Chapter Ten
Nduk
POV: Ervan
Pesanan itu datang lewat Gilang, dan aku seharusnya sudah curiga sejak kalimat pertama.
“Van. Ibumu dapet order.”
Aku sedang menghitung ulang kebutuhan kayu untuk rangka atap villa, dan pensilku berhenti di angka yang belum selesai. “Order apa?”
“Kue. Tiga ratus biji. Buat acara apresiasi karyawan.” Gilang membaca dari ponselnya dengan suara yang terlalu polos. “Kue lapis, kue lumpur, sama nagasari. Diambil hari Minggu jam sepuluh pagi. Dibayar lunas di muka. Plus ongkos lembur karena mendadak.”
“Acara apresiasi karyawan di mana?”
Gilang menggaruk alis. “Di hotel.”
“Hotel apa?”
“Hotel yang... ada di Jakarta.”
“Lang.”
“Harrison Grand,” akunya. “Tapi, Van, ini beneran acara karyawan! Aku udah cek. Tiap akhir kuartal mereka bikin acara buat housekeeping, security, sama staf dapur. Biasanya pesen kue dari katering hotel. Tapi kata Mbak Tasya, bos mereka bilang kali ini mau kue rumahan. Biar kerasa kayak di rumah.”
“Bos mereka.”
“Director of Guest Experience,” kata Gilang. Lalu, dengan nada yang lebih pelan, “Dia juga bilang, Van. Ibumu nggak boleh ditolak cuma gara-gara kamu nggak nyaman. Rezeki ibumu ya rezeki ibumu. Itu kalimatnya. Aku cuma nyampein.”
Aku menatap pensilku.
Aku ingin bilang tidak. Aku ingin bilang aturan nomor dua: jangan bawa-bawa keluarga Harrison. Tapi aturan itu tentang aku, bukan tentang Ibu. Dan Ibu bulan ini baru dapat empat pesanan, dua di antaranya dari Bu RT yang sebenarnya tidak butuh kue tapi kasihan.
Tiga ratus biji. Dibayar lunas. Plus ongkos lembur.
“Bilang ke Ibu,” kataku akhirnya. “Biar Ibu yang putusin.”
Ibu memutuskan dalam waktu kurang dari tiga detik. Ibu menjerit, lalu langsung menelepon Bu Sri tetangga sebelah untuk minjam dandang besar, lalu menelepon toko bahan kue di pasar untuk memesan tepung beras sepuluh kilo, lalu menatapku dengan mata berbinar dan bertanya, “Yang pesen namanya siapa?”
“Harrison Grand, Bu.”
“Orangnya, Van. Yang pesen orangnya.”
Aku tidak menjawab. Ibu tersenyum dengan cara yang membuatku ingin masuk ke kamar dan mengetuk pintu seratus kali.
Minggu itu aku sengaja pergi ke Cikarang pagi-pagi sekali. Ada inspeksi kolom gudang yang sebenarnya bisa dijadwalkan ulang, tapi aku tidak menjadwalkannya ulang. Aku berangkat jam enam, sebelum Ibu sempat bertanya apakah aku akan ada di rumah waktu pesanannya diambil.
Pengecut. Aku tahu.
Inspeksinya selesai jam sebelas. Aku menyetir pulang pelan-pelan, mampir makan bakso di Bekasi, mampir isi angin ban yang sebenarnya tidak kurang angin, dan sampai di Ciledug jam satu siang, dengan perhitungan bahwa siapa pun yang mengambil kue jam sepuluh pagi pasti sudah pulang tiga jam yang lalu.
Aku salah perhitungan.
Di depan pagar hijau yang catnya mengelupas, terparkir sebuah SUV hitam mengilap yang terlalu besar untuk gang kami. Sopirnya, bapak-bapak berseragam safari, sedang duduk di warung kopi Mang Ujang di seberang jalan, makan gorengan bersama tiga tukang ojek yang tampaknya sudah menjadi sahabat lamanya.
Aku turun dari mobil. Mang Ujang melambai.
“Mas Ervan! Ada tamu cantik! Dari tadi pagi!”
Tiga tukang ojek ikut mengangguk dengan antusias. Sopir berseragam safari mengangkat gelas kopinya kepadaku seperti bersulang.
Aku berjalan ke rumah seperti orang berjalan ke ruang sidang.
Pintu depan terbuka. Dari dalam, dari arah dapur, terdengar suara Ibu.
“Bukan gitu, Nduk. Pelan-pelan. Adonannya dituang tipis-tipis. Tipis. Kayak ngasih perhatian ke orang yang lagi ngambek. Jangan sekaligus.”
Lalu suara lain. Suara yang agak serak, rendah, yang sekarang sudah bisa kukenali dari satu kata.
“Tapi Bu, lapisan yang ini kok warnanya jadi abu-abu?”
“Itu karena pewarnanya kamu tuang semua ke adonan putih, Nduk.”
“Oh.”
“Harusnya dibagi dua.”
“Oh,” ulang suara itu, lebih kecil. “Maaf, Bu.”
“Nggak apa-apa. Kue lapis abu-abu juga bisa dimakan. Nanti kita kasih nama kue lapis mendung.”
Tawa. Dua tawa. Ibu, yang tawanya selalu meledak di akhir seperti kompor yang baru dinyalakan. Dan tawa lain yang lebih pelan, yang terdengar kaget karena dirinya sendiri tertawa.
Aku berdiri di lorong, di antara pintu depan dan dapur, dan tidak bisa bergerak.
Lalu aku berjalan ke dapur, pelan, dan berhenti di ambang pintu.
Dapur kami kecil. Kompor dua tungku, meja kayu yang sudah kupernis ulang tiga kali, lemari piring dari rotan, dan jendela kecil di atas bak cuci yang menghadap ke kebun pisang tetangga. Hari itu dapur itu terlihat seperti bekas perang. Ada tepung di mana-mana. Di meja, di lantai, di bingkai jendela, di tudung saji. Dandang besar pinjaman Bu Sri mengepulkan uap. Empat loyang kue lumpur yang sudah jadi berjajar di atas lemari. Satu loyang kue lapis yang lapisannya berwarna merah muda, putih, lalu abu-abu, lalu merah muda lagi, berdiri di tengah meja seperti prasasti kegagalan.
Dan di depan kompor, memakai celemek Ibu yang bermotif bunga-bunga oranye dan sudah pudar, berdiri Monica.
Ia memakai kaus putih polos dan celana kain longgar warna krem. Rambutnya diikat tinggi dengan karet gelang, karet gelang dapur yang pasti diberikan Ibu, dan beberapa helai lolos di tengkuk dan pelipis, menempel di kulitnya karena uap. Ada tepung di pipi kirinya. Ada tepung di ujung hidungnya. Ada tepung, entah bagaimana, di alis kanannya, membuatnya terlihat seperti orang yang baru saja kaget melihat hantu.
Dan tetap saja, dengan tepung di alis dan celemek pudar dan karet gelang dapur, ia cantik dengan cara yang membuat dapur kecil kami tiba-tiba terasa terlalu sempit untuk menampung udara.
Mata cokelat keabuan itu menangkap mataku.
Dadaku dingin. Sebentar. Refleks.
Lalu aku melihat tepung di alisnya lagi, dan dinginnya surut, seperti air yang ditarik ombak.
“Oh,” kata Monica. Sendok sayur di tangannya menggantung di udara. “Hai.”
“Hai,” kataku.
“Aku nggak tahu kamu... Gilang bilang kamu di Cikarang sampai sore.”
“Selesainya cepat.”
“Oh.”
Kami saling menatap. Adonan kue lapis di loyang yang sedang ia tuang mulai meluber ke tepi.
“Nduk,” kata Ibu. “Adonannya.”
Monica menunduk, menjerit kecil, dan mengangkat sendok sayurnya terlalu cepat, sehingga adonan merah muda muncrat ke celemek, ke kaus putihnya, dan sedikit ke pipi kanannya, sekarang simetris dengan tepung di pipi kiri.
Ibu menatapku. Ibu tidak bilang apa-apa. Ibu hanya mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi yang sepenuhnya jelas: Lihat. Lihat apa yang Ibu temukan di dapur Ibu hari ini.
Ceritanya, menurut Ibu, yang ia sampaikan sambil menyeduh teh untukku seolah aku tamu di rumahku sendiri:
Monica datang jam sepuluh kurang lima. Sendirian, kecuali sopir yang langsung diculik Mang Ujang ke warung. Ia membawa parsel berisi kurma, teh, dan satu botol madu hutan yang harganya, kata Ibu setelah mengecek di internet, setara dengan tiga ratus kue lapis. Ia memanggil Ibu Bu Laras dengan nada yang sopan sekali, lalu berdiri kaku di teras seperti anak SMP yang disuruh orang tuanya mengantar surat undangan.
Ibu langsung tahu.
“Kamu yang ngirim bunga matahari ke Ervan, ya?” tanya Ibu, di teras, sebelum Monica sempat menjelaskan urusan kue.
Monica, menurut Ibu, memerah dari leher sampai ke dahi, dan menjawab, Iya, Bu. Maaf, Bu.
“Kenapa minta maaf?”
Karena... karena saya Harrison, Bu.
Dan Ibu, yang tidak tahu banyak tentang keluarga Harrison kecuali bahwa salah satu dari mereka telah membuat anaknya berhenti tertawa, menatap perempuan cantik yang gemetar di terasnya selama beberapa detik, lalu menarik tangannya masuk.
“Nama itu nggak bisa milih, Nduk,” kata Ibu. “Yang bisa milih itu kelakuan.”
Setelah itu, kata Ibu, semuanya mudah. Monica melihat dandang besar yang mengepul dan bertanya apakah ia boleh membantu. Ibu bilang boleh. Monica mengaku tidak bisa masak. Ibu bilang tidak apa-apa, semua orang bisa belajar. Monica menghancurkan dua loyang kue lapis, satu mangkuk adonan nagasari, dan satu gelas ukur. Ibu bilang tidak apa-apa. Monica terbakar sedikit di punggung tangan karena menyentuh tutup dandang. Ibu mengoleskan pasta gigi dan bilang tidak apa-apa.
“Pasta gigi, Bu?”
“Itu obat, Van.”
“Itu mitos, Bu.”
“Ibu udah pakai dari zaman kamu belum lahir, kamu masih hidup.” Ibu menaruh teh di depanku, lalu berbisik sambil pura-pura mengelap meja. “Tiga ratus kuenya udah jadi dari jam dua belas. Sopirnya udah bawa ke hotel. Tapi dia nggak mau pulang. Dia bilang mau belajar bikin satu kue lapis yang bener. Satu aja. Ini loyang keempat.”
Aku menatap punggung Monica di depan kompor. Ia sedang menuang adonan lagi, lapisan putih, dengan ujung lidah yang menjulur sedikit di sudut bibir karena konsentrasi. Pelan. Tipis. Seperti memberi perhatian kepada orang yang sedang ngambek.
“Kenapa dia mau belajar bikin kue lapis, Bu?”
Ibu menatapku seolah aku baru saja bertanya kenapa langit biru.
“Kamu suka kue lapis, Van,” katanya. “Dari kecil.”
Aku seharusnya masuk ke kamar. Aku seharusnya bilang permisi, masuk ke kamar, mengetuk pintu tiga kali, dan tidak keluar sampai SUV hitam itu pergi.
Tapi aku tidak masuk ke kamar. Aku duduk di kursi makan, minum teh yang terlalu manis, dan menonton.
Aku menonton Monica menuang lapisan demi lapisan. Merah muda. Putih. Merah muda. Putih. Setiap selesai satu lapisan, ia menutup dandang, menghitung dalam hati dengan bibir yang bergerak, lalu membuka lagi. Ibu berdiri di sampingnya dan sesekali menyentuh sikunya untuk membetulkan sudut sendok, dan setiap kali Ibu menyentuhnya, Monica mengangguk dengan serius, seperti murid yang diajari guru silat.
Lapisan ketujuh. Lapisan kedelapan.
Lalu, di lapisan kesembilan, ia bersin.
Bersin besar, mendadak, karena tepung di hidungnya. Seluruh tubuhnya terlonjak. Sendok sayur di tangannya terlepas, jatuh ke dalam loyang, dan tenggelam perlahan ke dalam lapisan merah muda yang belum matang seperti kapal karam.
Monica menatap sendok itu. Ibu menatap sendok itu. Aku menatap sendok itu.
Lalu Monica menoleh kepadaku dengan wajah yang penuh tepung dan adonan dan keputusasaan murni, dan berkata, dengan suara sangat kecil, “Aku nggak sengaja.”
Dan aku tertawa.
Bukan tawa pendek seperti di lahan villa minggu lalu. Bukan gerakan sudut bibir. Tawa yang keluar dari perut, yang tidak bisa kutahan, yang membuat bahuku berguncang dan tanganku harus memegangi meja. Aku tertawa sampai mataku basah. Aku tertawa karena sendok yang tenggelam, karena tepung di alisnya, karena kue lapis mendung, karena pasta gigi, karena seorang Director of Guest Experience yang bisa menemukan handuk ungu di seluruh Jakarta Selatan tapi tidak bisa menuang adonan tanpa menenggelamkan sendok.
Aku tertawa sampai aku lupa kenapa aku tidak tertawa selama tiga minggu.
Ketika akhirnya aku berhenti, dapur itu sunyi.
Monica menatapku dengan mulut sedikit terbuka. Tepung di alisnya membuatnya terlihat semakin kaget. Matanya, mata Harrison itu, berkaca-kaca, dan aku tidak tahu apakah itu karena uap dandang atau karena hal lain.
Dan Ibu...
Ibu tidak menatapku. Ibu berdiri membelakangi kami di depan bak cuci, tangannya di dalam air sabun, bahunya diam. Terlalu diam. Aku melihat bahunya bergerak sekali, naik, lalu turun pelan.
Ibu menangis. Diam-diam. Di depan bak cuci, di dapur yang penuh tepung, dengan tangan di dalam air sabun.
“Bu?” panggilku.
“Nggak apa-apa,” kata Ibu tanpa berbalik. Suaranya parau. “Kena uap. Mata Ibu kena uap.”
Aku tidak percaya. Monica juga tidak percaya. Aku melihatnya meletakkan sendok sayur, berjalan pelan ke bak cuci, dan berdiri di samping Ibu. Ia tidak memeluk Ibu. Ia hanya berdiri di sana, bahu menyentuh bahu, dan mulai mencuci gelas ukur dengan tangan yang punggungnya masih berlapis pasta gigi.
Ibu menoleh kepadanya. Monica menoleh kepada Ibu. Aku tidak bisa melihat wajah mereka dari tempatku duduk. Aku hanya melihat Ibu mengangkat tangannya yang basah dan menyentuh pipi Monica, mengusap tepung di sana dengan ibu jarinya, dan mengatakan sesuatu yang terlalu pelan untuk kudengar.
Monica mengangguk. Lalu mengangguk lagi.
Loyang kelima akhirnya berhasil. Kue lapis dengan sembilan lapisan, merah muda dan putih bergantian, tidak sempurna, dengan satu lapisan yang agak tebal di tengah karena Monica panik, tapi utuh. Tidak ada sendok yang tenggelam. Tidak ada lapisan mendung.
Monica memotongnya sendiri, dengan pisau yang ia pegang seperti memegang senjata berbahaya, menjadi potongan-potongan yang ukurannya tidak ada yang sama. Ia menata satu potongan di piring kecil, piring bergambar ayam jago milik Ibu, dan membawanya ke meja makan.
Ia meletakkannya di depanku. Tanpa berkata apa-apa.
Aku menatap kue itu. Lalu menatapnya. Ia berdiri di sisi meja dengan celemek pudar dan tepung di mana-mana, tangan terlipat di depan perut, menunggu dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan apa-apa.
Aku mengambil potongan itu dan memakannya.
Terlalu manis. Lapisan tengahnya sedikit lembek. Bagian pinggirnya agak keras karena terlalu lama dikukus.
“Enak,” kataku.
“Bohong.”
“Terlalu manis. Tengahnya lembek. Pinggirnya keras.” Aku mengambil potongan kedua. “Tapi enak.”
Monica menatapku. Lalu senyumnya mengembang, senyum miring yang lebih tinggi di sisi kiri, dan tepung di pipinya ikut terangkat, dan aku harus menunduk ke piring bergambar ayam jago karena tiba-tiba aku tidak tahu harus meletakkan mataku di mana.
Ia pulang jam empat sore. Sopir berseragam safari meninggalkan warung Mang Ujang dengan berat hati, disertai lambaian tiga tukang ojek dan satu kantong plastik gorengan untuk dibawa pulang.
Sebelum masuk ke mobil, Monica berbalik ke arah Ibu yang berdiri di teras, lalu mencium tangan Ibu. Ibu memeluknya. Pelukan yang lama, dengan tangan Ibu menepuk punggungnya dua kali.
“Sabtu depan datang lagi, Nduk,” kata Ibu. “Kita bikin nagasari. Nagasari lebih gampang.”
“Boleh, Bu?”
“Ibu yang ngundang.”
Monica menoleh kepadaku. Aku berdiri di ambang pintu, bersandar di kusen. Aku ingat aturan nomor dua. Aku ingat aturan nomor tiga: kalau aku bilang berhenti, ia berhenti.
Aku tidak bilang berhenti.
“Makasih kuenya,” kataku.
“Makasih udah ketawa,” jawabnya.
Lalu ia masuk ke mobil, dan SUV hitam yang terlalu besar untuk gang kami itu mundur dengan susah payah, dibantu aba-aba dari tiga tukang ojek dan Mang Ujang, dan menghilang di ujung jalan.
Ibu menutup pagar. Ibu tidak langsung masuk. Ibu berdiri di teras, di sampingku, memandangi ujung jalan tempat mobil itu menghilang.
“Kamu ketawa tadi,” kata Ibu.
“Masa, Bu?”
“Tiga minggu.” Ibu menatap pot-pot bunga kertasnya. “Tiga minggu Ibu nunggu kamu ketawa. Ibu pikir... Ibu pikir kalau kamu nggak ketawa-ketawa, Ibu harus bawa kamu ke orang pintar.”
“Orang pintar apa?”
“Pokoknya orang pintar.” Ibu tertawa kecil, lalu mengusap sudut matanya lagi. “Terus dia datang. Terus dia masukin sendok ke kue. Terus kamu ketawa.”
Aku tidak bisa menjawab.
Ibu menepuk lenganku, lalu masuk ke dalam. Di ambang pintu, ia berhenti.
“Tadi Ibu bilang apa ke dia, kamu mau tahu?”
“Apa, Bu?”
Ibu tersenyum dengan cara yang membuatku, sekali lagi, merasa ia tahu sesuatu yang aku tidak tahu.
“Rahasia perempuan,” katanya, dan masuk.
Aku berdiri di teras sampai lampu jalan menyala. Lalu aku masuk, berjalan ke kamarku, dan berhenti di depan pintu.
Tanganku terangkat.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, sebelum aku sempat mengetuk, aku sadar aku sedang tersenyum.
Aku tetap mengetuk. Tiga kali. Kebiasaan tidak bisa hilang dalam satu sore.
Tapi rasanya berbeda.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk reading
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk