← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Thirty Three

Pacar Beneran

POV: Monica

Aku menelepon Papa pukul tiga lewat empat puluh pagi.

Aku tidak berencana menelepon sepagi itu. Tapi Ervan bilang kami harus berangkat ke Puncak pukul empat supaya sampai sebelum matahari terbit, dan Papa sudah memesan mobil hotel untuk mengantarku ke bandara pukul empat, dan aku tidak mau sopir hotel berdiri di lobi gedungku menunggu seseorang yang tidak akan turun.

Papa mengangkat di dering pertama. Papa tidak tidur, rupanya. Papa tidak pernah tidur kalau aku akan terbang.

“Monic? Kamu udah siap? Mobilnya udah di jalan, Papa baru telepon Pak Harun...”

“Pa,” kataku. “Aku nggak jadi berangkat.”

Hening.

Hening yang panjang. Aku mendengar suara napas Papa. Aku mendengar suara Mama di latar belakang, mengantuk, bertanya siapa, Richard?

“Nggak jadi,” ulang Papa pelan.

“Nggak jadi, Pa. Maaf. Aku tahu tim di Uluwatu nunggu. Aku tahu ini nggak profesional. Aku bakal telepon manajer proyeknya pagi ini, aku bakal...”

“Kenapa?”

Aku menatap Ervan. Ia duduk di sofa ruang tamuku, di antara tumpukan baju yang belum masuk koper, dengan kemeja putih yang sudah kusut dan rambut yang berantakan karena ia tertidur di sofa itu selama tiga jam sementara aku tidak bisa tidur sama sekali. Ia sedang membaca sesuatu. Kartu warna gading. Dari kotak sepatu bot kuning di pangkuannya.

Ia mengangkat kepala dan menatapku.

“Karena dia datang, Pa,” kataku. “Dia pakai passcode-nya.”

Hening lagi. Lalu suara Papa, bukan kepadaku, tapi ke samping, ke Mama, dengan volume yang membuatku harus menjauhkan ponsel dari telinga:

“SOFIA! DIA PAKAI PASSCODE-NYA!“

Lalu suara Mama, tiba-tiba tidak mengantuk sama sekali: “APA?“

Lalu keributan. Suara selimut. Suara sesuatu jatuh. Suara Papa yang sepertinya tersandung sesuatu di kamar gelap. Lalu Papa kembali ke telepon, terengah-engah.

“Monic. Monic, dengar Papa. Kamu nggak usah pikirin Uluwatu. Papa udah siapin cadangan.”

“Cadangan?”

“Dari awal. Dari hari kamu angkat tangan di rapat direksi.” Papa tertawa, tawa yang basah. “Mama yang nyuruh. Mama bilang, Richard, siapin orang lain. Anak kita nggak bakal jadi berangkat. Papa tanya kenapa. Mama bilang, karena anak itu bukan orang yang bikin pintu ditutup selamanya.“

Aku menutup mata.

“Papa mau pesan helikopter,” kata Papa. “Buat ngerayain. Ke mana pun kalian mau. Puncak? Papa bisa...”

“Pa. Nggak usah helikopter.”

“Satu helikopter aja.”

“Pa.”

“Oke. Oke. Nggak usah helikopter.” Hening sebentar. Lalu, dengan suara yang tiba-tiba sangat lembut, suara yang jarang kudengar dari Papa: “Monic.”

“Iya, Pa?”

“Kamu bahagia?”

Aku menatap laki-laki di sofaku. Ia sedang membaca kartu Hari 88 dengan dahi berkerut dan mata yang basah, dan ibu jarinya mengusap tulisan tanganku pelan, seperti mengusap sesuatu yang rapuh.

Kamu bukan “nya”. Kamu Ervan.

“Iya, Pa,” kataku. “Aku bahagia.”


Kotak sepatu itu ia temukan pukul satu dini hari, setelah kami berhenti menangis dan mulai lapar, dan ia membuang nasi goreng gosong ke tempat sampah dan memasak yang baru. Nasi goreng kampung. Dari ingatan. Dengan cabai rawit tiga dan telur setengah matang, yang ia sajikan di dua piring dan kami makan di lantai dapur karena meja makan penuh dengan baju.

Ia melihat kotak itu di meja makan waktu mengambil sendok.

“Ini apa?”

Aku membuka mulut untuk bilang nanti. Kata itu sudah ada di ujung lidahku. Nanti aku jelasin. Nanti, kalau udah waktunya.

Lalu aku ingat Mama. Waktunya itu selalu sekarang, Monic. Cuma kita yang pura-pura belum.

“Kartu,” kataku. “Yang nggak aku kirim.”

Ia menatapku.

“Setelah kamu bilang berhenti. Setiap jam sembilan lewat lima belas, aku tetap nulis. Tapi nggak aku kirim. Aturan tiga.” Aku menatap piring nasi gorengku. “Dua puluh tujuh kartu. Sejak minggu lalu aku nulis dua kali sehari. Aku nggak tahu kenapa.”

Ervan tidak berkata apa-apa. Ia mengambil kotak itu dan duduk di sofa, di antara tumpukan baju, dan membuka tutupnya.

Aku tidak menontonnya membaca. Aku tidak bisa. Aku pura-pura sibuk memasukkan baju kembali ke lemari, satu per satu, sementara di belakangku aku mendengar suara kartu yang diambil, dibaca, diletakkan. Diambil. Dibaca. Diletakkan.

Di kartu kedua puluh, aku mendengarnya tertawa. Pendek. Pasti kartu tentang burung beo yang bilang check out.

Di kartu kedua puluh tiga, aku tidak mendengar apa-apa sama sekali. Aku tahu kartu itu. Hari 99 (malam): Hari ini aku lewat Tebet. Aku nggak naik. Aku berhenti di depan toko fotokopi. Pak Tohir lihat aku. Dia muterin lagu yang judulnya aku nggak tahu. Aku duduk di mobil lima belas menit. Terus pulang. Aku nggak ngelanggar aturan tiga. Aku cuma lewat.

Ia tertidur di sofa pukul satu empat puluh, dengan kotak sepatu di pangkuannya dan kartu Hari 103 (malam) di tangannya. Aku menyelimutinya dengan selimut dari kamarku, dan duduk di lantai di sampingnya, dan tidak tidur sama sekali, karena aku takut kalau aku menutup mata, ia akan hilang, dan ternyata ini semua mimpi seperti mimpi yang ia ceritakan tentang koridor dengan karpet tipis.


Kami berangkat pukul empat. Dengan Avanza abu-abu yang AC-nya harus dipukul.

Di tol Jagorawi, masih gelap, Ervan menepikan mobil di rest area dan mematikan mesin.

“Kenapa?” tanyaku.

Ia melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil. Ia memutari mobil ke sisiku dan membuka pintuku.

“Kamu yang nyetir,” katanya.

“Apa?”

“Dari Gadog. Sampai lokasi. Tanjakannya.” Ia tersenyum. “Kamu bilang di hari survei, kalau suatu hari kamu harus ke sini sendiri, kamu harus bisa. Perencanaan aksesibilitas.”

“Van, aku belum...”

“Aku di sebelahmu,” katanya. “Kalau mati, aku tarik rem tangan.”

Aku menyetir dari Gadog. Di jalan desa sempit yang membelah kebun teh, yang aspalnya berlubang, dalam gelap yang pelan-pelan berubah biru. Mesinnya mati dua kali. Sekali di awal tanjakan, sekali di tikungan. Dua kali Ervan menarik rem tangan dengan tenang dan bilang nggak apa-apa, tarik napas, coba lagi.

Di percobaan ketiga, di tengah tanjakan yang sama tempat aku mati sebelas kali di hari survei, mesinnya hampir mati lagi. Aku merasakannya bergetar, tersendat. Tanganku di tuas persneling membeku.

Tangan Ervan tidak menutupi tanganku.

Ia hanya duduk di sebelahku, tangannya di pangkuannya sendiri, dan berkata dengan pelan: “Kamu tahu caranya.”

Aku menarik napas. Aku menurunkan tuas ke gigi satu. Gas sedikit. Lepas kopling pelan.

Mobil itu menggeram. Lalu maju. Menanjak. Tidak mati.

“Bagus,” kata Ervan. “Bagus. Terus.”

Aku terus. Sampai ke atas. Sampai ke pagar bambu di depan lahan. Sampai ke rumah dengan atap genteng merah bata dan dinding putih gading dan jendela-jendela yang sudah berkaca, yang berdiri di tengah kabut seperti sesuatu dari mimpi.

Aku mematikan mesin. Tanganku gemetar. Aku menoleh kepadanya.

Ervan menatapku dengan senyum yang, dalam cahaya biru sebelum subuh, terlihat seperti senyum laki-laki di video Kayla. Shot satu. Di depan pintu, sebelum passcode ditekan. Senyum orang yang berdiri di tepi kolam renang yang airnya dingin dan tahu ia akan tetap melompat.

“Aku nyetir sendiri,” bisikku.

“Kamu nyetir sendiri,” katanya.


Kamar tidur utama di sudut timur laut. Jendela besar dengan kaca bening, belum ada tirai. Ambang kayu jati yang lebar.

Kami duduk di ambang itu, berdua. Tidak ada selimut hotel kali ini. Ervan membawa jaket bomber hitam dari mobilnya, yang tergantung di balik pintu studio selama berbulan-bulan dan tidak pernah dicuci, dan menyampirkannya di bahuku. Bau pengharum mobil rasa kopi. Bau debu studio. Dan di kerahnya, samar, melati dan vanila. Bauku sendiri, yang tertinggal di sana sejak hari hujan di bedeng proyek.

“Kamu nggak nyuci ini,” kataku.

“Nggak.”

“Gilang bilang harus dicuci ulang. Demi higienitas.”

“Gilang nggak ngerti.”

Aku menyandarkan kepala di bahunya. Ia tidak menegang. Ia tidak menarik diri. Ia melingkarkan satu tangan di punggungku dan membiarkan kepalaku di sana.

Matahari muncul.

Seperti pertama kali. Tidak pelan-pelan. Seperti seseorang yang membuka pintu, tiba-tiba, dari balik punggung gunung di seberang lembah. Cahayanya menembak lurus melintasi kebun teh dan kabut dan pohon kesemek di sudut lahan, menembus kaca jendela yang bersih, dan jatuh ke dalam kamar yang sekarang punya atap, punya dinding, punya lantai kayu.

Jatuh ke wajah kami berdua.

Aku memejamkan mata karena silau. Aku merasakan kehangatannya di pipi, di kelopak mata, di bibir.

“Monic,” kata Ervan.

“Hm?”

“Buka matamu.”

Aku membukanya. Ia menatapku dari jarak yang sangat dekat, dengan matahari di belakang kepalanya.

“Hijaunya,” katanya pelan. “Kelihatan lagi.”

“Cuma kalau berdiri cukup dekat,” bisikku.

“Aku mau berdiri cukup dekat,” katanya. “Tiap pagi.”


Piano itu sumbang.

Dua belas tahun tidak disetem. Beberapa tuts di bagian kanan tidak berbunyi sama sekali. Beberapa tuts di bagian kiri berbunyi terlalu rendah, seperti orang yang bicara sambil menahan batuk. Ervan duduk di bangku kayu yang juga dibawa dari Ciledug, bangku yang permukaannya sudah licin karena dipakai bertahun-tahun, dan menatap tuts-tuts yang menguning dengan tangan di pangkuannya.

Aku berdiri di ambang pintu ruang piano. Kusennya masih baru dipasang ulang. Ada bekas cat yang belum kering di satu sisi.

“Sumbang,” kata Ervan. “Maaf. Nanti aku panggil tukang setem.”

“Jangan minta maaf.”

“Lagunya bakal jelek.”

“Van,” kataku. “Aku udah dengar lagu itu dimainin sekali. Dalam gelap. Sama orang yang bilang dia takut banget.” Aku bersandar di kusen. “Aku nggak peduli jelek.”

Ia menatapku. Lalu ia mengangkat tangannya ke atas tuts.

Satu nada. Lalu dua.

Lagu itu.

Aku tidak tahu judulnya. Aku tidak pernah tahu. Opa tahu, tapi aku tidak pernah bertanya, karena aku takut judulnya akan membuat lagu itu menjadi milik orang lain. Lagu lama. Lagu yang mungkin diputar di radio waktu Opa dan Oma masih muda. Lagu pernikahan mereka, di ballroom yang sama, lima puluh tiga tahun lalu. Lagu yang dipelajari seorang tukang listrik PLN dari kaset, tiap malam, di piano bekas gereja, dan diajarkan kepada anaknya tiga bulan sebelum jantungnya berhenti.

Sumbang. Tuts di kanan tidak berbunyi, sehingga melodinya kadang hilang di tengah, seperti kalimat yang terputus. Nada rendahnya terlalu rendah.

Tapi tangannya tidak ragu. Ia memainkannya seperti tiga tahun lalu, dalam gelap, untuk lima ratus orang yang takut. Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang memberi tiga menit kepada siapa pun yang membutuhkannya.

Di tengah lagu, di bagian yang kuingat dari ballroom, ketika Opa menarik tangan Oma ke lantai dansa, aku mulai menangis.

Di akhir lagu, Ervan berhenti. Tangannya masih di atas tuts. Ia tidak menoleh.

“Itu satu-satunya lagu yang aku bisa,” katanya ke tuts-tuts piano. “Bapak belum sempat ngajarin yang kedua.”

Aku berjalan ke belakangnya. Aku melingkarkan tanganku di bahunya dari belakang dan menempelkan pipiku di atas kepalanya.

“Cukup satu,” kataku. “Kalau dimainin buat orang yang tepat.”

Ia menegang di dalam pelukanku. Lalu, pelan, ia meletakkan tangannya di atas tanganku, di dadanya.

“Bapak yang bilang gitu,” katanya pelan.

“Kamu yang cerita. Di bedeng.”

“Kamu inget semuanya.”

“Semuanya,” kataku. “Tab spreadsheet-nya namanya YANG DIA LUPA. Nanti aku tunjukin.”

Ia tertawa. Tawa yang bergetar di bawah tanganku.


Dapur itu dibuat untuk orang yang tidak bisa masak.

Kompor induksi. Rak bumbu terbuka yang sekarang, entah bagaimana, sudah terisi, karena Bu Laras menitipkan satu kardus bumbu di truk piano kemarin pagi. Jendela lebar di atas kompor. Meja panjang dari kayu jati. Dan di satu sisi meja, dua kursi tinggi.

Aku duduk di salah satunya. Ervan berdiri di depan kompor.

Ia memasak nasi goreng kampung. Lagi. Untuk ketiga kalinya dalam dua belas jam, karena katanya ia harus tahu apakah kompor induksinya sudah berfungsi dengan benar. Ia mengiris bawang merah tipis-tipis. Ia menumis bumbu. Ia menuang kecap manis melingkar.

Aku duduk di kursi tinggi dan menontonnya.

Kursi untuk orang yang tidak bisa masak. Supaya bisa duduk dan menonton orang yang bisa masak, dan mengobrol, dan mencicipi, dan tidak perlu merasa ditinggal sendirian di ruang tengah.

Ia menggambarnya di hari rapat pertama. Di studio. Sebelum ia tahu apa pun. Dan aku duduk di seberangnya dengan dagu di telapak tangan dan menontonnya menggambar, dan ia bilang maaf, aku kebawa, dan aku bilang aku suka.

“Van.”

“Hm?”

“Kamu gambar kursi ini buat aku.”

Ia berhenti mengaduk. Ia menoleh.

“Di rapat pertama,” kataku. “Kamu bilang buat orang yang nggak bisa masak nonton orang yang bisa masak. Kamu nggak bilang buat siapa.”

Ervan mematikan kompor. Ia menatapku lama, dengan spatula di tangan.

“Aku nggak tahu waktu itu,” katanya. “Aku pikir aku cuma lagi gambar.”

“Sekarang?”

Ia meletakkan spatula. Ia memutari meja panjang. Ia berdiri di depan kursi tinggiku, sehingga mata kami sejajar, karena kursinya tinggi dan ia tinggi.

“Sekarang aku tahu,” katanya.

Dan aku menciumnya.

Kali ini aku yang bergerak duluan. Aku tidak menunggu. Aku tidak menghitung tiga senti. Aku menarik kerah kemejanya yang kusut dan menciumnya, dan ia menciumku balik, dan ciuman itu tidak pelan dan tidak hati-hati seperti di dapur apartemenku semalam. Ciuman itu dalam. Ciuman yang sudah menunggu sembilan puluh lima hari, tiga tahun, lima puluh tiga tahun sejak sepasang pengantin berdansa di ballroom dengan lagu yang sama. Tangannya di pinggangku, menahan supaya aku tidak jatuh dari kursi tinggi. Tanganku di tengkuknya, di rambutnya yang berantakan. Aku bisa merasakan jantungnya di bawah telapak tanganku, cepat sekali, seperti mesin Avanza di tanjakan, dan aku tahu jantungku sendiri sama cepatnya.

Ketika kami akhirnya berhenti, dahinya menempel di dahiku. Napas kami berdua tersendat.

“Nasi gorengnya,” bisikku.

“Biarin,” bisiknya.

“Nanti dingin.”

“Aku suka nasi goreng dingin.” Ia tersenyum di dahiku. “Yang dimasak Bu Sri.”

Aku tertawa sampai hampir jatuh dari kursi tinggi. Ia menangkapku. Tentu saja ia menangkapku.


Kami pulang ke Jakarta pukul dua siang. Aku menyetir sampai Gadog. Mesinnya tidak mati sekali pun.

Senin pagi, pukul sembilan lewat lima belas, aku sedang di kantorku di lantai tiga Harrison Grand ketika telepon internal berbunyi.

“Bu Monica.” Suara Dinda. Bergetar. “Ibu... Ibu harus turun ke lobi.”

“Kenapa? Ada komplain?”

“Ibu turun aja, Bu.”

Aku turun. Lift. Lobi. Lampu kristal. Marmer.

Di meja resepsionis, di vas kristal yang selama dua minggu diisi sebelas tangkai bunga matahari yang tidak jadi dikirim, ada sebelas tangkai bunga matahari. Baru. Dibungkus kertas cokelat dan tali rami. Dengan satu kartu kecil terselip di antara tangkainya.

Kartu warna putih. Bukan gading. Tulisan tangan yang tegak dan rapi, seperti tulisan di gambar kerja.

Hari 1. Dari Tebet. Dikirim jam 9.15 sesuai aturan 1a. Ini bukan manajemen proyek. Ini pacar.

Kamu cantik banget hari ini. Kemarin juga. Aku cuma lupa bilang.

Makan.

Aku berdiri di tengah lobi Harrison Grand dan membaca kartu itu, dan di sekelilingku, lobi itu berhenti bekerja.

Dinda menangis di balik meja resepsionis. Pak Anto di dekat pintu putar mengusap matanya dan bilang kelilipan. Dari pintu samping yang menuju dapur, kepala Chef Bram muncul, dengan topi koki setinggi tiga puluh senti, lalu kepala dua sous chef di bawahnya, seperti totem. Mbak Ratih dari housekeeping muncul dari lift servis dengan troli handuk dan berteriak, di tengah lobi hotel bintang lima, di depan tamu-tamu yang sedang check in:

“SEBELUM NATAL! AKU MENANG!“

Ponselku bergetar.

Tasya: Gilang barusan telepon. Dia bilang Ervan pesan bunga ke Bu Dewi jam 6 pagi. Bu Dewi nangis di telepon.
Tasya: Gilang juga nangis.
Tasya: Aku nggak nangis.
Tasya: Oke aku nangis dikit.
Tasya: Btw papan tulis di studio udah dihapus. Kolom kiri, kolom kanan, kertas A3 HARI TANPA BUNGA, semua. Gilang bikin judul baru.

Satu foto masuk. Papan tulis Studio Pratama, bersih, dengan satu judul besar di bagian atas, ditulis dengan spidol merah dengan huruf yang tidak rapi.

HARI DENGAN PACAR.

Satu garis.

Aku menekan ponsel itu ke dadaku, di tengah lobi, di bawah lampu kristal, di depan vas kristal berisi bunga matahari yang menghadap ke pintu putar. Ke arah jalan. Ke arah timur.

Dan di sampingku, di atas meja resepsionis, Dinda meletakkan sesuatu dengan tangan gemetar. Buku catatan taruhan hotel. Terbuka di halaman terakhir. Dengan satu baris baru, ditulis dengan tinta merah:

Pemenang: Mbak Ratih. Hadiah: dipakai buat beli bunga matahari buat lobi. Selamanya.