← Buff Dulu, Baru Jatuh Cinta

Chapter Twenty Three

Lag Exploit

POV: Kira

Sabtu pagi, jam enam, aku menerima email dari alamat yang belum pernah kulihat.

From: Genesis Game Master Team Subject: [Investigation] Report on Origin-tier equipment — Player: Earl

Dear Earl,

We have received a formal report from another player questioning the legitimacy of your Origin-tier equipment set “Conductor of the First Dawn”. As per our policy, we are conducting a verification. Your account will remain active during this process. No action is required from you.

Aku membacanya dua kali. Lalu membuka grup chat Morning Tea.

Hojicha: BANG UDAH LIHAT FORUM????? Genmai: ristretto bikin thread Genmai: [link] Genmai: judulnya “Origin-tier di tangan enchanter tanpa rekam jejak = exploit?” Chamomile: DIA NUDUH EARL CURANG Chamomile: 4000 komen dalam 6 jam Matcha: separuh bela earl, separuh setuju sama ristretto Oolong: bang aku marah bang 😤 Rooibos: Nak Kira, kamu nggak curang kan? Ibu percaya. Tapi Ibu mau dengar dari kamu.

Aku mengetik.

Earl: nggak curang, bu.

Earl: aku dapetnya dari quest. quest yang nggak ada di guide mana pun. aku baca 47 buku lore selama tiga bulan.

Darjeeling: 47 buku?

Earl: iya, pak.

Darjeeling: Yang di perpustakaan katedral? Yang Bapak bilang isinya cerita tukang jam?

Earl: itu salah satunya.

Grup diam.

Rooibos: Ibu percaya.

Sencha: aku juga. 💜

Lychee: buku tulis cokelat di kamar kos kamu. “arsip sunyi — 47”.

Grup diam lebih lama.

Hojicha: ...kak lychee pernah ke kamar kos bang earl???

Genmai: 👀👀👀

Matcha: aku driver ojol 8 tahun. aku tahu “pernah ke kamar kos”

Lychee: aku jenguk dia waktu sakit. bawa bubur. kalian semua tahu.

Chamomile: iya tapi kak lychee sampe tahu judul buku tulisnya 🥺

Aku meletakkan ponsel menghadap ke bawah.


Jam empat sore, email kedua masuk.

Subject: [Resolved] Verification complete — Player: Earl

Dan bersamaan dengannya, di dalam game, untuk seluruh server:

[GM Notice] The Origin-tier set held by player “Earl” has been verified. [GM Notice] Acquired legitimately via hidden quest: “The Silent Archive” — 47 lore volumes, completed solo. [GM Notice] This quest has been available since launch. It has been completed by one player.

Forum meledak untuk kedua kalinya dalam seminggu.

HIDDEN QUEST??? 47 BUKU LORE aku pernah lewat perpustakaan itu 100x ga pernah baca dia baca SEMUA BUKU ristretto malu ga tuh

Dalam satu jam, ratusan pemain berbondong-bondong ke perpustakaan katedral. Seseorang membuat thread berjudul Tolong, siapa pun, ringkasan 47 buku lore Genesis. Tidak ada yang berhasil. Buku-buku itu tidak berisi petunjuk. Hanya cerita tukang jam, cerita pelaut, cerita penyanyi yang kehilangan suara. Cerita-cerita yang hanya bisa dipecahkan kalau kamu membacanya seperti aku membaca laporan sopir: pelan-pelan, satu per satu, sampai polanya muncul sendiri.

Thread Ristretto ditutup oleh moderator.

Tidak ada pesan dari Ristretto.


[Server Event — Guild War: Bracket Stage] [Semifinal: Morning Tea vs Espresso] [Map: Ironworks of Kalt — Core Defense. 30 vs 10. 20 minutes.]

Espresso kalah di babak pertama dari kami. Seharusnya mereka gugur. Tapi format guild war punya bracket kedua untuk tim yang kalah sekali. Espresso memenangkan semua pertandingan di bracket itu. Tiga kemenangan berturut-turut, semuanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Dan sekarang mereka di semifinal. Lawan kami. Lagi.

“Bapak nonton rekaman tiga pertandingan mereka,” kata Pak Hendro di voice channel. “Ada yang aneh, Earl.”

“Aneh gimana, Pak?”

“Lawan mereka kayak... lambat. Kayak main pakai internet warnet.”

Aku sudah menontonnya juga. Semalam, tiga kali, setelah Aruna mengantarku pulang dan sebelum aku tertidur dengan kemeja yang masih basah di bahu.

Pak Hendro benar. Di ketiga pertandingan, lawan Espresso bergerak dengan delay. Skill dilempar terlambat. Gerakan menghindar terlambat. Seperti ada jeda tipis di antara apa yang mereka tekan dan apa yang terjadi di layar.

Dan jeda itu muncul berulang. Dengan pola.

“Mereka bikin server lag,” kataku.

“Bisa?”

“Bisa. Aku hitung semalam.” Aku membuka catatan. “Mereka punya lima belas elementalist. Lima belas, dari tiga puluh. Itu nggak wajar buat guild war. Mereka semua pakai Firestorm di titik yang sama. Efek partikelnya berat. Kalau lima belas orang lempar Firestorm bareng di satu tempat, server butuh waktu buat ngerender. Semua pemain di sekitar situ dapat lag.”

“Semua pemain? Termasuk mereka?”

“Termasuk mereka. Tapi mereka tahu kapan lag-nya datang. Cooldown Firestorm empat koma dua detik. Jadi lag datang tiap empat koma dua detik. Mereka input perintah sebelum lag. Lawannya input pas lag. Lawannya telat.”

“Itu exploit,” kata Chamomile. Suaranya marah. “Earl, itu curang. Kita laporin.”

“Itu area abu-abu,” kataku. “Nggak ada aturan yang bilang nggak boleh pakai lima belas elementalist. Nggak ada aturan yang bilang nggak boleh lempar Firestorm bareng.”

“Tapi tujuannya bikin lag!”

“Iya. Dan GM bisa lihat sendiri. Rekamannya publik.”

“Terus kita gimana?”

Aku menatap catatan. Empat koma dua detik. Jeda tiga ratus delapan puluh milidetik. Polanya rapi. Terlalu rapi. Seperti jadwal armada.

“Kita main bersih,” kataku. “Tapi kita pakai lag-nya.”


[Semifinal — Start]

Ironworks of Kalt adalah pabrik besi raksasa yang ditinggalkan. Lantai logam berkarat. Rantai-rantai besar tergantung dari langit-langit. Tungku-tungku yang masih menyala merah. Di tengah pabrik, sebuah kristal biru melayang di atas alas besi: Core. Setiap tim punya satu Core di markasnya. Hancurkan Core lawan, menang.

Espresso tidak bergerak ke Core kami. Mereka bergerak ke tengah pabrik, ke jembatan besi di atas tungku, satu-satunya jalur dari markas mereka ke markas kami.

Lima belas elementalist berbaris di sana.

[Espresso — Firestorm ×15]

Lima belas badai api meledak di jembatan. Efek partikelnya memenuhi layar. Merah, oranye, kuning. Bunga api di mana-mana.

Dan layarku tersendat.

Satu bingkai. Dua bingkai. Karakterku membeku di tempat, lalu melompat dua langkah ke depan sekaligus. Input-ku tertunda.

“Lag!” teriak Genmai. “Bang, aku nggak bisa gerak!”

“Empat koma dua detik lagi datang lagi,” kataku. “Hitung sama aku.”

[Espresso — Firestorm ×15]

Lag lagi. Kali ini aku menghitung dari detik pertama Firestorm dilempar sampai layarku normal kembali. Tiga ratus delapan puluh milidetik. Lalu tiga ratus sembilan puluh. Lalu tiga ratus tujuh puluh.

Hampir empat ratus. Konsisten.

“Oke,” kataku. “Dengerin semua. Mulai sekarang, semua call aku udah dipotong lag. Kalau aku bilang sekarang, kalian tekan saat itu juga, karena aku udah ngitung empat ratus milidetik lebih awal.”

“Gimana kita tahu kapan lag?”

“Kalian nggak perlu tahu. Kalian lihat ini.”

Aku mengangkat Baton of the First Dawn.

Sejak Mirror Queen, aku tidak memakai transmog lagi. Dan Baton punya satu efek yang belum pernah kupakai secara terang-terangan: Tempo Call yang diketik di chat muncul sebagai ketukan visual di layar seluruh party.

Aku mengetik di chat party. Satu titik.

Earl: .

Di layar sembilan orang, muncul cincin cahaya emas kecil yang berdenyut di tengah layar. Sekali.

“Itu ketukan,” kataku. “Kalau ketukan muncul, kalian gerak. Ketukan nggak kena lag, karena dia efek lokal di layar kalian masing-masing, bukan dari server.”

“Bang, itu... curang juga nggak?” tanya Oolong pelan.

“Itu efek item. Udah diverifikasi GM tadi siang.”

Chamomile tertawa. Tawa yang pecah di tengah, seperti tawa orang yang tidak percaya. “Earl. Kamu bikin metronom.”

“Aku dirigen,” kataku. “Itu tongkat dirigen.”


Lima belas menit berikutnya adalah pertarungan paling aneh yang pernah ditonton empat ratus ribu orang di stream Chamomile.

Espresso melempar Firestorm setiap empat koma dua detik. Server tersendat. Layar setiap pemain di sekitar jembatan membeku sesaat.

Tapi sembilan pemain Morning Tea bergerak sebelum layar mereka membeku. Mereka mengikuti cincin emas yang berdenyut di tengah layar, tidak mengikuti apa yang mereka lihat. Mereka melempar skill sebelum lag. Mereka menghindar sebelum lag. Dan saat lag datang, skill mereka sudah di udara, dan karakter mereka sudah bergerak.

“Aku nggak lihat layar,” kata Matcha di voice. “Aku cuma lihat titik emas. Aku driver ojol delapan tahun. Aku biasa nyetir di hujan tanpa lihat jalan.”

“Itu bukan hal yang bagus, Matcha,” kata Pak Hendro.

“Tapi berguna, Pak.”

Lalu aku melakukan hal kedua.

Lima belas elementalist Espresso berdiri di satu titik di jembatan. Mereka harus berdiri di sana supaya efek Firestorm menumpuk. Mereka tidak bisa bergerak. Mereka tidak bisa menghindar.

Dan saat lag datang, mereka juga lag.

Mereka tahu kapan lag datang. Tapi mereka tidak bisa melawan lag mereka sendiri. Selama empat ratus milidetik itu, lima belas elementalist berdiri diam di jembatan, membeku, tidak bisa melempar apa pun.

“Rooibos,” kataku. “Meteor di jembatan. Lempar di ketukan.”

Earl: .

Cincin emas berdenyut. Bu Ratna melempar meteor.

Meteor itu sampai di jembatan tepat saat Firestorm kelima belas meledak dan server membeku. Lima belas elementalist tidak bisa bergerak. Tidak bisa melempar pelindung. Tidak bisa melakukan apa pun.

[Espresso — Elementalist ×6 — DEAD]

Enam dari lima belas.

“Lagi,” kataku.

Dua belas detik kemudian:

[Espresso — Elementalist ×5 — DEAD]

Tanpa elementalist, tidak ada Firestorm. Tanpa Firestorm, tidak ada lag. Tanpa lag, Espresso hanya tiga puluh orang yang tidak terbiasa bermain tanpa lag.

Dan kami sepuluh orang yang terbiasa bermain bersama.


Di menit kedelapan belas, Lychee berdiri di depan Core Espresso.

Tiga pemain Espresso menjaganya. Salah satunya swordmaster berzirah hitam legam dengan jubah merah.

Ristretto.

“Lychee,” kataku. “Dia bakal pakai Crimson Arc lagi. Kayak di scrim.”

Lychee: nggak.

Lychee: dia udah belajar. dia bakal pakai yang lain.

Ristretto mengangkat pedangnya. Bukan Crimson Arc. Gerakan yang belum pernah kulihat dari dia. Pedang diputar ke bawah, ujungnya menyentuh lantai, lalu ditarik ke atas dalam lengkungan rendah.

Blood Moon Rise. Skill yang membuat penggunanya kebal selama satu koma lima detik.

“Lychee—”

Lychee: aku nggak lihat layar.

Lychee: aku dengerin ketukan kamu.

Aku menatap layar. Satu koma lima detik. Kebal. Lalu satu frame terbuka saat skill berakhir, sebelum dia sempat melindungi diri lagi.

Satu frame. Seperti di Leviathan. Seperti di celah di antara dua gerakan.

Aku mengetik.

Earl: .

Satu koma lima detik kemudian, satu cincin emas berdenyut di layar Lychee.

Rapier perak menembus frame itu.

[Ristretto — DEAD]

Lima detik kemudian, Core Espresso pecah.

[Semifinal — Winner: Morning Tea] [Morning Tea advances to: FINAL]


Voice channel meledak. Aku melepas headset. Telingaku berdenging. Earl Grey di cangkir sudah dingin sejak menit ketiga.

Saat aku memakai headset lagi, Pak Hendro sedang mengulang kata metronom seperti mantra baru. Kembar sedang membuat lagu kemenangan versi ketiga, yang tetap tidak bernada. Chamomile membaca komentar dari chat-nya: GM udah nonton. Espresso dapat warning resmi. Lima belas elementalist di satu titik masuk kategori unintended server load.

Lalu satu whisper muncul.

Bukan dari Lychee. Bukan dari Sencha. Dari nama yang sudah tidak menulis apa-apa sejak thread-nya ditutup.

Ristretto: Kira.

Darahku berhenti mengalir.

Bukan Earl. Kira. Nama asliku. Nama yang hanya diketahui sembilan orang di party ini, satu orang di kantor yang tahu aku Earl, dan Ibu.

Ristretto: Saya tahu sejak scrim.

Ristretto: Gelombang. Jeda. Catatan kaki. “Membiarkan lawan mengambil semua titik dulu supaya mereka terpencar.”

Ristretto: Saya baca catatan kaki itu dua tahun lalu. Di dokumen yang saya tandatangani sendiri.

Aku tidak bergerak.

Ristretto: Saya juga tahu siapa Lychee.

Ristretto: Kamis malam, sepuluh hari sebelum Harbolnas. Jam sebelas lewat dua puluh. Parkiran basement. Kalian berdua.

Ristretto: Dan Selasa malam kemarin. Jam sepuluh lewat empat puluh. Lobi. Rambut basah.

Sedan hitam di ujung ramp. Berhenti satu detik terlalu lama.

Malam nasi goreng. Malam rooftop.

Ristretto: Senin. Kantor. Kita bicara.

Ristretto: Tetap proaktif, Kira.

Jendela whisper tertutup. Bukan aku yang menutupnya. Dia yang log out.

Aku duduk di depan layar. Tanganku gemetar. Bukan gemetar setelah raid. Gemetar yang lain. Dingin, yang dimulai dari tengkuk dan turun ke ujung jari.

Di daftar teman, nama Lychee masih menyala hijau. Dia sedang mengetik sesuatu. Titik-titik muncul, hilang, muncul lagi.

Lychee: final! kita masuk final!

Lychee: kamu baik-baik aja? kamu diam lagi.

Aku menatap pesannya.

Aku bisa bilang sekarang. Aku bisa bilang Ristretto itu Reno. Dia tahu tentang kita. Dia lihat kita di parkiran dan di lobi.

Tapi kalau aku bilang sekarang, Sabtu malam, dia tidak akan tidur. Dia akan menghabiskan Minggu memikirkan Senin. Dia akan masuk kantor Senin pagi dengan wajah yang sudah lelah sebelum apa pun terjadi.

Dan mungkin, kalau aku bisa bicara dengan Reno dulu, Senin, kalau aku bisa membuatnya mengerti, dia tidak perlu tahu sama sekali.

Earl: baik-baik aja. capek.

Lychee: bohong?

Earl: sedikit.

Lychee: oke. nggak maksa.

Lychee: tapi besok minggu. tidur yang banyak.

Lychee: dan kira.

Earl: ya?

Lychee: tadi aku nembus ristretto pakai ketukan kamu. nggak lihat layar.

Lychee: aku nggak pernah percaya sama orang sampai segitunya.

Lychee: selamat malam.

Dia log out.

Aku duduk di kamar kos lama sekali. Lalu membuka buku tulis cokelat yang masih kosong di rak. Menulis satu kalimat di halaman pertama.

Senin. Reno. Jangan sampai dia kena.

Aku menatap kalimat itu. Lalu menutup buku.

Di luar jendela, hujan mulai turun lagi. Tidak ada ramalan cuaca yang memberitahuku kapan akan berhenti.