← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Forty One

Epilog: Tanpa Mengetuk

POV: Monica

Kaset itu punya dua sisi.

Aku menemukannya tiga tahun setelah pernikahan, di sebuah Minggu pagi di bulan Agustus, ketika Ervan sedang di Tebet mengawasi pemasangan papan nama baru untuk Studio Pratama. Papan nama dari kayu jati, dengan huruf-huruf timbul yang dipahat sendiri oleh Pak Karto dari Jepara, dan kali ini huruf u di kata Arsitektur tidak akan copot. Ervan sudah memastikannya. Ia menghitung kekuatan lemnya dua kali.

Aku sedang membersihkan ruang piano. Aku melakukannya setiap Minggu pagi, sejak kami pindah ke rumah ini sepenuhnya dua tahun lalu, sejak aku keluar dari Harrison Grand dan membuka biro konsultasi pengalaman tamu sendiri, yang kantornya adalah meja panjang di dapur dan kliennya adalah hotel-hotel butik di Bogor dan Bandung yang tidak mampu membayar tarif Harrison. Papa bilang aku gila. Mama bilang aku akhirnya waras. Opa, yang waktu itu delapan puluh empat tahun, mengirim empat puluh satu stiker kucing oranye.

Kaset itu ada di atas piano, seperti biasa, di atas penutup tuts, di tempat Bapak meletakkannya dua puluh tahun lalu. Label tulisan tangan yang tegak dan besar. Ervan tidak pernah memindahkannya. Ia bilang kaset itu bagian dari piano.

Aku mengangkatnya untuk mengelap debu di bawahnya.

Dan kaset itu terbalik di tanganku.

Sisi B.

Ada label di sisi B juga. Tulisan tangan yang sama. Aku belum pernah melihatnya, karena selama ini kaset itu selalu diletakkan dengan sisi A menghadap ke atas.

LAGU KEDUA. BUAT VAN. NANTI.

Aku duduk di bangku kayu yang permukaannya licin dan menatap label itu selama waktu yang sangat lama.


Butuh tiga bulan untuk menemukan pemutar kaset yang masih berfungsi.

Aku tidak memberitahu Ervan. Aku belajar dari dapur Bu Laras bahwa beberapa hal harus dilakukan diam-diam dulu, bukan karena rahasia, tapi karena kalau belum jadi, rasanya seperti menjanjikan sesuatu yang mungkin tidak bisa ditepati.

Tasya yang menemukannya. Tasya, yang sekarang sudah hampir tiga tahun menikah dengan Gilang dan punya satu bayi laki-laki berumur delapan bulan yang, menurut Gilang, sudah bisa mengenali opening drama Korea, menemukannya di toko barang antik di Jalan Surabaya. Pemutar kaset merek Jepang dari tahun delapan puluhan, dengan tombol-tombol perak yang berbunyi klak setiap kali ditekan.

Aku memutar sisi B di kamar Tasya, dengan bayi Tasya di pangkuan dan Gilang yang dilarang masuk.

Suaranya berderak. Pitanya sudah tua. Tapi di balik derak itu, ada piano. Bukan rekaman dari radio seperti di sisi A. Ini piano rumahan. Aku bisa mendengar suara ruangan di sekelilingnya: kipas angin, suara motor lewat di kejauhan, suara seorang perempuan di latar belakang yang tertawa. Suara yang kukenali. Lebih muda dua puluh tahun, tapi aku mengenalinya.

Bu Laras.

Dan piano itu. Piano yang sama, aku yakin. Piano bekas gereja yang sekarang berdiri di ruang piano di sudut barat rumahku. Dimainkan oleh tangan yang kasar dan kukunya selalu hitam. Pelan. Sering salah. Berhenti di tengah, mengulang, melanjutkan.

Sebuah lagu yang belum pernah kudengar.

Di akhir rekaman, setelah nada terakhir, ada suara laki-laki. Rendah. Sedikit serak. Tertawa kecil.

Susah juga ternyata. Nanti kalau udah lancar, aku ajarin Van. Lagu kedua. Buat nikahannya nanti.

Suara Bu Laras, jauh: Mas, Van baru kelas satu SMA.

Nggak apa-apa. Latihan dari sekarang. Biar pas dia nikah, aku udah jago.

Lalu klik. Rekaman berhenti.

Aku duduk di kamar Tasya dengan bayi yang tertidur di pangkuanku dan menangis sampai Tasya mengambil bayinya dan memelukku.


Aku belajar lagu itu selama sembilan bulan.

Aku tidak bisa main piano. Aku tidak pernah bisa. Mama pernah memaksaku les waktu umur tujuh tahun, dan aku berhenti setelah tiga bulan karena guru pianonya bilang jariku seperti jari orang yang sedang mengetik email marah.

Jadi aku belajar dari nol. Dari seorang guru piano pensiunan di Bogor yang sabarnya setara dengan Ervan di tanjakan Puncak. Setiap Selasa dan Kamis, ketika Ervan di Tebet. Di piano sewaan di rumah guru itu, karena aku tidak mau Ervan mendengar.

Guru itu mendengarkan rekaman dari kaset, berkali-kali, dan menuliskan notasinya. Ia bilang lagu itu bukan lagu terkenal. Ia bilang ia belum pernah mendengarnya. Ia bilang kemungkinan lagu itu ciptaan sendiri.

Bapaknya bikin sendiri? tanyaku.

Kedengarannya begitu, kata guru itu. Strukturnya sederhana. Beberapa bagian tidak selesai. Tapi ada sesuatu di sini. Ia menunjuk satu frasa di notasi. Bagian ini. Ini seperti orang yang mengetuk pintu. Tiga kali. Lalu diam. Lalu pintunya terbuka.

Aku menatap notasi itu. Tiga nada yang sama, diulang, lalu jeda, lalu melodi yang tiba-tiba terbuka, luas, seperti jendela yang menghadap timur.

Bapak tidak mungkin tahu. Bapak meninggal dua belas tahun sebelum Ervan mulai mengetuk pintu. Bapak tidak mungkin tahu.

Tapi Oma juga tidak mungkin tahu, waktu ia mewariskan tanah dengan pohon kesemek kepada cucu yang paling keras kepala.

Ada hal-hal di dunia ini, aku sudah belajar, yang tahu duluan sebelum kita.


Aku memainkannya pada tanggal tujuh belas Agustus.

Tujuh tahun setelah malam listrik padam di ballroom Harrison Grand. Tiga tahun setelah pernikahan. Hari Minggu, karena Minggu pagi adalah harinya Bapak.

Ervan pergi ke Tebet pagi-pagi untuk rapat dengan Siti. Siti yang sekarang semester tujuh teknik sipil dan magang di Studio Pratama setiap libur semester, yang menurut Ervan lebih jago ngitung struktur dari aku waktu umur segitu. Mereka sedang merancang gedung serbaguna untuk kampung di belakang warung Mang Ujang. Gratis. Ervan bilang itu cara membayar kembali dorongan Mang Ujang di hari Avanza mogok dalam hujan.

Aku bilang kepadanya aku akan memasak nasi goreng. Aku bilang ia harus pulang jam sebelas.

Ia pulang jam sebelas kurang lima.

Aku mendengar Avanza abu-abu masuk ke halaman. Mobil yang sama. AC-nya sudah diganti tahun lalu, dan Ervan bilang ia kangen memukul dasbor. Aku mendengar pintu mobil ditutup. Aku mendengar langkah kakinya di jalan setapak, di antara pot-pot tanah liat berisi bunga matahari yang Bu Dewi ganti setiap bulan.

Aku mendengar langkahnya di teras.

Dan aku mendengar pintu depan terbuka.

Tanpa ketukan.

Tiga tahun. Tiga tahun sejak malam di ambang pintu dengan dua cangkir kopi susu. Ia tidak pernah mengetuk lagi. Tidak pintu kamar. Tidak pintu kamar mandi. Tidak pintu rumah ini.

Tapi aku masih mendengarkan setiap kali ia pulang. Aku masih menunggu bunyi pintu terbuka tanpa jeda. Dan setiap kali, setiap hari selama tiga tahun, dadaku masih terasa hangat karenanya, seperti pertama kali.


Ia masuk ke dapur. Aku tidak ada di dapur.

Aku mendengarnya berhenti. Di meja panjang, ada sepiring nasi goreng kampung dengan telur setengah matang. Masih mengepul. Di sampingnya, di piring bergambar ayam jago yang Bu Laras berikan kepadaku di hari pernikahan, sepotong kue lapis sembilan lapis.

Dan sebelas tangkai bunga matahari. Dalam toples kerupuk dengan tutup merah. Toples yang sama dari studio, yang Ervan bawa pulang ketika tirai bunga kering akhirnya diturunkan dan dipindahkan ke langit-langit ruang tamu rumah ini, di mana sampai sekarang delapan puluh tujuh ikat masih tergantung terbalik.

Ada kartu di antara tangkai-tangkainya. Warna gading. Tinta biru tua. Huruf yang miring ke kanan.

Aku mendengarnya mengambil kartu itu.

Hari 1.461. Nggak perlu ketuk. Ke ruang piano.


Ia berdiri di ambang pintu ruang piano.

Kusennya masih yang sama. Yang dicabut dan dipasang ulang di hari piano Bapak dipindahkan. Masih ada bekas cat yang tidak rata di satu sisi. Ervan tidak pernah memperbaikinya. Ia bilang itu bukti.

Aku duduk di bangku kayu di depan piano. Punggungku ke pintu.

Aku tidak menoleh. Aku mengangkat tanganku ke atas tuts yang menguning. Tanganku gemetar. Biarin gemetar.

Tiga nada. Sama. Diulang. Seperti ketukan.

Jeda.

Lalu melodi yang terbuka.

Aku memainkannya dengan lambat, dengan banyak salah, dengan jari-jari yang masih seperti jari orang yang mengetik email marah. Aku berhenti di tengah sekali, di bagian yang selalu membuatku tersandung, dan mengulang, dan melanjutkan. Persis seperti Bapak di rekaman itu.

Aku tidak menoleh selama aku bermain. Aku tidak berani.

Di belakangku, aku tidak mendengar apa-apa. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada napas. Hanya keheningan di ambang pintu, dan kipas angin di langit-langit, dan kebun teh di luar jendela, dan lagu itu.

Lagu kedua.

Aku memainkan nada terakhir. Aku membiarkan tanganku di atas tuts sampai suaranya hilang sepenuhnya.

Lalu aku berbicara, masih tanpa menoleh.

“Sisi B,” kataku. “Kaset Bapak. Ada labelnya. Lagu kedua. Buat Van. Nanti.“

Hening.

“Bapak rekam sendiri. Di ruang tengah rumah Ciledug. Ibu ketawa di belakang. Terus Bapak bilang...” Suaraku pecah. Aku menarik napas. “Bapak bilang, nanti kalau udah lancar, aku ajarin Van. Buat nikahannya nanti.“

Hening.

“Bapak nggak sempat,” kataku. “Jadi aku yang belajar. Sembilan bulan. Aku minta maaf, aku nggak nanya kamu dulu. Pelanggaran. Tapi aku...”

Aku tidak menyelesaikan kalimatku.

Karena aku mendengar sesuatu di belakangku. Di ambang pintu.

Bukan langkah kaki. Bukan napas.

Tangis.


Aku menoleh.

Ervan berdiri di ambang pintu ruang piano. Kemeja abu-abu, lengan digulung. Kartu Hari 1.461 di tangannya. Wajahnya basah.

Aku belum pernah melihatnya menangis seperti ini. Aku pernah mendengar ceritanya dari Bu Laras, tentang malam di pangkuan, dua jam. Tapi aku belum pernah melihatnya. Tiga tahun menikah, dan aku belum pernah melihat Ervan menangis. Ia menangis di pernikahan kami, tidak. Ia menangis di pemakaman Opa tahun lalu, sedikit, diam, dengan tangan di bahu Papa.

Tapi tidak seperti ini. Tangis yang keluar dari tempat yang sangat dalam. Yang membuat bahunya berguncang dan ia harus bersandar di kusen pintu yang catnya tidak rata.

Aku berdiri dari bangku piano. Aku berjalan ke arahnya. Aku memeluknya.

Ia memelukku balik. Keras. Wajahnya di rambutku. Tangannya di punggungku, di antara tulang belikat, tidak meletakkan, memeluk.

“Lagu kedua,” katanya ke rambutku. Suaranya pecah di setiap kata. “Aku nggak tahu ada. Delapan belas tahun. Aku nggak tahu.”

“Aku tahu,” bisikku.

“Bapak bikin buat aku.”

“Buat nikahanmu.”

“Aku udah nikah.” Ia tertawa di tengah tangis. “Tiga tahun lalu. Bapak telat.”

“Bapak nggak telat,” kataku. “Bapak cuma nitip. Ke aku.”

Ervan menarik diri sedikit dan menatapku. Wajahnya basah. Matanya merah. Ia mengangkat tangannya ke wajahku dan mengusap pipiku dengan ibu jari. Pelan. Dari bawah mata kanan, melewati tahi lalat kecil, sampai ke tulang pipi.

Ia menatap mataku dari jarak yang sangat dekat.

“Hijaunya,” katanya. “Masih enam.”

“Masih enam,” kataku.

“Aku hitung tiap pagi.”

“Aku tahu. Aku pura-pura tidur.”

Ia tertawa. Lalu menciumku. Di ambang pintu ruang piano, dengan kusen yang catnya tidak rata. Pelan. Rasa air mata dan kopi susu.


Siang itu, kami makan nasi goreng yang sudah dingin di dapur dengan meja panjang. Aku di kursi tinggi. Ia berdiri di depan kompor dan tidak memasak apa-apa, hanya berdiri di sana dan menatapku.

“Ajarin aku,” katanya.

“Apa?”

“Lagu kedua.” Ia tersenyum. “Kamu udah bisa. Aku belum. Ajarin aku.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang bisa memperbaiki apa saja, yang bisa menghitung beban struktur di kepala, yang bisa memasak nasi goreng dan menyalakan genset dan mendesain dapur untuk orang yang tidak bisa masak. Laki-laki yang cuma hafal satu lagu.

“Jari kamu lebih bagus dari jariku,” kataku. “Jariku kayak jari orang ngetik email marah.”

“Nggak apa-apa.” Ia berjalan memutari meja panjang dan berdiri di depan kursi tinggiku, sehingga mata kami sejajar. “Kamu yang ingat. Kamu selalu yang ingat. Aku yang lupa.”

“Itu ada di halaman satu buku Yang Kamu Lupa.”

“Aku tahu,” katanya. “Aku baca tiap malam.”

Aku tertawa sampai hampir jatuh dari kursi tinggi. Ia menangkapku. Tentu saja ia menangkapku.


Sore itu, di ruang piano, dengan jendela yang menghadap kebun teh dan kabut yang mulai naik, aku mengajarinya lagu kedua.

Aku duduk di sebelah kirinya di bangku kayu yang licin. Aku memainkan tiga nada yang sama, diulang, seperti ketukan. Ia menirukan. Salah. Mengulang. Benar.

Jeda.

Lalu melodi yang terbuka.

Di luar jendela, di kebun kecil di pinggir teras yang Pak Asep tanam diam-diam empat tahun lalu dan sekarang sudah menjadi kebun bunga matahari yang tingginya melewati jendela, kepala-kepala bunga yang besar dan berat menunduk karena sore.

Tapi semuanya tetap menghadap ke timur. Ke arah tempat cahaya akan datang besok pagi.

Seperti yang selalu mereka lakukan. Bahkan waktu masih gelap.

Bahkan waktu belum ada yang tahu apakah cahayanya akan datang.


Di ruang tamu rumah itu, di langit-langit, delapan puluh tujuh ikat bunga matahari kering masih tergantung terbalik. Tidak pernah diturunkan. Tamu yang datang selalu bertanya kenapa. Ervan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

“Biar awet.”

Monica selalu menambahkan satu kalimat.

“Dan biar kami ingat, ada masa di mana satu orang ngirim bunga dan satu orang nggak berani buang.”

Di kamar tidur utama, di sudut timur laut, di ambang jendela kayu jati yang cukup lebar untuk duduk, setiap pagi, dua orang duduk menunggu matahari. Yang satu menghitung titik hijau di mata yang lain. Yang lain pura-pura tidur.

Tidak ada yang mengetuk.

Semua pintu di rumah itu sudah terbuka.

— TAMAT —