← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twelve

Video yang Dihapus

POV: Ervan

Kayla: Kak. Aku mau ketemu. Sebentar aja.
Kayla: Aku janji nggak bawa gimbal.

Pesan itu masuk hari Jumat pagi, di antara kurir bunga matahari pukul sembilan lewat lima belas dan telepon dari klien Bintaro yang ingin mengganti warna genteng untuk ketiga kalinya. Aku membacanya di tangga besi studio, dengan buket di satu tangan dan ponsel di tangan lain.

Aku tidak bertemu Kayla sejak sore di rumah Om Daniel. Lima minggu. Ia mengirim pesan beberapa kali, pendek-pendek, stiker kucing, foto Bruno yang tidur di bawah pohon mangga di taman belakang, tempat gazebo itu nanti akan dibangun. Aku membalas semuanya. Pendek-pendek juga. Aku tidak tahu harus bilang apa kepada adik perempuan yang pernah kugendong di punggung di pantai Anyer dan yang sekarang, setiap kali melihatku, pasti ingat apa yang ia lihat lewat lensa kameranya.

Ervan: Di mana?

Kayla: Kafe depan kampusku. Jam 4. Aku traktir. Pakai uang jajan dari Papa, jadi secara teknis Papa yang traktir, jadi jangan nolak.


Kampus Kayla ada di Cikini, sekolah seni dengan gedung-gedung tua bercat putih yang dindingnya penuh mural dan poster pementasan teater. Kafe di depannya kecil, dengan kursi-kursi kayu yang tidak serasi dan dinding bata ekspos yang ditempeli foto-foto film hitam putih. Musiknya jazz. Pelayannya berambut biru.

Kayla sudah duduk di sudut, di meja dekat jendela. Aku melihatnya dari luar sebelum ia melihatku, dan aku berhenti di trotoar.

Ia lebih kurus. Pipinya yang dulu bulat, yang dulu suka dicubit Tante Ratna sampai Kayla menjerit, sekarang sedikit cekung. Ada lingkaran gelap di bawah matanya, bukan yang bisa disembunyikan dengan bedak. Ia memakai hoodie abu-abu kebesaran dan memegang gelas es kopi dengan dua tangan, memandangi keluar jendela ke arah yang salah.

Aku masuk. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Kayla menoleh, dan wajahnya melakukan sesuatu yang rumit: senang, lalu takut, lalu senang lagi, seperti kamera yang fokusnya bergeser-geser.

“Kak.”

“Kay.”

Ia berdiri, lalu tidak tahu harus berbuat apa dengan dirinya. Dulu ia akan melompat dan memelukku sampai aku hampir jatuh. Sekarang ia berdiri kaku di samping meja, tangan meremas ujung hoodie.

Aku membuka tangan.

Kayla melangkah maju dan menubrukku, dahinya membentur dadaku, tangannya melingkar di pinggangku dan mencengkeram kemejaku dari belakang. Ia tidak menangis. Ia hanya diam di sana, bernapas, selama lima detik yang panjang.

“Kakak wangi bunga,” katanya ke kemejaku.

“Kena serbuk sari.”

“Bunga matahari?”

“Kok tahu?”

Ia melepaskan pelukan dan menatapku dengan mata Harrison yang, untuk pertama kalinya sejak aku masuk, berbinar sedikit. “Aku tahu banyak, Kak,” katanya misterius, lalu duduk. “Pesan dulu. Terus aku mau kasih sesuatu. Dua sesuatu.”


Sesuatu yang pertama dikeluarkan dari tas ransel kanvasnya, dan aku langsung mengenalinya dari bentuknya sebelum Kayla meletakkannya di meja.

Kotak plastik bertutup biru. Merek yang sama yang dipakai Tante Ratna untuk semua hal di dapurnya. Kotak yang dulu setiap Minggu malam dibungkuskan untukku waktu aku pamit pulang, buat sarapan besok, Nak.

Kayla mendorongnya ke arahku.

“Dari Mama,” katanya. “Diam-diam. Papa nggak tahu. Kak Zara juga nggak tahu.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Mama masih masak tiap Minggu,” lanjut Kayla. Ia memutar-mutar sedotan di gelas kopinya. “Rendang. Dua hari. Kayak biasa. Terus Minggu malam dia sisihin satu potong yang paling besar di piring kiri. Terus dia lihat piring itu. Terus dia nangis.” Sedotan itu berputar lebih cepat. “Terus Papa, supaya rendangnya nggak kebuang, makan dua porsi. Tiap Minggu. Lima minggu.”

“Om Daniel...”

“Naik tiga kilo, Kak.” Kayla menatapku dengan wajah serius. “Celana kerjanya udah nggak muat. Kemarin dia pakai celana olahraga ke rapat direksi, di bawah meja, terus ketahuan Om Richard. Om Richard ketawa sampai batuk. Papa ngambek dua hari.”

Aku tidak tahu apakah aku harus tertawa atau tidak. Rasanya seperti ada dua hal yang berusaha keluar dari dadaku di saat bersamaan, dan keduanya tersangkut di tenggorokan.

“Mama bilang,” kata Kayla lebih pelan, “Kakak nggak usah bales. Nggak usah telepon. Nggak usah datang. Mama cuma pengin Kakak makan. Itu aja.”

Aku membuka tutup kotak itu. Bau santan dan cabai dan kelapa sangrai yang dimasak dua hari naik ke udara, dan dalam sekejap aku bukan di kafe di Cikini. Aku di meja makan di Pondok Indah, Minggu malam, dengan piring di sisi kiri dan Om Daniel yang bercerita tentang manajer hotel di Medan yang ketahuan menjual handuk hotel di pasar, dan Tante Ratna yang tertawa sampai kerudungnya miring.

Aku menutup kotak itu lagi. Pelan.

“Bilang ke Tante,” kataku. Suaraku tidak rapi lagi. “Bilang... makasih. Bilang aku makan.”

“Kakak janji makan?”

“Janji.”

Kayla mengangguk. Lalu ia menatapku dengan alis berkerut. “Kakak sadar nggak, itu pertama kalinya Kakak janji sesuatu ke keluargaku sejak... sejak itu?”

Aku tidak sadar. Aku menatap kotak bertutup biru itu dan tidak tahu harus bilang apa.


Sesuatu yang kedua adalah ponselnya.

Kayla meletakkannya di meja, layar menghadap ke atas, dan aku merasakan tubuhku menegang sebelum otakku sempat memberi perintah. Ponsel yang sama. Casing bening dengan stiker kecil bergambar kamera film di pojoknya. Ponsel yang tanda REC-nya berkedip merah di koridor lantai dua puluh tiga.

“Kak,” kata Kayla. “Aku harus kasih tahu sesuatu. Waktu itu, di mobil, Kakak bilang terserah kamu, itu ponselmu.“

Aku ingat.

“Aku mikir lama banget,” katanya. “Seminggu. Aku buka video itu tiap malam. Nggak aku tonton. Cuma aku buka, aku lihat thumbnail-nya, terus aku tutup lagi. Aku takut kalau aku hapus, aku kayak... ngilangin bukti. Kayak aku belain Kak Zara. Tapi kalau aku simpan...”

Ia membuka galeri foto. Menggulirnya ke tanggal malam itu, lima minggu yang lalu. Di sana ada foto-foto biasa: foto selfie Kayla dengan kaus hitam dan topi hitam di lobi apartemen, foto pantulan lift, foto buket mawar merah dari jarak dekat, dan satu video berdurasi dua menit empat belas detik.

Hanya satu.

“Dulu ada dua,” kata Kayla. “Yang panjang udah aku hapus. Yang di dalem. Yang... itu.”

Ia membuka folder Baru Dihapus. Kosong. Ia membuka aplikasi penyimpanan awan. Kosong juga di tanggal itu.

“Aku hapus dari semua tempat,” katanya. “Galeri. Sampah. Cloud. Laptop. Harddisk kampus yang dulu buat backup tugas akhir. Semuanya. Nggak ada yang pernah nonton. Nggak Papa. Nggak Mama. Nggak Kak Zara. Nggak aku.” Ia menarik napas. “Biar nggak ada orang yang pernah lihat Kakak kayak gitu. Termasuk aku.”

Aku menatap folder kosong itu.

Aku tidak tahu kenapa ini yang membuat dadaku sakit. Bukan pintu, bukan selimut putih, bukan senyum yang terlambat hilang. Tapi folder kosong di ponsel adik perempuan yang lima minggu lalu masih menulis shot list dengan huruf kapital dan tanda seru. Anak dua puluh dua tahun yang menghapus sesuatu dari lima tempat berbeda supaya tidak ada yang pernah melihat seorang laki-laki berdiri membeku di ambang pintu kamar.

Supaya aku tetap utuh. Setidaknya di mata orang lain.

“Kay,” kataku. Aku tidak bisa melanjutkan.

“Yang ini,” kata Kayla, menunjuk video dua menit empat belas detik yang tersisa, “aku nggak bisa hapus. Aku nggak tahu kenapa. Aku mau Kakak yang putusin.”

Ia menekan tombol putar.


Video itu dimulai dengan goyangan kecil, kamera yang baru dinyalakan. Lalu gambar stabil. Koridor lantai dua puluh tiga, karpet tebal, lampu dinding berwarna kuning hangat. Dan di tengah koridor, di depan pintu 2307, seorang laki-laki berdiri membelakangi kamera.

Kemeja putih. Jas abu-abu yang sedikit kebesaran di bahu. Buket mawar merah di tangan kanan.

Shot satu, bisik suara Kayla dari balik kamera. Tarik napas, Kak.

Laki-laki itu menarik napas. Bahunya naik, lalu turun. Lalu tangan kirinya bergerak ke saku kiri jasnya, menyentuh sesuatu di sana, memastikan. Lalu, entah kenapa, ia menoleh sedikit ke arah kamera, ke arah Kayla, dan tersenyum.

Senyum yang lebar, gugup, bodoh. Senyum orang yang berdiri di tepi kolam renang yang airnya dingin dan tahu ia akan tetap melompat.

Aku tidak mengenali laki-laki itu.

Aku tahu itu aku. Aku ingat kemejanya, jasnya, buketnya. Aku ingat napas itu. Tapi aku tidak mengenali senyumnya. Aku tidak ingat pernah tersenyum seperti itu. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku merasa seperti itu: begitu yakin, begitu penuh, begitu tidak takut pada apa yang ada di balik pintu.

Di layar, laki-laki itu berbalik ke pintu dan mengangkat tangan ke panel kunci. Lalu videonya berhenti. Dua menit empat belas detik. Sebelum passcode ditekan. Sebelum pintu terbuka.

Kayla memotongnya di sana. Dengan sengaja.

Di kafe kecil di Cikini, musik jazz berganti lagu. Pelayan berambut biru meletakkan dua piring roti bakar yang tidak kupesan. Aku terus menatap layar ponsel yang sekarang membeku di bingkai terakhir: punggung seorang laki-laki di depan pintu, tangan terangkat.

“Kak?” bisik Kayla.

“Jangan dihapus,” kataku.

Kayla menatapku.

“Yang ini jangan dihapus.” Aku mendorong ponsel itu kembali ke arahnya, pelan. “Simpan. Biar ada yang ingat aku pernah seberani itu.”

Mata Kayla penuh. Ia mengangguk, menarik ponselnya, dan memeluknya di dada seperti malam itu di mobil. Tapi kali ini bukan seperti memeluk sesuatu yang bisa meledak. Kali ini seperti memeluk sesuatu yang berharga.


Kami makan roti bakar. Kayla bercerita tentang tugas akhirnya, film pendek tentang seorang kakek yang menjual layangan di bawah jembatan layang, dan tentang dosen pembimbingnya yang selalu bilang ceritanya terlalu sentimental.

“Aku bilang ke dia, Pak, hidup emang sentimental. Dia nggak suka.” Kayla menggigit roti bakar. “Nilaiku kayaknya bakal B.”

Aku tertawa. Kayla berhenti mengunyah dan menatapku dengan mata terbelalak.

“Kakak ketawa.”

“Masa?”

“Kakak ketawa, Kak.” Ia menunjukku dengan roti bakar. “Wah. Wah. Kak Monic hebat juga.”

Aku berhenti tertawa. “Kenapa Monic?”

Kayla menutup mulut. Terlambat. Ia menatap roti bakarnya dengan ekspresi orang yang baru saja menjatuhkan sesuatu yang tidak bisa diambil lagi.

“Kay.”

“Nggak ada apa-apa.”

“Kamu yang ngasih tahu dia soal mawar,” kataku. Aku sudah menduganya sejak hari pertama, sejak kartu Hari 1 yang bertuliskan ini bukan mawar. “Dan soal aku suka makan apa aja yang dimasak orang lain.”

Kayla meletakkan roti bakarnya. Ia menatapku lama. Lalu ia menarik napas panjang dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, seperti orang yang akan bersaksi di pengadilan.

“Kak,” katanya. “Aku nggak tahu seberapa banyak yang boleh aku bilang. Tapi aku mau Kakak tahu satu hal. Satu aja.”

“Apa?”

“Kak Monic udah suka Kakak lama.”

Aku menatapnya.

“Bukan sebulan,” kata Kayla. “Bukan sejak Kakak putus. Lama. Sebelum Kak Zara.”

“Itu nggak mungkin.”

“Kenapa nggak mungkin?”

“Aku baru kenal dia sebulan, Kay. Sebelumnya aku cuma lihat dia dua kali, tiga kali, dari jauh, di acara keluarga. Dia nggak pernah datang. Zara bilang dia sombong.” Aku menggeleng. “Sebelum Zara, aku nggak kenal siapa pun di keluarga Harrison kecuali Om Richard. Dan itu urusan kerja. Renovasi ballroom.”

Kayla tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan ekspresi yang aneh, seperti sutradara yang sedang menunggu aktornya menyadari sesuatu yang sudah tertulis di naskah.

“Kak Monic yang bilang,” katanya akhirnya. “Dari lama. Sebelum Zara. Itu kata-katanya. Aku nggak tahu detailnya. Sumpah. Aku nggak nanya, soalnya waktu itu jam satu pagi dan aku lagi nangis.” Ia mengangkat bahu. “Tapi Kak Monic nggak bohong, Kak. Dia bisa sombong, dia bisa galak, dia bisa bikin tamu hotel nangis. Tapi dia nggak pernah bohong. Dari kecil. Waktu dia pecahin vas Oma, dia yang ngaku duluan sebelum ada yang nanya.”

Aku diam.

Sebelum Zara.

Aku mencoba mengingat. Sungguh-sungguh mencoba, seperti menelusuri gambar kerja lama untuk mencari satu garis yang salah. Renovasi ballroom Harrison Grand. Tiga tahun lalu. Delapan bulan pengerjaan. Rapat-rapat dengan Om Richard dan tim teknik hotel. Pesta pembukaan, ulang tahun pernikahan emas Opa dan Oma. Aku memakai batik yang dibeli sehari sebelumnya. Aku berdiri di dekat pilar, tidak tahu harus bicara dengan siapa.

Oma mengajakku bicara. Aku ingat itu, samar. Oma yang ramah, yang menepuk pipiku. Aku tidak ingat apa yang kami bicarakan.

Lalu listrik padam. Genset macet. Aku berlari ke basement. Aku main piano. Satu lagu. Satu-satunya lagu yang Bapak ajarkan sebelum ia meninggal.

Lalu, jam satu dini hari di parkiran, seseorang mengembalikan obengku.

Aku berusaha mengingat wajahnya. Aku tidak bisa. Parkiran itu gelap, lampunya mati sebagian karena listrik baru pulih. Aku ingat suara sepatu hak di aspal. Aku ingat tangan yang mengulurkan obeng. Aku ingat aku bilang terima kasih dan sesuatu tentang takut dan cuma hafal satu lagu, dan aku ingat merasa malu karena mengatakan hal sebodoh itu kepada orang asing. Mungkin staf event organizer. Mungkin tamu. Aku bahkan tidak ingat apakah ia perempuan atau laki-laki, hanya suaranya, rendah, sedikit serak...

Rendah. Sedikit serak.

“Kak?” Kayla melambaikan tangan di depan wajahku. “Kakak kenapa? Kayak lagi ngitung struktur.”

“Nggak,” kataku. Aku menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.”

Itu tidak mungkin. Aku mengusir pikiran itu seperti mengusir uap dari kap mobil. Ribuan orang di Jakarta punya suara rendah dan sedikit serak. Itu hanya kebetulan. Seperti jendela yang menghadap timur. Seperti kalimat tentang matahari dan alarm.

Terlalu banyak kebetulan.


Aku mengantar Kayla sampai gerbang kampus. Sebelum masuk, ia berbalik.

“Kak. Satu lagi.”

“Apa lagi?”

“Kak Zara pindah dari apartemen. Balik ke rumah.” Kayla menatap ujung sepatunya. “Cowok itu... Kenzo... udah nggak bales pesan Kak Zara sejak minggu kedua. Kak Zara sekarang kerja sampai malam terus. Pulang langsung ke kamar. Nggak ngomong sama siapa-siapa.”

Aku menatapnya. “Dia baik-baik aja?”

Kayla mengangkat kepala dengan cepat. Matanya menyala, dan untuk pertama kalinya aku melihat kemarahan di wajahnya. Bukan kepadaku. Tapi karena aku.

“Kakak nanyain dia?” desisnya. “Setelah semuanya? Kakak masih nanyain dia baik-baik aja atau nggak?”

“Dia kakakmu, Kay.”

“Kakak juga kakakku!” Suaranya pecah. Beberapa mahasiswa yang lewat menoleh. Kayla tidak peduli. “Kakak juga kakakku, dan nggak ada yang nanyain Kakak baik-baik aja atau nggak, kecuali Kak Monic yang ngirim bunga tiap hari kayak orang gila!”

Ia berbalik dan berlari masuk ke gerbang kampus, hoodie abu-abunya berkibar, sebelum aku sempat berkata apa-apa.

Aku berdiri di trotoar di depan gedung-gedung putih penuh mural, memegang kotak plastik bertutup biru yang berisi rendang dua hari.


Di dalam mobil, aku tidak langsung menyalakan mesin.

Aku membuka laci dasbor yang tertutup separuh. Di dalamnya, di antara STNK, tisu, dan bungkus permen yang lupa dibuang, ada obeng. Gagang kuning, mata minus, ujungnya sudah agak aus. Obeng yang dibelikan Bapak waktu aku kelas lima SD, waktu aku membongkar radio tua di ruang tengah dan tidak bisa memasangnya kembali.

Obeng yang tiga tahun lalu tertinggal di atas panel genset di basement Harrison Grand, dan dikembalikan kepadaku di parkiran jam satu dini hari oleh seseorang yang wajahnya tidak kuingat.

Aku memegangnya lama.

Lalu aku mengeluarkan ponsel dan membuka catatan. Di sana, di catatan tanpa judul yang kubuat Rabu malam sepulang dari Kuningan dan tidak pernah kuhapus, ada enam angka.

170823.

Aku bilang kepadanya aku tidak mau tahu passcode siapa pun lagi. Lalu aku menyetir dari Kuningan ke Ciledug, dan di lampu merah pertama, sebelum aku sempat berpikir, aku sudah mengetik angka-angka itu di ponselku. Bukan untuk dipakai. Aku bersumpah bukan untuk dipakai. Hanya karena aku takut lupa, dan aku tidak tahu kenapa aku takut lupa sesuatu yang tidak akan pernah kupakai.

Satu. Tujuh. Nol. Delapan. Dua. Tiga.

Tujuh belas Agustus. Dua ribu dua puluh tiga.

Hari Kemerdekaan. Tentu saja. Gampang diingat. Perempuan yang bilang ia tidak pakai rem memang pantas memakai tanggal kemerdekaan sebagai kunci pintunya.

Aku menutup catatan itu, menyimpan obeng di laci, dan menyalakan mesin. AC-nya ngambek. Aku memukul dasbor dua kali.

Di jalan pulang, aku terus memikirkan pesta ulang tahun pernikahan emas Opa dan Oma tiga tahun lalu, dan mencoba mengingat tanggalnya.

Aku tidak bisa. Aku hanya ingat malam itu ada bendera merah putih kecil di setiap meja tamu.