Aku bukan angka, Kira!”
“Aku tahu.” Dia menatapku. Matanya di balik kacamata yang tergores. “Makanya.”
Aku tidak bisa bernapas.
Makanya.
Karena aku bukan angka. Karena dia peduli. Karena satu-satunya cara dia tahu untuk peduli adalah dengan menghitung, dan menghitung selalu menghasilkan jawaban yang sama: dia yang mundur. Selalu dia.
“Kamu tahu siapa lagi yang kayak kamu?” kataku. Suaraku pecah di tengah. “Papa. Papa diam tiga puluh tahun. Papa bilang nggak apa-apa, yang penting pesawatnya selamat. Papa biarin orang lain ngaku kerjaannya. Papa nggak pernah maju. Dan Papa meninggal, dan yang datang ke pemakamannya tiga puluh pilot yang aku nggak kenal, dan aku berdiri di sana mikir kenapa aku baru tahu sekarang siapa Papa.”
Air mataku jatuh. Aku tidak menghapusnya.
“Aku nggak mau berdiri di pemakaman lagi, Kira. Aku nggak mau tahu siapa kamu dari orang lain. Aku nggak mau baca nama lengkap kamu pertama kali di surat mutasi.”
Dia menatapku. Lama. Matanya basah.
“Aku nggak meninggal, Aruna,” katanya pelan. “Aku cuma ke Makassar.”
“Kamu pergi. Diam-diam. Itu sama.”
“Enam bulan.”
“Kamu pikir aku hitung itu? Enam bulan? Kamu pikir aku Head of Operations yang ngitung durasi rotasi?” Aku tertawa, dan tawanya keluar seperti tangisan. “Aku hitung tiga senti, Kira. Dua koma lima. Aku hitung berapa kali kamu ketuk meja waktu aku lewat. Aku nggak hitung enam bulan. Aku hitung kamu nggak di sini.”
Dia tidak menjawab.
Lampu neon di atas kami berkedip lagi.
“Kalau aku tetap di sini,” katanya akhirnya, sangat pelan, “kamu yang pergi. Dari jabatan kamu. Dari semua yang kamu bangun empat tahun. Gara-gara aku.”
“Itu pilihanku.”
“Itu juga pilihanku.”
“Kamu nggak tanya aku!”
“Kamu juga nggak tanya aku!”
Hening. Kami berdua berdiri di basement, lima meter terpisah, terengah-engah, dengan wajah basah, dan sama-sama tahu bahwa yang lain benar.
Kami berdua melakukan hal yang sama. Kami berdua memutuskan untuk yang lain. Kami berdua berpikir kami sedang melindungi.
Dan kami berdua hanya berhasil menyakiti.
“Aku harus pergi,” katanya akhirnya. “Laptop kantor udah aku balikin ke Pak Haris. Kartu akses juga.”
“Kira.”
“Penerbangan Minggu jam tujuh.”
“Kira, jangan—”
“Aku udah tanda tangan, Aruna.” Suaranya pelan. Sangat lelah. “Kalau aku batalin sekarang, kamu harus mundur. Itu satu-satunya pilihan yang tersisa. Aku nggak mau kamu mundur. Jadi aku nggak bisa batalin.”
Dia berjalan. Bukan ke arahku. Ke pintu belakang basement, yang menuju jalan kecil di samping gedung. Melewatiku dengan jarak satu meter. Tidak menoleh.
Aku tidak mengejar.
Aku ingin. Aku ingin menarik ranselnya, menahan tangannya, berdiri di depan pintu itu dan bilang aturan nomor enam, kalau kamu jatuh, aku tangkap.
Tapi dia tidak jatuh. Dia berjalan. Dengan kakinya sendiri. Ke tempat yang dia pilih.
Dan aturan nomor enam tidak punya versi untuk orang yang memilih pergi.
Pintu besi berderit. Menutup.
Aku berdiri di basement sampai lampu neon di atasku mati dan menyala lagi.
Aku masuk ke mobil. Duduk di kursi kemudi. Tidak menyalakan mesin.
Lalu aku melihatnya.
Di kaca depan mobilku, di sisi pengemudi, di bawah wiper, ada sticky note kuning.
Ditempel dari luar. Sebelum aku turun ke basement. Sebelum pertengkaran. Mungkin jam enam, saat dia tiba dan aku masih di ruanganku. Mungkin dia memang berencana pergi lewat pintu belakang tanpa bertemu siapa pun, dan meninggalkan ini supaya aku menemukannya saat pulang.
Aku membuka pintu, keluar, dan mengambil sticky note itu dengan tangan yang gemetar.
Tulisan miring ke kanan.
Hari ini kamu nggak perlu maju. Biar aku yang mundur.
Jagung udah makan? Kaleng biru. —K
Aku masuk kembali ke mobil. Menutup pintu. Meletakkan sticky note itu di dashboard, di sebelah gantungan pesawat kecil.
Lalu aku menangis.
Bukan menangis seperti di sofa semalam. Bukan menangis yang tertahan. Menangis yang keras, yang membuat dadaku sakit, yang membuat gantungan pesawat bergoyang karena seluruh tubuhku bergetar.
Di basement lantai B2, di dalam sedan abu-abu dengan mesin mati, Head of Operations PT Lintas Nusa Ekspres menangis sampai lampu neon di luar mati otomatis karena tidak ada gerakan selama lima belas menit.
Jagung sudah makan.
Aku yang memberinya makan.
Dia tidak tahu itu.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement reading
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit