← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Sixteen

Zara Mengetuk

POV: Ervan

Hari itu Selasa, dan aku tahu ada yang salah sejak dangdut di bawah berhenti.

Pak Tohir tidak pernah mematikan dangdutnya sebelum jam lima sore. Tidak saat hujan, tidak saat mati lampu, tidak saat ada razia pedagang kaki lima. Ia pernah memutar Ditinggal Rabi dengan pengeras suara portabel bertenaga baterai waktu listrik padam seharian, karena menurutnya “sunyi itu lebih berbahaya daripada gelap.”

Pukul delapan lewat empat puluh pagi, dangdutnya berhenti di tengah lagu.

Gilang mengangkat kepala dari layar komputer. “Van. Pak Tohir mati?”

Lalu kami mendengar langkah kaki menaiki tangga besi.

Bukan langkah kurir. Kurir datang pukul sembilan lewat lima belas, dan langkahnya ringan dan cepat, seperti orang yang terbiasa naik tangga dua puluh kali sehari. Bukan langkah Monica, yang sekarang sudah kukenali sebagai sepatu flat yang berhenti sebentar di anak tangga kelima, entah kenapa, setiap kali.

Langkah ini lebih berat. Hak tinggi. Pelan. Ragu-ragu. Berhenti di anak tangga ketiga. Lanjut lagi. Berhenti di anak tangga ketujuh.

Aku mengenalinya sebelum ia sampai di atas. Dua tahun. Aku mengenal langkah itu dari lorong apartemen di lantai dua puluh tiga, dari lobi kantor sales Harrison, dari teras rumah di Pondok Indah.

Pintu kaca buram diketuk. Satu kali. Keras.

Gilang berdiri. Aku mengangkat tangan menyuruhnya duduk.

“Masuk,” kataku.


Zara berdiri di ambang pintu dengan setelan kerja abu-abu gelap dan kemeja sutra putih, rambut disanggul rapi seperti biasa ia pakai untuk rapat klien. Dari jauh, ia terlihat seperti Zara yang dulu. Zara yang percaya diri, yang tertawa dengan kepala mendongak, yang menganggap semua orang yang minum kopi susu belum dewasa.

Dari dekat, ia terlihat seperti orang yang memakai kostum Zara yang dulu.

Setelannya kebesaran di bahu. Tulang pipinya lebih tajam. Riasannya tebal, terlalu tebal, dengan cara orang yang sedang menutupi sesuatu di bawah mata. Tangannya yang memegang tali tas mencengkeram terlalu erat sampai buku-bukunya memutih.

Ia menatapku. Mata Harrison. Cokelat keabuan, yang dulu berubah warna di bawah lampu kafe waktu kami bicara sampai tengah malam tentang segala hal.

Dadaku dingin. Tentu saja. Seperti air es yang dituang.

Tapi aku menunggu, dan aku menyadari sesuatu yang aneh: dingin itu tidak menyebar. Ia berhenti di tempatnya, di bawah tulang rusuk, dan diam di sana. Seperti batu di dasar sungai. Ada, berat, tapi tidak bergerak.

“Hai,” kata Zara.

“Hai.”

“Boleh masuk?”

Aku mengangguk. Ia masuk, dan matanya langsung bergerak ke seluruh ruangan dengan cara yang dulu selalu membuatku kagum, cara orang yang terbiasa menilai properti hotel dalam lima detik. Rak di dinding. Papan tulis dengan dua kolom hitungan. Dan vas-vas. Vas tanah liat, toples kerupuk, toples selai, gelas ukur, helm proyek yang dibalik. Semuanya penuh bunga matahari, sebagian segar, sebagian mulai merunduk.

Aku melihat wajahnya berubah. Pelan-pelan. Seperti gambar yang tintanya meluntur.

Matanya berhenti di pintu. Di balik pintu, di paku tempat dulu aku menggantung helm proyek, tergantung jaket bomber hitam.

Lalu matanya kembali kepadaku.

“Gilang,” kataku tanpa menoleh. “Beliin kopi di bawah.”

“Kita punya kopi sachet, Van.”

“Beliin kopi yang bukan sachet.”

Gilang berdiri, melirik Zara, melirikku, lalu keluar tanpa berkata apa-apa. Aku mendengar langkahnya turun tangga besi. Lalu berhenti. Lalu hening. Ia tidak turun sampai bawah. Ia duduk di tangga. Aku tahu, karena aku kenal Gilang.


Zara tidak duduk. Ia berdiri di tengah studio, di antara meja rapat yang kakinya goyang dan rak penuh bunga matahari, seperti orang yang tidak tahu apakah ia boleh menyentuh apa pun.

“Aku udah lama mau ke sini,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku nungguin di depan. Beberapa kali. Kamu lewat pintu belakang.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkannya dengan jujur. “Karena aku nggak tahu harus bilang apa.”

Ia tertawa. Pendek. Pahit. Tawa yang dulu mendongak, sekarang menunduk.

“Kamu selalu tahu harus bilang apa, Van. Selalu. Itu yang bikin aku gila.” Ia memutar tali tasnya di jari. “Kamu tahu harus bilang apa ke Papa waktu Papa marah soal hotel di Medan. Kamu tahu harus bilang apa ke Mama waktu Oma meninggal. Kamu tahu harus bilang apa ke Kayla waktu dia gagal festival. Kamu tahu harus bilang apa ke semua orang.” Suaranya bergetar. “Kecuali ke aku. Ke aku, kamu cuma bilang udah makan belum?“

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak ke sini buat nyalahin kamu,” katanya cepat. “Sumpah. Aku ke sini buat... aku ke sini...”

Ia berhenti. Lalu, pelan, ia berlutut.

Tidak dramatis. Tidak seperti Tante Ratna di ruang tengah. Ia hanya menekuk lututnya dan duduk di lantai studio yang berdebu, di atas lututnya sendiri, dengan setelan abu-abu mahal yang pasti akan kotor. Kepalanya menunduk. Tangannya di pangkuan.

“Maaf,” katanya ke lantai. “Maaf, Van. Aku salah. Aku jahat. Aku bodoh. Aku nggak tahu kenapa aku ngelakuin itu. Aku nggak tahu. Aku cuma... aku bosan, aku kesepian, aku ngerasa kamu terlalu... terlalu baik, dan aku ngerasa aku nggak pantas, dan daripada aku ngaku aku nggak pantas, aku cari orang yang bikin aku ngerasa lebih... lebih...”

Ia tidak menyelesaikannya. Bahunya mulai berguncang.

“Aku minta maaf,” katanya lagi. “Ke kamu. Yang seharusnya aku bilang dari awal. Bukan ke Papa, bukan ke Mama, bukan ke Opa. Ke kamu.”

Aku berdiri dari kursiku.

Aku berjalan ke arahnya, pelan, dan berjongkok di depannya, sehingga mata kami sejajar. Aku melihat maskaranya mulai luntur. Aku melihat bekas lipstik di giginya, kebiasaan lamanya kalau sedang gugup, menggigit bibir sampai lipstiknya pindah. Dulu aku selalu mengusapnya dengan ibu jari sebelum ia masuk ke rapat.

Aku tidak mengusapnya.

“Zara,” kataku. “Bangun.”

“Nggak.”

“Lantainya kotor.”

“Aku nggak peduli.”

“Aku peduli. Itu setelan kamu yang paling mahal. Yang kamu beli di Singapura.”

Ia mengangkat kepala dan menatapku dengan wajah yang hancur. “Kamu inget?”

“Aku inget semuanya,” kataku pelan. “Itu masalahnya.”


Aku membantunya berdiri. Aku mendudukkannya di kursi plastik di meja rapat, yang kakinya goyang. Aku mengambilkan tisu dari kotak di mejaku. Aku mengambilkan air putih dari galon, di gelas satu-satunya yang tidak berisi bunga matahari.

Zara memegang gelas itu dengan dua tangan, seperti Kayla memegang es kopi di kafe Cikini.

“Van,” katanya. “Aku mau nanya satu hal.”

“Tanya.”

“Masih ada kesempatan?”

Aku sudah menduga pertanyaan itu. Aku sudah menduganya sejak langkah hak tinggi berhenti di anak tangga ketiga. Mungkin aku sudah menduganya sejak lima puluh hari yang lalu, di rumah Om Daniel, waktu ia berdiri di anak tangga paling atas dengan kausku.

Aku memikirkannya. Aku memberinya hormat untuk memikirkannya sungguh-sungguh, karena ia sudah berlutut di lantai studioku yang kotor dengan setelan dari Singapura.

Aku mencari di dadaku. Di bawah tulang rusuk, di tempat batu dingin itu diam. Aku mencari sisa-sisa sesuatu. Rindu. Cinta. Marah. Apa saja yang masih hidup, yang bisa dijadikan alasan untuk bilang mungkin.

Batu itu hanya batu. Dingin, berat, dan diam.

Di sekitarnya, tidak ada apa-apa lagi yang namanya Zara.

“Nggak, Zara,” kataku.

Ia menutup mata.

“Bukan karena aku marah,” lanjutku. “Aku nggak marah. Aku udah coba marah. Aku nggak bisa. Mungkin kamu bener, mungkin aku emang tembok.” Aku menarik napas. “Tapi aku nggak bisa balik ke rumah yang pintunya pernah aku buka dan... dan isinya itu. Setiap kali aku lihat kamu, aku lihat pintu itu. Bukan karena kamu. Karena aku. Aku yang nggak bisa lupa.”

“Kamu bisa belajar lupa.”

“Mungkin. Suatu hari.” Aku menatap tanganku. “Tapi waktu aku udah bisa lupa, aku rasa aku juga udah bukan orang yang pernah sayang sama kamu. Dua-duanya bakal hilang barengan.”

Zara menangis. Diam. Air matanya jatuh ke gelas air putih di tangannya.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya di sela-sela tangis. “Van. Jujur. Kamu baik-baik aja?”

Aku tersenyum. Senyum yang sudah kulatih.

“Aku baik-baik saja,” kataku. “Kamu juga harus baik, Zara. Janji sama aku. Kamu harus baik.”


Pukul sembilan lewat lima belas, aku mendengar langkah kaki di tangga besi.

Bukan kurir.

Sepatu flat. Ringan. Berhenti sebentar di anak tangga kelima, entah kenapa.

Lalu terdengar suara Gilang, yang masih duduk di tangga, berbisik panik: “Mbak! Mbak Monic! Jangan naik dulu! Mbak, ada...”

Terlambat.

Tiga ketukan di pintu kaca buram. Pelan. Berjarak sama.

Zara mengangkat kepala dengan cepat. Aku melihat wajahnya menegang ketika mendengar ketukan itu, seperti ia mengenali sesuatu yang tidak ingin ia kenali.

Pintu terbuka.

Monica berdiri di ambang pintu dengan buket bunga matahari sebelas tangkai di tangan. Ia memakai blazer putih dan celana kulot biru tua, rambut digerai, dan senyum yang sudah terbentuk di wajahnya sebelum ia melihat siapa yang ada di dalam. Senyum miring yang lebih tinggi di sisi kiri. Senyum yang, aku sadari dengan kaget, sudah mulai kutunggu setiap pagi.

Lalu ia melihat Zara.

Senyumnya tidak langsung hilang. Aku melihatnya bertahan sepersekian detik, sama seperti senyum yang lain dulu, senyum di atas bantal yang terlambat hilang. Tapi yang ini berbeda. Yang ini tidak hilang karena ketahuan. Yang ini hilang karena sakit. Aku melihat sakit itu naik ke matanya, cepat sekali, lalu ditekan turun lagi dengan paksa.

Dua sepupu itu saling menatap.

Mata Harrison menatap mata Harrison. Dari jarak lima meter, di studio arsitek sempit di atas toko fotokopi, di antara vas-vas tanah liat berisi bunga matahari yang dikirim oleh salah satu dari mereka.

Aku melihat kedua wajah itu bergantian, dan untuk pertama kalinya aku melihat perbedaannya dengan jelas. Wajah yang sama. Tulang pipi yang sama, dagu yang sama, mata yang sama. Tapi Zara menatap Monica seperti orang yang menatap cermin yang retak. Dan Monica menatap Zara seperti orang yang menatap luka yang belum sembuh di tubuh orang lain.

“Pagi, Zara,” kata Monica. Suaranya tenang.

“Monic.”

Hening. Di bawah, Pak Tohir masih belum menyalakan dangdut.

Zara berdiri. Ia meletakkan gelas air di meja, merapikan setelan abu-abunya yang sekarang ada debu di lututnya, dan mengambil tasnya. Ia berjalan ke pintu. Ia berhenti di depan Monica, cukup dekat sehingga bahu mereka hampir bersentuhan.

Ia melihat buket bunga matahari di tangan Monica. Lalu ke rak di dinding. Lalu ke jaket bomber di balik pintu.

“Selamat, Monic,” katanya pelan. Sangat pelan, tapi di studio sekecil ini, semua orang mendengarnya. “Kamu dapet yang kamu mau.”

Monica tidak menjawab.

Zara menoleh kepadaku sekali lagi, dari ambang pintu. Matanya merah dan basah.

“Tanya dia,” katanya kepadaku, “apa yang dia bilang di rumah Opa.”

Lalu ia pergi. Hak tingginya menuruni tangga besi, cepat, tidak ragu-ragu lagi. Melewati Gilang yang masih duduk di tangga. Sampai ke bawah. Dan beberapa detik kemudian, dari toko fotokopi, dangdut menyala lagi. Keras. Lagunya tentang seseorang yang tersesat di tengah jalan.


Monica berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk. Buket di tangannya menunduk sedikit.

Aku melihat tangannya.

Tangannya gemetar. Tangan yang memegang bunga matahari. Aku melihat tangkai-tangkainya bergetar halus, seperti ada angin, padahal jendela studio tertutup. Aku melihat jari-jarinya mencengkeram kertas cokelat pembungkus sampai kertas itu kusut.

Aku belum pernah melihatnya gemetar. Tidak di hari pertama, waktu ia bilang ingin mendekatiku di depan Gilang yang tersedak. Tidak di rapat villa, tidak di tanjakan Puncak, tidak di bawah hujan waktu menahan terpal. Perempuan ini tidak pakai rem. Perempuan ini menghadapi tamu yang minta lihat bulan dan menemukan handuk ungu di seluruh Jakarta Selatan.

Dan sekarang tangannya gemetar.

Aku berjalan ke arahnya. Aku mengambil buket itu dari tangannya, pelan, supaya kelopaknya tidak rontok, dan meletakkannya di meja. Tangannya masih terangkat di udara, kosong, gemetar.

“Monic,” kataku. “Kamu baik-baik aja?”

Ia mengangkat kepala dan menatapku dengan mata yang, aku lihat sekarang, sudah penuh air sejak ia masuk dan ditahan mati-matian.

“Aturan nomor empat,” katanya. Suaranya kecil. “Berlaku buat dua orang?”

Aku ingat. Kalau kamu nggak baik-baik aja, kamu harus bilang jujur. Tulisan miring ke kanan di sudut buku sketsa.

“Berlaku,” kataku.

Ia menarik napas. Napasnya tersendat di tengah jalan.

“Nggak,” katanya. “Aku nggak baik-baik aja. Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu balik ke dia.” Air matanya jatuh. Satu. Ia tidak mengusapnya. “Aku tahu itu bukan hakku. Aku tahu aku nggak punya hak apa-apa. Tapi aku lihat dia di sini, di kursi itu, nangis, dan aku lihat kamu ngambilin dia air putih, dan aku... aku takut, Van. Aku takut banget. Aku takut kamu terlalu baik buat bilang nggak.”

Aku menatapnya.

Perempuan yang mengumumkan perang. Perempuan yang mengirim bunga lima puluh hari berturut-turut. Perempuan yang memberiku passcode apartemennya dan tidak marah waktu aku menolaknya. Berdiri di ambang pintu studioku dengan tangan gemetar, takut.

Takut aku terlalu baik untuk bilang tidak.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tertawa. Pelan. Bukan karena lucu.

“Aku udah bilang nggak,” kataku.

Monica berhenti bernapas.

“Tadi. Sebelum kamu datang. Dia nanya masih ada kesempatan atau nggak. Aku bilang nggak.” Aku menatap ke arah kursi plastik tempat Zara tadi duduk. “Ternyata aku bisa bilang nggak. Aku juga kaget.”

Monica menatapku. Lama. Air mata kedua jatuh, lalu ketiga, dan ia tetap tidak mengusapnya.

“Aku nggak akan balik ke sana, Monic,” kataku. “Ke pintu itu. Nggak akan.”

Ia mengangguk. Lalu mengangguk lagi. Lalu, dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut berubah pikiran, ia maju satu langkah dan menempelkan dahinya di bahuku.

Hanya dahinya. Tangannya tetap di sisi tubuhnya. Ia tidak memelukku. Ia hanya bersandar di sana, dahi di bahu kiriku, dan aku merasakan napasnya yang tersendat-sendat menembus kemejaku.

Tanganku terangkat. Menggantung di udara di belakang punggungnya. Seperti di bedeng proyek. Tiga senti.

Kali ini tanganku tidak turun.

Aku meletakkannya di punggungnya. Pelan. Di antara tulang belikatnya. Tidak memeluk. Hanya meletakkan. Seperti meletakkan telapak tangan di dinding yang baru dicat, untuk memastikan ia sudah kering, sudah kuat, sudah boleh disentuh.

Monica berhenti gemetar.


Kami berdiri seperti itu entah berapa lama. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam lima puluh hari, aku tidak menghitung apa pun.

Lalu dari tangga, suara Gilang, tidak berbisik lagi.

“Van? Aku boleh naik? Kopinya udah dingin. Aku beliin tiga. Yang satu buat Mbak Monic. Yang satu buat aku. Yang satu buat Mbak Zara, tapi Mbak Zara udah pergi, jadi itu buat Mbak Tasya nanti.”

Monica menarik diri dari bahuku. Cepat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, dan ketika menurunkannya, ia tersenyum. Senyum yang berantakan, dengan mata merah dan hidung merah, tapi senyum.

“Naik, Lang,” kataku.

Gilang naik. Ia membawa tiga gelas kopi dalam nampan karton. Ia menatap Monica, menatapku, lalu menatap papan tulis di dinding.

Ia meletakkan nampan, mengambil spidol merah, dan dengan wajah sangat serius, menambahkan dua garis di kolom NGELIATIN MBAK MONIC.

Lalu ia berdiri di sana sebentar, memegang spidol, berpikir.

Dan di kolom baik-baik saja, ia mencoret garis yang paling baru. Satu coretan tegas, horizontal, dengan spidol merah.

“Itu tadi bohong,” katanya kepadaku. “Aku dengar dari tangga. Nggak dihitung.”