← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twenty Seven

Bunga Matahari Terakhir

POV: Monica

Bu Laras meneleponku hari Minggu pagi, pukul enam, ketika aku sedang duduk di lantai dapur apartemen dengan secangkir kopi yang sudah dingin.

“Nduk.”

“Bu?”

Hening di ujung telepon. Aku mendengar suara dandang di latar belakang, dan burung perkutut tetangga yang berkicau, dan sesuatu yang lain. Napas Bu Laras yang tidak teratur.

“Dia nangis, Nduk,” kata Bu Laras. “Semalam. Di pangkuan Ibu.”

Aku meletakkan cangkir kopi di lantai.

“Ibu ceritain semuanya. Sabtu-Sabtu. Buku resep Bapaknya. Opor yang kamu masak kemarin.” Bu Laras menarik napas. “Maaf, Nduk. Ibu tahu kamu minta Ibu jangan cerita. Tapi dia udah kehabisan waktu. Ibu udah nunggu terlalu lama.”

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Dia nangis dua jam.” Suara Bu Laras pecah. “Dari umur tujuh belas, Nduk. Dari Bapaknya meninggal. Ibu nggak pernah lihat dia nangis. Nggak di pemakaman. Nggak di rumah sakit. Nggak waktu dia pulang malam itu. Ibu kira dia udah lupa caranya.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Dia bilang dia nggak baik-baik aja,” kata Bu Laras. “Akhirnya. Dia bilang ke Ibu. Aku nggak baik-baik saja, Bu.“

Aku menangis. Di lantai dapur, di samping kopi yang dingin, dengan ponsel di telinga dan tangan di mulut. Bukan tangis sedih. Aku tidak tahu tangis apa. Tangis orang yang melihat sesuatu yang sudah lama tersumbat akhirnya mengalir, dan tahu ia tidak bisa ada di sana untuk melihatnya.

“Nduk?”

“Iya, Bu.”

“Dia tidur di sofa semalam. Pakai selimut kotak-kotak yang kamu kasih.” Bu Laras diam sebentar. “Dia nggak ngetuk pintu mana pun.”


Ide itu datang hari Senin, di lantai empat puluh, di ruang rapat direksi.

Papa sedang mempresentasikan perkembangan Harrison Uluwatu, hotel baru di tebing selatan Bali yang akan dibuka dalam tiga bulan. Masalahnya ada di bagian yang selalu jadi masalah: pengalaman tamu. Manajer umum yang ditunjuk mengundurkan diri mendadak. Tim pembukaan kacau. Standar layanan belum ditetapkan. Papa butuh seseorang untuk memimpin tim guest experience selama enam bulan pertama, tinggal di sana, membangun semuanya dari nol.

“Kita bisa rekrut dari luar,” kata Papa, “tapi waktunya mepet. Kita butuh orang dalam. Orang yang ngerti standar Harrison.”

Enam bulan lalu, Papa sudah menawarkan posisi itu kepadaku. Aku menolak. Aku bilang aku tidak mau meninggalkan Jakarta. Aku tidak bilang alasannya: karena di Jakarta ada studio kecil di atas toko fotokopi yang tidak bisa kulihat dari Bali.

Aku mengangkat tangan.

Semua kepala di ruang rapat menoleh. Om Daniel. Direktur keuangan. Direktur pemasaran. Papa, yang berhenti bicara di tengah kalimat.

“Aku yang pergi,” kataku.


“Kamu gila,” kata Tasya.

Kami di kantorku, dua jam kemudian. Tasya berdiri di depan mejaku dengan tangan di pinggang, dalam pose yang biasanya ia pakai untuk memarahi vendor yang terlambat.

“Enam bulan, Mon. Bali. Tebing. Hotel yang belum jadi.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak bisa nyetir mobil manual.”

“Ada sopir.”

“Kamu takut kecoak, dan Bali itu surga kecoak.”

“Aku bakal belajar.”

“Kenapa?” Tasya menurunkan tangannya dari pinggang. “Kenapa sekarang? Kenapa tiba-tiba?”

Aku menatap jendela. Di luar, Jakarta siang hari, abu-abu dan panas, dengan gedung-gedung yang berkilat di bawah matahari.

“Karena aku pintunya, Tas,” kataku.

Tasya diam.

“Dia bilang di hari pertama. Kamu Harrison. Setiap lihat kamu, aku lihat pintu itu.“ Aku menatap tanganku. “Aku pikir aku bisa bikin dia lihat pintu lain. Aku pikir kalau aku kirim bunga cukup banyak, kalau aku masak cukup banyak, kalau aku cukup... aku. Tapi ternyata aku cuma bikin pintu yang baru. Pintu yang isinya rekaman. Pintu yang isinya aku cerita ke semua orang kalau dia hancur.”

“Mon...”

“Selama aku di sini, dia nggak bisa sembuh.” Suaraku tetap tenang. Aku sudah berlatih kalimat ini sejak Minggu malam. “Aku di Harrison Grand. Villa punyaku. Keluargaku keluarga Zara. Ibu Ervan manggil aku Nduk. Ke mana pun dia lihat, ada aku. Ada Harrison. Ada pintu.”

“Kamu mau pergi supaya dia nggak perlu lihat kamu?”

“Aku mau pergi supaya dia punya ruang buat sembuh tanpa aku ngalangin.” Aku menatap Tasya. “Dia udah nangis, Tas. Akhirnya. Di pangkuan ibunya. Bu Laras bilang dia nggak ngetuk pintu mana pun malam itu. Dia udah mulai. Aku nggak mau jadi alasan dia berhenti lagi.”

Tasya menatapku lama. Aku melihat ia ingin membantah. Aku melihat seribu argumen di belakang kacamata bulatnya, tersusun rapi seperti poin-poin di spreadsheet.

Ia tidak mengatakan satu pun.

“Villa-nya?” tanyanya akhirnya.

“Kamu yang pegang. Kamu jadi PIC. Kontraknya atas nama kamu, kan? Pihak pertama.” Aku tersenyum. Senyumku terasa seperti kertas basah. “Kebetulan yang sangat berguna.”


Mama tidak marah. Itu yang paling menakutkan.

Aku menceritakannya di taman belakang rumah Permata Hijau, Selasa sore, di bawah pergola anggrek, di tempat Mama pernah berbicara dengan Ervan tentang niatnya. Mama mendengarkan sambil memotong daun anggrek yang menguning dengan gunting kecil, satu per satu, dengan presisi seorang ahli bedah.

Ketika aku selesai, Mama meletakkan guntingnya.

“Kamu tanya dia?” kata Mama.

“Tanya apa?”

“Kamu tanya dia, mau kamu pergi atau nggak?”

Aku terdiam.

“Kamu bilang ke Tasya, masalahmu itu nggak pernah nanya. Kamu nggak nanya dia mau kamu kejar atau nggak. Kamu nggak nanya dia mau kamu masuk dapur ibunya atau nggak.” Mama menatapku. Mata Harrison yang tidak pernah bisa kubohongi. “Sekarang kamu mutusin pergi. Enam bulan. Ke Bali. Dan kamu juga nggak nanya dia.”

“Dia bilang berhenti, Ma.”

“Berhenti ngejar,” kata Mama. “Bukan berhenti ada.”

Kalimat itu menampar lebih keras dari tamparan mana pun.

“Kamu masih nggak pakai rem, Monic,” kata Mama lembut. “Kamu cuma ganti arah. Tadinya ngebut ke dia. Sekarang ngebut menjauh. Tapi tetap nggak nanya. Tetap mutusin sendiri apa yang baik buat dia.”

“Kali ini beda, Ma.”

“Bedanya apa?”

“Kali ini aku yang sakit,” kataku. Suaraku akhirnya pecah. “Bukan dia. Kali ini yang ngalah aku. Itu beda.”

Mama menatapku lama sekali. Lalu ia mengambil guntingnya lagi dan memotong satu daun anggrek yang menguning.

“Itu yang dia lakukan, kan?” kata Mama pelan, ke daun anggrek. “Di rumah Daniel. Minta maaf. Pamit. Ngalah. Supaya yang lain nggak perlu sakit.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Dan kamu bilang di rumah Opa, itu artinya dia hancur.” Mama meletakkan daun anggrek itu di keranjang kecil di kakinya. “Hati-hati, Nak. Kebaikan yang salah tempat itu kadang lebih nyakitin dari kekejaman.”

Aku pergi dari rumah Permata Hijau malam itu tanpa mengubah keputusanku.

Karena aku masih tidak pakai rem. Mama benar. Aku hanya ganti arah.


Aku datang ke dapur Bu Laras hari Sabtu. Sabtu ketiga belas. Sabtu terakhir.

Aku datang pukul tujuh pagi, lebih pagi dari biasanya. Ervan berangkat ke Puncak pukul lima, kata Bu Laras di telepon. Pemasangan kaca jendela.

Bu Laras membukakan pagar hijau yang catnya mengelupas sebelum aku sempat mengetuk. Ia memakai celemek bermotif bunga-bunga oranye. Di tangannya, celemek yang satu lagi. Celemek yang kupakai dua belas Sabtu. Celemek yang sama yang kupakai di hari kue lapis mendung.

Ia menyerahkannya kepadaku. Aku tidak menerimanya.

“Bu,” kataku. “Aku mau pamit.”

Bu Laras menatapku. Celemek itu menggantung di udara di antara kami.

“Aku ke Bali. Dua minggu lagi. Enam bulan. Kerja.” Aku sudah berlatih kalimat ini di mobil sepanjang tol. Semuanya keluar dengan rapi. Seperti laporan teknis. “Villa-nya Tasya yang pegang. Aku nggak bakal ke Puncak lagi. Aku nggak bakal ke Tebet lagi. Aku...”

“Kenapa?”

“Supaya dia bisa sembuh, Bu. Tanpa aku di mana-mana.”

Bu Laras tidak menjawab. Ia menarik tanganku masuk, seperti di hari pertama, seperti di hari kue lapis, dan mendudukkanku di kursi makan. Kursi yang sama tempat Ervan duduk menontonku menenggelamkan sendok.

Ia menyeduh teh. Terlalu manis. Ia meletakkannya di depanku.

“Diminum,” katanya.

Aku meminumnya.

“Kamu mirip dia,” kata Bu Laras.

“Siapa, Bu?”

“Ervan.” Bu Laras duduk di seberangku. “Dia juga gitu. Pamit. Pergi. Supaya yang lain nggak perlu sakit. Dia pamit ke keluarga kakakmu, eh, sepupumu, dengan cara yang sama. Bawa gambar gazebo. Minta maaf. Bilang dia harus pergi supaya bisa baik.” Ia menggeleng pelan. “Ibu nggak ngerti anak-anak zaman sekarang. Kenapa semuanya mikir pergi itu obat.”

“Bu...”

“Bapaknya Ervan nggak pernah pergi.” Bu Laras menatap lemari rotan. “Mbah tolak dua kali. Dia balik tiga kali. Kalau dia pergi setelah yang kedua, Ervan nggak akan ada.”

Aku menunduk ke cangkir teh.

“Tapi Ibu nggak bisa larang kamu, Nduk,” kata Bu Laras akhirnya. Suaranya lembut dan lelah. “Kamu bukan anak Ibu. Belum.”

Belum.

Aku menangis ke dalam teh manis.


Kami memasak bersama untuk terakhir kalinya. Bukan dari buku resep Bapak. Bu Laras bilang hari ini tidak pakai buku. Hari ini, kami masak yang tidak ada resepnya.

“Kue lapis,” kata Bu Laras. “Yang pertama kali kamu bikin. Yang sendoknya tenggelam.”

Kami membuat kue lapis. Sembilan lapis. Merah muda dan putih. Aku tidak menenggelamkan sendok. Aku tidak bersin. Tanganku tidak gemetar. Aku menuang adonan tipis-tipis, pelan, seperti memberi perhatian kepada orang yang sedang ngambek.

Ketika kue itu jadi, Bu Laras memotongnya dan menaruh satu potong di piring bergambar ayam jago. Ia tidak memakannya. Ia menaruhnya di tengah meja.

“Buat dia,” kata Bu Laras. “Nanti sore.”

“Jangan bilang dari aku, Bu.”

“Ibu nggak akan bilang.” Bu Laras menatapku. “Tapi dia bakal tahu.”


Sebelum pergi, aku mengeluarkan tiga benda dari tasku dan meletakkannya di meja makan.

Yang pertama, amplop berwarna gading. Tebal. Tanpa nama. Empat lembar, bolak-balik, dilipat tiga. Aku belum membukanya sejak malam di tangga besi. Aku tidak bisa. Tapi aku juga tidak bisa membuangnya.

“Ini surat, Bu,” kataku. “Buat dia. Tapi jangan dikasih.”

Bu Laras menatap amplop itu, lalu menatapku dengan dahi berkerut.

“Kecuali dia nanya,” kataku. “Kalau suatu hari dia nanya kenapa. Kalau suatu hari dia mau tahu dari kapan. Cuma kalau dia nanya, Bu. Kalau dia nggak nanya, biarin di laci. Selamanya juga nggak apa-apa.”

Yang kedua, satu tangkai bunga matahari. Aku membelinya pagi tadi dari Mas Joko, satu tangkai, bukan sebelas. Dibungkus kertas cokelat dan tali rami, seperti biasa. Dengan satu kartu kecil terselip di antara daunnya.

Hari 95. Ini yang terakhir. Bukan buat ngejar. Aturan tiga masih berlaku, dan aku masih nurut. Ini buat pamit.

Kamu bukan berlian. Kamu bukan piala. Kamu bukan “nya”. Kamu orang yang minta maaf buat luka yang bukan buatannya.

Semoga suatu hari ada orang yang bikin kamu nggak perlu minta maaf lagi. Kalau orangnya bukan aku, aku tetap seneng. Beneran. Itu yang aku pelajari di dapur ibumu.

Makan.

“Ini boleh dikasih,” kataku. “Hari ini. Kapan aja.”

Yang ketiga, celemek. Celemek yang Bu Laras sodorkan di teras tadi, yang tidak kuterima. Aku melipatnya rapi dan meletakkannya di samping bunga matahari.

“Ini punya Ibu,” kataku.

Bu Laras mengambil celemek itu. Ia membukanya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia berdiri, berjalan memutari meja, dan memakaikannya kepadaku. Melingkarkan talinya di pinggangku. Mengikatnya di belakang dengan simpul pita. Menepuk-nepuknya dua kali, seperti menepuk punggung.

“Ini punyamu,” kata Bu Laras. “Ibu udah bilang dari Sabtu pertama. Kamu aja yang nggak dengar karena alarm asapnya bunyi.”

Aku memeluknya.

Aku memeluk perempuan berumur lima puluh lima tahun yang bau pandan dan gula merah dan santan, di dapur kecil dengan jendela yang menghadap kebun pisang tetangga, dengan celemek bermotif bunga-bunga oranye yang pudar melekat di tubuhku. Aku memeluknya seperti Kayla memelukku di kafe Cikini, seperti Tante Ratna memeluk kaki Ervan di ruang tengah. Seperti memeluk tiang di tengah banjir.

“Makasih, Bu,” kataku ke bahunya. “Makasih udah ngajarin aku masak. Makasih udah cerita soal tuyul. Makasih udah...” Suaraku habis. “Makasih udah manggil aku Nduk.”

Bu Laras menepuk punggungku. Dua kali. Tidak bilang apa-apa. Aku bisa merasakan bahunya bergetar.


Pak Harun menungguku di depan musala di ujung gang. Seperti biasa. Seperti tiga belas Sabtu.

Aku berjalan dari pagar hijau ke ujung gang, memakai celemek oranye pudar di atas blus putihku, karena aku lupa melepasnya dan tidak mau melepasnya. Mang Ujang di warung seberang mengangkat tangan. Tiga tukang ojek mengangguk. Aku mengangguk balik.

Di tengah gang, aku berhenti.

Aku tidak mau berhenti. Aku sudah bilang pada diriku sendiri untuk tidak menoleh. Truk tanpa rem, yang akhirnya belajar memasang rem, seharusnya bisa berjalan lurus sampai ke ujung jalan tanpa menoleh.

Aku menoleh.

Rumah kecil dengan pagar hijau yang catnya mengelupas. Pot-pot bunga kertas di teras. Kursi rotan. Dan di samping teras, jendela kecil yang menghadap ke gang. Jendela kamar Ervan. Aku tahu, karena Bu Laras pernah menunjukkannya kepadaku di Sabtu kedua, dari dapur, sambil bercerita tentang remote dan tuyul. Itu kamarnya. Jendelanya ngadep timur. Bapaknya yang pindahin.

Di balik kaca jendela itu, di atas sesuatu yang pasti meja gambar, ada sebatang bunga matahari di dalam gelas.

Aku menyipitkan mata. Dari jarak dua puluh meter, dari tengah gang, aku tidak bisa melihat jelas. Tapi aku bisa melihat bentuknya. Kepala bunga yang bundar. Kelopak kuning di tepinya.

Dan bagian belakangnya.

Kepala bunga itu tidak menghadap ke jendela. Tidak menghadap ke gang. Tidak menghadap ke timur, ke arah matahari pagi yang sekarang jatuh ke kaca. Aku hanya bisa melihat punggungnya: kelopak hijau di belakang kepala bunga, dan batang yang melengkung.

Bunga itu menghadap ke dalam. Ke dinding.

Seseorang telah memutarnya. Membelakangi cahaya.

Aku berdiri di tengah gang, dengan celemek oranye pudar dan tangan kosong, dan menatap punggung bunga matahari itu sampai mataku terlalu basah untuk melihat apa pun.

Lalu aku berbalik, dan berjalan ke ujung gang, dan masuk ke mobil.

“Jalan, Pak,” kataku.

Pak Harun tidak bertanya apa-apa. Ia menyalakan mesin, dan mobil itu mundur pelan dari depan musala, dan belok, dan meninggalkan Ciledug.

Aku tidak menoleh lagi.

Aku tidak tahu, pagi itu, bahwa bunga di balik jendela itu sudah diputar menghadap dinding tiga minggu sebelumnya, di malam aku mengirim kata oke. Aku tidak tahu bahwa laki-laki yang memutarnya melakukannya bukan karena ia ingin membelakangi cahaya, tapi karena ia takut melihat ke mana hatinya sudah menghadap.

Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya tahu apa yang kulihat dari tengah gang, dan aku memutuskan sendiri artinya.

Seperti biasa. Tanpa bertanya.