Chapter Nine
Survei Lokasi
POV: Monica
Aturan nomor satu: profesional di jam kerja.
Aku sudah membaca aturan itu sekitar dua ratus kali dalam seminggu. Aku memotret halaman buku sketsa itu sebelum pulang dari studio, dengan izin, karena Ervan terlalu sopan untuk menolak, dan menjadikannya wallpaper ponsel. Tasya bilang itu tanda-tanda gangguan jiwa ringan. Aku bilang itu dedikasi terhadap kontrak.
Masalahnya, tidak ada yang mendefinisikan apa itu profesional.
Apakah memakai kemeja linen putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka satu profesional? Menurutku ya. Ini survei lokasi. Di Puncak dingin, tapi di mobil panas. Kancing itu soal termoregulasi.
Apakah memakai parfum melati-vanila yang sama dengan yang kupakai di pertemuan pertama, karena aku melihat hidung Ervan bergerak sedikit waktu itu, profesional? Menurutku ya. Itu soal konsistensi merek.
Apakah meminta naik mobil Ervan alih-alih naik mobilku sendiri yang punya sopir, AC yang tidak perlu dipukul, dan kursi pijat, profesional?
“Itu jelas nggak profesional,” kata Tasya di telepon Sabtu pagi, sementara aku berdiri di lobi apartemen menunggu Avanza abu-abu itu datang.
“Itu survei. Arsitek harus ngerasain rute ke lokasi. Macetnya, tanjakannya, tikungannya.”
“Mon, kamu mau pura-pura minta diajarin nyetir manual.”
“Siapa yang bilang pura-pura?” Aku menatap jalan. “Aku beneran nggak bisa nyetir manual.”
“Karena kamu nggak pernah perlu. Kamu punya sopir tiga.”
“Dua. Pak Yono pensiun.”
“Mon.”
Avanza abu-abu itu muncul di tikungan depan gedung. Aku mematikan telepon sebelum Tasya sempat berkata apa-apa lagi.
Yang tidak kuduga: Gilang duduk di kursi belakang.
Ia memakai jaket tebal, syal rajut bermotif kotak-kotak, kupluk, dan membawa meteran laser, termos, dua bungkus kacang atom, dan satu kantong plastik berisi obat antimabuk.
“Pagi, Mbak Monic,” katanya riang. “Saya tukang ukur resmi hari ini.”
Aku menatap Ervan di kursi pengemudi. Ervan menatap jalan di depan dengan ekspresi yang terlalu datar untuk tidak disengaja.
“Survei lokasi butuh dua orang buat ngukur,” katanya. “Standar.”
“Standar,” ulangku.
“Standar,” tegas Gilang dari belakang, mengangkat meteran laser seperti pedang.
Aku masuk ke kursi depan dan memasang sabuk pengaman. Oke. Tidak apa-apa. Gilang adalah informanku. Gilang bisa disuap dengan martabak. Gilang, kalau aku tidak salah menilai, bisa kusingkirkan dengan satu kalimat yang tepat di waktu yang tepat.
Mobil berjalan. AC-nya dingin. Dasbornya bersih, ada gantungan kunci kecil berbentuk penggaris di spion, dan aroma pengharum mobil rasa kopi yang samar. Di laci dasbor yang tertutup separuh, aku melihat obeng.
Tentu saja ada obeng.
Aku mengalihkan mata ke luar jendela sebelum Ervan melihat wajahku.
Sepanjang tol Jagorawi, Gilang bicara. Tentang soto Bang Madun. Tentang drama Korea yang sedang ia tonton, yang pemeran utamanya ternyata hantu tapi tidak sadar dirinya hantu. Tentang Tasya, yang menurutnya “galak tapi galaknya sehat, kayak jamu.”
“Mbak Tasya itu udah punya pacar belum, Mbak?”
“Kenapa?”
“Nanya aja. Buat data.”
“Data apa?”
“Data informan. Informan harus tahu semuanya.” Ia mengunyah kacang atom dengan keras. “Kalau belum, dia suka martabak apa?”
Aku menoleh ke Ervan, berharap berbagi tatapan sahabatmu ini kenapa. Ervan tidak menoleh, tapi aku melihat ujung bibirnya bergerak lagi. Hanya sedikit. Sama seperti di studio seminggu lalu, waktu aku cerita soal panci yang meleleh.
Aku menyimpan gerakan itu. Aku sudah mulai mengoleksinya. Dua kali di studio. Satu kali sekarang. Kalau Tasya tahu aku mengoleksi gerakan bibir seseorang, ia akan memanggil psikiater.
Kami keluar tol di Gadog, dan jalan mulai menanjak. Lalu, di jalan desa sempit yang membelah kebun teh, yang aspalnya berlubang dan tidak ada kendaraan lain kecuali satu motor pengangkut sayur, aku melakukannya.
“Van.”
Ervan melirikku. Nama itu keluar begitu saja. Aku sudah berlatih memanggilnya Ervan dengan lengkap, sopan, profesional. Tapi yang keluar malah Van, seperti yang dipakai Gilang, seperti yang dipakai ibunya, dan aku melihat tangannya di setir mengencang sedikit.
“Maksudku, Ervan,” koreksiku cepat. “Aku mau minta sesuatu. Profesional.”
“Apa?”
“Ajarin aku nyetir mobil ini.”
Hening. Di kursi belakang, Gilang berhenti mengunyah.
“Kenapa?” tanya Ervan.
“Karena villa ini nanti di atas bukit. Jalannya kayak gini. Tanjakan. Sopirku cuma bisa matic. Kalau suatu hari aku harus ke sini sendiri, aku harus bisa.” Itu jawaban yang sudah kusiapkan semalam, dan aku bangga pada betapa logisnya itu. “Itu bagian dari perencanaan aksesibilitas.”
Ervan menatapku sebentar. Lalu menatap jalan desa yang sepi di depan, lurus sekitar dua ratus meter sebelum mulai menanjak di tikungan.
“Mbak Monic,” kata Gilang dari belakang dengan suara kecil. “Saya punya anak nanti. Belum lahir. Belum dibuat. Belum ada ibunya. Tapi saya mau hidup untuk melihat mereka.”
“Kamu diem aja di belakang, Lang.”
Ervan menepikan mobil.
Aku tidak akan menceritakan seluruh empat puluh lima menit berikutnya, karena sebagian besar isinya adalah suara mesin yang mati, suara Gilang yang berteriak, dan suara Ervan yang mengatakan pelan, pelan, lepas koplingnya pelan dengan kesabaran seorang biksu.
Tapi aku akan menceritakan beberapa bagian.
Bagian ketika aku melepas kopling terlalu cepat untuk pertama kalinya, mobil melompat seperti kodok, dan Gilang menjerit dengan nada yang belum pernah kudengar keluar dari tenggorokan laki-laki dewasa.
Bagian ketika mobil mati untuk ketujuh kalinya di awal tanjakan, dan mulai mundur pelan, dan aku panik dan menekan semua pedal sekaligus, dan Ervan dengan tenang menarik rem tangan dengan tangan kirinya, lalu berkata, “Nggak apa-apa. Tarik napas. Coba lagi,” seolah kami tidak baru saja hampir mundur ke parit berisi air lumpur.
Bagian ketika Gilang, di percobaan kesembilan, membuka pintu belakang dan berkata, “Saya jalan kaki aja, ya. Sampai ketemu di lokasi. Kalau saya nggak sampai, tolong sampaikan ke Mbak Tasya bahwa perasaan saya tulus,” lalu benar-benar turun dan berjalan menanjak sambil memeluk termosnya.
Dan bagian ini.
Di percobaan kesebelas, di tengah tanjakan, mesinnya hampir mati lagi. Aku merasakannya bergetar, tersendat, dan tanganku di tuas persneling membeku karena aku tidak tahu harus pindah ke gigi berapa.
Tangan Ervan menutupi tanganku.
Hangat. Kering. Sedikit kasar di bagian dalam jari, tempat pensil bertahun-tahun menekan. Tangannya lebih besar dari tanganku, sehingga menutup seluruh punggung tanganku, dan jari-jarinya melingkar di atas jari-jariku di kepala tuas.
“Satu,” katanya pelan. Ia mendorong tanganku, tuasnya, ke bawah. “Gas sedikit. Sedikit. Lepas kopling. Pelan.”
Aku melakukannya. Mobil itu tersendat, lalu mesinnya menggeram, lalu, ajaib, ia bergerak maju. Menanjak. Tidak mati.
“Bagus,” kata Ervan. “Bagus. Terus.”
Tangannya masih di atas tanganku.
Aku tidak berani melihat ke arahnya. Aku menatap jalan di depan, tikungan, kebun teh, Gilang yang berjalan di pinggir jalan dan menoleh ke belakang dengan mulut ternganga. Aku merasakan setiap milimeter kulit tangannya di atas kulitku. Aku merasakan jantungku memukul-mukul rusuk seperti mesin mobil ini yang tadi hampir mati.
Lalu, seperti baru sadar, Ervan menarik tangannya. Cepat. Seperti orang yang menyentuh kompor panas.
“Maaf,” katanya.
“Nggak apa-apa,” kataku. Suaraku keluar lebih tinggi satu oktaf dari biasanya.
Kami menanjak dalam diam. Mobil melewati Gilang, yang melambai dengan termosnya dan berteriak sesuatu yang tertelan angin.
Aku melirik Ervan dari sudut mata. Ia menatap jalan dengan sangat serius. Tangan kirinya sekarang ada di pahanya sendiri, jari-jarinya mengepal dan membuka, mengepal dan membuka.
Ujung telinganya merah.
Aku menyimpan itu juga. Koleksiku bertambah.
Seratus meter sebelum lokasi, mesinnya berhenti. Bukan karena aku. Karena jarum suhu di dasbor sudah menyentuh huruf H merah, dan dari kap mobil keluar uap putih seperti ketel yang mendidih.
“Aku yang bikin rusak?” tanyaku, panik.
“Bukan.” Ervan sudah melepas sabuk pengaman. “Radiatornya memang udah tua. Tanjakannya panjang. Harusnya aku isi air sebelum berangkat.”
Ia keluar, membuka kap, dan melambaikan tangan untuk mengusir uap. Aku keluar juga dan berdiri di sampingnya, tidak tahu harus melakukan apa, merasa seperti tamu yang tidak berguna di pesta orang lain.
Ervan tidak panik. Ia melihat mesin itu dengan cara yang sama ia melihat kertas kalkir di studio: tenang, cermat, seperti sedang membaca kalimat yang sudah ia kenal. Ia menunggu uapnya reda. Lalu ia menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, mengambil botol air kosong dari bawah jok, dan berjalan ke arah suara air yang mengalir di balik semak.
Mata air. Yang ada di sisi utara lahan. Yang kusebut di pertemuan pertama.
“Kamu hafal,” kataku.
“Kamu yang bilang,” jawabnya tanpa menoleh. “Debitnya naik di musim hujan.”
Ia berjongkok di tepi mata air dan mengisi botol. Aku berdiri di belakangnya dan tidak bisa berhenti menatap lengannya. Lengan bawah yang kecokelatan terbakar matahari lapangan, dengan urat yang kelihatan jelas ketika ia menggenggam botol, dan bulu-bulu halus yang basah terkena cipratan air. Lengan orang yang bekerja dengan tangannya. Lengan yang menyalakan genset di basement hotel tiga tahun lalu dengan obeng yang ia bawa dari rumah.
Aku harus berhenti.
Aku tidak berhenti.
Ervan kembali, menuangkan air ke radiator dengan pelan supaya tidak muncrat, menunggu, menuangkan lagi. Ia mengusap tangannya yang basah ke celana jins. Lalu ia menoleh kepadaku, dan untuk sesaat ia tampak bingung melihat ekspresiku.
“Kenapa?”
“Nggak,” kataku. “Nggak apa-apa. Profesional.”
Tanahnya sama seperti yang kuingat dari foto-foto Oma. Kebun teh yang menurun seperti permadani hijau berlipat-lipat, kabut tipis yang bergerak pelan di lembah, dan di kejauhan, puncak Gunung Gede yang ujungnya tersembunyi di balik awan. Udara dingin dan basah dan berbau daun teh.
Gilang tiba sepuluh menit kemudian, terengah-engah, dan langsung duduk di atas batu besar sambil minum dari termos. “Aku udah mati,” katanya. “Ini arwahku.”
Ervan tidak mendengarnya. Ervan sudah berjalan ke tengah lahan.
Dan di sanalah aku melihatnya. Ervan yang sesungguhnya.
Ia berjalan pelan dari satu sisi lahan ke sisi lain, dengan kepala sedikit miring, seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu. Ia berhenti. Ia berbalik menghadap ke timur, menutup mata sebentar, merasakan arah matahari di wajahnya. Ia mengambil segenggam tanah, meremasnya, membiarkannya jatuh. Ia mengeluarkan buku sketsa dari saku jaket dan mulai menggambar, berjalan, berhenti, menggambar lagi.
Lalu ia mulai bicara. Kepada dirinya sendiri, kepada Gilang, kepadaku, aku tidak tahu. Ia bicara tentang angin yang datang dari barat daya di sore hari, jadi terasnya harus di sisi timur supaya terlindung. Tentang kabut yang turun jam empat, jadi jendela ruang tengah harus lebar supaya kabutnya bisa ditonton. Tentang mata air yang bisa dialirkan lewat saluran kecil di taman, supaya ada suara air sepanjang malam.
Ia tertawa. Pendek. Pada sesuatu yang ia pikirkan sendiri, sesuatu tentang pohon kesemek di sudut lahan yang menurutnya harus dipertahankan karena “dia udah di sini duluan, kita yang numpang.”
Aku berdiri di pinggir lahan dan tidak bisa bergerak.
Ia tertawa. Ervan tertawa. Pertama kalinya aku mendengarnya sejak malam di parkiran tiga tahun lalu.
Gilang, di atas batu, berhenti minum dan menatapku. Wajahnya berubah. Semua main-mainnya hilang, dan yang tersisa hanya wajah seorang sahabat yang sudah menunggu lama untuk melihat sesuatu.
“Mbak,” katanya pelan. “Dia udah lama nggak kayak gini.”
Aku tidak bisa menjawab.
Ervan berhenti di sisi timur lahan, tepat di tempat di mana tanah mendatar sebelum menurun ke kebun teh. Ia menunjuk ke depan, ke arah lembah, ke arah matahari yang masih rendah.
“Kamar tidurnya di sini,” katanya. “Jendelanya menghadap ke sana. Ke timur. Supaya yang bangunin itu matahari, bukan alarm.”
Aku menahan napas.
Tiga tahun lalu, di ballroom Harrison Grand, satu jam sebelum listrik padam, Oma menahan seorang arsitek muda berkemeja batik di dekat pilar dan bertanya kepadanya, dengan senyum yang membuatmu merasa ia tahu rahasiamu: Kalau kamu membangun rumahmu sendiri, Nak, rumahnya seperti apa?
Dan arsitek itu, yang tidak tahu bahwa di balik pilar ada seorang perempuan yang sedang menghafal urutan pidato dan berhenti menghafal karena mendengar suaranya, menjawab dengan malu-malu.
Jendela kamarnya menghadap timur, Oma. Supaya yang bangunin itu matahari, bukan alarm. Dapurnya ada meja panjang. Ada satu ruang kecil buat piano, soalnya Bapak saya dulu suka main. Terus teras yang cukup buat duduk berdua lihat kabut.
Oma tertawa dan menepuk pipinya. Rumah itu harus kamu bangun, Nak. Janji sama Oma.
Arsitek itu tidak pernah membangunnya. Aku tahu, karena aku tahu ia masih tinggal di rumah di Ciledug dengan pagar hijau yang catnya mengelupas.
Dan ia tidak ingat pernah mengatakannya. Aku bisa melihat itu di wajahnya sekarang, ketika ia menoleh kepadaku dengan dahi sedikit berkerut, seperti orang yang mendengar lagu yang familiar tapi tidak tahu judulnya.
“Itu ada di brief kamu,” katanya. “Poin tujuh. Kalimatnya sama.”
“Iya,” kataku.
“Kebetulan banget.”
“Iya,” kataku lagi. Suaraku tidak stabil. Aku berdeham. “Kebetulan.”
Ia menatapku sedikit lebih lama dari biasanya. Lalu ia kembali ke buku sketsanya, dan aku berbalik menghadap kebun teh supaya ia tidak melihat mataku yang basah.
Rumah itu harus kamu bangun, Nak. Janji sama Oma.
Oma meninggal setahun lalu. Ia mewariskan tanah ini kepadaku, satu-satunya cucu yang tidak ia wariskan saham, dengan surat wasiat yang hanya berisi satu kalimat untukku: Untuk rumah yang harus dibangun.
Aku tidak pernah tahu apakah Oma sengaja. Aku tidak pernah tahu apakah Oma melihatku di balik pilar malam itu.
Tapi Oma tahu segalanya. Selalu.
Kami pulang menjelang magrib. Gilang tertidur di kursi belakang sebelum kami sampai di jalan raya, kupluknya turun sampai menutupi mata, mulutnya terbuka, termos dipeluk di dada.
Aku tidak menyetir lagi. Ervan menyetir, pelan, di jalan Puncak yang mulai padat. Lampu-lampu kendaraan di depan kami menyala merah seperti manik-manik. Radio memutar lagu lama dengan volume kecil.
Kami tidak banyak bicara. Tidak perlu. Ada sesuatu di dalam mobil itu, di antara kursi depan, di antara tuas persneling dan tanganku yang kuletakkan di pangkuan, yang terasa berbeda dari tadi pagi. Aku tidak tahu apa. Aku takut menyebutnya, seperti takut menyentuh gelembung sabun.
Di sebuah tikungan tajam, mobil di depan kami mengerem mendadak. Ervan mengerem juga, dan tubuhku terdorong ke depan, dan sabuk pengamanku, yang ternyata tidak terkunci dengan benar sejak aku memasangnya lagi setelah radiator, terlepas dari kaitannya.
Tangan Ervan langsung terulur, menahan bahuku sebelum dahiku sempat menyentuh dasbor.
“Monic,” katanya. “Sabuknya.”
Aku membeku.
Ia juga membeku. Tangannya masih di bahuku. Mobil di depan sudah berjalan lagi, dan mobil di belakang membunyikan klakson, dan Ervan tidak bergerak selama satu detik yang terasa seperti satu musim.
Lalu ia menarik tangannya, memasukkan gigi satu, dan mobil kembali berjalan.
Aku memasang sabuk pengamanku lagi dengan jari yang gemetar. Kali ini aku mendengar bunyi klik-nya dengan jelas.
Tidak ada yang bicara sampai tol Jagorawi.
Monic.
Bukan Mbak Monica. Bukan Monica. Bukan juga nama yang dipakai semua orang di keluarga, yang bagiku sudah terasa seperti nama yang dipakai orang untuk memanggil pelayan.
Monic. Dari mulutnya. Tanpa sengaja. Di tikungan jalan Puncak, dengan tangannya di bahuku.
Aku menatap ke luar jendela, ke lampu-lampu kota Bogor di bawah sana yang berkelip seperti bintang yang jatuh ke tanah, dan diam-diam, dengan ujung jari, aku menyentuh bahuku sendiri di tempat tangannya tadi berada.
Di kursi belakang, Gilang mendengkur.
Di kursi pengemudi, telinga Ervan merah lagi. Kali ini sampai ke leher.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi reading
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk