← Berlian yang Kamu Buang

Chapter One

Cincin di Saku Kiri

POV: Ervan

Kotak beludru itu kupindahkan dari saku kanan ke saku kiri untuk keempat kalinya pagi ini.

Alasannya sederhana dan agak memalukan: saku kiri lebih dekat ke jantung. Aku membacanya di salah satu artikel “sepuluh tips lamaran romantis” yang dikirim Gilang jam dua pagi, lengkap dengan stiker kucing menangis. Artikel itu sama sekali tidak ilmiah. Aku tetap memindahkannya.

“Van, itu celana udah mau bolong kamu raba terus,” kata Ibu dari balik meja makan. Tangannya sibuk membungkus kue lapis pesanan Bu RT dengan daun pisang. “Duduk dulu. Sarapan.”

“Aku nggak lapar, Bu.”

“Nggak lapar kok dari subuh bolak-balik ke kaca.” Ibu menahan senyum, lalu gagal. “Sini. Ibu lihat.”

Aku duduk. Ibu mengusap kerah kemejaku yang sebenarnya sudah rapi, merapikan lagi rambutku yang sebenarnya sudah kusisir tiga kali. Tangannya bau pandan dan gula merah. Bau yang sama sejak aku kecil, sejak Bapak masih ada dan rumah ini masih terasa lebih penuh.

“Bapakmu dulu ngelamar Ibu pakai sepeda ontel,” katanya. “Bawa pisang satu sisir. Bukan buat Ibu. Buat Mbah.”

“Terus diterima?”

“Pisangnya diterima. Bapakmu disuruh balik lagi minggu depan.” Ibu tertawa kecil. “Tapi dia balik. Tiga kali. Baru Mbah bilang iya.”

Aku ikut tertawa. Lalu Ibu menatapku agak lama, dan tawa itu jadi sesuatu yang lebih pelan.

“Zara itu anak baik, kan, Van?”

“Baik, Bu.”

“Keluarganya juga?”

“Baik banget.” Dan itu jujur. Minggu lalu aku makan malam di rumah Om Daniel dan Tante Ratna. Aku tidak berencana mengatakan apa-apa, tapi Tante Ratna menaruh rendang di piring kiriku seperti biasa, sepotong yang paling besar, yang dagingnya sudah hitam mengilap karena dimasak dua hari, dan tiba-tiba mulutku bergerak sendiri.

“Om, Tante. Saya mau minta izin.”

Om Daniel meletakkan sendoknya. Tante Ratna menutup mulut dengan kedua tangan sebelum aku sempat menyelesaikan kalimat. Kayla, yang sedang mengunyah kerupuk, tersedak dan harus ditepuk punggungnya selama hampir satu menit.

“Saya mau melamar Zara.”

Om Daniel tidak menjawab. Beliau bangkit, memutari meja, dan memelukku. Pelukan bapak-bapak yang canggung dan terlalu keras, yang menepuk punggung dua kali seperti sedang memastikan sesuatu tidak retak.

“Dari dulu Om sudah anggap kamu anak sendiri,” katanya. Suaranya serak. “Sekarang tinggal resminya saja.”

Tante Ratna menangis. Kayla berhenti tersedak dan mulai berteriak.

Jadi ya, Bu. Keluarganya baik banget.

“Ya sudah.” Ibu menepuk pipiku. “Berangkat sana. Jangan lupa senyum. Kamu itu kalau tegang mukanya kayak orang mau bayar pajak.”


Studio Pratama menempati lantai dua sebuah ruko di Tebet, di atas toko fotokopi yang pemiliknya selalu menyetel dangdut koplo keras-keras sejak jam sembilan. Gilang sudah ada di sana, duduk di atas meja gambarku, memegang kertas yang dilaminating.

“Oke. Briefing terakhir.” Ia menyodorkan kertas itu. “Aku bikin checklist.”

Aku membacanya.

1. Cincin (CEK SAKU!!!)
2. Bunga (jangan yang wangi banget, nanti Zara bersin)
3. Lutut kanan, bukan kiri. Kiri itu buat ksatria.
4. Jangan nangis duluan. Kalau mau nangis, nangis BARENGAN.
5. Kalau dia bilang nggak, langsung pura-pura kesurupan.

“Nomor lima ini apa?”

“Rencana darurat,” jawab Gilang serius. “Orang kesurupan nggak bisa disalahin.”

“Dia nggak akan bilang nggak, Lang.”

“Aku tahu. Makanya itu nomor lima, bukan nomor satu.” Ia turun dari meja, merapikan bahuku seperti Ibu tadi. Lalu, dengan suara yang tidak biasanya ia pakai, ia berkata, “Van. Dua tahun. Kamu yakin?”

Aku memikirkan pertanyaan itu dengan jujur, seperti aku memikirkan beban balok sebelum menggambar struktur.

Dua tahun bersama Zara. Zara yang pintar, yang tertawa dengan kepala mendongak, yang suka kopi hitam tanpa gula dan menganggap semua orang yang minum kopi susu itu “belum dewasa”. Zara yang sibuk, yang sering membatalkan janji karena rapat dengan klien, yang belakangan ini membalas pesanku dengan satu kata dan kadang tidak sama sekali. Aku pikir itu karena target kuartal. Aku pikir wajar orang lelah. Aku pikir, kalau aku melamar, dia akan punya satu hal yang pasti di hidupnya, satu hal yang tidak perlu ia kejar.

“Yakin,” jawabku.

Gilang mengangguk. Lalu memukul bahuku terlalu keras. “Ya udah. Nanti kalau jadi, aku yang jadi MC nikahan. Nggak boleh dibantah. Aku udah latihan intonasi.”


Sore harinya aku mengambil buket di toko bunga Bu Dewi di Jalan Sabang. Bu Dewi enam puluh tahun, memakai kacamata yang digantung tali manik-manik, dan sudah menjual bunga sejak zaman telepon masih diputar.

“Mas Ervan,” sapanya, lalu menurunkan kacamata dan memandangiku dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Wah. Jas. Ini bukan bunga ulang tahun.”

“Bukan, Bu.”

“Bukan bunga minta maaf juga. Mukanya nggak kayak orang salah.” Ia menyipitkan mata. “Ini bunga yang itu.”

Aku mengangguk. Bu Dewi menepuk meja kasir keras-keras sampai kaleng permen di atasnya melompat.

“Ya Allah! Akhirnya! Ibu sudah bilang dari tahun lalu, laki-laki yang beli bunga tiap tanggal sebelas itu cuma dua jenis. Yang lagi selingkuh sama yang mau ngelamar.” Ia menatapku tajam. “Mas yang mau ngelamar, kan?”

“Iya, Bu. Yang mau ngelamar.”

“Bagus. Soalnya yang satunya lagi biasanya belinya dua buket.” Ia tertawa sendiri, lalu masuk ke belakang dan keluar dengan tiga puluh tangkai mawar merah yang dibungkus kertas cokelat dan pita satin. Ia menyerahkannya dengan dua tangan, seperti menyerahkan bayi. “Pegang yang kenceng, Mas. Jangan sampai jatuh. Bunga lamaran jatuh itu pamali.”

Aku memegangnya kencang sepanjang jalan. Sampai tangkai-tangkainya meninggalkan bekas di telapak tanganku.


Kayla menjemputku di lobi gedung apartemen Zara jam tujuh malam, persis seperti rencana. Ia memakai kaus hitam, celana hitam, topi hitam.

“Kenapa kayak ninja?” tanyaku.

“Kamerawati profesional harus menyatu dengan bayangan, Kak.” Ia mengangkat ponselnya yang sudah terpasang di gimbal. “Aku udah bikin shot list. Mau lihat?”

Tentu saja ia membuat shot list. Kayla dua puluh dua tahun, mahasiswi film semester akhir, dan menganggap lamaran kakaknya sebagai proyek tugas akhir yang tidak dinilai dosen.

Shot 1: Wide. Kak Ervan berdiri di depan pintu, tarik napas. (Dramatis.)
Shot 2: Close up tangan menekan passcode. (Simbolis. Pintu hati terbuka.)
Shot 3: Kak Zara kaget. Reaksi. JANGAN SAMPAI MISS.
Shot 4: Berlutut. Slow motion kalau bisa.
Shot 5: Pelukan. Aku ikut nangis di belakang kamera (opsional, tergantung mood).

“Shot dua itu simbolis ya,” kataku.

“Pintu hati terbuka, Kak.” Kayla menatapku dengan mata berbinar yang terlalu mirip mata kakaknya, mata Harrison, cokelat keabuan yang berubah warna tergantung lampu. “Aku serius. Nanti aku edit, kasih lagu. Mama udah request lagu lawas. Papa request jangan pakai lagu lawas. Aku bingung.”

“Terserah kamu.”

“Itu jawaban yang bahaya, Kak.”

Kami naik lift ke lantai dua puluh tiga. Kayla merekam pantulanku di dinding lift yang mengilap. Aku melihat diriku sendiri: kemeja putih, jas abu-abu yang dipinjam Gilang dari kakaknya, buket mawar merah di tangan kanan yang dirangkai oleh florist yang sama yang menjual bunga untuk ulang tahun Zara tahun lalu. Tiga puluh tangkai. Satu untuk setiap bulan sejak aku pertama kali mengajaknya makan, ditambah enam untuk bulan-bulan yang akan datang, karena florist-nya bilang angka tiga puluh lebih cantik.

Pintu lift terbuka. Koridor sepi. Karpetnya tebal, meredam langkah.

“Kak Zara ada di dalam, kan?” bisik Kayla.

“Tadi sore aku tanya, dia bilang pulang cepat. Capek.”

“Oke.” Kayla mengambil posisi di ujung koridor, lututnya ditekuk, gimbal terangkat. “Shot satu. Tarik napas, Kak.”

Aku berdiri di depan pintu 2307. Aku menarik napas. Aku merasa sedikit konyol dan sangat bahagia pada saat yang sama, perasaan yang aneh, seperti berdiri di tepi kolam renang yang airnya dingin tapi kamu tahu kamu akan tetap lompat.

Tanganku menyentuh saku kiri. Kotaknya masih di sana.

Aku menekan passcode. Aku sudah tahu angkanya sejak setahun lalu, ketika Zara sakit tipes dan aku bolak-balik membawakan bubur. Waktu itu ia bilang, hafalin aja, biar aku nggak perlu bangun buka pintu. Aku hafal. Aku tidak pernah memakainya tanpa memberi tahu lebih dulu. Malam ini adalah kali pertama.

Kunci berbunyi. Hijau.

“Shot dua, dapet,” bisik Kayla dari belakang. “Masuk, Kak. Aku nyusul pelan-pelan.”

Aku mendorong pintu.


Hal pertama yang kulihat adalah sepatu.

Sepasang sepatu pantofel cokelat, ukuran empat puluh tiga, tergeletak di dekat rak. Satu tegak, satu rebah. Bukan milikku. Zara tidak punya saudara laki-laki. Om Daniel tidak memakai ukuran itu.

Aku berdiri dengan buket di tangan dan mencoba mencari penjelasan. Otakku melakukannya dengan sangat tertib, seperti yang selalu ia lakukan saat ada masalah struktur di lapangan: kumpulkan data, susun kemungkinan, jangan panik.

Tukang servis AC.

Tapi tukang servis AC tidak meninggalkan kemeja biru muda tersampir di sandaran sofa.

Kolega. Rapat mendadak.

Tapi kolega tidak meninggalkan dasi di lantai lorong, lalu, beberapa langkah lebih jauh, sesuatu berwarna krem yang kukenali karena aku yang membelikannya di ulang tahun Zara, blus sutra yang ia bilang terlalu mahal untukku.

Dari ujung lorong terdengar tawa. Tawa Zara. Tawa dengan kepala mendongak, yang dulu kupikir hanya keluar kalau aku mengatakan sesuatu yang bodoh.

Lalu suara laki-laki. Rendah. Mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar, dan Zara tertawa lagi.

Pintu kamar setengah terbuka. Aku tidak ingat berjalan ke sana. Aku hanya tahu tiba-tiba aku berdiri di ambangnya, dan cahaya lampu tidur yang kuning jatuh ke setengah wajahku.

Aku tidak akan menceritakan semua yang kulihat. Sebagian karena aku tidak mau. Sebagian lagi karena aku memang tidak benar-benar melihatnya; mataku hanya menangkap potongan-potongan, seperti foto yang robek. Selimut putih yang kusut. Bahu telanjang seorang laki-laki yang berdiri membelakangiku, mengambil gelas dari nakas. Rambut Zara yang terurai di bantal. Wajah Zara yang sedang tersenyum ke arah laki-laki itu.

Lalu wajah Zara yang berbalik ke arahku.

Senyumnya tidak langsung hilang. Itu yang paling kuingat. Senyum itu bertahan sepersekian detik di wajahnya, seolah otaknya belum sempat memberi tahu mulutnya bahwa semuanya sudah berubah. Lalu matanya melebar. Lalu tangannya menarik selimut sampai ke dagu. Lalu mulutnya membuka.

“Ervan—“

Laki-laki itu menoleh. Aku tidak mengenalnya. Wajahnya tampan dengan cara yang terlalu rapi, cambang tipis, jam tangan mahal yang masih melingkar di pergelangannya padahal tidak ada hal lain yang ia kenakan. Ia menatapku, lalu menatap buket di tanganku, lalu, sungguh, ia hampir tertawa.

Aku menunggu diriku sendiri marah.

Aku menunggu tanganku mengepal, suaraku membesar, kakiku melangkah maju. Aku pernah membaca, pernah menonton, pernah mendengar cerita teman: dalam situasi seperti ini laki-laki berteriak, memukul, membanting sesuatu.

Tidak ada yang terjadi.

Yang terjadi adalah dingin. Dingin yang naik dari telapak kaki, lewat betis, masuk ke perut, lalu berhenti di dada, tepat di bawah saku kiri, seperti ada seseorang yang menuangkan air es ke dalam rongga di mana jantungku seharusnya berada.

“Ervan, aku bisa jelasin,” kata Zara. Suaranya naik. “Ini nggak kayak—“

Aku mundur satu langkah dari pintu kamar.

Aku berbalik. Aku berjalan kembali ke ruang tengah, melewati dasi, melewati blus krem, melewati kemeja biru muda. Kakiku bergerak dengan sangat rapi. Aku bahkan tidak menginjak apa pun.

Di tengah ruang tengah ada meja makan kecil dari kayu jati. Aku yang memilih meja itu, dua tahun lalu, waktu Zara pindah ke sini dan bilang ia ingin “meja yang kelihatan kayak rumah”. Aku mengukur ruangan, menggambar denahnya di serbet kafe, lalu menemukan meja ini di bengkel kayu di Jepara. Aku yang mengampelasnya ulang di sudut-sudutnya supaya Zara tidak terbentur saat pulang malam dalam keadaan lelah.

Aku meletakkan buket mawar di atas meja itu. Pelan, supaya kelopaknya tidak rontok.

Lalu aku merogoh saku kiri. Kotak beludru itu terasa hangat karena seharian menempel di tubuhku. Aku meletakkannya di samping buket. Tidak kubuka. Tidak perlu.

Di belakangku, Zara keluar dari kamar dengan selimut yang dililitkan asal-asalan, rambutnya berantakan, mulutnya terus bergerak. Aku mendengar namaku. Aku mendengar tolong. Aku mendengar aku salah. Aku mendengar laki-laki itu berkata sesuatu seperti santai, bro, dan Zara membentaknya diam.

Aku tidak menoleh.

Di dekat pintu aku melihat sepatu pantofel cokelat itu lagi. Yang rebah. Aku membungkuk dan menegakkannya, menyejajarkannya dengan pasangannya. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Mungkin karena kebiasaan. Mungkin karena itu satu-satunya hal di ruangan ini yang masih bisa kuperbaiki.

Lalu aku keluar dan menutup pintu di belakangku. Pelan. Sampai bunyinya hanya klik kecil.


Koridor masih sepi. Karpetnya masih tebal.

Kayla berdiri di tengah koridor dengan gimbal masih terangkat. Ia pasti mendengar teriakan Zara. Mungkin ia sempat melangkah mendekat. Mungkin lensa kameranya sempat menangkap sesuatu lewat celah pintu sebelum aku menutupnya.

Wajahnya sudah tidak berbinar.

“Kak...” Suaranya kecil sekali. “Kak Ervan... tadi itu...”

Aku melihat ponselnya. Titik merah di sudut layar masih berkedip. REC.

Aku mengulurkan tangan dan menekan tombolnya. Titik merah itu berhenti.

“Udah, Kay,” kataku. Suaraku terdengar sangat biasa, dan itu yang membuatku sedikit takut pada diriku sendiri. “Shot tiga nggak usah.”

Kayla menatapku. Mata Harrison-nya yang cokelat keabuan itu mulai berkaca-kaca, lalu penuh, lalu tumpah.

Di belakangku, di balik pintu 2307, Zara memanggil namaku lagi.

Aku menekan tombol lift.