Chapter Thirty Two
Pintu yang Tidak Menakutkan
POV: Ervan
Pak Asep datang ke Ciledug pukul enam pagi hari Jumat dengan truk bak terbuka, empat tukang, tambang, selimut tebal, dan ramalan cuaca.
“Poé ieu cerah,” katanya, turun dari kabin truk dan menatap langit di atas gang. Lalu ia menatapku. Lalu menatap Ibu yang berdiri di teras dengan daster batik dan jaket rajut. Lalu ia tersenyum dengan satu giginya. “Cerah pisan.”
Mang Ujang keluar dari warungnya dengan termos kopi. Tiga tukang ojek meninggalkan motor mereka dan datang membantu tanpa diminta. Bu Sri, tetangga sebelah yang sungguhan, yang tidak pernah memakai sandal berlogo H, berdiri di balik pagarnya dengan daster dan rol rambut, menonton.
Piano itu keluar dari rumah kami pukul enam lewat dua puluh.
Butuh delapan orang. Piano tegak kayu jati, bekas gereja, lebih berat dari yang terlihat. Pak Asep memimpin dengan aba-aba dalam bahasa Sunda yang tidak kumengerti tapi semua orang patuhi. Kami mengangkatnya melewati pintu depan yang terlalu sempit, memiringkannya empat puluh lima derajat, melewati teras, melewati pagar hijau yang catnya mengelupas.
Ibu berdiri di teras dan tidak bergerak selama semua itu terjadi. Tangannya memegang kain batik cokelat tua yang dua belas tahun menutupi piano itu, dilipat rapi di depan dadanya.
Ketika piano itu sudah di atas truk, dibungkus selimut dan diikat tambang, Ibu turun dari teras. Ia berjalan ke truk. Ia naik ke ban belakang, dengan bantuan Mang Ujang, dan menyelipkan kain batik itu di antara selimut dan kayu piano.
“Biar dia nggak kedinginan,” kata Ibu.
Tidak ada yang tertawa. Pak Asep melepas topinya.
Kami sampai di villa pukul sembilan. Ruang piano di sudut barat, tiga kali tiga, dengan dinding berpanel kayu dan jendela menghadap kebun teh. Aku mengukur pintu ruangan itu dua bulan lalu dengan asumsi piano yang akan masuk adalah piano baru, lebih ramping. Piano Bapak lebih lebar lima senti.
Pak Asep menatap pintu. Menatap piano. Menatapku.
“Jang,” katanya. “Kusenna dicabut.”
Kami mencabut kusen pintu ruang piano. Kami memasukkan piano itu. Kami memasang kusennya kembali. Butuh dua jam. Tidak ada yang mengeluh.
Pukul sebelas, piano Bapak berdiri di ruang kecil di sudut barat rumah yang Oma suruh aku bangun. Menempel di dinding berpanel kayu. Menghadap jendela, ke kebun teh, ke kabut yang mulai naik.
Aku membuka penutup tutsnya. Tuts yang menguning. Kaset lama di atasnya, dengan label yang ditulis tangan Bapak. Aku tidak memainkannya. Belum.
Aku menekan satu tuts. Satu nada. Sumbang. Dua belas tahun tidak disetem.
Pak Asep, yang berdiri di ambang pintu dengan tukang-tukangnya, mengangguk.
“Kudu disetem,” katanya.
“Iya, Pak.”
“Tapi sorana masih hirup.” Ia tersenyum. “Suaranya masih hidup, Jang.”
Tasya datang pukul dua belas. Sebagai PIC. Ia berdiri di ambang ruang piano dengan map biru dan sepatu bot karet hitam, dan menatap piano itu lama sekali.
Ia tidak bertanya. Ia membuka map biru, menulis sesuatu, dan menutupnya.
“Klien udah pilih piano,” katanya. Suaranya tetap profesional, tapi ujungnya bergetar. “Buat catatan.”
“Buat catatan,” kataku.
Tasya menatapku dari balik kacamata bulatnya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tersenyum. Bukan senyum sinis. Senyum yang kecil dan lega, seperti orang yang baru saja melihat angka di spreadsheet akhirnya seimbang.
“Opa ketemu dia jam empat,” katanya. “Setelah itu dia pulang ke apartemen. Packing.” Ia menatap jam tangannya. “Pesawatnya jam tujuh besok. Dia bakal berangkat dari rumah jam empat subuh.”
“Kamu kasih tahu aku jadwalnya terus.”
“Aku PIC,” kata Tasya. “PIC harus kasih informasi lengkap ke arsitek.” Ia berbalik untuk pergi. Di ambang pintu, ia berhenti. “Satu lagi, Mas Ervan.”
“Iya?”
“Gilang minta aku sampein. Dia bilang, jangan kelamaan mundurnya.“ Tasya membetulkan kacamatanya. “Dia bilang Mas bakal ngerti.”
Aku menyetir ke Jakarta pukul tiga sore.
Aku tidak langsung ke Kuningan. Aku ke Sabang dulu.
Toko bunga Bu Dewi masih sama. Kaleng permen di atas meja kasir. Ember-ember bunga di trotoar. Bau tanah basah dan daun. Bu Dewi sendiri, dengan kacamata yang digantung tali manik-manik, sedang merangkai karangan bunga duka cita untuk seseorang bernama Pak Hartono.
Ia melihatku masuk. Ia menurunkan kacamatanya.
“Mas Ervan.”
“Sore, Bu.”
Bu Dewi menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Kemeja putih. Celana bahan abu-abu. Bukan jas. Rambut yang disisir tapi tidak serapi malam itu.
“Bukan mawar,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Bukan, Bu.”
“Mas yang telepon Ibu minggu lalu. Nanya cara ngeringin bunga matahari.”
“Iya, Bu.”
Bu Dewi meletakkan gunting rangkainya. Ia menatapku lama. Aku tahu ia tahu. Bu Dewi sudah menjual bunga sejak zaman telepon masih diputar. Ia sudah melihat ribuan laki-laki masuk ke tokonya, dengan wajah yang mau melamar dan wajah yang mau minta maaf dan wajah yang mau mengucapkan selamat tinggal.
“Mawarnya dulu,” kata Bu Dewi pelan. “Tiga puluh tangkai. Nggak jadi, ya?”
“Nggak jadi, Bu.”
“Ibu tahu. Dari muka Mas waktu telepon.” Ia menghela napas. “Laki-laki yang beli bunga tiap tanggal sebelas itu cuma dua jenis. Ibu salah waktu itu. Ternyata ada jenis ketiga.”
“Apa, Bu?”
“Yang dibohongin.” Bu Dewi berdiri dan berjalan ke ember-ember di trotoar. “Sekarang Mas mau yang mana?”
“Bunga matahari, Bu. Sebelas tangkai.”
Bu Dewi berhenti. Ia menoleh.
“Sebelas,” ulangnya. “Kenapa sebelas?”
“Karena selama ini dia yang ngasih sebelas,” kataku. “Tiap hari. Sembilan puluh lima hari.”
Bu Dewi menatapku. Kacamata manik-maniknya bergoyang. Lalu ia tertawa, tawa yang pendek dan kaget, dan menepuk meja kasir sampai kaleng permen melompat.
“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, Mas. Perempuan yang ngasih bunga? Tiap hari?”
“Iya, Bu.”
“Sembilan puluh lima hari?”
“Delapan puluh tujuh. Terus berhenti. Terus satu lagi. Buat pamit.”
Bu Dewi berhenti tertawa. Ia menatapku dengan wajah yang tiba-tiba sangat lembut.
Lalu ia memilih bunga matahari dari ember satu per satu. Ia memeriksa setiap tangkai, setiap kelopak, memutar kepala bunga di bawah cahaya, membuang yang daunnya ada bercak. Sebelas tangkai. Yang paling besar, yang paling kuning, yang kepalanya paling tegak. Ia membungkusnya dengan kertas cokelat. Ia mengikatnya dengan tali rami.
Ia menyerahkannya dengan dua tangan. Seperti menyerahkan bayi.
“Pegang yang kenceng, Mas,” katanya. “Jangan sampai jatuh.”
“Pamali, Bu?”
“Bukan pamali.” Bu Dewi mengusap sudut matanya di balik kacamata. “Cuma, kali ini, jangan sampai jatuh.”
Aku sampai di gedung apartemennya di Kuningan pukul tujuh lewat lima belas malam.
Pak Heru, satpam gedung, keluar dari posnya ketika melihatku turun dari Avanza abu-abu. Ia mengenali mobilku. Ia pernah melihatnya sekali, berbulan-bulan lalu, malam aku mengantarnya pulang dari rapat pemasok di Harrison Grand.
Ia melihat buket di tanganku. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya membukakan pintu lobi dan menekan tombol lift untukku.
“Lantai delapan belas, Mas,” katanya. “Unit C.”
“Bapak tahu?”
“Semua satpam di gedung ini tahu, Mas.” Pak Heru tersenyum. “Bu Monica tiga tahun tinggal di sini, nggak pernah turun dari mobil yang bukan mobilnya sendiri atau taksi. Kecuali satu kali. Mobil abu-abu. Yang AC-nya harus dipukul.” Ia mengangguk ke arah lift. “Kami semua lihat.”
Lift ke lantai delapan belas butuh dua puluh tiga detik.
Aku menghitungnya. Aku tidak bisa berhenti menghitung.
Di dinding lift yang mengilap, aku melihat pantulanku. Kemeja putih. Buket bunga matahari. Tidak ada jas pinjaman. Tidak ada kotak beludru di saku kiri.
Di saku kiri, ada obeng. Gagang kuning. Ujungnya sedikit aus.
Aku tidak tahu kenapa aku membawanya. Kebiasaan, mungkin. Atau mungkin karena aku ingin membawa satu-satunya benda yang pernah ia kembalikan kepadaku.
Pintu lift terbuka.
Koridor. Karpetnya tipis. Lampu dindingnya putih, bukan kuning. Di ujung koridor, pintu dengan huruf C yang ditempel sedikit miring, dan panel kunci dengan tombol-tombol angka yang menyala biru.
Seperti mimpiku. Persis seperti mimpiku.
Aku berjalan ke sana. Pelan. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas balok yang belum dicek kekuatannya.
Aku berhenti di depan pintu.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.
Satu menit. Mungkin lima. Aku mendengar suara dari dalam, samar, lewat pintu. Bukan suara televisi. Bukan musik. Suara yang lain. Suara yang pelan dan tersendat, yang naik dan turun.
Menangis.
Dan bau. Samar, dari celah di bawah pintu. Bau gosong. Bawang merah yang terlalu lama di wajan. Nasi yang hitam di dasar.
Tanganku terangkat. Ke pintu. Untuk mengetuk. Tiga kali. Seperti yang kulakukan setiap malam di depan kamarku, di depan kamar mandi, di depan setiap pintu yang harus kubuka sejak malam di lantai dua puluh tiga.
Tanganku berhenti di udara.
Lima senti dari pintu.
Aku memikirkan pintu 2307. Karpet tebal. Lampu kuning. Buket mawar di tangan kanan dan kotak beludru di saku kiri. Passcode yang kuhafal karena bubur dan tipes. Bunyi kunci. Hijau. Sepatu pantofel cokelat di dekat rak, satu tegak, satu rebah.
Aku memikirkan semua pintu sesudahnya. Setiap ketukan. Setiap dua belas detik menunggu jawaban dari ruangan kosong.
Lalu aku memikirkan surat itu. Empat lembar. Bolak-balik. Tinta biru tua.
Ada satu pintu di kota ini yang dari dulu dikunci pakai kenangan tentang kamu. Bukan kenangan yang sakit.
Tanganku turun.
Tidak ke pintu. Ke panel kunci.
Satu.
Tujuh.
Nol.
Delapan.
Dua.
Tiga.
Aku tidak perlu melihat catatan di ponsel. Jariku tahu. Jariku sudah tahu sejak malam di lobi gedung ini, di bawah lampu kuning, ketika aku membaca kartu Hari 25 dan bibirku bergerak tanpa suara.
Bunyi kunci terbuka.
Hijau.
Aku mendorong pintu. Pelan.
Cahaya dari dalam tumpah ke koridor. Hangat. Jingga. Dari lampu dapur yang menyala di ujung ruangan. Aku melihat lantai kayu. Aku melihat ujung sofa, dengan baju-baju yang bertumpuk. Aku melihat koper besar terbuka di tengah ruang tamu, setengah terisi. Aku melihat kotak sepatu bot kuning di atas meja makan, penuh dengan sesuatu yang berwarna gading.
Aku mencium melati dan vanila. Dan gosong.
Seperti mimpiku. Tapi kali ini aku tidak bangun.
Aku melangkah masuk.
Di dapur, di lantai, di samping kompor, seseorang duduk dengan lutut ditekuk ke dada dan kepala di atas lutut. Rambut hitam kecokelatan, diikat asal dengan karet gelang dapur, dengan helai-helai yang lolos di tengkuk. Kaus putih polos. Celana kain longgar. Di jari telunjuk kirinya, tisu yang ada bercak merah.
Di atas kompor, wajan dengan nasi goreng yang hitam di dasarnya. Asap tipis masih naik.
Ia mengangkat kepala.
Aku melihat wajahnya. Merah dan basah dan bengkak. Hidung merah. Tahi lalat kecil di bawah mata kanan. Dan mata Harrison, cokelat keabuan, yang di bawah lampu dapur yang jingga, dengan air mata di bulu matanya, memperlihatkan bintik-bintik hijau di dekat pupil. Lima. Enam. Tersebar seperti biji yang jatuh dari tangan.
Ia menatapku seperti orang yang melihat hantu.
Aku tidak tahu apa yang kuharapkan untuk kurasakan. Aku sudah memikirkannya sepanjang perjalanan dari Sabang. Aku pikir mungkin dadaku akan dingin, refleks, karena pintu, karena passcode, karena perempuan di lantai dengan mata Harrison.
Dadaku tidak dingin.
Dadaku terasa seperti kamar tidur utama di sudut timur laut, di pagi hari, ketika matahari pertama masuk lewat jendela yang belum ada kacanya dan jatuh ke lantai yang belum ada atapnya.
“Van?” bisiknya.
“Aku pakai passcode-nya,” kataku.
Ia tidak bergerak. Ia menatapku dari lantai dapur, dengan tisu berdarah di jari dan wajan gosong di atas kepalanya.
“Karena pintu ini,” kataku, “nggak bikin aku takut.”
Ia berdiri. Terlalu cepat. Ia terhuyung, dan aku menjatuhkan buket bunga matahari ke meja makan, di samping kotak sepatu, dan menangkap lengannya sebelum ia menabrak kompor.
Ia menatapku dari jarak yang sangat dekat. Aku bisa merasakan napasnya yang tersendat.
“Kamu... kamu nggak boleh... aturan tiga...”
“Aku cabut.”
“Kamu bilang berhenti.”
“Aku yang bilang berhenti,” kataku. “Jadi aku yang boleh bilang jalan lagi.”
Ia membuka mulut. Menutupnya. Air matanya jatuh lagi.
“Suratnya,” bisiknya. “Bu Laras...”
“Aku nanya,” kataku. “Kemarin. Aku nanya ke Ibu dari kapan kamu suka aku. Dan kenapa.”
Ia menutup mata.
“Aku baca semuanya,” kataku. Suaraku tidak rapi lagi. Tidak seperti laporan teknis. “Pilar. Oma. Genset. Parkiran. Delapan kata.” Aku menarik napas. “Obeng.”
Aku melepaskan satu tangan dari lengannya. Aku merogoh saku kiri kemejaku. Aku mengeluarkan obeng gagang kuning dan meletakkannya di atas meja dapur, di antara talenan dan bawang merah yang sudah diiris tipis.
Ia membuka mata dan menatap obeng itu. Mulutnya bergetar.
“Kamu yang ngembaliin ini,” kataku. “Tiga tahun lalu. Aku nggak ingat mukamu. Aku cuma ingat suaramu. Rendah. Sedikit serak.” Aku menatapnya. “Aku bilang ke kamu aku takut. Aku bilang aku cuma hafal satu lagu. Aku malu banget ngomong gitu ke orang asing.”
“Aku nggak pernah lupa,” bisiknya.
“Aku tahu. Sekarang aku tahu.”
“Aku sayang kamu, Monic.”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menghitung bebannya. Sebelum aku sempat mengecek strukturnya. Sebelum aku sempat takut.
Ia berhenti bernapas.
“Aku sayang kamu,” ulangku, karena sekali tidak cukup, karena aku sudah terlalu lama menyimpan kalimat itu di tempat yang dingin. “Dari bedeng. Mungkin dari dapur Ibu, waktu sendoknya tenggelam. Mungkin dari tanjakan Puncak. Aku nggak tahu kapan. Aku cuma tahu aku sayang kamu, dan aku takut, dan aku bilang berhenti karena aku takut, bukan karena kamu.”
“Aku bilang memungut,” bisiknya. “Aku bilang nggak akan kulepas. Aku cerita ke semua orang kamu hancur...”
“Aku memang hancur.” Aku tersenyum. Senyum yang tidak dilatih di depan cermin. “Kamu bener. Kamu satu-satunya yang lihat. Aku marah karena kamu lihat. Karena kamu bilang. Karena itu bener.”
“Aku pakai kamu buat menang dari Zara...”
“Zara duluan yang pakai aku buat menang dari kamu,” kataku. “Kayla cerita. Parkiran. Kantor sales.”
Ia menutup mulut dengan tangan yang dibalut tisu.
“Kita semua salah, Monic,” kataku pelan. “Aku salah karena nggak pernah nanya. Kamu salah karena nggak pernah nanya. Zara salah karena nggak pernah nanya.” Aku menarik napas. “Jadi sekarang aku nanya.”
Ia menatapku.
“Kamu mau pergi ke Bali?”
Ia tidak menjawab. Matanya bergerak ke koper di ruang tamu. Ke kotak sepatu di meja makan. Ke buket bunga matahari yang kujatuhkan di sampingnya. Lalu kembali ke wajahku.
“Aku nanya,” kataku lagi. “Bukan mutusin. Kalau kamu mau pergi, pergi. Aku tunggu. Enam bulan. Satu tahun. Aku bikin gazebo di villa, aku duduk di situ tiap sore, aku tunggu.” Suaraku bergetar. “Tapi kalau kamu pergi supaya aku bisa sembuh tanpa kamu, jangan. Aku nggak mau sembuh tanpa kamu. Aku udah coba lima belas hari. Gilang yang ngitung. Aku nggak sembuh. Aku cuma gantung bunga terbalik di langit-langit studio.”
Ia tertawa. Tawa yang pecah di tengah tangis.
“Kamu gantung bungaku terbalik?”
“Delapan puluh tujuh ikat. Biar awet. Bu Dewi yang ngajarin.”
“Siapa Bu Dewi?”
“Nanti aku kenalin.”
Ia menatapku. Lama. Dengan mata Harrison yang ada hijaunya. Aku melihat seribu hal bergerak di balik mata itu. Aku melihatnya ingin mengatakan sesuatu, lalu tidak, lalu ingin lagi.
“Aku nggak mau ke Bali,” bisiknya akhirnya. “Aku nggak pernah mau ke Bali. Aku cuma mau kamu nggak perlu lihat pintu itu lagi.”
“Aku nggak lihat pintu itu lagi,” kataku. “Aku cuma lihat pintu ini.”
Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.
Mungkin aku. Tanganku terangkat, pelan, dari lengannya. Naik. Menuju wajahnya. Seperti di bedeng proyek. Seperti di kamar tanpa atap di bawah matahari terbit.
Lima senti. Tiga senti.
Kali ini tidak ada Pak Asep. Tidak ada truk molen. Tidak ada sepuluh tukang yang menahan napas di sisi barat bedeng.
Ujung jariku menyentuh pipinya.
Hangat. Basah. Sedikit lengket karena air mata. Aku mengusapnya dengan ibu jariku, pelan, dari bawah mata kanan, melewati tahi lalat kecil itu, sampai ke tulang pipi.
Ia memejamkan mata. Ia menyandarkan wajahnya ke telapak tanganku, seperti bunga yang menghadap ke timur.
“Nggak jadi?” bisiknya. Matanya masih terpejam.
“Jadi,” kataku.
Dan aku menciumnya.
Pelan. Hati-hati. Seperti menuang lapisan adonan yang tipis. Seperti memasang tali terpal di tengah hujan, dua kali, tiga kali, supaya tidak lepas. Bibirnya asin karena air mata dan hangat dan sedikit gemetar, lalu tidak gemetar lagi.
Tangannya naik ke dadaku. Menggenggam kemejaku di depan tulang rusuk. Di tempat batu dingin itu pernah menjadi satu-satunya yang kurasakan.
Batu itu masih ada. Aku rasa ia akan selalu ada.
Tapi malam itu, di dapur apartemen lantai delapan belas, di antara wajan gosong dan bawang merah dan obeng gagang kuning, aku tidak bisa merasakannya sama sekali.
Ketika kami akhirnya melepaskan diri, ia menempelkan dahinya di bahuku. Seperti di studio, di hari Zara datang. Hanya dahinya. Tangannya masih menggenggam kemejaku.
“Van,” katanya ke bahuku.
“Hm.”
“Pesawatku jam tujuh.”
“Aku tahu.”
“Aku harus telepon Papa. Aku harus bilang aku nggak jadi. Papa bakal...” Ia berhenti. “Papa bakal pesan helikopter buat ngerayain.”
Aku tertawa. Ia tertawa. Tawa kami bercampur, di dapur yang bau gosong.
“Besok pagi,” kataku. “Jam enam. Matahari terbit di kamar itu. Kacanya udah dipasang. Ambang jendelanya udah jadi.”
Ia mengangkat kepala dari bahuku dan menatapku.
“Dan pianonya udah datang,” kataku. “Tadi pagi. Delapan orang yang angkat. Kusennya harus dicabut.”
“Piano?”
“Piano tegak. Bekas gereja.” Aku mengusap pipinya lagi. “Punya Bapak.”
Ia berhenti bernapas lagi. Matanya penuh lagi.
“Aku janji di bedeng,” kataku. “Aku bakal mainin lagu Bapak buat kamu. Di ruang piano. Poin lima.” Aku menarik napas. “Besok pagi. Setelah matahari terbit.”
Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk. Lalu mengangguk lagi. Lalu menempelkan wajahnya di dadaku dan menangis, tangis yang berbeda dari tangis di lantai dapur tadi.
Aku melingkarkan tanganku di punggungnya. Kali ini bukan meletakkan. Memeluk.
Di meja makan, buket bunga matahari yang kujatuhkan tergeletak di samping kotak sepatu bot kuning. Sebelas tangkai. Kertas cokelat. Tali rami. Tanpa kartu.
Aku lupa menulis kartu.
Aku akan menulisnya besok. Pukul sembilan lewat lima belas. Hari pertama.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan reading
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk