Chapter Thirty Four
Papan Tulis yang Sama
POV: Kira
Papan rute itu tidak muat di lift.
Pak Haris yang pertama menyadarinya. Senin pagi, jam delapan lewat sepuluh, dia berdiri di depan pintu lift lantai empat, memegang satu ujung papan putih berukuran dua kali satu setengah meter. Tari memegang ujung yang lain. Di tengah-tengah, Mas Fajar menahan bagian bawahnya supaya tidak menyentuh lantai.
“Miringin, Pak,” kata Tari.
“Udah dimiringin, Mbak.”
“Miringin lagi.”
“Kalau dimiringin lagi, tulisannya kehapus kena pintu.”
Aku berdiri di belakang mereka, dengan ransel di punggung dan jam tangan Papa Aruna di pergelangan kiri. Aku baru mendarat dari Makassar jam enam pagi. Penerbangan pertama. Pak Darmawan meneleponku hari Sabtu malam, saat aku masih di Pantai Losari dengan kepala Aruna di bahuku.
Senin jam sembilan. Lantai sembilan. Bawa dirimu. Saya yang bawa papan.
Aku tidak tahu maksudnya saya yang bawa papan sampai pagi ini, saat Tari meneleponku dari lantai empat dengan suara panik: Kir! Pak Darmawan minta papan rute dibawa ke lantai sembilan! Yang di ruang kontrol! Yang ada tulisan kamu! Nggak muat lift, Kir!
“Tangga darurat,” kataku.
Tiga orang menoleh ke arahku. Pak Haris. Tari. Mas Fajar.
“Kir!” Tari hampir menjatuhkan ujung papannya. “Kamu udah sampai?!”
“Baru.”
“Kamu pakai jam tangan siapa?”
Aku melihat pergelangan kiriku. Jam pria, kulit cokelat, terlalu besar.
“Pinjam,” kataku.
Tari menatap jam itu. Lalu menatapku. Lalu matanya membesar perlahan, seperti layar laptop yang baru menyala.
“Itu jam Bu Deadline,” bisiknya. Bisikan Tari yang bisa didengar sampai lantai sembilan. “Aku hafal jam itu. Dua tahun aku lihat jam itu lewat depan meja kita.”
“Tar.”
“Kir.”
“Kita angkat papan dulu.”
Kami membawa papan itu lewat tangga darurat. Lima lantai. Pak Haris di depan, aku di belakang, Tari dan Mas Fajar di tengah, menahan bagian bawahnya. Di setiap belokan tangga, papan harus dimiringkan empat puluh lima derajat. Di lantai tujuh, Mas Fajar terpeleset sedikit, dan sudut papan menghapus tulisan Kalibata jadi Kali.
“Nanti kutulis ulang,” kataku.
“Kamu hafal di mana tulisannya?” tanya Tari, terengah-engah.
“Hafal.”
“Tentu aja kamu hafal.”
Di lantai sembilan, pintu ruang rapat sudah terbuka. Di dalam, meja jati panjang. Dua belas kursi kulit hitam. Jendela besar yang menghadap Halim.
Tujuh kursi terisi.
Pak Darmawan di kepala meja. Pak Wibisono di sebelah kirinya, tangan terlipat di perut. Bu Sinta di sebelah kanan, dengan map tebal. Seorang laki-laki berkacamata tebal yang tidak kukenal, dengan laptop dan setumpuk dokumen. Tim audit, pikirku.
Di ujung meja yang lain, Aruna. Blazer hitam. Rambut dikuncir rendah. Pergelangan kiri kosong. Dia menatapku saat aku masuk, dan untuk sepersekian detik, matanya turun ke pergelangan kiriku, lalu naik lagi. Wajahnya wajah kantor. Tapi telinganya merah.
Dan di kursi paling dekat dengan pintu, tempat orang yang bisa keluar tanpa ketahuan, Reno.
Kemeja biru tua. Yang sama dengan dua minggu lalu. Belum diganti, atau sengaja dipakai lagi. Dia tidak menatapku. Dia menatap meja.
“Letakkan di depan,” kata Pak Darmawan. “Di samping layar.”
Kami meletakkan papan rute di depan ruangan, bersandar ke dinding. Peta Jabodetabek dalam spidol hitam. Tiga gelombang. Coretan merah dari Harbolnas. Sebelas sticky note kuning di pinggir kanan, yang tidak ada yang berani mencabut. Dan satu kata yang terpotong: Kali.
Tari, Pak Haris, dan Mas Fajar mundur ke pintu.
“Terima kasih,” kata Pak Darmawan. “Kalian boleh keluar.”
Tari tidak bergerak.
“Pak,” katanya. “Saya boleh tinggal? Saya saksi.”
Pak Darmawan menatapnya. “Saksi apa?”
“Saksi dua tahun, Pak. Saya duduk sebelah dia dua tahun. Saya lihat dia nulis papan itu tiap pagi.”
Pak Wibisono mengangkat alis. Bu Sinta menatap Pak Darmawan. Pak Darmawan menatap Tari lama. Lalu menunjuk satu kursi kosong di sudut ruangan.
“Duduk. Diam.”
“Siap, Pak.”
Pak Haris juga tidak bergerak. “Pak, saya juga saksi. Log parkir.”
Pak Darmawan menghela napas. “Duduk.”
Mas Fajar menatap mereka berdua, lalu menatap Pak Darmawan. “Saya... yang pegang papan bagian bawah, Pak.”
“Kamu keluar.”
“Kita mulai,” kata laki-laki berkacamata tebal. “Saya Hardi, ketua tim audit internal. Kita sudah dua minggu memeriksa asal-usul dokumen Rencana Rute Gelombang.”
Dia mengeluarkan sesuatu dari tumpukan dokumen di depannya. Buku tulis bersampul cokelat. Sudutnya sedikit lecek. Labelnya tulisan tanganku.
Rencana Gelombang — Draf 1.
“Buku ini diserahkan oleh Ibu Aruna Lestari kepada Pak Darmawan pada hari Rabu, dengan izin tertulis dari pemiliknya.” Pak Hardi membuka halaman pertama. “Halaman pertama bertanggal tiga Maret dua ribu dua puluh empat. Dokumen final atas nama Pak Reno Wicaksono diajukan dua puluh empat April dua ribu dua puluh empat. Tujuh minggu kemudian.”
Dia membuka halaman tujuh.
“Catatan kaki nomor satu di dokumen final, kata demi kata, ada di halaman ini. Tulisan tangan. Dengan coretan revisi.” Halaman dua belas. “Catatan kaki nomor tiga, tanda cat merah di Kalimalang, di sini.” Halaman lima belas. “Catatan kaki nomor empat, soal membiarkan lawan mengambil semua titik dulu, di sini. Dengan coretan, lalu ditulis ulang dengan bahasa yang berbeda.”
Pak Hardi menutup buku.
“Tim audit sudah memeriksa tinta, kertas, dan konsistensi tulisan tangan dengan dokumen-dokumen lain yang ditulis Sdr. Kira selama dua tahun. Papan rute ini salah satunya.” Dia menunjuk papan di depan ruangan. “Kesimpulan kami: draf ini asli. Ditulis Sdr. Kira Aditama. Sebelum dokumen final ada.”
Hening.
Pak Wibisono mencondongkan badan. “Saya mau tanya satu hal ke Sdr. Kira.”
“Silakan, Pak.”
“Saya orang keuangan. Saya percaya dokumen. Buku ini dokumen. Tapi dokumen bisa dibuat belakangan.” Dia menatapku. “Kalau kamu memang penulisnya, tunjukkan.”
“Tunjukkan gimana, Pak?”
Pak Wibisono menunjuk papan rute. “Gudang Karawang buka bulan Maret. Harbolnas tahun depan, volume diperkirakan naik empat kali lipat. Tulis gelombang tiga. Di papan itu. Sekarang. Tanpa laptop.”
Seisi ruangan menatapku.
Aku menatap papan. Peta Jabodetabek dalam spidol hitam. Tulisanku sendiri. Dua tahun. Papan yang sama dengan pagi server mati. Papan yang sama dengan Harbolnas. Papan yang sama yang dilewati Aruna setiap pagi selama dua tahun tanpa tahu siapa yang menulisnya.
Aku berdiri. Mengambil spidol merah dari saku hoodie. Aku selalu membawa spidol. Kebiasaan.
Lalu aku berjalan ke papan.
Pertama, aku menulis ulang kata yang terhapus. Kalibata. Di tempat yang sama persis. Dengan huruf k yang kakinya panjang.
Lalu aku mulai menggambar.
Karawang. Titik baru di timur. Tol Jakarta–Cikampek diperpanjang dengan garis putus-putus, karena tol baru akan selesai April. Tiga gelombang jadi empat, karena volume empat kali lipat. Gelombang tiga dipecah dua: tiga A dari Cikarang, tiga B dari Karawang. Jeda di antara keduanya bukan tiga puluh menit. Dua puluh dua. Karena Karawang dua puluh tiga kilometer lebih dekat ke Bekasi Timur.
Sebelas sopir Cikarang yang rumahnya di Karawang dipindahkan ke armada Karawang. Aku menulis nama mereka. Satu per satu. Dari ingatan.
Lalu di bawah tabel jeda, dengan tulisan yang lebih kecil, aku menulis:
Gelombang 3B tahan 1,4 menit lebih lama kalau hujan. Mirip cooldown kalau lagi kena debuff: lebih lambat, tapi kalau dipaksa, numpuk.
Aku meletakkan spidol. Berbalik.
Sebelas menit.
Pak Wibisono menatap papan. Lama. Lalu menatap buku tulis cokelat di depan Pak Hardi. Lalu menatap papan lagi. Catatan kaki dengan kata cooldown. Huruf k dengan kaki panjang. Angka 7 dengan garis kecil di tengah, di jam keberangkatan gelombang empat.
Dia bersandar di kursinya.
“Saya hanya percaya dokumen,” katanya pelan. “Ini dokumen.”
“Pak Reno,” kata Pak Darmawan.
Semua orang menoleh.
Reno tidak mengangkat kepala. Dia menatap meja jati di depannya. Tangannya di atas meja, jari-jarinya saling menggenggam.
“Tim audit sudah memberikan kesimpulan,” kata Pak Darmawan. “Saya mau dengar dari kamu.”
Reno diam lama. Satu menit. Mungkin lebih. Suara AC berdengung. Di luar jendela, sebuah pesawat lepas landas dari Halim.
“Catatan kaki itu bukan tulisan saya,” katanya akhirnya. Suaranya pelan. Sangat pelan. Bukan suara supervisor yang memimpin rapat pagi. “Rencana itu bukan rencana saya. Kira kasih ke saya. Saya ketik ulang. Saya rapiin formatnya. Saya tanda tangan. Saya ajuin.”
“Kenapa?”
Reno menatap papan rute. Gelombang empat. Karawang. Sebelas nama sopir.
“Karena dia nggak minta apa-apa, Pak,” katanya. “Dia kasih, terus dia pergi ke mejanya. Nggak bilang tolong sebut nama saya. Nggak bilang apa-apa. Saya tunggu dia protes. Seminggu. Sebulan. Dia nggak pernah protes. Jadi saya pikir... dia nggak peduli.”
Dia tertawa pendek. Tawa yang bukan tawa.
“Sepuluh tahun saya di LNX, Pak. Sepuluh tahun saya nomor dua. Di kantor, nomor dua. Di game, nomor dua. Espresso nggak pernah jadi nomor satu. Saya capek jadi nomor dua. Terus ada anak baru yang kasih saya rencana yang bisa bikin saya nomor satu, dan dia nggak minta apa-apa.”
“Dan email itu?” tanya Bu Sinta.
Reno menutup mata.
“Saya yang kirim.”
Tari, di sudut ruangan, menutup mulut dengan dua tangan. Pak Haris tidak bergerak.
“Saya lihat mereka di parkiran,” kata Reno. “Terus di lobi. Saya pikir... kalau saya bisa bikin Kira mundur, posisi itu jadi punya saya. Saya pikir itu adil. Saya yang ngajarin dia. Saya yang dua tahun ngajuin rencana itu. Saya yang...”
Dia berhenti.
“Saya yang lupa siapa yang sebenarnya kerja,” katanya.
Pak Darmawan tidak langsung bicara. Dia menatap Reno lama. Lalu menatap papan. Lalu menatapku.
“Kira,” katanya. “Kamu yang paling dirugikan. Dua tahun kerjamu diakui orang lain. Kamu dipindahkan ke Makassar karena email itu. Ada yang mau kamu katakan sebelum direksi memutuskan?”
Semua orang menatapku.
Aku berdiri di depan papan rute. Spidol merah masih di saku. Jam tangan Papa Aruna di pergelangan kiri.
Satu minggu lalu, aku akan diam. Aku akan bilang nggak ada, Pak. Aku akan membiarkan direksi memutuskan, dan apa pun keputusannya, aku akan menerimanya, dan kembali ke mejaku, dan menulis di papan lagi.
Tapi Sabtu kemarin, di dermaga tiga, aku menautkan kelingking dengan seseorang dan membuat aturan nomor tujuh.
Nggak ada yang mutusin buat yang lain. Kita tanya dulu.
“Pak,” kataku. “Boleh saya tanya Pak Reno sesuatu?”
Pak Darmawan mengangkat alis. Lalu mengangguk.
Aku berbalik ke Reno. Dia akhirnya mengangkat kepala. Menatapku. Matanya merah.
“Pak Reno,” kataku. “Bapak mau tetap di sini?”
Dia menatapku seperti aku baru bertanya dalam bahasa yang tidak dia mengerti.
“Di LNX,” kataku. “Bapak mau tetap kerja di sini?”
“Kir—”
“Saya nggak mau mutusin buat Bapak,” kataku. “Dua tahun saya biarin Bapak pakai rencana saya. Itu saya yang mutusin. Saya pikir itu cara yang benar. Ternyata nggak. Ternyata saya cuma bikin Bapak makin nggak bisa berhenti.” Aku menarik napas. “Jadi sekarang saya tanya. Bapak mau tetap di sini?”
Reno menatapku sangat lama. Lalu, pelan, mengangguk.
“Saya mau, Kir,” katanya. Suaranya pecah. “Anak saya dua. Istri saya nggak kerja. Saya... saya mau.”
Aku berbalik ke Pak Darmawan.
“Pak,” kataku. “Saya nggak minta Pak Reno dipecat. Saya cuma minta nama yang benar ditulis di dokumen yang benar.”
Pak Wibisono menatapku. Lalu menatap Pak Darmawan. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum orang keuangan yang baru saja menemukan angka yang tidak dia duga tapi masuk akal.
Keputusan dibacakan Bu Sinta jam sebelas lewat dua puluh.
“Satu. Kepengarangan Rencana Rute Gelombang dikoreksi dalam arsip perusahaan. Penulis: Kira Aditama. Draf asli ditambahkan ke arsip.”
“Dua. Sdr. Reno Wicaksono menerima Surat Peringatan Kedua dan dibebastugaskan dari posisi Supervisor Dispatch. Sdr. Reno ditugaskan sebagai Koordinator Gudang Cakung, efektif awal bulan depan, dengan masa evaluasi enam bulan.”
Reno tidak bergerak. Lalu mengangguk pelan.
“Tiga. Usulan posisi Strategic Planning Lead disetujui. Kandidat: Kira Aditama.”
Tari menjerit di sudut ruangan. Lalu menutup mulutnya sendiri. “Maaf, Pak. Maaf.”
“Empat.” Bu Sinta menatap Aruna. “Atas usulan Ibu Aruna Lestari yang diajukan hari Jumat, posisi Strategic Planning Lead melapor langsung kepada Direktur Operasional, bukan kepada Head of Operations. Dengan demikian, tidak ada garis pelaporan langsung antara keduanya. Ibu Aruna Lestari tetap menjabat sebagai Head of Operations. Hubungan pribadi keduanya telah diungkapkan secara resmi kepada HRD.”
Aku menoleh ke Aruna.
Dia tidak menatapku. Dia menatap Bu Sinta dengan wajah kantor. Tapi jari telunjuknya mengetuk meja. Satu, dua, tiga.
Usulan Ibu Aruna yang diajukan hari Jumat.
Jumat. Sebelum dia terbang ke Makassar. Dia sudah mengajukannya. Dia tidak bilang padaku.
Tapi dia bertanya dulu. Sabtu, di dermaga, setelah kami menautkan kelingking, dia bilang: Aku udah ajuin satu usulan ke Bu Sinta. Kamu lapor ke Pak Darmawan, bukan ke aku. Nggak ada yang perlu pindah. Kalau kamu nggak setuju, aku tarik. Dan aku bilang setuju.
Aturan nomor tujuh.
“Lima,” kata Bu Sinta. “Rotasi Sdr. Kira ke Cabang Makassar diakhiri lebih awal. Serah terima kepada Sdr. Andi, yang diangkat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Cabang KIMA, paling lambat dua minggu dari hari ini.”
Dua minggu.
Aku menatap jam tangan Papa Aruna di pergelangan kiriku. Jarum detiknya bergerak. Satu, dua, tiga.
Kamu harus pulang. Buat balikin.
Rapat selesai. Semua orang berdiri.
Reno keluar duluan. Dia berhenti di pintu. Tidak menoleh. Lalu berbalik.
“Kir.”
“Pak.”
Dia menatapku lama. Lalu menatap papan rute. Gelombang empat. Karawang. Sebelas nama sopir. Catatan kaki dengan kata cooldown.
“Kamu nggak lupa siapa yang ngajarin kamu,” katanya pelan. “Saya yang lupa siapa yang kerja.”
Dia pergi sebelum aku sempat menjawab.
Tari menghambur dari sudut ruangan. Memelukku. Keras. Di depan Pak Darmawan, Pak Wibisono, Bu Sinta, dan Pak Hardi.
“Kir,” katanya di bahuku. Menangis. “Strategic Planning Lead. Namamu di arsip. Di arsip, Kir.”
“Iya, Tar.”
“Aku bilang dari dulu. Aku bilang kamu kayak Wi-Fi. Dipakai semua orang, nggak ada yang inget password-nya.” Dia melepas pelukan. Mengusap matanya. “Sekarang semua orang inget.”
Pak Haris menepuk bahuku dua kali. Tidak bilang apa-apa. Tidak perlu.
Pak Wibisono lewat di sampingku. Berhenti. Menatap papan rute.
“Sdr. Kira,” katanya. “Gelombang tiga B. Satu koma empat menit kalau hujan. Kenapa satu koma empat? Kenapa bukan satu koma lima?”
“Karena di Karawang hujannya lebih sering gerimis daripada deras, Pak. Gerimis bikin lambat sedikit. Bukan berhenti.”
Pak Wibisono menatapku lama. Lalu mengangguk.
“Saya akan ingat itu,” katanya, dan pergi.
Aruna yang terakhir keluar.
Dia berhenti di depan papan rute. Di sampingku. Menatap peta. Tidak menatapku.
“Tulisanmu bagus,” katanya. Suara kantor.
“Makasih, Bu.”
“Kalibata-nya udah kamu tulis ulang.”
“Kena pintu tadi.”
Dia mengangguk. Lalu mengulurkan tangan dan menyentuh huruf k di Kalibata. Kaki yang panjang. Dengan ujung jarinya. Pelan.
“Dua tahun aku lewat depan papan ini,” katanya. “Tiap pagi.”
“Iya.”
“Sekarang aku tahu setiap hurufnya punya siapa.”
Dia menurunkan tangan. Berbalik ke pintu. Lalu berhenti, tanpa menoleh.
“Strategic Planning Lead.”
“Ya, Bu?”
“Jam tangan itu.”
Aku menatap pergelangan kiriku.
“Dua minggu lagi,” katanya. “Balikin.”
“Iya.”
“Jangan lupa.”
“Aku nggak pernah lupa.”
Dia keluar. Tapi di pantulan kaca jendela ruang rapat, sebelum pintu tertutup, aku melihat sudut bibirnya naik.
Aku berdiri sendirian di ruang rapat lantai sembilan, di depan papan rute yang sama, dengan spidol merah di saku dan jam tangan Papa di pergelangan.
Lima hari lagi, The First Dawn.
Aku akan memainkannya dari Makassar. Dari kamar kos tiga kali tiga. Dengan sinyal satu garis kalau hujan.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut berdiri di depan.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama reading
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit