Chapter Twenty Five
Ruang Rapat Lantai 9
POV: Aruna
Ruang rapat lantai sembilan punya meja panjang dari kayu jati, dua belas kursi kulit hitam, dan jendela besar yang menghadap Halim.
Pagi ini, hanya empat kursi yang terisi.
Pak Darmawan di kepala meja. Bu Sinta dari HRD di sebelah kanannya, dengan map tebal dan pulpen yang sudah siap. Pak Wibisono, Direktur Keuangan, di sebelah kiri, bersandar ke kursi dengan tangan terlipat di perut. Dan aku, di seberang mereka bertiga, sendirian di sisi meja yang terlalu panjang.
Di depanku ada segelas air putih yang belum kusentuh. Di dalam map di pangkuanku, dua lembar log parkir dari Pak Haris, satu salinan Rencana Rute Gelombang versi pertama, dan foto papan rute yang kuambil pagi hari server mati.
Di pergelangan kiriku, jam tangan Papa. Jarum detiknya bergerak pelan.
“Kita mulai,” kata Bu Sinta. “Ibu Aruna, pertemuan ini bukan sidang. Ini klarifikasi. Ibu bebas menjawab atau tidak menjawab.”
“Saya akan menjawab semuanya.”
“Baik.” Bu Sinta membuka map. “Apakah foto-foto dalam email kemarin menunjukkan Ibu dan Sdr. Kira Aditama?”
“Ya.”
“Apakah Ibu dan Sdr. Kira memiliki hubungan pribadi di luar hubungan kerja?”
“Ya.”
Pak Wibisono mengangkat alis sedikit. Mungkin dia mengira aku akan menyangkal.
“Sejak kapan?”
“Kami saling kenal di luar kantor sejak dua tahun lalu, lewat game online. Kami satu tim. Saya tidak tahu dia karyawan LNX sampai pertemuan langsung tim itu, sekitar dua bulan lalu.” Aku menatap Bu Sinta. “Hubungan pribadi dalam arti yang dimaksud kebijakan perusahaan, sejak tujuh hari lalu.”
“Tujuh hari.” Bu Sinta mencatat. “Dan rekomendasi posisi Strategic Planning Lead diajukan sebelas hari lalu.”
“Benar.”
“Ibu tidak melaporkan hubungan tersebut ke HRD dalam tujuh hari itu.”
“Benar. Itu kesalahan saya.”
Bu Sinta berhenti mencatat. Menatapku dari balik kacamata. Dia sudah lima belas tahun di HRD LNX. Aku pernah duduk di sebelahnya di rapat pemecatan tiga orang karyawan yang mencuri bahan bakar. Wajahnya selalu sama: datar, sopan, tidak bisa ditebak.
Pagi ini, untuk sepersekian detik, wajahnya sedikit lebih lembut.
“Saya mau tanya satu hal yang lebih penting,” kata Pak Wibisono.
Suaranya berat. Dia tidak pernah bicara cepat. Dia bicara seperti menghitung uang, satu lembar satu lembar.
“Apakah rekomendasi Ibu untuk Sdr. Kira didasarkan pada kinerjanya? Atau pada hubungan Ibu dengannya?”
“Kinerja, Pak.”
“Bagaimana saya tahu itu?”
Aku membuka map. Mengeluarkan foto papan rute. Meletakkannya di meja, menggesernya ke arah mereka.
“Ini papan rute di ruang kontrol, Pak. Saya potret pagi hari server routing kita mati. Enam minggu lalu. Sebelum saya punya hubungan pribadi dengan siapa pun. Seluruh papan ini ditulis Kira dari ingatan, dalam dua menit. Dua ratus tiga puluh armada. Ketepatan waktu pagi itu sembilan puluh empat persen. Lebih tinggi dari hari normal dengan sistem jalan.”
Pak Wibisono menatap foto itu. Tidak menyentuhnya.
“Lalu Harbolnas,” lanjutku. “Delapan puluh sembilan persen dengan volume tiga kali lipat. Denda SLA turun dari satu koma delapan miliar ke dua ratus empat puluh juta. Bapak sendiri yang tanda tangan laporan keuangannya.”
“Saya tahu angkanya.”
“Angka itu sudah ada sebelum foto apa pun diambil, Pak.”
“Angka itu milik tim, Bu Aruna. Bukan satu orang.” Pak Wibisono mencondongkan badan sedikit. “Rencana Rute Gelombang yang dipakai Harbolnas, siapa yang mengajukannya?”
Ini dia.
“Secara dokumen,” kataku, “Reno Wicaksono. Dua tahun lalu.”
“Jadi dasar dari keberhasilan Harbolnas adalah rencana Pak Reno.”
“Secara dokumen.”
“Bu Aruna.” Pak Wibisono tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. “Saya orang keuangan. Saya hanya percaya dokumen.”
Aku membuka salinan Rencana Rute Gelombang versi pertama. Membalik ke halaman tujuh. Menunjuk catatan kaki kecil dengan huruf berukuran delapan.
¹ Gelombang 3 sebaiknya ditahan 1,7 menit lebih lama dari jadwal di jam sibuk. Mirip cooldown: kalau dilepas terlalu cepat, numpuk di gerbang tol bareng gelombang 2.
“Cooldown,” kataku. “Istilah game. Kira main game itu setiap malam selama dua tahun. Angka satu koma tujuh adalah tempo lantai di salah satu raid yang dia pecahkan.” Aku membalik ke halaman dua belas. “Garis cat merah di tiang listrik Kalimalang. Informasi ini tidak ada di data BMKG atau laporan resmi mana pun. Ini hanya diketahui orang yang membaca setiap foto dari setiap sopir selama berbulan-bulan.”
“Dan Ibu yakin itu Kira, bukan Reno.”
“Saya yakin.”
“Ada bukti selain catatan kaki dan istilah game?”
Aku diam.
Tidak ada. Tidak ada file asli. Tidak ada riwayat versi. Dokumen di server hanya versi final, dengan nama Reno di sampul dan di properti file. Kalau Kira pernah menyimpan draf aslinya, aku tidak tahu di mana. Aku tidak pernah bertanya. Aku tidak mau dia merasa dituduh menuduh.
“Belum, Pak,” kataku.
Pak Wibisono bersandar lagi. “Kalau begitu, dari sisi saya, yang saya lihat adalah ini: seorang Head of Operations merekomendasikan seseorang yang memiliki hubungan pribadi dengannya, untuk posisi yang baru dia ciptakan sendiri, berdasarkan keyakinan bahwa orang itu adalah penulis asli rencana yang secara dokumen milik orang lain.”
Dia mengucapkannya dengan tenang. Satu lembar satu lembar.
Dan setiap kata dalam kalimat itu benar.
Aku meletakkan dua lembar log parkir di meja.
“Satu hal lagi, Pak.”
Bu Sinta mengambilnya. Membacanya. Menyerahkannya ke Pak Darmawan. Pak Darmawan membacanya lama, lalu menyerahkannya ke Pak Wibisono.
“Dua malam,” kataku. “Dua kendaraan. Dua waktu yang cocok dengan foto dalam email. Selasa malam, saksi di lobi menyatakan pemilik kendaraan ini menunggu di sofa lobi dari pukul setengah sepuluh sampai kami turun.”
“Ini mobil Reno,” kata Pak Darmawan pelan.
“Iya, Pak.”
Pak Wibisono meletakkan kertas itu di meja. “Bu Aruna, apa yang Ibu ingin saya simpulkan dari ini?”
“Bahwa pengirim email itu bukan pemerhati. Pengirimnya orang yang sedang bersaing untuk posisi yang sama. Orang yang sudah menawarkan diri jadi kandidat pengganti kalau Kira mundur.”
“Itu tuduhan serius.”
“Saya tahu.”
“Dan seandainya benar,” kata Pak Wibisono, “apakah itu mengubah isi email?”
Aku diam.
“Foto-foto itu tidak palsu. Hubungan itu nyata. Tidak dilaporkan. Rekomendasi diajukan sementara hubungan itu terjadi. Siapa pun yang mengirim, isinya tetap benar.” Dia mengetuk meja dengan satu jari. “Kalau Reno mengirimnya, kita akan bicara dengan Reno soal etika. Tapi itu masalah lain. Masalah hari ini adalah masalah Ibu.”
Pak Darmawan tidak bicara. Dia menatap jendela, ke arah Halim, ke menara kontrol dengan lampu hijau. Di depannya, log parkir tergeletak dengan nama Reno di atasnya.
Keputusannya dibacakan Bu Sinta jam sebelas lewat lima belas.
“Satu. Proses usulan posisi Strategic Planning Lead dibekukan sampai audit internal terhadap Proyek 12.12 dan asal-usul Rencana Rute Gelombang selesai. Estimasi dua sampai tiga minggu.”
Aku mengangguk.
“Dua. Ibu Aruna Lestari menerima Surat Peringatan Pertama karena tidak mengungkapkan hubungan pribadi dengan bawahan langsung sesuai kebijakan perusahaan.”
SP1. Dalam empat tahun di LNX, aku tidak pernah mendapat SP. Aku pernah memberi dua belas.
Aku mengangguk.
“Tiga.” Bu Sinta berhenti sebentar. Menatap Pak Darmawan. Pak Darmawan mengangguk pelan. “Untuk menghilangkan konflik kepentingan secara struktural, dalam satu minggu, salah satu dari dua pihak harus berada di luar garis pelaporan pihak lain.”
Aku menatap Bu Sinta.
“Artinya,” kata Pak Wibisono, karena Bu Sinta terlalu sopan untuk menjelaskannya, “salah satu dari kalian pindah. Sdr. Kira dipindahkan ke divisi lain atau cabang lain, sehingga tidak lagi melapor ke Ibu. Atau Ibu yang mundur dari posisi Head of Operations, sehingga Sdr. Kira tidak lagi berada di bawah Ibu.”
“Ada pilihan lain?”
“Hubungannya diakhiri,” kata Pak Wibisono. “Itu pilihan ketiga.”
Aku menatap jam tangan Papa. Jarum detiknya masih bergerak. Pelan. Satu, dua, tiga.
“Cabang Makassar sedang bermasalah,” lanjut Pak Wibisono, dengan nada seperti sedang membacakan laporan anggaran. “Alur gudangnya kacau sejak kepala cabang lama pensiun. Kalau Sdr. Kira sebagus yang Ibu katakan, rotasi enam bulan ke Makassar bisa jadi pembuktian. Untuk dia. Dan untuk Ibu.”
“Makassar,” ulangku.
“Itu cuma usulan.”
“Ibunya di Purwokerto, Pak. Sakit-sakitan. Dia pulang tiap dua bulan.”
“Bu Aruna, saya tidak tahu dan tidak perlu tahu jadwal pulang kampung karyawan.”
Itu benar. Dia tidak perlu tahu.
Tapi Kira tahu jadwal sekolah anak Pak Darto.
“Saya yang mundur,” kataku.
Ruangan diam.
Pak Darmawan berbalik dari jendela. Bu Sinta berhenti menulis. Pak Wibisono, untuk pertama kalinya pagi ini, terlihat sedikit terkejut.
“Aruna,” kata Pak Darmawan. “Jangan buru-buru.”
“Saya nggak buru-buru, Pak. Kira nggak salah apa-apa. Saya yang tidak melapor. Saya yang merekomendasikan. Kalau ada yang harus keluar dari garis pelaporan, itu saya.”
“Kamu Head of Operations termuda yang pernah dimiliki perusahaan ini,” kata Pak Darmawan pelan. “Kamu mau lepas itu dalam tujuh hari?”
“Kalau pilihannya itu atau dia pindah ke Makassar, iya.”
Pak Darmawan menatapku lama. Lalu menghela napas, sangat panjang, seperti orang tua yang baru menyadari anaknya sudah dewasa dan tidak bisa dilarang lagi.
“Kamu punya satu minggu,” katanya. “Pikirkan. Ajukan usulan resmi ke Bu Sinta. Jangan ambil keputusan hari ini.”
“Baik, Pak.”
Pertemuan selesai.
Aku tidak kembali ke ruanganku.
Aku naik ke rooftop. Pintu besi berderit. Udara siang panas, matahari tepat di atas kepala, beton memantulkan panas ke wajahku. Tidak seperti Selasa malam. Tidak ada lampu kota. Tidak ada hujan yang baru berhenti.
Aku berdiri di pagar besi. Menatap Halim. Menara kontrol dengan lampu hijau yang sekarang tidak terlihat karena siang terlalu terang.
SP1. Proses dibekukan. Satu minggu.
Aku sudah memutuskan. Aku tahu aku sudah memutuskan, bahkan sebelum Pak Darmawan bilang jangan ambil keputusan hari ini. Aku akan mundur dari Head of Operations. Aku akan minta dipindahkan ke proyek khusus, atau ke divisi perencanaan korporat, atau ke mana pun yang tidak membuat Kira melapor padaku.
Dan aku tidak akan bilang pada Kira sampai semuanya resmi.
Karena kalau aku bilang sekarang, dia akan mencoba menghentikanku. Dia akan bilang biar aku aja yang pindah. Dia akan menghitung, dalam satu koma dua detik, bahwa satu dispatcher pindah ke Makassar lebih murah daripada satu Head of Operations mundur. Dia akan benar secara angka.
Dan dia akan pergi.
Jadi aku tidak akan bilang. Aku akan mengurusnya. Diam-diam. Sampai semuanya selesai. Supaya dia tidak perlu tahu.
Aku berdiri di rooftop, di bawah matahari, dan menyadari apa yang baru saja kupikirkan.
Diam-diam. Supaya dia tidak perlu tahu.
Kemarin di tangga darurat, aku marah padanya karena melakukan hal yang persis sama.
Aku menutup mata. Panas matahari di kelopak mataku. Merah.
Papa. Papa diam tiga puluh tahun. Papa bilang nggak apa-apa, yang penting pesawatnya selamat. Mama bilang di meja makan orang yang ngajarin kamu jalan, nggak berarti dia boleh jalan pakai kaki kamu. Papa tertawa, dan besoknya tetap diam.
Aku selalu berpikir aku anak Mama. Ternyata aku juga anak Papa.
Jam empat sore, aku mengirim pesan.
Aruna: Hari ini berat.
Aruna: Besok aku cerita semuanya. Janji.
Centang dua. Biru. Lama tidak ada balasan.
Lalu:
Kira: Iya.
Hanya itu. Satu kata.
Aku menatap kata itu. Iya. Tanpa tanda tanya. Tanpa kenapa. Tanpa ada apa. Kira yang biasanya bertanya, kali ini tidak bertanya apa-apa.
Aku tidak tahu kenapa. Sore itu aku tidak tahu.
Aku baru tahu beberapa hari kemudian, saat semuanya sudah terlambat. Bahwa jam dua siang, tiga jam setelah pertemuan di lantai sembilan, Bu Sinta mengirim email kepada Sdr. Kira Aditama. Sesuai prosedur. Karena dia salah satu pihak yang terlibat. Karena dia berhak tahu.
Email yang berisi tiga poin keputusan. Termasuk poin ketiga. Termasuk satu kalimat di akhir:
Sebagai salah satu opsi penyelesaian, Sdr. diminta mempertimbangkan rotasi penugasan ke Cabang Makassar selama enam bulan. Mohon konfirmasi dalam satu minggu.
Bahwa dia sudah membacanya sebelum aku mengirim hari ini berat.
Bahwa di ruang kontrol lantai empat, di meja ketiga dari jendela, sementara aku berdiri di rooftop dan memutuskan untuk mundur diam-diam supaya dia tidak perlu tahu, dia sedang membuka buku tulis bersampul cokelat yang masih hampir kosong. Membaca satu kalimat yang dia tulis Sabtu malam.
Senin. Reno. Jangan sampai dia kena.
Dan di bawahnya, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan, angka tujuh dengan garis kecil di tengahnya, menulis kalimat kedua.
Selasa. Makassar. Jangan sampai dia yang mundur.
- 1 Leviathan’s Maw
- 2 Siapa Nama Kamu?
- 3 Kursi Kesepuluh
- 4 Lychee Nggak Ingat
- 5 Perjanjian Dua Dunia
- 6 Clockwork Cathedral
- 7 Papan Tulis
- 8 Arsip Lama
- 9 Scrim Espresso
- 10 Earl Grey Tanpa Gula
- 11 Hydra of Seven Sorrows
- 12 Proyek 12.12
- 13 Nasi Goreng Jam Sebelas
- 14 Sembilan Kali Wipe
- 15 Bubur dan Tempo Call
- 16 Gelombang
- 17 Guild War Ronde 1
- 18 Nikah Yuk, Earl
- 19 Tiga Senti
- 20 Mirror Queen
- 21 Strategic Planning Lead
- 22 Rooftop
- 23 Lag Exploit
- 24 Foto di Parkiran
- 25 Ruang Rapat Lantai 9 reading
- 26 Surat Mutasi
- 27 Catatan Earl
- 28 Parkiran Basement
- 29 Enchanter Sendirian
- 30 Gudang Cabang
- 31 Draf yang Kupakai
- 32 The First Dawn Diumumkan
- 33 Kapan Kamu Maju?
- 34 Papan Tulis yang Sama
- 35 First Dawn: Fase 1–2
- 36 First Dawn: Fase 3
- 37 First Dawn: Final
- 38 Kursi di Tengah
- 39 Join Party
- 40 Tukar Teh
- 41 Epilog — Earl’s Gambit